Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan

September 27, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Januari 2024

Tebal: 384 hlm.

ISBN: 9786230312557

Peringkat: 4 Bintang


Marianne bangkit dari kematiannya dan itu tanda kalau ia sudah genap jadi penyihir. Tujuannya kali ini adalah kembali ke Kepulauan Timur untuk menyelamatkan Torin dan meminta bantuannya untuk membentuk pasukan dalam rangka mempersiapkan perang besar melawan Gaius.

Pertemuannya dengan Born menjadi sangat kaku. Terasa ada jarak lebar yang membentang. Dan lebih membingungkan lagi ketika Marianne melihat sepupunya, Ravyn, yang menyukai Born juga. Pikiran buruknya, jangan-jangan selama ia tidak bersama Born, posisinya sudah digantikan Ravyn.

Untuk membentuk pasukan yang cukup besar butuh usaha yang sangat keras. Kondisi Kepulauan Timur yang sedang tidak baik-baik saja membuat rencananya sulit diwujudkan. Marianne mengajak Para Peramal untuk ikut bergabung namun ditolak. Akhirnya, pasukan yang ada dipersiapkan dengan lebih baik.

Rombongan Marianne kembali ke Kepulauan Barat. Dan kedatangannya ini disambut dengan banyak peristiwa tragis dan banyak kematian. Marianne beberapa kali merasa usahanya untuk melawan Gaius tidak akan berhasil karena sihir dalam tubuhnya susah dikendalikan. 

Namun, ia tidak punya pilihan untuk mundur karena semakin Gaius kuat, maka semuanya akan mati. 

Bagaimanakah perang besar antara dua penyihir ini akan berakhir?

***


Akhirnya buku ketiga dari series Isles Of Storm & Sorrow ini selesai dibaca juga. Penutup cerita yang bagus untuk mengakhiri perjalanan dan perjuangan gadis muda bernama Marianne.

Menurut saya di buku terakhir ini cerita mulai berpusat pada bagaimana Marianne mempersiapkan peperangan besar untuk mengalahkan Gaius. Selain mengumpulkan pasukan, dia juga fokus belajar menerima dirinya sebagai penyihir agar kekuatan itu bisa dikendalikan. 

Dan pada fase ini, banyak sekali kematian yang disajikan. Emosi Marianne dibolak-balik tapi ia tidak punya waktu banyak untuk meratapi kesedihan karena ia pun sedang kejar-kejaran dengan waktu sebelum Gaius lebih dulu membantainya. Beberapa momen kehilangan itu membuat saya sedih juga karena saya kira tokoh-tokoh itu akan sangat berguna membantu Marianne dalam pertempuran terakhirnya. 

Perkembangan romansa antara Marianne dan Born pun mulai digali lebih dramatis. Apalagi penulis menghadirkan orang ketiga, yaitu sepupu Marianne sendiri, Ravyn, sebagai ujian perasaan yang menghadirkan letupan-letupan cemburu. 

Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Adegan ajaib dari ilmu sihir pun mulai banyak ditunjukkan seiring semakin bertambah kemampuan Marianne. Bahkan pada peperangan besar pun akhirnya sihir itu disajikan dengan epik. 

Di sini pun ada kejutan tentang sosok yang dekat Marianne tapi menjadi pengkhianat. Motif yang cukup relevan dan penulis benar-benar halus sekali membuat pengkhianat ini bisa dideteksi.

Yang menurut saya kurang di novel ketiga ini adalah adegan perang besarnya kurang bombastis dan durasi penceritaannya kurang panjang. Adu sihirnya belum beragam dan saya tidak menemukan klimaks pertempuran yang membuat pembaca bisa berdebar-debar. Perang besarnya hanya disajikan dalam beberapa halaman saja padahal perang ini adalah puncaknya, harusnya penulis menceritakan dengan detail, berurutan, memberi peningkatan intensitas cerita, dan harusnya diakhiri dengan pertempuran yang berkali-kali. Sangat disayangkan sekali.



Secara keseluruhan, saya sangat menikmati bagian akhir dari perjuangan seorang Marianne. Series ini mengajarkan kita untuk tidak pantang menyerah dan mengingatkan tentang penerimaan diri atas berkat yang diberikan. Jika kita menerima diri sendiri dengan jujur, kemampuan terbaik kita akan muncul dengan sendirinya.

Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Agustus 29, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata Dari Barat) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: September 2022

Tebal: vi + 450 hlm.

ISBN: 9786230307676


Di malam setelah perayaan pernikahan, Pangeran Torin ditusuk penyusup saat sedang tidur dan Marriane yang sebelumnya menyerang penyusup itu jadi tertuduh sebagai pelaku. Ia pun diadili Raja dengan menghadirkan kesaksian-kesaksian palsu bahkan dari orang kepercayaannya, Sharpe dan Bornn.

Marriane berhasil kabur dan atas bantuan Raoul, peramal dari Pulau Ketiga, ia pun berlayar menuju Kepulauan Barat. Tujuannya bertemu Esther untuk mempelajari sihir walaupun setibanya di Pulau Salju ia tidak menemukan Esther. Marriane diperbolehkan tinggal dengan keluarga penjaga Kuda Salju hingga ia ditemukan oleh Para Pelindung. 

Marriane dibawa ke Kerajaan Barat dan kehadirannya tidak disukai oleh Arlan dan Eena sebagai keluarga Pangeran Rafe, anak muda yang disiapkan menjadi pewaris Kerajaan Barat. Berkat Gaius, penyihir dan penasihat kerajaan, Marriane belajar ilmu penyembuhan dan sihir. Namun ternyata Gaius memiliki motif lain hingga penyiksaan demi kekuatan sihir yang lebih kuat tak terelakkan.

Mampukah Marriane bertahan sekali lagi?

***



Saya sangat penasaran dengan petualangan Marriane pasca musuh sekaligus ayah palsunya tewas. Kira-kira dia bakal menghadapi musuh siapa lagi karena sepanjang buku kemarin tidak terdeteksi lawan kuat yang akan menyusahkan. 

Dan ternyata dramanya semakin kuat saja. Selain dituduh sebagai pelaku percobaan pembunuhan, Marriane juga dikhianati banyak pihak dan membuatnya terpuruk. Tapi yang lebih menyebalkan karena karakter Marriane di babak dua ini semakin dibuat kebingungan. Sedikit-sedikit dia khawatir dengan Pangeran Torin padahal saya tahu betul pernikahan mereka hanya politik dan perkenalan mereka pun sangat minim. Sedikit-sedikit ia galau karena meninggalkan Bornn. Yang sedikit-sedikit inilah yang membuat saya kesal karena Marriane makin banyak melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya selalu dalam masalah.

Tapi saya sangat suka dengan dunia yang dibangun penulis di Kepulauan Barat ini karena unsur sihir digali lebih jauh. Kemunculan Kuda Salju menjadi momen ajaib yang menegaskan kalau sihir masih eksis. Raptor air pun kembali muncul namun setelah Marriane bisa mengendalikan sihirnya.

Petualangan Marriane pun makin seru sebab di Kepulauan Barat ini dia bertemu dengan banyak orang-orang baru dan dia harus adapatasi dengan ketidaktahuannya. Marriane pun mulai berseteru dengan pihak Kerajaan Barat karena tahta yang kosong sedianya sudah disiapkan untuk pangeran muda, Pangeran Rafe.

Kemunculan Gaius sangat melegakan karena akhirnya Marriane bisa bertemu guru yang ahli sihir. Beberapa kali percobaan untuk mengasah sihir pada diri Marriane membuat saya lumayan terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan lagi karena Gaius tidak sebaik yang dipikirkan Marriane dan Pelindung lainnya. 

Ada adegan mengejutkan pada akhir novel ini yang sengaja dibuat penulis untuk jadi momen besar yang akan ditemukan di buku selanjutnya.

Di sini juga dibahas soal romansa LGBT. Tapi tenang saja porsinya sangat kecil dan penjelasannya halus jadi masih aman buat yang LGBTphobic.

Untuk penerjemahannya masih stabil bagusnya. Saya tidak menemukan kesulitan sepanjang membaca novel ini. 

Yang membuat saya agak kurang suka di novel ini soal karakter Marriane yang berbeda sekali dibandingkan dengan novel pertamanya. Di sini muncul karakter seorang gadis pada umumnya. Kebingungan soal perasaan kepada lawan jenis yang kemudian berimbas pada banyak kebodohannya. Saya sempat menebak apakah perubahan ini karena tujuannya untuk menjadi Viper tercapai dan itu membuatnya arogan dan berleha-leha. Tapi rasanya aneh kalau karakter pejuang dan keras yang dibentuk dari kecil hilang sejekap mata. 

Karakter lain dari tokoh-tokoh baru berhasil dimunculkan memberi warna cerita. Namun memang tidak ada pendalaman karena waktu kebersamaan dengan Marriane tidak begitu banyak sehingga saya hanya melihat karakter luarnya saja, baik itu Gaius ataupun Para Pelindung.

Secara keseluruhan novel ini tetap seru. Ini adalah pengenalan Marriane dari tempat asalnya. Ini juga momen Marriane mengenal sihir lebih jauh lagi. Dengan akhir cerita yang mengejutkan, buku ketiganya harus segera dibaca karena penasaran.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Agustus 23, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Maret 2021

Tebal: 448 hlm.

ISBN: 9786230304194


Saya senang sekali karena bisa membaca buku ini sampai selesai. Setelah beberapa waktu tidak ada bacaan yang selesai, ini perlu banget dirayakan.

Novel ini tuh menceritakan perseteruan anak gadis dan ayahnya dengan latar kapal dan laut. Marriane memberontak dari Adler, ayah sekaligus seorang viper, karena ternyata ayahnya lebih jahat dari yang ia kira. Selain membunuh, ayahnya juga berkhianat kepada kerajaan. Dan Marriane yang sudah siap untuk dinobatkan jadi snake dengan tes harus membunuh orang yang tidak bersalah, dia memilih kabur dan melarikan diri dari kejaran ayahnya yang murka. Marriane tidak mau menjadi seperti ayahnya.

Petualangan Marriane mengarungi lautan dan beberapa pulau di Kepulauan Dua Belas penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Rahasia hidupnya terungkap dan kekuatan sihir yang tertidur mulai menggeliat. Batas Kepulauan Barat dan Timur dilewati saat pertempuran besar terjadi. Makhluk raptor air yang selama ini dipercaya sebagai mitos ternyata bisa dipanggil oleh Marriane. 

Berhasilkan Marriane melawan ayahnya?

***



Cerita petualangan di laut di novel ini tuh seru banget. Kehidupan di kapal Maiden dan orang-orangnya diceritakan sangat meyakinkan. Sebagai armada penjaga lautan, kebanyakan hidup viper dan para snake berada di laut. Mereka tunduk pada titah raja dan harus mengamankan kepulauan dengan menyerang kapal-kapal bandit atau pun serangan dari luar kepulauan.

Petualangan menuju pulau-pulau di Kepulauan Dua Belas pun sangat menarik. Setiap pulau punya ciri khas masing-masing. Pulau Raja jadi pulau utama tempat kepemimpian raja berdaulat. Pulau Ladang sebagai pemasok hasil Pertanian. Pulau Bunga dipenuhi aneka bunga yang bisa digunakan sebagai bahan obat-obatan. Pulau Batu sebagai tambang permata. Sayangnya tidak semua pulau di Kepulauan Timur dijelajahi dengan detail. Sementara pulau di bagian Barat masih sangat misterius karena di novel ini belum banyak penjelajahan ke sana.

Rahasia asal-usul Marriane pun sangat mengejutkan karena di awal sempat dibahas tentang ibunya namun tidak lengkap. Lambang V pada kompas yang diberikan Grace pun memberi petunjuk walaupun awalnya semua orang mengira V itu lambang Viper. Dan semua terbongkar ketika Marriane bertemu Esther di Pulau Delapan. Esther adalah teman dari ibunya Marriane dan memiliki hubungan romansa dengan Adler di masa lalu. Sejak mengetahui cerita lengkap tentang orang tuanya, keinginan Marriane untuk menghabisi ayahnya semakin membara.

Bukan hanya drama keluarga antara ayah dan anak yang diceritakan novel ini, tapi ada romansa menyedihkan yang ditonjolkan juga. Marriane dan Bornn adalah sahabat sejak kecil sejak mereka bergabung di Kapal Maiden. Ketika beranjak dewasa perasaan itu perlahan berubah tetapi keduanya enggan melewati batas yang selama ini sudah terbentuk. Pergulatan perasaan itu semakin hebat saat Marriane harus bertunangan dengan Pangeran Torin atas gagasan ayahnya. Meski pertunangan itu bentuk politik bukan perasaan, Marriane dan Bornn tetap harus menanggung jarak yang semakin jelas bagi keduanya.

Unsur sihir yang sebelumnya diceritakan sudah dihilangkan keberadaannya di Kepulauan Timur mulai muncul lagi lewat Marriane. Beberapa peristiwa keberadaan sihir bisa dirasakan, termasuk saat muncul raptor air berkat campur tangan sihir yang dilakukan Marriane. Namun penulis tidak ingin buru-buru membongkar keberadaannya dan ini patut ditunggu di novel berikutnya.

Sebagai novel aksi, kita juga bakal menemukan banyak pertarungan senjata, perkelahian, bahkan tindakan kekerasan yang membuat ngilu dan jijik. Yang paling saya ingat yaitu saat Marriane disiksa dengan dicabut kukunya dan itu bikin saya meringis membayangkannya kesakitannya. Apalagi setelah itu dia harus mendaki bebatuan dengan tangan kosong, makin-makin ngilu saja.


Untuk penerjemahan novelnya sangat bagus. Rasanya mengalir banget pas bacanya. Walau ada nama-nama aneh seperti nama bunga yang terasa asing tapi tidak membuat sendatan. Dan kalau melihat sampul novel ini, saya cuma bisa kasih satu kata, "Apik".

Tokoh-tokoh di novel ini sangat banyak tapi penulis mampu menempatkan mereka pada porsi yang pas. Adler, Marriane, Bornn, Pangeran Torin, dan Grace cukup menonjol. Sedangkan tokoh lainnya muncul di waktu yang pas sehingga tidak mengganggu jalur cerita tokoh utamanya tapi kita tetap bakal ingat keberadaannya. Misalnya tokoh Toby, anggota kapal Maiden paling muda, atau Sharpe, pengawal kepercayaan Pangeran Torin. Belum lagi beberapa anggota snake di Kapal Maiden yang pada beberapa momen kemunculannya sangat penting untuk cerita.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati cerita Marriane di novel ini dan saya tidak sabar ingin segera lanjut baca buku keduanya karena sudah terpantau trilogi buku ini sudah lengkap diterjemahkan.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Februari 22, 2026

Review Novel The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz) - L. Frank Baum

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz)

Penulis: L. Frank Baum

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Editor: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Januari 2026

Tebal: 182 hlm.

ISBN: 9786020686455


Mengawali bacaan di Februari dengan novel klasik yang ringan dan bisa dibilang ini buku untuk anak-anak.

Novel ini menceritakan anak perempuan bernama Dorothy yang diasuh oleh Bibi Em dan Paman Henry. Suatu hari rumah mereka dihempas angin puyuh dan membawa Dorothy dan anjingnya, Toto, terdampar di Negeri Oz.

Negeri Oz adalah negeri yang indah dan tenang namun Dorothy tetap ingin kembali ke Kansas untuk bertemu dengan bibi dan pamannya. Kata para Munchkin, Dorothy harus meminta tolong Penyihir Agung Oz di Kota Zamrud. 

Petualangan Dorothy dan Toto pun dimulai. Namun ia tidak sendirian sebab dalam perjalanannya Dorothy bertemu dengan Orang-orangan Sawah, Penebang Kayu Timah, dan Singa Penakut. Mereka melakukan perjalanan dengan membawa harapan masing-masing. Dorothy ingin kembali ke Kansas, Orang-orangan Sawah ingin diberikan otak agar tidak bodoh, Penebang Kayu Timah ingin diberikan hati agar memiliki perasaan, dan Singa Penakut ingin diberikan keberanian.

Banyak halangan dan tantangan yang menghadang tetapi berkat saling tolong menolong mereka bisa melaluinya. 

Tetapi apakah Penyihir Agung Oz akan mengabulkan harapan mereka?



***

Dengan membawa tema petualangan, novel ini sangat seru dibaca. Walau tujuan utamanya bertemu dengan Penyihir Agung Oz, namun penulis tidak menyelesaikan perjalanannya semudah itu. Dorothy dan teman-temannya harus pergi ke Negeri Winkie untuk menghancurkan Penyihir Jahat dari Barat. Dan setelah berhasil, Oz meninggalkan Kota Zamrud dengan balon udara. Dorothy dan teman-temannya kembali harus ke Selatan menemui Penyihir Baik, Glinda.

Perjalanan Dorothy dan teman-temannya yang enggak mudah membuat kisahnya semakin menarik dan membuat penasaran. Mereka dikejar binatang buas, harus melewati taman Opium yang beracun, hampir terbawa arus sungai besar, harus menghadapi mahluk aneh di balik bebatuan dan masih banyak rintangan lainnya.

Selain itu cerita latar belakang beberapa tokoh menambah kisahnya lebih utuh seperti awal mula Orang-orangan Sawah dibuat atau kenapa Penebang Kayu Timah bisa jadi seperti sekarang padahal dulunya adalah manusia.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan pun ampuh menghidupkan cerita. Dengan ragam bentuk dan keajaiban yang dimunculkan, kisah fantasinya semakin lugas terasa. Apalagi dunia Oz yang dibangun penulis yang luas dan memiliki kekhasannya masing-masing membuat kisahnya jadi lebih fantastis.

Dari novel ini kita bisa belajar tentang ketulusan membantu sesama agar kebaikan itu kembali kepada kita. Dorothy dan teman-temannya kerap membantu beberapa makhluk lain dan mereka pun selalu terbantu ketika kesulitan datang.

Novel ini menyenangkan dibaca dan pas kalau dibaca anak-anak. Tidak sulit mengikuti ceritanya meskipun ini fantasi. Saya sangat bisa menikmati petualangan Dorothy dan teman-temannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel The Wonderful Wizard Of Oz karya L. Frank Baum ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Januari 17, 2026

Review Novel Mata Dan Nyala Api Purba - Okky Madasari

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Mata Dan Nyala Api Purba

Penulis: Okky Madasari

Ilustrasi dan kover: Restu Ratnaningtyas

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025, cetakan keenam

Tebal buku: 236 hlm.

ISBN: 9786020648477


Novel kover warna merah ini jadi buku terakhir dari petualangan Matara. Setelah saya membaca ketiga buku lainnya; Mata Di Tanah Melus, Mata Dan Rahasia Pulau Gapi, dan Mata Dan Manusia Laut, saya menunggu kesempatan untuk menuntaskan serial ini. Tetapi novel pamungkas ini sulit didapat. Dari beberapa perpustakaan digital yang saya ikuti (Ijak, Ipusnas, dan Ruang Buku Kominfo) saya tidak menemukan ebook novel ini. Baru di awal tahun ini saya memutuskan untuk beli buku fisiknya saja pas ada promo di Lazada.

Yang membedakan dari tiga judul sebelumnya, tokoh Matara di novel ini digambarkan sudah dewasa. Dia menjadi guru Biologi di Sekolah Semesta. Latar waktu pun dijelaskan kalau negeri ini sudah mengalami kemajuan teknologi. Banyak detail penjelasan kemajuan teknologi yang memengaruhi sistem sekolah.

Petualangan kali ini Matara tidak sendirian, dia menemani murid perempuan berusia 12 tahun bernama Binar. Keduanya terlibat proyek menciptakan binatang baru yang pada satu malam kemunculannya yang banyak mengagetkan Sekolah Semesta. Ditambah ada tragedi tangan Matara digigit mahluk itu sehingga harus menjalani perawatan.

Mahluk itu diberi nama Bibikus, penggabungan dari nama Binar dan Tikus. Yup, jadi Binar dan Matara melakukan eksperimen membuat tikus bisa bertelur dan menetaslah menjadi Bibikus. Ajaibnya Bibikus ini tercipta sebagai pemakan apa pun tapi mereka lebih suka makan tumbuhan dalam jumlah banyak. Alhasil, pertumbuhan mereka sangat pesat setiap harinya. 

Dewa, kepala sekolah di Sekolah Semesta, yang dikenal cerdas, memiliki rencana lain dengan Bibikus. Namun situasi jadi keos saat Bibikus sudah sebesar gajah dan mereka berontak kabur dari sekolah. Dalam pengejaran itu, Matara, Binar dan beberapa Bibikus terjerembab ke lubang besar dan dalam di Hutan Purba. Dalam proses mencari jalan keluar, mereka justru memasuki lorong waktu ke masa purba. Matara dan Binar akhirnya bertemu dengan manusia purba, binatang yang disebut Owa, dan raksasa purba yang disebut Homo Erectus.


Owa

Manusia Purba

Bibikus Kecil


Bibikus Besar

Secara keseluruhan, novel pamungkas ini memiliki tema petualangan yang digabungkan dengan sejarah manusia purba, yang ada mata pelajaran sejarah tingkat SMP. Selain itu, kisah petualangannya mengingatkan saya pada cerita film Jumanji. Petualangan melintasi alam raya dan bertemu dengan sesuatu yang baru di masa lampau.



Konflik utama dari novel ini soal Binar yang menyayangi Bibikus, tapi Bibikus di mata manusia purba hanya sebagai makanan. Manusia purba harus bersinggungan dengan mahluk Owa karena perjanjian damai yang dilanggar Binar. Dan di saat bersamaan, keberadaan Owa rawan diserang raksasa purba. Dari sini kita seperti melihat segitiga rantai makanan. Yang kuat yang menang. Eits, tapi di jaman purba ada kekuasaan yang kuat lainnya yaitu siapa yang bisa mengendalikan api, dialah penguasa.

Yang menarik justru pada saat menuju akhir cerita, ketika rombongan Matara, Binar, Dewa, dan timnya pulang setelah dipastikan kepunahan jaman purba, mereka memasuki lorong yang salah dan membawa ke jaman lainnya. Dewa sengaja menuntun manusia pada jaman itu ke masa depan untuk jadi bukti penemuan besarnya tapi lorong waktu menjegahnya demi peristiwa masa depan tidak berubah.

"Kita bisa pergi ke masa lalu, tapi kita tak bisa mengubah apa yang harus dan telah terjadi." [hal. 208]

"Kita bisa datang ke dunia mereka karena waktu kita lebih cepat daripada mereka. Tapi mereka tak bisa pergi ke tempat kita karena mereka ada di belakang. Waktu mereka sudah berhenti. Sudah mati!" [hal. 222]

Sebagai buku penutup serial Matara, saya cukup puas dengan cerita petualangan yang disajikan. Apalagi dalam petualangannya selalu berlatar di negeri tercinta. Tetapi, kayaknya serial ini memang pas ditujukan untuk anak SMP. Secara gaya penceritaan, diksi, dan konflik, terbilang lebih berat jika ditujukan untuk anak SD ke bawah. 

Dari keseluruhan serial ini kita bisa mengenal lebih banyak cerita urban di beberapa daerah dan cuplikan sejarah yang dibalut imajinasi. Menyenangkan untuk jadi jeda setelah membaca buku atau novel yang butuh perenungan dan menguras emosi. 

Karena serial Matara sudah kelar, saya berencana untuk membaca karya Okky Madasari yang lainnya. Tercatat baru novel 86 saja yang sudah saya baca dan kini waktunya memburu bacaan beliau lainnya, hehe.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Mata Dan Nyala Api Purba karya Okky Madasari ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


November 04, 2021

Review Novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi - Okky Madasari

gambar diunduh dari gramedia.com, diedit

Judul: Mata dan Rahasia Pulau Gapi

Penulis: Okky Madasari

Editor: Dwi Ratih Ramadhany

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: November 2018

Tebal: November 256 hlm.

ISBN: 9786020619385

***

Matara, yang gagal masuk ke sekolah impian, bersama orangtuanya pindah ke Pulau Gapi di wilayah timur laut kepulauan Indonesia. Kepindahan ini tak hanya membawa Matara ke tempat-tempat baru, tapi juga membawanya menyusuri waktu, menjelajahi masa lalu. Mulai dari masa ketika kapal-kapal besar pertama kali mendarat dan menjadikan pulau itu sebagai salah satu pusat dunia, masa ketika ilmuwan besar Wallace menulis surat pada Darwin dari salah satu sudut pulau itu, masa ketika bendera merah-putih telah dikibarkan di seluruh pulau tapi justru membuat pulau itu sepi dan terlupakan. Hingga masa terbaru, ketika Matara dan dua sahabatnya harus menyelamatkan pusaka-pusaka Pulau Gapi.

Mata dan Rahasia Pulau Gapi merupakan buku kedua dari kisah Mata menjelajahi Nusantara, setelah buku pertamanya, Mata di Tanah Melus. Buku selanjutnya: Mata dan Manusia Laut.

***

Ada rasa yang bercampur antara sedih, kecewa, marah, kesal, ketika Matara gagal masuk SMP favorit di Jakarta. Padahal segala usaha sudah dilakukan agar Matara tergolong anak-anak yang cerdas. Di tengah kesedihan itu, papa Matara membawa kabar kalau dia mendapatkan pekerjaan baru di luar Jawa, tepatnya di Kepulauan Maluku. Lebih spesifik di Pulau Gapi.

Di pulau itu Matara bertemu dengan kucing istimewa yang bisa bahasa manusia, Molu. Bersama kucingnya itu, Matara melakukan petualangan hebat di salah satu benteng yang sudah jadi puing-puing, hingga ia bertemu dengan si Laba-laba yang merupakan jelmaan baru dari anjing yang dipelihara Sultan

Kabar buruk tentang benteng yang akan diubah menjadi mall membuat Laba-laba marah. Sehingga dia nekat menyakiti orang yang mengusik benteng dengan gigitannya yang mematikan. Semakin orang-orang proyek berambisi, Laba-laba semakin berusaha menggagalkan. Beruntung dia dibantu oleh Matara dan Molu.

Setelah kemarin saya membaca novel anak ketiga dari series Menjelajahi Nusantara yang berjudul Mata dan Manusia Laut, rasanya kurang lengkap kalau saya meninggalkan novel keduanya ini. Dan saya bersyukur bisa membacanya novel anak ini.

Di novel ini pembaca akan diajak ke Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Gapi. Dari pulau Gapi kita bisa melihat dua pulau yang berdampingan: Pulau Meitara dan Pulau Tidore. Pemandangan ini bahkan muncul di uang kertas seribu.

Ciri khas Pulau Gapi menurut novel ini adanya Gunung Gamalama dan benteng-benteng peninggalan zaman dulu. Terkait sejarah di Pulau Gapi, atau secara umum di Maluku, akan dituturkan oleh kucing bernama Molu, yang merupakan kucing istimewa karena usianya tidak pernah tua sehingga terbilang dia hewan abadi yang melintasi banyak generasi. Pada perkenalan pertama dengan Matara, Molu menceritakan banyak kisah masa lalu termasuk sejarah yang dia saksikan di Maluku ini.

Sejarah penjajahan yang dialami penduduk Maluku terdiri dari tiga fase: penjajahan Portugis, penjajahan Belanda, dan penjajahan Jepang. Beberapa masa terbilang aman ketika Sultan bisa mengendalikan kekuasaan sehingga penjajah bisa diusir dari tanah Maluku. Tapi setiap pergantian Sultan memiliki perbedaan cara memimpin. Sehingga kondisi Maluku pun berubah-ubah.

Bagian menarik dan dramatis ketika Molu menceritakan kisah hidup orang Portugis bernama Adao yang kemudian dia menikahi perempuan Pulau Gapi bernama Faida. Saat usia senja mereka, Portugis berhasil digulingkan. Banyak yang bersembunyi di benteng. Mereka sudah khawatir akan dibantai oleh pasukan Sultan. Tetapi dengan kebijaksanaan Sultan, mereka dilepaskan dan dipersilakan meninggalkan Kepulauan Maluku sebelum matahari terbenam.

Namun Adao dan Faida tidak turut serta. Mereka merasa Pulau Gapi adalah rumah mereka sehingga mereka ingin mati di pulau ini. Kebijaksanaan Sultan mengampuni mereka dengan syarat berupa pengabdian menjaga pusaka kerajaan di Danau Tolire. Sampai ajal menjelang, pasangan ini kemudian berubah menjadi buaya putih yang menjaga Danau Tolire.

Maluku sering disebut sebagai pulau seribu benteng. Menurut penelusuran saya di beberapa artikel ada beberapa bentang yangs sering disebut yaitu: Benteng Toloko (Portugis), Benteng Oranje (Belanda), Benteng Kalamata (Portugis), dan Benteng Kota Janji (Portugis). Latar benteng yang dipakai dalam novel ini lebih mendekati ke penjelasan Benteng Kota Janji sebab penjelasan mengenai benteng ini disandingkan dengan sejarah pembunuhan Sultan Khairun dan memicu pengusiran orang-orang Portugis pada masa itu. Ini relevan dengan penjelasan Molu ketika menceritakan Sultan yang kepalanya dipenggal saat diundang oleh orang-orang Portugis.

Membaca novel yang dikarang oleh Okky Madasari secara penceritaan memang sudah sangat baik. Poin-poin yang disampaikan cukup padat sehingga mudah dipahami. Apalagi penulis sudah menyesuaikan pemilihan diksi untuk menyampaikan informasi dengan sudut pandang tokoh anak. Sehingga tokoh Matara bukan terbilang anak 12 tahun yang serba tahu.

Dari novel ini kita diajak untuk mengenali sejarah melalui peninggalan pada masa lalu. Salah satunya adalah keberadaan benteng yang merupakan bagian tak terpisahkan dengan sejarah negara ini. Selain itu, penulis juga ingin mengajak kita semua untuk menyadari arti penting sejarah sehingga kita bisa sama-sama menjaga cagar budaya dengan baik. Ini berkaitan dengan konflik dalam novel ini soal mau merubah cagar budaya menjadi bangunan modern.

Untuk petualangan Matara dengan kawan barunya, Molu dan Laba-laba, saya memberikan nilai 3 bintang dari 5 bintang.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!

Oktober 30, 2021

Review Novel Mata dan Manusia Laut - Okky Madasari

gambar diunduh dari gramedia.com, diedit

Judul: Mata dan Manusia Laut

Penulis: Okky Madasari

Editor: Dwi Ratih Ramadhany

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Mei 2019

Tebal: 232 hlm.

ISBN: 9786020630281

***

Kabar di media internasional tentang manusia-manusia yang bisa menyelam di laut tanpa alat membawa Matara dan ibunya ke kepulauan Sulawesi bagian tenggara. Di kepulauan yang menjadi rumah bagi manusia-manusia laut itu, Matara berjumpa dengan Bambulo, bocah Bajo yang sejak balita sudah berenang dan menyelam di laut, layaknya seekor ikan. 

Berawal dari rasa penasaran, dua bocah itu mengarungi lautan, hal yang sesungguhnya biasa dilakukan oleh orang Bajo. Namun lautan punya irama dan aturan yang harus selalu diikuti. Kelalaian Bambulo menghadirkan bencana sekaligus petualangan menakjubkan bagi mereka. Mata dan Manusia Laut merupakan buku ketiga dari kisah Mata menjelajahi Nusantara, setelah Mata di Tanah Melus dan Mata dan Rahasia Pulau Gapi. Buku selanjutnya: Mata di Dunia Purba.

***

Novel Mata dan Manusia Laut menceritakan tentang petualangan Mata ketika dia dan ibunya berkunjung di Kecamatan Kaledupa untuk mempelajari soal cerita manusia laut. Pada satu hari ketika ada pesta budaya sedang berlangsung, Mata dan anak Bajo bernama Bambulo menelusuri lautan untuk mencapai alto, lingkaran panjang karang tempat dimana ayahnya Bambulo biasa mencari ikan. Hanya saja hari itu Bambulo melupakan pantangan yang selama ini ditaati warga Sama, dilarang berlayar pada saat bulan purnama.

Kegiatan mereka singgah di alto ternyata membawa bencana tsunami. Ombak lautan menyeret Mata dan Bambulo ke dasar samudra yang disebut Masalembo. Pada tengah perjalanan, Mata ditangkap oleh gurita raksasa. Bambulo yang terpisah justru bertemu dengan orang-orang penghuni lautan. Maka misi menyelamatkan Mata pun dimulai.

Saya pernah membaca novel anak series Menjelajahi Nusantara yang pertama berjudul Mata di Tanah Melus dan mengikuti informasi novel lainnya tetapi baru kesampaian membacanya sekarang. Salahnya lagi, saya lanjut langsung ke novel ketiga, bukan ke novel keduanya. Yah, semoga setelah ini selesai, bisa ada kesempatan membaca novel keduanya.

Masih mengenai petualangan anak bernama Matara yang melakukan perjalanan jauh bersama mamanya untuk riset buku. Matara, anak 12 tahun menjadi penegas jika novel ini ditulis untuk anak-anak. Agar lebih menarik, penulis kemudian merajut kisah petualangan sebagai bahan bakar ceritanya. Kali ini pembaca akan dibawa menyelami kedalaman samudera lautan.

Karena ceritanya untuk anak-anak, penulis membawa dongeng dengan kemasan yang memacu pembaca untuk turut berimajinasi membayangkan dunia fantasi yang dibangun. Pada novel ini saya cukup menikmati membayangkan dunia bawah laut, Masalembo, yang digambarkan sebagai sebuah perkampungan. Ada orang-orangnya, ada rumah-rumah yang dibangun dari kapal-kapal, juga ada fasilitas lainnya seperti di daratan.

Yang paling seru tentu saja membayangkan makhluk keturunan orang Masalembo dengan Dewa Laut, yang fisiknya perpaduan antara manusia dan makhluk laut. Ada yang percampuran manusia dengan gurita, percampuran manusia dengan ikan, dan ada juga percampuran manusia dengan kerang. Ketika membayangkan mereka saya justru ingat kepada tokoh utama di film Luca. Apalagi mahluk ini juga disebutkan masih usia anak-anak. 

Sudah menjadi ciri khas novel Okky Madasari, pasti akan disisipkan isu dan kritik sosial yang memberikan kita wawasan baru mengenai keadaan sosial di negeri ini. Pertama, isu lingkungan hidup terutama untuk habitat laut sangat ditekankan di novel ini. Penduduk di pulau-pulau Sulawesi Tenggara sangat menjaga kelestarian habitat laut karena mereka menyadari penghidupan utama mereka berasal dari laut. Ini tergambar pada alasan kenapa ketika bulan purnama jadi pantangan untuk memburu ikan sebab pada waktu itulah ikan-ikan bertelur. Telur inilah yang kelak menjadi penerus induk ikan yang ditangkap oleh nelayan.

Kedua, kritik pada tindakan suap yang dilakukan oleh petugas patroli kepada kapal-kapal yang berlayar. Praktik ini bukan berita baru, tapi menjadi berlawanan dengan yang dilakukan menteri yang menenggelamkan kapal-kapal luar ilegal. Pemerintah bergerak ketat, beberapa oknum bersikap longgar. Miris memang membayangkan hal ini.

Karena tokoh utamanya anak, maka penulis membatasi diksi yang dipakai sehingga kritik dan isu yang dibahas pun begitu tipis sebatas yang bisa dipahami oleh anak-anak. Padahal menurut saya isu dan kritik di novel ini lumayan populer sebagai pembahasan orang-orang dewasa. Sedangkan untuk kemampuan Okky membangun dunia fantasi dalam narasi-narasinya sudah tidak diragukan lagi. Saya begitu menikmati kisah Matara dan Bambulo ini.

Yang membuat saya agak kurang terhubung dengan cerita di novel ini adalah petualangan mereka melintasi samudera, dan ketika mereka terombang-ambing di laut, terlalu dramatik untuk dilakukan anak-anak. Momen heroik begitu bahkan jarang ditemukan pada orang dewasa. Sehingga menjadi ganjalan besar bagi saya untuk menganggap itu normal.

Karakter Matara dan Bambulo digambarkan sebagai anak polos yang kadang ingin menonjol di mata orang lain, tapi di sisi lain mereka keterbatasan pengetahuan sehingga lebih banyak mengikuti ego dan keingintahuan yang sedang besar-besarnya.

Usai membaca novel ini pembaca akan mendapatkan pesan untuk menjaga lingkungan hidup secara keseluruhan, bukan hanya habitat laut. Sebab tindakan manusia terhadap lingkungan hidup akan memiliki dampak. Jika merawat akan memberikan dampak baik, jika merusak akan membawa bencana. Tapi kadang kita lupa akan efek ini, ditutupi oleh keserakahan untuk menggerus manfaat lingkungan tersebut.

Mengikuti petualangan Matara dan Bambulo di lautan yang seru membuat saya memberikan nilai 3 bintang dari 5 bintang. Novel ini pas sekali dikenalkan kepada pembaca anak-anak.

Sekian ulasan saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Februari 04, 2018

Review Novel Mata di Tanah Melus - Okky Madasari


Judul: Mata di Tanah Melus
Penulis: Okky Madasari
Editor: Anastasia Mustika W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Januari 2018
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786020381329
Harga: Rp59.000 (via bukabuku.com - sebelum diskon)

Saya pernah membaca buku karya Okky Madasari yang judulnya '86'. Novel dengan konflik suap yang sudah membudaya di Indonesia dari masyarakat ekonomi rendah hingga masyarakat ekonomi atas. Tema novelnya terbilang serius karena hanya segelintir penulis yang mau mengangkat tema kritik sosial dalam karyanya dan konsisten di zona itu. Namun, untuk karya terbaru Okky di tahun 2018 ini, ia seperti sudah melakukan manuver dengan menghadirkan karya bergenre novel anak. Genre yang belum pernah ia jamah dan ini seperti jadi tantangan untuk Okky dan pembaca. Saya sebagai pembaca tertantang untuk menikmati cerita anak yang memang sebelumnya penulis tak menyentuh sisi ini di novel-novel sebelumnya. Yang pasti, novel sebelumnya dan novel anak ini akan memiliki perbedaan yang mencolok. Dan menurut keterangan di bagian penulis pada halaman akhir buku, Mata di Tanah Melus merupakan cerita pertama dari serial petualangan anak yang Okky bikin.

Novel Mata di Tanah Melus menceritakan tentang Matara, anak berusia dua belas tahun, yang ikut melakukan perjalanan ke daerah Belu bersama Mamanya setelah hubungan antara Mama dan Papanya tidak harmonis. Persoalan utama suami-istri itu perihal keuangan. Keduanya adalah penulis cerita, hanya berbeda format. Mama menulis novel, sedangkan Papanya menulis kolom politik di koran. Keharmonisan keluarga Mata surut saat Papa sudah tidak bekerja dan Mama sadar keluarganya tak bisa mengandalkan keuangan dirinya yang bukan tipe penghasilan bulanan.

Mata sebenarnya merasa tidak antusias dengan perjalanan kali ini. Apalagi tujuan mereka daerah asing yang jelas-jelas tidak bisa diduga keadaannya. Dimulai dari kejadian mobil sewaan Mama menabrak sapi dan harus ganti rugi dua puluh juta, kesialan tidak berhenti menimpa mereka. Ditambah mimpi sapi-sapi tersebut mengganggu di tidur Mata.

Suatu waktu Mama dan Mata berteduh saat hujan deras setelah mereka melakukan upacara izin masuk daerah Belu dan mereka justru diminta pulang ke tempat asal. Begitu membuka mata, Mata mendapati pemandangan padang rumput hijau yang luas dan sejak itu Mata dinyatakan tersesat. Petualangan Mata dimulai dari kampung Melus. Keinginan untuk bertemu Mama menjadi tujuan Mata melakukan banyak petualangan.

Sebuah terobosan baru bagi Okky yang kerap mengulik tema-tema kritik sosial dan memilih menyajikan cerita anak yang dibumbui hal-hal ajaib. Keinginan Okky terpenuhi dan novel Mata di Tanah Melus memang pas untuk dibaca oleh anak-anak. Kita akan disuguhi perpaduan kisah yang sederhana, petualangan, mitos, dan perseteruan antara dua golongan orang.

Untuk memahami kisah Mata, kita perlu menguatkan pikiran jika di buku ini Okky bermain dengan dua dunia yang sifatnya paralel. Dunia nyatanya adalah daerah Belu, sedangkan dunia paralelnya adalah Negeri Melus. Ini penting agar kita tidak repot memahami jalan cerita yang pada awal-awal buku akan bikin syok.

Lalu, bumbu ajaib yang saya katakan di awal, menjadi nostalgia buat pembaca akan khayalan aneh-aneh yang sering dibayangkan pada masa anak-anak. Kita pasti pernah melihat awan yang bentuknya mirip banyak benda. Di novel ini pun Mata melihat kelinci-kelinci dan anak perempuan yang meloncat-loncat riang di awan.Selain itu, kita akan berkenalan dengan mahluk-mahluk ajaib seperti Ratu Kupu-Kupu, Dewa Buaya, dan Laka Lorak si Ibu Kehidupan.

Latar tempat juga dipenuhi hal-hal menakjubkan misal padang rumput hijau luas yang disebut Fulan Fehan, Kerajaan Kupu-Kupu, rumah kaktus, lautan yang muncul dan surut tiba-tiba, hutan kaktus yang lebat, dan masih banyak imajinasi-imajinasi lainnya yang akan membuat otak kita ikut memproyeksikan seperti apa Negeri Melus itu.

Pada novel ini ternyata Okky menyelipkan kritik sosial terhadap dua kegiatan yang mengundang banyak efek negatif, yaitu perburuan binatang tertentu (di novel ini binatangnya adalah buaya) dan eksploitasi sumber daya alam (Gunung Lakaan) yang tujuannya memperkaya diri sendiri atau golongan. Kita diingatkan kembali jika kegiatan tersebut merusak banyak tatanan kehidupan yang seharusnya kita jaga untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Akhirnya, saya memberi nilai 3 dari 5 sebab saya masih merasa novel ini belum terasa khas anak-anak dalam penyajiannya. Baik secara kosakata, diksi, ataupun petualangannya. Atau, disebabkan oleh konflik orangtua yang terlalu vokal karena dimunculkan di awal dan otomatis menyedot daya tarik pembaca sebelum tahu cerita ajaibnya sebenarnya akan digiring ke arah mana.