[Resensi] Semusim, Dan Semusim Lagi - Andina Dwifatma

gambar diunduh dari google play book, diedit

Judul: Semusim, Dan Semusim Lagi

Penulis: Andina Dwifatma

Editor: Hetih Rusli

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: April 2013

Tebal: 232 hlm.

ISBN: 9789792295108

***

Surat Kertas Hijau

Segala kedaraannya tersaji hijau muda. Melayang di lembaran surat musim bunga. Berita dari jauh. Sebelum kapal angkat sauh.

Segala kemontokan menonjol di kata-kata. Menepis dalam kelakar sonder dusta. Harum anak dara. Mengimbau dari seberang benua.

Mari, Dik, tak lama hidup ini. Semusim dan semusim lagi. Burung pun berpulangan.

Mari, Dik, kekal bisa semua ini. Peluk goreskan di tempat ini. Sebelum kapal dirapatkan.

Sitor Situmorang, 1953

Dari sebuah sajak, seorang penulis memindahkan suatu baris dan menjadikannya suatu judul, lantas melanjutkannya dengan kalimat demi kalimat, yang akhirnya terbentuk menjadi roman ini. Saya kira itulah cara yang baik untuk merayakan keberadaan kata, di tengah dunia yang lebih sering tak sadar bahwa kata itu ada, sehingga menyia-nyiakannya. Namun menulis bukanlah satu-satunya cara, karena masih ada cara lain untuk merayakannya, yakni membacanya. —Seno Gumira Ajidarma

***

Saat melihat posting-an penulis di twitter mengenai kover terbaru novel Semusim, dan Semusim Lagi, menggiring saya untuk segera membaca bukunya. Alasan lain karena saya sudah jatuh hati dengan cerita novel beliau sebelumnya yang berjudul Lebih Senyap Dari Bisikan. Tentu buku ini tidak akan saya lewatkan.

Novel Semusim, dan Semusim Lagi menceritakan seorang gadis baru lulus SMA yang bercita-cita menjadi ahli sejarah, mendapatkan surat dari ayahnya yang sakit, yang selama ini tidak dia kenal dan ingat. Dalam surat itu ayahnya meminta untuk bertemu sebelum hal buruk terjadi. Aku berangkat ke kota S untuk memenuhi permintaan ayah sekaligus ingin mengenalnya lebih jauh. Di kota S, Aku dibantu J.J. Henri  mengurus kebutuhan hidup dan dia yang akan mempertemukan Aku dengan ayahnya.

Aku juga dikenalkan dengan putra satu-satunya J.J. Henri yang bernama Muara. Kedekatan Aku dengan Muara membawa mereka pada hubungan yang bukan sekadar teman. Sampai pada satu waktu keduanya berseteru dan berakhir dengan Aku yang menusuk leher Muara sebanyak empat kali. Aku kemudian harus melupakan semua rencana awal hidupnya karena masalah yang timbul sekarang membawa Aku ke penjara dan rumah sakit jiwa.

Sebuah pengalaman seru bisa membaca novel dengan gaya penceritaan yang renyah padahal tema novel ini terbilang berat. Dunia psikologi merupakan unsur yang menonjol sekaligus yang membingungkan saya akan kejelasan alur ceritanya. Bagaimana tidak, saya dibuat bertanya-tanya sebenarnya tokoh Aku memang gila atau pura-pura gila dan kapan dia mulai menjadi gila.

Dari awal, tokoh Aku sudah digambarkan sebagai sosok yang aneh karena selalu mempertanyakan banyak hal dan harus tahu awal mula segalanya, yang itu tidak akan dilakukan oleh remaja pada umumnya. Kepribadian Aku tidak normal dan saya menyimpulkan ini buah dari hubungan dingin dengan ibunya. Tokoh Aku bisa dikatakan sosok yang kurang kasih sayang dari orang tua sehingga pikirannya berkembang tanpa bimbingan dan jadi liar.

Kemunculan Sobron, sosok ikan koi berwarna kuning yang bertingkah seperti manusia menjadi pertanda kalau tokoh Aku mulai gila. Walau interaksi tokoh Aku dan Sobron kelihatan aneh, tapi penulis berhasil mengemas adegan mereka tampak wajar saja. Malah saya jadi mempertanyakan Sobron ini ada atau nggak ada. Sempat juga menduga jangan-jangan novel ini ada unsur fantasinya.

Penggambaran Sobron si manusia ikan mengingatkan saya pada novel series Menjelajah Nusantara karya Okky Madasari terutama yang berjudul Mata dan Manusia Laut. Tokoh rekaan fantasi ala dongeng tapi menarik dan berkarakter. Lalu saya juga membandingkan novel ini dengan novel Bilangan Fu karya Ayu Utami karena keduanya berbobot mempunyai informasi yang jarang dibahas orang dan bisa menambah wawasan pembaca misalnya tentang musik, buku, dan cerita atau sejarah mengenai suatu peristiwa.

Semua tokoh yang muncul di novel ini punya sisi misteri. Tokoh Aku memang punya pribadi yang aneh. Tapi saya tidak menemukan penyebab jelasnya. Ibunya yang seorang dokter bedah pun menyimpan keanehan sebab dia jarang komunikasi dengan anaknya karena alasan yang jarang dipilih orang tua umumnya. Ayahnya pun masih belum jelas sakit apa dan sosoknya bagaimana. Semua karakter memang tidak utuh tapi sangat pas untuk mendukung ceritanya yang penuh misteri.

Usai membaca novel ini saya menyimpulkan jika hubungan keluarga yang baik akan memberikan efek mental yang baik bagi anggotanya. Setiap yang rusak akan tetap ada cacatnya meski diusahakan agar tidak kelihatan. Dan komunikasi itu penting dalam banyak hal untuk mendeteksi masalah sedini mungkin sehingga bisa dicegah jadi masalah besar.

Untuk novel Semusim, dan Semusim Lagi saya memberikan nilai 5 bintang dari 5 bintang.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!

0 komentar:

Posting Komentar