[Resensi] Ayat-Ayat Mantan - Asef Saeful Anwar


Judul:
Ayat-Ayat Mantan

Penulis: Asef Saeful Anwar

Penyunting: Ipank Pamungkas

Ilustrasi sampul: Hannan Hafizh Rizq

Terbit: 2022, cetakan pertama

Penerbit: Shira Media

Tebal: xiv + 94 hlm.

ISBN: 9786027760592

Apabila engkau

Menemukan cinta baru

Nyanyikanlah bait ini

Setiap pagi;

"Bangun tidur kuterus rindu

Tidak lupa mengingat kamu

Habis mandi kutolong ibu

Membawakan calon menantu"

***

Resensi

Buku ini tipis dan memiliki label sebagai buku Self-Improvement. Nah, saya langsung bingung, sebab di dalamnya berisi puisi-puisi atau prosa. Ini bisa dilihat dari penggalan-penggalan kalimat yang disusun bak puisi dengan membubuhkan judul pada setiap bagiannya.

Menepiskan dulu kebingungan soal hubungan label dan bentuknya, saya akui kalau buku ini asyik dibaca ketika suntuk. Pasalnya, sesuai judul bukunya, isi dari puisi-puisi di dalamnya memang menceritakan semua hal soal mantan. Rasanya hampir semua hal yang berhubungan dengan mantan dibahas. 

Seperti status mantan dan efeknya akan kita temukan pada puisi pertama berjudul Hakikat Mantan. Di situ disinggung soal apa reaksi kita saat nama mantan disebut dan penulis membaginya menjadi tiga: Mantan akan membuat kita marah tanpa alasan, mantan akan membuat kita berpura-pura tak kenal, atau mantan akan membuat kita masih merasakan sisa debaran di dalam dada. 


Membaca 41 puisi soal mantan kita akan mendapatkan pandangan baru mengenainya. Kita akan diberikan solusi ala penulis dalam menghadapi dan menyikapi mantan. 

Contohnya ketika kita mendapatkan undangan mantan apa yang harus dilakukan. Pada puisi Menghadiri Pernikahan diberikan dua opsi jika kita diposisi demikian. Pertama, jika masih belum cukup ikhlas, cukup sampaikan saja pesan ucapan selamat dan turut berbahagia. Kedua, kalau sudah berdamai dengan perasaanmu, silakan datang menghadiri. Di situ ditegaskan, "Sesungguhnya mantan paling lemah merengek minta balikan, mantan paling kuat datang ke pernikahan."

Contoh lain yaitu ketika teman kita menyukai mantan kita, mesti bersikap bagaimana kita? Ini pun dijelaskan penulis dalam puisi yang berjudul Ketika Teman Bertanya Tentang Mantan, kalau perasaan suka tidak bisa dicegah. Bisa jadi temanmu selama ini mendoakan hubunganmu bersama mantan dengan mengesampingkan perasaannya. Maka biarkan mereka berbahagia. kecuali jika temanmu pengkianat, bolehlah ditonjok sekali, sekali saja jangan lebih dari itu.

Masih banyak sisi soal mantan yang disampaikan penulis di puisinya. Kalian bisa membacanya dalam buku ini dan menurut saya cukup mengena pesan yang ingin disampaikan penulis. Kalau pun saat ini tidak dalam kondisi sedang ingat mantan atau sudah move on dari mantan, buku ini bagus untuk bernostalgia ke momen ketika awal-awal putus dulu. 

Ah, kadang kumerasa bego dulu sampai bucinnya kebangetan. Bisa jadi kita akan komentar demikian


Kovernya yang berwarna merah darah memang mencolok. Ditambah ilustrasi sampul ala kitab-kitab membuat buku ini jadi kelihatan sakral dan kaku. Bagi saya tidak cukup menarik. Saya berharapnya mendapatkan kover yang lebih lembut dan sedikit penghiburan. Berandai-andai saja, akan bagus kalau kovernya berupa foto pemandangan atau ilustrasi lukisan yang berwarna-warni pada backround putih. Duh, pasti pembaca akan banyak yang naksir bukunya.

Terlepas dari kovernya, isi buku ini lebih menarik sih. Dan saya senang membaca puisi-puisinya. Makanya saya memberikan nilai 4/5. Buku ini bisa juga untuk memantik semangat membaca setelah cukup lama kesulitan menuntaskan satu judul. Alasannya selain bukunya tipis, temanya pun terbilang ringan.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.


0 komentar:

Posting Komentar