[Resensi] Seribu Wajah Ayah - Nurun Ala

gambar diunduh dari google playbook, diedit

Judul: Seribu Wajah Ayah

Penulis: Nurun Ala

Editor: Yayi Dewintya & Indah Sipahutar

Penerbit: Grasindo

Terbit: Maret 2020

Tebal: 144 hlm.

ISBN: 9786020522678

***

Malam ini, kamu dipaksa untuk menengok ke belakang sampai lehermu pegal. Kamu dipaksa untuk berkejar-kejaran dengan waktu untuk kembali memunguti potongan masa lalu. Beragam ekspresi wajah ayahmu seketika hadir membayang: bahagia, sedih, bangga, marah, murung, kecewa, dan aneka ekspresi lain yang kamu terlalu lugu untuk mendefinisikannya. Meskipun begitu, kamu yakin betul, masih banyak wajah yang ia sembunyikan di hadapanmu. Juga, yang tak benar-benar kamu perhatikan karena kamu terlalu asyik dan sibuk dengan duniamu. Ada sesal di sana, tentang ketulusan yang kamu campakkan. Tentang rindu yang dibawa pergi. Tentang budi yang tak sempat—dan memang tak akan pernah—terbalas. Seribu wajah ayah sekalipun yang kamu kenang dan ratapi malam ini, tak ‘kan pernah mengembalikannya.

***

Novel Seribu Wajah Ayah menceritakan tentang tokoh utamanya 'Kamu', berusia 22 tahun, yang berduka mendalam karena tidak bisa berada di sisi sang ayah ketika ajal menjelang. Kamu ada di luar negeri sedang menempuh kuliah S2 sehingga baru bisa sampai rumah di hari ke-2 setelah ayah dimakamkan.

Dari penuturan Om-nya kamu tahu bagaimana merindunya sang ayah, tapi sang ayah tidak ingin mengganggu kuliahmu sehingga memilih memendamnya seorang diri. Kamu semakin sedih karena tahu sang ayah pernah tidak mendukung kepergianmu ke luar negeri.

Album foto di kamar ayah yang berisi 10 lembar foto, merekam perjalanan kamu dari kecil sampai dewasa. 10 lembar foto yang menguak segala pelajaran yang diberikan ayah kamu. Dan setelah menapaki 10 lembar foto, kamu harus memilih meratapi kesedihan yang meluluhlantakkan hatimu atau memilih melanjutkan kehidupan dengan berdamai dengan masa lalu.

Novel ini tuh ibarat air yang menyiram kembang hampir mati di pot. Dari prolognya saja saya sudah dibuat berkaca-kaca karena muncul ketakutan yang sama dengan tokoh 'kamu', takut kehilangan ayah sebelum membahagiakannya.

Kemudian berjalannya cerita, dari 10 lembar foto itu kita akan mendapatkan banyak pelajaran hidup yang dipraktikan sang ayah bersama anak laki-lakinya itu. Pelajaran hidup yang beliau berikan itu sesuai dengan masalah yang muncul seiring pertumbuhan si anak. Disampaikan dengan lembut dan hati-hati sesuai ajaran agama Islam.

Pada saat usia SD, si anak yang tidak pernah mendapatkan gambaran sosok ibunya, bereaksi kesal, takut, sedih, bingung, ketika dia mendapatkan tugas membuat puisi dengan tema ibu, dan mesti dibacakan untuk ibunya. Ekspresi si ayah ketika melihat anaknya begitu, dia cuma bisa memeluk anaknya itu dengan erat, sambil menahan luapan emosi sedih tak terkira. Akhirnya, si anak dibawa ke makam ibunya. Malam itu mereka berdua membahas dan menyelesaikan puisi tentang ibu yang akan dibacakan pada esok hari.

Pada saat SMP, si anak mulai mengenal pergaulan. Sampai pada saat kelulusan, si anak pulang larut malam dengan mengendap-endap. Ternyata si ayah memergoki dengan wajah kecewa. Si ayah marah tapi bukan yang meledak-ledak. Justru dia ajak si anak berbicara dari hati ke hati. Si ayah ingin si anak lebih bertanggung jawab dengan semua yang dilakukannya.

"Ayah dan ibu takut, enggak bisa menjaga dan mendidik titipan Allah dengan baik. Takut sekali. Karena pasti diminta pertanggungjawaban nanti. Bapak dan ibu enggak mau jadi orang tua yang durhaka. Perasaan takut itu mulai hilang waktu kamu balita, TK, SD, dan seterusnya-makin pudar. Ayah senang sekali, kamu enggak pernah melakukan yang aneh-aneh" (hal. 72)

Dan di usia SMA, dimana si anak mulai merasakan jatuh cinta, kembali si ayah memberikan nasihat sebagai bentuk kewaspadaan dia terhadap kemungkinan buruk yang banyak dilakukan remaja ketika jatuh cinta.

"Setiap orang bisa jatuh cinta, kapan saja, pada siapa saja. Tapi, kalau mencintai itu beda. mencintai itu, enggak mudah. Setidaknya, kita butuh dua hal. Kemantapan hati dan kemampuan. Ayah mulai menaksir ibumu berbulan-bulan sebelum menikah. Hati ayah sudah mantap. Tapi, waktu itu ayah merasa belum punya cukup kemampuan untuk membahagiakan ibu. Maka, ayah menyiapkan diri dulu sampai ayah mampu, baru berani mengungkapkan perasaan ayah dan keinginan ayah menikahi ibu." (hal. 84)

Konflik besarnya adalah ketika si anak dengan egois melanjutkan kuliah S2 di luar negeri padahal saat itu ayahnya menginginkan agar si anak dekat dengannya. Justru ketika debat itu si anak sampai membentak ayahnya untuk yang pertama kalinya. Bahkan si anak menyebut keinginan ayahnya sebagai sikap kekanak-kanakan. Kesedihan luar biasa dirasakan si ayah sampai sakit karena menanggung rindu selama anaknya berada jauh.

Cerita mengenai ayah-anak ini dibawakan dengan narasi sederhana tapi sangat tepat sasaran untuk dipahami pembaca. Dengan menggunakan sudut pandang orang kedua makanya muncul tokoh 'kamu' membuat ceritanya begitu dekat dengan pembaca. Alur yang dipakai dominasi alur mundur untuk kilas balik setiap perjalanan hidup yang sudah dilalui ayah-anak ini.

Membaca buku ini kita akan merasakan kemiripan dengan buku Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Sama-sama membahas soal sosok ayah dan kebaikannya. Sama-sama menggunakan benda untuk menyampaikan masa lalu dan pelajaran hidup. Kalau di novel Sabtu Bersama Bapak menggunakan rekaman video, sedangkan di novel Seribu Wajah Ayah ini menggunakan foto.

Kekurangan novel ini hanya satu, kovernya yang menurut saya terlalu biasa dan condong ke buram. Saya menilai demikian karena mengakui cerita di novel ini tuh cemerlang dan berbobot. Sayang saja kalau banyak pembaca menilai kovernya biasa sehingga bikin urung membaca ceritanya.

Dari novel ini saya belajar jika orang tua adalah prioritas utama dalam segala hal. Kita sebagai anak harus merendahkan hati ketika ada perbedaan pendapat. Melihat dari sudut pandang mereka dulu, baru menilai. Sebab, ketika kita kehilangan mereka, saat itu juga kita akan sadar sebanyak apapun yang sudah kita lakukan nggak pernah sebanding dengan cinta mereka. Saya beruntung masih memiliki ayah dan ibu, tapi saya sudah membayangkan jika mereka nggak ada nanti, saya nggak tau hidup saya akan sekacau apa. Saya pasti bakal merasa ada lubang besar di dada yang nggak akan pernah bisa ditutup oleh apapun.

Untuk novel yang menguras air mata ini saya memberikan nilai 5 bintang dari 5 bintang. Saya merekomendasikan buat semua pembaca untuk membaca buku ini sebab nilai-nilai hidup di dalamnya akan membuat kita seperti terlahir kembali.


INFORMASI

Sejak tanggal 12 November 2021 ini saya juga akan membuat ulasan versi video yang akan ditayangkan di channel youtube saya. 


Insyaallah akan saya upload 1 -2 hari sejak ulasan terbit di blog. 
Selain itu ulasan novel yang sudah terbit di blog ini pun akan saya coba buatkan ulasannya.

Mohon dukungannya ya!

10 komentar:

  1. Waw pingin dong baca bukunya. Jadi spoiler nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang Mbak Santi, soalnya buku ini kuat diproses penceritaan kilas balik dan bagaimana hubungan ayah-anak jadi bukan yang punya plottwist begitu 😄

      Hapus
  2. Ini bagus juga.

    Seingetku bukunya direvisi sama penulisnya karena sebelumnya udah diterbitin di penerbit indie.

    Emang agak banyak nasihat yang dimasukin, jadi kaya penuh banget gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah, makanya saya kira ini buku baru, ternyata terbitan tahun lalu. Dan saya baru tau bulan-bulan kemarin.

      Iya, banyak banget nasihat hidupnya.

      Hapus
    2. Nah, aku kaya pernah liat seliweran ini kak Ila. Kaya ngga asing nama penulisnya. Pernah ada yang ulas pas masih di penerbit indie. Ternyata udah dilamar grasindo ya. Pengen kepo jadinya

      Hapus
    3. Buku beliau kayaknya bagus2 soalnya ada yang sampe series duologi gitu. Harus nabung biar bisa kontak beliau, dan biar tau belinya dmn hehe

      Hapus
  3. Judul udah oke, tinggal pada bagian blurb bukunya sih, kalau kalimatnya bisa menarik perhatian pembeli, pasti banyak aja yang beli meski covernya kurang greget.

    Coba ceki-ceki juga ah bukunya, bagus nih banyak amanat yang disampaikan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Fenni, harus memadukan antara cover dan blurb. Biar sekali lirik langsung penasaran, lanjut baca blurb-nya, dan ah, ini novel bagus nih. Hehehe.

      Bener, Mbak, dalem pisan ini novelnya. Menyentuh hati pisan.

      Hapus
  4. Benar ya, don't juge a book by its cover. Awalnya saya kira juga novel ini nggak menarik. Karena seringnya, saya memilih novel yang saya baca dari cover dan blurbnya. Pas lihat cover novel ini kayak ada yang kurang gitu. Tapi untuk ceritanya bagus dan sepakat novel ini kaya akan nilai-nilai kehidupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, jadi pengen bilang ke Penerbitnya untuk segera ubah cover aja, biar novel ini banyak yang baca

      Hapus