[Resensi] Penaka - Altami N. D.


Judul:
Penaka

Penulis: Altami N. D.

Penyunting: Nonie Pahmi

Perancang sampul: Orkha Creative

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: September 2022

Tebal: 216 hlm.

ISBN: 9786020664125


Pernikahannya memang baru berumur dua tahun, tapi Sofia sudah mau menyerah saja. Suaminya tidak hanya kecanduan game online, tapi juga super berantakan. Laksana bahkan beberapa kali membahayakan anak mereka tanpa sadar. Ngawur!

Karena tidak mau terjebak lebih lama, Sofia minta cerai. Ia bertekad mewujudkan impiannya agar tidak lagi merasa ketinggalan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, sehari setelah berikrar siap menjadi single parent, Sofia terbangun dan menyadari dirinya berubah menjadi... botol minum!

Sofia panik. Situasi yang menyebabkan ia tiba-tiba berubah menjadi kucing, anjing, atau orang asing ini membingungkan. Apalagi ketika ia menemukan rahasia-rahasia tak terduga dari orang-orang terdekatnya.

Lalu, bagaimana dengan rencana-rencana hidupnya? Bagaimana nasib anak semata wayangnya yang masih balita? Sofia harus segera menemukan cara untuk bisa kembali ke wujud asalnya.

***

Sinopsis

Novel ini menceritakan pasangan suami istri bernama Sofia dan Laksana yang sudah memiliki anak perempuan berusia dua tahunan, Raisa. Hubungan suami istri ini sedang diuji lantaran sikap keduanya yang tidak sesuai dengan keinginan masing-masing. 

Sofia kesal bukan main saat suaminya di rumah disibukkan dengan main game dan bukan membantunya menjaga Raisa. Dia merasa sudah capek mengurus rumah dan anak sampai-sampai ia kesulitan untuk makan dan mandi. Sofia berharap Laksana bisa diajak gantian. Belum lagi hal remeh lainnya yang dilakukan Laksana yang membikin Sofia naik darah.

Dan Laksana geram karena Sofia selalu ribut dan cerewet tanpa lihat kondisinya yang capek sepulang kerja. Ia merasa segala hal dikomentari. Nadanya ketika diajak bicara selalu ngotot.

Suatu malam, Raisa yang sedang dititipkan kepada Laksana karena Sofia harus ke toilet, terluka akibat terbentur pojok meja. Laksana lalai karena ia sibuk main game. Kejadian ini men-trigger Sofia untuk meminta cerai.

Pada pagi harinya, Sofia kaget karena ia berubah jadi botol minum. Ia melihat kelanjutan hidupnya dari sosok Sofia lain yang sesuai keinginannya selama ini. Perceraian itu pun disetujui Laksana. Pagi berikutnya Sofia menjadi kucing, dan seterusnya, setiap ia bangun tidur, jiwanya berpindah-pindah menjadi banyak hal.

Bagaimana Sofia bisa kembali ke wujud aslinya? Dan apa kabar dengan perceraian mereka? Bagaimana nasib Raisa kalau mereka bercerai?

***


Resensi

Karena judulnya unik, saya mencari artinya di KBBI. Di situ diterangkan artinya kalau Penaka adalah sebagai; seperti; seolah-olah. Saya menyimpulkan sendiri hubungan judul novel ini dengan isi ceritanya, kurang lebih begini: Kita bisa melihat semuanya jika kita berperan sebagai sesuatu.

Novel ini punya label Metropop tapi tema yang diangkat adalah tema domestik rumah tangga. Kita diajak menyelami keluarga kecil yang baru berjalan dua tahunan, melihat konflik yang biasa muncul ketika suami istri memiliki anak kecil. Saya bisa mengerti kemarahan Sofia saat Laksana keranjingan main game. Saya tidak setuju dengan siapa pun yang mengabaikan prioritas karena game walau dalam novel ini sebenarnya ada alasan masuk akal kenapa Laksana begitu. Pada bagian ini saya ikutan kesal membaca sikap Laksana saat menghadapi Sofia yang marah-marah karena ia melakukan pembenaran tanpa menyampaikan alasannya.

Intinya adalah dalam berumah tangga perlu dibuka ruang berdiskusi selebar-lebarnya. Jangan ada yang dipendam, jangan ada yang ditutupi. Sebab kalau tidak terus terang, siapa pun akan bermain asumsi. Dan jika dilanjutkan akan bermuara pada kesalahpahaman. Jika masih dianggap remeh kondisinya, saya yakin pasangan ini akan membuat keputusan gegabah.

Yang menyegarkan dalam novel ini, ide mengubah tokoh Sofia dan Laksana menjadi bentuk lain (botol minum, anjing, burung, nenek, kakek, remaja SMA, penjaga kasir minimarket) agar mereka melihat kehidupan mereka dari sisi lain, jadi cara ampuh yang bagus. Ini pukulan telak bagi pembaca agar tidak gegabah, tidak menghakimi, tidak menduga-duga, sebab setiap orang membuat keputusan pasti memiliki dasar dan alasan. Yang dibutuhkan oleh kita adalah menilai alasan dan dasar itu sudah baik atau belum.

Mengikuti perubahan bentuk Sofia dan Laksana menjadi hal seru seperti berpetualang. Kita sebagai pembaca akan dibikin penasaran mereka akan berubah jadi apa dan apa yang akan mereka lihat. Karena jadi botol minum, Sofia akhirnya tahu bagaimana Laksana di perjalanan berangkat dan pusingnya saat kerja di kantor. Karena jadi teplon, Laksana jadi tahu bagaimana Sofia sibuk dan lelahnya mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Sudut pandang lain akan menghasilkan pemahaman yang lain. Yang paling lucu saat Laksana jadi perempuan yang sedang mens, ia kebingungan mengganti pembalut, hehe.


Gaya bahasa penulis sangat renyah dan lincah. Tidak banyak bertele-tele dan runut. Dan penggunaan dua tokoh yang sama untuk satu adegan dibedakan salah satunya dengan tulisan miring. Ini membantu sekali pembaca memahami narasi jiwa tokoh utama dan peran tokoh utama. 

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, terutama kalau kita membahas keluarga. Yang paling vokal tentu saja soal komunikasi anggota keluarga yang harus dijaga. Pelajaran lain yang mengena buat saya ketika dibahas soal keuangan dan gaya hidup. Ini penting juga diketahui oleh siapa pun, tidak melulu yang sudah nikah. Kalau kita memahami hikmah cerita di novel ini, saya yakin itu bisa jadi bekal untuk diri sendiri dan untuk kelak ketika berumah tangga.

Saya juga suka dengan penokohan yang ada. Perubahan karakter ketika mereka awal menikah, setelah menikah, saat konflik, dan saat semua mulai menyadari kekeliruan, digambarkan dengan baik oleh penulis. Ending ceritanya mampu membuat hati saya menghangat. Dan yang pasti, kita akan diajak untuk menjadi lebih dewasa, baik bersikap atau pun bertindak. 

Gradasi emosi yang disajikan dalam cerita di novel ini berwarna. Pembaca akan dibikin kesal di awal, diajak seru-seruan di tengah, lalu kita akan dibuat tumbuh lebih besar di akhir cerita. Novel ini menyegarkan dan memberi makna lebih. Meski terbilang tipis, buat saya novel ini bernilai tebal.


Beberapa kutipan yang menarik buat saya sebagai berikut:

  • Mereka yang berhasil mengendalikan diri dan terbiasa dengan kebaikan, niscaya akan berpikir dan berperilaku terpuji juga dalam kesehariannya. (hal. 14)
  • Rumah itu soal rasa, tempat penghuninya berbagi rasa sama-sama. (hal. 32)
  • Kesempatan itu momen, tidak datang dua kali. (hal. 50)
  • Manusia sering kali baru menyadari betapa berharganya sebuah kesempatan jika tidak lagi bisa mendapatkannya dengan cuma-cuma. (hal. 194)
  • Terkadang hal yang kita inginkan bukan hal yang kita butuhkan. (hal. 204)
  • Sesuatu yang dimulai dengan nggak baik itu seperti bom waktu, tinggal nunggu meledaknya. (hal. 209)

Untuk kovernya yang didominasi warna orange cukup bikin menarik. Gambar ketiga karakter inti yang berada di depan pintu saling melingkar cukup menggambarkan isi cerita tentang keluarga. Enggak pernah kecewa sih sama pilihan sampul penerbit satu ini. Variatif.

Keseluruhan cerita novel Penaka ini menarik dan unik. Ditambah konflik yang relate dengan banyak orang, novel ini akan sangat berharga dibaca oleh mereka. Saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Yakin dah, banyak hal baik yang akan didapatkan. Dan saya memberikan nilai 4/5 bintang untuk novel ini.

Sekian ulasan saya, terakhir, terus jaga kesehatan dan jangan lupa baca buku!



2 komentar:

  1. Penasaran sama tokohnya yang bisa jadi benda2. Kayaknya seru baca novel metropop yang beda gini ya. Jadi mirip genre fantasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mbak Ila, seru dan bikin penasaran bakal jadi apa lagi nih tokohnya. Dan yang penting pesan soal keluarganya mengena pisan. Rekomendasi banget novel ini...

      Hapus