Bebukuan Juni 2024


Halo! Apa kabar?

Kali ini saya membuat artikel Bebukuan ini terlambat sekali. Sebenarnya tulisan ini sudah dibuat dari awal bulan tetapi saya belum sempat memfoto buku-buku yang disebutkan di sini. Alhasil, tulisan ini terlambat dipublikasikan.

Di luar alasan keterlambatan tadi, saya tetap mempublikasikan artikel ini untuk menjaga konsistensi. Dan semoga buku-buku yang saya sebutkan di setiap Bebukuan bisa jadi referensi bacaan untuk pengunjung blog ini. 

Prolognya enggak akan panjang-panjang, langsung saja berikut ini adalah Bebukuan Juni 2024:

Bacaan Juni 2024

Rencana buku yang akan dibaca pada bulan Juni 2024, yang saya tuliskan juga di Bebukuan Mei 2024 kemarin, ada enam judul, tetapi saya berhasil menyelesaikan empat judul saja. Bagi saya ini jumlah yang lumayan.

1. 1Q84 Jilid 2 karya Haruki Murakami

2. A Man Called Ove karya Fredrik Backman

3. Titipan Kilat Penyihir karya Eiko Kadono

4. The Biscuits karya Kim Sunmi


Koleksi Juni 2024

Bulan kemarin saya membeli beberapa buku dan otomatis masuk TBR yang makin menggunung.

1. Babel karya R.F. Kuang

2. Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio

3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo





4. Parnassus Keliling karya Christopher Morley

5. A Midsummer's Equation karya Keigo Higashino

6. Win Your Inner Battles karya Darius Foroux

7. Tube karya Sohn Won-Pyung





Rencana Baca Juli 2024

Semoga di bulan Juli 2024 ini saya bisa membaca lebih dari empat judul agar TBR saya bisa berangsur-angsur berkurang.

1. Roma karya Robin Wijaya

2. Negeri Yang Dilanda Huru-Hara karya Ken Hanggara

3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo




4. 1Q84 Jilid 3 karya Haruki Murakami

5. Mao Mao & Berang-Berang; Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia karya Clara NG

6. A Dog Called Money karya Bodo Schafer



***


Nah, sekian rangkuman Bebukuan Juni 2024. Semoga bulan Juli ini kegiatan membaca saya lancar sehingga bisa mengurangi TBR. Satu lagi, semoga saya bisa mengurangi membeli buku agar bisa fokus membaca buku yang sudah ada dulu.

Untuk teman-teman, bagaimana progres Bebukuan kalian di bulan Juni kemarin? 


[Intermeso] Belajar Menulis Lebih Baik




Kapan terakhir kali bisa menulis lancar?

Pertanyaan ini sering banget mengusik perasaan akhir-akhir ini. Apalagi kalau ingat ada beberapa buku yang sudah kelar dibaca tapi belum ditulis ulasannya. Saya memang sedang kesulitan menulis, baik kelanjutan cerita di Wattpad, jurnal di Notion, atau ulasan buku di blog ini. Dan kemandegan ini bikin perasaan saya agak kurang nyaman dan sedih. 

Setelah ditelusuri seksama, saya menemukan titik awalnya. Jadi pada bulan-bulan akhir tahun 2023 saya menghadapi masalah pribadi yang besar. Waktu, pikiran, dan kewarasan otak terkuras untuk menyelesaikannya. Dan tidak jauh sebelum masalah itu datang, saya sudah menulis mati-matian dan seperti di kejar setan sebuah cerita bersambung yang saya komersialkan di akun karyakarsa. Di momen yang tumpang tindih itu, saya dipaksa berhenti. Mental saya terperosok. Ide saya menguap. Waktu menulis bukan prioritas. Dan butuh berbulan-bulan untuk bisa keluar dari masalah itu.

Jeda yang panjang bikin saya kagok merangkai kata jadi tulisan walau situasi pribadi saya sudah kembali stabil. Kemampuan saya kembali seperti bocah. Punya niat besar memulai kembali tapi otak dan tangan masih gemetaran. Persis seperti anak kecil mau mulai belajar jalan. 

Sepanjang tahun 2024 ini saya sudah belajar lagi menulis ulasan buku tapi hasilnya belum kelihatan. Hasil yang saya maksud bukan sekadar berapa tulisan yang saya buat setiap bulannya, tetapi diukur juga sudah senyaman apa saya ketika menulisnya.

Jujur, untuk satu tulisan ulasan buku harus dibuat berhari-hari karena selalu kacau membuat runutannya. Jika lolos dengan runutan, saya dicegat lagi dengan diksi-diksi hambar yang pasti bakal membingungkan pembaca blog ini. Nyawa saya di tulisan itu hampir kosong, kalau ada pun pasti menerawang hampir enggak kelihatan. 

Bahkan ada juga ulasan buku yang harus saya revisi total karena yang sudah disusun jadinya tulisan omong kosong, tidak fokus, bahkan tidak informatif. Bukan karena standar saya yang ketinggian. Saya sudah mengingatkan diri sendiri untuk menulis sederhana saja dan hasilnya bukan sederhana, lebih di bawah itu. Miris.

Keresahan perkara menulis ini membayangi hari-hari saya. Beberapa artikel dibaca terutama tips dan trik agar bisa menulis lebih baik dan lancar. Tak hanya yang berbahasa Indonesia, tulisan asing pun saya terjemahkan dulu di google lalu saya coba pahami. Sederhananya, saya pernah muak dengan menulis dan efek momen itu masih bersisa sampai sekarang.

Solusi yang paling mungkin dilakukan adalah belajar, belajar, belajar, dan sabar. Saya harus mulai menulis lagi, tidak melulu ulasan, bisa dengan tulisan random, yang pasti harus mendekatkan lagi dengan diksi-diksi dan coba-coba dirangkai dengan telaten. Tidak harus berpanjang-panjang tulisannya, bisa juga yang pendek-pendek. Tidak mesti yang langsung indah, yang utama bisa menyampaikan pesan yang mau dibagikan. Saya memutuskan untuk menulis dengan sederhana dan ringan.

Saya juga harus merubah mindset soal menulis. Jangan melihat hasilnya yang harus bagus, tapi harus bisa menikmati prosesnya. Menulis tidak boleh jadi beban, tapi solusi melepaskan beban. Menulis itu tidak boleh terkekang, tapi bisa mendewasakan. Semangat ini yang saya coba serap. Menulis itu menyenangkan dan jalan memberi manfaat untuk pembaca lain, sekali pun manfaatnya hanya hiburan.

Pada proses 'belajar menulis lebih baik' pasti akan berimbas dengan artikel-artikel ke depannya yang akan berubah-ubah. Saya tidak punya pakem yang saklek soal menulis ulasan atau tulisan lainnya. Selama ini pun berbagai format dicoba. Perbaikan di sana-sini. Copot, ganti, rombak, bangun. Itu menyenangkan buat saya, hahaha, tapi pasti belum menyenangkan pembaca blog ini. Jadi bersabar dulu ya.

Ini sudah di ujung tulisan uneg-uneg batin soal menulis. Saya sudah menerbangkan sebagian keresahan dan beban yang kemarin-kemarin memenuhi hati dan pikiran. Pengakuan sudah ditulis. Besok pasti akan menulis tulisan lainnya, bisa di sini, bisa di Wattpad, bisa juga di Notion. 

Saya ingat poin penting lainnya, belajar itu lebih enak kalau didukung orang lain. Selain sebagai pengawas, yang lain bisa jadi teman. Dan saya mau minta pembaca blog ini memberi semangat ke saya dengan kata-kata semangatnya. Tulis di kolom komentar biar saya enggak merasa sendirian.

Dan saya juga ingin mengajak teman-teman untuk, "Ayo kita belajar menulis lebih baik lagi!"


Resensi Novel The Biscuits - Kim Sunmi

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]

sampulnya menekuk pas baca, hehe


Judul: The Biscuits

Penulis: Kim Sunmi

Penerjemah: Dian Susanti

Editor: Grace Situngkir

Sampul: Tika Ardianti

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Maret 2024

Tebal: iv + 180 hlm.

ISBN: 9786230057366


Novel The Biscuits ini menceritakan soal remaja 17 tahun bernama Seong Jesung yang bisa mendeteksi keberadaan Biskuit melalui suara berkat penyakit Obsesif-Compulsif Disorder (OCD) suara, hiperakusis, dan fonofobia, yang dideritanya. Penyakit ini membuat Jesung bisa mendengar suara sekecil apa pun.

Biskuit sendiri adalah istilah untuk orang-orang yang eksistensinya terus turun sehingga sosoknya jadi buram dan bisa sampai tidak terlihat. Biasanya ini terjadi karena orang tersebut mengalami perundungan, diabaikan, dan disepelekan. 

Pada satu momen ketika Jesung menginap di villa Bibinya, ia mendengar suara biskuit di lantai atas tetangganya. Namun saat digeledah bersama polisi, tidak ditemukan sosoknya. Merasa biskuit itu sedang dalam kondisi parah, Jesung merencanakan menolongnya dengan bantuan dua temannya: Deokhwan dan Hyojin. Rencananya pasti akan melanggar peraturan dengan memasuki properti orang lain tetapi tidak ada jalan lain.

***


Setelah membaca novel ini, saya merasa suka dengan konsep ceritanya yang berbeda dari kebanyakan. Banyak hal baru yang saya ketahui dari novel ini.

Jesung mengidap tiga sakit sekaligus: Obsesif-Compulsif Disorder (OCD) suara, hiperakusis, dan fonofobia. Sederhananya, pendengaran Jesung jadi super sensitif. Beberapa suara yang menurut orang normal terdengar biasa saja, bagi Jesung bisa sangat mengganggu. Contohnya suara tombol pulpen yang dimainkan berkali-kali atau suara ketukan pulpen di meja yang berulang-ulang. Bahkan Jesung bisa mendengar suara lirih anak kecil yang menangis tertahan di lantai atas vila Bibinya, yang justru tidak bisa didengar oleh Bibinya.


Hiperakusis: Penurunan toleransi suara terhadap suara lingkungan biasa. Penderita menggambarkan pengalaman suara yang awalnya normal menjadi tidak menyenangkan, menakutkan, dan menyakitkan.

Fonofobia: Ketakutan, kemarahan, atau kecemasan ketika mendengar suara-suara tertentu yang memicu emosi negatif.


Biskuit sendiri adalah istilah untuk orang-orang yang eksistensinya kurang dirasakan oleh masyarakat atau lingkungan sekitar. Fenomena ini bisa terjadi kepada siapa pun. Dalam kehidupan nyata pun kita pasti pernah mendapati seseorang yang kehadirannya enggak terasa tapi mereka ada. Biasanya kita baru sadar keberadaannya ketika mendapat kabar kalau dia meninggal atau mengalami sesuatu. Cuma di novel ini dibumbui fantasi dengan menggambarkan sosok biskuit menjadi samar-samar bahkan berubah transparan.

Biskuit digolongkan menjadi tiga tahap sesuai ciri-ciri kondisinya. Tahap pertama disebut terbelah dua dan dicirikan eksistensinya tidak terasa walaupun sosoknya terlihat. Tahap kedua disebut kondisi terpecah belah dengan ciri kehadirannya tidak stabil dan mereka biasanya tidak bisa melindungi diri sendiri karena lemah. Tahap ketiga disebut kondisi hancur berkeping-keping dengan ciri mereka hampir menghilang karena sudah tidak ada sisa eksistensinya di dunia.

Seseorang jadi biskuit karena mereka diremehkan, dirundung, bahkan diabaikan. Hyojin pernah berada di tahap ketiga karena ayahnya ternyata sibuk dan tidak memperhatikannya. Ditambah saat itu Hyojin bersedih karena kehilangan ibunya sehingga kesedihan dan pengabaian itu menyebabkannya perlahan-lahan menjadi biskuit.

Contoh lain adalah Perawat Park yang jadi biskuit karena ia kerap dirundung dan dimintai tolong menggantikan jadwal shift. Perawat Park tidak pernah menolak permintaan rekan lainnya. Ada keinginan untuk memberontak namun Perawat Park tidak berani. Dan karena hal ini ia makin jadi pendiam dan menutup diri, sehingga ia pun berubah jadi biskuit.

Josse atau Lee Jian pun menjadi biskuit karena dia anak kedua atau anak tengah. Perhatian orang tuanya sudah tercurah untuk kakaknya yang akan masuk perguruan tinggi dan untuk adiknya yang masih kecil yang butuh lebih banyak pengawasan. Sehingga Lee Jian terabaikan dan dia menanggung kesedihan sendirian.

Seseorang yang jadi biskuit bisa kembali normal asal dibantu oleh keluarga, teman, rekan kerja, atau siapa pun, yang bisa membuatnya percaya diri kalau dirinya berharga di dunia ini. Memotivasinya merupakan salah satu cara memulihkannya. Itu juga yang dilakukan Jesung kepada biskuit yang dia temui.

Setelah membaca novel ini kita diingatkan untuk bisa menumbuhkan rasa percaya diri, mencintai diri sendiri, dan mau tak mau kita harus punya kemampuan untuk bisa mengungkapkan apa yang kita pikir dan rasakan. Yang perlu diingat juga, orang lain tidak bisa mengetahui keadaan kita, apalagi untuk menolong kita, makanya kita perlu mengkomunikasikan jika memang kita butuh diperhatikan atau perlu didengarkan.

Tema keluarga dan pertemanan sangat kental di sini. Sub konflik pun berpusar di dua hal itu. Interaksi Jesung dan ayahnya. Interaksi Jesung dengan teman-temannya. Ini yang membuat novel ini terasa ringan tapi menyenangkan. Apalagi secara tipis-tipis penulis juga menyisipkan tema romansa yang malu-malu gitu. Bikin makin gregetan.

Karakter yang muncul memang tidak banyak, termasuk para biskuit yang ditemukan Jesung, tetapi untuk tokoh-tokoh pentingnya punya penggambaran yang jelas dan bulat. Saya bisa membedakan antara masing-masing tokoh dengan sifat-sifatnya. Karakter favorit tentu saja Kak Changsung, biar urakan dan menyebalkan tapi kayaknya dia tipe orang yang seru buat dikenal. 

Saya merekomendasikan novel ini dibaca untuk pembaca remaja. Semoga buku ini bisa menumbuhkan karakter mereka di tengah fase mencari jati diri. Terutama rasa percaya diri yang harus dimiliki agar jangan sampai terjebak seperti biskuit.

Sekian ulasan saya untuk novel ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Resensi Novel Titipan Kilat Penyihir - Eiko Kadono

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Titipan Kilat Penyihir

Penulis: Eiko Kadono

Penerjemah: Dina Faoziah, Junko Miyamoto

Editor: Juliana Tan

Ilustrator sampul: Staven Andersen

Ilustrator isi: Akiko Hayashi

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: April 2024

Tebal: 200 hlm.

ISBN: 9786020676777


Kiki sudah berusia 13 tahun dan dia sudah harus mengikuti tradisi penyihir untuk memulai hidup mandiri dengan meninggalkan rumah dan tinggal di suatu kota atau desa yang belum ada penyihirnya. Berbekal sihir mengendarai sapu terbang dan ditemani kucing hitam bernama Jiji, Kiki memilih Kota Koriko sebagai tempat ia akan belajar mandiri.

Di kota ini Kiki banyak terbantu oleh pasangan suami istri pemilik toko roti yang sudah mengijinkannya tinggal di gudang gandum. Dan Kiki memutuskan membuka jasa pengiriman dengan sebutan Titipan Kilat Penyihir dalam upaya melangsungkan kehidupan dan untuk membantu banyak orang di kota tersebut sehingga penilaian mereka terhadap penyihir tidak lagi keliru.

Satu tahun waktu yang dimiliki Kiki sebelum ia kembali pulang ke rumah orang tuanya. Dan semenjak membuka jasa Titipan Kilat Penyihir, Kiki bertemu dengan banyak orang yang membuatnya bertambah dewasa.

***


Rupanya novel Titipan Kilat Penyihir ini pernah diterbitkan di tahun 2006 dengan sampul yang lebih klasik. Dan menurut saya sampul yang lama itu lebih menarik. Tokoh Kiki kelihatan sekali sebagai penyihir yang masih remaja karena ilustrasinya lebih utuh sebadan-badan.



Novel Titipan Kilat Penyihir adalah novel remaja dengan tema penyihir. Gambaran penyihir di sini berbeda dengan cerita-cerita penyihir lain yang menampilkan tokoh seorang nenek menyeramkan, melainkan gadis muda bernama Kiki. Makanya setiba di Kota Koriko, banyak warga kota itu yang tidak percaya kalau Kiki seorang penyihir.

Kiki menjadi penyihir karena keturunan dari garis ibunya, Kokiri-san. Sedangkan ayahnya, Okino-san, hanya pria biasa yang gemar mendongeng. Pengetahuan baru buat saya, ternyata anak perempuan yang lahir dari orang tua penyihir akan diberikan pilihan untuk meneruskan jadi penyihir atau enggak, saat anak itu berusia sepuluh tahun. Setidaknya ada rentang waktu dua tahun untuk belajar dan mempersiapkan diri sebagai penyihir sebelum melakukan tradisi hidup mandiri pada saat si anak berusia 13 tahun.

Dan karena Kiki memulai hidup mandirinya bersama kucing hitam bernama Jiji, saya pun sempat bertanya-tanya, apa mereka akan terus bersama. Jawabannya ternyata kucing hitam itu akan berpisah dengan penyihir saat si penyihir sudah menemukan pasangannya. Kemungkinan sih pas Kiki menemukan suaminya. Oh, begitu...

Dari kisah Kiki yang menjalankan usaha Titipan Kilat Penyihir, kita bisa belajar tentang konsep Give and Take atau Memberi dan Menerima. Kiki akan dengan senang hati membantu siapa pun yang membutuhkan, terutama soal mengirim sesuatu, asal itu bukan hal buruk. Dan atas itu Kiki tidak mematok harus dibayar berapa atau dibalas apa, melainkan Kiki akan menerima apa pun yang diberikan. 


Penyihir harus tampak sederhana dan tidak menonjolkan diri (hal. 29)


Dalam salah satu tugas, Kiki diminta mengantarkan hadiah ulang tahun oleh pelanggan tapi tidak boleh menyebutkan siapa pengirimnya kepada si penerima. Dan setelah tugas ini selesai, Kiki hanya ingin dibayar dengan informasi reaksi kelanjutan si penerima hadiah. Kadang Kiki berpikir sesederhana itu.

Apa yang dilakukan Kiki menyimbolkan makna ketulusan. Tidak dipungkiri juga dalam membantu orang lain, sesekali akan merasa enggan dan malas. Apalagi jika tugas yang diminta pelanggan terasa berat untuk dilakukan oleh remaja seusianya. Namun ia tetap mengupayakan menyelesaikannya karena jika sudah berhasil Kiki merasakan perasaan senang.

Walau pun karakter Kiki di sepanjang buku digambarkan sebagai penyihir baik, tetapi sifat remajanya yang kerap menjengkelkan tetap disisipkan penulis. Ini membuat tokoh Kiki jauh lebih manusiawi. Misalnya saat ia melanggar membaca puisi dari pelanggan hingga kertasnya hanyut ke sungai, murni kecerobohan itu akibat dorongan rasa ingin tahu yang tinggi. Dia tahu kalau tindakannya buruk tetapi tetap saja dilakukan. Atau cara dia membentak kucingnya, Jiji, saat perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Kiki di momen ini terasa jahat sekali terhadap kucing yang sudah jadi temannya berpetualang.



Jangan suka terpaku pada penampilan luar. Yang terpenting adalah hati (hal. 26)


Dari kesalahan itu Kiki mau bertanggung jawab dengan mengakui dirinya yang salah dan memohon maaf. Semuanya menjadi pembelajaran yang membuat Kiki mengalami perubahan sifat lebih dewasa setelah setahun berlalu tinggal dan berinteraksi dengan warga di Kota Koriko.

Saya juga suka dengan keharmonisan keluarga Kiki. Apalagi waktu Kiki kembali ke rumah orang tuanya, benar-benar adegan mengharukan. Bisa dibayangkan setahun tidak ketemu lalu kemudian pulang dan bertemu dengan orang-orang yang disayangi. Kebahagiaannya pasti membuncah.


Punya tempat untuk pulang itu ternyata memang benar-benar menyenangkan ya (hal. 191)


Novel ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi manis yang akan membantu kita membayangkan beberapa adegan yang ada di ceritanya. Juga memberi hiburan tambahan di sela-sela deretan huruf-huruf.

Selain itu, buku tentang Kiki si penyihir ini ternyata berjumlah enam buku. Dan hanya buku pertama ini saja yang sudah dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Penasaran sih dengan cerita di buku lainnya, akan membahas Kiki berkegiatan apa lagi.

Secara keseluruhan novel Titipan Kilat Penyihir ini enak dibaca karena ceritanya yang ringan dan punya kisah petualangan yang seru. Meski pun keajaiban dari sihirnya tidak banyak, novel ini bisa direkomendasikan untuk mengenal dunia penyihir yang levelnya masih amatir.

Nah, sekian ulasan saya untuk novelnya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Resensi Novel A Man Called Ove (Pria Bernama Ove) - Fredrik Backman

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: A Man Called Ove (Pria Bernama Ove)

Penulis: Fredrik Backman

Penerjemah: Lulu Wijaya

Editor: Tanti Lesmana

Sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Februari 2022

Tebal: 384 hlm.

ISBN: 9786020657899


Novel A Man Called Ove atau Pria Bernama Ove mengisahkan pria 59 tahun yang kolot, penggerutu, dan suka marah-marah. Perpaduan sikapnya ini yang membuat orang-orang di sekitarnya enggan bersinggungan karena mereka tidak paham dengan apa yang sedang dialami dan dirasakan Ove sebenarnya.

Enam bulan lalu Ove kehilangan istrinya, Sonja, akibat kanker. Dunianya runtuh karena hanya Sonja yang memahaminya selama ini. Dan pada suatu hari Senin, Ove dipensiunkan dari pekerjaannya karena faktor usia. Hari Selasa besoknya Ove tidak tahu harus melakukan apa. Selama ini dia terbiasa dengan rutinitas dan ketika harus berhenti kerja ia kebingungan akan melakukan apa.

Ove memutuskan bunuh diri untuk menyusul Sonja tetapi aksinya selalu gagal. Caranya dengan gantung diri, mengunci diri di garasi dengan mesin mobil dinyalakan, dan menggunakan senapan milik ayah Sonja. Ia makin kesal karena pertemuan dengan Sonja makin meleset. Ditambah kehadiran pasangan Patrick dan Parvaneh serta dua putrinya yang semakin hari semakin merecoki hari-harinya.

Kedatangan Parvaneh menyeret Ove ke dalam masalah orang-orang di sekitar rumahnya. Walau dengan gerutuan dan marah-marahnya, Ove tetap bersedia membantu siapa pun.

***

Novel ini berisi drama kehidupan seorang kakek yang ingin bunuh diri tapi gagal terus. Ia justru terlibat dengan masalah tetangganya. Ove harus membantu memarkirkan kontener yang dibawa Patrick. Ove harus membantu membereskan radiator milik pasangan Rune dan Anita. Ove harus mengantar Parvaneh ke rumah sakit saat Patrick jatuh dari tangga. Ove harus menyelamatkan kucing liar yang beku karena salju. Ove harus mengantar Jimmy ke rumah sakit yang alergi kucing. Ove harus membantu membetulkan sepeda  milik gebetan Adrian. Ove harus menampung sementara Mirsad yang sedang bertengkar dengan ayahnya. Dan tugas besarnya adalah Ove harus melawan pemerintah daerah yang akan memisahkan Rune dari Anita dengan alasan kesehatan. Rune akan dimasukan ke panti jompo karena Anita dianggap tidak bisa mengurus suaminya itu.

Yang bikin kisahnya menarik karena kita akan melihat bagaimana reaksi Ove si pemarah dan penggerutu ketika menghadapi masalah tetangga-tetangganya itu. Ove begitu kolot dan keras kepala. Jadi siapa pun yang bersinggungan dengannya yang harus memaklumi reaksi Ove. Terkadang Ove jadi begitu jujur, bahkan ketika ia menyebut Mirsad dengan sebutan 'bencong' di depan ayahnya. Pada momen ini Parvaneh sampai bingung mencegah ucapan ceplas-ceplos Ove.

Saya suka dengan karakter Ove karena dia hanya mengenal warna hitam dan putih atau benar dan salah. Dia tipikal pria yang memiliki prinsip hidup yang kuat, kemudian ia praktikan dalam kehidupan sehari-hari dan juga alam urusan asmara. Karakternya benar-benar menginspirasi saya untuk terus melakukan perubahan diri ke arah lebih baik. 



Berikut beberapa prinsip yang dimiliki Ove:

Zaman sekarang, semuanya serba pinjaman, semua orang tahu cara hidup orang-orang lain (hal. 16) Prinsip Ove untuk tidak mempunyai hutang memang patut ditiru. Ove orang yang mendahulukan kebutuhan dan fungsi tidak tertarik dengan sesuatu yang menurutnya buang-buang uang. Ini selaras dengan sindiran berikut, orang-orang zaman sekarang sudah tidak punya benda-benda berguna. Orang cuma punya tetek bengek (hal. 19).

Tetapi di rumah Ove, makanan tidak boleh dibuang-buang (hal. 30). Khusus yang ini bikin saya sadar kalau saya selama ini sering membuang makanan dan dengan entengnya berdalih sudah kenyang. Padahal sebaiknya kita tahu kapan harus makan dan seberapa porsi yang bisa kita habiskan sehingga tidak ada makanan yang dibuang.

Orang dibentuk oleh apa yang mereka perbuat. Bukan apa yang mereka katakan (hal. 93). Ove yang tipikal pria pendiam, seperti ayahnya, dikenal pekerja keras. Hasil pekerjaannya bagus dan orang mengenal Ove dan ayahnya karena prinsip ini. Saya seperti diingatkan untuk bekerja lebih baik agar menghasilkan hasil yang terbaik. Bukan banyak omong untuk membanggakan diri atau membesar-besarkan apa yang sudah kita lakukan. Suatu pekerjaan, bila dilakukan dengan baik, mendatangkan kepuasaan yang cukup (hal. 105).

Sebab dalam hidup setiap orang ada waktunya untuk memutuskan akan menjadi orang macam apa: orang yang membiarkan orang lain menindasnya, atau tidak (hal. 128). Yup, kita seharusnya memang menyadari kita mau jadi orang yang bagaimana. Sehingga apa yang kita lakukan akan tertuju ke tujuan itu. Tapi saya yakin siapa pun ingin jadi versi terbaiknya. Tapi kita harus menjabarkan dengan lugas, versi terbaik yang bagaimana. Gara-gara penggalan kalimat ini, saya pun menuliskan ulang versi terbaik yang ingin saya punya dan masa depan yang bagaimana yang ingin saya lalui. Buat teman-teman juga kayaknya ini momen yang tepat untuk melihat lagi kita mau jadi apa, momen untuk membaca diri lebih dalam lagi. Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya (hal. 234).

Sikap dermawan akan kita dapatkan dari karakter Sonja. Ketika orang memberi orang lain, bukan hanya si penerima yang diberkati. Si pemberi juga (hal. 214). Sudah banyak yang bahas kalau memberi itu perbuatan yang membuat kita jadi lebih baik. Ada sensasi spiritual yang hanya bisa dirasakan ketika kita melakukannya. 

Semua orang ingin menjalani hidup bermartabat; hanya saja martabat itu memiliki arti yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda (hal. 308). Martabat Ove adalah harus mandiri semasa muda karena haknya untuk tidak mengandalkan orang lain setelah dewasa. Keren! Lalu saya bener-bener malu, martabat apa yang saya miliki dalam hidup ini. Saya ternyata tidak pernah memikirkan soal ini, padahal penting.

Saya suka dengan penceritaan penulis yang menceritakan semua sisi kehidupan Ove sejak ia kecil hingga jadi kakek-kakek. Ove yang begini karena ada kejadian masa lalu yang membentuknya. Peran ayahnya pun memiliki andil besar. Saya paling terharu ketika Ove diajari untuk berlaku jujur tapi jangan jadi orang yang suka mengadukan orang lain. Ove dan ayahnya adalah sosok pria langka di zaman sekarang.

Di novel ini kita juga bisa belajar bagaimana membuat kisah cinta yang romantis dan abadi. Ove dan Sonja bukan pasangan yang serasi di mata orang lain tetapi keduanya paham orang seperti apa yang mereka butuhkan untuk bahagia. Dan saya begitu terharu ketika Ove mengambil hati ayah Sonja yang sama kakunya dengannya. Begitu gentle dan manis. Ove beruntung mendapatkan Sonja, dan Sonja pun beruntung memiliki Ove. Bukankah cinta harus bentuknya begini, sama-sama beruntung memiliki satu sama lain?

Alur novel ini mencampurkan alur maju dan alur mundur. Cara ini dipakai untuk mengulik secara rinci kehidupan Ove. Dan secara penerjemahan, saya begitu menikmatinya karena begitu bagus. 

Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca siapa pun sebagai pengingat kalau kita itu harus punya karakter yang tebal. Maksudnya kita harus bisa dikenali orang berkat karakter kita. Sehingga jika kita meninggal nanti, akan banyak orang yang merasa kehilangan dan akan banyak orang yang berterima kasih telah bertemu kita. Dan novel ini punya akhir cerita yang mengharukan, sama mengharukan dengan filmnya. 

Yup, novel ini sudah difilmkan pada tahun 2015 dengan judul sama, A Man Called Ove, versi Swedia. Dan tahun 2022 kembali dibuat filmnya dengan judul A Man Called Otto yang dibintangi Tom Hanks.


2015

2022

Sekian ulasan saya untuk novel A Man Called Ove atau Pria Bernama Ove ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Novel 1Q84 Jilid 2 - Haruki Murakami

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: 1Q84 Jilid 2

Penulis: Haruki Murakami

Penerjemah: Ribeka Ota

Desain sampul: Andrey Pratama

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2024, cetakan kedelapan

Tebal: vi + 452 hlm.

ISBN: 9786024240066


Novel ini kelanjutan dari buku 1Q84 Jilid 1 yang menceritakan dua tokoh utama; Tengo dan Aomame, yang akan bersinggungan untuk menyelami misteri komune Sakigake. Pada akhir buku pertamanya, Tengo dan Aomame sepakat untuk memulai penyelidikan walau dengan motif yang berbeda. Tengo ingin mengetahui isi komune tersebut sebagai latar belakang Fuka-Eri. Aomame ingin memberi pelajaran si Pemimpin yang sudah melecehkan anak perempuan di bawah umur dengan dalih ritual.

Atas kesabaran menunggu momen yang tepat, Aomame akhirnya bisa berhadapan langsung dengan si Pemimpin komune, sebagai tukang pijat. Keduanya berdialog intens tentang komune dan Orang Kecil. Walau sempat terbersit simpati dengan penderitaan si Pemimpin dalam posisinya sebagai kepala komune, rencana Aomame dapat dituntaskan. Ada perjanjian yang akhirnya disepakati keduanya mengenai nasib Tengo.

Keterlibatan Tengo membuat novel Kepompong Udara bersama Fuka-Eri membawa resiko besar. Komune Sakigake mengintimidasi. Dan Tengo mulai menyimpulkan jika keselamatan orang-orang terdekatnya ikut terancam. Pertama, pacar rahasianya mendadak tidak bisa menemuinya lagi di masa depan, kabar itu disampaikan oleh suami pacarnya dengan nada aneh. Kedua, Pak Komatsu selaku editor menghilang tanpa kabar di tengah banyak tugas yang harus diurus karena novel Kepompong Udara menjadi best seller dan pembicaraan di masyarakat.

Misteri soal komune Sakigake mulai dibuka sedikit demi sedikit. Namun tentang keberadaan Orang Kecil ini yang masih belum jelas. Dari novel Kepompong Udara disebutkan jika Orang Kecil ini adalah mahluk misterus yang pertama kali muncul dari bangkai kambing yang waktu itu dikurung di gudang bersama tokoh utama. Mulut kambing disebut sebagai lorong. 

Kepompong Udara sendiri adalah hasil kerja Orang Kecil yang biasa muncul di malam hari. Isi kempompong itu sendiri adalah manusia yang mirip dengan manusia yang sudah hidup lebih dulu. Jika merujuk pada isi novel Kepompong Udara, kepompong yang pertama kali dibuat oleh Orang Kecil berisi sosok Fuka-Eri. Karena kehadiran sosok yang lainnya, Fuka-Eri yang asli memilih kabur karena ia sadar ada hal buruk dan aneh yang akan terjadi di komune. 



Di novel ini akan dibahas juga soal hubungan Tengo dan ayahnya. Tengo merasa kalau dirinya bukan anak dari ayahnya. Dugaan ini diperkuat oleh bayangan ingatan masa kecil soal adegan sensual antara ibunya dengan pria muda yang jelas sekali itu bukan ayahnya. Dan ayahnya yang mengidap demensia dan diurus di sebuah panti, tidak pernah memberikan jawaban jelas ketika Tengo mengonfirmasi soal dugaannya itu.

Akhir novel ini membuat saya penasaran lagi sebab Aomame digambarkan menarik pelatuk pistol yang ia masukkan ke dalam mulutnya. Sedangkan Tengo yang kembali ke panti setelah mendengar kabar ayahnya koma menemukan kepompong udara di kamar ayahnya. 

Selain itu ada drama Aomame melihat Tengo di taman dekat apartemennya, namun saat mau ditemui sosok Tengo sudah menghilang. Saya benar-benar penasaran bakal seperti apa pertemuan Aomame dan Tengo. Dan bagaimana keduanya bekerja sama untuk membuka misteri soal Orang Kecil dan komune Sakigake.

Penerjemahan novel ini sangat baik dan bikin saya begitu menikmati kisahnya. Saya akui kalau jumlah halamannya tebal, tetapi saya tetap dibuat penasaran dan selalu mau melanjutkan membacanya. 

Banyak sekali hal-hal yang absurd yang disebutkan di novel ini, yang kalau dipikir logika itu tidak mungkin ada di kenyataan. Tapi hal-hal absurd tadi tidak mengganggu saya dalam memahami alur kisahnya. Misalnya soal alter yang muncul dari kepompong udara, atau soal kemunculan bulan kedua yang warnanya agak kehijauan. Aneh memang, tapi itu mendukung untuk membuat hal misterus di ceritanya lebih tak tertebak.

Karakter yang muncul di novel ini pun begitu hidup. Untuk tokoh utamanya memiliki karakter yang tebal berkat penceritaan latar belakang yang terperinci. Sebagai pembaca, saya seperti mengenal betul siapa sosok Aomame dan Tengo. Dan tahu betul alasan kenapa mereka menjadi sosok saat ini.

Secara keseluruhan, novel ini bikin nagih dibaca. Saya akui tema ceritanya tidak ringan dan bisa jadi berat untuk beberapa pembaca. Menyelesaikan membaca novel ini ibarat latihan sabar dan untuk menikmatinya kita tidak perlu buru-buru. Saya jadi pengen cepat-cepat baca jilid ketiganya.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel 1Q84 Jilid 2. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



[NOTICE!] 12 Buku Baru Terbit, waspadalah!


Halo, halo, halo!

Apa kabar teman-teman? Semoga sehat-sehat ya!

Artikel NOTICE! terakhir saya publikasikan di tanggal 7 November 2023, setelah itu saya absen. Lumayan lama ya, soalnya sekarang sudah bulan Juni 2024. 

Hemm, masalahnya soal konsistensi saja sih. Soalnya kalau perkara informasi buku baru, hampir setiap bulan pasti ada yang diterbitkan. Alasan basi sih, tapi memang melakukan sesuatu agar rutin itu cukup menantang. Semangat di awal-awal, setelah beberapa waktu timbul rasa malasnya. Ini penyakit di bidang perblogan. Dan sampai detik ini saya masih belajar untuk lebih produktif lagi mengelola blog ini. 

Oya, bulan ini pun saya kebanjiran informasi buku-buku baru yang menarik. Buaaaanyak banget lho! Saking banyaknya, saya harus memilah-milah mana yang akan didahulukan agar dompet dan budget tidak kebablasan. Peringatannya, jangan sampai uang bensin dan uang makan siang kehabisan gara-gara dipakai buat beli buku. 

No! No! No!

Dan inilah daftar buku-buku yang harus diantisipasi bulan ini:

1. Agensi Rumah Tangga karya Almira Bastari | Penerbit Gramedia



2. Parnassus Keliling karya Christopher Morley | Penerbit BACA



3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo | Penerbit BACA



4. Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio Pulixi | Penerbit BACA



5. Risalah Teh & Tiga Keluarga karya Artie Ahmad | Falcon Publishing



6. Bendung Kehilangan karya Khairul Ikhwan Damanik | Falcon Publishing



7. Teori Pernikahan Bahagia karya Aliurrida | Falcon Publishing



8. Iblis Menjelma Senapan Berburu karya S. Prasetyo Utomo | Falcon Publishing



9. Momo karya Michael Ende | Penerbit Gramedia



10. Petaka Keluarga Inugami karya Seishi Yokomizo | Penerbit Gramedia



11. Kisah Jarum Dan Kulit karya Gu Byeong-Mo | Penerbit Gramedia



12. Jini, Jinny karya Jeong Yu-Jeong | Penerbit Gramedia


***

WOW sebanyak itu buku barunya. Gawat! Dompet gawat! Ditambah kovernya bagus-bagus, jadi pengen memiliki kesemuanya.

Kira-kira dari judul-judul buku di atas, mana buku yang akan kalian dahulukan beli?