Resensi Novel Kokokan Mencari Arumbawangi - Cyntha Hariadi

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Kokokan Mencari Arumbawangi

Penulis: Cyntha Hariadi

Editor: Mirna Yulistianti

Sampul: Roy Wisnu

Ilustrasi: Rassi Narika

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juli 2020, cetakan pertama

Tebal: x + 338 hlm.

ISBN: 9786020640259


Gara-gara punya anak laki-laki yang cengeng, Nanamama jadi pengen punya anak lagi buat jadi adik Kakaputu. Tapi sayangnya Nanamama sudah enggak bersuami. Tapi harapannya terkabul berkat burung Kokokan yang singgah di desa dan meletakkan seorang anak perempuan di kebun bawang. Anak perempuan ini kemudian diberi nama Arumbawangi.

Karena datang bukan dari rahim melainkan dibawa oleh burung Kokokan, Arumbawangi sering dianggap petaka dan kutukan oleh warga desa. Bahkan sempat ada ide agar Arumbawangi dikeluarkan dari desa. Namun karena Kakaputu sudah sayang, Nanamama memutuskan keukeuh membesarkannya. Warga pun makin tidak suka dengan keluarga Nanamama, apalagi dulu Nanamama pernah menolak menjual tanahnya kepada pengusaha hotel.

Hotel yang dulu terbengkalai kini kedatangan pemilik baru bernama Pak Rudi. Beliau ternyata membawa anak laki-lakinya, Jojo, yang kerap marah-marah dan berteriak-teriak. Ada penyebabnya kenapa Jojo bisa bersikap menyebalkan begitu. 

Pertemuan Jojo dengan Kakaputu dan Arumbawangi membuat kehidupan Jojo berubah. Dia belajar banyak hal dan menemukan kebahagian lagi. Namun tragedi kebakaran di hotel itu tidak bisa dicegah hingga merenggut nyawa. Seluruh warga desa menuduh Nanamama sebagai penyebabnya dan membuat Nanama merasa dikhianati oleh seluruh warga hingga ia jatuh sakit dan meregang nyawa.

Kakaputu dan Arumbawangi harus terus melanjutkan hidup. Tetapi nasib pilu yang mendera makin terasa berat dilalui tanpa keberadaan Nanamama. Bukan apa-apa, orang terdekat mereka yang kelihatan berubah jadi baik ternyata memiliki maksud terselubung.

Bisakah Kakaputu dan Arumbawangi mempertahankan tanah mereka sesuai pesan Nanamama?

***


Ceritanya bagus banget dan karena ini sebuah dongeng jadi kita akan menemukan cerita yang ajaib. Bakal susah dibayangkan bagaimana burung bisa membawa anak kecil, saya tidak tahu segede apa burungnya, hehe. Dan keajaiban ini mengingatkan saya pada cerita di film Baby Boss, adiknya Tim yang bayi itu, diantarkan oleh burung dan diletakan di depan pintu si pemesan.

Karena tokoh utamanya berusia anak-anak, novel ini mungkin masuk ke genre buku anak, dan yang membuatnya berbeda dengan buku anak lainnya, di sini kisahnya mengandung kegetiran, kesedihan, dan perjuangan berat yang dialami dua anak kecil setelah ibunya meninggal. 

Tema kehilangan dibahas berkali-kali melalui beberapa tokoh. Kakaputu dan Arumbawangi kehilangan Nanamama. Jojo kehilangan ibunya. Pak Rudi kehilangan Jojo. Semua drama ini sangat menyentuh hati.

Novel ini juga membawa isu lingkungan menjadi topik dan konflik utama. Terutama menyoroti soal ambisi merubah area hijau seperti hutan, sawah atau kebun menjadi deretan gedung megah oleh pengusaha. Tentu saja kegiatan ini akan membawa kerusakan bagi lingkungan dan habitat di sekitarnya. 

Secara garis besar, novel ini menampilkan perlawanan keluarga kecil melawan ketamakan pengusaha dan masyarakat sekitar. Menyaksikan bagaimana Nanamama menentang keras soal pembangunan hotel di desanya, membuat kita melek kalau perjuangan menjadi minoritas yang benar di tengah mayoritas yang salah ternyata bikin membatin, padahal yang dipertahankan adalah tanah sendiri.

Saya yang sangat suka cerita dengan latar pedesaan, sangat menikmati membaca novel ini. Lokasi cerita ini ada di Bali, dimana di sana ada satu daerah yang sawah teraseringnya diakui UNESCO. Penulis berhasil menggambarkan situasi pedesaan dan aktifitasnya dengan sangat nyata. Soal sawah yang padinya menguning dan kerap disantroni burung-burung, atau bagaimana keriangan anak-anak main lumpur saat tanah sawah masih digenangi air.




Tokoh-tokoh di novel ini pun begitu hidup. Nanamama dan anak-anaknya menjadi protagonis yang mengesankan. Dan saya masih terkesan dengan sifat-sifat mereka walaupun sudah selesai membaca novelnya. Karakter mereka khas keluarga sederhana dari pedesaan. Di sini juga ada karakter antagonis yang menyebalkan yaitu Wawatua yang mengincar tanah Nanamama dengan lebih dulu ingin jadi wali Kakaputu dan Arumbawangi. Walau pun yang diincarnya bukan harta untuk diri sendiri, tetapi cara dia memprovokasi warga dan kelicikannya benar-benar jahat.              

Nilai-nilai moral dalam novel ini pun sangat menggugah. Kita seperti diingatkan kembali soal hidup dalam kesederhanaan dan paham arti cukup. Nanamama sering mengatakan kalau tanah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari kita jika dirawat dan dijaga dengan baik, makanya dia tidak silau mata oleh tawaran yang mau membeli tanahnya. Dan ketika beliau tiada, Nanamama ternyata memiliki simpanan dan tabungan untuk kedua anaknya. Berkat mempraktikan arti cukup, kita pasti bisa menabung untuk pegangan ketika situasi buruk terjadi tiba-tiba.

Kesimpulannya, novel ini punya cerita yang bakal menghanyutkan pembaca dengan unsur kehidupan pedesaan dan konfliknya. Sajian yang sederhana tapi bernilai mahal.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Resensi Novel Festival Hujan - Nurunala


Judul:
Festival Hujan

Penulis: Nurunala

Editor: Trian Lesmana

Sampul: Withly

Penerbit: Grasindo

Terbit: Desember 2023

Tebal: 200 hlm.

ISBN: 9786020530482


Setelah dua tahun berpacaran, Tahta memutuskan hubungan dengan Rania tanpa penjelasan yang tuntas. Di tengah Rania meratapi nasibnya, kemunculan pemuda yang mengontrak ruko di depan rumahnya menjadi momen untuk move on

Tama, pemuda tadi, membuka Tokko Bukku dan berkatnya Rania mulai suka membaca novel. Tama juga pendengar yang baik, dan kedekatan mereka memunculkan harapan baru yang perlahan memupus kesedihan sebelumnya. Tetapi, selama ini hanya Rania yang lebih banyak bercerita, dan ia pun sadar tidak mengenal Tama sebaik yang seharusnya.

***

Nurunala menjadi nama penulis yang cukup berkesan buat saya setelah membaca novel sebelumnya berjudul Seribu Wajah Ayah. Mau tak mau ekspektasi itu melekat juga waktu saya membaca novel ini.

Novel ini memiliki tema percintaan yang membahas soal konflik patah hati dan proses move on. Ceritanya akan sangat relate dengan anak muda yang masih kuliah. Penulis menggambarkan fase-fase yang terjadi selama seminggu setelah putus. Dan kalau menilik apa yang dialami Rania, saran yang menyebutkan kalau mau melupakan mantan harus punya pacar baru, ada benarnya juga. 

Inti sebenarnya dari saran tadi adalah bagaimana cara kita mengalihkan pikiran dari mengingat mantan. Dan jalannya yaitu dengan melakukan banyak aktifitas agar kita tidak terjebak di momen melamun. Keberadaan sahabat di saat patah hati juga bisa sangat membantu proses move on. Kalau tidak ada yang memaksa untuk bangkit, orang yang patah hati akan lebih senang meratapi nasibnya di kamar dan tangan sahabat bisa berperan untuk itu.



Di sini juga kita akan mendapatkan konflik keluarga terutama soal perceraian orang tua dan apa efeknya bagi anak. Alasan yang bikin orang tua Rania pisah itu umum banget, tak lain soal ekonomi. Makanya di tengah masyarakat sudah bukan rahasia lagi kalau soal ekonomi jadi penyebab utama kenapa pasangan bisa memutuskan cerai. 

Yang kadang luput dari keputusan cerai adalah efek yang timbul bagi anak. Meski seorang anak kelihatan bisa menerima keputusan cerai orang tuanya, bukan berarti ia tidak terluka. Bahkan ketika sudah agak dewasaan, si anak akan mencari sendiri siapa yang salah hingga orang tuanya pisah. Karena itu, ketika melakukan perceraian, orang tua harus bisa menyampaikan dengan bijak alasan yang membuat mereka pisah agar si anak tidak membatin.

Pemilihan judul mengandung kata 'hujan' membuat kita akan menduga kalau kisah di novel ini bakal sendu banget. Dan saya setuju dengan dugaan itu, konflik di novel ini berpotensi menguras air mata. Tetapi, saya tidak mendapatkan rasa sedih itu seperti ketika membaca novel Seribu Wajah Ayah. Dugaan saya karena penulis memilih menggali emosi lebih banyak di konflik putus cinta dan bukan menggali emosi soal apa yang dirasakan orang tua ketika anaknya putus cinta. Inti cerita begini sudah banyak dipakai penulis lain jadi kita sudah hafal kalau alurnya ya soal berjuang agar bisa move on. Dan untuk pembaca itu bukan sesuatu yang mengesankan lagi.

Soal pandemi pun tidak digambarkan sebagai sesuatu yang mencekam padahal ini bisa jadi penambah kesenduan bagi Rania. Dan saya merasa kalau situasi pandemi ini hanya sisipan semata, bukan situasi yang bisa diolah terutama soal kesuntukan masyarakat menghadapi ketidakpastian dengan musibah.

Sedikit menyenangkan saya ketika unsur literasi dipakai pada ceritanya. Selain ada toko buku, penulis juga menyebutkan beberapa judul novel dan kata-kata bagus di dalamnya. Disayangkan karena penulis memilih novel yang sudah terkenal seperti novel Haruki Murakami, Dee dan Tere Liye, dan bagi saya yang sudah membacanya tidak cukup terkesan dengan yang ditemukan Tama dan Rania. 

Akan lebih menarik kalau penulis memilih novel yang tidak begitu terkenal tapi bisa dilihat sisi bagusnya sesuai penilaian Tama. Pasti akan membuat pembaca novel ini berburu novel yang disebutkan, sebagai pembuktian apa iya novelnya sebagus itu.

Untuk karakter di sini, saya tidak bisa memilih yang paling disukai. Tadinya saya mau memilih Rania dan Biah, tapi setelah membaca bagian mereka bertengkar gara-gara Tama, saya memutuskan tidak mau. Momen itu aneh sih, saya merasanya pertengkaran mereka terjadi dengan tiba-tiba dan diselesaikan dengan cepat pula. 

Karakter Tama pun yang awalnya baik sekali harus dihancurkan dengan kenyataan yang ia sembunyikan. Bahkan cara dia berpikir soal hubungannya dengan Rania, tak lain seperti bajingan karena tidak tegas dan tidak mau rugi.

Secara keseluruhan, novel Festival Hujan ini bisa jadi bacaan yang bagus pas hujan sedang turun. Dan mungkin bakal cukup mengaduk-aduk emosi untuk pembaca yang belum baca novel Seribu Wajah Ayah. 

Sekian ulasan saya kali ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Novel Watersong - Clarissa Goenawan

Dahulu kala, ketika masih kecil, dia bermimpi tenggelam (kalimat pertama novel Watersong; 5)


Judul:
Watersong

Penulis: Clarissa Goenawan

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman

Sampul: Sukutangan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2022

Tebal: 392 hlm.

ISBN: 9786020664972

RINGKASAN

Shouji memutuskan ikut pindah dengan kekasihnya, Youko Sasaki, dari Tokyo ke Akakawa. Dia yang belum bekerja akhirnya menerima tawaran dari Youko untuk bekerja di tempat kerja yang sama, sebuah kedai teh mewah, sebagai pendengar bagi klien yang memilihnya. Ini jenis pekerjaan yang menuntut kerahasiaan, apa yang diucapkan klien tidak boleh sampai diceritakan ke orang lain.

Mizuki sebagai klien pertama Shouji yang merupakan korban kekerasan suaminya, mendorong niat baiknya untuk menolong. Kemunculan Tooru Odagiri yang mengaku sebagai reporter justru membuat Shouji diincar untuk dihabisi.

Merasa nyawanya terancam, hampir ditabrak mobil misterius dan apartemennya tiba-tiba kebakaran, Shouji melarikan diri kembali ke Tokyo, meninggalkan Youko. Sejak itu pasangan ini terpisah dan Shouji diteror untuk melupakan Youko dibandingkan dengan resiko kematian jika ia terus mencarinya.

Sepanjang pelarian itu Shouji bertemu dengan beberapa orang dari masa lalu, seperti Liyun, Eri, dan Yoshioka. Ada rahasia yang terungkap, ada kisah penghubung yang akhirnya diketahui, dan ada masa lalu yang harusnya dimaafkan.

Berhasilkah Shouji menemukan kekasihnya lagi?

Kemudian, bagaimana dengan keselamatan nyawanya?

ULASAN

Saya suka dengan cerita di novel ini karena menggabungkan cerita romansa dengan cerita misteri thriller. Di samping kita mengikuti perkembangan hubungan Shouji dan Youko yang terpisah, kita juga dibuat penasaran dengan ujung nasib teror pembunuhan yang menimpa keduanya.

Shouji pernah diramal waktu kecil dan dikatakan kalau ia akan bertemu dengan tiga perempuan yang memiliki unsur air dalam namanya. Salah satunya mungkin akan jadi belahan jiwa namun jika tidak hati-hati, Shouji atau salah satu dari ketiga perempuan tersebut akan mengalami kematian. Kita akan menebak-nebak kira-kira siapa saja perempuan itu dan ada cerita romansa apa antara Shouji dan ketiganya. Ini juga bagian yang menarik diikuti.

Novel ini juga membahas soal konflik keluarga antara anak dan orang tua. Shouji kurang rasa hormat kepada ayahnya karena trauma kekerasan yang dia alami. Dia juga menyalahkan ibunya karena waktu kekerasan itu terjadi, dia tidak dilindungi dan justru dia diminta berbohong kepada orang lain atas luka-luka yang ada di tubuhnya. Peristiwa ini ternyata membekas sampai dewasa dan jadi rahasia yang dia pendam. Bagian ini jadi pelajaran penting untuk orang tua dalam mengasuh dan membesarkan anak.

Selain itu, kita juga akan diajarkan untuk memaafkan masa lalu, baik berupa kemarahan, penyesalan, dan kesedihan. Hampir tokoh-tokoh yang muncul di novel ini mempunyai masa lalu yang kelam dan itu jadi luka batin sampai dewasa. Kebanyakan orang akan memendamnya, segan untuk membicarakannya, padahal dengan membicarakannya bersama orang yang tepat itu bisa menjadi proses awal penyembuhan. Tidak enak lho menyimpan perasaan negatif dalam dada.

Sepanjang membaca novel ini emosi saya seperti diaduk-aduk karena masalah setiap tokohnya kebanyakan tragis dan memilukan. Masalah yang ditampilkan di sini pasti pernah dialami oleh kita atau orang terdekat kita. Jadi ceritanya terasa dekat sekali dengan pengalaman kita sebagai pembaca.

Tokoh-tokoh di sini juga begitu hidup dan menonjol. Mudah sekali untuk dibedakan dan kita tidak akan bingung atau kesulitan untuk mengingatnya saat proses membaca. Gaya bercerita pun menunjang kesan baik saya untuk novel ini karena penulis membuat diksinya terasa tenang, lembut, teratur, lengkap dan sarat rasa. Ini juga yang dulu saya rasakan ketika membaca novel debutnya, Rainbirds.

Kejutan yang menarik di sini yaitu peran tokoh-tokoh yang ada ternyata berhubungan dengan kedua tokoh utama, Shouji dan Youiko. Padahal saat awal-awal kayak hanya sebagai peran tambahan, eh ternyata mereka bagian penting di masa lalu. Enggak kepikiran lho!


  • Setiap orang memiliki bagian dari diri mereka yang sengaja mereka tutupi dari orang lain (hal. 51)
  • Kita tidak bisa kehilangan sesuatu yang sejak awal tak pernah dimiliki (hal. 53-54)
  • Banyak hal yang kita anggap remeh, sampai hal itu direnggut dari kita, meninggalkan lubang menganga (hal. 61)
  • Bakat itu hanya kerja keras dan kepercayaan diri (hal. 64)
  • Tak akan ada yang berubah jika semua orang terus menutup mata (hal. 90)
  • Orang yang bilang dirinya tidak kesepian biasanya yang paling kesepian (hal. 196)
  • Kalau ingin berubah, itu harus karena diriku sendiri (hal. 234)
  • Kau harus bisa mencintai diri sendiri dan berkembang lebih dulu sebelum mencintai orang lain (hal. 241)


Kesimpulannya, novel Watersong ini mempunyai cerita yang seru, pilu, dan mengajak pembaca untuk merenung soal kebahagiaan. Disampaikan dengan cara baik dan menghanyutkan. Saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang suka dengan literasi Jepang dan berisi cerita soal psikologi manusia terutama yang membahas tentang emosi manusia.

Balon itu terbang semakin lama semakin tinggi, lenyap ditelan langit biru (kalimat terakhir novel Watersong, 390)

Sekian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Resensi Novel Dongeng Binatang - Gita Karisma

Apolo menghampiri mereka, berkenalan satu demi satu (kalimat terakhir novel Dongeng Binatang)



Judul:
Dongeng Binatang

Penulis: Gita Karisma

Penerbit: Kakatua

Terbit: Februari 2019

Tebal: 176 hlm.

ISBN: 9786027328402


PREMIS

Di sebuah kandang kaca pada satu kebun binatang terdoktrin jika tikus-tikus terpilih yang diangkut oleh Penjaga akan dibawa ke Taman Surga. Di sana mereka akan bahagia dilimpahi gunung keju, sungai susu, dan hamparan kacang. Mereka dan kawanannya juga memuja kebaikan manusia yang sudah merawat dan memberi makan selama ini.

Dua tikus bernama Apolo dan Ganesa mendapatkan giliran dibawa Penjaga bersama tikus-tikus lainnya. Harapan mereka untuk sampai ke Taman Surga tidak semulus yang dibayangkan. Mereka sadar kalau tempat luas berisi kandang-kandang itu adalah Kebun Binatang. 

Apolo dan Ganesa dimasukan ke kandang Katak. Mereka masih belum sadar betul jika mereka adalah pakan untuk si Katak. Setelah menyaksikan salah satu tikus yang dilahap si Katak, Apolo cepat menyadari situasi meski masih ragu-ragu, melancarkan ide agar ia dan Ganesa bisa lolos dari kandang Katak.

Rencananya berhasil tetapi si Penjaga membawa mereka ke kandang pemangsa baru yaitu Ular. Kali ini giliran Ganesa yang mengakali si Ular dengan cerita sedih dan membuatnya melakukan tindakan yang mematikan. 

Lolosnya Apolo dan Ganesa dari dua pemangsa membuat si Penjaga curiga. Diputuskanlah mereka dibawa ke pemangsa yang lebih sadis yaitu Elang. 

Bagaimanakah nasib Apolo dan Ganesa selama di kebun binatang? 

Berhasilkah mereka menemukan Taman Surga yang selama ini dicarinya?



IDE CERITA

Karena buku ini menggunakan hewan sebagai tokoh utama, saya jadi ingat dengan buku Animal Farm yang ditulis George Orwell. Kesamaan lainnya kedua buku ini membahas pemberontakan para hewan dengan kesewenang-wenangan manusia yang mengeksploitasi hewan.

Tetapi menurut saya buku ini lebih seru karena penulis menggabungkan cerita hewan dengan cerita petualangan. Dua tokoh utamanya adalah tikus muda yang terlalu lama tinggal di kandang pemeliharaan sehingga keduanya tidak tahu apa pun di dunia luar. Makanya ketika mereka disajikan sebagai pakan untuk hewan lain, ada ekspresi takjub, terutama bagi Apolo yang tipikal hewan banyak tanya dan penasaran dengan segala hal.

Sepanjang perjalanan mencari Taman Surga, kedua tikus ini bertemu hewan lain yang membawa pengetahuan baru. Ada Kecoa, Nyamuk, Katak, Ular, Elang, Burung Gagak, Semut, Anjing, Kucing, Kuda, Keledai, Ayam, Sapi, dan masih ada beberapa lainnya. 

Melalui percakapan antara dua tikus dan hewan lain yang ditemui, banyak sekali sindiran yang ditujukan untuk manusia. Dari sudut pandang hewan, manusia dinilai sebagai mahluk jahat sebab memperlakukan hewan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka, tanpa memikirkan kebutuhan dan keinginan hewan.

Banyak aksi heroik yang dilakukan kedua tikus untuk mengakali manusia dan menyelamatkan hewan lain. Terutama ketika Apolo berada di Peternakan, terasa sekali perannya sebagai pahlawan bagi ayam, sapi, dan domba.

Saya juga sangat terhibur ketika dua tikus menunggangi Elang melakukan perjalanan panjang. Dan saya turut sedih ketika Apolo dan Ganesa terpisah karena jatuh sewaktu terbang bersama Elang. 

INTRINSIK

Keseluruhan alur dalam kisah Apolo dan Ganesa ini menggunakan alur maju. Kalau pun ada bagian yang membahas masa lalu, itu hanya penggalan cerita yang dituturkan hewan, tentang nasib mereka hingga berada di posisi saat ini. Kebanyakan memang hewan-hewan lain yang menceritakan kisahnya kepada si dua tikus.

Gaya bahasa penulis cukup rapi dan sederhana. Saya sangat menikmati diksi yang disusun, mengingat ini ceritanya tentang hewan, kalimat yang disusun tentu saja tidak boleh gegabah menyamakan dengan menceritakan tokoh manusia. Bahkan porsi pengetahuan para hewan sudah pas sesuai kecerdasan mereka, penulis mengakali dengan menggali kebiasaan hewan pada umumnya.

Apolo dan Ganesa yang jadi tokoh utama sebagai tikus memiliki karakter yang berlainan. Apolo adalah tikus yang serba penasaran dan banyak bertanya. Dan menurut saya dia tergolong tikus yang cerdas, cepat memahami situasi yang dihadapi, dan cukup berani mengambil resiko pada keputusan-keputusannya. Sedangkan Ganesa terkesan tikus yang tidak ambil pusing, jarang memikirkan secara mendalam, dan jujur saja perannya tidak sebanyak Apolo di cerita ini. Apalagi sewaktu mereka terpisah, tidak ada kelanjutan cerita Ganesa dan petulangannya, dan kisah utamanya hanya dari petualangan Apolo.

Setelah kelar membaca buku ini saya menangkap pesan kalau hewan itu tercipta dengan peran dan fungsinya masing-masing. Rasanya tidak ada hewan yang ada tapi sia-sia. Selain itu, saya juga membenarkan kalau manusia itu rumit, egonya tinggi, dan jarang yang menilai hewan dengan objektif. Mungkin beberapa manusia bisa dibilang serakah dan dibutakan nafsu duniawi sehingga bagi mereka hewan itu salah satu alat pemenuhan semata.

Saya juga rasanya kesal ketika membaca bagian kucing yang menilai manusia sebagai penyebab utama kenapa beberapa kucing kehilangan insting naluri hewannya. Kucing peliharaan kebanyakan kehilangan kemampuan memburu mangsa karena terlalu diberikan kemudahan oleh manusia. Manusia dengan arogan merubah tabiat hewan karena ego. Kejam banget nggak sih?

Kesimpulannya, saya suka dengan buku ini karena selain berisi kisah petualangan hewan, juga memiliki banyak sindiran untuk pembacanya, yang pasti adalah manusia, hahaha. Pokoknya buku ini sangat menghibur.

Oya, saya membaca novel ini melalui aplikasi Baca Kakatua. Kebetulan ebook ini sedang gratis untuk dibaca jadi kesempatan ini enggak boleh dilewatkan. Buku-buku lain harganya lumayan terjangkau. Dan aplikasi bacanya juga nyaman. Pengalaman yang menyenangkan sih ini.

Sekian ulasan saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!