Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Januari 17, 2026

Novel Mata Dan Nyala Api Purba - Okky Madasari

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Mata Dan Nyala Api Purba

Penulis: Okky Madasari

Ilustrasi dan kover: Restu Ratnaningtyas

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025, cetakan keenam

Tebal buku: 236 hlm.

ISBN: 9786020648477


Novel kover warna merah ini jadi buku terakhir dari petualangan Matara. Setelah saya membaca ketiga buku lainnya; Mata Di Tanah Melus, Mata Dan Rahasia Pulau Gapi, dan Mata Dan Manusia Laut, saya menunggu kesempatan untuk menuntaskan serial ini. Tetapi novel pamungkas ini sulit didapat. Dari beberapa perpustakaan digital yang saya ikuti (Ijak, Ipusnas, dan Ruang Buku Kominfo) saya tidak menemukan ebook novel ini. Baru di awal tahun ini saya memutuskan untuk beli buku fisiknya saja pas ada promo di Lazada.

Yang membedakan dari tiga judul sebelumnya, tokoh Matara di novel ini digambarkan sudah dewasa. Dia menjadi guru Biologi di Sekolah Semesta. Latar waktu pun dijelaskan kalau negeri ini sudah mengalami kemajuan teknologi. Banyak detail penjelasan kemajuan teknologi yang memengaruhi sistem sekolah.

Petualangan kali ini Matara tidak sendirian, dia menemani murid perempuan berusia 12 tahun bernama Binar. Keduanya terlibat proyek menciptakan binatang baru yang pada satu malam kemunculannya yang banyak mengagetkan Sekolah Semesta. Ditambah ada tragedi tangan Matara digigit mahluk itu sehingga harus menjalani perawatan.

Mahluk itu diberi nama Bibikus, penggabungan dari nama Binar dan Tikus. Yup, jadi Binar dan Matara melakukan eksperimen membuat tikus bisa bertelur dan menetaslah menjadi Bibikus. Ajaibnya Bibikus ini tercipta sebagai pemakan apa pun tapi mereka lebih suka makan tumbuhan dalam jumlah banyak. Alhasil, pertumbuhan mereka sangat pesat setiap harinya. 

Dewa, kepala sekolah di Sekolah Semesta, yang dikenal cerdas, memiliki rencana lain dengan Bibikus. Namun situasi jadi keos saat Bibikus sudah sebesar gajah dan mereka berontak kabur dari sekolah. Dalam pengejaran itu, Matara, Binar dan beberapa Bibikus terjerembab ke lubang besar dan dalam di Hutan Purba. Dalam proses mencari jalan keluar, mereka justru memasuki lorong waktu ke masa purba. Matara dan Binar akhirnya bertemu dengan manusia purba, binatang yang disebut Owa, dan raksasa purba yang disebut Homo Erectus.


Owa

Manusia Purba

Bibikus Kecil


Bibikus Besar

Secara keseluruhan, novel pamungkas ini memiliki tema petualangan yang digabungkan dengan sejarah manusia purba, yang ada mata pelajaran sejarah tingkat SMP. Selain itu, kisah petualangannya mengingatkan saya pada cerita film Jumanji. Petualangan melintasi alam raya dan bertemu dengan sesuatu yang baru di masa lampau.



Konflik utama dari novel ini soal Binar yang menyayangi Bibikus, tapi Bibikus di mata manusia purba hanya sebagai makanan. Manusia purba harus bersinggungan dengan mahluk Owa karena perjanjian damai yang dilanggar Binar. Dan di saat bersamaan, keberadaan Owa rawan diserang raksasa purba. Dari sini kita seperti melihat segitiga rantai makanan. Yang kuat yang menang. Eits, tapi di jaman purba ada kekuasaan yang kuat lainnya yaitu siapa yang bisa mengendalikan api, dialah penguasa.

Yang menarik justru pada saat menuju akhir cerita, ketika rombongan Matara, Binar, Dewa, dan timnya pulang setelah dipastikan kepunahan jaman purba, mereka memasuki lorong yang salah dan membawa ke jaman lainnya. Dewa sengaja menuntun manusia pada jaman itu ke masa depan untuk jadi bukti penemuan besarnya tapi lorong waktu menjegahnya demi peristiwa masa depan tidak berubah.

"Kita bisa pergi ke masa lalu, tapi kita tak bisa mengubah apa yang harus dan telah terjadi." [hal. 208]

"Kita bisa datang ke dunia mereka karena waktu kita lebih cepat daripada mereka. Tapi mereka tak bisa pergi ke tempat kita karena mereka ada di belakang. Waktu mereka sudah berhenti. Sudah mati!" [hal. 222]

Sebagai buku penutup serial Matara, saya cukup puas dengan cerita petualangan yang disajikan. Apalagi dalam petualangannya selalu berlatar di negeri tercinta. Tetapi, kayaknya serial ini memang pas ditujukan untuk anak SMP. Secara gaya penceritaan, diksi, dan konflik, terbilang lebih berat jika ditujukan untuk anak SD ke bawah. 

Dari keseluruhan serial ini kita bisa mengenal lebih banyak cerita urban di beberapa daerah dan cuplikan sejarah yang dibalut imajinasi. Menyenangkan untuk jadi jeda setelah membaca buku atau novel yang butuh perenungan dan menguras emosi. 

Karena serial Matara sudah kelar, saya berencana untuk membaca karya Okky Madasari yang lainnya. Tercatat baru novel 86 saja yang sudah saya baca dan kini waktunya memburu bacaan beliau lainnya, hehe.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Mata Dan Nyala Api Purba karya Okky Madasari ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Januari 16, 2026

Novel (Bukan) Pengantin Baru - Yessie L. Rismar

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: (Bukan) Pengantin Baru

Penulis: Yessie L. Rismar

Editor: Anindya Larasati

Ilustrasi & desain sampul: Amelia Maulida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Desember 2024

Tebal buku: vi + 190 hlm.

ISBN: 9786230068072


Setelah sekian lama akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca novel pertama di tahun 2026 ini. Kenapa saya memilih novel ini karena selain fresh baru dibeli pas Penerbit Elex ulang tahun, novel ini juga lumayan tipis jadi pas mulai baca sudah yakin bakal sampai selesai.

Kesan pertama di bab awal-awal, saya sudah mencak-mencak dengan konflik yang disajikan. Jadi, pasangan suami istri, Kiara dan Yaris, sudah menikah selama tiga tahun tapi mereka belum punya anak. Omongan tetangga dan omongan orang tua soal kehamilan membuat pasangan ini mesti banyak-banyak bersabar.

Tapi... masalahnya bukan karena pasangan ini ada kendala kesuburan. Masalah mereka itu cuma gagal melulu kalo mau berhubungan seksual. Mereka belum pernah bercinta.

APA-APAN INI!? TIGA TAHUN NGAPAIN AJA!! KOK LAKINYA KUAT YA!!

Dari sini saya pun kaget. Ditambah mereka terang-terangan enggan ke dokter karena bingung mesti jawab apa kalau ditanya keluhan. Yaris itu dosen, Kiara itu editor, harusnya mereka aware soal beginian, bukan bertingkah ogah-ogahan buat pergi ke dokter.

Ketika Kiara tertekan dengan omongan orang soal kehamilan, saya sebagai pembaca pengen banget ngomong lantang begini, "Ya kamu, masalah dipelihara, bukannya cepet pergi ke dokter malah bersikap sok paling dilukai orang-orang sekitar." 

Maafkeun kebawa emosi. Soalnya saya jadi ingat video seorang istri yang menyampaikan kabar ke mertuanya, sekaligus minta maaf karena belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Di situ jelas ada masalah dengan kesuburan. Sampai si mertuanya bilang, "Enggak apa-apa, Nov. Ini bukan maunya. Novi."

Kalau Kiara dan Yaris kan memang bukan karena mandul atau apa, belum tau malah masalah kesuburan mereka gimana karena belum mencoba, jadi agak susah untuk saya memahami penderitaan mereka sebab mereka sendiri memilih tidak melibatkan dokter selama tiga tahun itu.

Kiara itu punya tiga sahabat yang deket banget; Alin, Sava, dan Indi. Dan selama tiga tahun itu juga Kiara enggak coba sharing dengan mereka. Padahal, ujung-ujungnya yang jadi perantara mereka ketemu dengan dokter baik yang melabeli diagnosa medis soal kondisi Kiara itu ya sahabatnya sendiri, Sava. Coba aja mereka cerita lebih awal, pasti enggak perlu menanggung tekanan psikis selama itu.

Alasan kenapa Kiara dan Yaris gagal bercinta karena setiap kali mereka mau melakukannya, Kiara akan menegang, menutup pahanya rapat-rapat, melakukan penolakan, bahkan bisa sampai mencakar. Menurut dokter Anne kondisi ini disebut Vaginismus. Vaginismus adalah kondisi kakunya otot vagina, sehingga ketika terjadi penetrasi atau dimasukkan sesuatu, secara otomatis akan merapat.

Pasangan Kiara dan Yaris akhirnya menemukan harapan dan kelegaan karena ternyata yang mengalami kondisi seperti mereka bukan mereka saja. Di luaran sana banyak juga yang senasib. Dan kondisi vaginismus ini bisa disembuhkan. 

Teknik penyembuhannya ternyata membutuhkan alat yang disebut Dilator. Prosesnya ternyata lumayan memakan waktu dan emosi untuk istri yang mengalami vaginismus. Dan di novel ini penulis berhasil menyampaikan dengan baik bagaimana usaha keras dilatasi yang dilakukan Kiara.

Saya iseng mencari tahu apakah Dilator ini sama dengan Dildo. Jawabannya ternyata beda. 




Karena kondisi vaginismus ini, drama di novel ini begitu kental dan berhasil mengaduk emosi. Jujur, saya paling gampang dibikin sedih kalau baca cerita yang konfliknya tentang anak dan orang tua. Puncak konflik di novel ini muncul saat Kiara diminta dengan bahasa halus oleh ibu mertuanya untuk mundur dari pernikahan. Ibu mertuanya sudah merancang akan mendekatkan Yaris dengan mantan pacarnya waktu SMA, Ine.

Sedihnya mengoyak batin. Siapa pun perempuan di posisi Kiara pasti hancur hatinya karena diminta berpisah dengan suaminya. Dan lebih menyayat hati lagi saat Yaris kesal dengan ibunya dan ia memohon agar tidak dipisahkan dengan istrinya. Di posisi Yaris, ia ingin marah besar tapi lawannya adalah ibunya sendiri. Saya enggak bisa bayangin batin Yaris menahan amarah yang meledak demi tidak menyakiti ibunya. Di situlah saya ikut terbawa menangis.

Ini yang paling bener, ketika istri berkonflik dengan ibu mertua, suami memang harusnya berada di pihak istri. Dicari tahu masalahnya, dicari jalan keluarnya. Dan saya sangat terharu biru saat tahu latar belakang ibu mertua Kiara bersikap demikian. Apalagi saat akhirnya mereka saling bicara, saling memahami, dan saling meminta maaf. SUMPAH BANJIR BANDANG SEDIHNYA!

Menurut saya, novel ini mengandung banyak teladan baik untuk pasangan suami istri. Pelajaran yang enggak diajarkan di sekolah atau kuliah, tapi bisa didapatkan dari pengalaman orang-orang (walaupun ini fiksi). 

Penulis berhasil menyajikan cerita yang komplit, ada kisah manis, kisah sedih, kisah haru, juga kisah menegangkan. Drama domestik rumah tangga dituturkan dengan apik dan tidak menggurui. Diksi yang tidak bertele-tele. Dan ada wawasan baru yang disodorkan, ya soal vaginismus ini. Secara penokohan pun terasa sangat hidup. Pembaca bakal gampang berdiri di POV Kiara dan Yaris. 

Dari novel ini saya belajar soal bagaimana seorang suami mencintai istrinya, belajar bagaimana menempatkan posisi diri antara istri dan ibu sendiri, dan belajar kalau kesabaran pasti selalu berbuah baik.

Novel ini sangat saya rekomendasikan untuk pembaca yang gemar bacaan islami, konflik tentang rumah tangga, dan romansa dewasa. Dan kayaknya bakal membantu untuk pembaca yang memang sedang bersabar menunggu kehadiran buah hati dalam pernikahannya. Siapa tahu dari kisah Kiara dan Yaris ini banyak pembaca yang terkuatkan dalam proses kesabarannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel (Bukan) Pengantin Baru karya Yessie L. Rismar ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



September 18, 2025

Novel Koloni - Ratih Kumala

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Koloni

Penulis: Ratih Kumala

Editor: Mirna Yulistianti

Ilustrasi sampul & isi: Alit Ambara

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Agustus 2025, cetakan pertama

Tebal: vi + 246 hlm.

ISBN: 9786020684451

Tag: fabel, semut, koloni, kekuasaan, ratu



SINOPSIS

Novel Koloni ini menceritakan semut ratu muda bernama Darojak yang masih hidup setelah sarang dan koloninya porak-poranda diterjang perusakan hutan oleh mesin yang dikendarai manusia. Ia diselamatkan oleh semut jantan bernama Sunar dan membawanya ke koloninya.

Mak Momong yang bekerja di Departemen Perawatan dan Pengasuhan menyembunyikan keberadaan Darojak dari Ratu Gegana dengan mempekerjakannya sebagai pengasuh. Ini dilakukan karena Darojak adalah semut ratu dan dalam satu koloni tidak boleh ada dua ratu.

Rahasia pasti terbongkar dan begitu juga keberadaan Darojak. Ratu Gegana tahu keberadaan Darojak dari feromon cinta yang dikeluarkan Darojak saat kasmaran dengan Sunar. Mak Momong menentang pengusiran Darojak karena Darojak lebih memungkinkan melahirkan semut pekerja, bukan semut jantan, dan bisa memperkuat dan memperpanjang keberlangsungan koloni. Ratu Gegana yang selama ini hanya melahirkan semut jantan tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak itulah persaingan dua ratu semut api dimulai.



RESENSI

Sempat maju-mundur mau beli novel ini karena saya belum baca novel Gadis Kretek dan novel Saga Dari Samudra yang sudah saya punya. Tapi gara-gara diskon di Lazada akhirnya beli juga.

Novel ini kategori fabel karena tokoh ceritanya berupa hewan yaitu semut api. Konsep cerita yang menarik karena jarang banget ada novel begini. Dan setelah saya membaca sampai tuntas, jujur, rasanya kayak habis nonton drama korea.

Konflik utama novel ini tentang perebutan kekuasaan antara dua ratu semut, Ratu Gegana dan Ratu Darojak, di sebuah koloni. Ratu Gegana adalah ratu asli koloninya, sedangkan Ratu Darojak adalah ratu pendatang yang diselamatkan dan masuk koloni. 

Mak Momong sebagai semut tua di Departemen Perawatan dan Pengasuhan menjadi yang paling bertanggung jawab atas situasi tersebut. Dia mempertahankan Darojak untuk melengkapi kekurangan Ratu Gegana dan tujuan besarnya agar koloni tidak punah.

Saya suka dengan penggambaran dunia semut yang detail. Saya baru tahu kalau semut bisa mengeluarkan feromon berbagai jenis sesuai situasi yang dihadapi misalnya feromon cinta, feromon panik, feromon menyerang, feromon sedih dan masih banyak lagi. Dunia semut juga punya hierarki yang jelas. Ratu adalah posisi tertinggi yang dilayani oleh semut pekerja, semut pemburu, semut prajurit, semut dayang dan semut jantan. Setiap posisi memiliki tugas masing-masing dan tidak boleh mencampuri posisi semut lain. Yang paling dikritisi adalah semut jantan karena ternyata tugasnya hanya mengawini semut ratu, dan tidak bisa diandalkan untuk bertarung atau mencari makan.

Proses kawin semut juga sangat menarik. Semut ratu akan terbang lalu dinaiki semut jantan. Kemudian terjadilah proses transfer sperma ke spermatheca untuk dibuahi bertahun-tahun. Semut ratu bisa dikawini oleh banyak semut jantan. Naasnya kebanyakan semut jantan yang telah mengawini semut ratu akan mati sebagai konsekuensi perannya.

Saya salut dengan penceritaan penulis yang bagus yang bisa membuat saya lupa kalau tokoh di novel ini tuh semut. Gampang banget saya diajak bersimpati dengan nasib beberapa tokoh. Ini bukti kalau emosi yang dibangun penulis bisa sampai ke pembacanya. 

Kita juga bakal menemukan kejutan-kejutan yang mengagetkan. Yang paling susah saya terima itu keputusan penulis membuat beberapa tokohnya mati padahal perannya vital dan saya sudah berharap tokoh itu bakal punya happy ending. Saya kaget tapi enggak sekecewa itu karena tahu ini cara penulis agar tokoh utamanya punya kedalaman karakter dari peristiwa menyedihkan yang dialaminya. Hasilnya novel ini jadi begitu emosional.

Walau ini cerita semut, banyak momen yang justru terasa sangat manusiawi. Terutama jika menyoroti dinamika hubungan antar semut. Ada penggambaran hubungan tidak harmonis antara ibu dan anak perempuan. Ada persaingan dan iri hati antara saudara kandung. Ada romansa merah jambu sepasang kekasih semut. Ada juga gambaran hubungan antara penguasa dan bawahan. Ceritanya terasa begitu kaya pembelajaran.

Tokoh semut yang muncul begitu hidup. Ratu Darojak adalah semut ratu yang baik, tahu diri, dan bijaksana. Ratu Gegana jadi antagonis dengan sifat iri, pemarah, dan jahat. Terasa sekali ambisinya menjadi ratu satu-satunya di koloni, sampai-sampai dia tega melakukan tindakan brutal. Mak Momong jadi sesepuh di koloni dengan pembawaan tenang, cerdas, dan bijaksana. Dia terlatih karena pernah jadi semut ratu sebelum akhirnya dikudeta anaknya sendiri. Sunar sebagai semut jantan yang memiliki pola pikir berbeda dengan mimpi melakukan petualangan di luar koloni. Jantung Hati adalah anak semut Ratu Darojak yang lahir dengan kondisi sayap tidak sempurna padahal dia semut ratu yang akan jadi penerus di koloni. Hari Bahagia adalah saudara Jantung Hati yang lahir dengan kesempurnaan namun ia diperlakukan berbeda oleh Ratu Darojak sehingga membuatnya begitu kesal.

Oya, latar tempat yang dipilih penulis ternyata di IKN sebelum hutannya dibabat. "Ya sudah, kita bikin saja proposal dananya. Ini kan mau bikin ibukota baru, nggak mungkin nggak ada duitnya, kan?" (hal. 242) Jadi masuk akal kenapa koloni Darojak dihantam perusakan, buat IKN toh!

Menurut saya novel Koloni ini punya ide cerita yang fresh, seru, dan emosional. Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca yang suka cerita politik kekuasaan walau di sini masih skala kecil. 

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Koloni ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Agustus 20, 2025

Novel Shogun Jilid 3 - James Clavell

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Shogun Jilid 3

Penulis: James Clavell

Penerjemah: D. Anshar

Desain sampul: Leopold Adi Surya

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2025, cetakan pertama

Tebal: iv + 460 hlm.

ISBN: 9786231343291

Tag: sastra jepang, shogun, samurai, sejarah, politik


Sinopsis

Anjin-san atau Blacktorne sangat beruntung bisa kembali berlayar dengan kapal Erasmus ditemani Yabu dengan tujuan Nagasaki. Kali ini misinya untuk mempersiapkan perang dengan lebih dulu mencari tambahan pasukan. Namun, Daimyo Ishido justru menjemput dan membawanya ke Osaka.

Mariko pun berangkat lebih dulu ke Osaka dengan membawa misi rahasia dari Daimyo Toranaga. Tujuan lainnya, ia ingin memastikan keluarganya dalam kondisi baik-baik saja.

Situasi menegang saat Mariko ingin membawa keluarga Toranaga dari istana Osaka mengingat keluarga Toranaga sebenarnya sandera agar Toranaga segera tiba di Osaka. Ancaman seppuku membuat Ishido tidak berkutik tapi dia punya rencana lain hingga sebuah penyergapan oleh ninja membuat Mariko meregang nyawa.

Penyergapan ninja itu membuat Anjin-san mengalami luka-luka. Ditambah kepergian Mariko membuat hatinya sedih. Dan belum sampai disitu saja karma buruk menimpanya, kapal Erasmus miliknya juga hancur terbakar.

Toranaga tidak punya waktu banyak. Ia sudah ditunggu di Osaka. Atau jika tidak sampai ke Osaka, perang akan berkecamuk lebih dulu. Banyak taktik yang dijalankan, ada beberapa pengkhianat yang dia bereskan. Bahkan nyawa Mariko dan kebakaran kapal Erasmus masih berhubungan dengan keputusannya.



Ide Cerita

Di Jilid 3 ini makin kelihatan betapa pintarnya Toranaga dalam menghadapi situasi paling sulit pun. Dan berkat bawahannya yang berjiwa samurai, setiap langkah taktiknya bisa dijalankan dengan baik. Bisa dibilang Toranaga selalu memiliki rencana jauh ke depan (visioner) dibanding pikiran bawahannya. Sekali pun rencananya harus mengorbankan nyawa bawahannya.

Perang yang sudah di depan mata selalu bisa diantisipasi. Politik kekuasaan begitu kental baik di kubu Toranaga maupun di kubu Ishido. Kedua daimyo besar itu berseteru sebenarnya ingin memastikan kekuasaan Taiko dapat diteruskan kepada penerusnya yaitu Yaemon, yang kini masih kanak-kanak. Tapi kabar yang beredar justru kalau Toranaga berambisi jadi Shogun dan ingin mengambil alih kekuasaan dari penerus Taiko. Jika mengikuti pikiran Ishido dan Toranaga, saya jadi bingung sebenarnya siapa yang benar. Karena baik Ishido dan Toranaga mengelak tuduhan itu.

Sedikit disayangkan karena novel ini berakhir dengan konklusi berupa paragraf panjang saja. Perang besar yang saya tunggu-tunggu justru tidak terjadi. Tiga jilid ternyata hanya meringkas bagaimana mengenalkan perang politik kekuasaan di Jepang dari sudut pandang orang Inggris. Memang detail dan prosesnya panjang tetapi saya tetap berharap bisa membaca bagian perang besarnya.

Di tengah ketegangan perebutan kekuasaan, unsur romansa di novel ini pun sangat terasa. Dari cerita Mariko dan Fujiko memandang suami mereka, saya sangat terkesan dengan keteguhan para istri membela nama baik suaminya dan pengabdian sampai akhir hayat. Walau pun kita juga akan sadar kalau seorang istri benar-benar dibawah kendali suaminya dalam hal apa pun. Sekali pun mereka tidak bahagia, nilai hormat dan pengabdian tetap didahulukan.

Baca juga: Novel Shogun Jilid 1 - James Clavell

Karakter, POV, Plot, dan Gaya Bahasa

Dari Jilid 1 sampai Jilid 3, novel ini memamerkan banyak tokoh yang terlibat. Dan karena dari buku pertamanya saya tidak meringkas, di sini pun rasanya sulit melakukannya. Sentral cerita sebenarnya ada empat tokoh besar: Toranaga, Ishido, Blacktorne, dan Mariko. Tapi hampir semua tokoh pendukungnya memiliki peran penting juga di novel ini seperti Yabu, Hiromatsu, Gyoko, Fujiko, dan masih banyak lainnya.

Secara penokohan, hampir tidak ada tokoh yang benar-benar bisa dikatakan baik. Semua tokoh Jepang dibuat abu-abu karena mereka mempunyai kepentingan dan tujuan yang tidak begitu dibuka secara terang-terangan. Mungkin hanya Blacktorne saja yang secara karakter tidak dibikin abu-abu mengingat dia sebagai orang inggris yang dikenal kebar-barannya.

Cerita digulirkan dengan POV orang ketiga serba tahu dan plotnya dijalankan maju. Jika pun ada kilas balik bukan lompatan yang terlalu jauh. Dan untuk saya, membaca bagian kilas balik ini cukup nyaman, tidak membingungkan. Secara penerjemahan pun sangat baik sehingga bisa dibaca dengan lancar jaya. Sedikit istilah Jepang yang dipakai dan selalu diikuti narasi penjelasannya.

Bagian Favorit

Di Jilid 3 ini ada bagian paling seru yaitu ketika Istana Osaka bagian tempat Mariko dan Anjin-san berada disergap oleh pasukan ninja. Ada adegan perkelahian dan kejar-kejaran karena penyergapan itu tujuannya menangkap Mariko. Menghalau kejaran ninja dan mencari jalan keluar menjadi adegan yang bikin penasaran. Walaupun ditutup dengan ledakan yang membuat Mariko sekarat dan beberapa orang terdekatnya meregang nyawa.

Baca juga: Novel Shogun Jilid 2 - James Clavell

Petikan

  • Hukum boleh jadi tidak masuk akal tapi akal tidak boleh melanggar hukum, atau keseluruhan masyarakat kita akan buyar seperti tatami tua (p. 89)
  • Sabar artinya menahan diri. Ada tujuh perasaan, ne? Bahagia, marah, cemas, cinta, duka, taku, dan benci. Jika orang bisa menguasai dirinya terhadap tujuh perasaan itu, maka dia dianggap sabar (p. 429)

Kesimpulan

Secara keseluruhan saya sangat menikmati novel Shogun ini. Meski pun sampai Jilid 3 dan novelnya tebal, tapi ceritanya benar-benar menarik dan bikin penasaran. Mempertemukan dua budaya antara Jepang dan Inggris, menjelaskan perbedaan kristen katolik dan protestan, dan menggali konflik politik kekuasaan di Jepang, novel ini terbilang berat namun kaya. Jangan heran juga karena panjangnya cerita novel Shogun ini, kita akan menemukan beberapa bagian yang rada bikin bosan. Tapi harap bersabar dulu karena banyak sekali hal-hal yang akan bikin kita penasaran.

Novel ini sangat pas untuk pembaca yang suka cerita politik dan sejarah Jepang.

Oya, novel ini sudah dibuat seriesnya dengan judul sama: Shogun (2024). Dan menurut beberapa orang yang sudah nonton, seriesnya bagus. Hemm, penasaran. Bakal saya jadwalkan buat nonton nanti.



Nah, sekian ulasan saya untuk novel Shogun ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Agustus 06, 2025

Novel The Name Of The Game - Adelina Ayu

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: The Name Of The Game

Penulis: Adelina Ayu

Penyunting: Ani Nuraini Syahara

Desain sampul: Wina Witaria

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Terbit: Desember 2022, cetakan kedua

Tebal: 336 hlm.

ISBN: 9786232165991

Tag: young adult, romansa, toxic masculinity



Novel The Name Of The Game menceritakan tentang gadis bernama Flo yang naksir kakak tingkat di kampusnya bernama Daryll. Tapi di waktu yang hampir bersamaan, Flo juga kenalan dengan kakak tingkat lainnya yang bernama Zio. Awalnya Flo tidak tahu kalau Daryll dan Zio saling kenal karena sejak SMP hingga kuliah mereka barengan melulu.

Daryll dikenal sebagai cowok galak khas kating, dia suka band Sheila on 7, dan juga penyayang binatang. Sedangkan Zio dikenal sebagai cowok kemayu, paling tahu make up, dan suka wangi vanila. Sejak pertemuan pertama Flo sudah naksir Daryll dan berharap bisa jadi pacarnya. Sedangkan Zio sudah dianggap bestie sekaligus sahabat seru-seruan.

Semakin dekat hubungan Flo dan Daryll, susah juga untuk menahan perasaan suka. Satu momen Flo akhirnya mengakui duluan. Tetapi reaksi Daryll justru membuat Flo bingung, Daryll memilih menjauhinya. Keyakinan Flo dengan perhatian Daryll selama ini ternyata berbalik menyakitinya.

Zio yang semula hanya menganggap Flo teman mulai bergeser perasaan. Selama bersama Flo, Zio sadar dirinya diterima dengan terbuka meski ia berbeda dari laki-laki kebanyakan. Perasaan kagum itu kemudian berubah menjadi suka. Namun Zio memilih memendamnya karena dia tahu Flo lebih tertarik dengan Daryll.

Di tengah kegalauan karena ditolak Daryll, Zio berterus terang tentang perasaannya selama ini. Flo kaget bukan main dan bingung harus bagaimana. 

***


Novel ini termasuk bacaan ringan. Tema percintaan anak kampus dan konflik tarik ulur perasaan  memang bikin gemes. Kita diingatkan dua poin besar dalam urusan suka-sukaan. Pertama, jangan men-treatment seseorang seperti pacaran kalau memang tidak akan dipacari. Anak orang dikasih angin surga, begitu minta kejelasan, malah bilangnya, 'suka tapi bukan sebagai pacar.' Gimana enggak bikin galau.

Kedua, jangan langsung meromantisasi treatment seseorang hanya karena kamu menyukai orangnya. Bahaya. Bisa jadi orang itu melakukan hal yang sama ke semua orang. Jadi kelihatan kan kalau salah paham soal suka-sukaan bukan biangnya di satu pihak, tapi kedua pihak sama-sama keliru.

Selain soal percintaan, novel ini juga mengangkat isu besar yaitu isu toxic masculinity. Diwakili tokoh Zio yang kemayu, kita diingatkan kalau memang beneran ada lho cowok yang kayak cewek tapi mereka tetap cowok. 

Digambarkan dengan gamblang kesusahan Zio diterima lingkungan. Tidak sedikit yang menghina, menertawakan, meremehkan, bahkan membully-nya. Zio mengakui kalau butuh waktu dan hati besar untuk benar-benar menerima kondisinya yang berbeda. 

Secara penokohan sudah sangat baik dan menarik. Tidak ada tokoh yang dibuat sempurna banget dan pasti ada masalahnya. Ini menunjukkan kalau setiap orang punya perangnya masing-masing. Selain membuat cerita jadi lebih kaya, masalah pun membuat keterhubungan emosi antara cerita dengan pembacanya.

Penceritaan penulis pun sangat enak. Disesuaikan dengan kebiasaan cara bertutur anak kuliahan, rasa novel ini jadi terkesan meriah, bersemangat, dan anak muda banget. Tidak kaku baik dari gurauan maupun dialog-dialognya.

Dari novel ini saya belajar untuk tidak menghakimi orang-orang dengan pembawaan mereka. Tidak ada satu orang pun yang ingin membawa kekurangan. Tapi jika Tuhan memberikan itu, mereka butuh usaha keras untuk berdamai dengan keadaan. Kita  harus tahu, banyak banget kekecewaan, kemarahan, tangisan, bahkan mungkin rasa putus asa dalam prosesnya. Dan kita belum tentu akan sekuat mereka jika berada di posisi mereka.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati membaca novel ini. Percintaan anak kampusnya seru, konfliknya rame, dan renungannya lumayan dalam. Saya bakal ingat terus kalau tidak ada orang yang sempurna, yang ada adalah belajar menerima.

Sekian ulasan saya untuk novel The Name Of The Game ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***

Kutipan-Kutipan

  • Hidup itu kadang membosankan.... Makanya, kita harus bikin hidup lebih berwarna dengan mencari kebahagiaan dari hal-hal kecil... (p.31)
  • Lo tau nggak sebab utama perasaan galau itu bukan putus, diselingkuhin, atau ditolak, tapi saat lo udah tahu kalau lo nggak bisa, tapi masih tetep ngotot. Ngotot ngarep, ngotot bertahan, dan ngotot terus cari tahu hal yang padahal udah jelas... (p. 268)


Juli 30, 2025

Novel Let Go - Windhy Puspitadewi

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Let Go

Penulis: Windhy Puspitadewi

Editor: Widyawati Oktavia

Desain sampul: Mira Tazkia

Penerbit: GagasMedia

Terbit: Januari 2009, cetakan pertama

Tebal: viii + 244 hlm.

ISBN: 9797803821

Tag: teenlit, sekolah, persahabatan, impian, kehilangan


Novel Let Go menceritakan murid SMA kelas X bernama Caraka Pamungkas yang terkenal bebal di tahun pertamanya. Demi membuatnya berubah, dia diharuskan membantu keberlangsungan majalah sekolah Veritas bersama Sarah, Nadya, dan Nathan. 

Perbedaan karakter membuat mereka mengalami banyak dinamika. Sarah yang rapuh, Nadya yang serba bisa, Nathan si paling pintar, dan Raka yang sering bertindak tanpa berpikir dulu, menemukan makna baru persahabatan. Rahasia dan masalah masing-masing mulai dikenali. 

Tapi takdir punya cara untuk mendewasakan mereka walau itu menyedihkan.

***



Novel Let Go tergolong novel teenlit. Anak sekolah dan masalah-masalah  yang biasa ditemui jadi perpaduan yang menarik jadi sebuah kisah. Masalah yang dihadapi belum dikategorikan berat tapi konflik yang muncul cukup membuat emosi saya naik-turun.

Sarah yang dikenal lembut dan rapuh kesulitan untuk menolak permintaan orang lain meski harus mengorbankan impiannya. Belum lagi soal berdamai dengan perasaannya yang tertolak. Nathan yang pintar dan dingin memilih menyerah dengan kesehatannya karena ia tidak punya alasan kenapa harus melanjutkan hidup setelah ibunya meninggal. Nadya yang serba bisa akhirnya kena batunya saat semua yang dia usahakan justru jadi berantakan hanya karena dia ingin dianggap hebat sehingga lupa mengukur diri dan lupa meminta tolong. Sedangkan Raka masih terikat masa lalu dan belum berdamai dengan kehilangan.

Saya suka dengan perkembangan mereka menjadi lebih bijaksana. Dan prosesnya cukup seru diikuti. Ada salah paham, ada cemburu, ada pura-pura tidak peduli, dan ada perseteruan. Dan kedewasaan mereka terasa normal, bukan berubah seperti orang dewasa ya.

Penceritaan penulis juga cukup ringan. Beberapa bagian bakal bikin gemas, beberapa bagian bikin kesal, dan di ujung cerita bakal dibikin nangis. Dan emosi yang ingin dibagikan sangat tersampaikan kepada saya.

Secara penokohan pun sangat baik. Walau pusat cerita ada di empat murid, penulis bisa menggambarkan karakternya dengan hidup bagi masing-masingnya sehingga saya bisa mengenali tokoh-tokohnya dengan baik. 

Dari novel ini saya belajar mengenai proses berdamai dengan kehilangan itu tidak mudah tetapi harus dilakukan. Yang hidup harus terus hidup, yang mati biar menyisakan kenangan terbaik. Jangan sampai kehilangan membuat kita kehilangan lebih banyak, terutama waktu.

Secara keseluruhan saya suka dengan cerita novel ini karena membawa saya ke masa SMA dengan masalah-masalahnya. Dan saya tidak menduga kalau di akhir novel ini bakal bikin menangis. Ngomongin kehilangan itu memang enggak pernah enak tapi kita harus selalu siap mengalaminya.

Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca muda yang ingin belajar masalah-masalah apa yang biasa muncul pas di SMA. Atau untuk pembaca yang sudah melewati masa SMA sebagai momen nostalgia, hehe.

Sekian ulasan saya untuk novel Let Go ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***

Kutipan-Kutipan

  • Orang yang nggak bisa menghargai dirinya sendiri, enggak akan pernah bisa menghargai orang lain (p. 98)
  • Orang yang menyukai dirinya sendiri apa adanya dan nggak pernah berusaha jadi orang lain adalah orang yang sangat keren (p. 137)


Juli 13, 2025

Komik Solanin - Inio Asano

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Solanin

Komikus: Inio Asano

Penerjemah: Ayu Arsandhi Patty

Grafis: Heru Lesmana

Penerbit: M&C

Terbit: 2024, cetakan kedua

Tebal: 476 hlm. 

ISBN: 9786230310966

Tag: komik, dewasa, passion, musik, band



Meiko Inoue dan Naruo Taneda adalah pasangan kekasih yang tinggal bersama. Keduanya berhenti bekerja dan menggantungkan hidup pada impian band yang sekarang dijalani Taneda bersama temannya; Kato dan Yamada.

Hidup yang tidak bernilai, tanpa arah, dan perlahan-lahan terpuruk membuat hubungan Meiko dan Taneda penuh pikiran dan ketakutan. Hingga suatu hari Taneda menghilang dan membuat Meiko galau. Walau banyak kekurangan, kehilangan Taneda sudah seperti kehilangan daya hidup. 

Saat Taneda memberi kabar lagi, justru itu momen terakhirnya. Kecelakaan membuatnya meninggalkan impian band yang tetap jadi impian dan meninggalkan Meiko yang mendekap kehilangan.

Pertemuan dengan ayahnya Taneda, memunculkan gairah hidup lagi. Tujuan Meiko adalah melanjutkan hidup tanpa perlu menghapus kenangan Taneda. Ia memutuskan bergabung dengan band teman-teman Taneda.

***



Membaca komik Solanin seperti mengingatkan kepada kegagalan hidup saya sendiri. Karena terlalu berleha-leha dan bergantung pada impian-impian yang ketinggian akhirnya banyak yang enggak tercapai. Saya ketinggalan dibandingkan teman-teman sepantaran.

Pedih banget pas baca bagian Mieko dan Taneda yang mengakui kalau mereka gagal menjalani hidup. Ketika pengen berubah pun terasa sulit karena sudah ketinggalan jauh. Komik Solanin ini sukses memotret kehidupan menjadi dewasa yang enggak mudah, banyak hal harus diperjuangkan dan dikorbankan.

Punya impian itu sah saja. Tapi saat kita sudah dewasa, yang paling utama adalah bagaimana hidup yang baik. Jangan menganggur karena apa-apa butuh biaya. Terasa banget efek menganggur bagi hidup Mieko dan Taneda sampai mereka harus menghitung-hitung waktu mau bayar listrik dan memperbaiki AC yang mati.

Patah hati yang dialami Mieko pas Taneda menghilang juga sangat menyayat hati. Apalagi pas Taneda meninggal, sumpah rasanya sesak banget baca narasinya. Yang biasanya apa-apa berdua, ngobrol apa aja, bercanda receh, dan dalam waktu sekejap harus kehilangan momen itu, rasanya kayak ada yang dicabut dari dada. Saya bisa bersimpati karena saya pernah mengalaminya. Patah hati paling dalam saat orang tersayang kita sudah tidak bersama kita lagi. Dan butuh waktu lama untuk menerima kenyataan kehilangan itu.

Dan di sini kita tidak hanya dikasih lihat kehidupan pasangan Mieko dan Taneda saja. Kita juga dikasih tahu apa pergulatan hidup orang-orang di sekitarnya seperti Kato yang jadi mahasiswa abadi dan Yamada yang diam-diam menyimpan perasaan kepada Mieko tapi memilih menghormati Taneda.

Ceritanya berwarna dan banyak banget bagian yang relate dengan kita. Siap-siap saja tersindir dan diajak merenung soal kehidupan.




Karakter favorit saya adalah Yamada. Walau orangnya ketuaan dan kadang tingkahnya kekanakan, tapi dia tipikal yang berpikiran dewasa. Cukup realistis memandang hidup dan asmara. Saya kira Mieko bakal jadi pasnagan Yamada tapi di akhir buku kayaknya bukan Yamada.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca komik dewasa ini. Dewasanya bukan mesum ya tapi sisi karakternya. Bukan sekadar hiburan saja tapi jadi perenungan juga. Dan harus diakui, selesai baca pun meninggalkan rasa perih yang agak lama di dada. Kayak getir gitu.

Komik ini sangat saya rekomendasikan untuk pembaca yang mulai masuk ke kejamnya hidup setelah lulus kuliah. Sebelum kalian terjerat kemalasan dan berujung penyesalan, lebih baik belajar bahkan dari sebuah komik.

Nah, sekian ulasan saya untuk komik Solanin ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Juli 09, 2025

Resensi Novel The Wild Robot: Sang Robot Liar - Peter Brown

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: The Wild Robot: Sang Robot Liar

Penulis & ilustrasi : Peter Brown

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Noura Kids

Terbit: Februari 2025, cetakan pertama

Tebal: 300 hlm.

ISBN: 9786238094752

Tag: buku anak, robot, petualangan, hewan



Novel The Wild Robot menceritakan robot bernama ROZZUM unit 7134 yang terdampar di sebuah pulau setelah kapal kargo yang membawanya tenggelam di laut. Dia kemudian bertemu banyak hewan dan mesti beradaptasi dengan kondisi pulau yang baru pertama kali ia ketahui.

Satu kejadian bebatuan yang menewaskan keluarga angsa dan menyisakan satu telur memaksa Roz bertanggung jawab. Ia kemudian mengambil peran sebagai induk bagi anak angsa yang diberi nama Brightbill.

Momen perpisahan Roz dengan Brightbill yang sudah remaja tak terelakan karena angsa terbiasa melakukan migrasi menjelang musim dingin. Tanpa anaknya, Roz tidak merasa kesepian sebab di tengah musim salju yang ganas, ia justru melakukan hal besar untuk membantu teman-temannya.

Situasi memanas saat pulau kedatangan robot lain dengan kode RECO yang akan membawa semua robot jenis ROZZUM ke pembuatnya. Pertarungan antara robot dan hewan-hewan di pulau itu terjadi sangat seru. Tiga robot RECO dikalahkan tapi itu akan membawa banyak robot lain ke pulau itu. Keputusan sekaligus pengorbanan besar diambil Roz untuk menyelamatkan penguni pulau. Sedih tapi ini demi kebaikan banyak nyawa.

***


Ide ceritanya sangat menarik, dua hal bertentangan antara robot dengan kecanggihannya harus berpetualang di alam liar yang sangat konvensional dan sangar dasar. Ada gap besar dan menariknya kita diajak mengikuti bagaimana Roz beradaptasi dengan geografis, cuaca, dan hewan-hewan penghuni pulau. Proses yang tidak mudah, beberapa kejadian yang dialami Roz malah merusak bagian-bagian robot dan itu cukup memprihatinkan.

Konflik besar diwakilkan oleh pergulatan dan perjuangan Roz menjadi sosok induk untuk anak angsa bernama Brightbill. Robot punya program terstruktur, tidak mempunyai emosi natural, dan pengetahuannya terbilang kontekstual, menimbulkan kegugupan saat mengurus anak angsa yang punya naluri hewannya sendiri. Beruntung Roz dikelilingi banyak teman yang membantunya dengan banyak saran logis. Dan hubungan induk-anak ini yang paling banyak menyedot simpati saya. Penulis memotret kalau peran orang tua, terutama menjadi ibu, bukan peran gampang. 

Alasan kenapa Roz dibantu banyak hewan lainnya karena Roz juga selalu membantu yang lain. Karma baik akan berbalik baik. Bahkan pengorbanan besar yang dipilih Roz di akhir buku pun berdasarkan untuk kebaikan semua hewan di pulau itu. Roz paham kalau peperangan menimbulkan banyak kerugian, termasuk bisa membunuh hewan-hewan. Dan jika solusinya harus mengorbankan dirinya, Roz memilih jalan itu meski ia tidak tahu akan seperti apa hasil dari keputusannya.

Nilai moral paling kuat yang disampaikan novel ini yaitu kesadaran untuk saling membantu. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, percayalah, akan ada kebaikan lain yang bakal membantu kita di kesempatan lain.

Walau pun novel ini terbilang tebal, tapi menarik sekali karena di dalamnya ada ilustrasi-ilustrasi yang ampuh menjadi jeda. Setiap babnya pun disusun dengan pendek-pendek sehingga cepat selesai bacanya. Penerjemahannya mudah dipahami.


Sebelum membaca novel ini, saya pernah menonton filmnya lebih dahulu. Kalau dibandingkan, lebih seru filmnya. Dalam film lebih berhasil menghidupkan ceritanya dengan menonjolkan warna-warna alam liar, memperjelas konflik-konflik dengan hewan-hewan, dan momen pertempuran pun rasanya lebih epik. Karena di bukunya berupa bab pendek-pendek menajdikan narasinya kurang detail dan kurang emosional. Bahkan bentuk robotnya pun berbeda antara film dan buku. Kalau di buku kepalanya agak kotak sedangkan di filmnya bulat dan lebih detail.

Secara keseluruhan, novel The Wild Robot cukup menarik diikuti. Novelnya mempunyai pesan moral yang jelas dan ceritanya cukup ringan jika ingin dibacakan untuk anak-anak. Dan ternyata buku ini adalah buku pertamanya. Petualangan Roz masih berlanjut. Saya penasaran dengan nasib Roz dan kira-kira bagaimana dia bisa kembali kepada teman-temannya. 

Nah, sekian ulasan saya untuk novel ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Juli 03, 2025

Resensi Novel Utang Dan Sampah Sesudah Pesta - Mikhael N. Naibaho

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Utang Dan Sampah Sesudah Pesta

Penulis: Mikhael N. Naibaho

Editor: Afrianty P. Pardede

Desain sampul: Gofar Amar

Penerbit: Elex Media Komputindo

Terbit: Juni 2025

Tebal: viii + 192 hlm.

ISBN: 9786230071027

Tag: batak, bapak, keluarga, adat


Novel ini membahas soal keresahan Tona sebagai kepala keluarga yang tidak ingin dua anaknya menjadi budak. Pikiran ini muncul gara-gara Orang Asing yang datang ke Siborongborong mengucapkannya. Sejak itu pikiran Tona berlarian dan ia mendapatkan banyak wawasan baru.

Dia jadi pemikir yang beda dengan kebanyakan orang. Koyai, istrinya, sangat terkejut. Selalu ada beda pendapat. Tona berpikiran mendalam, Koyai belum cukup mampu memahami. Perdebatan kadang selalu muncul dan bisa kapan pun meledak.

Ide besarnya adalah bagaimana seorang Tona membawa perubahan kepada masyarakat Batak agar mereka sadar kalau kemiskinan mereka dibikin oleh keputusan sendiri. Isu paling disorot tentang pesta pernikahan yang dibiayai dengan hutang akibat permintaan sinamot yang mahal. Awal mula kemiskinan itu datang ya karena memaksakan diri, padahal adat aslinya tidak menuntut dengan perayaan besar. Ditambah paham masyarakat tentang 'banyak anak banyak rejeki' yang justru melanggengkan kemiskinan secara turun temurun.

Tapi jika melawan arus adat, tahu sendiri tekanannya seperti apa. Beruntung Tona memiliki kawan yang berpikiran terbuka seperti Gokma. Kawannya ini pemilik Buku Lapo, yang kemudian dijadikan tempat berdiskusi soal apa pun, paling sering membahas soal pemerintah yang belum becus mengatur negara.

Saya suka ceritanya karena sudut pandangnya menggunakan pria yang sudah jadi kepala keluarga. Di tengah tuntutan menafkahi keluarga, Tona justru dibuat pusing dengan semangatnya memperbaiki diri dan keluarga. Dan novel ini tidak menyodorkan keserbamudahan karena Tona yang berubah malah menimbulkan banyak masalah. Satu momen dia membikin istrianya marah dan Koyai pulang ke rumah orang tuanya. Makin sedih hati Tona karena kekeliruannya.

Banyak isu negara yang disinggung. Tapi banyak juga pelajaran soal keluarga yang disodorkan. Yang paling mengena itu soal pentingnya kematangan seseorang sebelum memutuskan menikah. Dan benar juga kalau pelajaran setelah menikah itu jarang diberikan, kebanyakan hanya membahas soal pentingnya melaksanakan pernikahan. Padahal kehidupan setelah pernikahan justru lebih dinamis dan menantang.

Tona dan Koyai adalah pasangan suami istri yang romantis dengan kadar pas. Naik turun hubungan mereka sebagai pasangan dan orang tua untuk kedua anaknya sangat menggemaskan. Kadang bikin kesal, lebih banyak bikin saya mesem-mesem. Mereka punya pikiran yang polos meski berusaha lebih cerdas agar keluarga mereka naik taraf.

Ada fenomena joget-joget yang disinggung di sini. Pilihan masyarakat kampung untuk mendapatkan uang lebih cepat dan mudah tapi tetap berdampingan dengan resiko pengabaian kepada keluarga. Efeknya angka perceraian naik. Kekinian banget isu yang dibawakan.

Penggalan cerita yang mengesankan saya adalah keberhasilan Tona mendirikan rumah di tanah yang dibeli sendiri dan dia persembahkan kepada istrinya, Koyai. Benar-benar mengharukan. Apalagi jika mengingat kalau mereka harus keluar dari kontrakan yang sudah lama mereka tempati. Dari sini saya belajar kalau jadi laki-laki harus bekerja keras untuk keluarga. Contohnya Tona, dia melakukan beberapa pekerjaan dan terus mengasah ilmu pertukangannya demi mewujudkan impian memiliki rumah sendiri walau sederhana. Jangan malas dan jangan gampang menyerah dengan keadaan.

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik. Konflik yang dibawa sangat dekat dengan kita. Menampilkan tokoh-tokoh yang berasal dari masyarakat biasa. Dan walau banyak sindiran kepada pemerintah, ceritanya dibikin ringan. Beberapa bagian malah bikin saya ketawa.

Nah sekian kesan saya setelah membaca novel Utang Dan Sampah Sesudah Pesta. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***

Kutipan-Kutipan

  • Langkah pertama memang selalu berat (p.6)
  • Pernikahan hanya topeng untuk menormalisasi perbudakan (p.7)
  • Semua yang berlebihan selalu membawa kerusakan (p.13)
  • Hidup bukan tentang seberapa banyak uangmu, tapi bagaimana nasibmu yang telah tertulis (p.14)
  • Ini yang kukatakan sebelum kau menikah. Kau harus mempersiapkan mental, pemikiran dan iman (p.23)
  • Orang-orang kota sekarang ingin hidup di desa, kita ingin hidup seperti orang kota. Itu yang membuat hidup terasa berat (p.28)
  • Rezeki itu gabungan dari kerja keras, kecerdasan, dan keberanian (p.31)
  • Kejahatan di sekitar kita terjadi karena tidak adanya kepedulian (p.37)
  • Kalau kau yakin, lakukan. Kalau kau ragu, lupakan. Jangan lama-lama terlarut, masih banyak mimpi yang bisa kau wujudkan jadi kenyataan (p.41)
  • Pemikiran bagus itu harus diikuti sikap yang optimis (p.46)
  • Jika kebahagiaanku diukur dengan punya uang, maka seumur hidup aku tidak akan bahagia (p.63)
  • Perjalanan hidup mengajarkanku, ada yang harus direlakan hilang dan ada yang harus dipertahankan mati-matian (p.96)
  • Pikiranmu menentukan apa yang kau bicarakan, yang kau bicarakan membentuk sikapmu, sikapmu membentuk karaktermu, dan karaktermu menentukan nasibmu (p.104)
  • Ada kemudahan, ada kesulitan. Berjalanlah. Sesekali berhenti. Sesekali mundur, tapi jangan ubah tujuan hanya karena merasa tidak mampu. Ubah tujuan, jika memang untuk ditingkatkan. Jangan menurunkan standar (p.107)
  • Bunuh diri dan berbuat jahat pada manusia lain adalah kesalahan berpikir (p.112)
  • Cara terbaik bagi orang miskin untuk bertahan hidup adalah menyadari dia miskin dan tidak bertindak seperti orang kaya. Tidak perlu berutang untuk hidup seperti orang yang berpunya. Jalani hidup apa adanya (p.113)
  • Jika uang memang bisa mengatur segalanya, maka orang yang tidak kompeten mengatur masyarakat, akan bisa menjadi pejabat sebab ia dapat posisi karena banyak uang (p.140)
  • Kalau mau kayak, usahakan kekayaan. Jangan cari kekayaan, tapi mau bijak juga. Akhirnya nanti satu pun nggak dapat (p.145)
  • Jika hanya bekerja keras tanpa ada rencana dan strategi, itu akan sia-sia atau hasilnya jauh di bawah harapan (p.146)
  • Atas nama mengikuti zaman, kami dengan cepat mengubah budaya. Melakukan improvisasi. Yang semakin hari, bergerak semakin jauh. Adat sepertinya telah kehilangan esensinya (p.171)
  • Semakin banyak pengetahuan, akan semakin banyak kesedihan (p.173)
  • Setiap orang memiliki perjuangan hidup masing-masing. Nilai perjuangan hidup seseorang berbeda dengan orang lain. Tidak ada tolok ukur yang valid untuk perjuangan itu dan tak bisa digeneralisir (p.184)
  • Hidup mengikuti pendapat orang banyak, itulah yang membuat kami miskin lintas generasi (p.184)

Juni 29, 2025

Resensi Buku Anak Poupelle Of Chimney Town - Akihiro Nishino

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]

Judul: Poupelle Of Chimney Town

Penulis & ilustrator: Akihiro Nishino

Penerjemah: Hiroaki Kato, Arina Ephipania

Penerbit: Noura Books

Terbit: Mei 2023, cetakan kedua

Tebal: 90 hlm

ISBN: 9786232422902

Tag: cerobong asap, keluarga, ayah


Walau pun saya penikmat novel, tapi saya juga sangat suka buku anak. Selain tipis, buku anak juga kebanyakan punya cerita yang sederhana. Nilai moral yang disampaikan juga jelas sehingga memahaminya cukup mudah.

Kali ini saya baca buku anak bagus; baik secara fisik bukunya, juga secara ceritanya. 

Tentang Kota Cerobong Asap yang begitu suram. Warganya tidak bisa melihat langit saking pekatnya asap yang menaungi. Dan ada momen Tukang Paket yang menjatuhnya sebuah jantung di malam perayaan Hallowen, jatuh di tumpukan sampah, dan kemudian terbentuklah Manusia Sampah. 

Kehadirannya di kota itu menimbulkan keriuhan karena penampilannya yang buruk dan berbau busuk. Saat orang-orang menjauhinya, seorang anak laki-laki yang bekerja sebagai pembersih cerobong asap bernama Lubicchi justru mendekatinya dan bersikap bersahabat. Lubicchi juga yang memberikan nama Poupelle kepada manusia sampah. 

Meski sudah dibersihkan, bau tubuh Poupelle tidak pernah hilang. Dan karena kedekatannya itu, Lubicchi jadi korban perundungan oleh anak-anak yang lain. Lubicchi memutuskan untuk menjauhinya. Menyedihkan sekali.







Secara garis besar ceritanya begitu sederhana. Ini tentang persahabatan tulus. Ketika Poupelle dan Lubicchi berjauhan pun, perasaan tulus itu tidak luntur. Ditambah dengan menggabungkan persahabatan dan memori kepada seorang ayah yang sudah meninggal, makin-makin menjadi keharuan kisahnya.

Momen paling menohok itu ketika Poupelle menyerahkan nyawanya kepada Lubicchi sebagai sebuah pengorbanan. Duh, beneran rasanya seperti ditonjok di ulu hati. Meski sudah dijauhi, Poupelle masih menyimpan rasa persahabatan mereka. Dan menariknya, momen itu dilakukan di suasana yang super indah. 

Kesederhanaan ceritanya memang tidak bisa diurai panjang-panjang di sini. Selain itu, ilustrasinya begitu menawan dan detailnya menarik. Ini tipikal buku anak yang saya suka, gambarnya penuh warna dan teksnya tidak banyak.

Dari kisah Poupelle dan Lubicchi kita bisa kembali mengingat persahabatan tulus yang mana yang masih kita punya hingga hari ini. Terutama untuk pembaca dewasa. Jangan-jangan kita jauh dari yang namanya 'ketulusan'.

Nah, sekian ulasan buku anak Poupelle Of Chimney Town ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!