Resensi Novel A Man Called Ove (Pria Bernama Ove) - Fredrik Backman

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: A Man Called Ove (Pria Bernama Ove)

Penulis: Fredrik Backman

Penerjemah: Lulu Wijaya

Editor: Tanti Lesmana

Sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Februari 2022

Tebal: 384 hlm.

ISBN: 9786020657899


Novel A Man Called Ove atau Pria Bernama Ove mengisahkan pria 59 tahun yang kolot, penggerutu, dan suka marah-marah. Perpaduan sikapnya ini yang membuat orang-orang di sekitarnya enggan bersinggungan karena mereka tidak paham dengan apa yang sedang dialami dan dirasakan Ove sebenarnya.

Enam bulan lalu Ove kehilangan istrinya, Sonja, akibat kanker. Dunianya runtuh karena hanya Sonja yang memahaminya selama ini. Dan pada suatu hari Senin, Ove dipensiunkan dari pekerjaannya karena faktor usia. Hari Selasa besoknya Ove tidak tahu harus melakukan apa. Selama ini dia terbiasa dengan rutinitas dan ketika harus berhenti kerja ia kebingungan akan melakukan apa.

Ove memutuskan bunuh diri untuk menyusul Sonja tetapi aksinya selalu gagal. Caranya dengan gantung diri, mengunci diri di garasi dengan mesin mobil dinyalakan, dan menggunakan senapan milik ayah Sonja. Ia makin kesal karena pertemuan dengan Sonja makin meleset. Ditambah kehadiran pasangan Patrick dan Parvaneh serta dua putrinya yang semakin hari semakin merecoki hari-harinya.

Kedatangan Parvaneh menyeret Ove ke dalam masalah orang-orang di sekitar rumahnya. Walau dengan gerutuan dan marah-marahnya, Ove tetap bersedia membantu siapa pun.

***

Novel ini berisi drama kehidupan seorang kakek yang ingin bunuh diri tapi gagal terus. Ia justru terlibat dengan masalah tetangganya. Ove harus membantu memarkirkan kontener yang dibawa Patrick. Ove harus membantu membereskan radiator milik pasangan Rune dan Anita. Ove harus mengantar Parvaneh ke rumah sakit saat Patrick jatuh dari tangga. Ove harus menyelamatkan kucing liar yang beku karena salju. Ove harus mengantar Jimmy ke rumah sakit yang alergi kucing. Ove harus membantu membetulkan sepeda  milik gebetan Adrian. Ove harus menampung sementara Mirsad yang sedang bertengkar dengan ayahnya. Dan tugas besarnya adalah Ove harus melawan pemerintah daerah yang akan memisahkan Rune dari Anita dengan alasan kesehatan. Rune akan dimasukan ke panti jompo karena Anita dianggap tidak bisa mengurus suaminya itu.

Yang bikin kisahnya menarik karena kita akan melihat bagaimana reaksi Ove si pemarah dan penggerutu ketika menghadapi masalah tetangga-tetangganya itu. Ove begitu kolot dan keras kepala. Jadi siapa pun yang bersinggungan dengannya yang harus memaklumi reaksi Ove. Terkadang Ove jadi begitu jujur, bahkan ketika ia menyebut Mirsad dengan sebutan 'bencong' di depan ayahnya. Pada momen ini Parvaneh sampai bingung mencegah ucapan ceplas-ceplos Ove.

Saya suka dengan karakter Ove karena dia hanya mengenal warna hitam dan putih atau benar dan salah. Dia tipikal pria yang memiliki prinsip hidup yang kuat, kemudian ia praktikan dalam kehidupan sehari-hari dan juga alam urusan asmara. Karakternya benar-benar menginspirasi saya untuk terus melakukan perubahan diri ke arah lebih baik. 



Berikut beberapa prinsip yang dimiliki Ove:

Zaman sekarang, semuanya serba pinjaman, semua orang tahu cara hidup orang-orang lain (hal. 16) Prinsip Ove untuk tidak mempunyai hutang memang patut ditiru. Ove orang yang mendahulukan kebutuhan dan fungsi tidak tertarik dengan sesuatu yang menurutnya buang-buang uang. Ini selaras dengan sindiran berikut, orang-orang zaman sekarang sudah tidak punya benda-benda berguna. Orang cuma punya tetek bengek (hal. 19).

Tetapi di rumah Ove, makanan tidak boleh dibuang-buang (hal. 30). Khusus yang ini bikin saya sadar kalau saya selama ini sering membuang makanan dan dengan entengnya berdalih sudah kenyang. Padahal sebaiknya kita tahu kapan harus makan dan seberapa porsi yang bisa kita habiskan sehingga tidak ada makanan yang dibuang.

Orang dibentuk oleh apa yang mereka perbuat. Bukan apa yang mereka katakan (hal. 93). Ove yang tipikal pria pendiam, seperti ayahnya, dikenal pekerja keras. Hasil pekerjaannya bagus dan orang mengenal Ove dan ayahnya karena prinsip ini. Saya seperti diingatkan untuk bekerja lebih baik agar menghasilkan hasil yang terbaik. Bukan banyak omong untuk membanggakan diri atau membesar-besarkan apa yang sudah kita lakukan. Suatu pekerjaan, bila dilakukan dengan baik, mendatangkan kepuasaan yang cukup (hal. 105).

Sebab dalam hidup setiap orang ada waktunya untuk memutuskan akan menjadi orang macam apa: orang yang membiarkan orang lain menindasnya, atau tidak (hal. 128). Yup, kita seharusnya memang menyadari kita mau jadi orang yang bagaimana. Sehingga apa yang kita lakukan akan tertuju ke tujuan itu. Tapi saya yakin siapa pun ingin jadi versi terbaiknya. Tapi kita harus menjabarkan dengan lugas, versi terbaik yang bagaimana. Gara-gara penggalan kalimat ini, saya pun menuliskan ulang versi terbaik yang ingin saya punya dan masa depan yang bagaimana yang ingin saya lalui. Buat teman-teman juga kayaknya ini momen yang tepat untuk melihat lagi kita mau jadi apa, momen untuk membaca diri lebih dalam lagi. Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya (hal. 234).

Sikap dermawan akan kita dapatkan dari karakter Sonja. Ketika orang memberi orang lain, bukan hanya si penerima yang diberkati. Si pemberi juga (hal. 214). Sudah banyak yang bahas kalau memberi itu perbuatan yang membuat kita jadi lebih baik. Ada sensasi spiritual yang hanya bisa dirasakan ketika kita melakukannya. 

Semua orang ingin menjalani hidup bermartabat; hanya saja martabat itu memiliki arti yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda (hal. 308). Martabat Ove adalah harus mandiri semasa muda karena haknya untuk tidak mengandalkan orang lain setelah dewasa. Keren! Lalu saya bener-bener malu, martabat apa yang saya miliki dalam hidup ini. Saya ternyata tidak pernah memikirkan soal ini, padahal penting.

Saya suka dengan penceritaan penulis yang menceritakan semua sisi kehidupan Ove sejak ia kecil hingga jadi kakek-kakek. Ove yang begini karena ada kejadian masa lalu yang membentuknya. Peran ayahnya pun memiliki andil besar. Saya paling terharu ketika Ove diajari untuk berlaku jujur tapi jangan jadi orang yang suka mengadukan orang lain. Ove dan ayahnya adalah sosok pria langka di zaman sekarang.

Di novel ini kita juga bisa belajar bagaimana membuat kisah cinta yang romantis dan abadi. Ove dan Sonja bukan pasangan yang serasi di mata orang lain tetapi keduanya paham orang seperti apa yang mereka butuhkan untuk bahagia. Dan saya begitu terharu ketika Ove mengambil hati ayah Sonja yang sama kakunya dengannya. Begitu gentle dan manis. Ove beruntung mendapatkan Sonja, dan Sonja pun beruntung memiliki Ove. Bukankah cinta harus bentuknya begini, sama-sama beruntung memiliki satu sama lain?

Alur novel ini mencampurkan alur maju dan alur mundur. Cara ini dipakai untuk mengulik secara rinci kehidupan Ove. Dan secara penerjemahan, saya begitu menikmatinya karena begitu bagus. 

Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca siapa pun sebagai pengingat kalau kita itu harus punya karakter yang tebal. Maksudnya kita harus bisa dikenali orang berkat karakter kita. Sehingga jika kita meninggal nanti, akan banyak orang yang merasa kehilangan dan akan banyak orang yang berterima kasih telah bertemu kita. Dan novel ini punya akhir cerita yang mengharukan, sama mengharukan dengan filmnya. 

Yup, novel ini sudah difilmkan pada tahun 2015 dengan judul sama, A Man Called Ove, versi Swedia. Dan tahun 2022 kembali dibuat filmnya dengan judul A Man Called Otto yang dibintangi Tom Hanks.


2015

2022

Sekian ulasan saya untuk novel A Man Called Ove atau Pria Bernama Ove ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Novel 1Q84 Jilid 2 - Haruki Murakami

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: 1Q84 Jilid 2

Penulis: Haruki Murakami

Penerjemah: Ribeka Ota

Desain sampul: Andrey Pratama

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2024, cetakan kedelapan

Tebal: vi + 452 hlm.

ISBN: 9786024240066


Novel ini kelanjutan dari buku 1Q84 Jilid 1 yang menceritakan dua tokoh utama; Tengo dan Aomame, yang akan bersinggungan untuk menyelami misteri komune Sakigake. Pada akhir buku pertamanya, Tengo dan Aomame sepakat untuk memulai penyelidikan walau dengan motif yang berbeda. Tengo ingin mengetahui isi komune tersebut sebagai latar belakang Fuka-Eri. Aomame ingin memberi pelajaran si Pemimpin yang sudah melecehkan anak perempuan di bawah umur dengan dalih ritual.

Atas kesabaran menunggu momen yang tepat, Aomame akhirnya bisa berhadapan langsung dengan si Pemimpin komune, sebagai tukang pijat. Keduanya berdialog intens tentang komune dan Orang Kecil. Walau sempat terbersit simpati dengan penderitaan si Pemimpin dalam posisinya sebagai kepala komune, rencana Aomame dapat dituntaskan. Ada perjanjian yang akhirnya disepakati keduanya mengenai nasib Tengo.

Keterlibatan Tengo membuat novel Kepompong Udara bersama Fuka-Eri membawa resiko besar. Komune Sakigake mengintimidasi. Dan Tengo mulai menyimpulkan jika keselamatan orang-orang terdekatnya ikut terancam. Pertama, pacar rahasianya mendadak tidak bisa menemuinya lagi di masa depan, kabar itu disampaikan oleh suami pacarnya dengan nada aneh. Kedua, Pak Komatsu selaku editor menghilang tanpa kabar di tengah banyak tugas yang harus diurus karena novel Kepompong Udara menjadi best seller dan pembicaraan di masyarakat.

Misteri soal komune Sakigake mulai dibuka sedikit demi sedikit. Namun tentang keberadaan Orang Kecil ini yang masih belum jelas. Dari novel Kepompong Udara disebutkan jika Orang Kecil ini adalah mahluk misterus yang pertama kali muncul dari bangkai kambing yang waktu itu dikurung di gudang bersama tokoh utama. Mulut kambing disebut sebagai lorong. 

Kepompong Udara sendiri adalah hasil kerja Orang Kecil yang biasa muncul di malam hari. Isi kempompong itu sendiri adalah manusia yang mirip dengan manusia yang sudah hidup lebih dulu. Jika merujuk pada isi novel Kepompong Udara, kepompong yang pertama kali dibuat oleh Orang Kecil berisi sosok Fuka-Eri. Karena kehadiran sosok yang lainnya, Fuka-Eri yang asli memilih kabur karena ia sadar ada hal buruk dan aneh yang akan terjadi di komune. 



Di novel ini akan dibahas juga soal hubungan Tengo dan ayahnya. Tengo merasa kalau dirinya bukan anak dari ayahnya. Dugaan ini diperkuat oleh bayangan ingatan masa kecil soal adegan sensual antara ibunya dengan pria muda yang jelas sekali itu bukan ayahnya. Dan ayahnya yang mengidap demensia dan diurus di sebuah panti, tidak pernah memberikan jawaban jelas ketika Tengo mengonfirmasi soal dugaannya itu.

Akhir novel ini membuat saya penasaran lagi sebab Aomame digambarkan menarik pelatuk pistol yang ia masukkan ke dalam mulutnya. Sedangkan Tengo yang kembali ke panti setelah mendengar kabar ayahnya koma menemukan kepompong udara di kamar ayahnya. 

Selain itu ada drama Aomame melihat Tengo di taman dekat apartemennya, namun saat mau ditemui sosok Tengo sudah menghilang. Saya benar-benar penasaran bakal seperti apa pertemuan Aomame dan Tengo. Dan bagaimana keduanya bekerja sama untuk membuka misteri soal Orang Kecil dan komune Sakigake.

Penerjemahan novel ini sangat baik dan bikin saya begitu menikmati kisahnya. Saya akui kalau jumlah halamannya tebal, tetapi saya tetap dibuat penasaran dan selalu mau melanjutkan membacanya. 

Banyak sekali hal-hal yang absurd yang disebutkan di novel ini, yang kalau dipikir logika itu tidak mungkin ada di kenyataan. Tapi hal-hal absurd tadi tidak mengganggu saya dalam memahami alur kisahnya. Misalnya soal alter yang muncul dari kepompong udara, atau soal kemunculan bulan kedua yang warnanya agak kehijauan. Aneh memang, tapi itu mendukung untuk membuat hal misterus di ceritanya lebih tak tertebak.

Karakter yang muncul di novel ini pun begitu hidup. Untuk tokoh utamanya memiliki karakter yang tebal berkat penceritaan latar belakang yang terperinci. Sebagai pembaca, saya seperti mengenal betul siapa sosok Aomame dan Tengo. Dan tahu betul alasan kenapa mereka menjadi sosok saat ini.

Secara keseluruhan, novel ini bikin nagih dibaca. Saya akui tema ceritanya tidak ringan dan bisa jadi berat untuk beberapa pembaca. Menyelesaikan membaca novel ini ibarat latihan sabar dan untuk menikmatinya kita tidak perlu buru-buru. Saya jadi pengen cepat-cepat baca jilid ketiganya.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel 1Q84 Jilid 2. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



[NOTICE!] 12 Buku Baru Terbit, waspadalah!

Halo, halo, halo!

Apa kabar teman-teman? Semoga sehat-sehat ya!

Artikel NOTICE! terakhir saya publikasikan di tanggal 7 November 2023, setelah itu saya absen. Lumayan lama ya, soalnya sekarang sudah bulan Juni 2024. 

Hemm, masalahnya soal konsistensi saja sih. Soalnya kalau perkara informasi buku baru, hampir setiap bulan pasti ada yang diterbitkan. Alasan basi sih, tapi memang melakukan sesuatu agar rutin itu cukup menantang. Semangat di awal-awal, setelah beberapa waktu timbul rasa malasnya. Ini penyakit di bidang perblogan. Dan sampai detik ini saya masih belajar untuk lebih produktif lagi mengelola blog ini. 

Oya, bulan ini pun saya kebanjiran informasi buku-buku baru yang menarik. Buaaaanyak banget lho! Saking banyaknya, saya harus memilah-milah mana yang akan didahulukan agar dompet dan budget tidak kebablasan. Peringatannya, jangan sampai uang bensin dan uang makan siang kehabisan gara-gara dipakai buat beli buku. 

No! No! No!

Dan inilah daftar buku-buku yang harus diantisipasi bulan ini:

1. Agensi Rumah Tangga karya Almira Bastari | Penerbit Gramedia



2. Parnassus Keliling karya Christopher Morley | Penerbit BACA



3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo | Penerbit BACA



4. Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio Pulixi | Penerbit BACA



5. Risalah Teh & Tiga Keluarga karya Artie Ahmad | Falcon Publishing



6. Bendung Kehilangan karya Khairul Ikhwan Damanik | Falcon Publishing



7. Teori Pernikahan Bahagia karya Aliurrida | Falcon Publishing



8. Iblis Menjelma Senapan Berburu karya S. Prasetyo Utomo | Falcon Publishing



9. Momo karya Michael Ende | Penerbit Gramedia



10. Petaka Keluarga Inugami karya Seishi Yokomizo | Penerbit Gramedia



11. Kisah Jarum Dan Kulit karya Gu Byeong-Mo | Penerbit Gramedia



12. Jini, Jinny karya Jeong Yu-Jeong | Penerbit Gramedia


***

WOW sebanyak itu buku barunya. Gawat! Dompet gawat! Ditambah kovernya bagus-bagus, jadi pengen memiliki kesemuanya.

Kira-kira dari judul-judul buku di atas, mana buku yang akan kalian dahulukan beli?


Bebukuan Mei 2024


Halo! Apa kabar?

Semoga teman-teman semua dalam kondisi sehat ya, soalnya efek musim kemarau sudah terasa seperti gejala enggak enak badan dan mulai batuk-batuk.

Oya, karena ini sudah awal bulan, saya mau membagikan rekapan bebukuan selama bulan Mei kemarin, dan semoga ini bisa jadi tulisan rutin di tanggal muda, hehe. Tujuan dari Bebukuan sendiri untuk merekam jejak bacaan saya dan menjadi rencana di bulan depan. Kalimat indahnya begini, "Belajar yang baik sumbernya dari masa lalu dan cara terbaik menyongsong masa depan ya dengan perencanaan."

Setuju?



Sebelum ke inti tulisan Bebukuan, saya mau bercerita sedikit soal kejadian besar di bulan Mei lalu. 

Sejak Januari 2024, di tempat kerja saya dibentuk panitia penyelenggara acara gathering karyawan pabrik sebanyak 500 orang. Dilalahnya, saya ditunjuk jadi ketua pelaksana. Alhasil sejak itu saya dibikin pusing merancang acaranya. Survey lokasi sana-sini. Negosiasi hal-hal pendukung acara. Pokoknya hidup saya jadi penuh tekanan. Dan ini berimbas ke kegiatan membaca saya yang makin naik turun mengingat otak dan fisik saya lumayan kelelahan. 

Acaranya sendiri sudah dilaksanakan pada tanggal 27 Mei lalu di Tropikana Waterpark Cirebon. Alhamdulillah sekali acara terselenggara lancar. Dan dengan berakhirnya acara itu, beban saya langsung terangkat. Keseharian saya mulai enteng. Harusnya ini berpengaruh juga ke kegiatan membaca saya, mestinya tambah semangat lagi dong, ingat, TBR masih banyak! Semoga ya!

Segitu dulu curhat saya di bulan Mei lalu dan tanpa berlama-lama lagi, berikut adalah rekapan Bebukuan Mei 2024 yang saya rangkum:

Bacaan Mei 2024

Di artikel Bebukuan April 2024 yang lalu, saya menyusun Rencana Baca Mei 2024 yang terdiri dari lima judul, dan hasilnya saya berhasil membaca empat buku. Yeayyy! Jumlah ini tentu saja langsung mengurangi TBR saya.

1. 1Q84 Jilid 1 karya Haruki Murakami

2. Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya

3. Sabar Tanpa Batas  karya Adhitya Mulya

4. Storm Sisters #1: The Sinking World karya Mintie Das


Koleksi Mei 2024





Bulan Mei saya mendapatkan sembilan bacaan baru dan dua di antaranya saya dapatkan GRATIS-TIS-TIS-TIS! Maafkeun ya kalau bukunya nambah banyak lagi, ini gara-gara diskon yang menggiurkan, jadi kapan lagi coba...

1. 1Q84 Jilid 2 karya Haruki Murakami

2. The Door-To-Door Bookstore karya Carsten Henn

3. Sang Alkemis (The Alchemist) karya Paulo Coelho

4. A Slow Fire burning (Bara Apr Perlahan) karya Paula Hawkins

5. Trisurya (The Three-Body Problem) karya Liu Cixin

6. Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu

7. The Song Walker (Lagu Pengelana) karya Zillah Bethell

8. Orang Bejat karya Andre Gide

9. 1Q84 Jilid 3 karya Haruki Murakami


Rencana Baca Juni 2024



Biar proses membaca bukunya lebih tertib dan terkondisikan, saya akan terus membuat daftar buku-buku yang memang akan didahulukan dibaca. Apa ini saklek? Enggak juga, kalau memang di tengah jalan tiba-tiba tidak tertarik dengan judul-judul yang sudah dicanangkan, saya pasti akan memilih buku di luar daftar tadi. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri menyelesaikan bacaan yang kita tidak suka. Takutnya malah kena reading slump. Nanti justru tambah merepotkan. Enjoy ajalah!

1. IQ84 Jilid 2 karya Haruki Murakami

2. A Man Called Ove karya Fredrick Backman

3. Titipan Kilat Penyihir karya Eiko Kadono

4. Roma karya Robin Wijaya

5. Negeri Yang Dilanda Huru-Hara karya Ken Hanggara

6. A Wizard Of Earthsea karya Ursula K. Le Guin

***

Untuk Gosip Panas soal perbukuan, selama bulan Mei kemarin saya ketinggalan banyak informasi. Buka X pun sekadar scroll aja, enggak begitu memperhatikan sedang ada bahasan apa, kecuali berita viral Vina Cirebon, hehe. Jadi di Bebukuan Mei ini tidak ada yang bisa saya sampaikan ya untuk kategori Gosip Panas. 

Nah, sekian rangkuman Bebukuan Mei 2024 yang bisa saya bagikan. Harapan saya bulan ini pun masih sama, semoga saya bisa membaca lebih banyak buku agar TBR saya cepat berkurang.

Untuk teman-teman sendiri, bagaimana Bebukuan Mei 2024 kemarin? Baguskah?






Resensi Novel Storm Sisters #1: The Sinking World (Dunia Yang Tenggelam) - Mintie Das

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]




Judul:
Storm Sisters #1 : The Sinking World (Dunia Yang Tenggelam)

Penulis: Mintie Das

Penerjemah: Debbie Daisy Natalia

Editor: Nadya Andwiani

Sampul: Marcel A. W.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Januari 2016

Tebal: 456 hlm.

ISBN: 9786020333953


Ada lima gadis remaja (Charlie, Sadie, Liu, Raquel, dan Ingela) yang mengarungi lautan sambil mengusut dalang di balik Hari Penghancuran Storm. Pada hari itu ternyata semua anggota Storm dibantai. Kelima gadis inilah yang selamat, ditambah Axel dan Taye yang sudah lebih dulu meninggalkan Kapal Storm.

Petualangan kelima gadis ini tidak mudah. Mereka harus menghadapi anak buah Gubernur Roger Barrish yang berniat jahat, melewati badai yang akhirnya menghancurkan Kapal Jung milik Zhang Tao, dan harus menyelamatkan kapal milik sang sultan. Selama melalui itu, kelimanya dibuat emosional mengenai identitas mereka sebagai seorang Storm. Bagaimana pun kelimanya belum lulus pelatihan Storm tapi dipaksa untuk menjadi Strom.

***



Karena berisi cerita petualangan, kisahnya sangat asyik diikuti. Apalagi konflik utamanya adalah membongkar siapa dalang yang membantai anggota Storm dan bagaimana kelima gadis remaja itu membalas dendam. 

Usia para Pirrates ini masih muda sekali (antara 11 sampai 17 tahun) namun mereka harus menghadapi kekejaman seorang Gubernur Roger Barrish, pemimpin Sapphire East Trading Company, yang menjalankan bisnis asuransi kapal penuh kecurangan. Ketimpangan duel inilah yang membuat saya penasaran dengan hasil akhirnya.

Sebagai buku pertama, kebanyakan isi buku ini adalah pengenalan dunia Storm, asal muasal orang tua kelima gadis remaja, dan memaparkan konflik-konflik pembuka yang tampaknya akan digali pada buku keduanya. 

Dari kelompok gadis remaja ini kita akan belajar bagaimana bertanggung jawab dengan peran masing-masing. Kelimanya berbeda karakter karena berasal dari negara berbeda. Storm mengumpulkan mereka jadi satu dan Hari Penghancuran memaksa mereka untuk bersatu mencari tahu sekaligus untuk balas dendam. Hubungan kelimanya kerap naik-turun, saya memahami sekali kondisi itu sebab mereka masih sangat muda. Emosi masih meluap-luap, keputusan masih serampangan, dan sisi egosime masih tinggi.

Di sini juga ada kisah romansa yang rumit antara Charlie dan Taye. Mereka tumbuh bersama di kapal Storm. Namun setelah dewasa kedekatan itu berubah bentuk menjadi saling cinta. Ada pertimbangan yang kurang jelas yang membuat Taye meninggalkan Charlie dan keputusan itu membuat Charlie marah. Pertemuan kembali ternyata belum cukup membuat keduanya untuk saling memaafkan.

Ada satu prinsip Storm yang menarik: Lampaui keterbatasan tubuh dengan pikiran. Prinsip ini membawa aura untuk mengerahkan segenap kemampuan dalam melakukan sesuatu. Dan tentu saja relate dipraktikkan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, jangan menyerah, jangan mengeluh, dan bekerja keras lagi.

Secara keseluruhan novel Storm Sisters ini seru dibaca dan saya merekomendasikan untuk dibaca siapa pun. Latarnya yang di laut dengan cerita bajak laut membuat kisahnya terasa fresh. Sisi petualangannya pun sangat memuaskan dan bukan sekadar tempelan saja. Saya makin tidak sabar ingin melanjutkan ke buku keduanya, sebab di akhir cerita di buku ini kita akan disuguhkan pernyataan yang sangat mengejutkan.

Oya, ini kayaknya jadi kali kedua saya membaca novel yang ceritanya soal bajak laut. Sebelumnya saya sudah membaca novel Legenda Perompak Naga #1: Seni Membangunkan Naga Dari Laut karya Wisnu Suryaning Adji.

Sekian ulasan saya kali ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Novel Sabar Tanpa Batas - Adhitya Mulya

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Sabar Tanpa Batas

Penulis: Adhitya Mulya

Editor: Resita Febiratri

Desain sampul: @hastapena

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2023, cetakan pertama

Tebal: vi + 266 hlm.

ISBN: 9786234930245


Setelah kemarin selesai dan mengulas novel Sabtu Bersama Bapak, saya melanjutkan membaca novel terbaru Kak Adhitya Mulya yang judulnya Sabar Tanpa Batas

Novel Sabar Tanpa Batas ini menceritakan tentang tiga saudara; Cahyadi, Ike, dan Irma, yang berjuang untuk melanjutkan hidup setelah didera banyak masalah. Ibu mereka sudah meninggal. Ayah mereka yang bekerja sebagai penarik becak punya hobi berjudi dan saat sudah meninggal malah meninggalkan hutang gede dari rentenir. Cahyadi sebagai anak tertua harus memutar otak dan bekerja keras untuk bertanggung jawab atas hutang itu, sekaligus memastikan adik-adiknya bisa melanjutkan hidup dengan tenang.

Apa pun dilakukan oleh ketiganya. Ike jadi kuli setrika, Irma menjadi guru les catur, dan Cahyadi harus meninggalkan kedua adiknya dengan menjadi Anak Buah Kapal atau ABK. Perjuangan mereka tidak mudah dan untuk menghadapi itu semua butuh kesabaran besar.


Yang membuat cerita di novel ini berbeda karena tokoh di sini punya latar belakang hidup miskin. Tentu saja alur besarnya adalah bagaimana tokoh-tokoh ini berjuang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Perjuangan inilah yang coba dipotret penulis dan saya berhasil dibuat menangis pada beberapa bagian ceritanya.

Di awal novel kita akan dibuat kesal oleh sosok ayah yang suka meminta uang anak-anaknya untuk judi dengan mengandalkan kalimat "Anak durhaka!" jika anaknya menentang. Saya kira setelah ayahnya meninggal kehidupan kakak adik ini akan lebih baik, eh ternyata ketiganya dihadang hutang rentenir. Beruntungnya si rentenir bukan tipikal bar-bar tetapi cara kerja peminjaman uang di mereka benar-benar mencekik.

Drama kakak adik selalu berhasil menyentuh perasaan saya. Di sini akan kita temukan contoh pengorbanan kakak laki-laki yang mau melakukan apa saja agar adik-adiknya sukses. Bagian ini akan memotivasi siapa pun untuk lebih sayang dan cinta kepada sesama saudara.

Selain urusan typo yang masih saya temukan beberapa di novel ini, saya juga agak kurang nyaman dengan cara penulis meringkas rentang waktu kisahnya. Saya paham kalau penulis harus bisa membawakan cerita bertahun-tahun tokohnya berkembang dan akhirnya dipilih bagian-bagian penting saja. Untuk novel ini jalan tadi membuat ceritanya tidak punya kedalaman emosi.

Menurut saya tipe cerita novel ini, yang rentang waktunya lama, memang harus dibikin menjadi paling sedikit 2 jilid dengan halaman tebal. Contohnya seperti novel The Good Earth (Bumi Yang Subur) karya Pearl S. Buck. Tujuannya agar pembaca bisa mendapatkan banyak detail dan drama. Contoh yang saya maksud adalah ketika Covid melanda, saya kurang menemukan emosi ketiga tokohnya kesusahan akan wabah ini. Padahal saya yang mengalami sendiri begitu terpengaruh dan kesusahan dengan situasi saat itu. Saya tegaskan lagi maksud saya adalah kurangnya pendalaman rasa pada ceritanya.

Novel ini bisa dikatakan sebagai pengingat kita kalau hidup yang baik mesti diperjuangkan. Pesan islami juga tersemat dengan apik seperti yang pernah ada di novel Sabtu Bersama Bapak. Dan yang tidak lepas dari gaya menulis Kak Adhit adalah sisipan humor yang masih garing. Sama garingnya dengan komedi yang ada di novel Sabtu Bersama Bapak. Namun tenang saja, itu enggak akan mengurangi rasa drama di novel ini.

Secara keseluruhan novel Sabar Tanpa Batas ini enak dinikmati dan membuat saya semakin sadar dengan perjuangan hidup sekaligus memotivasi untuk jadi orang yang lebih berguna dan bisa diandalkan baik sebagai anak maupun sebagai saudara. Saya merekomendasikan bacaan ini, siapa tahu bisa jadi adjusment pandangan hidup kita dalam lingkup keluarga.

Nah, sekian ulasan dan kesan saya setelah membaca novel Sabar Tanpa Batas. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Novel Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]




Judul: Sabtu Bersama Bapak

Penulis: Adhitya Mulya

Penyunting: Resita Febiratri

Desain sampul: Prime Video & Falcon Pictures

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2023, cetakan kedua

Tebal: x + 278 hlm.

ISBN: 9786234930283


Dahulu saya pernah membaca buku ini tapi belum sempat diulas di sini. Begitu saya membeli buku terbaru dari penulis yang berjudul Sabar Tanpa Batas, saya memutuskan untuk membaca ulang lagi buku ini. Kesannya adalah perasaan melow yang membuncah dahulu, kini sudah enggak begitu terasa. Biar begitu ternyata masih ada bagian-bagian cerita yang hampir bikin saya menangis.

Novel Sabtu Bersama Bapak menceritakan tentang pelajaran hidup yang disampaikan seorang Bapak bernama Gunawan Garnida kepada kedua anak laki-lakinya, Satya Garnida dan Cakra Garnida, melalui video yang direkam dengan handycam, dan video itu ditonton setiap Sabtu sore. Sang Bapak menyiapkan video itu karena tidak ingin lepas tanggung jawab menemani kedua anaknya setelah ia berpulang karena kanker. 

Ternyata pelajaran hidup dari video itu sangat berguna ketika Satya dan Cakra sudah dewasa. Satya sudah menikahi Rissa dan mereka memiliki tiga anak laki-laki; Ryan, Miku, dan Dani. Konflik domestik mewarnai keluarga kecil itu. Satya berubah jadi bapak pemarah dan suami yang gemar menyalahkan istri. Sebuah email dari Rissa menjadi pukulan besar baginya dan Satya harus memperbaiki semuanya sebelum keluarga kecilnya hancur berantakan.

Sedangkan Cakra masih berusaha mencari jodoh setelah menurutnya persiapan ke jenjang pernikahan sudah dia rampungkan. Namun mencari pasangan hidup tidak semudah membalik telapak tangan. Saat dia menemukan gadis yang disukainya justru respon gadis itu dingin. Ia pun harus bersaing dengan rekan kerjanya yang sama-sama mengincar gadis itu.

Namun di luar masalah Satya dan Cakra, Ibu Itje, ibu mereka, pun sedang berjuang menyelesaikan masalahnya secara diam-diam, menghindari merepotkan kedua anaknya.



Novel ini berisi cerita drama keluarga yang penuh pelajaran hidup. Masalah yang disajikan penulis sangat relate dengan banyak orang, dan solusi yang dipilihkan pun masuk akal. Dua masalah utama di novel ini adalah bagaimana membangun rumah tangga yang baik dan bagaimana memilih pasangan hidup yang tepat.

Yang paling saya suka dari novel ini karena pesan Bapak lebih ditujukan untuk pembaca pria dan penyampaiannya tidak mendikte. Setelah membaca novel ini, saya terpengaruh untuk memperbaiki diri. Pria itu harus selalu punya rencana hidup yang jelas. Jangan mencari pasangan untuk melengkapi kekurangan kita tetapi sudah jadi kewajiban masing-masing untuk menguatkan value diri sebelum memilih pasangan.

Selain drama, sisi komedi pun diselipkan penulis untuk mengolok-olok kejombloan. Ini juga yang bikin novel ini terasa fresh. Dan saya juga suka dengan sampulnya yang versi series ini dibandingkan sampul versi film atau versi orisnialnya.

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak dibaca dan pesan-pesan di dalamnya patut direnungkan untuk introspeksi diri. Saya merekomendasikan novel ini dibaca sebagai persiapan bagi siapa pun untuk berumah tangga. 

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Sabtu Bersama Bapak. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Resensi Novel 1Q84 Jilid 1 - Haruki Murakami

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: 1Q84 Jilid 1

Penulis: Haruki Murakami

Penerjemah: Ribeka Ota

Desain sampul: Andrey Pratama

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | KPG

Terbit: Februari 2019, cetakan kedelapan

Tebal: viii + 516 hlm.

ISBN: 9786024240059


Sumpah, rasanya senang sekali bisa membaca novel tebal sejumlah 500 halaman. Pencapaian yang jarang didapat karena akhir-akhir ini saya kesulitan membaca buku sampai tuntas. Bisa begini pasti salah satu faktornya karena novel 1Q84 Jilis 1 ini punya cerita yang menarik dan bagus.

Ini adalah kedua kalinya saya membaca tulisan Haruki Murakami. Dan ini pertama kalinya saya membaca tulisan beliau yang berupa novel. Buku sebelumnya yang saya baca berupa memoar berjudul What I Talk About When I Talk About Running.

Novel 1Q84 Jilid 1 ini memiliki cerita paralel dua tokoh utama yaitu Tengo dan Aomame, yang terjadi pada tahun 1984 di Jepang.

Tengo adalah guru matematika di bimbel yang suka menulis. Dia kemudian dimintai tolong oleh seorang editor bernama Pak Komatsu untuk mempercantik naskah berjudul Kepompong Udara yang ditulis Fuka-Eri, gadis 17 tahun pengidap disleksia. Rencana ini beresiko besar. Kondisi Fuka-Eri pasti meragukan khalayak kalau dia bisa menulis naskah novel, apalagi jika tulisannya rapi dan lebih memikat. Tetapi Pak Komatsu secara meyakinkan akan mengambil tanggung jawab jika sesuatu yang buruk muncul.

Setelah memasuki proses penulisan ulang, mau tak mau Tengo pun mendalami naskah Kepompong Udara dan sosok Fuka-Eri. Banyak informasi baru tentang gadis itu yang membuat Tengo makin penasaran.  Salah satunya adalah asal Fuka-Eri yang ternyata dia itu pelarian dari sebuah komune besar misterius bernama Sakigake. Dari penuturan Profesor Ebisuno, orang tua Fuka-Eri merupakan anggota komune tadi, yang sudah 7 tahun hilang kabar sejak perubahan aneh pada komune tadi jadi sekte keagamaan yang tertutup. 

Tengo yakin naskah Kepompong Udara adalah gambaran situasi di dalam sekte yang tampaknya ingin disampaikan oleh Fuka-Eri. Dan Tengo pun memutuskan untuk terlibat dengan rencana Profesor Ebisuno untuk membongkar kegiatan sekte Sakigake, sekaligus mencari orang tua Fuka-Eri

Sedangkan Aomame adalah perempuan pembunuh bayaran yang hanya menerima pesanan untuk membunuh laki-laki bajingan. Biasanya korban yang diincar adalah pelaku kekerasan terhadap wanita baik kepada anak atau istri. Aksinya kemudian didukung oleh wanita tua yang sama-sama memiliki kesamaan nasib buruk dengan Aomame. 

Dan pada satu waktu, Aomame dikenalkan dengan Tsubasa, gadis 10 tahun yang jadi korban perkosaan brutal oleh pemimpin komune Sakigake. Dengan adanya korban Tsubasa, wanita tua itu semakin yakin kalau komune Sakigake sudah sesat dan ada praktik yang tidak benar. 

Aomame dan wanita tua tadi merencanakan untuk memberi pelajaran si pemimpin komune agar tidak ada korban lain. Tetapi rencana ini tidak bisa dilakukan sembrono sebab komune yang awalnya bergerak di bidang pertanian berubah menjadi sekte keagamaan dan menjadikannya sulit disentuh pihak luar.


1Q84-itulah nama yang kuberikan untuk dunia baru ini, Aomame memutuskan. Q adalah singkatan dari "question mark", tanda tanya. Dunia bertanya-tanya. (hal. 183)



Yang menarik dari novel 1Q84 Jilid 1 ini karena memiliki cerita yang komplek dan penuh misteri. Banyak hal dibahas. Soal kegiatan penulisan dan penerbitan buku, soal praktik sekte yang mencurigakan, soal trauma dan soal pelecehan seksual. Saya tidak sampai kebosanan, justru saya dibuat penasaran dengan konflik besarnya. Dan buku jilid 1 ini bisa dibilang pintu pertama menuju pemecahan misteri di balik Sekte Sakigake yang sudah mempengaruhi Fuka-Eri dan Tsubasa hingga kondisi mereka jadi suram.

Pembagian dua sudut pandang yang bergiliran di setiap bab-nya (antara Tengo dan Aomame) pun jadi cara cerdas yang membuat saya betah melanjutkan membaca ceritanya. Dari awal saya yakin kalau Tengo dan Aomame pasti akan terhubung, hanya saya tidak tahu pada bagian mana mereka memiliki persinggungan. Dan begitu tiba di bagian tersebut, saya benar-benar senang. Akhirnya satu tanda tanya terjawab walau pun di dalam ceritanya mereka belum dipertemukan. Ini yang membuat saya pengen segera baca jilid selanjutnya.

Pembahasan soal sekte keagamaan yang menyimpang pun membuat saya semakin melek karena praktik ini ternyata ada juga di negara lain. Dan untuk sekte di buku ini, saya benar-benar mengecam dan marah. Terutama praktik yang mempersembahkan gadis yang belum haid kepada pemimpin sekte untuk dijadikan bagian ritual pencerahan dengan menyetubuhinya. Lebih gilanya lagi, orang tua korban justru yang mendorong korban untuk mengikuti ritual itu.

Dari segi teknis penulisan, saya suka dengan detail-detail yang disajikan. Penulis sengaja menggali pendalaman karakter dengan membongkar banyak hal seperti masa lalu, harapan, dan pemikiran-pemikiran atas kejadian yang dialaminya. Beberapa detail kayaknya tidak nyambung dengan alur utamanya tetapi itu jadi penegasan kalau karakter utama itu begini yang karena dulunya begitu, hukum sebab akibat.

Secara keseluruhan, saya benar-benar menyukai buku ini dan sangat merekomendasikan untuk dibaca. Tantangannya jelas berupa kesabaran karena novelnya tebal. Tapi saya bisa memastikan kalau kita sabar, kita akan merasa puas ketika sudah masuk lebih dalam di ceritanya.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel 1Q84 Jilid 1 ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Bebukuan April 2024


Halo! Apa kabar?

Kita sudah di awal bulan lagi dan tulisan ini adalah rekapan bebukuan selama bulan April kemarin. 

Untuk proses baca buku, saya merasa masih di tahap konsisten walau pun masih jadi pembaca santai. Saya enggak mau stres karena perubahan ini dan memilih untuk menikmati proses membaca ketimbang harus memaksa mengejar target jumlah tertentu.

Sedangkan saya masih terkendala dalam menulis ulasan. Setiap selesai baca buku dan disusul membuat ulasannya, saya sering terjebak kebingungan mau menulis poin-poin apa. Seringnya jika saya sudah menulis beberapa kalimat, kemudian dibaca ulang, saya kerap tidak puas dengan hasilnya dan tulisan tadi dihapus lagi. Makin ke sini makin terasa kalau tulisan saya terasa hambar. Tentu saja ini jadi PR saya ke depannya untuk belajar menulis agar hasil tulisannya lebih renyah, lebih baik, dan memikat.

Oya, tulisan ini adalah konten baru di blog ini dan insyaallah akan saya lanjutkan ke bulan-bulan selanjutnya. Artikel ini ditujukan untuk merekap buku apa saja yang sudah dibaca, buku apa saja yang didapatkan, dan buku apa yang akan dibaca selanjutnya. Sedikit tambahan jika ada gosip panas terkait bebukuan. 

Biar pembukaannya enggak kepanjangan, berikut adalah rekap Bebukuan April 2024:


Bacaan April 2024

Sepanjang bulan lalu saya berhasil membaca 2 buku dan mengulasnya.

1. Buku Sulung dan Nyonya Ai karya Sulung Landung

2. Buku Kumcer Cerita-Cerita Jakarta karya Ratri ninditya, Hanna Fransisca, dkk.


Koleksi April 2024


Saya berhasil mengurangi pembelian buku dan hanya menambah 3 buku saja.

1. Titipan Kilat Penyihir karya Eiko Kadono

2. Aliansi Monyet Putih karya Ramayda Akmal

3. Sabar Tanpa Batas karya Adhitya Mulya


Rencana Baca Mei 2024


Karena TBR 2024 sudah menumpuk jadi saya mau fokus menghabiskannya lebih dulu.

1. 1Q84 - Haruki Murakami

2. A Man Called Ove -  Fredrik Backman

3. Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya

4. Sabar Tanpa Batas - Adhitya Mulya

5. Storm Sister #1: The Sinking World - Mintie Das


Gosip Panas April 2024

1. Di lini masa X sempat ramai pembahasan sampul buku Rumah Untuk Alie yang mencomot bar-bar dari pinterest. Ilustrator sampulnya sudah meminta maaf dan membenarkan kalau desain yang diajukan hasil comot dan diakui sebagai karya pribadi kepada penerbit. Huft!

2. Kabar dari Kak Ziggy yang ternyata buku-bukunya sudah ditarik dari Penerbit Gramedia dan tengah mencari rumah baru. Menurut Kak Ziggy melalui tweetnya di X, judul-judul itu adalah Di Tanah Lada, Kita Pergi Hari Ini, Jakarta Sebelum Pagi, dan Kapan Nanti. Saya sendiri belum tahu pasti apa yang jadi penyebabnya.

***


Itu adalah rekapan Bebukuan April 2024 yang bisa saya rangkum. Harapan saya di bulan Mei ini semoga konsisten tidak membeli banyak buku dan mulai fokus menghabiskan TBR yang menggunung.

Nah, teman-teman sendiri bagaimana hasil rekapan Bebukuan April 2024 kemarin?