Resensi Novel Heaven - Mieko Kawakami

Itu sekadar keindahan belaka, yang tak bisa kusampaikan kepada siapa pun, yang tak bisa diketahui oleh siapa pun (kalimat terakhir Novel Heaven; 232)


Judul:
Heaven

Penulis: Mieko Kawakami

Penerjemah: Ribeka Ota

Sampul: Ellen Halim

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | KPG

Terbit: Desember 2023

Tebal: v + 232 hlm.

ISBN: 9786231341181


Perasaan saya sama, sama-sama marah, ketika menonton film atau membaca cerita yang ada unsur perundungan. Mungkin ini terjadi karena saya pernah di posisi korban pada jaman sekolah dulu. 

Memikirkan soal perundungan, selain pelaku salah, saya juga sering menyalahkan korban yang tidak berbuat apa-apa. Pikiran ini muncul saat saya sudah dewasa. Menyayangkan sekali dulu kenapa saya tidak berbuat apa-apa, saya penakut, saya pecundang, padahal saya yakin kalau pelaku perundungan dilawan, ceritanya akan berbeda. Itulah kenapa ketika keponakan saya pindah sekolah, saya selalu tanya apakah ada yang melakukan perundungan, dan jika ada, saya minta dia bawa pisau ke sekolah dan boleh menusuknya.

Barbar banget!

Karena saya tahu semua orang akan tutup mata dan telinga sebelum kasusnya menjadi parah. Jadi bukan hanya pelaku yang perlu digertak, orang sekitar pun perlu dikejutkan kalau perundungan bukan masalah sepele seperti anak-anak becandaan. 

Dan membaca tokoh utama di novel Heaven ini yang mengalami perundungan parah, saya pun ikut geram. Si aku, murid laki-laki, ini baru kelas dua SMP, dan dia memiliki kekurangan, matanya juling. Selama ini ia mengira kalau gara-gara matanya yang juling, dia jadi korban bully.

Si aku tidak sendirian jadi korban, ada murid perempuan yang sekelas dengannya, bernama Kojima yang bernasib sama. Melalui surat menyurat mereka memutuskan menjadi sekutu karena persamaan nasib. Mereka melakukan pertemuan diam-diam untuk saling kenal. Dengan saling balas surat mereka merasa menjadi normal di tengah perundungan yang mereka alami di sekolah.

Pertemuan dan surat membawa keduanya pada diskusi mendalam soal apa yang mereka alami. Keduanya mulai saling mengenal latar belakang keluarga. Keduanya kerap membahas makna hidup karena menjadi korban.

Saya sudah berharap kalau kedua korban ini akan membalik keadaan dengan melawan Ninomiya dan gengnya. Tetapi itu tidak terjadi. Perundungan parah yang dialami si aku membuatnya kerap berpikir untuk bunuh diri.

Lalu, sampai kapan keduanya jadi korban perundungan? 

Saya benci dengan karakter Kojima yang meromantisasi menjadi korban. Dia selalu berpikir kalau jadi korban pun akan ada makna hidupnya. TOLOL! Yang ada kalian tambah rusak selama menerima terus perundungan itu. Ketidaksukaan saya bertambah saat dia mengajak si aku untuk melakukan hal yang sama.

Isu perundungan sangat kental dibahas di novel ini. Bentuk perundungannya pun parah; disuruh membawa barang-barang Ninomiya, ditendang, dipukul pakai seruling, disuruh berlari, pernah dipaksa makan atau minum air kolam, air kakus, ikan mas, sisa-sisa sayur di kandang kelinci, disuruh makan kapur tulis, kepalanya dijadikan bola sepak, dan terakhir ditelanjangi agar melakukan hubungan seks sambil ditonton. Bagaimana enggak marah membaca bentuk perundungan begini?

Dan dari novel ini saya pun jadi tahu kalau kondisi keluarga sangat berpengaruh terhadap korban perundungan. Baik si aku dan Kojima ternyata berasal dari keluarga yang tercerai berai. Buat mereka susah menemukan pegangan ketika perundungan di sekolah membuat hidup mereka limbung, sehingga mereka bingung meminta tolong kepada siapa. Yang ada mereka memendamnya dan mengatakan kalau di sekolah mereka baik-baik saja.

Dialog antara si aku dan Momose cukup deep membahas antara perasaan korban dan pelaku. Korban akan menyalahkan pelaku karena melakukan perbuatan perundungan, dan pelaku akan menyalahkan korban karena mau saja dirundung. Jadi karena inilah saya sesekali menyalahkan korban juga. Di otak saya, para korban ini bisa minta tolong kepada keluarga atau siapa pun. Bisa melakukan perlawanan, bisa menarik perhatian kalau dia itu korban dan butuh ditolong.

"Artinya," sembari terkikik Momose melihatku, "sebenarnya tidak harus kau. Bisa siapa pun. Kebetulan kau di situ dan kebetulan suasan hati kami begitu. Dan kebetulan kedua hal itu punya titik temu. Itu saja." (hal. 156)

Sesederhana itu pelaku melakukan perundungan hanya karena kebetulan ketemu titik temu. Semacam iseng yang akhirnya dinikmati dan berkelanjutan. Dan lantas si korban akan mulai mencari pembenaran kekurangan dia kenapa jadi korban dan meratapi tanpa melakukan apa pun.

Huh... menulis ulasan ini pun berat karena membahas perundungan.

Penulis mencoba menyajikan tema yang sensitif dan ada di sekitar kita, dan itu berhasil. Kisah di novel ini tidak manis tapi patut dibaca agar kita paham ada dinamika apa sih dalam kasus perundungan. Puncak ceritanya bikin saya pengen tepuk tangan. Adegan epik yang dilakukan Kojima bener-bener di luar nalar. Dan sayangnya si aku tidak melakukan apa pun. Huft!

Membaca novel ini pun agak tersendat-sendat karena memang pembahasannya yang berat. Jadi sabar saja membacanya sambil menikmati sensasi yang timbul. 

Sampul novel ini simple banget. Ada gambar pesawat kertas untuk menunjukkan surat menyurat. Ada gambar mata juling juga sesuai tanda yang dipunyai tokoh utamanya. Lalu, pemilihan judul Heaven ini sebenarnya menunjuk ke sebuah lukisan di museum seni rupa, yang sayangnya tidak sempat dilihat oleh si aku sewaktu di sana.

Kesimpulannya, novel ini agak menguras emosi namun patut dibaca jika ingin tahu soal isi pikiran pelaku dan korban perundungan. Namun, saya kayaknya enggak akan baca ulang sebab agak mengusik hati ceritanya, haha.

Nah, sekian ulasan saya kali ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



7 Buku Pertama Series Terjemahan Yang Harus Dibaca Tahun Ini




Tahun 2024 ini saya mau fokus membaca novel-novel TBR yang sudah menggunung. Di antara TBR itu ada beberapa novel series. Tapi sejauh ini series itu belum juga dibaca dan rasanya ini waktu yang tepat untuk memulai membacanya.

Saya sudah bertekad untuk membaca novel pertama dari deretan series terjemahan yang bukunya sudah punya. Dan saya memilih 7 series dulu ya!

Berikut 10 buku pertama series yang harus dibaca tahun ini:

1 | Harry Potter #1: Harry Potter dan Batu Bertuah | J. K. Rowling


Siapa yang gak tahu tokoh Harry Potter yang di filmnya dibintangi oleh Daniel Redcliffe?
Film Harry Potter ini diangkat dari novel yang dikarang oleh J. K Rowling. Series ini punya 7 buku dan rasanya semua pembaca buku harus paling enggak pernah baca walau hanya beberapa bukunya saja. Dan tahun ini saya sudah menyiapkan diri untuk berkenalan dengan kisah Harry Potter.

2 | Percy Jackson #1: The Lightning Thief | Rick Riordan


Series tentang anak laki-laki keturunan dewa ini juga sudah difilmkan. Saya lupa sudah menonton film ke berapanya. Cerita filmnya seru tapi biasanya novelnya akan terasa lebih seru. Tahun ini pun tahunnya menjajal kisah Percy Jackson.

3 | The Poppy War #1 |  R. F. Kuang


Ketika banyak pembaca buku memuji series ini, saya cuma kebagian membeli bukunya saja, dan sampai menulis artikel ini belum dibaca juga. Bukunya sudah lengkap tapi amunisi untuk memulainya enggak keisi-isi. Gass lah dibaca tahun ini!

4 | Lockwood & Co #1: The Screaming Staircase | Jonathan Stroud


Series ini banyak juga dibicarakan dan mencari buku pertamanya lumayan sulit. Saya aja sampai beli yang Print Of Demand dari Gramedia. Tampilannya nggak sebagus yang official, ada ilustrasi yang hilang di kovernya. Huft. Tapi enggak masalah, yang penting kan cerita di dalamnya. Tapi, kapan nih bakal dijadwalkan baca? Susah dijawab, hehe.

5 | Shadow and Bone #1: Shadow and Bone | Leigh Bardugo


Series Netflixnya kemarin tayang. Saya belum nonton sih. Tapi ada kabar kalau season 2-nya batal dibuat. Cuma nggak apa-apa lah, saya mau coba baca novelnya aja dulu. 

6 | The Strain #1 | Guillermo Del Toro, Chuck Hogan


Series lama dan sudah ada serial TV-nya. Saya memutuskan beli novel ini karena nama penulisnya yang dikenal bagus kalau bikin cerita. Saya sudah pernah baca sekali, tapi waktu itu enggak langsung buat ulasannya, jadi aja lupa lagi. Dan tahun ini saya pastikan akan ada ulasannya. Pasti itu.

7 | Perang Preator #1: Mark Of The Thief | Jennifer A. Nielsen


Ini juga series lama. Random aja sih pas beli bukunya dan sudah lengkap pula buku lanjutannya. Yang ini juga sudah baca sekali, tapi enggak langsung diulas, dan tahun ini pasti baca lagi biar masuk ulasannya.

***

Sebenarnya di TBR saya masih ada series lain yang sudah lama dipunya juga, tetapi saya hanya menargetkan ketujuh ini dulu. Jika sudah terpenuhi, bisa lanjut ke series lainnya.

Kira-kira dari 7 novel di atas, judul mana saja yang sudah kalian baca?


Resensi Novel Angsa Liar - Mori Ogai

Hanya satu hal yang jelas, aku tidak pantas menjadi kekasih Otama, maka lebih baik jangan menerka tentang hal yang bukan-bukan (kalimat terakhir Novel Angsa Liar; 145)


Judul:
Angsa Liar

Penulis: Mori Ogai

Penerjemah: Ribeka Ota

Penerbit: Taman Moooi Pustaka

Terbit: Oktober 2020

Tebal: iv + 156 hlm.

ISBN: 9786239018504


Ini pertama kalinya buat saya membaca buku yang diterbitkan Penerbit Moooi dan ternyata saya suka dengan bukunya. Novel Angsa Liar ini jadi novel pertama buat penerbit dan sebagai tanda tertulis angka satu di punggung bukunya. Cukup kreatif dan bikin saya pengen mengoleksi semua bukunya sampai lengkap.

Novel Angsa Liar ini menceritakan tentang pencerita yang membahas soal tidak terjalinnya hubungan antara Okada dan Otama, dan itu terjadinya 35 tahun lalu. Kemudian cerita meluncur bebas dan liar kepada tokoh-tokoh lain yang berada di sekitar mereka. Isunya lebih besar dari sekadar hubungan cinta-cintaan.

Yang paling mengena buat saya tentu saja isu soal perempuan kedua yang dimiliki lelaki dan mempengaruhi keluarga intinya. Suezo adalah gambaran pria yang dimabuk harta. Ketika sudah kaya, ia tergila-gila dengan perempuan muda dan menjadikannya gundik.

Sehebat apa pun bangkai disimpan, kapan waktu akan tercium. Itu yang terjadi, Otsune sebagai istri sah Suezo mengetahui juga kalau suaminya menyimpan perempuan lain. Sejak itu Otsune melihat Suezo dengan nilai yang berbeda. Melihat suaminya di dekat bikin geram, membiarkannya keluar rumah bikin ketar-ketir. Alhasil, bakti istri kepada suami sudah tidak tulus lagi dan segala-gala menjadi salah di matanya.

Dari sisi Otama sebagai gundik, ini bukan pilihan mudah. Hidupnya sudah sulit sejak lama, ia juga berharap bisa membuat ayahnya hidup enak setelah bertahun-tahun bekerja keras, dan begitu menjadi istri polisi, ia pun ditipu. Suezo datang di momen tepat dan Otama pun berusaha menjadi gundik yang baik. 

Tetapi menjadi sesuatu dengan cara salah tidak pernah berujung baik dan membahagiakan. Otama pun pelan-pelan membuang peran baiknya itu. Dia justru tertawan oleh pesona Okada, seorang mahasiswa. Namun, langkahnya tidak leluasa, dan mereka hanya bisa saling sapa lewat mata dan anggukkan kepala.

Lalu kenapa Okada dan Otama tidak bisa bersatu? Kalian baca saja novel ini.



Karena novel ini klasik, jadi memang butuh usaha untuk menyelesaikan membacanya walau pun halamannya tipis. Novel ini kebanyakan narasi dibandingkan dialog. Tampaknya karena penulis menggali detail cerita lebih banyak. Urutan jalan yang dilalui Okada saja dideskripsikan panjang lebar, bahkan jalur alternatifnya pun dibahas. Padahal menurut saya, susah juga buat membayangkannya.

Penulis juga bercerita dengan konsep akar serabut. Ada akar intinya, tapi lebih banyak lagi akar rambutnya ke kanan dan kiri. Awalnya membahas soal Okada, lalu disusul soal pertemuan Okada dengan Otama, dan cerita lanjut ke awal mula Suezo bisa jadi kaya dan bisa menjadikan Otama gundik, lalu di susul latar belakang Otama dan masih banyak lagi pinggiran-pinggian cerita yang menyamping.

Secara alur dan konflik, saya menyukai isinya. Cerita novel ini tuh relate dengan situasi saat ini, dimana banyak banget kasus perselingkuhan yang terekspos dan dari novel ini kita dikasih tahu dua sisi sudut pandang, sisi istri sah dan sisi pelakor. 

Walau pun isunya panas, namun penulis berceritanya dengan santun sekali. Bahkan di bagian ketika Otsune sudah dipuncak kemarahannya, penulis menceritakannya dengan slow saja. Jadi ketika selesai membaca novel ini, emosi kita bakal tetap aman terkendali.



Dugaan saya yang bikin cerita ini kalem karena setting-nya di Jepang pada jaman dulu kala. Di awal novel disebutkan kalau kejadiannya di tahun tiga belas atau sekitar 1880. Pada saat itu sastra belum kebentuk, novel luar belum banyak masuk ke Jepang, dan literasi hanya berbentuk majalah saja. Sehingga konflik sedemikan sensitif tidak digambarkan dengan brutal, berbeda halnya dengan kejadian saat ini.

Untuk kovernya sangat vulgar mempertontonkan sosok perempuan Jepang telanjang yang kayaknya sedang mencuci peralatan dapur. Hemm, kenapa dipilih kover ini ya?

Novel Angsa Liar ini saya rekomendasikan untuk kalian yang suka baca buku klasik, terutama literasi asia. Pengalamannya membacanya seru dan saya sangat menikmatinya.

Sekian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Buku The Keep It Simple Book - Simon Tyler


Judul:
The Keep It Simple Book

Penulis: Simon Tyler

Penerjemah: Anna Ervita Dewi

Sampul: Amanda M. T. Castilani

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Terbit: Maret 2020

Tebal: 198 hlm.

ISBN: 9786232169029

Ada nggak di antara kamu yang sedang merasa demotivasi, lesu, kurang gairah, dalam menjalani hidup sehari-hari dan pekerjaan? Jangan-jangan itu akibat kesibukan yang berlangsung lama...

Mungkin kamu sedang butuh asupan motivasi yang bisa mengurai semuanya.

Dan menurut saya buku The Keep It Simple Book ini bisa membantu. Buku ini punya isi motivasi yang bisa dipraktikkan agar hidup kita lebih clean dan full value. Dan secara garis besar, penulis mengajak kita untuk 'Menyederhanakan Hidup'.

Ada 50 bab berisi masukan yang bisa diaplikasikan dan sebagian besar sangat relate dengan kondisi saya saat ini. Ada tiga pelajaran penting yang saya ambil dari buku ini yaitu tidak menjadi reaktif, menyederhanakan yang rumit, dan berkesadaran.



Pertama, tidak menjadi reaktif artinya memberi jeda pada apa pun. Yang paling penting buat saya adalah menahan diri ketika berbicara. Saya ini orangnya suka berkomentar dan bercerita sampai-sampai hal tidak penting pun bisa keluar dari mulut saya. Dan setelah membaca buku ini saya mulai menahan diri dengan memberi jeda setiap kali mulut saya ini akan berbicara. Karena saya tidak bisa mengontrol ucapan yang sudah diucapkan.

Kedua, menyederhanakan yang rumit aryinya membuat semua menjadi simple, bersih, dan teratur. Ternyata ada beberapa tips untuk membuat segalanya menjadi sederhana, baik pikiran, ucapan, maupun lingkungan. Beberapa cara bisa dilakukan misalnya dengan membersihkan meja kerja, menyelesaikan semua hal yang selama ini ditunda dan mengganggu pikiran, menyingkir dari situasi gaduh, dan masih banyak lainnya.

Ketiga, berkesadaran artinya kita paham apa yang kita mau tuju dan akan lakukan. Ini akan membuat kita bisa menyeleksi apa saja yang menjadi penghalang untuk mencapai tujuan kita dan itu mesti ditiadakan. Alhasil segalanya menjadi ringkas dan sederhana. 

Jujur, buku ini benar-benar mengingatkan saya kalau apa yang saya jalani terlalu sibuk, bising, dan menguras energi. Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi kita akan membereskan itu semua. Saya cuma tidak ingin menjalani hidup yang melelahkan dan mengesampingkan kebahagiaan. Rugi sekali kalau sampai kita menjalani hari-hari tanpa bisa menikmati kebahagiaan.



Walau pun buku ini sudah selesai dibaca, tapi saya akan membaca ulang dengan membuka secara random atau memilih judul yang memang nanti saya butuhkan. Setiap babnya ditulis dengan ringkas jadi cukup membantu untuk meng-on kan semangat kita jika sedang off tanpa menghabiskan waktu yang rada lama.

Berikut beberapa poin yang saya tandai di bukunya:

"Jangan ceroboh dalam perbuatan; membingungkan dalam perkataan, ataupun bertele-tele dalam pemikiran." Marcus Aurelius (121-180) | hal. 13

...Orang yang paling terpengaruh oleh kata-kata Anda adalah ANDA SENDIRI! | hal. 14

"Jika kamu mengubah caramu melihat segala sesuatu; maka sesuatu yang kamu lihat itu akan berubah." Wayne Dyer | hal. 141

Kesimpulannya, buku ini bisa menjadi kawan kapan pun karena muatan masukkannya yang berguna sekali.

Sekian ulasan saya kali ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Buku Anak A Boy, A Bear, A Balloon (Bocah, Beruang, Balon) - Brittany Rubiano, Mike Wall


Judul:
A Boy, A Bear, A Balloon (Bocah, Beruang, Balon)

Penulis: Brittany Rubiano

Ilustrasi: Mike Wall

Penerjemah: Maria Felicia

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juli 2018

Tebal: 40 hlm.

ISBN: 9786020395159


Begitu melihat covernya yang lucu, terus ada beruangnya, saya langsung tahu kalau ini ceritanya pasti soal karakter Pooh, si beruang madu di cerita Winnie The Pooh. Sebelumnya saya sudah membaca dua buku tentang Pooh yaitu buku Winnie The Pooh dan The House At Pooh Corner.

Setelah saya baca ulang ulasan kedua buku tadi, saya tidak menemukan cerita awal mula Christopher Robin masuk ke Hutan Seratus Ekar dan bertemu Pooh. Atau saya yang lupa? Mungkin saya harus nonton filmnya juga biar paham basic ceritanya.

Di buku ini kita akan dibawa ke satu momen ketika Christopher Robin versi dewasa yang datang lagi ke Hutan Seratus Ekar. Pooh awalnya tidak percaya kalau itu Robin dan ia asing dengannya karena Robin kerap mengatakan tanggung jawab dan membawa tas berisi Hal-Hal Penting.

Ada satu kejadian dimana Christopher Robin kesal kepada Pooh dengan mengucapkan kalimat yang kasar. Ini membuat Pooh pergi penghilang.

"Hidup itu labih dari sekadar balon dan madu!" teriaknya. "Aku bukan anak-anak lagi. Aku sudah dewasa!" (hal. 9)


Kemunculan Robin mengagetkan teman-teman lamanya;  Eeyore, Piglet, Rabbit, Tiger, Owl, Kanga, dan Roo, bahkan mereka sempat tidak percaya kalau orang di depan mereka adalah Robin. Dan rupanya pada saat itu teman-teman Robin sedang ketakutan oleh kemunculan Heffalump. Tugas Robin kini bertambah, selain mencari Pooh, dia juga harus menenangkan teman-temannya kalau Heffalump itu tidak ada.

Jujur, saya selalu senang membaca buku anak-anak. Selain ceritanya yang ringkas, alur cerita dan konfliknya pun ringan. Dan dengan begitu kita pun akan lebih mudah memahami apa pesan ceritanya.

Dari cerita Pooh kali ini kita akan mendapatkan pesan untuk berani meminta maaf setelah melakukan hal yang menyakiti orang lain. Ini dicontohkan Robin kepada Pooh setelah dia meneriakkan kata-kata keras.

Di buku ini masih menggunakan konsep cerita yang sama dengan kedua buku yang sudah saya baca, yaitu menggabungkan petualangan Robin berupa pencairan Pooh dan memecahkan masalah yang muncul di kalangan teman-temannya. 



Ilustrasi pada buku ini pun sangat bagus. Penerjemahan juga cukup baik walau pun untuk beberapa kata dan kalimat masih agak kaku. Misalnya menunjukkan kertas yang berhamburan terbang justru diterjemahkan dengan kata berpusing ke langit. Hemm...

Kesimpulannya, buku anak ini masih saya rekomendasikan untuk dibaca oleh anak-anak atau dibacakan oleh orang tua kepada anaknya sebelum tidur.

Sekian ulasan saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Resensi Novel Paris: Aline - Prisca Primasari

Dulu, Gagas Media termasuk penerbit yang kreatif dengan karyanya yang enggak ada matinya. Banyak buku bagus yang diterbitkan. Salah satu series yang terkenal adalah series Setiap Tempat Punya Cerita a.k.a STPC. Kalau mengintip di goodreads, totalnya ada enam buku. Dan novel Paris: Aline ini adalah buku pertamanya.



Judul: Paris: Aline

Penulis: Prisca Primasari

Editor: eNHa

Sampul: Jeffri Fernando

Ilustrasi isi: Diani Apsari

Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2012, cetakan pertama

Tebal: x + 214 hlm.

ISBN: 9797805778

RINGKASAN

Aline Ofelif yang patah hati gara-gara pria yang ditaksirnya malah jadian dengan perempuan lain. Melalui pecahan porselen ia dipertemukan dengan pria yang misterius bernama Sena. Terlalu banyak tanda tanya mengenal Sena. Selain Sena, ada Kak Ezra yang lebih dulu dikenal Aline dan menunjukkan perhatian-perhatian. 

Kira-kira kepada siapa Aline akan menambatkan hatinya?

RESENSI

Menurut saya novel ini terasa manis, plus suasana romantis didukung penuh oleh lokasi cerita yaitu Paris. Saya lumayan takjub sih dengan awal mula pertemuan Aline dan Sena yang terhubung lewat pecahan porselen dan lokasi yang dipilih pun enggak biasa, monumen pemakaman. Rada ngeri-ngeri sedap ya, takut ketemu hantu, itu juga yang dialami Aline ketika menyanggupi janjiannya.

Selain itu saya juga memikirkan kira-kira Aline lebih pas berpasangan dengan Sena atau Kak Ezra. Jujur saja Kak Ezra ini sosok misterius tapi bisa diandalkan, dia bahkan menunjukkan bentuk perhatiannya dengan tindakan, bukan kata-kata saja, rela menemani Aline menunggu Sena datang dengan alasan mengamati sebuah gedung.

Yang mengganjal buat saya justru pada keputusan hati Aline yang naksir Sena padahal Sena itu menyebalkan dan seingat saya tidak banyak perhatian dan persinggungan antara keduanya. Bagaimana rasa sayang itu bisa muncul, bahkan mengalahkan perlakuan perhatian Kak Ezra yang nyata-nyata diterima Aline sejak ia tiba di Paris.

Kejadian Sena yang ditawan oleh pasangan Poussin juga membingungkan karena Sena itu bukan anak kecil harusnya dia bisa lebih tegas dengan hidupnya ketimbang memikirkan keluarga yang bukan siapa-siapanya. Istilahnya, dia lebih memikirkan kondisi keluarga orang lain dibandingkan kekhawatiran keluarganya sendiri. Dan apa yang dilakukan pasangan Poussin itu sudah tergolong kriminal, harusnya gampang dilaporkan ke polisi, tapi lagi-lagi Sena memberikan alasan yang menurut saya belum kuat kenapa dia memilih bertahan ditawan. 



Selain sisi romansa yang disajikan penulis, saya juga bersimpati dengan Sevigne Devereux, sahabat Aline, yang tengah berjuang dengan cita-citanya menjadi penulis. Kerasa banget kesulitan yang dihadapi dia, terutama mewujudkan keinginannya untuk menerbitkan karya. Selain itu, pilihan dia menjadi penulis juga dipandang sebelah mata oleh keluarganya. Tentu ini jadi pukulan keras dimana keluarga harusnya menjadi pilar pendukung utama tapi justru jadi penghambat utama. Huft!


"...Dia melihat salah satu tulisanku dan bilang semua itu tidak ada gunanya, buang-buang waktu, sampah..." (hal. 114)


Untuk sudut-sudut Kota Paris yang ditampilkan dalam cerita ini lebih variatif, tidak memilih yang ikonik banget yaitu Menara Eifel. Kita akan diajak ke Monumen Pemakaman Place de la Bastille, Museum Cluny, Beaumarchais Boulangerie, Kediaman Victor Hugo, Pemakaman Pere Lachaise, dan sudut-sudut Kota Paris lainnya yang dilewati oleh Aline atau pun tokoh lainnya. Ini memberikan wawasan baru buat pembaca soalnya beberapa novel yang mengambil setting di kota terkenal biasanya hanya menonjolkan lokasi ikonik saja tanpa mengajak berjalan-jaln lebih luas.

Gaya menulis Kak Prisca Primasari terbilang runut dan detail. Saya menikmati sekali diksi-diksi yang dirangkai penulis sehingga bisa membayangkan kelembutan, keromantisan, dan kehangatan kisah Aline dan Sena selama di Paris.

Penokohan di novel ini belum membuat saya suka dengan salah satunya. Karakter Aline Ofelif secara umum saya kutip seperti yang dituturkan oleh Sena, "Pikiran sempit, nggak percaya diri, tapi sok kuat. Melankolis tidak pada tempatnya. Suka berjibaku pada hal-hal tidak penting." Meski begitu, karakter Aeolus Sena pun tidak lebih baik dari Aline. Dia kurang tegas memilih keputusan, suka meremehkan hal-hal penting, dan kurang bertanggung jawab. Sedangkan Kak Ezra terlalu penutup dan lebih pemendam perasaan sehingga dia kena salip oleh Sena, hehe.



Kover novel Paris; Aline ini jadi template baku untuk series STPC ini. Warna dasar yang kalem dengan gambar vector di kasih judul yang bold. Dan yang paling keren, buku ini juga memberi postcard dengan ilustrasi yang cakep banget.

Novel Paris: Aline ini merupakan buku ketiga karya Kak Prisca Primasari yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca Heartwarming Chocolate dan Kastil Es & Air Mancur Yang Berdansa.

Kesimpulannya, novel Paris: Aline ini kuat di bagian romantisnya dan bikin saya bernostalgia dengan kejayaan Penerbit Gagas Media yang kerap menerbitkan buku-buku jatuh cinta. Ceritanya sangat enak dinikmati dan pas untuk pecinta cerita cinta-cintaan.

Sekian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Resensi Novel Kisah Hidup Gusko Budori - Miyazawa Kenji


Judul:
Kisah Hidup Gusko Budori

Penulis: Miyazawa Kenji

Penerjemah: Ivia Ade K.

Ilustrasi: EorG

Penyunting: Gita Romadhona

Penerbit: Penerbit Mai

Terbit: Desember 2022, cetakan pertama

Tebal:108 hlm.

ISBN: 6214941570460 (QRCBN)

RINGKASAN

Pada musim dingin panjang, Gusko Budori (10) dan Neri (7), adik perempuannya, ditinggalkan berturut-turut oleh Ayah dan Ibunya di rumah di hutan Ihatov. Tak lama setelah itu, Neri diculik oleh seorang pria yang memanggul keranjang. Sejak saat itulah Gusko Budori mulai berjuang untuk hidup. Dalam perjalanannya dia bertemu dengan orang-orang yang mengajarinya soal kerja keras.



RESENSI NOVEL

Novel ini mengajak kita mengikuti perjalanan hidup Gusko Budori sejak ia kecil sampai dewasa yang penuh kemalangan. Ia ditinggalkan orang tuanya, adiknya diculik, ia harus bekerja kepada Pemilik Pabrik Sutra, saat gunung meletus giliran ia bekerja kepada Tuan Tanah Janggut Merah, dan saat dewasa ia mengabdikan diri di Biro Pengamatan Gunung Berapi Ihatov bersama Teknisi Tua Pannennam.

Ini adalah novel perenungan untuk bekerja keras dan tidak putus asa. Sangat jelas diwakili oleh Gusko Budori yang rajin memasang jaring untuk ulat sutra dan dia juga menuntun kuda untuk membajak lumpur. Sepanjang melakukan pekerjaan itu tidak sekali pun Gusko Budori mengeluh. 

Gusko Budori juga memiliki keingintahuan yang tinggi sebab setelah dipersilakan untuk meninggalkan tanah garapan Tuan Tanah Janggut Merah, ia memilih menemui Profesor Kubo. Sebelumnya Gusko Budori pernah belajar dari buku-buku dan jika bertemu Profesor Kubo artinya ia akan belajar lebih banyak lagi. Gusko Budori pun diminta membantu bekerja mengamati kondisi ratusan gunung merapi.

Dan sedikit memilukan di akhir ceritanya karena Gusko Budori memutuskan untuk menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Sepertinya ini buah dari dia melakukan perjalanan dan belajar banyak hal. Walau begitu saya merasa lega sebab Gusko Budori akhirnya tahu nasib dari orang tua dan adik perempuannya. 

Menurut saya buku ini tidak cocok untuk anak-anak karena muatan ceritanya yang berat dan tidak menyenangkan. Justru saya yang dewasa pun butuh waktu untuk memahami intisari dari perjalanan Gusko Budori ini. Selain itu terjemahannya juga mendukung pendapat saya karena lebih memilih memasukkan istilah-istilah pertanian dibandingkan nama familiar bahasa indonesianya. Agak sedikit terasa ilmiah, hehe.

Secara penokohan saya tidak bisa bersimpati penuh kepada Gusko Budori karena kurang penggalian karakternya. Saya yakin ini karena ceritanya yang diringkas padahal fase yang dilewati Gusko Budori terbilang panjang. Banyak momen-momen yang tidak terceritakan yang seharusnye memperjelas penokohan Gusko Budori.




Saya suka dengan ilustrasi yang ada di dalam buku ini, rada absurd tapi cukup memberikan gambaran ceritanya. Dan yang masih membingungkan justru gambar karakternya yang berubah jadi hewan-hewan. Sempat terpikir jangan-jangan ini cerita hewan, tetapi ceritanya justru tegas menjelaskan soal manusia. Hemm, kenapa mesti diwakili sama bentuk-bentuk hewan ya?

Kalau kita perhatikan kovernya, yang warna kuning itu seperti bentuk monster ya, padahal bukan, itu adalah gunung berapi. Dan warna latar hijau tua sudah cukup menyampaikan kalau isi novel ini tidak ceria. 

Secara keseluruhan saya bisa menikmati cerita Gusko Budori di novel ini walau pun belum memberi kesan mendalam. Buku ini pas dibaca bagi yang butuh bacaan mengenai nilai diri dan bentuknya novel, bukan self improvement.

Sekian ulasan saya untuk novel Kisah Hidup Gusko Budori ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Halo 2024

Happy New Year!!!


Sujud syukur saya haturkan kepada Gusti Allah SWT yang sudah memberikan saya kesempatan untuk berada di momen ini. Tahun 2023 sebentar lagi berakhir dan saya melewatinya dengan susah payah. Tahun kemarin lebih banyak tangisan daripada tawanya. Namun berkat banyak orang baik, saya bisa menahan beban hidup yang pernah membuat saya ingin bunuh diri.



Halo 2024!

Di titik ini saya begitu bersemangat ingin melalui tahun ini dengan penuh suka cita. Banyak hal baik yang ingin saya lakukan. Banyak hal baik yang ingin saya bagikan. Dan saya akan ingat terus dengan kata ini "Blissful Simplicity", kesederhanaan yang penuh kebahagiaan.

Termasuk kegiatan saya di dunia literasi -membaca buku dan mengulasnya di blog- akan saya coba susun ulang agar prosesnya tidak membebani dan justru membuat senang.

Berikut beberapa hal yang saya canangkan sebagai panduan, check this out:


  • Saya akan membaca 50 buku dan mengulasnya di blog ini. Yang akan berubah adalah format ulasannya. Ke depannya akan saya buat lebih personal dan mungkin hanya menyajikan kesan-kesan saja. Sebab ketika membuat ulasan dengan format yang formal, saya malah terbebani sehingga beberapa buku harus dibaca ulang karena ketika mengulasnya mengalami kebuntuan.
  • Saya akan konsisten membuat konten blog. Selama ini ada ketidakkonsistenan membuat postingan di blog ini karena kesulitan menentukan apa-apa saja yang pas disajikan. Beberapa artikel mengendap di draf, kemudian saya hapus karena tidak relevan lagi.
  • Saya akan mengadakan giveaway minimal 1 kali per bulan. Bentuk rasa syukur karena bisa memiliki koleksi buku, baik fiksi maupun nonfiksi, yang kian waktu kian banyak. Hadiah giveaway nanti tidak melulu buku baru, saya juga akan memberikan hadiah buku preloved agar koleksi saya tidak membludak.
  • Saya akan membaca banyak buku TBR 2023. Jumlah buku TBR saya per awal tahun 2024 ini adalah 401 buku, dengan rincian sebagai berikut: Fiksi 355 buku, Komik 1 buku, dan Non-Fiksi 45 buku. Saya tidak sabar untuk mulai membaca TBR dan mengetahui hasilnya pas akhir tahun ini nanti.
  • Saya juga akan mencadangkan uang 120K untuk beli buku per bulan. Mengingat banyak banget TBR yang belum diselesaikan maka saya akan membatasi secara ketat keinginan untuk beli buku baru di tahun ini.


Sekian tulisan saya untuk mengawali tahun 2024 ini. Semoga semua yang saya harapkan akan terkabul. Amin!

Lalu apa harapan kamu di tahun 2024 ini?