Agustus 30, 2026

Review Komik Vagabond Bind Up Vol.2 - Inoue Takehiko

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Vagabond Bind Up Vol.2

Penulis: Inoue Takehiko

Penerjemah: E. P Amanda

Editor: Niken

Desain sampul: Jojo

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Juli 2026 

Tebal: 438 hlm.

ISBN: 9786230078651


Biksu Takuan menganggap Shinmen Takezo sudah mati dan dia mengganti nama Takezo dengan nama baru, Miyamoto Musashi. Untuk menjadi samurai yang kuat, Miyamoto pergi ke Kyoto, daerah yang lebih maju. 

Di Kyoto terkenal sebuah Dojo hebat yaitu Dojo Yoshioka dan kepalanya adalah Yoshioka Seijuro. Miyamoto datang menantang dan berhasil membunuh lima murid Dojo Yoshioka. Pada pertemuan duel itu, Seijuro justru menolak untuk bertarung. Yoshioka Denshichiro, adik Seijuro, yang kemudian menantang Miyamoto bertarung dengan alasan kelima muridnya yang tewas. Mereka bertarung sengit namun tidak berlanjut karena dojo mengalami kebakaran. 

Peristiwa ajakan duel dan kebakaran dojo menjadi berita besar. Matahachi yang menyaksikan duel itu justru jadi buron sebagai pelaku pembakaran dojo. Sedangkan Miyamoto yang terluka dalam duel yang belum tuntas itu diselamatkan oleh Biksu Takuan. 

Keberadaan Miyamoto bukan diketahui oleh Matahachi saja, Akemi pun akhirnya tahu. Begitu juga dengan Nenek Hon'iden yang pergi berkelana untuk mencari tahu keberadaan anaknya, Matahachi.

Miyamoto mengakui kalau dirinya masih belum cukup kuat. Dia memutuskan untuk pergi ke Nara. Tantangan pertama adalah dia harus mengalahkan biksu yang ada di Hozoin Pusat Tombak. Kedatangannya justru didahului oleh Gion Toji, pengawal andalan Seijuro. 

Miyamoto bertemu dengan biksu tua yang memiliki aura membunuh yang kuat. Banyak teka-teki ucapan yang disampaikan oleh biksu tua itu terutama tentang makna menjadi kuat.

***


Melanjutkan cerita di volume 1, kali ini sosok Takezo yang sudah berubah nama menjadi Miyamoto terkesan lebih dewasa meski umurnya baru 17 tahun. Tapi sedewasa-dewasanya dia, sisi emosional dan ambisiusnya sangat kuat. Saya sendiri heran pikiran apa yang membuatnya selalu mau menantang orang kuat padahal dia sendiri tidak rajin latihan untuk mempersiapkan kekuatannya. Tindakan yang ceroboh menurut saya sih.

Di sini juga mulai menyentuh sisi sentimental pria yang jika hatinya terpaut gadis, pikirannya susah fokus. Rasa gelisah dan kangen kepada Otsu sungguh merepotkan pikiran Miyamoto. Dan percakapan antara Miyamoto dan Biksu Takuan tentang perasaan kepada lawan jenis ini sangat bijaksana. 


Jika hatimu terpaut hanya pada selembar daun, pohon jadi tidak terlihat. Jika terpaut pada sebatang pohon, hutan tidak lagi tampak. Jangan menambatkan hati pada apa pun. Jangan melihat sebagian, lihatlah keseluruhan.


Kisah romansa Miyamoto sepertinya akan pelik dengan keberadaan dua gadis yang sama-sama menaruh perasaan kepadanya. Selain itu, kita juga akan melihat sisi melow dari Matahachi yang ternyata keputusannya untuk pergi dengan Oko dan Akemi bukan keputusan tepat. Apalagi ditambah penyesalannya karena meninggalkan Takezo.

Dalam volume ini banyak bangat adegan aksi yang disajikan. Ceritanya makin seru dan mulai berkembang lebih luas karena akhirnya Miyamoto mendapatkan lawan yang berlapis-lapis sesuai kekuatannya. 

Komik ini ditutup dengan pembukaan duel yang pasti akan sangat sengit antara Miyamoto dan Gion Toji setelah Miyamoto mengalahkan Biksu Agon. Saya akan sangat menunggu kelanjutannya di volume berikutnya.

Dari komik ini saya disadarkan tentang makna kekuatan dan tentang siapa diri kita. 


Kita bisa tahu seperti apa sebenarnya orang yang disebut kuat pada saat kita benar-benar jadi orang kuat.

Selagi berenang di laut kita tidak akan tahu seluas apa lautan itu, kan?


Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca komik ini dan hanya butuh beberapa waktu saja untuk menyelesaikannya. Petualangan dalam menemukan jati diri seorang Takezo alias Miyamoto memang masih sangat jauh tapi kisahnya patut dinantikan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk komik Vagabond Bind Up Vol.2 karya Inoue Takehiko ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Agustus 29, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata Dari Barat) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: September 2022

Tebal: vi + 450 hlm.

ISBN: 9786230307676


Di malam setelah perayaan pernikahan, Pangeran Torin ditusuk penyusup saat sedang tidur dan Marriane yang sebelumnya menyerang penyusup itu jadi tertuduh sebagai pelaku. Ia pun diadili Raja dengan menghadirkan kesaksian-kesaksian palsu bahkan dari orang kepercayaannya, Sharpe dan Bornn.

Marriane berhasil kabur dan atas bantuan Raoul, peramal dari Pulau Ketiga, ia pun berlayar menuju Kepulauan Barat. Tujuannya bertemu Esther untuk mempelajari sihir walaupun setibanya di Pulau Salju ia tidak menemukan Esther. Marriane diperbolehkan tinggal dengan keluarga penjaga Kuda Salju hingga ia ditemukan oleh Para Pelindung. 

Marriane dibawa ke Kerajaan Barat dan kehadirannya tidak disukai oleh Arlan dan Eena sebagai keluarga Pangeran Rafe, anak muda yang disiapkan menjadi pewaris Kerajaan Barat. Berkat Gaius, penyihir dan penasihat kerajaan, Marriane belajar ilmu penyembuhan dan sihir. Namun ternyata Gaius memiliki motif lain hingga penyiksaan demi kekuatan sihir yang lebih kuat tak terelakkan.

Mampukah Marriane bertahan sekali lagi?

***



Saya sangat penasaran dengan petualangan Marriane pasca musuh sekaligus ayah palsunya tewas. Kira-kira dia bakal menghadapi musuh siapa lagi karena sepanjang buku kemarin tidak terdeteksi lawan kuat yang akan menyusahkan. 

Dan ternyata dramanya semakin kuat saja. Selain dituduh sebagai pelaku percobaan pembunuhan, Marriane juga dikhianati banyak pihak dan membuatnya terpuruk. Tapi yang lebih menyebalkan karena karakter Marriane di babak dua ini semakin dibuat kebingungan. Sedikit-sedikit dia khawatir dengan Pangeran Torin padahal saya tahu betul pernikahan mereka hanya politik dan perkenalan mereka pun sangat minim. Sedikit-sedikit ia galau karena meninggalkan Bornn. Yang sedikit-sedikit inilah yang membuat saya kesal karena Marriane makin banyak melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya selalu dalam masalah.

Tapi saya sangat suka dengan dunia yang dibangun penulis di Kepulauan Barat ini karena unsur sihir digali lebih jauh. Kemunculan Kuda Salju menjadi momen ajaib yang menegaskan kalau sihir masih eksis. Raptor air pun kembali muncul namun setelah Marriane bisa mengendalikan sihirnya.

Petualangan Marriane pun makin seru sebab di Kepulauan Barat ini dia bertemu dengan banyak orang-orang baru dan dia harus adapatasi dengan ketidaktahuannya. Marriane pun mulai berseteru dengan pihak Kerajaan Barat karena tahta yang kosong sedianya sudah disiapkan untuk pangeran muda, Pangeran Rafe.

Kemunculan Gaius sangat melegakan karena akhirnya Marriane bisa bertemu guru yang ahli sihir. Beberapa kali percobaan untuk mengasah sihir pada diri Marriane membuat saya lumayan terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan lagi karena Gaius tidak sebaik yang dipikirkan Marriane dan Pelindung lainnya. 

Ada adegan mengejutkan pada akhir novel ini yang sengaja dibuat penulis untuk jadi momen besar yang akan ditemukan di buku selanjutnya.

Di sini juga dibahas soal romansa LGBT. Tapi tenang saja porsinya sangat kecil dan penjelasannya halus jadi masih aman buat yang LGBTphobic.

Untuk penerjemahannya masih stabil bagusnya. Saya tidak menemukan kesulitan sepanjang membaca novel ini. 

Yang membuat saya agak kurang suka di novel ini soal karakter Marriane yang berbeda sekali dibandingkan dengan novel pertamanya. Di sini muncul karakter seorang gadis pada umumnya. Kebingungan soal perasaan kepada lawan jenis yang kemudian berimbas pada banyak kebodohannya. Saya sempat menebak apakah perubahan ini karena tujuannya untuk menjadi Viper tercapai dan itu membuatnya arogan dan berleha-leha. Tapi rasanya aneh kalau karakter pejuang dan keras yang dibentuk dari kecil hilang sejekap mata. 

Karakter lain dari tokoh-tokoh baru berhasil dimunculkan memberi warna cerita. Namun memang tidak ada pendalaman karena waktu kebersamaan dengan Marriane tidak begitu banyak sehingga saya hanya melihat karakter luarnya saja, baik itu Gaius ataupun Para Pelindung.

Secara keseluruhan novel ini tetap seru. Ini adalah pengenalan Marriane dari tempat asalnya. Ini juga momen Marriane mengenal sihir lebih jauh lagi. Dengan akhir cerita yang mengejutkan, buku ketiganya harus segera dibaca karena penasaran.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Agustus 23, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Maret 2021

Tebal: 448 hlm.

ISBN: 9786230304194


Saya senang sekali karena bisa membaca buku ini sampai selesai. Setelah beberapa waktu tidak ada bacaan yang selesai, ini perlu banget dirayakan.

Novel ini tuh menceritakan perseteruan anak gadis dan ayahnya dengan latar kapal dan laut. Marriane memberontak dari Adler, ayah sekaligus seorang viper, karena ternyata ayahnya lebih jahat dari yang ia kira. Selain membunuh, ayahnya juga berkhianat kepada kerajaan. Dan Marriane yang sudah siap untuk dinobatkan jadi snake dengan tes harus membunuh orang yang tidak bersalah, dia memilih kabur dan melarikan diri dari kejaran ayahnya yang murka. Marriane tidak mau menjadi seperti ayahnya.

Petualangan Marriane mengarungi lautan dan beberapa pulau di Kepulauan Dua Belas penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Rahasia hidupnya terungkap dan kekuatan sihir yang tertidur mulai menggeliat. Batas Kepulauan Barat dan Timur dilewati saat pertempuran besar terjadi. Makhluk raptor air yang selama ini dipercaya sebagai mitos ternyata bisa dipanggil oleh Marriane. 

Berhasilkan Marriane melawan ayahnya?

***



Cerita petualangan di laut di novel ini tuh seru banget. Kehidupan di kapal Maiden dan orang-orangnya diceritakan sangat meyakinkan. Sebagai armada penjaga lautan, kebanyakan hidup viper dan para snake berada di laut. Mereka tunduk pada titah raja dan harus mengamankan kepulauan dengan menyerang kapal-kapal bandit atau pun serangan dari luar kepulauan.

Petualangan menuju pulau-pulau di Kepulauan Dua Belas pun sangat menarik. Setiap pulau punya ciri khas masing-masing. Pulau Raja jadi pulau utama tempat kepemimpian raja berdaulat. Pulau Ladang sebagai pemasok hasil Pertanian. Pulau Bunga dipenuhi aneka bunga yang bisa digunakan sebagai bahan obat-obatan. Pulau Batu sebagai tambang permata. Sayangnya tidak semua pulau di Kepulauan Timur dijelajahi dengan detail. Sementara pulau di bagian Barat masih sangat misterius karena di novel ini belum banyak penjelajahan ke sana.

Rahasia asal-usul Marriane pun sangat mengejutkan karena di awal sempat dibahas tentang ibunya namun tidak lengkap. Lambang V pada kompas yang diberikan Grace pun memberi petunjuk walaupun awalnya semua orang mengira V itu lambang Viper. Dan semua terbongkar ketika Marriane bertemu Esther di Pulau Delapan. Esther adalah teman dari ibunya Marriane dan memiliki hubungan romansa dengan Adler di masa lalu. Sejak mengetahui cerita lengkap tentang orang tuanya, keinginan Marriane untuk menghabisi ayahnya semakin membara.

Bukan hanya drama keluarga antara ayah dan anak yang diceritakan novel ini, tapi ada romansa menyedihkan yang ditonjolkan juga. Marriane dan Bornn adalah sahabat sejak kecil sejak mereka bergabung di Kapal Maiden. Ketika beranjak dewasa perasaan itu perlahan berubah tetapi keduanya enggan melewati batas yang selama ini sudah terbentuk. Pergulatan perasaan itu semakin hebat saat Marriane harus bertunangan dengan Pangeran Torin atas gagasan ayahnya. Meski pertunangan itu bentuk politik bukan perasaan, Marriane dan Bornn tetap harus menanggung jarak yang semakin jelas bagi keduanya.

Unsur sihir yang sebelumnya diceritakan sudah dihilangkan keberadaannya di Kepulauan Timur mulai muncul lagi lewat Marriane. Beberapa peristiwa keberadaan sihir bisa dirasakan, termasuk saat muncul raptor air berkat campur tangan sihir yang dilakukan Marriane. Namun penulis tidak ingin buru-buru membongkar keberadaannya dan ini patut ditunggu di novel berikutnya.

Sebagai novel aksi, kita juga bakal menemukan banyak pertarungan senjata, perkelahian, bahkan tindakan kekerasan yang membuat ngilu dan jijik. Yang paling saya ingat yaitu saat Marriane disiksa dengan dicabut kukunya dan itu bikin saya meringis membayangkannya kesakitannya. Apalagi setelah itu dia harus mendaki bebatuan dengan tangan kosong, makin-makin ngilu saja.


Untuk penerjemahan novelnya sangat bagus. Rasanya mengalir banget pas bacanya. Walau ada nama-nama aneh seperti nama bunga yang terasa asing tapi tidak membuat sendatan. Dan kalau melihat sampul novel ini, saya cuma bisa kasih satu kata, "Apik".

Tokoh-tokoh di novel ini sangat banyak tapi penulis mampu menempatkan mereka pada porsi yang pas. Adler, Marriane, Bornn, Pangeran Torin, dan Grace cukup menonjol. Sedangkan tokoh lainnya muncul di waktu yang pas sehingga tidak mengganggu jalur cerita tokoh utamanya tapi kita tetap bakal ingat keberadaannya. Misalnya tokoh Toby, anggota kapal Maiden paling muda, atau Sharpe, pengawal kepercayaan Pangeran Torin. Belum lagi beberapa anggota snake di Kapal Maiden yang pada beberapa momen kemunculannya sangat penting untuk cerita.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati cerita Marriane di novel ini dan saya tidak sabar ingin segera lanjut baca buku keduanya karena sudah terpantau trilogi buku ini sudah lengkap diterjemahkan.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!