[Resensi] Segala Yang Diisap Langit - Pinto Anugerah


Judul: Segala Yang Diisap Langit

Penulis: Pinto Anugerah

Penyunting: Dhewiberta Hardjono

Penerbit: Bentang Pustaka

Terbit: Agustus 2021, cetakan pertama

Tebal: vi + 138 hlm.

ISBN: 9786022918424

***

Rabiah ingin mematahkan mitos yang beredar selama ini, bahwa garis keturunan keluarga bangsawan Minangkabau akan putus pada generasi ketujuh. Apa pun siap dia lakukan demi mendapatkan anak perempuan pembawa nama keluarga, termasuk menjadi istri kelima seorang lelaki yang terkenal mampu memberikan anak perempuan.

Tidak disangka, penghalang utama Rabiah justru kakak kesayangannya, Magek. Setelah bergabung dengan Kaum Padri dari utara, Magek mengacungkan pedangnya ke arah Rubiah, siap menghancurkan semua yang dimilikinya: harta, adat, keluarga, dan masa lalu.

Segala yang Diisap Langit, sebuah novel tentang pergulatan manusia di tengah ombak perubahan zaman. Tak ada yang tahu ujung jalan yang kita pilih. Tak ada yang mampu menerka pengorbanan apa yang harus kita buat. Semua demi bertahan hidup.

***

Tokoh Bungo Rabiah tergolong perempuan dominan yang fanatik terhadap adat. Posisinya sebagai pewaris Rumah Gadang Rangkayo memiliki obsesi untuk mengalahkan rumor jika warisan turun temurun akan hilang sesuai takdir setelah tujuh turunan. Cara apapun akan dilakukan, termasuk menjadi istri kelima Tuanku Tan Amo demi mendapatkan anak perempuan yang kelak jadi keturunan kedelapan. Pembukaan novel ini meski mesum menjelaskan gamblang bagaimana Rabiah berusaha keras mewujudkan obsesinya itu.

Obsesi bukan milik Rabiah saja, Tuan Tan Amo pun mempunyai misi dibalik menikahi Rabiah. Sebagai lelaki penguasa yang meninggikan martabat, keluasan tanah dan banyaknya harta menjadi ukuran seberapa hebat dia. Rabiah dan Tuan Tan Amo bermain taktik untuk tujuan masing-masing sekalipun mereka adalah suami-istri.

Adat Suku Minangkabau diulas dalam novel ini dengan jeli. Terutama adat kolot di tahun Belanda masih menjajah. Kemurnian ajaran nenek moyang yang diturunkan dari praktik dan cerita, bukan melalui tulisan atau kitab, menjadi sakral tidak boleh berubah. Orang pagan percaya takdir mereka meneruskan apa yang dimulai nenek moyang. Adat murni ini dianggap benar meski dibenturkan dengan ajaran agama Islam. Pertentangan ini diwakilkan Rabiah dengan kakak laki-lakinya yang sudah tobat, Magek Tangkangkang.

Adat merupakan hasil buatan manusia, diperkuat dengan kepercayaan mereka. Tidak melulu baik dipegang apalagi diteruskan. Pada saat itu berbarengan sedang diluaskan ajaran agama Islam oleh orang Padri yang menurut saya merujuk kepada pengikut Tuanku Imam Bonjol. Dan orang Padri ini menentang kebiasaan orang pagan meminum tuak, berjudi, sabung ayam, bahkan perkawinan saudara. Kebiasaan yang bobrok sekali. Terutama urusan pernikahan saudara yang dianggap sah dan boleh jika berbeda ibu. Padahal nyata-nyata keturunan pernikahan saudara akan cacat tapi mereka tidak belajar dari itu.

Sebagai pembaca sekarang yang kerap mendapat pencerahan jika agama Islam itu lemah lembut dan penuh kasih, saya justru kurang setuju dengan cara orang Padri menuntut orang pagan tobat karena menggunakan pedang. Pada prosesnya justru muncul pembantaian. Sekalipun dikatakan orang pagan sebagai kafir, orang yang melestarikan dosa besar, dan keras kepala kepada adat, membunuh mereka saya anggap cara keliru. Istilah saat ini mereka disebut orang Islam radikal. Ini mengusik saya selama membaca bagian pembantaian oleh Magek Tangkangkang kepada keluarga orang pagan yang enggan tobat dengan dalih menegakan ajaran agama Islam. Sangat sadis.

Sebagai novel sejarah lokal, buku ini sudah mewadahi fungsinya. Memberikan fakta kondisi masyarakat pada saat itu dan membikin pembaca bersyukur karena lahir bukan di masa itu. Yang paling repot, diksi yang digunakan penulis menyesuaikan dengan masa dan tempat kejadian berlangsung di cerita sehingga saya tidak terbiasa dan agak kagok memahami. Masalah lain, nama tokoh-tokohnya tidak umum buat saya. Beberapa hampir tertukar misalnya nama Magek Tangkangkang dan Karengkang Gadang. Meski begitu, sepadan sih dengan kesan yang saya dapatkan usai membacanya, mendapat wawasan dan serasa melihat film jadul. Makanya saya memberikan novel ini 3 bintang dari 5 bintang.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!

0 komentar:

Posting Komentar