Tampilkan postingan dengan label Buku Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Anak. Tampilkan semua postingan

April 07, 2026

Review Buku Anak Whispers Of The Shadow: Three Tales Of Wonder - M. Sutandi

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Whisper Of The Shadow: Three Tales Of Wonder

Penulis: M. Sutandi

Ilustrator: Gratiani & Pratita

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

Terbit: Oktober 2024

Tebal: vi + 162 hlm.

ISBN: 9786020531175



Karena sering melihat buku ini di lokapasar, saya memutuskan untuk membelinya. Bukan apa-apa, saya memang suka dengan bacaan anak-anak. Selain ceritanya yang sederhana, formatnya yang pendek jadi alasan lain, sekalian untuk selingan karena sedang susah menyelesaikan baca novel.

Yang membuat buku ini spesial karena diproduksi penuh warna dan disajikan dalam bilingual; bahasa indonesia dan bahasa inggris. Anaka-anak pasti suka dengan gambar-gambarnya.

Sebagai buku anak, buku ini juga memiliki visi mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Ada tiga cerita yang disuguhkan: The Girl and Her Shadow, The Little Flower, dan The Proud Hermit Crab.





The Girl and Her Shadow menceritakan tentang anak perempuan yang dalam pencarian jati dirinya dia mengusir dan meninggalkan bayangannya. Padahal dari sejak kecil hanya bayangannya yang menemani dan selalu ada. Namun setelah dewasa, saat ia kehilangan segalanya dan semua orang yang ia anggap teman justru pergi, ia tersadar kalau ada yang kurang dalam dirinya. Memori kecil teringat kembali menyadarkan apa yang sudah ia lupakan selama ini.






The Little Flower menyadarkan kepada kita kalau memaksakan memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dimiliki justru akan membawa hal tidak baik. Bunga kecil yang tumbuh indah di padang rumput dekat pohon besar mencoba bertahan saat seorang anak kecil merusaknya dengan bola yang dia mainkan. Setelah kembali pulih, datang lagi anak kecil yang merayunya agar mau dibawa kerumah. Kegigihan anak itu membuat bunga kecil mengiyakan dengan syarat: memberinya air dan membawanya ke tempat yang bisa kena cahaya matahari. Tapi namanya anak-anak, mereka akan memiliki teman dan sibuk bermain, hingga melalaikan bunga kecil itu hingga bentuknya hampir mati. Sebelum terlambat, si anak mengabulkan keinginan bunga kecil untuk dikembalikan ke tempat semula ia tumbuh.




Sedangkan cerita The Proud Hermit Crab membahas soal anak umang-umang yang dimanja dan disanjung orang tuanya hingga ia berpikir kalau ia paling segalanya. Saat si anak melakukan salah pun, orang tuanya tetap membela. Begitu umang-umang sudah dewasa dan meninggalkan orang tuanya untuk menemukan pasangan sekaligus membentuk keluarganya, kesombongan itu tetap melekat. Setiap berpapasan dengan hewan lain, kesombongan itu dia tunjukkan. Tetapi pertemuannya dengan elang laut dada putih membuat umang-umang sadar apa kesalahannya. 



Dari ketiga cerita saya menemukan benang merah yang entah disengaja atau enggak yaitu soal kesendirian. Semua ceritanya membahas itu: anak perempuan yang awalnya sangat tertutup, bunga kecil yang ditinggalkan karena si anak menemukan kesukaan baru, dan si umang-umang yang kerap ditinggalkan di rumah bila orang tuanya pergi mencari makan. 

Ada benarnya juga, ketika masih anak-anak ada semacam kegugupan untuk berbaur dengan orang atau lingkungan baru. Jika orang tuanya paham, si anak akan digandeng untuk mulai membaur. Tetapi ada beberapa anak yang karena tidak ada yang menggandeng, ia memilih mundur menjauh dan jadi anak yang tertutup. Pola asih ini membentuk karakter si anak dan jika tidak ada perubahan maka bisa terbawa sampai saat ia dewasa. Seserius itu ya pembahasannya padahal ini cerita anak lho!

Buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali duduk. Nilai yang dikandung ceritanya mengingatkan kembali pembaca pada nilai baik yang sifatnya universal, yang harus tetap dimiliki sampai kapan pun. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku anak Whispers Of The Shadow: Three Tales Of Wonder ini. Terakhir dari saya, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!





Februari 22, 2026

Review Novel The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz) - L. Frank Baum

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz)

Penulis: L. Frank Baum

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Editor: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Januari 2026

Tebal: 182 hlm.

ISBN: 9786020686455


Mengawali bacaan di Februari dengan novel klasik yang ringan dan bisa dibilang ini buku untuk anak-anak.

Novel ini menceritakan anak perempuan bernama Dorothy yang diasuh oleh Bibi Em dan Paman Henry. Suatu hari rumah mereka dihempas angin puyuh dan membawa Dorothy dan anjingnya, Toto, terdampar di Negeri Oz.

Negeri Oz adalah negeri yang indah dan tenang namun Dorothy tetap ingin kembali ke Kansas untuk bertemu dengan bibi dan pamannya. Kata para Munchkin, Dorothy harus meminta tolong Penyihir Agung Oz di Kota Zamrud. 

Petualangan Dorothy dan Toto pun dimulai. Namun ia tidak sendirian sebab dalam perjalanannya Dorothy bertemu dengan Orang-orangan Sawah, Penebang Kayu Timah, dan Singa Penakut. Mereka melakukan perjalanan dengan membawa harapan masing-masing. Dorothy ingin kembali ke Kansas, Orang-orangan Sawah ingin diberikan otak agar tidak bodoh, Penebang Kayu Timah ingin diberikan hati agar memiliki perasaan, dan Singa Penakut ingin diberikan keberanian.

Banyak halangan dan tantangan yang menghadang tetapi berkat saling tolong menolong mereka bisa melaluinya. 

Tetapi apakah Penyihir Agung Oz akan mengabulkan harapan mereka?



***

Dengan membawa tema petualangan, novel ini sangat seru dibaca. Walau tujuan utamanya bertemu dengan Penyihir Agung Oz, namun penulis tidak menyelesaikan perjalanannya semudah itu. Dorothy dan teman-temannya harus pergi ke Negeri Winkie untuk menghancurkan Penyihir Jahat dari Barat. Dan setelah berhasil, Oz meninggalkan Kota Zamrud dengan balon udara. Dorothy dan teman-temannya kembali harus ke Selatan menemui Penyihir Baik, Glinda.

Perjalanan Dorothy dan teman-temannya yang enggak mudah membuat kisahnya semakin menarik dan membuat penasaran. Mereka dikejar binatang buas, harus melewati taman Opium yang beracun, hampir terbawa arus sungai besar, harus menghadapi mahluk aneh di balik bebatuan dan masih banyak rintangan lainnya.

Selain itu cerita latar belakang beberapa tokoh menambah kisahnya lebih utuh seperti awal mula Orang-orangan Sawah dibuat atau kenapa Penebang Kayu Timah bisa jadi seperti sekarang padahal dulunya adalah manusia.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan pun ampuh menghidupkan cerita. Dengan ragam bentuk dan keajaiban yang dimunculkan, kisah fantasinya semakin lugas terasa. Apalagi dunia Oz yang dibangun penulis yang luas dan memiliki kekhasannya masing-masing membuat kisahnya jadi lebih fantastis.

Dari novel ini kita bisa belajar tentang ketulusan membantu sesama agar kebaikan itu kembali kepada kita. Dorothy dan teman-temannya kerap membantu beberapa makhluk lain dan mereka pun selalu terbantu ketika kesulitan datang.

Novel ini menyenangkan dibaca dan pas kalau dibaca anak-anak. Tidak sulit mengikuti ceritanya meskipun ini fantasi. Saya sangat bisa menikmati petualangan Dorothy dan teman-temannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel The Wonderful Wizard Of Oz karya L. Frank Baum ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Januari 17, 2026

Review Novel Mata Dan Nyala Api Purba - Okky Madasari

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Mata Dan Nyala Api Purba

Penulis: Okky Madasari

Ilustrasi dan kover: Restu Ratnaningtyas

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025, cetakan keenam

Tebal buku: 236 hlm.

ISBN: 9786020648477


Novel kover warna merah ini jadi buku terakhir dari petualangan Matara. Setelah saya membaca ketiga buku lainnya; Mata Di Tanah Melus, Mata Dan Rahasia Pulau Gapi, dan Mata Dan Manusia Laut, saya menunggu kesempatan untuk menuntaskan serial ini. Tetapi novel pamungkas ini sulit didapat. Dari beberapa perpustakaan digital yang saya ikuti (Ijak, Ipusnas, dan Ruang Buku Kominfo) saya tidak menemukan ebook novel ini. Baru di awal tahun ini saya memutuskan untuk beli buku fisiknya saja pas ada promo di Lazada.

Yang membedakan dari tiga judul sebelumnya, tokoh Matara di novel ini digambarkan sudah dewasa. Dia menjadi guru Biologi di Sekolah Semesta. Latar waktu pun dijelaskan kalau negeri ini sudah mengalami kemajuan teknologi. Banyak detail penjelasan kemajuan teknologi yang memengaruhi sistem sekolah.

Petualangan kali ini Matara tidak sendirian, dia menemani murid perempuan berusia 12 tahun bernama Binar. Keduanya terlibat proyek menciptakan binatang baru yang pada satu malam kemunculannya yang banyak mengagetkan Sekolah Semesta. Ditambah ada tragedi tangan Matara digigit mahluk itu sehingga harus menjalani perawatan.

Mahluk itu diberi nama Bibikus, penggabungan dari nama Binar dan Tikus. Yup, jadi Binar dan Matara melakukan eksperimen membuat tikus bisa bertelur dan menetaslah menjadi Bibikus. Ajaibnya Bibikus ini tercipta sebagai pemakan apa pun tapi mereka lebih suka makan tumbuhan dalam jumlah banyak. Alhasil, pertumbuhan mereka sangat pesat setiap harinya. 

Dewa, kepala sekolah di Sekolah Semesta, yang dikenal cerdas, memiliki rencana lain dengan Bibikus. Namun situasi jadi keos saat Bibikus sudah sebesar gajah dan mereka berontak kabur dari sekolah. Dalam pengejaran itu, Matara, Binar dan beberapa Bibikus terjerembab ke lubang besar dan dalam di Hutan Purba. Dalam proses mencari jalan keluar, mereka justru memasuki lorong waktu ke masa purba. Matara dan Binar akhirnya bertemu dengan manusia purba, binatang yang disebut Owa, dan raksasa purba yang disebut Homo Erectus.


Owa

Manusia Purba

Bibikus Kecil


Bibikus Besar

Secara keseluruhan, novel pamungkas ini memiliki tema petualangan yang digabungkan dengan sejarah manusia purba, yang ada mata pelajaran sejarah tingkat SMP. Selain itu, kisah petualangannya mengingatkan saya pada cerita film Jumanji. Petualangan melintasi alam raya dan bertemu dengan sesuatu yang baru di masa lampau.



Konflik utama dari novel ini soal Binar yang menyayangi Bibikus, tapi Bibikus di mata manusia purba hanya sebagai makanan. Manusia purba harus bersinggungan dengan mahluk Owa karena perjanjian damai yang dilanggar Binar. Dan di saat bersamaan, keberadaan Owa rawan diserang raksasa purba. Dari sini kita seperti melihat segitiga rantai makanan. Yang kuat yang menang. Eits, tapi di jaman purba ada kekuasaan yang kuat lainnya yaitu siapa yang bisa mengendalikan api, dialah penguasa.

Yang menarik justru pada saat menuju akhir cerita, ketika rombongan Matara, Binar, Dewa, dan timnya pulang setelah dipastikan kepunahan jaman purba, mereka memasuki lorong yang salah dan membawa ke jaman lainnya. Dewa sengaja menuntun manusia pada jaman itu ke masa depan untuk jadi bukti penemuan besarnya tapi lorong waktu menjegahnya demi peristiwa masa depan tidak berubah.

"Kita bisa pergi ke masa lalu, tapi kita tak bisa mengubah apa yang harus dan telah terjadi." [hal. 208]

"Kita bisa datang ke dunia mereka karena waktu kita lebih cepat daripada mereka. Tapi mereka tak bisa pergi ke tempat kita karena mereka ada di belakang. Waktu mereka sudah berhenti. Sudah mati!" [hal. 222]

Sebagai buku penutup serial Matara, saya cukup puas dengan cerita petualangan yang disajikan. Apalagi dalam petualangannya selalu berlatar di negeri tercinta. Tetapi, kayaknya serial ini memang pas ditujukan untuk anak SMP. Secara gaya penceritaan, diksi, dan konflik, terbilang lebih berat jika ditujukan untuk anak SD ke bawah. 

Dari keseluruhan serial ini kita bisa mengenal lebih banyak cerita urban di beberapa daerah dan cuplikan sejarah yang dibalut imajinasi. Menyenangkan untuk jadi jeda setelah membaca buku atau novel yang butuh perenungan dan menguras emosi. 

Karena serial Matara sudah kelar, saya berencana untuk membaca karya Okky Madasari yang lainnya. Tercatat baru novel 86 saja yang sudah saya baca dan kini waktunya memburu bacaan beliau lainnya, hehe.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Mata Dan Nyala Api Purba karya Okky Madasari ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Juli 09, 2025

Review Novel The Wild Robot: Sang Robot Liar - Peter Brown

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: The Wild Robot: Sang Robot Liar

Penulis & ilustrasi : Peter Brown

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Noura Kids

Terbit: Februari 2025, cetakan pertama

Tebal: 300 hlm.

ISBN: 9786238094752

Tag: buku anak, robot, petualangan, hewan



Novel The Wild Robot menceritakan robot bernama ROZZUM unit 7134 yang terdampar di sebuah pulau setelah kapal kargo yang membawanya tenggelam di laut. Dia kemudian bertemu banyak hewan dan mesti beradaptasi dengan kondisi pulau yang baru pertama kali ia ketahui.

Satu kejadian bebatuan yang menewaskan keluarga angsa dan menyisakan satu telur memaksa Roz bertanggung jawab. Ia kemudian mengambil peran sebagai induk bagi anak angsa yang diberi nama Brightbill.

Momen perpisahan Roz dengan Brightbill yang sudah remaja tak terelakan karena angsa terbiasa melakukan migrasi menjelang musim dingin. Tanpa anaknya, Roz tidak merasa kesepian sebab di tengah musim salju yang ganas, ia justru melakukan hal besar untuk membantu teman-temannya.

Situasi memanas saat pulau kedatangan robot lain dengan kode RECO yang akan membawa semua robot jenis ROZZUM ke pembuatnya. Pertarungan antara robot dan hewan-hewan di pulau itu terjadi sangat seru. Tiga robot RECO dikalahkan tapi itu akan membawa banyak robot lain ke pulau itu. Keputusan sekaligus pengorbanan besar diambil Roz untuk menyelamatkan penguni pulau. Sedih tapi ini demi kebaikan banyak nyawa.

***


Ide ceritanya sangat menarik, dua hal bertentangan antara robot dengan kecanggihannya harus berpetualang di alam liar yang sangat konvensional dan sangar dasar. Ada gap besar dan menariknya kita diajak mengikuti bagaimana Roz beradaptasi dengan geografis, cuaca, dan hewan-hewan penghuni pulau. Proses yang tidak mudah, beberapa kejadian yang dialami Roz malah merusak bagian-bagian robot dan itu cukup memprihatinkan.

Konflik besar diwakilkan oleh pergulatan dan perjuangan Roz menjadi sosok induk untuk anak angsa bernama Brightbill. Robot punya program terstruktur, tidak mempunyai emosi natural, dan pengetahuannya terbilang kontekstual, menimbulkan kegugupan saat mengurus anak angsa yang punya naluri hewannya sendiri. Beruntung Roz dikelilingi banyak teman yang membantunya dengan banyak saran logis. Dan hubungan induk-anak ini yang paling banyak menyedot simpati saya. Penulis memotret kalau peran orang tua, terutama menjadi ibu, bukan peran gampang. 

Alasan kenapa Roz dibantu banyak hewan lainnya karena Roz juga selalu membantu yang lain. Karma baik akan berbalik baik. Bahkan pengorbanan besar yang dipilih Roz di akhir buku pun berdasarkan untuk kebaikan semua hewan di pulau itu. Roz paham kalau peperangan menimbulkan banyak kerugian, termasuk bisa membunuh hewan-hewan. Dan jika solusinya harus mengorbankan dirinya, Roz memilih jalan itu meski ia tidak tahu akan seperti apa hasil dari keputusannya.

Nilai moral paling kuat yang disampaikan novel ini yaitu kesadaran untuk saling membantu. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, percayalah, akan ada kebaikan lain yang bakal membantu kita di kesempatan lain.

Walau pun novel ini terbilang tebal, tapi menarik sekali karena di dalamnya ada ilustrasi-ilustrasi yang ampuh menjadi jeda. Setiap babnya pun disusun dengan pendek-pendek sehingga cepat selesai bacanya. Penerjemahannya mudah dipahami.


Sebelum membaca novel ini, saya pernah menonton filmnya lebih dahulu. Kalau dibandingkan, lebih seru filmnya. Dalam film lebih berhasil menghidupkan ceritanya dengan menonjolkan warna-warna alam liar, memperjelas konflik-konflik dengan hewan-hewan, dan momen pertempuran pun rasanya lebih epik. Karena di bukunya berupa bab pendek-pendek menajdikan narasinya kurang detail dan kurang emosional. Bahkan bentuk robotnya pun berbeda antara film dan buku. Kalau di buku kepalanya agak kotak sedangkan di filmnya bulat dan lebih detail.

Secara keseluruhan, novel The Wild Robot cukup menarik diikuti. Novelnya mempunyai pesan moral yang jelas dan ceritanya cukup ringan jika ingin dibacakan untuk anak-anak. Dan ternyata buku ini adalah buku pertamanya. Petualangan Roz masih berlanjut. Saya penasaran dengan nasib Roz dan kira-kira bagaimana dia bisa kembali kepada teman-temannya. 

Nah, sekian ulasan saya untuk novel ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Juni 29, 2025

Review Buku Anak Poupelle Of Chimney Town - Akihiro Nishino

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]

Judul: Poupelle Of Chimney Town

Penulis & ilustrator: Akihiro Nishino

Penerjemah: Hiroaki Kato, Arina Ephipania

Penerbit: Noura Books

Terbit: Mei 2023, cetakan kedua

Tebal: 90 hlm

ISBN: 9786232422902

Tag: cerobong asap, keluarga, ayah


Walau pun saya penikmat novel, tapi saya juga sangat suka buku anak. Selain tipis, buku anak juga kebanyakan punya cerita yang sederhana. Nilai moral yang disampaikan juga jelas sehingga memahaminya cukup mudah.

Kali ini saya baca buku anak bagus; baik secara fisik bukunya, juga secara ceritanya. 

Tentang Kota Cerobong Asap yang begitu suram. Warganya tidak bisa melihat langit saking pekatnya asap yang menaungi. Dan ada momen Tukang Paket yang menjatuhnya sebuah jantung di malam perayaan Hallowen, jatuh di tumpukan sampah, dan kemudian terbentuklah Manusia Sampah. 

Kehadirannya di kota itu menimbulkan keriuhan karena penampilannya yang buruk dan berbau busuk. Saat orang-orang menjauhinya, seorang anak laki-laki yang bekerja sebagai pembersih cerobong asap bernama Lubicchi justru mendekatinya dan bersikap bersahabat. Lubicchi juga yang memberikan nama Poupelle kepada manusia sampah. 

Meski sudah dibersihkan, bau tubuh Poupelle tidak pernah hilang. Dan karena kedekatannya itu, Lubicchi jadi korban perundungan oleh anak-anak yang lain. Lubicchi memutuskan untuk menjauhinya. Menyedihkan sekali.







Secara garis besar ceritanya begitu sederhana. Ini tentang persahabatan tulus. Ketika Poupelle dan Lubicchi berjauhan pun, perasaan tulus itu tidak luntur. Ditambah dengan menggabungkan persahabatan dan memori kepada seorang ayah yang sudah meninggal, makin-makin menjadi keharuan kisahnya.

Momen paling menohok itu ketika Poupelle menyerahkan nyawanya kepada Lubicchi sebagai sebuah pengorbanan. Duh, beneran rasanya seperti ditonjok di ulu hati. Meski sudah dijauhi, Poupelle masih menyimpan rasa persahabatan mereka. Dan menariknya, momen itu dilakukan di suasana yang super indah. 

Kesederhanaan ceritanya memang tidak bisa diurai panjang-panjang di sini. Selain itu, ilustrasinya begitu menawan dan detailnya menarik. Ini tipikal buku anak yang saya suka, gambarnya penuh warna dan teksnya tidak banyak.

Dari kisah Poupelle dan Lubicchi kita bisa kembali mengingat persahabatan tulus yang mana yang masih kita punya hingga hari ini. Terutama untuk pembaca dewasa. Jangan-jangan kita jauh dari yang namanya 'ketulusan'.

Nah, sekian ulasan buku anak Poupelle Of Chimney Town ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Februari 05, 2025

Review Kumcer Tiga Permintaan Dan Cerita-Cerita Lain - Enid Blyton

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Tiga Permintaan Dan Cerita-Cerita Lain

Penulis: Enid Blyton

Penerjemah: Indri K. Hidayat

Ilustrasi: Val Biro

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2016, cetakan ketiga belas

Tebal: 192 hlm.

ISBN: 9786020330143

Tag: cerpen, anak-anak


Di sela membaca kumcer yang berat, saya memutuskan membaca kumcer anak. Dan pilihan saya jatuh pada buku kumcer Tiga Permintaan Dan Cerita-Cerita Lain yang ditulis Enid Blyton. Ada delapan cerita pendek yang kategorinya cerita anak dengan pesan moral yang layak banget disampaikan: Tiga Permintaan, Charlie si Pembohong, Pantas Jadi Tukang Sapu, Pak Topple dan Sebutir Telur, Masalah Sepele, Baskom Cuci Bu Cepat, Sally Ceroboh dan Tabby Jujur, dan Kena Batunya.


Pada cerita Tiga Permintaan mengisahkan Elsie dan Bobby yang saudaraan tapi suka bertengkar. Saat mereka sedang duduk-duduk di rerumputan tepi hutan, Elsie menemukan dan menangkap Peri. Keduanya meminta agar Peri mengabulkan tiga permintaan. Dan keduanya bertengkar lagi soal permintaan apa yang akan diminta. Namun ujung-ujungnya tidak ada permintaan yang dikabulkan yang menguntungkan mereka. "Orang yang bertengkar tak bisa berpikir jernih. Akibatnya, mereka melakukan hal-hal yang bodoh" (hal. 22).


Pentingnya berpenampilan bersih dan rapi disampaikan lewat cerita Pantas Jadi Tukang Sapu. Dick susah disuruh untuk membersihkan diri. Tampilannya kotor dan urakan. Dick kesal kepada Bu Guru Brown karena dinasehati. Ia pun kabur ke hutan dan malah ditangkap orang-orang kerdil. Dick dipaksa membersihkan cerobong asap karena disangka tukang sapu dan dia dikunci di dalamnya. Setelah selesai, Dick dibebaskan dengan tampilan lebih kotor dan hitam. Sejak itu Dick berubah lebih memperhatikan kebersihan diri sebab tidak mau mengulang membersihkan cerobong asap rumah orang-orang kerdil.


Kita diingatkan untuk tidak menceritakan sesuatu yang kita tidak tahu dalam cerita Pak Topple dan Sebutir Telur. Pak Topple yang akan kedatangan bibinya hendak membuat kue tapi telur satu-satunya yang ada di dalam kulkas justru membusuk. Ia pun menemui tetangganya, Pak Plod yang seorang polisi yang sedang bekerja di perempatan, untuk ijin meminta telur dari kandangnya. Pak Plod mengijinkan. Pak Topple segera pulang dan masuk ke pekarangan rumahnya lalu mengambil sebutir telur. Aksinya itu diketahui oleh Nyonya Suka Berbisik dan berkesimpulan Pak Topple sedang mencuri telur. Dan dia menceritakan yang dilihatnya kepada Tuan Suka Bicara, Tuan Suka Bicara menyampaikan lagi kepada Nona Sederhana, Nona Sederhana mengulangi ceritanya kepada Ibu Pendengar, Ibu Pendengar membicarakan lagi dengan Tuan Suka Ikut Campur, sampai akhirnya Tuan Suka Ikut Campur mengadukan hal ini kepada Pak Plod dan memintanya agar Pak Topple dipenjara. Merasa ada salah paham, Pal Plod segera membereskannya dengan merunut penyebaran kabar tidak benar itu.

Cerita yang lainnya pun sama serunya dan mudah dipahami. Jika cerita di buku ini diceritakan kepada anak-anak, pasti mereka akan menyukainya.

Yang paling penting dari sebuah cerita anak adalah harus mempunyai nilai baik yang disampaikan. Anak-anak adalah generasi emas. Pelajaran kebaikan sangat penting ditanamkan kepada mereka agar menjadi karakter kuat yang akan terus dibawa sampai mereka dewasa.

Buku ini tipis dan bagusnya lagi banyak ilustrasi yang mendukung ceritanya. Saya membaca buku ini seperti nostalgia dengan buku anak pas saya masih anak-anak dulu.

Secara keseluruhan, buku ini bagus banget dibaca oleh anak-anak atau dibacakan orang dewasa kepada anak-anak sebagai bahan pendidikan karakter. Tidak menggurui, tokoh-tokohnya menarik, dan kisah-kisahnya tidak membosankan.

Nah, sekian ulasan saya untuk buku kumcer Tiga Permintaan dan Cerita-Cerita Lain. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Oktober 19, 2023

Resensi Buku Anak Angin Dari Tebing 1 - Clara NG, Yustina Antonio


Judul: Angin Dari Tebing 1

Penulis: Clara Ng

Ilustrasi: Yustina Antonio

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Maret 2020

Tebal: 140 hlm.

ISBN: 9786020637372




Ada sebuah sekolah sederhana di tepi tebing. Orang-orang menyebutnya Sekolah Tebing. Ada 13 anak yang menjadi muridnya. Dan ini kisah keseharian segala yang berada di sekitar Sekolah Tebing.



Bersyukur banget bisa meminjam buku anak ini sebab gambar di dalamnya benar-benar menghibur. Kalau membaca profil ilustratornya, Kak Yustina, gambar-gambar ini dibuat menggunakan cat air. Tekstur dan warnanya lembut dan menyenangkan. Sangat bagus untuk sajian buku anak dan sudah pasti gambar-gambarnya bakal memikat pembaca berlama-lama memandangi detailnya.

Buku anak ini memiliki 28 judul cerita. Menurut saya sih tergolong banyak tetapi jangan panik dulu, setiap ceritanya pendek-pendek karena setiap halamannya ada gambar-gambarnya juga. Membaca buku begini bisa habis dalam sekali duduk lho.

Ceritanya sendiri berputar pada keseharian penghuni di dalam dan sekitar Sekolah Tebing. Ada 13 murid yang lucu-lucu dan memiliki kekhasan masing-masing. Ada mahluk hidup yang berbagi kisah  juga seperti anak kucing, ulat, anjing, kura-kura, laba-laba, tumbuhan bugenvile, dan masih banyak lagi.






Setiap ceritanya punya tema yang ringan. Seperti ketakutan Tia ketika pindah rumah, aksi kejar-kejaran tiga tikus yang menghebohkan kelas, tidurnya ulat yang pas bangun sudah jadi kupu-kupu, mimpi Bu Sheila bertemu Gatotkaca, dan masih banyak lainnya. Semua ceritanya aman kok untuk dibacakan buat anak-anak. Mereka pasti senang mendengar kisah yang unik dan sederhana, ditambah karakternya bermacam-macam.






Kak Clara Ng berhasil membangun imajinasi tentang sebuah sekolah dan pernak-perniknya yang begitu asyik buat anak-anak. Ditambah lingkungan sekitar dan suasananya yang mirip di pedesaan membuat jiwa kanak-kanak saya merindukan momen bisa lari-larian di lapangan dengan riang. Nostalgia sekali bagi pembaca yang punya masa kecil di lingkungan yang asri.

Oya buku ini juga ada bagian keduanya. Saya tidak sabar ingin meminjam dan membacanya juga. Dan sekian ulasan saya untuk buku anak ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!