Tampilkan postingan dengan label nonfiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nonfiksi. Tampilkan semua postingan

Januari 25, 2026

Buku Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene - Rita Triana Budiarti

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]




Judul: Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene

Penulis: Rita Triana Budiarti

Foto: Timur Angin, Joen Ginting, Toto Prasetyanto, courtesy of Miles Film & KG Studio

Desain cover: emte

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2014

Tebal: 128 hlm.

ISBN: 9786020311616


Sempat ada di momen saya penasaran dengan film kolosal Pendekar Tongkat Emas tetapi karena kesempatan menontonnya belum ketemu, jadi saya iseng membaca buku behind the scene-nya saja.

Buku ini memuat semua proses yang dilakukan dalam pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Dimulai dari memutuskan ide cerita, lokasi, penulisan naskah, pemilihan para pemain, koreografi silat, desain artistik, kostum, tata rias, dan cerita selama di lokasi syuting.

Ternyata film ini berangkat dari nostalgia seorang Mira Lesmana pada bacaannya waktu kecil. Dia sempat mengembangkan naskah film kolosal yang diangkat dari komik silat tapi dengan pertimbangan matang Mira memutuskan membuat cerita baru yang tidak berkorelasi dengan cerita yang sudah ada. Kenapa tongkat emas yang dipilih juga dibocorkan di buku ini. Dan sutradara yang memegang film ini bukan Riri Riza, partner bikin film Mira Lesmana, melainkan Ifa Isfansyah. Detailnya baca aja ya!



Pemilihan Sumba sebagai lokasi syuting karena kebutuhan film menemukan lokasi yang masih alam banget. Hunting lokasi ke beberapa tempat indah terpotret dan Sumba sebagus itu lho. Dan ini memengaruhi pada pemilihan warna untuk kostum dan tata rias agar bisa baur dengan latarnya.

Film ini berhasil menggaet banyak bintang; Nicholas Saputra, Eva Celia, Christine Hakim, Reza Rahardian, Tara Basro, dan Aria Kusumah. Bagaimana mereka bisa bergabung terceritakan secara singkat di buku ini dan menarik sekali pertimbangan mereka.

Karena ini film silat, butuh ahli untuk membuat koreografi gerakannya. Dan tidak main-main, film ini mendatangkan Xiong Xin Xin, tokoh film dan penata koreografi dari Tiongkok. Para pemain pun digembleng silat beberapa bulan agar pada saat akting tidak kaku, apalagi harus melakukan gerakan-gerakan pertempuran yang tidak bisa asal-asalan.

Selama proses syuting, Sumba yang merupakan daerah tropis, alias jarang hujan dan kebanyakan panas, menguji ketahanan para pemain dan kru. Proses adaptasi yang dijalani pun cukup melelahkan. Membaca pengalaman pemain selama di lokasi syuting sangat menarik. 

Buku tipis ini semacam rekaman proses pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Pembaca dimanjakan betul dengan foto-foto yang indah. Tulisan yang menyertainya tak banyak jadi sebenarnya buku ini bisa dibaca tuntas dalam sekali duduk.



Setelah membaca buku ini, saya masih penasaran dengan filmnya. Tetapi jika mengikuti kata hati, kayaknya film Pendekar Tongkat Emas akan lebih dikenal masyarakat jika jadi series saja. Apalagi jika tayang di televisi, bisa jadi pilihan tontonan bagus untuk anak-anak agar nilai kepahlawan dan membela kebaikan bisa terajarkan. Seperti kehadiran film Wiro Sableng jaman dulu, dari sana penonton seperti saya seperti menemukan figur pahlawan baik lewat sosok pendekar.

Buku ini bisa menjadi bacaan singkat untuk pembaca yang penasaran bagaimana isi dari dunia perfilman lewat projek film Pendekar Tongkas Emas. Harapannya film-film lain juga membuat buku seperti ini karena menarik banget pas pembahasan ide ceritanya. Saya yakin setiap film itu punya latar belakang ide yang beda-beda dan ini pasti menarik dibahas.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku Pendekar Tongkas Emas Behind The Scene yang ditulis Rita Triana Budiarti ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Oktober 19, 2021

[Resensi] Sang Belas Kasih - Haidar Bagir



Judul: Sang Belas Kasih

Penulis: Haidar Bagir

Penyunting: Azam Bahtiar & Ahmad Najib

Penerbit: Penerbit Mizan

Terbit: September 2021, cetakan pertama

Tebal: 208 hlm.

ISBN: 9786024411985

***

Bukan saja puitis redaksinya, Surah Al-Rahman, yang merupakan surah ke-55 dalam Al-Quran juga sangat indah kandungannya. Dalam surah yang terdiri dari 78 ayat ini, Allah menggelar berbagai gambaran imbalan kebaikan berlipat ganda dan nyaris tak terbatas bagi orang-orang yang berbuat kebaikan yang sempurna (ikhsan). Bisa jadi karena taburan cinta dan belas kasih Allah di dalamnya, Surah Al-Rahman disebut juga sebagai "Arus (pengantin) Al-Quran".

Dalam buku ini juga disinggung pemahaman-pemahaman alternatif-yang lebih sufistik-atas beberapa gagasan dasar ajaran islam yang juga diungkapkan di dalam surah ini.

***

Alasan kenapa saya membeli buku ini karena sejauh ini saya kurang mendapatkan wawasan dan siraman rohani yang sifatnya keagamaan dari buku-buku yang sudah saya baca. Mendadak muncul perasaan hampa. Saya sadar betul karena hati saya masih kosong dalam pemahaman soal Islam. Maka dari itu saya membeli paket bundling buku karya Haidar Bagir dengan harapan hati saya bisa diisi ilmu Islam yang akan membuatnya melembut.

Buku yang dilabeli dengan 'Islam Cinta' ini membahas soal penjelasan surah kelima belas dalam Al-Quran yaitu Surah Al-Rahman. Surah ini mempunyai 78 ayat. Al-Rahman sendiri memiliki arti Yang Maha Pemurah. 

Allah SWT itu bersifat rahmah yang artinya belas kasih, welas asih. Sehingga nama Allah SWT selalu bersanding dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ringkasnya, sifat Allah SWT ini tertuang dalam kalimat basmallah. Sehingga kita dianjurkan untuk membaca basmallah sebelum melakukan apa pun.

Al-Quran sebenarnya sudah ditanamkan Allah SWT di dalam hati manusia. Tapi semua dikembalikan ke manusia itu sendiri, apakah mereka mempelajari Al-Quran sepenuh hati untuk mengaktualisasikan nilai Al-Quran di dalam hatinya, atau justru tidak dipelajari.

Setelah membaca sampai tuntas, saya mendapatkan pemahaman jika Surah Al-Rahman ini dibagi menjadi 4 pembahasan utama (jika keliru, mohon dapat diralat).

Pertama, permulaan surah ini pembaca akan diajak memahami sifat Allah SWT Yang Pengasih dan Penyayang. Ada penegasan bahwa sifat Allah SWT mutlak. Jika larangan dan ganjaran dari Allah SWT yang terkesan berat, semata-mata dibalik itu ada bentuk kasih dari Allah SWT.

Kedua, pada beberapa ayat selanjutnya pembaca akan diberikan penjelasan mengenai kuasa Allah SWT sebagai Yang Maha Kuasa atas segala ciptaan-Nya. Allah SWT menciptakan semesta, manusia, dan semua ciptaan lainnya, dan Allah SWT juga memelihara itu semua sehingga berada dalam posisi seimbang. Lalu jika manusia dianggap merusak keseimbangan dan memunculkan bencana, itu semata-mata Allah SWT ingin menyadarkan dan mengembalikan manusia agar kembali bersikap seimbang terhadap apa pun.

Ketiga, dibahas juga mengenai pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang datang ke masa hisab dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Pada saat penghitungan amal baik, manusia tidak ditanya apa dosa-dosanya sebab sudah ada dua malaikat yang senantiasa setia mencatat segala amal kita, baik amal baik maupun amal buruk. Dan bagi mereka yang amal buruknya lebih banyak akan ditarik ke neraka dahulu untuk dibersihkan dosa-dosanya.

Keempat, pembahasan terakhir mengenai balasan bagi orang-orang yang amal baiknya lebih banyak. Mereka akan diganjar dengan surga yang dilimpahi kenikmatan tidak terbatas. Pembahasan mengenai nikmat surga ini bahkan sampai diulang. Bedanya, pada pengulangan kedua, Allah SWT menyebutkan peningkatan nikmat surga yang tingkatannya lebih daripada penjelasan nikmat surga yang pertama.


Pada buku Sang Belas Kasih ini ada bagian yang membuat saya menangis ketika membacanya, yaitu pada halaman 176 - 180. Pada bab itu dibahas mengenai makna Ihsan. Ihsan adalah perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh ketulusan, dengan penuh keikhlasan dan juga -antara lain karena ketulusan dan keikhlasan itu- dilakukan dengan sesempurna mungkin (hal. 177).

Untuk mencapai ihsan, pembaca diajak untuk beribadah kepada Allah SWT seolah-olah kita bisa melihat-Nya. Tapi jika kita belum mencapai taraf itu, beribadahlah dengan sungguh-sungguh seperti Allah SWT tengah melihat kita.

Lumayan memukul dada ketika membahas soal kesungguhan dalam beribadah. Karena saya sendiri belum mencapai di taraf beribadah dengan hati dan beribadah sebagai sebuah kebutuhan. Belajar menuju ke arah itu ternyata pelik. Bahkan sebagai manusia biasa, saya lebih banyak tergelincir kepada ego, sehingga beribadah masih sebatas ritual. Semoga dengan membaca buku-buku bermuatan nilai Islam, saya bisa memperbaiki diri agar lebih baik, di mata Allah SWT, maupun di mata manusia.

Saya memberikan nilai 4 bintang dari 5 bintang. Sebuah buku bacaan yang kaya nilai, yang memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mendalami makna yang ada dalam Surah Al-Rahman. Bisa jadi kita sering membaca surah ini, tapi tidak pernah menyempatkan diri memahami makna di dalamnya. Dan buku ini tampaknya akan saya baca ulang ke depannya.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!