[Resensi] Satu Kisah Yang Tak Terucap - Guntur Alam



Judul: Satu Kisah Yang Tak Terucap

Penulis: Guntur Alam

Editor: Idha Umamah

Penerbit: GagasMedia

Terbit: Februari 2016, cetakan pertama

Tebal: x + 242 hlm.

ISBN: 9797808556

***

Jika aku berbagi rahasia paling rahasia, bisakah kau memastikan hatimu akan tetap miliku?

Laki-laki itu tampak asing di mata Ratna, tetapi tak sulit jatuh cinta kembali kepadanya. Dialah yang menuliskan nama mereka di pohon cinta yang melegenda di Pulau Kemaro. Tempat yang mengabadikan kisah cinta Putri Fatimah dan Pangeran Tan Bu An.

Pulau di timur Kota Palembang itu pulalah yang menjadi saksi kisah Ratna dan Lee, belasan tahun silam. Dulu maupun sekarang, binar itu masih sama. Namun, sebuah cemas bersarang dan Ratna tak kuasa mengusirnya.

Mungkin saja semua masih bisa sama saat hanya jarak yang memisahkan mereka. Hanya saja, sejauh mana kau bisa bertahan dalam sebuah rahasia dari orang yang kau cinta?

Ratna dan Lee. Bagaimana jika kisah mereka seperti legenda Putri Melayu dan Pangeran Negeri Tionghoa di Pulau Kemaro? Bahwa cinta sejati tak selamanya berakhir bahagia...

***

Ini adalah novel series Indonesiana kedua dari penerbit GagasMedia yang akhirnya bisa saya selesaikan setelah beberapa lama menjadi timbunan. Kalau bisa teriak, kayaknya timbunan bakal merengek, "Pembacaku yang baik, please, bacalah daku!" Mengabaikan pengandaian rengekan buku-buku di rak, saya masih merasakan kekentalan tema budaya di novel ini, meski dalam karya Guntur Alam ini kita akan diajak mendekat ke kebudayaan warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Palembang.

Novel Satu Kisah Yang Tak Terucap ini mengisahkan pasangan Ratna dan Lee, teman-tetangga-masa kecil, yang kembali bertemu setelah 15 tahun berpisah. Ratna tetap di Palembang, sedangkan Lee pindah sekeluarga ke Jakarta. Lee kembali karena mengikuti permintaan Omanya yang merencanakan perjodohan dirinya dengan Ratna. Lee merasa ini hal baik yang patut dicoba setelah tiga tahun lamanya dia merasa kecewa atas insiden pacarnya selingkuh dengan perempuan lain.

Namun ketika Lee bertemu dengan Ratna, dia mendapati Ratna bukan sosok yang dulu dia kenal. Ratna lebih pendiam dan sering kesal kepadanya. Lee tidak tahu kalau Ratna sama merindukannya namun ada satu rahasia yang belum pernah dia ungkap kepada siapa pun.

Isu-Isu Yang Mewarnai

Pada novel Satu Kisah Yang Tak Terucap ini ada beberapa isu yang disinggung penulis walaupun kadarnya tidak banyak. Pertama, mengenai diskriminatif terhadap keturunan Tionghoa pada masa orde baru. Sampai-sampai bagi mereka, nama china harus diganti dengan nama indonesia, percakapan pun dilarang menggunakan bahasa ibu, perayaan agama mereka pun tidak boleh dilakukan terang-terangan sehingga mereka merayakan Imlek secara sembunyi-sembunyi.

Kedua, dipaparkan pula legenda Pangeran Tan Bun An yang hendak meminang Putri Fatimah, putri Raja Sriwijaya. Syarat pinangan itu, Pangeran Tan Bun An harus menyerahkan maskawin pernikahan sebesar sembilan guci emas. Orang tua Pangeran Tan Bun An tidak dapat hadir tapi mereka mengirimkan sembilan guci yang saat dibuka berisi sawi busuk. Pangeran kecewa lalu dengan kesal dia melemparkan guci-guci tersebut ke Sungai Musi. Pada saat di guci terakhir, kakinya tersandung dan guci pecah memperlihatkan emas batangan. Pangeran tidak paham kalo sawi busuk dalam guci digunakan untuk mengelabui perompak agar emas-emas itu aman.

Dengan perasaan sedih, pangeran melompat ke dalam sungai bermaksud mengambil kembali guci-guci berisi emas tadi. Tetapi pangeran tidak juga muncul. Tersiarlah kabar kalau pengeran tenggelam di sungai ke telinga Putri Fatimah. Tanpa berpikir panjang, Putri Fatimah bergegas ke sungai dan dia pun berucap, "Bila kelak ada tanah kering muncul di tengah Sungai Musi, itulah makamku dan makam Tan Bun An." Putri menceburkan diri ke sungai dan tidak pernah kembali. 

Inilah legenda di balik keberadaan Pulau Kemaro. Nama 'Kemaro' sendiri dalam bahasa Melayu Palembang berarti kemarau.

Ketiga, orientasi seksual lesbi dan gay. Orientasi lesbi dibahas ketika pada satu hari Lee yang kembali ke apartement pacarnya, Michel, justru mendapati pacarnya itu tengah memadu kasih dengan seorang perempuan, Luna. Dari insiden ini, Lee sangat kecewa terhadap pacarnya yang sudah empat tahun menemaninya. Lalu orientasi gay dituturkan ketika Lee lulus SMA dan diajak oleh Jounatan ke kelab, mereka sampai melakukan hal terlarang itu. Kegiatan seksual (lesbi dan gay) dalam novel ini masih terbilang aman karena disinggung sangat sedikit, bisa dibilang sebagai bumbu saja. Bahkan kejadian Lee dan Jou itu lumayan mengagetkan saya karena tidak dibahas sedikit pun pengalaman ini. Tau-tau menjelang akhir cerita, penulis memaparkan hal ini.

Keempat, kekerasan seksual. Ini isu yang sudah saya duga akan muncul ketika penulis terus mengulur keputusan Ratna untuk menerima Lee. Padahal keduanya sudah secara terang-terangan saling menyukai, namun gara-gara rahasia ini keduanya tidak kunjung menemukan titik temu. Mereka justru lebih banyak bertengkar karena banyak berprasangka.

Yang mengecewakan saya, kekerasan seksual yang dialami Ratna sangat tidak jelas. Setelah penulis mengulur dari awal sampai menjelang cerita, begitu adegan Ratna mengungkapkan apa yang terjadi dan apa rahasianya, penulis tidak memuat dengan detail cerita sebenarnya. Bahkan tidak dibahas apa yang terjadi, kapan kejadiannya, dan siapa pelakunya.

"Siapa dia, Na? Siapa?" Tangis Ratna masih keras. Dia terguncang. (hal. 218)

Penulis lebih fokus menyimpan itu sebagai rahasia besar Ratna. Dan lebih mengherankan lagi, apa yang dialami Ratna tidak diketahui keluarganya. Ratna berubah sejak itu, tapi saya tidak bisa habis pikir kekuatan mental seperti apa yang dimiliki Ratna kok bisa begitu kuat menghadapi kejadian buruk itu.

Cinta Segitiga Lagi

Seperti novel Pertanyaan Kepada Kenangan karya Faisal Oddang, pada novel ini pun kembali diangkat kisah roman cinta segitiga. Ada Lee, Ratna, dan Samuel. Tokoh ketiga ini muncul sekitar pertengahan buku, untuk memberi konflik cemburu bagi Lee yang tidak ada kemajuan dengan Ratna.

Dari ketiga tokoh yang bermain rasa cinta, saya tidak terkesan oleh salah satunya. Lee termasuk pria berkarakter menawan. Dia setia dan perhatian. Namun, dia sesekali suka berpikir pendek untuk membuat keputusan sehingga jika keadaan mendukung dia akan melewatkan banyak kesempatan asmaranya. Misal, ketika Ratna mengaku tidak setuju dengan perjodohan, Lee hampir bergegas kembali ke Jakarta. Atau ketika Ratna sudah mengungkapkan rahasianya, Lee menjauh dan dia pun sempat berpikir kembali ke Jakarta.

Tokoh Ratna yang mengalami trauma akibat kekerasan seksual tidak membuat saya simpati. Sebab narasi yang dibuat penulis membentuk Ratna ini sudah dalam kondisi stabil. Dia menolak Lee, tapi gestur dan harapannya menginginkan Lee. Dan ketidakjelasan ini tidak dinarasikan dengan kejadian kekerasan seksual. 

Sedangkan tokoh Samuel merupakan tokoh paling utuh, saya rasa. Sebab alasan dia mengejar dan memperhatikan Ratna cukup beralasan. Dia juga cukup baik merespon reaksi Ratna ketika terang-terangan menginginkan Ratna.

Oya, di novel ini kita akan dibawa ke masa sekolah mereka. Alur yang disajikan penulis berupa alur maju-mundur. Masa lalu dibahas untuk menegaskan seberapa dekat hubungan Lee dan Ratna sehingga ketika mereka bertemu kembali, pembaca akan merasakan kontrasnya. Sedangkan masa lalu Ratna dan Samuel untuk mengungkapkan siapa sosok yang dekat dengan Ratna setelah Lee pindah ke Jakarta.

Apakah Novel Satu Kisah Yang Tak Terucap ini menarik?

Bagi saya, selama ada nilai kebudayaan, itu menjadi wawasan menarik. Kisah romannya tidak memang mengesankan, tapi latar ceritanya (budaya, tradisi, sejarah) cukup menutupi kekurangan itu. Dan judul novel Satu Kisah Yang Tak Terucap ini belum cukup memuaskan saya untuk memahami 'satu kisah' yang dimaksud oleh penulis. 

Nah, jika saya nilai secara pribadi novel Satu Kisah Yang Tak Terucap ini, maka saya akan beri nilai 3 bintang dari 5 bintang.

0 komentar:

Posting Komentar