Resensi Novel A Monster Calls (Panggilan Sang Monster) - Patrick Ness


Judul:
A Monster Calls (Panggilan Sang Monster)

Penulis: Patrick Ness

Ilustrasi: Jim Kay

Penerjemah: Nadya Andwiani

Editor: Barokah Ruziati

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juli 2016

Tebal: 216 hlm.

ISBN: 9786020320816


Sang monster muncul persis lewat tengah malam. Seperti monster-monster lainnya. Tetapi, dia bukanlah monster yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang moster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan... Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor.



Novel A Monster Calls atau Panggilan Sang Monster menceritakan tentang anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Conor, yang hidupnya berubah sejak ibunya dinyatakan sakit keras, kayaknya kanker sebab kepalanya sampai dibotak, persis seperti pasien yang menjalani kemoterapi.

Sejak itu, Conor kerap bermimpi aneh pada setiap tidurnya. Dan kehidupan di sekolahnya tambah kacau sejak sahabatnya, Lillian Andrews, menyebarkan informasi ibunya yang sakit. Ia tidak ingin dikasihani sebab semua baik-baik saja. Conor juga kerap di-bully oleh teman sekelasnya: Harry dan teman-temannya, dan dia memilih tidak melawan.

Suatu malam, pada pukul 00.07, Conor didatangi oleh monster pohon yew. Walau namanya monster, Conor tidak takut, sebab monster pohon yew tidak lebih menakutkan dibandingkan monster dalam mimpinya. Pertemuannya dengan monster pohon yew seperti mimpi saja, tapi setiap ia bangun pagi, selalu saja ada jejak kehadiran monster itu seperti daun-daun pohon yew, buah berry pohon yew, atau anak pohon yang tumbuh dari lantai kayu.



Bagi Conor masalah bertambah saat neneknya datang ke rumah untuk mengurus ibunya. Hubungan Conor dan neneknya tidak harmonis jadi Conor merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Belum lagi kemudian muncul ayahnya yang kini sudah memiliki keluarga baru di Amerika, menambah beban hati Conor.

Ternyata kehadiran monster pohon yew memiliki misi menyembuhkan Conor. Setelah tiga kisah diceritakan oleh si monster, kisah keempat adalah tugas Conor untuk menceritakannya.

Kira-kira kisah apa yang akan disampaikan Conor? Dan apa yang harus disembuhkan dari Conor padahal yang sakit ibunya?


Judul sama gambar kovernya benar-benar menipu. Saya kira membaca buku ini bakal mendapatkan sensasi merinding seperti ketika sedang nonton film horor yang penuh jumpscared. Tapi eh tapi, justru saya malah menangis.

Betul, semenyentuh itu kisahnya sebab tema novel ini adalah tema keluarga. Walau menghadirkan monster, nilai keluarga di novel ini tetap paling menonjol. Di sini kita akan menemukan dinamika permasalahan keluarga seperti konflik antara anak dengan orang tua, konflik antara suami dan istri yang bercerai, dan konflik antara cucu dengan neneknya. 

Melihat masalah yang dihadapi Conor, kita akan bersimpati dengannya. Kita akan diajak memahami emosi Conor yang terus mengelak soal penyakit ibunya. Dia tahu sakit ibunya parah dan susah disembuhkan tapi Conor terus membohongi diri sendiri bahwa ibunya bakal sembuh. Itu dia lakukan karena dia belum mau mengaku dan siap kehilangan ibunya. Sumpah, bagian ini sedih banget membayangkannya.



Conor juga tidak ingin diperlakukan berbeda pasca seluruh penghuni sekolah tahu kondisi ibunya. Ia menjadi pemurung karena sebagian besar penghuni sekolah menghasihani situasinya. Conor muak dengan situasi itu.

Saya juga cukup tersentuh ketika Conor dan ayahnya berdebat soal kemunculannya sekarang saat ibunya sudah parah. Di situ jelas sekali Conor terluka dengan perceraian orang tuanya. Bahkan secara tidak langsung, Conor mengungkap keinginannya untuk tinggal dengan ayahnya, namun ditolak dengan alasan rumah mereka yang kecil. Makin patah hatilah Conor dibuatnya.

Poin menarik lainnya adalah tiga kisah yang disampaikan si monster, memiliki pesan yang terselubung. Tiga kisah yang membuat Conor dan kita sebagai pembaca diminta menebak pihak mana yang benar.

Keyakinan adalah separuh dari penyembuhan. Keyakinan dalam pengobatan, keyakinan akan masa depan yang menanti. -hal. 119

Penerjemahan novel ini sangat bagus. Ditambah plotnya yang dikemas dengan apik. Ada permainan peletakan plot sehingga peristiwa di novel ini tidak runut lurus saja demi membuat kisahnya dramatis.

Untuk ilustrasi bukunya lumayan menyeramkan. Kebanyakan agak kacau gambarnya dan untuk memahami gambar tersebut kita harus memandangnya dengan teliti. Coretan-coretannya kasar dan didominasi gelap. Cukup mempersentasikan kalau kisahnya memang segelap itu.

Novel ini ternyata pernah difilmkan pada tahun 2016 dengan judul yang sama. Saya akan menjadwalkan untuk menontonnya biar tahu lebih menyentuh mana, bukunya atau filmnya.


Dari novel A Monster Calls ini, kita bisa belajar untuk mempersiapkan diri menerima perpisahan dengan orang tersayang, terutama perpisahan dengan orang tua. Perpisahan ini harus disadari tidak bisa dihindari dan akan menimpa siapa pun. Alasan saya bisa menangis membaca novel ini karena saya belum siap kehilangan Bapak dan Ibu. Membayangkan suatu hari nanti akan ditinggal beliau, saya tidak bisa membayangkan akan seperti apa jerit tangis saya.

Novel ini punya ceritanya menyedihkan, pesannya menohok.Dan saya merekomendasikan buat siapa pun untuk membaca novel ini. Akhirnya saya memberikan nilai 5/5 bintang untuk karya Patrick Ness ini.

Demikian resensi novel dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.


2 komentar:

  1. Duh, baca artikel ini aja sudah berkaca-kaca mata saya, *sayamemangsecengengitu*. Bener ya, kalau dilihat dari judul sama covernya kirain cerita horor. Terima kasih informasinya, saya akan nyiapin tisu kalau mau baca buku ini nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, harus sedia tisu, pasti agak nyesek gitu, huhu.

      Hapus