[Resensi] Animal Farm - George Orwell



Judul: Animal Farm

Penulis: George Orwell

Penerjemah: Prof. Bakdi Soemanto

Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih

Penerbit: Bentang Pustaka

Terbit: Juni 2021, cetakan ke-12

Tebal: iv + 144 hlm.

ISBN: 9786022912828

***

Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan bintang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan... walau harus dengan kekerasan.

Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award (1996) untuk novela terbaik dan Prometheus Hall of Fame Award (2011), Animal Farm menjadi mahakarya Orwell yang melejitkan namanya.

***

Pada satu hari terjadi pemberontakan hewan-hewan di Peternakan Manor milik Pak Jones yang dipimpin oleh tiga babi; Snowball, Napoleon, dan Sequreal. Pemberontakan ini merupakan bentuk memerdekakan hewan dari perbudakan manusia. Sebab susu yang dihasilkan sapi, telur yang dihasilkan ayam, bahkan anak babi yang dilahirkan, punya takdir untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa memberi perubahan pada nasib hewan.

Peternakan Manor berubah menjadi Peternakan Hewan. Tujuh Perintah ditulis untuk menjadi panduan hewan. Lagu ‘Binatang Inggris’ menjadi lagu kebangsaan di peternakan itu. Perubahan besar-besaran dilakukan. Tetapi seperti sebuah negara, terjadi perang konflik antara hewan yang satu dengan yang lain. Ada kudeta kekuasaan, ada korupsi, ada fitnah, bahkan ada eksekusi bagi yang dituduh pengkhianat.

Membaca novela Animal Farm ini seperti sedang mempelajari keburukan pejabat pemerintah. Hewan-hewan mewakili mereka. Major (babi) menjadi perintis kemerdekaan yang tidak bisa menikmati kemerdekaan tersebut. Snowball (babi) menjadi contoh sekutu yang dikhianati. Napoleon (babi) menjadi contoh si pengkudeta dengan banyak akal. Squealer (babi) menjadi contoh juru bicara yang fasih mengarang skenario. Boxer (kuda) menjadi contoh masyarakat polos yang bekerja keras untuk pemimpinnya. Muriel (kambing) menjadi contoh masyarakat yang paham situasi tapi enggan mengubah. Moses (gagak) menjadi contoh jurnalis yang independen.

Kejahatan di Peternakan Binatang juga seperti kejahatan di sebuah negara. Kudeta kekuasaan, monopoli sumber daya, penyebaran hoax, intimidasi, pembunuhan, penyalahgunaan jabatan, bahkan hukum rimba berlaku dengan jelas, yang kuat akan menang, yang lemah akan tersingkir.

Meski novela ini menggunakan tokoh-tokoh hewan, tapi kemasannya bukan fabel yang biasa ditujukan untuk pembaca anak-anak. Novela ini mempunyai tema politik kekuasaan dan alur cerita yang kelam. Penulis seolah ingin menunjukkan semengerikan itu orang-orang yang bergumul di kekuasaan dan jabatan.

Kalau di dunia manusia kita mengenal istilah ‘nilai kemanusiaan’, lalu karena ini tokoh-tokohnya hewan, ijinkan saya menyebut ‘nilai kehewanan’ yang boleh disamakan maknanya dengan nilai kemanusiaan. Sebab hewan-hewan yang ‘mengejar’ kekuasaan dan jabatan akan kehilangan nilai itu. Sama seperti manusia. Segala cara dihalalkan, tidak memandang kawan, dan empati mati. Yang ada di benak mereka adalah kepentingan pribadi terpenuhi.



Setelah tuntas membaca, saya bertanya-tanya, “Apa yang dirasakan oleh mereka-mereka yang sekarang duduk di kursi pemerintahan dengan jabatan-jabatan hebat ya? Benar memikirkan rakyat atau justru semata mencari nikmat sesaat?” Cerita di novela ini relevan dengan situasi politik negeri ini yang diisi oleh orang-orang yang beragam punya visi.

Saya akhirnya bisa memahami alasan novela klasik ini bisa bertahan eksistensinya sampai saat ini. Karena tema dan alur cerita di dalam novela ini akan terus relate dengan siapa pun (pembaca) selama struktural negeri masih ada.

Saya bersyukur bisa menyelesaikan novela ini setelah mandek berkali-kali karena waktu itu saya membacanya via ebook. Kesan yang didapat setelah membaca novela ini berupa kejelasan mengenal karakter dan situasi pejabat-pejabat negeri, dan konflik-konflik yang muncul di sekitar mereka. Saya memberikan nilai 3 bintang dari 5 bintang.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!



6 komentar:

  1. Kalau saya setelah tuntas membaca buku ini jadi berpikir saya seperti "binatang" yang mana yak?, huhu.

    Btw, saya jadi penasaran juga sama pertanyaan yang dikasih highlight kuning di atas, kira-kira jawaban jujurnya apa ya, *uhuk*.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, tapi pilihannya disini jelek-jelek semua. Mau pilih Babi, kebanyakan akal bulus. Mau pilih kuda, cuma diperalat buat kerja keras. Bingung 😢

      Jawabannya: Nggak ngerasa apa-apa. Kan kebanyakan nuraninya sudah mati.

      Ups!

      Hapus
  2. ini bukunya agak berat walau dibungkus dalam analogi binatang dalam peternakan ya din...fufufu


    politik dan kekuasaan...tiranibjuga...duh lier pala urang euy hihi

    tapi menarik sih hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Nita, bukunya lumayan berat bahas soal politik walau diwakilkan oleh hewan-hewan. Biar begitu, ternyata tujuan ceritanya nyampe ke pembaca, untuk memperlihatkan efek politik yang susah dipilah mana yang putih, mana yang hitam. Kebanyakan berada di posisi abu-abu.

      Jangan lier-lier Mbak, bayangin gimana binatang berantem aja lah, hehe

      Hapus
  3. Kalau enggak salah ini ada yang bikin versi anime-nya deh, tapi saya sendiri juga belum jajal. XD

    Saya baca buku ini sekitar 2018, dan ketika menemukan hewan bernama Napoleon, otomatis merujuk tokoh di dunia nyata itu. Semakin paham referensinya, pasti relevan dengan ceria novela tersebut. Apalagi seperti yang kau bilang, Din, situasi pemerintahan kita pun secara tak langsung bisa tergambarkan. Haha.

    Model cerita begini namanya alegori kalau enggak salah, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya pasa saya cek di google ada film kartunnya, nanti saya jajal ah, sekalian update di ulasan sini.

      Penggambaran secara umum kayaknya semua pemerintahan sama aja, pasti ada politik, ada yang tadinya patriot jadi egois. Manusia kalo dapat jabatan, suka lupa siapa asal dirinya.

      Wah saya harus cari teori alegori ini... Terima kasih sudah mampir dan kasih banyak informasi tambahan Yog

      Hapus