Lebih Manfaat Mana: Membaca Buku Fiksi atau Non-Fiksi?


Bukan pertanyaan baru soal lebih bermanfaat mana antara membaca buku fiksi dan non-fiksi. Ini menjadi momen yang mengesalkan ketika masyarakat suka membandingkan dua hal ini. Saya sendiri mengalami hal serupa ketika sering membagi link resensi buku di blog ini, di status whatsapp.

Sekelas atasan kerja pun sempet menyinggung hal ini ketika beliau menelepon saya. “Kamu jangan kebanyakan membaca novel,” ucapnya dengan intonasi meremehkan. Sejak itu saya membatasi untuk membagikan link di WA. Saya jadi lebih sering membagikannya di twitter. Jengah, iya, tapi nggak begitu menyakiti hati. Pembenaran lainnya, “Mungkin banyak yang terganggu dengan status WA saya, jadi alangkah baiknya dihindari saja.”

Oke, saya akui bacaan saya lebih banyak di golongan fiksi, sehingga jika sebulan saya bisa menyelesaikan 3 sampai 4 novel dan 1 buku pengembangan diri. Atau mungkin tidak berhasil membaca buku non-fiksi satu pun. Lalu, apa jeleknya membaca novel

Menurut saya yang jelek itu mereka yang nggak pernah baca buku tapi doyan nyinyir ke orang yang suka baca buku.

Pola pikir masyarakat menilai novel sebagai bacaan yang imajinatif dan halu. Sehingga bagi mereka isi novel ini tak lain dan tak bukan hanya cerita kosong karangan orang yang disebut penulis. Bukan sesuatu yang nyata, dan karena bukan kenyataan dianggapnya sepele dan nggak berguna.

Berbeda dengan buku non-fiksi, bagi masyarakat buku jenis ini lebih berbobot dan untuk beberapa buku bisa meningkatkan kemampuan pembacanya. Saya akui soal meningkatkan kemampuan seseorang itu memang benar. Tapi bukan berarti buku fiksi tidak berbobot juga.

Saya jadi gemas pengen menjelaskan apa manfaat saya membaca novel.


  1. Membaca novel justru mengasah empati. Novel yang saya baca (dan semua novel umumnya) selalu memuat nilai-nilai kehidupan manusia sehingga novel sebenarnya memotret dinamika kehidupan manusia yang punya masalah kompeks. Dari tokoh-tokoh di dalam novel kita bisa belajar banyak nilai kehidupan yang belum tentu kita alami. Dengan membaca banyak novel, makin kaya juga kita memahami pelajaran hidup tanpa harus mengalaminya. Kita akan lebih peka dan empati menghadapi masalah hidup yang mungkin ke depannya akan menimpa kita.
  2. Membaca novel membuat sisi logis otak makin tajam. Perpaduan membaca, memahami, bahkan menghayati isi novel membuat pembaca lebih cerdas baik secara otak dan hati. Saya merasakan betul manfaat ini ketika saya menghadapi pekerjaan kantor yang berhubungan dengan sistem komputerisasi akuntansi dan logika jurnal keuangan, padahal saya karyawan yang kuliahnya nggak selesai. Nilai plus pembaca buku adalah mereka suka inovasi, mereka bisa menyederhanakan pekerjaan sehingga selesai cepat dan tepat, dan mereka lebih teliti. Ini karena kebiasaan membaca mengharuskan teliti, mengikuti alur cerita, dan menguasai lebih banyak isi novelnya.
  3. Membaca novel bukan kegiatan yang merugikan orang lain. Ini yang perlu dipahami oleh orang-orang yang nyinyir soal manfaat membaca fiksi, jika membaca bukan kegiatan yang akan mengganggu, apalagi merugikan orang lain. Jadi selama kalian tidak terganggu, stop, sudah jangan mengomentari soal lebih baik yang mana.


Kesimpulannya, membaca itu punya manfaat. Bukan soal fiksi atau non-fiksi. Membaca komik pun itu masih lebih baik dibandingkan dengan tidak membaca apa pun. Justru kegiatan membaca membuat kita sadar kalau ternyata selera orang itu berbeda-beda. Kita justru belajar hal lain, soal menghargai kesukaan orang lain, dan tidak dibenarkan menilai orang lain berdasarkan buku yang dibacanya.

Nah, sekian artikel sekaligus uneg-uneg dari saya. Jika ada yang mau menambahkan, silakan tulis di kolom komentar ya!

Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!



4 komentar:

  1. ga pa pa kok ngeluarin uneg uneg din, timbang jadi jerawat kan hahaha

    kalau aku ditanya lebih suka fiksi apa nonfiksi, uda jelas fiksi sih, novel, komik, atau apapun tapi yang fiksi wkwkwkk...aku tau kapasitasku kalau baca nonfiksi agak loading soalnya sering angkat tangan baru buka lembar pertama #bukan karena salah bukunya sih tapi aku sendiri emang seleranya ke fiksi hahahhahha...
    aku kalau udah baca buku fiksi ga pernah ngerasa penulisnya halu atau apa justru aku kagum karena dia banyak wawasan dan kok bisa ngerangkai suatu alur yang menarik...ya kan kita kita juga butuh hiburan kaaan. Udah lah di kehidupan nyata lelah dengan kerjaan dan kesibukan masa baca novel atau baca sesuatu yang sifatnyabhiburan dinyinyirin...

    eh ada lagi din yang modelan orang nyinyir, yaitu ke pemula (katakanlah bukan siapa-siapa) misalkan aku yang suka iseng bikin cerpen atau cerbung tar ada juga loh yang nyinyirin bukan penulis beneran aja suka nulis halu, kebanyakan ngayal bla bla bla....wkkwk...masa orang biasa ga boleh nulis fiksi? kan aneh ya pemikiran orang orang kayak gini. Maksudnya nulis juga cuma buat hobi...masalahnya hobi orang kan beda beda masa kan kita ngatur hobi orang. Ada yang emang suka nulis fiksi, nonton film, nonton drakor, sepedaan, dll. Eh giliran ku sebagai orang biasa cuma hobi nulis cerpen (ya walaupun masih jelek sih) tetep aja dikira suka ngehayal wkwkkwkw..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, ketimbang nahan sakit gara-gara jerawat mending nulis disini..

      Heran juga ya masih banyak yg menilai kalau fiksi itu nggak berguna, nggak bermanfaat. Mereka nggak tau aja kalau semua pencapaian dimulai dari mimpi. Padahal manfaat menulis besar lho, kalau tulisan kita membawa kebaikan bisa jadi ladang pahala :)

      Hapus
  2. Mantap jadi terinspirasi untuk mereview di blog. Di kantor ku juga hanya aku yang penggila fiksi. Mau gimana lagi. Ini hobby.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mas bikin review buku juga, biar saya bisa mampir juga, hehe. Iya kalo sudah hobi mau gimana lagi, ini dunia saya haha.

      Hapus