Juli 30, 2026

Pelan-Pelan Bersenang-Senang Untuk Lebih Baik.


Hai!

Kesempatan kali ini saya nggak akan mengulas buku atau pamer buku baru. Saya justru pengen bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan saya sehingga beberapa waktu di blog ini tidak ada update apa-apa soal bebukuan.

Sampai saya menuliskan postingan ini, jujur, minat baca saya masih tertatih-tertatih. Saya tetap membaca buku tapi tidak ada yang benar-benar selesai. Pernah mencoba untuk membaca pelan-pelan, hanya beberapa halaman tiap hari, tapi pada waktu tertentu sifat buruk saya kambuh, mengganti bacaan dan ujung-ujungnya nggak ada yang selesai. Saya stres!

Jebakan ini mungkin ada kaitannya dengan kehidupan saya yang memang sedang banyak masalah dan menguras waktu dan energi sehingga kepala ini rasanya mau meledak duluan. Kondisi begini jelas tidak bisa diajak untuk bersantai membaca buku karena riuhnya di kepala.

Fase sangat muak dengan hidup, merasa bersalah dengan deretan TBR, malu karena tertinggal dari banyak orang, membuat saya memutuskan untuk menikmati rehat tanpa mesti memaksakan diri untuk terus kelihatan semuanya baik-baik saja. Saya bener-bener membiarkan diri ini mengikuti alirannya. Walau tidak mudah ya, karena ada waktunya saya juga masih terpancing dengan pergulatan batin yang membuat saya terpuruk semakin dalam. 

Yang saya sesali sampai detik ini, saya belum bisa melepaskan emosi yang masih mengendap. Dibawa menangis pun tidak bisa. Padahal saya tahu dengan menangis bisa merilis semua gumpalan emosi buruk yang selama ini tertekan dalam diri. Saya pengen banget nangis.

Tapi daripada menunggu momen itu datang, saya mencoba membuka diri dengan ikhlas. Hidup sudah sulit, tapi saya nggak mau membuat badan saya ikut sakit-sakitan karena kesulitan itu. Mental pun demikian, saya harus menjaganya sebaik-baiknya. 

Apa saya sungguhan sudah membuka diri dan menerima diri sepenuhnya?

Belum. 

Ini masih mencoba pelan-pelan. Ibaratnya saya sedang berdiri di depan pintu rumah tua. Engsel pintu macet, dan saya akan membukanya pelan-pelan. Sebelum masuk ke dalam rumah tua itu, saya ingin udara di dalamnya sudah tidak pengap. Caranya dengan membiarkan pintu depan tadi tetap terbuka agar angin pengap diganti dengan angin dari luar yang lebih baru.

Sembari menunggu udara baru masuk ke dalam, saya masih berdiri dengan menghela nafas dalam-dalam. Pintu di dalam hati pun mesti dibuka lebar-lebar. Saya membiarkan diri ini menjadi ringan. Saya membiarkan diri ini diliputi kesadaran. Saya coba melepaskan obsesi. Saya ingin memutuskan semua belenggu yang tidak terlihat mata tapi semuanya nyata menahan saya dari kejujuran.

Capek. 

Tapi saya enggak boleh menyerah hari ini. Saya pun memutuskan untuk kembali mencoba. Yup! Saya akan mencoba lagi. Dengan lebih sederhana, dengan lebih menyenangkan, dengan lebih nikmat. 

Saya tidak mau diliputi penyesalan karena putus asa. Saya masih sangat kuat untuk membereskan dan memulai semua lagi, meskipun harus dari nol. 

Saya akan belajar menerima diri sendiri dengan jujur dan ikhlas. Saya akan belajar, belajar, dan belajar lagi.

Semesta, tolong dukung perjalanan ini. Saya tidak minta semua jadi mudah, cukup kuatkan saya untuk bisa mengendalikan situasi agar saya tetap waras.

Semesta, ijinkan saya pelan-pelan bersenang-senang untuk lebih baik