Februari 06, 2018

[Resensi] The Hate U Give (Benci Yang Kau Tanam) - Angie Thomas


Judul: The Hate U Give (Benci Yang Kau Tanam)
Penulis: Angie Thomas
Penerjemah: Baromah Ruziati
Penyunting: Mery Riansyah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal buku: 488 halaman
ISBN: 9786020381305
Harga: Rp99.000 (via bukabuku.com - sebelum diskon)

Novel pertama dari Angie Thomas ini memang sudah terkenal karena wira-wiri di beberapa situs buku dengan komentar-komentar positif. Di informasi itu juga dikatakan jika novel ini mengangkat isu rasisme antara orang kulit putih dan orang kulit hitam.

Starr Carter, gadis berkulit hitam menyaksikan sahabatnya, Khalil, ditembak polisi. Kasus ini menjadi sorotan media nasional karena ada unsur tindakan rasisme. Yang lebih parah, pelakunya adalah polisi yang seharusnya tidak melakukan tindakan itu. Dalam penyelidikannya, Starr harus bersaksi. Proses bersaksi inilah yang kemudian diulik oleh penulis dalam memikat pembaca. Berat sekali untuk menyuarakan kebenaran yang berasal dari orang kulit hitam, menjadi fokus Angie menjalankan alur ceritanya.

Tema besar di buku ini memang mengenai fenomena rasisme yang terjadi di Amerika. Penulis memberikan gambaran kepada pembaca bagaimana orang-orang berkulit hitam berjuang menghadapi stereotip orang kulit hitam dan lingkungannya yang dikenal kacau. Penulis tidak memihak antara kulit hitam atau kulit putih dengan menghadirkan tokoh perwakilan dua kubu tersebut dalam karakter baik, tidak semuanya buruk. Angie seolah hanya ingin memperlihatkan jika di Amerika pernah ada kasus rasisme.

Novel The Hate U Give juga tidak meninggalkan tema lainnya sehingga novel ini tergolong masih ringan dibaca. Unsur percintaan pun diselipkan melalui karakter Starr dan Chris. Keduanya berbeda warna kulit dan keduanya sepakat itu bukan masalah yang harus dimasalahkan. Beberapa bagian akan membuat kita ikut tersipu. Tema komedi pun mewarnai keluarga Carter melalui kegemasan tokoh Sekani, adik Starr, yang kerap mengingatkan uang satu dolar untuk siapa pun yang mengucapkan kata umpatan. Selain itu, Daddy pun tipe ayah yang bisa melucu terutama jika menggoda Starr dan pacarnya. Ada juga tema persahabatan yang menguras emosi antara Starr, Maya, Hailey, DeVante, dan Kenya. Banyak hal yang diceritakan Angie mengenai hubungan mereka dan konflik-konflik khas remajanya.

Dan menurut saya, tema keluarga di novel ini lebih banyak dibandingkan tema lainnya. Kita akan melihat bagaimana menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak. Di sini tidak melulu diceritakan menjadi orangtua itu mudah. Apalagi ketika harus menghadapi sifat egois dari anak yang sudah remaja. Tetapi, saya pastikan menjadi orangtua harus lebih kuat, harus lebih tegas, dan harus lebih bisa dibandingkan anak-anaknya.

Tokoh favorit saya tentu saja Lisa, Momma-nya Starr. Saya melihat dia sebagai sosok ibu yang terbaik. Dia bisa menempatkan diri secara tepat dan utuh. Ada kalanya dia terlihat menyebalkan, tapi sikap dia untuk kebaikan semua. Ada kalanya dia terlihat lembut perhatian, dan itu dilakukan dia untuk memberikan tempat nyaman buat anak-anaknya. Beberapa bagian menjadi sangat emosional jika menyangkut kasih sayang orangtua dan anak.

Momma menggebrak meja, dan aku terlonjak. “Tutup mulutmu!” teriaknya. Dia berbalik, air mata mengaliri wajahnya. “Khalil bukan sekadar teman main baginya. Khalil putranya, kaudengar? Putranya!” Suara Momma serak. “Dia mengandung anaknya, melahirkan anak itu. Dan kau tidak berhak menghakiminya.” (hal.102).

“Aku tak peduli kalaupun itu masalah.” Momma menatapku. “Dia tidak akan menjalaninya sendirian.” (hal.104)

Akhirnya, saya memberikan nilai 4/5 untuk novel debut yang beberapa kali membuat saya berdebar dengan akhir ceritanya. Saya merekomendasikan buku ini sebab banyak nilai luhur yang bisa dicontoh.

Februari 04, 2018

[Resensi] Mata di Tanah Melus - Okky Madasari


Judul: Mata di Tanah Melus
Penulis: Okky Madasari
Editor: Anastasia Mustika W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Januari 2018
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786020381329
Harga: Rp59.000 (via bukabuku.com - sebelum diskon)

Saya pernah membaca buku karya Okky Madasari yang judulnya '86'. Novel dengan konflik suap yang sudah membudaya di Indonesia dari masyarakat ekonomi rendah hingga masyarakat ekonomi atas. Tema novelnya terbilang serius karena hanya segelintir penulis yang mau mengangkat tema kritik sosial dalam karyanya dan konsisten di zona itu. Namun, untuk karya terbaru Okky di tahun 2018 ini, ia seperti sudah melakukan manuver dengan menghadirkan karya bergenre novel anak. Genre yang belum pernah ia jamah dan ini seperti jadi tantangan untuk Okky dan pembaca. Saya sebagai pembaca tertantang untuk menikmati cerita anak yang memang sebelumnya penulis tak menyentuh sisi ini di novel-novel sebelumnya. Yang pasti, novel sebelumnya dan novel anak ini akan memiliki perbedaan yang mencolok. Dan menurut keterangan di bagian penulis pada halaman akhir buku, Mata di Tanah Melus merupakan cerita pertama dari serial petualangan anak yang Okky bikin.

Novel Mata di Tanah Melus menceritakan tentang Matara, anak berusia dua belas tahun, yang ikut melakukan perjalanan ke daerah Belu bersama Mamanya setelah hubungan antara Mama dan Papanya tidak harmonis. Persoalan utama suami-istri itu perihal keuangan. Keduanya adalah penulis cerita, hanya berbeda format. Mama menulis novel, sedangkan Papanya menulis kolom politik di koran. Keharmonisan keluarga Mata surut saat Papa sudah tidak bekerja dan Mama sadar keluarganya tak bisa mengandalkan keuangan dirinya yang bukan tipe penghasilan bulanan.

Mata sebenarnya merasa tidak antusias dengan perjalanan kali ini. Apalagi tujuan mereka daerah asing yang jelas-jelas tidak bisa diduga keadaannya. Dimulai dari kejadian mobil sewaan Mama menabrak sapi dan harus ganti rugi dua puluh juta, kesialan tidak berhenti menimpa mereka. Ditambah mimpi sapi-sapi tersebut mengganggu di tidur Mata.

Suatu waktu Mama dan Mata berteduh saat hujan deras setelah mereka melakukan upacara izin masuk daerah Belu dan mereka justru diminta pulang ke tempat asal. Begitu membuka mata, Mata mendapati pemandangan padang rumput hijau yang luas dan sejak itu Mata dinyatakan tersesat. Petualangan Mata dimulai dari kampung Melus. Keinginan untuk bertemu Mama menjadi tujuan Mata melakukan banyak petualangan.

Sebuah terobosan baru bagi Okky yang kerap mengulik tema-tema kritik sosial dan memilih menyajikan cerita anak yang dibumbui hal-hal ajaib. Keinginan Okky terpenuhi dan novel Mata di Tanah Melus memang pas untuk dibaca oleh anak-anak. Kita akan disuguhi perpaduan kisah yang sederhana, petualangan, mitos, dan perseteruan antara dua golongan orang.

Untuk memahami kisah Mata, kita perlu menguatkan pikiran jika di buku ini Okky bermain dengan dua dunia yang sifatnya paralel. Dunia nyatanya adalah daerah Belu, sedangkan dunia paralelnya adalah Negeri Melus. Ini penting agar kita tidak repot memahami jalan cerita yang pada awal-awal buku akan bikin syok.

Lalu, bumbu ajaib yang saya katakan di awal, menjadi nostalgia buat pembaca akan khayalan aneh-aneh yang sering dibayangkan pada masa anak-anak. Kita pasti pernah melihat awan yang bentuknya mirip banyak benda. Di novel ini pun Mata melihat kelinci-kelinci dan anak perempuan yang meloncat-loncat riang di awan.Selain itu, kita akan berkenalan dengan mahluk-mahluk ajaib seperti Ratu Kupu-Kupu, Dewa Buaya, dan Laka Lorak si Ibu Kehidupan.

Latar tempat juga dipenuhi hal-hal menakjubkan misal padang rumput hijau luas yang disebut Fulan Fehan, Kerajaan Kupu-Kupu, rumah kaktus, lautan yang muncul dan surut tiba-tiba, hutan kaktus yang lebat, dan masih banyak imajinasi-imajinasi lainnya yang akan membuat otak kita ikut memproyeksikan seperti apa Negeri Melus itu.

Pada novel ini ternyata Okky menyelipkan kritik sosial terhadap dua kegiatan yang mengundang banyak efek negatif, yaitu perburuan binatang tertentu (di novel ini binatangnya adalah buaya) dan eksploitasi sumber daya alam (Gunung Lakaan) yang tujuannya memperkaya diri sendiri atau golongan. Kita diingatkan kembali jika kegiatan tersebut merusak banyak tatanan kehidupan yang seharusnya kita jaga untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Akhirnya, saya memberi nilai 3 dari 5 sebab saya masih merasa novel ini belum terasa khas anak-anak dalam penyajiannya. Baik secara kosakata, diksi, ataupun petualangannya. Atau, disebabkan oleh konflik orangtua yang terlalu vokal karena dimunculkan di awal dan otomatis menyedot daya tarik pembaca sebelum tahu cerita ajaibnya sebenarnya akan digiring ke arah mana.

Januari 23, 2018

[Resensi] Jula-Juli Cinta Mini - Budi Maryono

Judul: Jula-Juli Cinta Mini
Penulis: Budi Maryono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2017
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 9786020353395
Harga: Rp55.000 (via bukabuku.com sebelum diskon)

Sepulang dari Hongkong menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Sri Padmini menyadari suaminya berubah tidak seperti saat ia tinggalkan dahulu. Empat tahun Kardi ditinggalkan mengurus rumah dan kedua anak mereka, Imin dan Atik, Mini tetap yakin kalau suaminya tidak akan macam-macam. Namun, bara gairah Kardi lenyap. Mini menduga-duga penyebabnya. Rukhin, tetangga sekaligus sahabatnya, menyembunyikan alasan ketika ditanya sesuatu yang merubah Kardi. Mini sangat terluka. Dia bingung memutuskan antara melanjutkan pernikahannya yang berubah jadi dingin atau melepaskan keluarganya dan kembali berangkat ke Hongkong.

Maryono mengemas cerita drama rumah tangga dengan apik. Dia juga pintar menyembunyikan asal masalah sehingga kita tidak akan berhenti membaca saking penasaran. Di buku ini bagian yang bikin penasaran adalah siapa sosok yang merubah Kardi hingga ia enggan menyentuh tubuh istrinya. Dan jika sudah terkuak pelakunya, kita juga masih akan penasaran dengan keputusan Mini atas nasib keluarganya. Menjelang terkuaknya identitas si pelaku, Maryono menyebar pengalih perhatian hingga tebakan pembaca akan mengarah ke orang yang salah. Awalnya saya menebak ada hubungan terlarang antara Kardi dan Rukhin namun nyatanya saya keliru.

Drama novel Jula-Juli Cinta Mini semakin pekat sebab pasangan Mini-Kardi sudah punya dua anak; Imin dan Atik. Keberadaan anak menjadi penentu keputusan besar Mini. Dia sebagai perempuan menimbang posisinya juga sebagai istri dan ibu. Dan yang paling berat tentu saja perannya sebagai ibu yang tidak bisa menelantarkan darah dagingnya sendiri.

Nilai budaya pun sangat terasa di novel ini melalui petikan Jula-Juli dan pementasan ludruk. Jula-juli adalah parikan (pantun kilat) khas Jawa Timur. Isinya penuh pesan moral. Wong bebojoan ngono / gak kanggo sedino rong dino / mulo usahakno dadi sampek tuwo / ayok sing rukun koyok mimi lan mintuno / supoyo diconto barek anak putu kito…. Ludruk pun disinggung beberapa kali di novel ini dan disebutkan beberapa lakonnya; Pak Sakera, Sawunggaling, Joko Kelud dan Sarip. Kedua nilai budaya tadi sangat berbaur dengan ceritanya. Jula-Juli menjadi pengingat tokohnya akan drama yang muncul dan Ludruk menjadi objek peristiwa yang mengawali segala konflik drama yang ada.

Selain budaya, novel ini pun menuturkan kehidupan TKI. Bukan sekadar kehidupan mereka di tempat kerja, melainkan kehidupan orang terdekat mereka di kampung. Peristiwa istri jadi TKI bisa jadi penyebab suami selingkuh. Pandangan ini ditengahi oleh Maryono dengan tidak menghakimi mana yang benar dan yang salah. Maryono justru memposisikan sebagai penyaji saja. Juga ketika dia menggambarkan kerinduan anak yang ditinggal pergi ibunya ke luar negeri diwakili Imin, Maryono berperan hanya menceritakan tanpa ada kesan mengatakan salah atau benar.
Lebih gila lagi, novel ini menyentuh ranah LGBT. Selipan konflik yang justru membuka mata saya akan posisi orang-orang yang LGBT. Sumpah, saya begidik membayangkan jika sampai bersentuhan terlalu dalam dengan mereka. 
Akhirnya, novel Jula-Juli Cinta Mini saya hargai dengan nilai 5/5. Dramanya begitu dekat dengan kehidupan kita. Dengan membaca ini, kita akan mendapatkan rasa kehidupan yang baru, lebih dramatis, lebih getir, lebih beda, dan belajar hal lain dari yang biasa kita jalani.

Januari 19, 2018

[Giveaway] #1 Giveaway 2018


Halooo!

Bertemu lagi dengan posting-an giveaway alias berbagi buku gratis. Saya terakhir bikin giveaway itu di bulan Maret 2017 yang disponsori oleh salah satu penerbit mayor di Indonesia. Dan kali ini hadiah yang akan saya berikan berupa novel JANGAN LEPASKAN AKU (NEVER LET ME GO), KAZUO ISHIGURO.


Saya belum membaca novel ini dan entah kapan akan mulai dibaca. Namun, karena ingin merayakan gairah ngeblog yang baru dimulai lagi, saya memutuskan untuk berbagi 1 eksemplar lainnya. 

Nah, tanpa banyak kata-kata lagi, mari simak syarat-syarat berikut ini:

1.   Kalian tinggal di Indonesia

2.   Ikuti blog ini dengan menekan tombol biru yang ada di samping kanan - gadget TEMENAN.

3.   Ikuti akun twitter saya : @adindilla 
      Hanya opsi, silakan kalau kalian mau membagikan info giveaway ini di twitter.

4.   Tulis pada kolom komentar format berikut ini : Nama kalian - Akun Twitter - Domisili
      Kalian juga boleh mencantumkan nama blog kalian supaya saya bisa mampir.

5.   Periode giveaway selama seminggu : 19  - 25 Januari 2018

6.  Pemenang akan ditentukan dengan diundi dan diumumkan pada tanggal 26 Januari 2018 di update postingan ini.

Nah, bagaimana dengan syaratnya, mudah kan? Saya tunggu partisipasi kalian di giveaway kali ini. Dan rajin-rajinlah membaca buku.

***

# UPDATE PEMENANG # 

Alhamdulillah, satu minggu periode giveaway sudah berakhir. Saya lumayan deg-degan mengadakan giveaway kali ini karena sudah lama saya tidak menggelarnya, jadi ada ketakutan tidak ada minat untuk peserta. Ternyata ketakutan saya tidak terbukti, sampai periode giveaway ini usai telah tercatat ada 23 peserta yang ikut. Saya bersyukur sekali.

Untuk pengundian pemenang saya menggunakan bantuan situs random.org. Dan hasilnya adalah......


Selamat kepada 
ASEP NANANG - @asepnanang59 - Bandung

Kamu berhak mendapatkan satu eksemplar buku JANGAN LEPASKAN AKU (NEVER LET ME GO), KAZUO ISHIGURO. Silakan kirimkan data diri kamu (nama lengkap, alamat kirim, dan nomor ponsel) ke email saya hapudincreative(at)gmail(dot)com. Saya tunggu kabarnya ya!

Januari 18, 2018

[Resensi] Teka-Teki Terakhir - Annisa Ihsani

Judul: Teka-Teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Ayu Yudha
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Maret 2014
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9786020302980
Harga: Rp60.000 

Sebuah novel jika dibaca oleh dua orang akan melahirkan dua penilaian yang berbeda. Sebab novel memiliki efek kesan yang terhubung dengan pembaca secara misterius. Kondisi si pembaca turut menyebabkan hal demikian terjadi. Dan itu yang saya alami setelah berdiskusi via twitter dengan beberapa teman blogger buku mengenai buku ini.

Novel Teka-Teki Terakhir merupakan debut Annisa Ihsani (Sepertinya begitu, sebab judul novel ini selalu muncul di awal dibandingkan novel lainnya; A Untuk Amanda dan A Hole in The Head). Menceritakan seorang anak perempuan usia dua belas tahun bernama Laura.  Di dekat rumahnya itu, ada sebuah rumah besar terkesan angker yang dihuni oleh keluarga Maxwell yang dipenuh gosip tidak jelas kebenarannya. Dan suatu hari, sepulang sekolah, Laura membuang kertas ulangan matematikanya dengan nilai nol pada tempat sampah di depan rumah keluarga Maxwell. Hari berikutnya Laura ketakutan saat Tuan Maxwell memanggilnya dari beranda dan mengembalikan kertas ulangannya serta memberikan buku Nol: Asal-usul dan Perjalanannya.

Itu jadi pertemuan pertama Laura dengan Tuan Maxwell yang kemudian diikuti oleh kunjungan lainnya sebab di rumah yang kelihatan angker tersebut terdapat perpustakaan lengkap. Laura seperti menemukan tempat paling nyaman. Usut punya usut, Tuan Maxwell ternyata seorang profesor matematika. Berkat diskusi yang Laura lakukan dengan Tuan dan Nyonya Maxwell, nilai matematikanya berangsur-angsur membaik.

Novel ini memang penuh pembahasan matematika. Sebagiannya saya tidak memahami. Namun, tetap saja asyik diikuti sebab menambah wawasan. Dan fakta mengenai penuh matematika memang menjadi alasan beberapa blogger menyukai novel ini. Alasan lainnya, gaya menulis Ihsani memang patut diacungi jempol. Selain renyah dan apik, gaya menulis Ihsani pas sekali dengan pemilihan karakter anak-anak.

Ada persamaan dari ketiga novel karya Ihsani; tokoh utamanya anak-anak atau remaja. Dan saya merasa tokoh Laura di novel ini mirip sekali dengan tokoh Ann di novel A Hole in The Head. Keduanya punya sifat ingin tahu, suka petualangan, dan selalu ceria khas anak-anak.

Saya menyatakan lebih suka novel A Hole in The Head dibandingkan novel ini karena unsur petualangan di novel ini sangat sedikit. Teka-Teki Terakhir yang menjadi judulnya sempat mengecoh karena saya berharap menemukan petualangan menemukan misteri. Yang ada justru teka-teki terakhir ini menunjuk ke pencarian Tuan Maxwell akan pembuktian Teorema Fermat Terakhir. Jadi bukan si Laura yang melakukan pencariaannya.

Ada bagian cerita yang terhubung langsung dengan emosi saya ketika membacanya. Yaitu ketika Tuan Maxwell meninggal dan Laura merasa kehilangan. Saya pernah mengalami hal serupa, kehilangan orang terkasih. Narasi Laura yang merasa ada yang tercabut sebagian jiwanya sangat mewakili apa yang pernah saya rasakan. Bahkan sampai detik ini saya belum berani mengintip foto dia di sosial medianya meski sangat rindu. Perasaan kehilangan itu yang membuat saya menyukai novel ini. Bukan matematika, bukan konflik persahabatan Laura dengan Katie, atau kekecewaan Tuan Maxwell yang akhirnya kalah dalam pencarian Teorema Fermat Terakhir.

Di novel ini kita akan melihat bentuk persahabatan yang solid. Yah, meski di tengah persahabatan akan selalu ditemukan pertengekaran-pertengkaran, tapi jika persahabatan itu solid pasti akan kembali akur. Laura dan Katie sempat saling menghindar. Keduanya sadar akan kondisi tak beres, dan keduanya gengsi untuk memulai kembali sehingga butuh berbulan-bulan agar mereka kembali menyapa. Inilah warna dalam persahabatan. Tidak selalu tertawa bareng, tidak selalu menangis bareng, tapi ada kalanya harus saling berseteru.

Untuk Laura yang kemudian berubah dewasa berkat perkenalannya dengan keluarga Maxwell, saya memberikan nilai 4/5 untuk buku ini. Novel yang pas dan cocok dibaca oleh anak-anak dan remaja untuk menyukai matematika.

Januari 17, 2018

[Resensi] 26 Langkah Menuju Puncak Kesuksesan - Ahmad Zahrudin M. Nafis


Judul: 26 Langkah Menuju Puncak Kesuksesan
Penulis: Ahmad Zahrudin M. Nafis
Penyunting: Aprilia Wirahma
Penerbit: Qibla
Cetakan: 04 Desember 2017
Tebal buku: 160 halaman
ISBN: 9786024552695
Harga: Rp45.000 (via gramedia.com, sebelum diskon)

Setiap orang pasti mengidamkan memiliki kesuksesan di dalam hidupnya. Sebab orang yang sukses akan memiliki manfaat yang lebih banyak untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk lingkungan sekitar. Kesuksesan yang dimaksud bisa dilihat dari banyak aspek. Aspek kebahagiaan, aspek karir, aspek kemapanan, aspek pergaulan dan masih banyak aspek lainnya. Permasalahannya bagaimana kita bisa menjadikan diri kita sebagai orang sukses.

Berangkat dari keinginan ini, buku 26 Langkah Menuju Puncak Kesuksesan mencoba memberikan panduan untuk merubah kepribadian kita agar menjadi lebih baik. Pada pendahuluan buku ini ditegaskan pentingnya mempraktikkan ke-26 cara tersebut, bukan sekadar dibaca dan diketahui saja.

Buku ini menarik minat saya karena memang apa yang diuraikan di dalamnya merupakan langkah-langkah sederhana. Kesederhanaan ini yang ternyata terlewatkan oleh kita. Padahal dalam melakukannya tidak butuh usaha yang keras, asal mau saja.

Langkah pertama, Keahlian Sebagai Penentu Kesuksesan, menggaungkan pentingnya kita memiliki kemampuan yang spesifik. Kemampuan ini harus terus digali supaya menjadi keahlian. Sehingga kemampuan ini dapat mengantarkan kita pada kesuksesan. Dan jika berbicara uang, kemampuan yang ahli akan diikuti oleh penghargaan.

Langkah kedua, Jadilah Yang Terbaik, mengharuskan kita untuk selalu menyelesaikan apa yang kita lakukan dengan usaha paling baik. Selain hasilnya akan memuaskan, penampilan terbaik akan menghadirkan kepercayaan dari rekan-rekan dan atasan kita.

Langkah lainnya yang paling mengena adalah menjadi orang yang jujur. Saya mengakui menjadi orang yang jujur memiliki tantangan tersendiri. Ditambah dengan kemajuan zaman yang dilingkupi banyak permasalahan, menjadikan jujur sebagai jati diri akan membutuhkan sikap konsisten yang tahan banting.

Buku ini jadi bahan bacaan yang ringan sebab setiap pembahasan langkah-langkahnya dikemas dalam bab yang pendek. Tetapi saya menyarankan untuk meresapi maksud dalam setiap bab-nya sebelum melanjutkan ke langkah selanjutnya.

Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saja yang memiliki keinginan menjadi manusia terbaik dengan karakter paling baik. Setiap niat baik InsyaAllah akan dimudahkan jalannya oleh Allah SWT. Dan akhirnya saya memberikan nilai 3/5 untuk langkah-langkah yang dipaparkan oleh Zahrudin.