[Resensi] They Saw Too Much - Alan Gibbons


Judul:
They Saw Too Much

Penulis: Alan Gibbons

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penyunting: Shafira Amanita

Penerbit: M&C (PT Gramedia Pustaka Utama)

Terbit: Oktober 2019, cetakan pertama

Tebal: 272 hlm.

ISBN: 9786024807603

Siapa yang bisa kau percayai ketika nyawamu taruhannya?

John berusaha keras melupakan masa lalunya dan pindah ke Crosby bersama keluarganya. Di tempat barunya itu, dia berteman-dan berharap bisa menjadi lebih dari teman-dengan Ceri, gadis muram misterius yang penuh rahasia.

Mereka berdua mendapatkan tugas untuk memotret sebuah objek wisata. Namun, tugas tersebut menjadi awal mimpi buruk kedua remaja itu ketika mereka tanpa sengaja memotret sebuah pembunuhan. Sejak itu, John dan Ceri harus melarikan diri dari kejaran si pelaku. Anehnya, John bersikeras tidak mau melaporkan hal ini pada polisi...

***

Sinopsis

John dan Ceri, remaja 16 tahun, mendapatkan tugas memotret tempat wisata di pantai. Seseorang dengan langkah sempoyongan menabrak John. Lalu dia melihat orang tersebut dikerubut dua orang. John memotret kejadian itu, salah satunya dengan mode flash. Tau ada yang mengetahui aksinya, dua orang tersebut mengejar John dan Ceri. Ketika mereka melihat hasil fotonya, ternyata itu adalah aksi pembunuhan.

John dan Ceri jadi target pengejaran. Peristiwa ini bahkan menyebabkan Ibu dan Adik John disekap sebab John dan Ceri berhasil lolos. Ceri meminta John untuk menelepon polisi tapi selalu dicegah. Kemana pun mereka lari, dua pria itu bisa menemukan. Akhirnya John meminta bantuan keluarga teman kecilnya, Jimmy dan ayahnya, Otis. Tapi tetap saja John dan Ceri terendus penjahat. Mereka berdua kembali melarikan diri.

Dalam pelarian ini, John dan Ceri yang bukan teman di sekolah, membuka diri untuk saling kenal. John sendiri sudah terpikat oleh Ceri sejak awal, tetapi Ceri yang tipe gadis muram sangat sulit didekati. Dan kebersamaan mereka secara perlahan membuka cerita yang disimpan masing-masing. John punya cerita tentang ayahnya yang bekerja di Doha, dan Ceri punya cerita tentang perlakuan buruk ibunya yang pecandu obat-obatan.


***

Resensi

Berangkat dari kejadian pembunuhan yang tanpa sengaja disaksikan, cerita ini bergulir menjadi aksi melarikan diri dari kejaran penjahat. Karena kedua tokoh utama masih usia remaja, keputusan-keputusan mereka dalam pelarian tersebut tergolong rawan, tidak matang. Sehingga dua remaja ini kerap berselisih paham soal apa yang harus dilakukan. 

Penulis membangun kedekatan John dan Ceri dengan sabar. John bisa sangat menyenangkan, tapi lain waktu bisa menyebalkan. Ceri pun demikian, kadang bisa jadi gadis manis yang menyenangkan, tapi lain waktu bisa berubah menjadi penggerutu. Dialog mereka yang mulai membuka diri menceritakan kisah muram yang dimiliki masing-masing membuat keduanya saling paham satu sama lain. Sampai pada puncak kasus membereskan penjahat ini, John dan Ceri mengalami banyak perubahan sikap. Pelarian mereka dianggap sebagai petualangan pencarian jati diri.

Tema keluarga lebih banyak dibahas dalam novel ini. John memiliki hubungan kurang baik dengan ayahnya yang punya masa lalu kelam. Ayahnya adalah penyebab mereka pindah rumah,. Ayahnya pergi ke Doha demi menghindari efek jahat dunia yang sempat dimasukinya. Bahkan pembunuhan di pantai yang menewaskan Leroy Brown, masih ada kaitan dengan ayahnya. Tetapi ketika keadaan sudah tidak bisa dikendalikan, John tetap menghubungi ayahnya dan berharap kepadanya. 

Dari sisi John, kita bisa belajar jika manusia tidak ada yang seutuhnya baik. Siapa pun bisa memiliki masa lalu kelam. Tetapi ketika mereka sudah berbenah jadi lebih baik, di situ kita harus menghormatinya dengan memberikan kepercayaan.

"Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau berikan."- hal. 263

Keluarga Ceri lebih suram lagi. Sejak ibunya menjadi pecandu obat-obatan, hidupnya berubah. Kebahagiaannya dirusak. Bahkan anjing kecil kesayangannya pun sampai dijual demi uang agar bisa membeli barang haram itu. Ceri tidak bisa diasuh oleh neneknya yang punya penyakit kanker dan harus dioperasi. Dia akhirnya masuk ke panti asuhan. Sikap murung Ceri dibentuk dari perjalanan hidupnya yang begitu tidak menyenangkan.

Namun setelah kejadian melarikan diri ini, Ceri menjadi sosok dewasa yang bisa melihat ibunya dengan penilaian baik sebab ibunya sedang proses menjadi lebih baik.


Tema petulangan dalam novel ini pun seru diikuti. Saya bahkan sampai ikut deg-degan ketika tempat persembunyian John dan Ceri berkali-kali bisa ditemukan dua penjahat itu. Ada aksi perkelahian, ada aksi kejar-kejaran mobil, sampai ada aksi bersembunyi agar tidak diketahui orang lain termasuk polisi. Pada momen melarikan diri ini, hubungan roman John kepada Ceri disajikan dengan manis. 

John begitu menyukai Ceri, tetapi Ceri menolak karena ia merasa rendah diri dan minus percaya orang lain. Alhasil beberapa adegan romantis berujung perdebatan karena salah sangka. Misalnya adegan ciuman John ketika ia bisa membuat Ceri tertawa senang. Di pikiran John, Ceri sudah menerima keberadaannya, tetapi Ceri marah dan meyakinkan John kalau ia tidak menyukainya.

John dan Ceri adalah tipikal remaja yang keras kepala, merasa keputusannya paling baik, dan sering menyembunyikan kata hati. Sayangnya, dalam novel ini tidak ditekankan jika John adalah remaja kulit hitam. Sempat disinggung pada awal-awal mereka melarikan diri, tapi setelahnya ciri ini tidak disampaikan ulang. Ini bisa mengaburkan pembaca soal John sebagai sosok yang bagaimana, salah-salah malah kita akan membayangkan kalau John ini berkulit putih.

"Maksudmu karena warna kulitku, aku seharusnya kenal seluruh orang kulit hitam di Liverpool?" - hal. 18.

Untuk akhir ceritanya ditutup dengan baik, setidaknya John dan Ceri bisa memulai hidup dengan tenang. Walau kalau mau dibuat sekuel, bisa saja salah satu dari penjahat yang selamat, mengejar kembali untuk balas dendam setelah ia mendekam dipenjara 8 tahun.

Hasil terjemahan novel ini sedikit agak kaku. Banyak dialog yang samar-samar diucapkan oleh tokoh yang mana. Sebab tidak ada kalimat penegasnya. Tetapi sejauh saya membacanya, tidak menjadi kendala juga. Meski begitu, garis besar ceritanya bisa ditangkap kok.

Nah, itu kesan saya setelah membaca novel ini. Dan saya memberikan nilai 3/5 bintang karena novel ini punya cerita yang akan diingat lama, tetapi novel ini bukan yang akan dibaca ulang karena ceritanya.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



2 komentar:

  1. aku juga suka terbayang dengan sendirinya tokoh fiksi tiap buku yang kubaca heheheh...dan ceri adalah tipikal tokoh cewe yang kusuka...agak gloomy misterius tapi sweet hheheh...serem juga ya berdua akhirnya kabur karena sesuatu yang ga disangka sebelumnya...tapi ya balik lagi karena usia masih remaja ya jika dalam posisi ini agak sulit betul dalam pengambilan keputusan apalagi kalau akhirnya ada sangkut pautnya dengan nyawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pelariannya bener-bener menguras tenaga sih buat yang baca, sebab beberapa tempat yang dijadikan persembunyia, selalu diketahui penjahatnya. Terus keputusan yang dipilih kedua remaja ini agak menggemaskan. Kenapa sependek itu sih mikirnya...

      Hapus