Resensi Novel Gincu Sang Mumi - Tamura Toshiko

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Gincu Sang Mumi

Penulis: Tamura Toshiko

Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari

Penerbit: Penerbit Mai

Terbit: April 2022, cetakan pertama

Tebal: 128 hlm.

ISBN: 9786237351931


Ini buku kedua yang saya baca dari Penerbit Mai. Sebelumnya saya sudah membaca novel Kisah Hidup Gusko Budori karya Miyazawa Kenji. Jujur, untuk novel itu saya belum terkesan dengan ceritanya karena beberapa hal. Apa saja poin yang saya maksud dapat dibaca pada ulasannya ya!

Novel Gincu Sang Mumi ini membahas tentang pasangan suami istri, Yoshio dan Minoru, yang punya masalah rumah tangga karena miskin. Keuangan dalam rumah tangga ternyata membawa pengaruh besar untuk keberlangsungan, emosi, dan kebahagian mereka. 

Bisakah mereka mempertahankan rumah tangga yang miskin?



***

Ide ceritanya sederhana, soal rumah tangga yang miskin dan pengaruhnya. Dan novel ini memberi tahu soal itu. Yang paling kelihatan, kalau rumah tangga miskin pasti pasangannya sering bertengkar. Di novel ini pun sama, pasangan Yoshio dan Minoru sering meributkan hal sepele, bahkan kadang-kadang sampai Yoshio memukul Minoru hingga luka-luka. Hubungan mereka tidak lagi hangat. Lebih ke dingin, sambil menyimpan rasa kecewa di lubuk hati paling dalam.

Jadi miskin juga memalukan karena pasti akan merepotkan orang sekitar. Pasangan Yoshio dan Minoru pun merasakan itu. Ada satu kejadian Minoru harus ke pemakaman dan dia tidak punya kimono yang pantas. Akhirnya dia meminjam kepada temannya dengan menahan malu sebab itu artinya suaminya tidak bisa menafkahi dengan cukup. Minoru yang tidak ingin menyakiti perasaan suaminya harus berbohong dari siapa kimono itu dipinjam. (Jleb banget sih ini!)

Jika menjadi penulis dan tidak bisa kaya tersampaikan jelas di novel ini. Yoshio dan Minoru adalah penulis yang karyanya jarang laku. Dan mirisnya mereka menggantungkan hidup dari profesi ini. Jelas saja rumah tangga mereka terus-terusan miskin dan kekurangan. Makin bikin saya geram sama suaminya ini karena sudah tahu menulis itu jarang laku, dia tidak melakukan pekerjaan lain. Padahal bisa saja dia melakukan pekerjaan serabutan. Tapi ya begitu, dia memilih gengsi dibanding memperbaiki ekonominya.

Sekarang pun kondisi ini berlaku, kebanyakan penulis tidak akan kaya jika mengandalkan hasil penjualan karya. Makanya kebanyakan penulis saat ini menjadikan menulis sebagai hobi tetapi yang menguntungkan. Kesenangannya dapat, fee-nya dapat juga. Alhamdulillah...

Walau tokoh di sini adalah penulis, kita tidak akan menemukan bagian cerita yang membocorkan cara-cara menulis yang baik. Tapi kalau sekilas soal sayembara karya tulis bisa kita dapatkan di sini. Contohnya, dasar apa yang dipakai juri ketika menilai karya dalam sebuah sayembara. Lumayan kan untuk tambahan informasi bagi penulis yang suka ikutan sayembara menulis.



Dan ketika memahami tulisan Kak Ziggy di belakang novelnya yang menyinggung soal patriarki, saya pun setuju. Novel ini menampilkan situasi itu dengan karakter Yoshio yang tidak pernah mau mengalah kepada istrinya dan lebih mengutamakan citra dirinya. Sesalah-salahnya Yoshio, dia masih menjaga harga dirinya tinggi-tinggi sehingga kadang dia melakukan kekerasan untuk membuktikan kekuasaannya atas istrinya.

Karakter Minoru pun bukan yang baik banget sebab dia pun sebagai istri kurang bisa mengelola keuangan. Makanya ada pernyataan kalau Minoru tipikal istri yang boros. Punya uang sedikit, langsung poya-poya, membeli hal-hal yang tidak dibutuhkan. Jadi pasangan ini kayak senang memiskinkan diri sendiri.

Secara gaya bercerita, saya sudah mengatakan berkali-kali, kalau literasi jepang itu mempunyai banyak detail cerita. Penggambaran untuk hal-hal kecil pun dijabarkan dengan elok. Dan saya kurang suka dengan bagian ini sebab otak saya dipaksa membayangkannya dan itu bikin konsentrasi saya suka rusak dengan jalan cerita besarnya. Tapi saya sudah mulai mengabaikan detail-detail kecil tadi dan proses baca makin lancar.

Penerjemahan novel ini pun sangat baik. Enak dibaca dan tidak kaku. Saya sebelumnya sudah membaca hasil terjemahan Kak Asri ini di novel Diary Of A Void karya Emi Yagi.


Di tengah membaca saya sempat menduga soal judul Gincu Sang Mumi ini seperti merujuk ke dandanan Minoru ketika bergabung dengan grup teater. Tetapi bukan itu, akan dibahas di penghujung cerita dan saya masih bingung dengan maksudnya.

Kesimpulannya, saya cukup menikmati membaca novel Gincu Sang Mumi ini. Konfliknya bisa dipahami. Dan saya menangkap pesan novel ini adalah agar hati-hati mencari pasangan hidup. Cari yang baik. Kenali dengan jelas. Siapa pun tidak mau merasa terjebak dengan orang yang salah seumur hidupnya. Dan tujuan berumah tangga itu harus bahagia. 

Sekian ulasan saya untuk novel Gincu Sang Mumi karya Tamura Toshiko ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



4 komentar:

  1. Jadi penulis buku memang tidak banyak menghasilkan kecuali kalo namanya sudah terkenal seperti Raditya Dika. Kisah Yoshio dan Minoru ini menggambarkan realita banget.

    Harusnya Yoshio ubah pekerjaan ya, dari penulis jadi PNS saja, gaji terjamin tiap bulan.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Raditya Dika contoh yang berhasil dalam menulis. Tetapi kayaknya dia pun makin sukses setelah mengembangkan diri di youtube dan film.

      Semisal hanya dari menulis, kayaknya beliau tidak akan semakmur sekarang, hehe.

      Haha, kayaknya saat itu belum ada PNS. Jadi Yoshio enggak kepikiran...

      Hapus
  2. Mungkin realitanya memang kebanyakan begitu ya,jadi penulis enggak selalu kaya ,apalagi gak ada kerjaan sampingan, udah itu di tambah boros ,lengkap deh, plus suami yg merasa kuat padahal gak ada apa-apanya, gengsian, lengkap sudah.

    BalasHapus
  3. Terkadang, cerita yg menarik perhatian utk ditulis adalah realita.

    BalasHapus