Januari 17, 2026

Novel Mata Dan Nyala Api Purba - Okky Madasari

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Mata Dan Nyala Api Purba

Penulis: Okky Madasari

Ilustrasi dan kover: Restu Ratnaningtyas

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025, cetakan keenam

Tebal buku: 236 hlm.

ISBN: 9786020648477


Novel kover warna merah ini jadi buku terakhir dari petualangan Matara. Setelah saya membaca ketiga buku lainnya; Mata Di Tanah Melus, Mata Dan Rahasia Pulau Gapi, dan Mata Dan Manusia Laut, saya menunggu kesempatan untuk menuntaskan serial ini. Tetapi novel pamungkas ini sulit didapat. Dari beberapa perpustakaan digital yang saya ikuti (Ijak, Ipusnas, dan Ruang Buku Kominfo) saya tidak menemukan ebook novel ini. Baru di awal tahun ini saya memutuskan untuk beli buku fisiknya saja pas ada promo di Lazada.

Yang membedakan dari tiga judul sebelumnya, tokoh Matara di novel ini digambarkan sudah dewasa. Dia menjadi guru Biologi di Sekolah Semesta. Latar waktu pun dijelaskan kalau negeri ini sudah mengalami kemajuan teknologi. Banyak detail penjelasan kemajuan teknologi yang memengaruhi sistem sekolah.

Petualangan kali ini Matara tidak sendirian, dia menemani murid perempuan berusia 12 tahun bernama Binar. Keduanya terlibat proyek menciptakan binatang baru yang pada satu malam kemunculannya yang banyak mengagetkan Sekolah Semesta. Ditambah ada tragedi tangan Matara digigit mahluk itu sehingga harus menjalani perawatan.

Mahluk itu diberi nama Bibikus, penggabungan dari nama Binar dan Tikus. Yup, jadi Binar dan Matara melakukan eksperimen membuat tikus bisa bertelur dan menetaslah menjadi Bibikus. Ajaibnya Bibikus ini tercipta sebagai pemakan apa pun tapi mereka lebih suka makan tumbuhan dalam jumlah banyak. Alhasil, pertumbuhan mereka sangat pesat setiap harinya. 

Dewa, kepala sekolah di Sekolah Semesta, yang dikenal cerdas, memiliki rencana lain dengan Bibikus. Namun situasi jadi keos saat Bibikus sudah sebesar gajah dan mereka berontak kabur dari sekolah. Dalam pengejaran itu, Matara, Binar dan beberapa Bibikus terjerembab ke lubang besar dan dalam di Hutan Purba. Dalam proses mencari jalan keluar, mereka justru memasuki lorong waktu ke masa purba. Matara dan Binar akhirnya bertemu dengan manusia purba, binatang yang disebut Owa, dan raksasa purba yang disebut Homo Erectus.


Owa

Manusia Purba

Bibikus Kecil


Bibikus Besar

Secara keseluruhan, novel pamungkas ini memiliki tema petualangan yang digabungkan dengan sejarah manusia purba, yang ada mata pelajaran sejarah tingkat SMP. Selain itu, kisah petualangannya mengingatkan saya pada cerita film Jumanji. Petualangan melintasi alam raya dan bertemu dengan sesuatu yang baru di masa lampau.



Konflik utama dari novel ini soal Binar yang menyayangi Bibikus, tapi Bibikus di mata manusia purba hanya sebagai makanan. Manusia purba harus bersinggungan dengan mahluk Owa karena perjanjian damai yang dilanggar Binar. Dan di saat bersamaan, keberadaan Owa rawan diserang raksasa purba. Dari sini kita seperti melihat segitiga rantai makanan. Yang kuat yang menang. Eits, tapi di jaman purba ada kekuasaan yang kuat lainnya yaitu siapa yang bisa mengendalikan api, dialah penguasa.

Yang menarik justru pada saat menuju akhir cerita, ketika rombongan Matara, Binar, Dewa, dan timnya pulang setelah dipastikan kepunahan jaman purba, mereka memasuki lorong yang salah dan membawa ke jaman lainnya. Dewa sengaja menuntun manusia pada jaman itu ke masa depan untuk jadi bukti penemuan besarnya tapi lorong waktu menjegahnya demi peristiwa masa depan tidak berubah.

"Kita bisa pergi ke masa lalu, tapi kita tak bisa mengubah apa yang harus dan telah terjadi." [hal. 208]

"Kita bisa datang ke dunia mereka karena waktu kita lebih cepat daripada mereka. Tapi mereka tak bisa pergi ke tempat kita karena mereka ada di belakang. Waktu mereka sudah berhenti. Sudah mati!" [hal. 222]

Sebagai buku penutup serial Matara, saya cukup puas dengan cerita petualangan yang disajikan. Apalagi dalam petualangannya selalu berlatar di negeri tercinta. Tetapi, kayaknya serial ini memang pas ditujukan untuk anak SMP. Secara gaya penceritaan, diksi, dan konflik, terbilang lebih berat jika ditujukan untuk anak SD ke bawah. 

Dari keseluruhan serial ini kita bisa mengenal lebih banyak cerita urban di beberapa daerah dan cuplikan sejarah yang dibalut imajinasi. Menyenangkan untuk jadi jeda setelah membaca buku atau novel yang butuh perenungan dan menguras emosi. 

Karena serial Matara sudah kelar, saya berencana untuk membaca karya Okky Madasari yang lainnya. Tercatat baru novel 86 saja yang sudah saya baca dan kini waktunya memburu bacaan beliau lainnya, hehe.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Mata Dan Nyala Api Purba karya Okky Madasari ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Januari 16, 2026

Novel (Bukan) Pengantin Baru - Yessie L. Rismar

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: (Bukan) Pengantin Baru

Penulis: Yessie L. Rismar

Editor: Anindya Larasati

Ilustrasi & desain sampul: Amelia Maulida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Desember 2024

Tebal buku: vi + 190 hlm.

ISBN: 9786230068072


Setelah sekian lama akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca novel pertama di tahun 2026 ini. Kenapa saya memilih novel ini karena selain fresh baru dibeli pas Penerbit Elex ulang tahun, novel ini juga lumayan tipis jadi pas mulai baca sudah yakin bakal sampai selesai.

Kesan pertama di bab awal-awal, saya sudah mencak-mencak dengan konflik yang disajikan. Jadi, pasangan suami istri, Kiara dan Yaris, sudah menikah selama tiga tahun tapi mereka belum punya anak. Omongan tetangga dan omongan orang tua soal kehamilan membuat pasangan ini mesti banyak-banyak bersabar.

Tapi... masalahnya bukan karena pasangan ini ada kendala kesuburan. Masalah mereka itu cuma gagal melulu kalo mau berhubungan seksual. Mereka belum pernah bercinta.

APA-APAN INI!? TIGA TAHUN NGAPAIN AJA!! KOK LAKINYA KUAT YA!!

Dari sini saya pun kaget. Ditambah mereka terang-terangan enggan ke dokter karena bingung mesti jawab apa kalau ditanya keluhan. Yaris itu dosen, Kiara itu editor, harusnya mereka aware soal beginian, bukan bertingkah ogah-ogahan buat pergi ke dokter.

Ketika Kiara tertekan dengan omongan orang soal kehamilan, saya sebagai pembaca pengen banget ngomong lantang begini, "Ya kamu, masalah dipelihara, bukannya cepet pergi ke dokter malah bersikap sok paling dilukai orang-orang sekitar." 

Maafkeun kebawa emosi. Soalnya saya jadi ingat video seorang istri yang menyampaikan kabar ke mertuanya, sekaligus minta maaf karena belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Di situ jelas ada masalah dengan kesuburan. Sampai si mertuanya bilang, "Enggak apa-apa, Nov. Ini bukan maunya. Novi."

Kalau Kiara dan Yaris kan memang bukan karena mandul atau apa, belum tau malah masalah kesuburan mereka gimana karena belum mencoba, jadi agak susah untuk saya memahami penderitaan mereka sebab mereka sendiri memilih tidak melibatkan dokter selama tiga tahun itu.

Kiara itu punya tiga sahabat yang deket banget; Alin, Sava, dan Indi. Dan selama tiga tahun itu juga Kiara enggak coba sharing dengan mereka. Padahal, ujung-ujungnya yang jadi perantara mereka ketemu dengan dokter baik yang melabeli diagnosa medis soal kondisi Kiara itu ya sahabatnya sendiri, Sava. Coba aja mereka cerita lebih awal, pasti enggak perlu menanggung tekanan psikis selama itu.

Alasan kenapa Kiara dan Yaris gagal bercinta karena setiap kali mereka mau melakukannya, Kiara akan menegang, menutup pahanya rapat-rapat, melakukan penolakan, bahkan bisa sampai mencakar. Menurut dokter Anne kondisi ini disebut Vaginismus. Vaginismus adalah kondisi kakunya otot vagina, sehingga ketika terjadi penetrasi atau dimasukkan sesuatu, secara otomatis akan merapat.

Pasangan Kiara dan Yaris akhirnya menemukan harapan dan kelegaan karena ternyata yang mengalami kondisi seperti mereka bukan mereka saja. Di luaran sana banyak juga yang senasib. Dan kondisi vaginismus ini bisa disembuhkan. 

Teknik penyembuhannya ternyata membutuhkan alat yang disebut Dilator. Prosesnya ternyata lumayan memakan waktu dan emosi untuk istri yang mengalami vaginismus. Dan di novel ini penulis berhasil menyampaikan dengan baik bagaimana usaha keras dilatasi yang dilakukan Kiara.

Saya iseng mencari tahu apakah Dilator ini sama dengan Dildo. Jawabannya ternyata beda. 




Karena kondisi vaginismus ini, drama di novel ini begitu kental dan berhasil mengaduk emosi. Jujur, saya paling gampang dibikin sedih kalau baca cerita yang konfliknya tentang anak dan orang tua. Puncak konflik di novel ini muncul saat Kiara diminta dengan bahasa halus oleh ibu mertuanya untuk mundur dari pernikahan. Ibu mertuanya sudah merancang akan mendekatkan Yaris dengan mantan pacarnya waktu SMA, Ine.

Sedihnya mengoyak batin. Siapa pun perempuan di posisi Kiara pasti hancur hatinya karena diminta berpisah dengan suaminya. Dan lebih menyayat hati lagi saat Yaris kesal dengan ibunya dan ia memohon agar tidak dipisahkan dengan istrinya. Di posisi Yaris, ia ingin marah besar tapi lawannya adalah ibunya sendiri. Saya enggak bisa bayangin batin Yaris menahan amarah yang meledak demi tidak menyakiti ibunya. Di situlah saya ikut terbawa menangis.

Ini yang paling bener, ketika istri berkonflik dengan ibu mertua, suami memang harusnya berada di pihak istri. Dicari tahu masalahnya, dicari jalan keluarnya. Dan saya sangat terharu biru saat tahu latar belakang ibu mertua Kiara bersikap demikian. Apalagi saat akhirnya mereka saling bicara, saling memahami, dan saling meminta maaf. SUMPAH BANJIR BANDANG SEDIHNYA!

Menurut saya, novel ini mengandung banyak teladan baik untuk pasangan suami istri. Pelajaran yang enggak diajarkan di sekolah atau kuliah, tapi bisa didapatkan dari pengalaman orang-orang (walaupun ini fiksi). 

Penulis berhasil menyajikan cerita yang komplit, ada kisah manis, kisah sedih, kisah haru, juga kisah menegangkan. Drama domestik rumah tangga dituturkan dengan apik dan tidak menggurui. Diksi yang tidak bertele-tele. Dan ada wawasan baru yang disodorkan, ya soal vaginismus ini. Secara penokohan pun terasa sangat hidup. Pembaca bakal gampang berdiri di POV Kiara dan Yaris. 

Dari novel ini saya belajar soal bagaimana seorang suami mencintai istrinya, belajar bagaimana menempatkan posisi diri antara istri dan ibu sendiri, dan belajar kalau kesabaran pasti selalu berbuah baik.

Novel ini sangat saya rekomendasikan untuk pembaca yang gemar bacaan islami, konflik tentang rumah tangga, dan romansa dewasa. Dan kayaknya bakal membantu untuk pembaca yang memang sedang bersabar menunggu kehadiran buah hati dalam pernikahannya. Siapa tahu dari kisah Kiara dan Yaris ini banyak pembaca yang terkuatkan dalam proses kesabarannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel (Bukan) Pengantin Baru karya Yessie L. Rismar ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Januari 01, 2026

Hai 2026!


Ada banyak hal seru yang terjadi di tahun kemarin, baik di kehidupan nyata maupun di dunia perblogan. Dan jika dirangkum dalam satu kalimat, saya mau bilang, "Harusnya bisa lebih baik lagi."

Sedikit kecewa karena ternyata banyak hal baik yang dilewatkan. Ketidaksiapan diri ketika kesempatan datang jadi alasannya. Banyak keputusan salah yang saya ambil sehingga buang-buang tenaga, waktu dan uang. Hasilnya, progres kemajuan hidup saya hanya sedikit. Tapi kini penyesalan enggak berguna kalau tidak diambil pelajarannya.

Awal tahun harus jadi momen bagus untuk melakukan perubahan. Ibaratnya seperti membuka lembaran baru dan kembali siap menulis petualangan yang lebih seru. Di tahun 2026 ini saya ingin belajar lebih banyak. Energi belajar ini yang akan saya pupuk sepanjang tahun karena banyak hal yang ingin saya ketahui dan akan saya coba. Harapannya dengan banyak belajar, saya mempunyai kesiapan yang mumpuni untuk menyambut kesempatan dan peluang yang menghampiri. Semoga hal baik dan keberuntungan melimpah ruah di tahun ini. Amin ya Rabb!

Selain itu, di tahun 2026 ini saya juga ingin mengelola blog dengan lebih baik. Saya ingin konsisten membuat postingan setiap bulannya baik itu ulasan buku atau artikel di luar itu. Dan yang paling penting, tahun ini saya tidak ingin terbebani dengan target bacaan yang begitu ambisius sehingga ujung-ujungnya malah kelelahan sendiri, target tidak tercapai, dan tidak menikmati prosesnya. Sayang banget kan sudah meluangkan waktu membaca buku tapi sekadar ritual saja, huft! 

Dan untuk mewujudkan itu semua saya memutuskan melakukan banyak penyesuaian, dan berikut adalah target-target perblogan untuk tahun 2026:

1. Target Goodreads 2026 Reading Challenge adalah 26 buku. Artinya saya harus baca sekitar rata-rata 2 buku per bulan dan penting banget membuat ulasannya di blog. Judul apa saja yang sudah saya rencanakan untuk dibaca, bisa klik di sini: 26 Books For 2026

Ini hampir turun setengahnya dari target tahun kemarin. Tahun kemarin saya menargetkan baca 50 buku dan tidak tercapai. Saya hanya berhasil membaca 23 buku saja. Semoga dengan penyesuian ini bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

2. Mengurangi timbunan dengan fokus membaca buku-buku yang sudah dimiliki. Setelah dihitung-hitung jumlah buku yang belum saya baca sebanyak 571 buku. Jumlah yang mengerikan karena entah kapan semua bukunya bakal dibaca. Enggak kebayang tumpukannya segimana, soalnya ini belum menghitung tumpukan buku yang sudah dibaca juga. 

Untuk masalah kebanyakan TBR ini saya membuat aturan baru agar koleksi buku saya banyak yang dibaca dan jumlah TBR-nya menurun. 

Pertama, buku-buku yang jelas-jelas tidak akan dibaca harus segera dialihkan, bisa dengan cara dijual, diberikan ke orang, atau dibuang. Karena pas menghitung kemarin, banyak sekali judul-judul yang kayaknya enggak akan dibaca. Kalau enggak diakalin, pasti makin bertambah karena seiring setiap tahunnya pasti akan terbit buku-buku baru.

Kedua, Menganggarkan budget 100K setiap bulan untuk beli buku baru. Ini komitmen yang menantang karena saya hampir tidak pernah bisa membeli buku dengan anggaran segitu. Setiap bulannya selalu lebih dari itu. Tapi karena TBR yang segunung, saya harus sadar diri soal nasib buku-buku itu yang kemungkinan akan ditumpuk lebih lama.

3. Mengadakan Giveaway Buku. Sebagai bentuk rasa syukur saya ingin berbagi buku dengan pembaca lain. Ketika memberi sesuatu yang kita suka kepada orang lain jadi pengalaman rasa yang sangat menyenangkan. Pengennya mengadakan giveaway setiap bulan tapi karena melihat budget beli buku yang dibatasi jadi saya akan maksimalkan setiap 3 bulan sekali (doakan biar rejekinya lancar ya biar wacana giveaway setiap bulan bisa terwujud hehe...). 

4. Konsisten membuat postingan blog berupa Ulasan Buku, artikel Bebukuan Bulanan, artikel Notice, dan artikel Intermeso. Contoh bentuk postingan ini semua sudah ada di blog dan yang menjadi kendala saat ini perihal konsistensi membuatnya. Tahun kemarin artikel Bebukuan saja ada beberapa bulan yang tidak terbit.


Segitu saja target yang ingin saya realisasikan di tahun 2026 ini. Saya tidak bikin banyak-banyak. Sekarang sih yang penting konsisten saja. Lebih baik pasang target sederhana tapi terkendali dan bisa diwujudkan dengan santai dibandingkan target yang banyak dan malah bikin pusing sendiri.

Saya mohon doanya agar apa yang saya inginkan bisa diwujudkan dan diberkahi. Amin! Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku ya!