Agustus 08, 2024

Resensi Novel Roma - Robin Wijaya

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul:
Roma

Penulis: Robin Wijaya

Editor: Ibnu Rizal

Sampul: Jeffri Fernando

Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2013, cetakan pertama

Tebal: x + 374 hlm.

ISBN: 9797806149


Review

Kalau kita sudah punya pasangan (pacar), boleh nggak kita suka sama yang lain?

Pertanyaan ini dijawab oleh penulis dengan menghadirkan dua tokoh utama bernama Leo dan Felice, yang keduanya saling suka tapi sayangnya mereka sudah punya pasangan masing-masing. Pasti membingungkan. Namun lebih bikin saya kesal karena Leo dan Felice sempat-sempatnya membuat momen berduaan selama di Bali, yang kemudian dilanjutkan di kota Roma.

Jalan berdua, ngobrol soal sejarah bangunan ikonik, saling bertukar cerita, tidak membuat yang mereka lakukan jadi super romantis meskipun latarnya sekelas kota Roma yang punya vibes romantis. Saya menganggapnya mereka sedang selingkuh. 

Keduanya sudah dewasa, harusnya paham bagaimana bertanggung jawab dengan perasaan dan komitmen pasangan. Tapi yang dilakukan Leo dan Felice justru melanggar itu. Bahkan sampai ciuman. Ambyar sudah sisi romantis di novel ini di mata saya.

Tapi konflik novel ini masih ada lagi yaitu soal anak dan ibu yang tidak akur. Felice tidak akur dengan mamanya gara-gara mamanya punya pacar baru yang diduga masih berstatus suami dari seseorang. Lha, kalau Felice menolak bentuk perselingkuhan, kenapa dia adem ayem dan menikmati momen berduaan dengan pria lain yang jelas-jelas kelakuannya ini akan menyinggung pacarnya juga.

Di luar dari konflik yang bikin saya kesal, saya cukup menikmati gaya bercerita Robin Wijaya yang menurut saya pas membawakan sisi indah kota Roma. Walau konsep ceritanya umum dipakai untuk series sebuah kota, melakukan jalan-jalan ke beberapa wisata terkenal di kota tersebut, namun bagi saya kota Roma dijelajahi dengan baik dan membawa pengetahuan baru. 

Novel ini juga kuat dalam pembahasan karya seni terutama soal lukisan. Ada yang menarik ketika penulis membandingkan respon masyarakat Roma dan Indonesia untuk gelaran sebuah pameran. Bagi masyarakat di Roma, pergi ke pameran itu menyenangkan, sedangkan untuk orang Indonesia, pergi ke pameran itu membosankan. Fakta sih, tapi tidak dijelaskan apa yang membuat perbedaan tadi. Apakah SDM kita yang belum terikat dengan seni? Atau apakah karena kegiatan pameran belum digaungkan dengan lantang untuk menyasar banyak orang?


Plot | POV | Gaya Bercerita | Penokohan

Novel ini menggunakan alur maju dengan menggunakan dua setting di dua negara; Indonesia dan Italia. Saya bisa membedakan suasana tempat ketika kedua tokoh berada di Bali dan di Roma, yang artinya detail untuk lokasi cerita sudah mumpuni bagi pembaca untuk membayangkan kondisinya. 

Kelemahan dari sisi plot di novel ini adalah tidak cukup informasi seruncing apa perseteruan Felice dengan mamanya saat pemicu konflik muncul karena memang tidak ada kilas balik momen itu. Harusnya ada bagian kilas balik dengan emosi paling puncak saat Felice menolak mentah-mentah ide mamanya yang memacari lelaki itu. Dengan begitu, pembaca akan ikut bersimpati dengan jalan pikiran Felice.

Karena menggunakan sudut pandang orang ketiga, pembaca jadi tahu lebih dalam soal isi hati dan pikiran kedua tokoh utamanya. Ini jadi senjata makan tuan, karena pembaca jadi tahu apa yang dilakukan kedua tokoh utama saat merasakan ketertarikan, jalan-jalan berdua, dan tidak menyesal atau merasa salah dengan yang mereka lakukan. 

Seorang Robin Wijaya selalu berhasil menyampaikan kisah racikan dengan menghanyutkan. Diksi yang digunakan tertata dan mewakili. Cukup informatif dan detail juga, mengingat konsep cerita jalan-jalan di sebuah kota butuh mengenalkan banyak sudut. 

Karakter yang diciptakan penulis sangat hidup. Felice Patricia: seorang staf KBRI yang ceria dan menyenangkan. Kemurungannya hanya karena alasan sang mama. Di luar itu dia sangat baik sebagai pekerja, kawan, dan pacar. Leonardo Halim: seniman lukis yang awalnya tampak cool, tapi bisa becanda juga kalau sudah dekat. Tidak punya masalah besar kecuali saat ia harus memilih antara Felice atau Marla. Buat saya dia agak kurang tegas bersikap sehingga mengulur-ulur kejujuran kalau dia sudah punya pasangan. Jangan-jangan Leo tipikal yang lumayanan sama perempuan, tapi entahlah. 

Ada beberapa karakter pendukung di novel ini: Francesco Mancini (seniman yang ajak Leo pameran di Roma), Marla (kekasih Leo), Tenny (teman apartement Felice), Anna (kakaknya Felice), mamanya Felice, dan ada beberapa karakter pendukung lain seperti teman-teman seniman Leo.


Petik-Petik

Dari kisah romansanya saya bisa menarik pelajaran untuk jangan bermain api di belakang pasangan. Bentuk tanggung jawab komitmen itu bukan sekadar menjaga pasangan saja, tapi harus bisa mengembalikan pasangan yang sudah tidak bisa dicintai lagi.

Sedangkan dari kisah ketidakakuran anak dan ibu, saya belajar untuk memaafkan seluas mungkin kesalahan orang tua karena mereka juga manusia biasa, pasti bisa melakukan kesalahan, dan kita harus sabar juga menghadapinya. Bagaimana pun orang tua itu sudah memiliki watak yang sudah terbentuk dan mengeras, sebelum kelihatan salahnya dimana, mereka kerap merasa benar terus. Jadi, berlatihlah dari sekarang kesabaran menghadapi watak mereka.


Cuplikan

  • Mereka yang mengerjakan sesuatu dari hati, karyanya akan memiliki jiwa (hal. 14)
  • Satu keburukan tidak pernah pantas untuk mengalahkan sepuluh kebaikan (hal. 127)
  • Manusia cenderung gemar membicarakan apa-apa yang mereka sukai, bukan? (hal. 196)


Penutup

Sebagai salah satu bagian dari series Setiap Tempat Punya Cerita (STPC), novel ini masih menarik dibaca. Bakal diajak ke beberapa lokasi ikonik yang ada di kota Roma. Cuman ya itu, buat saya ceritanya bikin misuh-misuh. 

Nah, sekian ulasan novel Roma karya Robin Wijaya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Agustus 04, 2024

Bebukuan Juli 2024


Halo, apa kabar?

Kali ini saya membuat tulisan bebukuan ini enggak terlambat sampai pertengahan bulan lagi. Sengaja saya dahulukan dulu karena di minggu terakhir bulan Juni kemarin saya mendapatkan momentum renungan soal perbukuan. Ada beberapa hal yang saya kaji ulang terkait kegiatan membaca buku dan urusan blogging di sini. Bagaimana pun saya merasakan ada masalah yang harus dibereskan agar antara membaca dan blogging bisa berjalan beriringan.

Tapi soal beberapa perbaikan yang bakal saya lakukan akan saya jelaskan di tulisan lain. Sengaja tidak dimasukkan di sini karena nantinya tulisan ini bakal kepanjangan.

Tanpa berlama-lama, saya langsung jabarkan Bebukuan Juli 2024 kemarin:

Bacaan Juli 2024

Walau sudah saya susun ada enam judul yang harus dibaca di bulan Juli, eh, yang berhasil dibaca hanya dua judul. Sebenarnya ada tiga, tetapi satu buku itu saya kesulitan membuat ulasannya.

1. Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia karya Clara NG

2. Happiness Without Money karya Koike Ryunosuke


Koleksi Juli 2024



Saya masih membeli beberapa buku, apalagi kemarin ada acara Semesta Buku Gramedia yang diskonnya menggiurkan.

1. Bek karya Mahfud Ikhwan

2. Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

3. Membunuh Commendatore Jilid 1 karya Haruki Murakami

4. Membunuh Commendatore Jilid 2 karya Haruki Murakami

5. Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa karya Kim Haenam & Park Jongseok

6. Noise karya Daniel Kahneman, Olivier Sibony, Cass R. Sunstein

7. Amor Fati karya Rando Kim


Rencana Baca Agustus 2024



1. Roma karya Robin Wijaya

2. Negeri Yang Dilanda Huru-Hara karya Ken Hanggara

3. Harry Potter 1: Harry Potter dan Batu Bertuah karya J. K. Rowling

4. A Dog Called Money karya Bodo Schafer

5. 1Q84 Jilid 3 karya Haruki Murakami

***


Sekian rangkuman Bebukuan Juli 2024. Semoga di bulan Agustus 2024 ini saya bisa menyelesaikan rencana baca yang sudah dicanangkan. 

Kira-kira bulan Agustus ini apa bacan prioritas kamu?

Juli 27, 2024

[WTP] Unboxing Semesta Buku Gramedia



Halo, apa kabar, Ges?

Apa itu WTP? WTP itu singkatan dari Waktunya Tuk Pamer. Biasalah, kalau mendapatkan buku baru, baik hasil beli atau dikasih, pengennya pamer buat teman-teman sesama pembaca buku. Biar pada iri, wkwkwk.

Dan kali ini saya mau unboxing buku-buku yang saya beli di acara Semesta Buku Gramedia yang masih digelar hingga tanggal 31 Juli 2024.

Tahun kemarin acara Semesta Buku diadakan di beberapa toko Gramedia secara offline. Dan tentu saja untuk yang di daerahnya tidak kebagian Semesta Buku, biasanya berburunya lewat para agen Jastip. Saya beruntung bisa mampir karena berbarengan jadwalnya dengan pelatihan pajak yang diadakan di Jakarta. Usai beres pelatihan langsung meluncur ke Gudang Kompas. Cuman lupa waktu itu beli berapa buku. Tetapi kesan berkunjung waktu itu lumayan kurang menyenangkan. Selain areanya yang sempit, di ruangan pun panasnya poll. Jadi yang harusnya bisa keliling membongkar tumpukkan buku, saya menyerah dan memilih ambil cepat saja.

Tahun ini bisa dibilang kemewahan sih sebab acara Semesta Buku diadakan secara online juga. Digelar di Shopee, Tokopedia, bahkan di website www.gramedia.com.

Tentu saja saya tidak mau melewatkan momen ini. Akhirnya saya berburu di ketiga akun tadi. Diskonnya gede sampai 70%. Tetapi buku-buku yang bagus-bagus memang yang diskonnya 50%. 

Lupa lho kapan terakhir Gramedia kasih diskon segede itu.


Dan inilah hasil perburuan saya di acara Semesta Buku Gramedia:

1. Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie



Dulu pernah punya buku ini tapi karena keuangan waktu itu tidak baik-baik saja, mau tidak mau buku ini saya jual. Alhamdulillah, di acara kali ini bisa beli lagi. Buku ini saya beli di website www.gramedia.com dengan diskon 50%.

Menguntungkannya beli di website, kita bisa pick up di toko terdekat dengan kita. Jadi tidak perlu ada ongkir-ongkiran dan tidak perlu menunggu lama untuk bisa pegang bukunya.


2. Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa karya Kim Haenam & Park Jongseok



Sebelumnya saya pernah baca beberapa halaman awal buku ini di perpustakaan online. Tetapi saya masih belum nyaman melakukan baca buku di gawai, alhasil tidak melanjutkan membacanya. Begitu tahu buku ini masuk ke jajaran diksonan Semesta Buku Gramedia, saya langsung niat beli.

Masalahnya, saya malas balik lagi ke toko Gramedia yang ada di Jalan Cipto Cirebon karena kemarin sore sudah mampir ke situ buat ambil buku Semua Ikan di Langit. Akhirnya saya memilih beli di akun Shopee. 

Yang menguntungkan beli di shopee, karena saya punya tabungan koin, jadi saya pakai juga buat bayarnya. Akhirnya saya bisa beli dengan harga lebih rendah lagi dong.


3. Membunuh Commendatore jilid 1 & 2 karya Haruki Murakami



Saya yang sedang menyelesaikan membaca buku 1Q84 Jilid 3 karya Haruki Murakami, kepalang terpincut dengan cerita dan gaya tulisannya. Dan saat tahu buku beliau yang ini masuk juga didiskon 50%, saya langsung beli di akun Tokopedia.

Sempat muncul kekhawatiran pesanan saya bakal dibatalkan, seperti cerita-cerita teman di klub buku, tetapi bersyukur sekali kedua bukunya terkirim dengan aman hingga ke tangan saya. 

***


Nah, itu buku-buku yang saya borong di acara Semesta Buku Gramedia yang bawa diskon gede. Saya berharap ke depannya pun bakal ketemu acara begini yang diskonnya enggak tanggung-tanggung.

Jadi, buku apa saja yang sudah kalian beli di acara Semesta Buku Gramedia? Share dong di kolom komentar, siapa tahu bisa jadi wishlist saya ke depannya.



Juli 26, 2024

Resensi Buku Happiness Without Money - Koike Ryunosuke

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Happiness Without Money

Penulis: Koike Ryunosuke

Penerjemah: Yuditha Savka

Penyunting: Yoke Yuliana

Penerbit: M&C! (PT Gramedia Pustaka Utama)

Terbit: Mei 2021, cetakan pertama

Tebal: iii + 149 hlm.

ISBN: 9786230305061


Buku Happiness Without Money ini membahas soal bagaimana kita bisa meraih kebahagiaan dengan cara menggunakan uang secara tepat. Walau judul buku ini ada kata 'tanpa uang', penulis justru mengingatkan jika kita mustahil mengejar kebahagiaan tanpa menggunakan uang. Koike sendiri adalah seorang biksu yang menjalankan hidup sederhana, namun sederhana itu bukan tanpa uang melainkan menggunakan uang untuk hal tepat dengan cara yang tepat.

Pembahasan pertama di buku ini mirip dengan pembahasan di buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis Marie Kondo. Soal kepemilikan barang yang memengaruhi kebahagiaan. Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin hidup kita tidak bahagia. Alasan seseorang memiliki barang karena penilaian diri dan penilaian orang lain. Maksudnya, nilai diri kita selalu diukur dengan memiliki barang tertentu, dan untuk diakui nilai diri kita oleh orang lain, kita pun menopangnya dengan memiliki barang tertentu.

Memiliki benda berarti paling sedikit ada dua tanggung jawab yang menempel ke pemiliknya; menjaga agar tidak hilang (ketakutan) dan merawatnya (kewajiban). Dan semakin banyak benda yang dipunya, semakin banyak pula ketakutan, kecemasan, dan kewajiban tadi. Solusi untuk kepemilikan benda ini adalah dengan membuangnya. Jangan bingung, di bab awal buku ini akan diberikan tips membuang barang agar kita tidak begitu menderita dalam prosesnya.


Buanglah benda yang relatif mudah dibuang (hal. 36)


Ada alasan kenapa kita bisa mempunyai banyak barang yaitu karena kita serakah. Sifat serakah ini ternyata punya asal yaitu keinginan. Dan penulis menyebut jika keinginan itu bentuk dari penderitaan. Karena kita merasa menderita, kita berusaha mati-matian untuk meredakan penderitaan itu dengan memenuhi keinginan tadi. Bahayanya, keinginan manusia itu tidak terbatas. Setelah keinginan standar dipenuhi, muncul keinginan baru yang lebih besar, bahkan seiring waktu bisa menginginkan sesuatu lebih ekstrim. Dan kunci menuju kebahagiaan yang utama adalah memotong keinginan tadi menjadi sewajarnya.

Ada istilah 3D Keserakahan yaitu demand, desire, dan drive. Perubahan dari kebutuhan menjadi dorongan ini yang membuat kita dibutakan oleh banyaknya keinginan.


Kebanyakan orang awalnya  menginginkan sesuatu karena membutuhkannya. Dengan kata lain, "demand". Namun, rasa kebutuhan itu semakin menyimpang dan mereka menginginkan jeda "derita senang" yang lebih besar sebelum kemudian perlahan-lahan menjadi semakin ketagihan oleh stimulasi "derita". Ini adalah desaire, keinginan. Kemudian, desire itu semakin menyimpang dan akhirnya mereka dikendalikan total oleh "derita" sehingga akhirnya menjadi drive, dorongan yang tidak bisa dikendalikan. (hal. 44).


Menurut penulis ada 3 sikap yang bisa dilakukan atas sifat keserakahan yaitu:

  1. Merealisasikan sesuai keinginan.
  2. Melarikan diri dan menggantinya dengan rangsangan keinginan lain.
  3. Menekan rasa ingin tersebut.

Penjelasan ketiga sikap ini akan dikupas di bukunya. Pembahasannya benar-benar menarik, apalagi diberikan contohnya juga.


Yang paling menyentil saya adalah soal habbit saya yang suka membeli novel baru hanya karena ingin, padahal novel itu entah akan dibaca atau enggak di masa depan. Novel yang menumpuk secara samar-samar menimbulkan penyesalan walau saya alihkan dengan dalih kalau buku itu sesuatu yang positif. Kasus ini bisa jadi contoh kebahagiaan semu sebab di dalam hati paling mendalam menimbun novel bukannya membuat bahagia secara penuh tetapi justru menimbulkan rasa negatif yang kemudian ditutup-tutupi.

Saya paling suka dengan bab empat yang berisi Cara Menggunakan Uang Agar Menjadi Bahagia. Di sini ditegaskan kalau penjelasan buku ini bukan mendorong orang untuk pelit. Ketika kita bersikap pelit, kita sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak bahagia sekali pun ujungnya kita bisa menumpuk uang. Penulis justru lebih senang jika kita membuang uang dengan cara memberikan hadiah kepada orang lain karena tindakan ini akan membikin kita merasa lega.

Gara-gara membaca buku ini saya pun termotivasi untuk lebih bisa mengendalikan uang di lingkaran keinginan yang tak berujung. Harus bisa membuat prioritas antara kebutuhan dan keinginan. Tujuannya tentu saja kita harus bisa bahagia ketika sedang ada uang, dan tetap baik-baik saja ketika tidak punya uang.

Berikut beberapa kutipan-kutipan menarik di buku ini:

  • Bagaimana pendapat orang lain mengenai kita atau bagaimana orang lain melihat kitalah yang menyebabkan lahirnya penderitaan tersebut (hal. 11).
  • Menjadi pelit saat tidak punya uang dan tiba-tiba menjadi bermewahan saat memiliki uang banyak itu yang namanya dipermainkan uang dan hati kita akan lelah (hal. 121).
  • Orang modern semuanya memiliki penderitaan berupa kesepian dan untuk menyembuhkannya, mereka membuang uang dan waktu untuk telepon genggam dan media sosial (hal. 128)

Saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca siapa pun untuk bahan reminder kita soal uang. Dan sekian ulasan saya untuk buku ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



[ Saking sukanya dengan isi buku ini saya berencana membaca ulang dan tentu saja ulasan ini akan saya update dengan insight baru dari bacaan ulang nanti ]

Juli 25, 2024

Resensi Novel Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia - Clara NG

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]




Judul:
Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia

Penulis: Clara NG

Penyunting: Arif Koes Hernawan & Dhewiberta H.

Ilustrasi sampul & isi: Larasita Apsari & Jarikecil

Penerbit: Penerbit Bentang

Terbit: April 2023, cetakan pertama

Tebal: vi + 246 hlm.

ISBN: 9786231860804



Mao Mao adalah bebek yang terlahir berbeda dibandingkan bebek lainnya. Kepalanya besar. Bulunya berwarna ungu magenta. Perbedaan itu yang membuatnya sering dijahili dan diolok-olok. Beruntung dia diasuh oleh Uni, induk bebek yang baik dan bijaksana, yang menyayanginya sepenuh hati. Dan Mao Mao baru tahu rahasia tentang siapa ibunya saat ia sudah remaja.

Mao Mao menjadi sosok yang serba ingin tahu, blak-blakan, dan keras kepala. Pertanyaan-pertanyaannya kerap menyusahkan bebek dewasa. Termasuk tentang kenapa bebek bermigrasi secara gerombolan? Apa tidak bisa bebek-bebek itu bermigrasi sendiri-sendiri?

Demi membuktikan kalau dia bisa pergi ke Danau Tak Bertepi sendirian, Mao Mao belajar terbang. Tak lama setelah ia bisa terbang, Mao Mao meninggalkan Negeri Anyaman menuju Danau Tak Bertepi.

Perjalanan Mao Mao melintasi banyak kerajaan. Dia bertemu banyak binatang lain. Dia belajar banyak hal. Sampai akhirnya Mao Mao menemukan apa yang ia mau bersama Berang-Berang.

***



Saya sebenarnya ingin menyebut novel dengan karakter binatang ini sebagai buku anak tetapi agak berat juga sebab di ujung kisah Mao Mao akan disisipkan cerita romantis. Tema petualangan yang sejak awal buku dikenalkan ke pembaca, ambyar juga di ujungnya. Novel ini tampaknya akan pas dibaca oleh remaja, persis seperti Mao Mao yang sudah tumbuh jadi remaja.

Sebagai cerita petualangan, saya suka dengan kerajaan-kerajaan yang disinggahi Mao Mao. Setiap kerajaan punya kekhasan sendiri. Misalnya Kerajaan Asap digambarkan sebagai wilayah industri yang dipenuhi asap dan limbah. Membayangkannya saja sudah bikin sesak. 

Kerajaan Keramik yang kemudian disinggahi Mao Mao seperti wilayah Arab, yang tandus dengan bentuk bangunan yang khas. Kalau di Arab bangunannya berbetuk kotak, kalau di Kerajaan Keramik berbentuk silinder. Dan kerajaan-kerajaan lainnya pun memiliki ciri yang membuatnya berbeda dibandingkan kerajaan lainnya.

Unsur magic pun akan kita temukan di cerita Mao Mao ini. Yang paling kentara banget adalah kehadiran Rusa yang selalu siaga ketika Mao Mao dalam situasi kesusahan. Saya tidak tahu karakter Rusa ini sebagai apa sebenarnya, tetapi kehadiran dan jasanya itu sudah seperti malaikat saja.

Sebagai cerita dengan tokoh hewan, kita akan menemukan banyak sekali hewan-hewan lain yang meramaikan kisahnya. Sayangnya, saya tidak menemukan kedalaman karakternya kecuali tokoh Rusa, Monyet, dan Berang-Berang. Yang lainnya terlupakan begitu saja.

Secara alur cerita, apa yang dilakukan Mao Mao sebagai pembuktian diri, tidak cukup mengesankan ketika sudah terwujud di bagian kisah akhirnya. Saya menangkap cerita ini bukan soal membuktikan diri melainkan cerita tentang mencari jati diri. 

Lika-liku yang dilalui Mao Mao dalam perjalanannya membuat dia memahami apa yang ia mau. Dan tentu saja keputusan yang dipilih Mao Mao berdasarkan kebahagiaan. Demi menuju pembelajaran itu, kita akan disuguhkan lebih dulu drama Mao Mao yang frustasi karena sayapnya patah. Pada bagian ini memang menyedihkan.

Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini tapi belum begitu mengesankan. Saya belum siap saja membaca cerita hewan yang terlalu panjang. Karena biasanya cerita hewan itu tidak serumit dan sepelik yang dialami Mao Mao. Kalau saja cerita ini diwakili oleh tokoh manusia, rasanya pasti akan berbeda. Mungkin akan lebih bisa relate dalam memahami emosi dari tokoh-tokohnya.

Sekian ulasan saya untuk novel ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Juli 21, 2024

Bebukuan Juni 2024


Halo! Apa kabar?

Kali ini saya membuat artikel Bebukuan ini terlambat sekali. Sebenarnya tulisan ini sudah dibuat dari awal bulan tetapi saya belum sempat memfoto buku-buku yang disebutkan di sini. Alhasil, tulisan ini terlambat dipublikasikan.

Di luar alasan keterlambatan tadi, saya tetap mempublikasikan artikel ini untuk menjaga konsistensi. Dan semoga buku-buku yang saya sebutkan di setiap Bebukuan bisa jadi referensi bacaan untuk pengunjung blog ini. 

Prolognya enggak akan panjang-panjang, langsung saja berikut ini adalah Bebukuan Juni 2024:

Bacaan Juni 2024

Rencana buku yang akan dibaca pada bulan Juni 2024, yang saya tuliskan juga di Bebukuan Mei 2024 kemarin, ada enam judul, tetapi saya berhasil menyelesaikan empat judul saja. Bagi saya ini jumlah yang lumayan.

1. 1Q84 Jilid 2 karya Haruki Murakami

2. A Man Called Ove karya Fredrik Backman

3. Titipan Kilat Penyihir karya Eiko Kadono

4. The Biscuits karya Kim Sunmi


Koleksi Juni 2024

Bulan kemarin saya membeli beberapa buku dan otomatis masuk TBR yang makin menggunung.

1. Babel karya R.F. Kuang

2. Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio

3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo





4. Parnassus Keliling karya Christopher Morley

5. A Midsummer's Equation karya Keigo Higashino

6. Win Your Inner Battles karya Darius Foroux

7. Tube karya Sohn Won-Pyung





Rencana Baca Juli 2024

Semoga di bulan Juli 2024 ini saya bisa membaca lebih dari empat judul agar TBR saya bisa berangsur-angsur berkurang.

1. Roma karya Robin Wijaya

2. Negeri Yang Dilanda Huru-Hara karya Ken Hanggara

3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo




4. 1Q84 Jilid 3 karya Haruki Murakami

5. Mao Mao & Berang-Berang; Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia karya Clara NG

6. A Dog Called Money karya Bodo Schafer




***


Nah, sekian rangkuman Bebukuan Juni 2024. Semoga bulan Juli ini kegiatan membaca saya lancar sehingga bisa mengurangi TBR. Satu lagi, semoga saya bisa mengurangi membeli buku agar bisa fokus membaca buku yang sudah ada dulu.

Untuk teman-teman, bagaimana progres Bebukuan kalian di bulan Juni kemarin?