Resensi Novel Convenience Store Woman (Gadis Minimarket) - Sayaka Murata


Judul:
Convenience Store Woman (Gadis Minimarket)

Penulis: Sayaka Murata

Penerjemah: Ninuk Sulistyawati

Editor: Karina Anjani

Ilustrasi kover: Orkha

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2022, cetakan ketujuh

Tebal: 160 hlm.

ISBN: 9786020644394


Dunia menuntut Keiko untuk jadi normal, walau ia tidak tahu 'normal' itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai 'pegawai minimarket'. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini..



Novel Gadis Minimarket ini menceritakan tentang perempuan bernama Keiko. Usianya sudah 36 tahun tetapi masih bekerja paruh waktu di minimarket dan dia belum menikah. 

Sudah 18 tahun dia menikmati pekerjaannya. Jiwa raga sudah menyatu dengan kehidupan minimarket.

Suatu hari dia memutuskan menampung lelaki bernama Shiraha. Shiraha adalah mantan pegawai minimarket di tempat Keiko kerja. Berkat kesepakatan berdua, keputusan tinggal sekamar dianggap menguntungkan kedua pihak. 

Karena Shiraha, Keiko harus berhenti bekerja di minimarket. keputusan paling besar dalam hidupnya karena minimarket sudah menjadi surga baginya. 

Apakah Keiko sanggup melanjutkan hidup setelah berhenti kerja?




Walau tipis tapi novel ini berbobot. Soalnya banyak hal yang dibahas dan bikin pembaca jadi tambah wawasan. 

Pertama, soal psikologi. Keiko dan Shiraha memiliki karakter yang aneh. Keiko sudah aneh sejak kecil. Saat TK, dia menyarankan ibunya untuk memasak burung yang mati. Saat SD, dia memukul dua teman lelaki yang berkelahi dengan sekop. Tujuannya agar mereka cepat berhenti berkelahi. Pernah juga Keiko menurunkan rok gurunya supaya gurunya berhenti histeris, berteriak-teriak, dan memukul-mukul meja dengan buku di depan kelas. Keiko kepikiran cara ini berkat tayangan TV.

Walau sudah dewasa pun, Keiko tetap aneh. Dia suka meniru gestur dan nada ucapan pegawai lain. Bahkan dia menganggap keponakannya seperti binatang. Yang menurutnya untuk menghentikan tangisan si bayi dapat dilakukan dengan pisau. Keiko sadar kalau dia bermasalah tapi dia tidak tahu apa masalahnya. Kadang pikiran dia bisa kita terima, tapi lebih banyaknya di luar nalar.

Sedangkan Shiraha digambarkan sebagai lelaki dewasa yang suka meremehkan, pemalas, banyak omong, suka berhutang, dan tidak bertanggung jawab. Kasarnya, Shiraha itu parasit untuk siapa pun. Gara-gara omongannya yang besar, Keiko mau-maunya membuat kesepakatan dengannya untuk tinggal sekamar.

Kedua, soal budaya masyarakat. Novel ini blak-blakan menunjukkan bagaimana masyarakat melihat dan memperlakukan orang yang secara usia sudah matang tapi belum punya pencapaian. Pencapaian yang jadi standar masyarakat seperti pekerjaan yang baik dan pernikahan. Di kehidupan nyata pun banyak orang yang memandang sebelah mata kepada orang lain yang belum mencapai standar masyarakat.

Kalau ditelaah lebih dalam, Keiko dan Shiraha belum mencapai standar masyarakat karena pilihan hidup yang mereka ambil selalu tidak tepat. Sikap dan karakter keduanya yang membuat mereka tertinggal. Bukan karena takdir ya. 


Ketiga, soal pekerjaan. Nilai seseorang ditentukan dari pekerjaannya. Beruntung bagi kita yang punya pekerjaan sebab pengangguran itu tidak berharga. Novel ini menyinggung sikap profesional yang harus dimiliki pekerja. Salah satu yang paling vocal disinggung adalah harus mematuhi peraturan pekerjaan. 

Shiraha menjadi contoh buruk sikap pekerja. Dia meremehkan pekerjaannya, menggunakan ponsel di jam kerja, suka terlambat, memakan stock makanan yang hampir kadaluarsa, dan paling parah dia menguntit pelanggan minimarket. Hasilnya, dia harus dipecat. Buruknya sifat Shiraha, pemecatannya dianggap ketidakadilan.

Keempat, soal keluarga. Saya salut dengan adik dan orang tua Keiko yang tidak lepas tangan menghadapi keanehan Keiko. Selain support, mereka juga memperhatikan kehidupannya. Ini yang mematahkan dugaan keanehan Keiko diakibatkan keluarga yang tidak harmonis. Nyatanya keluarga Keiko baik-baik saja tapi Keiko tetap aneh.

Kelima, soal mencari jati diri. Setelah Keiko berhenti kerja, hidupnya jadi kacau, tidak tentu arah sebab tidak ada panduan. Ada satu kejadian, Keiko masuk ke minimarket dan reflek dia mengerjakan pekerjaan pegawai. Momen ini jadi titik balik Keiko sadar siapa dia dan apa yang ia sukai.


Novel ini tidak punya puncak konflik yang seru. Tipikal alur cerita yang datar tapi tidak sampai bikin bosan. Alurnya campuran, sesekali mundur untuk menjelaskan latar belakang yang membuat Keiko seperti sekarang.

Dengan sudut pandang orang pertama, pembaca diajak menyelami karakter Keiko lebih dalam. Dan karena saking memahami cara dia berpikir dan bertindak, saya tidak bersimpati dengan yang dialaminya. Bukan lingkungan yang salah, bukan pola didik orang tua yang salah, tetapi memang karakternya yang keliru. Ditambah Keiko tidak berjuang keluar dari zonanya selama ini, yang akhirnya sampai dia seusia segitu pun karakternya tetap tertutup.

Gaya bahasanya enak dan mudah dipahami. Ini juga berkat penerjemahan yang bagus. Ditambah kovernya yang mencolok berwarna kuning dengan ilustrasi Keiko yang minimalis, membuat novel ini gampang menarik pembaca.


Setelah membaca novel Gadis Minimarket ini saya semakin diyakinkan untuk menjadi orang yang lebih baik. Saya ingin membentuk nilai diri lebih positif seperti ramah, bertutur dengan bahasa santun, pekerja keras, gemar menebar tindakan baik, gampang menolong, dan masih banyak lagi sikap-sikap terpuji lainnya. Sebab, jika diri kita baik, masyarakat pun akan menilai baik. Dan jadi orang baik tidak akan rugi.

Untuk pengalaman membaca kisak Keiko dan minimarketnya, saya memberikan nilai 3/5 bintang. Tetap enak diikuti dan layak direnungkan.

Nah, sekian ulasan atau resensi novel dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.


Resensi Novel A Monster Calls (Panggilan Sang Monster) - Patrick Ness


Judul:
A Monster Calls (Panggilan Sang Monster)

Penulis: Patrick Ness

Ilustrasi: Jim Kay

Penerjemah: Nadya Andwiani

Editor: Barokah Ruziati

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juli 2016

Tebal: 216 hlm.

ISBN: 9786020320816


Sang monster muncul persis lewat tengah malam. Seperti monster-monster lainnya. Tetapi, dia bukanlah monster yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang moster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan... Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor.



Novel A Monster Calls atau Panggilan Sang Monster menceritakan tentang anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Conor, yang hidupnya berubah sejak ibunya dinyatakan sakit keras, kayaknya kanker sebab kepalanya sampai dibotak, persis seperti pasien yang menjalani kemoterapi.

Sejak itu, Conor kerap bermimpi aneh pada setiap tidurnya. Dan kehidupan di sekolahnya tambah kacau sejak sahabatnya, Lillian Andrews, menyebarkan informasi ibunya yang sakit. Ia tidak ingin dikasihani sebab semua baik-baik saja. Conor juga kerap di-bully oleh teman sekelasnya: Harry dan teman-temannya, dan dia memilih tidak melawan.

Suatu malam, pada pukul 00.07, Conor didatangi oleh monster pohon yew. Walau namanya monster, Conor tidak takut, sebab monster pohon yew tidak lebih menakutkan dibandingkan monster dalam mimpinya. Pertemuannya dengan monster pohon yew seperti mimpi saja, tapi setiap ia bangun pagi, selalu saja ada jejak kehadiran monster itu seperti daun-daun pohon yew, buah berry pohon yew, atau anak pohon yang tumbuh dari lantai kayu.



Bagi Conor masalah bertambah saat neneknya datang ke rumah untuk mengurus ibunya. Hubungan Conor dan neneknya tidak harmonis jadi Conor merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Belum lagi kemudian muncul ayahnya yang kini sudah memiliki keluarga baru di Amerika, menambah beban hati Conor.

Ternyata kehadiran monster pohon yew memiliki misi menyembuhkan Conor. Setelah tiga kisah diceritakan oleh si monster, kisah keempat adalah tugas Conor untuk menceritakannya.

Kira-kira kisah apa yang akan disampaikan Conor? Dan apa yang harus disembuhkan dari Conor padahal yang sakit ibunya?


Judul sama gambar kovernya benar-benar menipu. Saya kira membaca buku ini bakal mendapatkan sensasi merinding seperti ketika sedang nonton film horor yang penuh jumpscared. Tapi eh tapi, justru saya malah menangis.

Betul, semenyentuh itu kisahnya sebab tema novel ini adalah tema keluarga. Walau menghadirkan monster, nilai keluarga di novel ini tetap paling menonjol. Di sini kita akan menemukan dinamika permasalahan keluarga seperti konflik antara anak dengan orang tua, konflik antara suami dan istri yang bercerai, dan konflik antara cucu dengan neneknya. 

Melihat masalah yang dihadapi Conor, kita akan bersimpati dengannya. Kita akan diajak memahami emosi Conor yang terus mengelak soal penyakit ibunya. Dia tahu sakit ibunya parah dan susah disembuhkan tapi Conor terus membohongi diri sendiri bahwa ibunya bakal sembuh. Itu dia lakukan karena dia belum mau mengaku dan siap kehilangan ibunya. Sumpah, bagian ini sedih banget membayangkannya.



Conor juga tidak ingin diperlakukan berbeda pasca seluruh penghuni sekolah tahu kondisi ibunya. Ia menjadi pemurung karena sebagian besar penghuni sekolah menghasihani situasinya. Conor muak dengan situasi itu.

Saya juga cukup tersentuh ketika Conor dan ayahnya berdebat soal kemunculannya sekarang saat ibunya sudah parah. Di situ jelas sekali Conor terluka dengan perceraian orang tuanya. Bahkan secara tidak langsung, Conor mengungkap keinginannya untuk tinggal dengan ayahnya, namun ditolak dengan alasan rumah mereka yang kecil. Makin patah hatilah Conor dibuatnya.

Poin menarik lainnya adalah tiga kisah yang disampaikan si monster, memiliki pesan yang terselubung. Tiga kisah yang membuat Conor dan kita sebagai pembaca diminta menebak pihak mana yang benar.

Keyakinan adalah separuh dari penyembuhan. Keyakinan dalam pengobatan, keyakinan akan masa depan yang menanti. -hal. 119

Penerjemahan novel ini sangat bagus. Ditambah plotnya yang dikemas dengan apik. Ada permainan peletakan plot sehingga peristiwa di novel ini tidak runut lurus saja demi membuat kisahnya dramatis.

Untuk ilustrasi bukunya lumayan menyeramkan. Kebanyakan agak kacau gambarnya dan untuk memahami gambar tersebut kita harus memandangnya dengan teliti. Coretan-coretannya kasar dan didominasi gelap. Cukup mempersentasikan kalau kisahnya memang segelap itu.

Novel ini ternyata pernah difilmkan pada tahun 2016 dengan judul yang sama. Saya akan menjadwalkan untuk menontonnya biar tahu lebih menyentuh mana, bukunya atau filmnya.


Dari novel A Monster Calls ini, kita bisa belajar untuk mempersiapkan diri menerima perpisahan dengan orang tersayang, terutama perpisahan dengan orang tua. Perpisahan ini harus disadari tidak bisa dihindari dan akan menimpa siapa pun. Alasan saya bisa menangis membaca novel ini karena saya belum siap kehilangan Bapak dan Ibu. Membayangkan suatu hari nanti akan ditinggal beliau, saya tidak bisa membayangkan akan seperti apa jerit tangis saya.

Novel ini punya ceritanya menyedihkan, pesannya menohok.Dan saya merekomendasikan buat siapa pun untuk membaca novel ini. Akhirnya saya memberikan nilai 5/5 bintang untuk karya Patrick Ness ini.

Demikian resensi novel dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.


[NOTICE!] Novel Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan karya Amalia Yunus

Halo, halo, halo...

Apa kabar teman-teman? Semoga sehat dan bahagia terus ya!

Dalam satu bulan, pasti banyak buku yang baru diterbitkan. Di mata saya, kebanyakan buku-buku ini menarik perhatian dan pengen baca juga. Tetapi, lagi-lagi budget untuk beli buku mesti dibatasi sebab uang tidak melulu harus dihabiskan untuk hobi, banyak kebutuhan lainnya yang harus dipenuhi juga.

Bener enggak?

Kali ini saya membawa kabar dari Penerbit Banana dengan novel barunya berjudul Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan yang ditulis oleh Amalia Yunus.



Saya tahu nama penulis novel ini karena sempat wara-wiri beberapa waktu lalu ketika bukunya yang berjudul Tutur Dedes: Doa Dan Kutukan, menjadi salah satu buku tema sejarah yang bisa dibaca pada program baca buku sejarah. Dan atas buku tersebut disematkan beberapa pujian. Barang tentu, novel terbarunya pun pasti sama menariknya.

Sayangnya, saya belum pernah membaca buku karya Amalia Yunus ini. Semoga saya segera punya buku beliau dan akan dibaca, lalu diulas di blog ini, hehe, amin...

Sekilas membaca contekan novel ini, kayaknya bercerita mengenai titik balik si tokoh utama, berbadan gede dan beberapa kali mengalami kepayahan, untuk mengurangi berat badan agar bisa hidup normal seperti kebanyakan orang

Kayaknya kita akan diajak melihat perspektif 'mempunyai badan besar' dan lika-liku kehidupannya. Menarik bukan?

Nah, buat kalian yang mau tahu lebih banyak soal novel ini, mending ikutan PO-nya atau mengikuti IG penerbitnya, sebab di situ sering dibagikan info-info novel ini.



Resensi Novel Lara Rasa - Nureesh Vhalega


Judul:
Lara Rasa

Penulis: Nureesh Vhalega

Editor: Anindya Larasati

Ilustrasi & sampul: Amalina Asri

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: 2023

Tebal: viii + 214 hlm.

ISBN: 9786230046315


Di usia 28 tahun, Alara masih belum punya pekerjaan tetap, kondisi finansialnya memprihatinkan, dan target memiliki rumah sekaligus menikah sebelum berumur 30 tahun terasa kian jauh dari jangkauan. Parahnya, dia justru membuat keputusan-keputusan salah dan memperumit hidupnya sendiri. Mulai dari bekerja di perusahaan rintisan yang membuatnya seakan rodi, terlibat dalam drama percintaan yang videonya viral, sampai bertengkar hebat dengan orang tua. Alara harus mengurai permasalahannya dan mencari solusi agar hidupnya kembali berjalan normal. Dan, di atas segalanya, agar target hidupnya tercapai.



Novel Lara Rasa ini menceritakan seorang gadis bernama Alara yang secara usia sudah matang tetapi dia belum menikah, pacar saja belum punya. Masalah hidup Alara bukan soal jodoh saja, dia juga bermasalah dengan pekerjaan barunya yang super-pressure. Kalau bukan karena keinginan besarnya untuk membeli rumah, Alara pasti sudah resign dari lama.

Plus, Alara tinggal dengan orang tua toxic yang saban waktu selalu bertengkar adu mulut. Tidak jarang benda-benda di rumah melayang hingga pecah dan rusak. Baginya rumah bukan tempat nyaman untuk pulang makanya sesekali ia menginap di apartemen sepupunya, Tiani. Dan impian terbesar Alara adalah membeli rumah agar bisa segera kabur dari rumah orang tuanya.

Di pesta pernikahan temannya, Alara justru bertemu dengan Putra, teman SMA. Perhatian Putra sangat manis sehingga hubungan keduanya pun naik ke level pacaran. Di tengah hubungan manis yang sedang dirajut, Alara merasa tidak nyaman pada kedekatan Putra dengan Venita, mantannya. Menurut Putra hubungan mereka sudah berakhir dan kedekatan saat ini karena mereka menjalankan bisnis bareng-bareng.



Puncak masalah Alara datang bertubi-tubi. Satu, Mama Alara bohong soal dia meminjam uang tabungan yang disiapkan untuk DP rumah karena salah satu tantenya butuh urgensi, dan uang itu harus hilang akibat penipuan investasi. Dua, Alara dilabrak Venita karena dianggap perebut pacar di sebuah acara promosi film. Videonya viral hingga membuat Alara terpuruk. Dan buntut dari keributan itu Alara harus memutuskan hubungan dengan Putra. Tiga, Alara dihardik Papanya dengan kata-kata jahat dan membuatnya memutuskan untuk keluar dari rumah itu.

"Dasar anak nggak tau diri! Bisanya cuma bikin malu keluarga!" hardiknya. "Kalau mau jadi perempuan murahan, belajar yang benar! Jangan setengah-setengah dan ketahuan. Pantas saja sampai umur segini kamu nggak nikah. Siapa yang mau sama perempuan rusak kayak kamu?" -hal.152.

Beruntung Alara memiliki orang-orang terdekat yang care. Ada Tiani (sepupunya), Kevan (temannya, naksir Tiani tapi ditolak mulu), dan Ansel (rekan kerja Alara yang usianya lebih muda). Mereka tidak membiarkan Alara berjuang sendiri, mereka selalu siaga di sampingnya.

Tapi, apakah Alara bisa bertahan di tengah masalah yang bertubi-tubi itu?



Setelah membaca novel As Always, I Love... saya kembali membaca novel terbaru Kak Nureesh yang tahun ini baru saja diterbitkan.

Novel ini mengharukan karena ada bagian yang relate dengan hidup saya. Alara dan saya sama-sama punya masalah yang banyak. Dan kami sama-sama harus bisa mengurai dan menyelesaikan masalah tersebut. Membaca novel ini membuat saya tambah semangat hidup sebab sebanyak apa pun masalah pasti bisa diselesaikan.

Ciayo!!!

Ada dua masalah gede yang dihadapi Alara. Pertama, dia punya orang tua yang toxic. Bagaimana perasaan Alara tidak hancur kalau hampir setiap hari mendengar Papa dan Mamanya adu mulut, dia sering dikata-katain dengan kasar, dan bahkan kelahiran Alara sering disebut sebagai biang masalah mereka? 

Saya geram banget membaca bagian hubungan Alara dengan orang tuanya. Pengen banget teriak di telinga Papa dan Mamanya, "Woiii, kalian yang nge*e, kalian yang ena-ena sampai kebobolan, kenapa anak yang disalahin?! Kalian yang nggak mikir sebelum begituan, bangs*t!!!"

Dari orang tua Alara kita belajar, "Enggak semua yang tua itu dewasa." Dan gara-gara masalah orang tua ini, Alara ingin segera kabur dari rumahnya. 



Kedua
, Alara jatuh cinta dengan orang yang salah. Walau Putra itu punya material pasangan yang baik, tapi sikap dia yang enggak tegas soal mantan jelas-jelas bakal berpengaruh untuk kelangsungan hubungan percintaannya. Alara denial sama gelagat aneh Putra yang kalau ditanya soal mantan, jawabnya gagap dan enggak tegas.

Bucin boleh saja tapi jangan sampai membuat insting jadi tumpul. Karena manusia itu punya kedalaman hati yang enggak bisa ditebak. Kecuali kalau kita sudah siap patah hati.

"Al, jangan terlalu percaya sama orang. nanti lo yang sakit akhirnya." -hal. 9

Gaya penulisan Kak Nureesh terasa renyah sekali. Tidak menggunakan banyak bahasa inggris, dialognya terasa banget bahasa ngobrolnya, dan narasinya juga lugas. Ini yang membuat saya merasa kalau novelnya page turner banget, betah dibaca.

Plot ceritanya tidak melebar kemana-mana jadi kita bisa fokus ke masalah yang gede-gede saja. Dan penyelesaian konflik yang dipilih Kak Nureesh sudah cukup adil, terutama konflik keluarga ya. 

Tidak semua keluarga itu harmonis, dan pilihan antara anak dan orang tua untuk jalan masing-masing bisa jadi keputusan terbaik dari keputusan buruk yang mau enggak mau harus ditempuh.

Penokohan di novel ini juga sangat baik. Alara digambarkan gadis yang penuh masalah tapi vibes-nya positif. Kekurangan Alara hanya satu, suka menyalahkan diri sendiri. Tetapi saya suka dengan perubahan sikap Alara terhadap masalah yang dihadapinya. 

Kalau Putra tipikal pria dewasa yang romantis. Sayangnya dia kurang tegas sama keputusannya. Kekurangan ini bisa membuat hubungan rentan sebab perempuan itu butuh keputusan pasti. Sedangkan Ansel tipe pria pemalu, pendiam, tapi perhatian. Dia tidak tergesa-gesa menarik lawan jenis, menunggu momen yang tepat. Ansel juga punya hubungan yang baik dengan keluarganya.

Tokoh lainnya yang memberi warna alur novel ini ada Tiani, Kevan, Safa, dan beberapa lagi yang disebutkannya hanya sekilas. Namun peran Tiani dan Kevan sangat penting di hidup Alara sebab mereka ini yang memastikan Alara kuat digempur masalah.


Secara keseluruhan, membaca novel ini bagai diingatkan untuk terus bertahan di tengah banyaknya masalah. Sekaligus hidup itu enggak melulu adanya momen manis dan indah saja. Sedih, capek, putus asa, bosan, jenuh, muak, akan menimpa siapa saja. Tapi jangan berhenti hidup. Lepaskan semua emosi dengan menangis, jika kurang, mengumpat saja. Sebab hidup terlalu berharga untuk diakhiri sebelum waktunya.

"Pernah nggak lo mikir, kalau yang sebenarnya lo butuhin buat ngerasa bahagia adalah berdamai sama diri sendiri?..." -hal. 10

Ada satu paragraf yang isinya pengakuan Alara kepada psikolognya dan itu bikin saya tertohok. Ada di halaman 197. Intinya, Alara cuma ingin mendengar kata maaf setelah mereka mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Menurut saya memang kata maaf itu bisa meluruhkan segalanya. Makanya kita semua harus berani mengucapkan kata maaf ketika terjadi perselisihan, jangan justru merasa sok paling benar.

Untuk novel mengharukan ini yang mengajari kita untuk menjadi manusia utuh, saya memberikan nilai 5/5 bintang. Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca oleh kalian yang beranjak dewasa agar tahu gambaran gimana beratnya menjadi dewasa.

Sekian ulasan saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.


Resensi Novel As Always, I Love... - Nureesh Vhalega


Judul:
As Always I Love...

Penulis: Nureesh Vhalega

Penyunting: Maria Lusia Anindya

Penerbit: PT Elex Media Komputido

Terbit: Januari 2020

Tebal: 288 hlm.

ISBN: 9786230012259


Beberapa bulan menjelang pernikahannya, ayah Lyrrani Bestari meninggal. Dunianya runtuh, karena selama ini dia merasa hanya punya ayahnya dan Rayen, sahabatnya sejak masa SMA. Tidak hanya itu, beberapa masalah mulai bermunculan seiring persiapan pernikahannya. Sesosok orang yang hilang dari hidupnya empat belas tahun lalu, tiba-tiba kembali. Belum lagi, Juan, tunangannya, yang tetap sibuk dnegan pekerjaannya di tengah persiapan pernikahan mereka.

Lyrra bersyukur punya Rayen yang dapat selalu ia andalkan di tengah semua permasalahan yang dihadapinya. Keduanya begitu dekat sampai semua orang di sekitar meragukan persahabatan mereka. "Kami cuma sahabat" sudah sering mereka lontarkan.

Apakah Rayen dapat membantu Lyrra melewati ini semua menuju pernikahannya? Ataukah Rayen akan menghancurkan semuanya... dengan menyatakan perasaan yang sesungguhnya?

***


"Yang terbaik bakal datang di waktu yang tepat. Bukan di waktu yang kita mau, atau kita harapkan, tapi di waktu yang tepat." -hal. 172.

Setahun pacaran, Lyrra akhirnya dilamar oleh Juan dan diterima. Kabar ini disampaikan ke ayahnya tapi reaksi beliau bukan seperti yang Lyrra mau, walau ujung-ujungnya tetap direstui dengan syarat dan ketentuan yang disampaikan langsung kepada Juan.

Enam bulan lagi pesta pernikahan akan digelar. Sejak malam lamaran itu Lyrra sudah merasakan ada perasaan aneh yang mengganjal di hatinya. Entah untuk masalah yang mana.

Namun ayah Lyrra mendadak meninggal. Ia pun terpuruk, merasa sendirian. Tidak ada rumah untuk pulang, ibu tiri jelas bukan pilihan tepat sebab ia tidak akrab dengannya. Beruntung Rayen jadi pahlawan sejati yang akan bersedia kapan pun dan dimana pun.



"... Dan, nggak ada anak yang baik-baik aja dua minggu setelah orangtuanya meninggal. Lo bisa bohongin semua orang, tapi lo nggak bisa bohongin gue." -hal. 62.

Sakit hati lebih dalam muncul saat tidak sengaja Lyrra bertemu kembali dengan ibu kandungnya yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya. Lyrra sangat membenci ibunya, jangankan mendengarkan penjelasan soal masa lalu, bertemu saja enggan.

Masalah makin bertumpuk saat Rayen mengungkapkan perasaannya. Lyrra sangat sedih dan marah sebab hubungannya dengan Juan sudah sejauh ini. Ia bingung harus berbuat apa.

Sekuat apa pun Lyrra menghindar, kebenaran akan terwujud di tangan semesta. Tuhan seperti sedang merajut lagi kisah baru antara Lyrra dengan ibunya, antara Lyrra dengan Juan, dan antara Lyrra dengan Rayen. Masa lalu yang pelik mulai menemukan titik terang. Semua yang tertutupi mulai tersibak jelas.

Lyrra bukan saja berperang dengan kisah cintanya, tapi ia pun harus menghadapi masa lalu yang keliru. Tapi apakah Lyrra bisa berdamai dengan masalahnya yang bertubi-tubi?


Membaca novel As Always, I Love... mengingatkan saya pada novel My Pre-Wedding Blues karya Anna Triana. Ceritanya soal persahabatan lawan jenis yang sebenarnya saling suka tapi karena alasan tertentu harus dipendam. Semakin pelik lagi ketika yang perempuan akan menikah dan yang lelaki galau.

Formula novel roman yang sudah banyak dipakai tapi buat saya tetap saja menarik. Soalnya pasti banyak yang mengalami situasi begitu. Dan paling banyak alasannya karena mereka enggak mau merusak persahabatan. Mereka takut kalau pas sudah pacaran lalu ada ketidakcocokan dan akan berujung putus. Persahabatan mereka pun pasti terpengaruh, bisa putus juga.

"Cuma karena lo bakal nikah, bukan berarti gue harus buru-buru ngikutin jejak lo. Apa yang lo anggap baik, belum tentu baik buat orang lain. Jangan egois." -hal. 34

Tetapi di novel ini berbeda, alasannya karena keluarga. Saya kaget sih pas tahu alasan sebenarnya kenapa Lyrra dan Rayen tidak bersatu sejak dulu, padahal kedekatan mereka sudah terlalu solid. Alasan itu logis menahan keduanya. 

Selain romansa, novel ini pun kental banget tema keluarganya. Menyinggung soal keputusan bercerai karena tahu mereka bersatu tanpa cinta yang utuh, dan kalau dilanjutkan akan tambah menyakiti satu sama lain. Dan keputusan bercerai ini sebenarnya memengaruhi anak. Lyrra adalah contoh korban perceraian orang tua yang sampai ia dewasa tidak tahu apa penyebabnya. Asumsi berkembang liar dan tanpa tahu cerita sebenarnya ia membenci ibu kandungnya.

"... Luka bukan sesuatu yang bisa dihindari dari hidup. Setiap manusia yang bernafas pasti akan merasakannya. Tapi... jangan biarkan luka menenggelamkan kamu, Lyrra." -hal. 91

Di novel ini pun akan disajikan keruwetan keluarga Lyrra dan Rayen. Tetapi saya menangkap poin kalau anak yang bijaksana akan mendahulukan kebahagian orang tua di atas segalanya. Cukup mengharukan sekali mengetahui kenapa Rayen bisa sebego itu memendam perasaannya. Di balik kebegoannya ada keikhlasan pengorbanan yang luar biasa.

Saya suka dengan gaya menulis Kak Nuressh yang lugas dan langsung pada poinnya. Tidak diindah-indahkan, tidak nyastra. Narasinya mudah dipahami, dan kayaknya ini kelebihan novel yang kerasa banget di lini CityLite dan Le Marrige. Jadi ketika ada dialog yang meluap-luap, saya bisa merasakan emosi panasnya.

Kalau untuk cerita urbannya sudah pasti kerasa. Latar di Jakarta dan pekerjaan sebagai arsitek. Situasi prefesional sangat terasa sehingga detail ini tidak hanya sebagai tempelan saja. 



Karakter-karakternya juga berhasil dihidupkan penulis. Lyrrani Bestari digambarkan sebagai pekerja keras, mandiri, supel, baik, cantik, dan agak enggak enakan. Saya suka sih bagaimana Lyrra memelihara kedekatannya dengan teman-temannya; Anggit dan Irenne, padahal mereka sudah berada di fase yang berbeda-beda. Irenne sedang menunggu kelahiran bayinya, Anggit masih berpetualangan mencari pasangan, dan Lyrra sedang menuju pernikahan. Namun mereka menghargai satu sama lain, kalau pun ada sindir-sindiran itu lantaran rasa sayang semata.

Juan Harnanto Irsyad, si calon suami Lyrra adalah pria dewasa yang karirnya sudah mapan. Pintar memasak dan pandai mengambil hati. Tipe yang bijaksana dalam menghadapi masalah. Dia mudah meminta maaf dan enggan berlarut-larut dalam amarah ketika sedang berseteru dengan Lyrra. Hubungan mereka pun akan kembali manis. Kekurangannya satu, pekerjaan yang nanjak dibuntuti resiko kesibukan yang susah diprediksi. Ini yang kadang bikin Lyrra sedih sebab momen kebersamaan mereka suka direnggut oleh pekerjaan urgensi.

Rayendra Kendavaz adalah sahabat dekat Lyrra yang terpikat sejak di bangku SMA. Sering bertindak konyol tapi terukur. Misalnya, dia tidak mengisi bensin mobilnya karena ingin berangkat kerja bareng dengan Lyrra. Atau dia main catur dengan ayah Lyrra agar bisa mengambil hatinya sehingga restu bisa turun. Di balik sosoknya yang kadang menyebalkan, Rayen tipe pria yang super perhatian. Sudah bisa dipastikan sih, siapa pun perempuan yang memiliki pasangan seperti Rayen pasti hidupnya akan jauh lebih berwarna. Bisa romantis, bisa bikin emosi.

Selain ketiga tokoh utama di atas, ada juga sahabat Lyrra; Anggit dan Irenne. Ada juga ayah dan ibu Lyrra. Dan tentu saja ibunya Rayen, Tante Nia.

"Hidup bersama orang yang mencintai kamu memang baik, Sayang, tapi nggak ada yang lebih hebat dari hidup bersama orang yang mencintai kamu, juga kamu cintai." -hal. 210.

Untuk kovernya yang didominasi warna putih terlihat sederhana. Ada sosok perempuan yang berambut panjang dan pada ilustrasi rambutnya dipenuhi coret-coret kusut. Menggambarkan sekali bagaimana otak Lyrra yang dipenuhi masalah.

Buat saya novel ini cukup berkesan karena ceritanya yang cukup menyentuh dan gaya menulis penulis yang enak diikuti. Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca yang suka cerita romansa tapi yang kekinian, baik dari segi konflik atau pun narasinya. Saya memberikan nilai 4/5 bintang.

Sekian ulasan novel As Always, I Love... dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.


Resensi Komik Country Girl #1 - Ryukishi07, Romeo Tanaka & Tatsuhiko


Judul:
Country Girl

Penulis: Ryukishi07 & Romeo Tanaka

Ilustrator: Tatsuhiko

Penerjemah: M

Editor: Binarti

Sampul: Sarah Aghnia H.

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: 2019

Tebal: 200 hlm.

ISBN: 9786230006470


Mikihiko dan 3 orang teman masa kecilnya tinggal di kota terpencil yang memiliki masalah depopulasi. Meskipun demikian, mereka menjalani kehidupan SMP yang bahagia. Namun, setelah gagal dalam ujian masuk SMA, Mikihiko mulai depresi dan mengurung diri di rumah. Keempat sahabat itu pun tercerai berai. Keiko yang memiliki perasaan khusus terhadap Mikihiko berusaha memotivasinya.

***


Di sebuah desa tertinggal ada sekelompok teman sekolah yang terdiri dari satu anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Mikihiko Inaba, Miya Natsuki, Keiko Futatsumori, dan Iyo Hikawa sangat akrab.

Menjelang lulus SMP, keempatnya khawatir dengan desas-desus sekolah mereka yang akan ditutup. Acara kelulusan pun dipastikan ditiadakan. Mereka juga mulai bingung menentukan akan kemana setelah lulus SMP. 

Inaba sendiri punya mimpi meninggalkan desa yang baginya tidak punya apa-apa dan niat itu bakal diwujudkan dengan berusaha supaya bisa masuk ke SMA di Tokyo. Niat itu diragukan oleh ketiga teman perempuannya karena standar masuk SMA di Tokyo sangat tinggi. Namun, tekad Inaba sudah bulat dan memutuskan agar mereka semua harus lulus masuk SMA di Tokyo. Mereka sepakat akan belajar lebih keras lagi.

Saat pengumuman kelulusan, Inaba dinyatakan tidak lolos. Begitu juga dengan Iyo dan Keiko pun tidak lulus. Hanya Miya yang berhasil. Sejak itu hubungan pertemanan keempatnya berubah.

Setelah satu semester diopname di rumah sakit, Keiko akhirnya masuk sekolah di SMA lagi. Yup, dia tertinggal satu semester dan harus mengejar ketertinggalannya itu. Di hari pertamanya, Keiko mendapatkan kabar mengejutkan kalau ternyata Inaba pun belum pernah masuk sekolah sejak hari pertama. Mereka bersekolah di SMA yang sama. Dan demi membuat Inaba masuk sekolah lagi, Keiko memutuskan meminta bantuan Iyo yang juga sama satu sekolah dengannya.


Keiko kembali terkejut saat melihat penampilan Iyo yang berubah dari anak perempuan sederhana menjadi sangat modis. Apalagi saat mendengar kata-katanya, "Jangan harap hubungan abnormal kita dulu bisa kembali seperti semula." Meski begitu, Iyo akhirnya mau membantu. Keiko dan Iyo mulai menyusun rencana agar Inaba bisa masuk sekolah lagi. 

Keiko sempat mendatangi rumah Inaba dan bertemu ayahnya. Keiko juga meminta agar Iyo membantu dengan mengirimkan email penyemangat. Keiko dan Iyo juga membuat 100 bangau dan dipamer-pamerkan di depan jendela kamar Inaba. Dan yang terakhir, mereka berdua membuat surat yang kemudian diletakkan di depan pintu kamar Inaba.

Karena semua cara sudah dicoba dan Inaba bergeming saja, akhirnya Keiko dan Iyo memutuskan untuk menobrak kunci kamarnya. Di waktu yang sama ketika mendobrak kunci kamar Inaba, tiba-tiba muncul Miya di tengah mereka.



Komik bukan bacaan favorit saya, dan saya beberapa kali menyebutkan alasannya pada beberapa artikel. Ceritanya yang sangat pendek pada satu nomornya dan pusing mengurut membaca balon dialognya membuat saya butuh alasan khusus untuk akhirnya membeli komik.

Untuk komik Country Girl ini saya beli lantaran ceritanya tentang remaja SMA. Waktu itu saya sedang butuh referensi cerita SMA untuk cerita yang sedang saya tulis, dan tidak sengaja melihat komik ini di ecommerce, membaca blrub-nya, oke, saya ambil.

Saya agak kurang sreg ketika tahu kelompok main Inaba dan tiga teman perempuannya karena mindset saya kalau ada kelompok main begini, pasti si anak laki-laki tergolong anak kemayu. Tapi di komik ini justru gambaran Inaba berbeda, selain dia cerdas, Inaba juga digambarkan mudah bergaul dan jago olahraga.



Konflik yang membuat komik ini seru dibaca karena hubungan pertemanannya yang berubah dan kita akan diajak untuk mengikuti para tokohnya memperbaiki apa yang membuat pertemanan mereka berubah. Pada buku pertamanya ini, saya salut dengan Keiko yang begitu peduli dengan orang terdekatnya sampai-sampai dia melakukan beberapa cara padahal kesehatannya saat itu belum pulih betul.

Untuk Iyo, saya bisa paham dengan perubahan penampilannya. Dia hanya ingin memiliki grup pertemanan yang baru, dia butuh dunia yang berwarna berbeda, dan dengan merubah tampilannya itu, Iyo berharap mendapatkan apa yang ia mau. Ini ciri ketidakstabilan emosi remaja dan beberapa dari kita pun mungkin pernah mengalaminya pada usia segitu. Sayangnya, komik ini tidak menyisipkan peran orang tua pada anak remaja seusia Iyo dan kawan-kawannya.

Inaba yang dari hari pertama tidak masuk sekolah sedang terpukul dengan ekspektasi yang ketinggian. Wajar sih dia punya cita-cita tinggi, hanya saja dalam kasus Inaba, dia tidak didukung keluarga. Sebab ayah Inaba memikirkan bentuk masa depan lain bagi Inaba, dan bukan sekolah SMA di Tokyo, yaitu menjadi penerus toko kelontongnya. Secara tidak langsung, komikus ini menyentil soal pentingnya peran orang tua bagi perkembangan emosional anak remaja. Karena usia remaja itu rawan, butuh pendampingan yang tidak mengekang.

Berhadapan dengan masalah bisa jadi pengalaman yang bagus bagi hidup kita. Seperti keuntungan yang sembunyi. -hal.29
Pada komik ini pun kita akan disuguhkan tema romansa yang amat sangat tipis. Latar belakang Keiko sebegitunya ingin membuat Inaba masuk sekolah lagi, ya karena perasaannya itu. Tampaknya Keiko menaruh rasa pada Inaba, hanya saja saya enggak cukup jelas menangkap sinyal itu. Kecuali saat Keiko berekspresi terkejut begitu ibunya membahas soal kedekatan Inaba dan Miya. Keiko kayak yang cemburu gitu.

Duh, penasaran romansa Inaba akan sama siapa ya? Hehehe, itu pun kalau bakal dijelaskan di komik nomor duanya.


Untuk dialog dalam komik ini menurut saya ada yang agak lebay. Tapi mungkin karena tokoh-tokohnya masih usia SMP dan SMA, bisa dimaklumi gaya bercandanya begitu. Hanya saja saya agak geli saja membacanya hehe. Terutama soal mereka membahas pantat Inaba. Waduh!

Kover komiknya sendiri bagus. Menampilkan sosok keempat tokohnya dan ada pantulan bayangan mereka di sana, sosok mereka berubah jadi anak SMP. Jelas banget menggambarkan usia mereka dalam komiknya. Tampilan mereka pun sangat sederhana, seperti halnya prnampilan anak desa. Jadi menurut saya pas penggambarannya.

Nah, itu dia ulasan saya untuk komik Country Girl nomor satu ini, dan kalau dinilai saya kasih nilai 3/5 bintang. Cerita komiknya ringan dan cukup seru.

Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.



[NOTICE!] Novel Saga Dari Samudra Karya Ratih Kumala

Halo, halo, halo...

Ada kabar terbaru nih dari penerbit gede sekelas Gramedia! Tak lain dan tak bukan, Gramedia akan menerbitkan buku baru yaitu Saga Dari Samudra karya Ratih Kumala.



Menerka dari blurb-nya, novel ini tuh kayak novel kolosal jaman dulu yang -mungkin saja- punya muatan sejarah. Di sebutkan dari setting waktunya yaitu abad ke-15. Nama tokohnya pun menjelaskan kalau ceritanya di masa kerajaan begitu: Nyai Ageng Pinatih dan Jaka Samudra.

Saya penasaran banget akan seseru apa pencarian jati diri Jaka Samudra tentang asal-usulnya...

Nah, nama penulis Ratih Kumala ini sempat ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu gara-gara novel Gadis Kretek-nya dijadikan series dan aktris yang terlibat salah satunya Dian Sastro.


Saya sendiri sudah membaca dua bukunya yang Larutan Senja dan Wesel Pos (untuk resensinya, silakan diklik). Dua buku lainnya; Gadis Kretek dan Tabula Rasa, belum saya baca padahal sudah punya, huhuhu...






Semoga saja ke depannya saya bisa segera membaca buku Ratih Kumala yang sudah dipunyai sebelum membeli buku ini. Amin!!!

Ups! Tapi yang sudah-sudah sih selalu beli duluan sebelum membaca buku-buku yang sudah ditimbun, hehe.

Buat teman-teman yang penasaran sama informasinya, bisa cek di website gramedia.com ya!