[Resensi] Winnie The Pooh - A. A. Milne



Judul: Winnie The Pooh

Penulis: A. A. Milne

Ilustrasi: E. H. Shepard

Penerjemah: Berliani Nugrahanti

Penyunting: Suhindrati Shinta & Yuli Pritania

Penyelaras aksara: Nani & Nuraini S.

Penata aksara: cddc

Desainer sampul: @platypo

Penerbit: Noura Books

Terbit: Januari 2022, cetakan pertama

Tebal: 164 hlm.

ISBN: 9786232422957

***

"Kau Beruang Terbaik di Seluruh Dunia," kata Christopher Robin dengan lembut.

"Benarkah?" tanya Pooh penuh harap. Dan, wajahnya seketika berseri-seri.

***

Sinopsis

Novel klasik Winnie The Pooh menceritakan pengalaman-pengalaman seru yang dialami Pooh bersama Piglet, Eeyore, Owl, Rabbit, Kanga, Roo dan Christopher Robin.

Ada pengalaman Pooh memanjat pohon untuk mendapatkan madu pada sarang lebah. Ada pengalaman Pooh yang badannya tersangkut di pintu rumah Rabbit yang lubangnya kecil dan membuatnya mesti melakukan diet agar kurusan supaya bisa keluar dari lubang pintu rumah Rabit. Ada juga pengalaman Pooh menemukan ekor Eeyore yang hilang. Masih banyak petulangan lain Pooh dalam novel ini.

Resensi

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca cerita Winnie The Pooh. Secara karakter, beruang madu ini sangat terkenal tapi saya tidak pernah membaca sumber cerita aslinya. Membaca novel anak klasik ini menjadi pengalaman menyenangkan. Selain ceritanya yang ringan, kisah Pooh penuh dengan petulangan. Saya seperti sedang menenggak air mineral dari mata air langsung; jernih, sederhana, apa adanya.

Penceritaan yang dilakukan penulis dalam buku pertama ini menempatkan penulis sebagai pencerita yang sedang menceritakan kisah Pooh kepada anak laki-lakinya, Christopher Robin. Dan anaknya itu menjadi salah satu tokoh yang ada dalam ceritanya. 

Sebagai cerita yang tokohnya lebih banyak binatang, penulis tidak membuang sifat binatang mereka dan tidak memaksakan tokoh-tokohnya seperti manusia. Terutama untuk otak dan pengetahuan mereka, penulis membuat mereka terkesan bodoh. Saya jadi ingat dengan pernyataan yang mengatakan jika perbedaan manusia dan hewan yang utama ada pada akalnya. Dan penulis memakai prinsip ini.

Ada banyak kejadian konyol yang dilakukan tokoh-tokohnya. Pooh dan Piglet pernah menelusuri jejak Woozle di atas salju. Sampai di semak-semak, mereka heboh karena jejak kaki yang ditemukan bertambah. Padahal itu jejak kaki mereka sendiri akibat mereka berputar-putar mengelilingi semak. Ada juga kekonyolan Eeyore yang mencelupkan ekornya ke sungai untuk menyelamatkan Roo yang tercebur. Yang lain menelusuri sungai kemana Roo terseret arus, sedangkan Eeyore masih bertahan di posisi semula, sampai-sampai ekornya kedinginan hingga kebas. Lain waktu, Rabbit merencanakan penculikan Roo dari induknya Kanga, tapi justru berujung mereka jadi berteman.

Untuk menggambarkan karakternya, saya kutip dari perkataan Piglet mengenai teman-temannya. Pooh disebutkan punya otak kecil. Dia Sering mengambil tidakan bodoh, tapi akhirnya dia baik-baik saja. Ada Owl yang sebenarnya dia tidak pintar tapi dia tahu banyak hal. Ada Rabbit yang tidak banyak belajar dari buku tapi dia bisa memikirkan rencana-rencana cerdas. Ada Kanga, tidak cerdas dan pusat perhatiannya hanya untuk Roo, anaknya yang aktif. Ada Eeyore yang sangat merana dan gemar mengeluhkan kekurangan pada banyak hal. Piglet sendiri tipe yang pecundang karena badannya kecil dan gampang menangis. Dan Christopher Robin merupakan satu-satunya karakter manusia yang muncul dalam kisah Pooh ini. Sebagai anak-anak, Robin memiliki banyak ide untuk memecahkan masalah dan kadang menjadi rujukan bagi tokoh lain untuk meminta pendapat.


Pujian tertinggi dari saya untuk desiner sampulnya yang membuat sampul cerita dengan begitu bagus, dominasi warna kuning dan hanya menampilkan karakter Pooh dan judul saja. Kelihatan sangat bersih dan elegan. Pemilihan warna juga sangat memikat pembaca anak-anak.

Selain itu, kelebihan buku ini, di dalamnya akan kita temukan ilustrasi-ilustrasi cerita yang menarik dan berwarna. Ini akan membuat pembaca bisa menggambarkan dengan lebih jelas adegan-adegan dan suasana yang coba disampaikan penulis.


Setelah membaca novel ini, kita akan belajar banyak nilai moral. Salah satu yang paling mencolok adalah untuk selalu berbuat baik dan menolong kepada sesama. Karena pada lain waktu, kita akan diposisi meminta bantuan orang lain juga. Kebanyakan karakter di novel ini mengajarkan hal itu. Saking polosnya, beberapa sindiran mengenai kebodohan beberapa karakter tidak menjadi pikiran tokoh lain. Bagi mereka, menghabiskan waktu setiap hari harus dengan menyenangkan.

Maka, saya dengan bangga memberikan nilai 5 dari 5 bintang. Selain memberikan cerita yang membuat nostalgia dengan cerita anak-anak, pembaca akan menemukan momen hangat sepanjang membaca kisah Pooh sebab kesederhanaan ceritanya meresap ke hati dan benak.

Sekian ulasan dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!



2 komentar:

  1. selayaknya pemggambaran karakter binatang yang lugu ya din...pure dan lucu

    aku malah jadi ingat nonton Winnie The Pooh di Indosiar dulu waktu kecil wkwkwk...tiap sore tuh...dan aku suka tokoh rabbitnya biarpun jutek wkwkkw..kalau buring hantunya aku bacanya iors wkwkwk...kalau si winninya lugu dan alus banget dubbernya tuh..ga sangka ada novelnya dan ada ilustrasinya pula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener2 polos Mbak Nita, sampai gemas sendiri baca dialog-dialognya.

      Wah saya gak tau tayangan itu. Kayaknya seru kalo nonton ulang, hehe.

      Ilustrasinya keren dan berwarna. Jadi inget buku cerita yang dulu-dulu, selalu disisipkan ilustrasi. Membantu banget buat bayangin situasi kejadiannya.

      Hapus