[Resensi] Kastel Terpencil Di Dalam Cermin - Mizuki Tsujimura


Judul:
Kastel Terpencil Di Dalam Cermin

Penulis: Mizuki Tsujimura

Penerjemah: Mohammad Ali

Editor: Risma Megawati, Astri Pratiwi Wulandari

Ilustrasi sampul: Zacky Hudaya

Penerbit: Penerbit Clover (PT Gramedia Pustaka Utama)

Terbit: April 2022, cetakan pertama

Tebal: 496 hlm.

ISBN: 9786230305993

***

"Aku ingin menolongmu."

Kokoro merasa terusir dari kelasnya sendiri sehingga ia mengurung diri di rumah dan menolak pergi ke sekolah. Pada suatu hari, cermin di dalam kamarnya mengeluarkan cahaya terang. Dan di dalam cermin tersebut, ada bangunan misterius yang mirip sebuah kastel. Ada tujuh orang yang juga diundang ke sana-mereka yang juga menolak pergi ke sekolah seperti Kokoro.

Untuk apa mereka bertujuh dikumpulkan di kastel?

Siapakah sebenarnya sosok gadis bertopeng serigala yang mengundang mereka?

***

Premis

Novel ini menceritakan tentang murid SMP kelas 1 bernama Anzai Kokoro yang mengalami perundungan. Dia dituduh menyukai murid laki-laki dan menjadi bulan-bulanan dari murid lain bernama Sanada Miori dan teman-temannya. Sejak sore ketika Sanada dan teman-temannya mengepung ke rumah, Kokoro memilih meliburkan diri bersekolah.

Suatu hari cermin di kamarnya bersinar. Dan itu menjadi gerbang baginya untuk masuk ke dunia lain, ke sebuah kastel. Yang masuk ke dalam dunia cermin itu ternyata bukan dirinya saja, masih ada enam anak lainnya. Mereka adalah Nagahisa Subaru, Inoue Akiko, Mizumori Rion, Hasegawa Fuuka, Ureshino Haruka, dan Masamune Aasu.

Persamaan ketujuh anak ini adalah bermasalah dengan sekolah. Sebab kata Dewi Serigala, penyambut mereka di kastel, jam kunjung hanya sampai jam lima sore. Artinya hanya yang tidak sekolah yang bisa datang ke kastel. Jika kunjungan mereka lebih dari pukul lima, itu dianggap pelanggaran dan hukuman bagi pelanggar adalah akan dimakan serigala.

Yang menjadi permainan di kastel adalah ketujuh anak ini harus menemukan Kunci Permohonan dan Ruangan Permohonan. Bagi yang bisa menemukan kunci tersebut, satu permohonan mereka akan dikabulkan, apa pun. Dan jika salah satu dari mereka terpenuhi permohonannya, maka gerbang cermin akan tertutup dan ingatan mereka tentang pengalaman di kastel akan hilang. Mereka mulai bertemu pada awal bulan Mei dan masa mereka mencari kunci tersebut sampai bulan Maret tahun berikutnya. 

Awalnya ketujuh anak ini masih malu-malu, tetapi seriring waktu mereka saling memahami hidup satu sama lain. Kadang mereka bisa tertawa bersama, kadang juga mereka saling berseteru. Permasalahan yang dihadapi mereka mulai terungkap. Pergulatan mereka dengan masalah-masalah sebagai belia yang mulai menapaki hidup terasa begitu hebat. 

Siapakah yang berhasil mewujudkan permohonannya?



Resensi

Sebagai novel remaja, masalah yang disampaikan dalam novel ini begitu umum ditemukan pada anak sekolah SMP. Kokoro dan Masamune mengalami perundungan. Akiko terjebak dengan hidup bersama bapak tiri yang mesum. Subaru mengalami kebingungan tentang masa depan. Fuuka yang menjadi boneka bagi obsesi ibunya. Ureshino yang dijauhi teman karena pernah berbohong. Rion merasa rendah diri dan bersalah sebab orang tuanya tidak menganggap dia ada setelah kaka perempuannya meninggal dunia akibat sakit keras.

Masalah yang dihadapi para tokoh dalam novel ini akan menyita simpati pembaca. Saya sendiri bisa merasakan perasaan mereka di posisi itu. Apalagi mereka ini masih usia SMP. Bicara dengan teman belum terlalu leluasa, mengeluh kepada orang dewasa dianggap apa yang mereka hadapi bukan masalah besar. Mereka bingung untuk bertarung. Kebanyakan dari murid yang mengalami masalah itu berujung depresi dan bukan tidak mungkin bisa berakhir bunuh diri.

Saya bahkan begitu terharu ketika Kokoro akhirnya bisa menyampaikan apa yang ia alami hingga ia tidak bisa keluar rumah apalagi untuk sekolah, kepada ibunya. Sambil menangis dan tubuh gemetar Kokoro menceritakan kondisinya itu, padahal selama ini ia pendam sebab ia bingung bagaimana melakukannya. Dan tentu saja makin membuat mengharu biru ketika ibunya akhirnya mengatakan, "Ayo berjuang bersama." Akhirnya, ya akhirnya, Kokoro memiliki dukungan ibunya atas masalah yang ia hadapi selama ini.

Benar juga jika korban perundungan tidak bisa disalahkan karena dianggap lemah dan tidak melawan. Sebab tidak semua anak memiliki keberanian yang sama. Dan peran orang dewasa sangat dibutuhkan mereka. Jangan menganggap masalah yang dihadapi anak-anak itu bukan masalah besar. Justru masa buruk yang dialami anak-anak akan membekas selama pertumbuhan mereka. Ini akan membentuk kepribadian mereka hingga dewasa.

Yang membikin novel ini memikat saya adalah hubungan pertemanan ketujuh anak yang berproses dengan sangat baik. Dari yang tidak kenal akhirnya mereka membuka diri masing-masing. Kadang berantem, kadang saling menolong, kadang saling bersimpati, kadang menyebalkan. Tapi itu dunia anak SMP yang wajar terjadi. Dan dari situ hubungan mereka makin erat. Mereka saling memahami keadaan masing-masing.

Begitu perpisahan mulai dekat, ini momen yang bikin saya berkaca-kaca. Tidak ada perpisahan dengan kawan baik yang menyenangkan. Kehilangan teman baik itu kesedihan mendalam. Pokoknya di momen itu mereka akhirnya harus merelakan semua yang sudah mereka lewati bersama-sama. Sebaiknya kalian baca saja novelnya biar paham sesedih apa momen perpisahan itu.

Sekarang saya mau bahas soal novel fisiknya ya. 

Ini pertama kalinya saya baca novel yang diterbitkan penerbit Clover dan ternyata bagus juga. Cerita dari Jepang ini memang menarik-menarik ya. Gaya berceritanya rata-rata pelan dan detail. Ini rada menantang kesabaran sih. Tapi setelah membaca novel ini, saya jadi tidak ragu lagi untuk membaca novel terjemahan jepang lainnya.

Gaya bahasa di novel ini sangat halus, pelan, tenang, dan tidak begitu gaduh. Tidak kaku juga. Saya bisa menikmatinya. Walau ceritanya tidak meledak-ledak tapi penulis menjalin per bab-nya bikin penasaran terus. Sehingga nggak bisa berhenti membaca kisah ketujuh anak ini.

Penulis juga merajut kisahnya penuh teka-teki dan di penghujung cerita akan dibongkar banyak rahasia dan jalinan-jalinan plot-nya yang ternyata saling berhubungan. Ini yang akhirnya membuat saya puas bisa menyelesaikan novel ini, selain ceritanya yang mengaduk emosi, mengikuti dinamika ceritanya juga membuat saya seperti lega sudah melakukan perjalanan hampir setahun dengan tokoh-tokohnya.

Pengalaman membaca buku tebal yang begitu nikmat dan menginspirasi untuk membaca karya serupa lainnya, membuat saya tidak ragu memberikan novel ini nilai 5/5 bintang. Novel yang bagus dan saya rekomendasikan untuk mencari dan belajar pelajaran kehidupan.



2 komentar:

  1. ngebaca reviewnya adin lagi lagi aku jadi kepengen baca buku yang kamu ulas din heheheh...bukunya lumayan tebal dan jika dibahasakan dengan gaya bahasa pelan, dengan konflik yang menyentuh sih udah pasti menarik. Aku suka gaya bahasa yang pelan, tapi kayak ada sesuatunya gitu soalnya. Ga yang menggebu gebu gimana gitu. Malah yang slow tapi pas konflik dan penyelesaiannya malah terasa itulah yang biasanya bikin aku pengen baca din. Memang sih masalah anak anak usia belasan yang mana masih pencarian jatidiri gini ga bisa dianggap remeh...banyak sekali kisah kisah yang menggambarkan perundungan...ingat jaman sekolah aku juga dibully makanya traumanya masih terasa sampai sekarang sampe temen geng yang bully itu masih sering muncul di mimpiku loh hahhahah...serem..

    dan setuju banget di kisaran usia gini anak anak remaja kadung bingung jika karakternya ga bisa mengungkapkan masalah karena takut dianggap lebay, padahal ya kadar mental seseorang utamanya remaja dalam memghadapi masalah seringan apapun kata orang dewasa ya beda beda ya hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, sempat kena perundungan juga? Sama, saya juga pernah waktu SMP tapi ya sudahlah, sudah dimaafkan juga. Hehe. Dan mengenai remaja yang susah mengungkapkan kata hatinya, ini memang perlu diperhatikan sebab jika dipendam akan mempengaruhi mental mereka.

      Peran orang tua yang inisiatif untuk mengajak anak bercerita bisa jadi solusi. Atau peran guru BK bisa diandalkan untuk remaja membuka diri dan perasaannya ketika mereka ada di sekolah.

      Menurut saya mengetahui sejak dini problem remaja akan menghindarkan mereka dari sakit mental dan akan membawa mereka kepada keputusan yang benar nantinya.

      Hapus