Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Oktober 04, 2026

Review Novel Miss Peregrine's Home For Peculiar Children - Ransom Riggs

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

Penulis: Random Riggs

Penerjemah: Tanti Lesmana

Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2011

Tebal: 544 hlm.

ISBN: 9786020333885

Peringkat: 4 Bintang


Jacob Portman kecil sangat mengagumi kakeknya, Abraham Portman, karena sering didongengkan cerita seru tentang petualangan melawan monster dan tentang teman-temannya yang aneh. Dan ketika kakeknya ditemukan sekarat di tepi hutan dengan luka serangan yang misterius, Jacob berubah jadi sosok yang rentan, penuh kesedihan dan terpuruk. Ucapan pesan kakeknya sebelum meninggal dan surat yang dikirim oleh seorang perempuan mendorong Jacob bertekad mencari tahu.

Atas ijin dr. Golan, Jacob dan ayahnya pergi ke Pulau Cairnholm, tempat kakeknya berasal. Tujuan Jacob adalah mencari tahu masa lalu kakeknya dan keberadaan si pengirim surat. Sedangkan ayahnya ingin meneliti burung langka di pulau tersebut untuk merampungkan bukunya. 

Setelah beberapa hari mencari tahu dan berhasil mengunjungi gedung panti asuhan yang sudah porak-poranda bekas terkena bom pada masa perang, Jacob bertemu dengan Emma, teman kakeknya dulu. Dia kemudian diajak ke keluk, sebuah portal yang membawa mereka ke masa lalu sebelum panti itu terkena bom, 3 September 1940, dan berkenalan dengan Miss Peregrine, perempuan yang mengirim surat untuk kakeknya.

Keluk adalah ruang waktu yang dihentikan sehingga di sana tidak pernah berganti hari dan penghuninya terjebak di usia segitu terus. Keluk juga menjadi tempat persembunyian para peculiar dari serangan para Hollow yang dibantu para Wight. Dan munculnya Jacob menjadi ancaman karena ternyata dia sudah diincar dan dibuntuti dari lama. Musuh mengikuti Jacob untuk menculik Miss Peregrine yang akan dikorbankan dalam percobaan mendapatkan keabadian.

Berhasilkan para peculiar ini menghadapi ancaman yang sudah di depan mata?

***


Di awal novel kita akan dibikin senang dan sedih bersamaan. Kedekatan Jacob dengan kakeknya benar-benar mengharukan. Tetapi mendengar pengakuan ayahnya tentang hidup kakeknya membikin saya sedih. Kakeknya Jacob mengalami hidup yang pedih dari sejak kecil. Dia harus berpisah dengan keluarganya karena perang. Dia tinggal di panti asuhan sampai remaja dan kemudian memutuskan untuk ikut berperang juga. Panti asuhan tempat dia pernah tinggal dikabarkan menjadi sasaran bom. Kakeknya Jacob melanjutkan hidup tapi penuh misteri. Kata ayahnya, kakeknya itu sering bepergian berhari-hari sambil membawa senjata, seolah ia berburu monster seperti yang sering ia dongengkan.

Nyes banget membaca bagian cerita yang memotret lelaki dari tiga generasi yang membawa kisahnya masing-masing. Kakek Jacob membawa trauma mendalam akibat perang dan kehilangan beberapa kali yang kemudian memengaruhi bagaimana ia mengasuh anak-anaknya. Ayah Jacob menjaga jarak dengan kakek Jacob karena pola asuh yang terlalu kaku dan dingin di masa lalu. Dan Ayah Jacob mencoba memutus pola asuh itu kepada Jacob. Sedangkan Jacob dibuat tidak mengerti dengan situasi hubungan kakeknya yang ia kagumi dengan ayahnya yang ia sayangi.

Novel ini juga menyajikan dunia fantasi yang begitu keren. Pulau Cairnholm yang berada di lepas pantai Wales, Inggris, lokasi panti Miss Peregrine berada ternyata hanya rekaan penulis saja. Di sini juga diceritakan mengenai keberadaan keluk, portal ke dunia lain sesuai tanggal kejadian besar, tempat sembunyi para peculiar. Keluk ini tersebar di seluruh dunia dan tidak bisa diketahui oleh sembarang orang. Semua keluk menghentikan waktu sehingga anak-anak peculiar yang menghuninya akan tetap muda meskipun usia aslinya bisa puluhan dan ratusan tahun.

Anak-anak peculiar adalah anak-anak aneh dengan kemampuan yang ajaib. Emma bisa mengeluarkan api dari tangannya. Milard adalah anak yang tidak terlihat mata. Bronwyn si anak perempuan yang kuat. Fiona mampu menghidupkan bunga. Hugh si anak laki-laki dengan lebah-lebahnya. Horace si cenayang yang bisa melihat gambaran masa depan. Dan masih ada beberapa lagi.










Penjelasan lengkap mengenai anak-anak peculiar dan informasi keluk serta kepala-kepalanya ada di halaman 219 - 225. Luar biasa lengkap dan membuat saya paham kondisi yang mereka alami sebagai anak-anak aneh yang kerap mengalami diskriminasi dan susah dimengerti orang-orang normal.

Karena ini buku pertama, saya merasa buku ini sebagai perkenalan dunia peculiar. Semua detail dibahas lengkap. Disampaikan juga latar belakang keluarga Jacob yang membuat saya paham akhirnya kenapa dia bisa masuk ke dalam keluk, dan menjawab beberapa kejadian aneh yang dialaminya.

Konflik di sini semakin seru karena ada musuh yang mengincar. Hollow adalah pemburu peculiar untuk dimakan dan wight adalah pembantu yang akan menyediakan anak-anak peculiar untuk disantap. Namun ternyata ada motif besar yang sedang dirancang oleh para hollow dan wight dengan menculik kepala sekolah di banyak keluk.

Tensi konflik di novel ini jadi tinggi karena yang berseteru dengan musuh adalah anak-anak. Meski umur mereka bukan anak-anak tapi karena dijebak waktu, pengalaman, pola pikir, dan tingkah lakunya masih tetap anak-anak. Saya merasa deg-degan dengan kemampuan mereka. Tidak ada yang mengajari tapi kemudian mereka harus keluar dari lingkaran waktu yang selama ini mengungkung mereka.

Dari novel ini saya mendapatkan pelajaran mengenai trauma bawaan yang ternyata membawa pengaruh tidak baik jika tidak disembuhkan. Saya merasa sikap keterbukaan bisa menjadi satu langkah baik untuk pelan-pelan mengurai kekusutan masa lalu dan menyembuhkan luka-luka.

Selain itu saya tersadarkan kalau menjadi orang yang berbeda (contohnya mereka yang disabilitas) itu sangat berat. Ketidakpahaman orang dewasa terhadap anak berkebutuhan khusus kadang justru menyakiti anak tersebut secara mental. Saya tidak menyalahkan orang dewasa karena ketidaktahuannya tapi ternyata sikap mau menghargai perbedaan memang harus diajarkan agar terbiasa dengan perbedaan itu.

Oya di halaman terakhir novel ini ada bagian wawancara dengan penulis mengenai bagaimana ide membuat cerita peculiar ini bermula. Ternyata ada ya orang yang suka mengoleksi foto-foto lama yang memotret keanehan, entah itu asli atau memang sudah dikonsep. Dan dari situ muncul tokoh-tokoh unik yang dimasukkan ke ceritanya. 

Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca novel ini. Dunia peculiar adalah dunia baru yang ternyata menyimpan banyak hal ajaib. Saya tidak sabar ingin melanjutkan petualangan Jacob setelah dia meninggalkan keluk di Pulau Cairnholm. 

Saya juga sangat suka dengan penerjemahan novel ini karena begitu baik jalinan diksinya. Penjelasannya sangat bisa dipahami dan sepanjang membaca saya merasa tidak kesulitan meskipun bertebaran istilah-istilah baru.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Miss Peregrine's Home for Peculiar Children karya Ransom Riggs ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

September 27, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Januari 2024

Tebal: 384 hlm.

ISBN: 9786230312557

Peringkat: 4 Bintang


Marianne bangkit dari kematiannya dan itu tanda kalau ia sudah genap jadi penyihir. Tujuannya kali ini adalah kembali ke Kepulauan Timur untuk menyelamatkan Torin dan meminta bantuannya untuk membentuk pasukan dalam rangka mempersiapkan perang besar melawan Gaius.

Pertemuannya dengan Born menjadi sangat kaku. Terasa ada jarak lebar yang membentang. Dan lebih membingungkan lagi ketika Marianne melihat sepupunya, Ravyn, yang menyukai Born juga. Pikiran buruknya, jangan-jangan selama ia tidak bersama Born, posisinya sudah digantikan Ravyn.

Untuk membentuk pasukan yang cukup besar butuh usaha yang sangat keras. Kondisi Kepulauan Timur yang sedang tidak baik-baik saja membuat rencananya sulit diwujudkan. Marianne mengajak Para Peramal untuk ikut bergabung namun ditolak. Akhirnya, pasukan yang ada dipersiapkan dengan lebih baik.

Rombongan Marianne kembali ke Kepulauan Barat. Dan kedatangannya ini disambut dengan banyak peristiwa tragis dan banyak kematian. Marianne beberapa kali merasa usahanya untuk melawan Gaius tidak akan berhasil karena sihir dalam tubuhnya susah dikendalikan. 

Namun, ia tidak punya pilihan untuk mundur karena semakin Gaius kuat, maka semuanya akan mati. 

Bagaimanakah perang besar antara dua penyihir ini akan berakhir?

***


Akhirnya buku ketiga dari series Isles Of Storm & Sorrow ini selesai dibaca juga. Penutup cerita yang bagus untuk mengakhiri perjalanan dan perjuangan gadis muda bernama Marianne.

Menurut saya di buku terakhir ini cerita mulai berpusat pada bagaimana Marianne mempersiapkan peperangan besar untuk mengalahkan Gaius. Selain mengumpulkan pasukan, dia juga fokus belajar menerima dirinya sebagai penyihir agar kekuatan itu bisa dikendalikan. 

Dan pada fase ini, banyak sekali kematian yang disajikan. Emosi Marianne dibolak-balik tapi ia tidak punya waktu banyak untuk meratapi kesedihan karena ia pun sedang kejar-kejaran dengan waktu sebelum Gaius lebih dulu membantainya. Beberapa momen kehilangan itu membuat saya sedih juga karena saya kira tokoh-tokoh itu akan sangat berguna membantu Marianne dalam pertempuran terakhirnya. 

Perkembangan romansa antara Marianne dan Born pun mulai digali lebih dramatis. Apalagi penulis menghadirkan orang ketiga, yaitu sepupu Marianne sendiri, Ravyn, sebagai ujian perasaan yang menghadirkan letupan-letupan cemburu. 

Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Adegan ajaib dari ilmu sihir pun mulai banyak ditunjukkan seiring semakin bertambah kemampuan Marianne. Bahkan pada peperangan besar pun akhirnya sihir itu disajikan dengan epik. 

Di sini pun ada kejutan tentang sosok yang dekat Marianne tapi menjadi pengkhianat. Motif yang cukup relevan dan penulis benar-benar halus sekali membuat pengkhianat ini bisa dideteksi.

Yang menurut saya kurang di novel ketiga ini adalah adegan perang besarnya kurang bombastis dan durasi penceritaannya kurang panjang. Adu sihirnya belum beragam dan saya tidak menemukan klimaks pertempuran yang membuat pembaca bisa berdebar-debar. Perang besarnya hanya disajikan dalam beberapa halaman saja padahal perang ini adalah puncaknya, harusnya penulis menceritakan dengan detail, berurutan, memberi peningkatan intensitas cerita, dan harusnya diakhiri dengan pertempuran yang berkali-kali. Sangat disayangkan sekali.



Secara keseluruhan, saya sangat menikmati bagian akhir dari perjuangan seorang Marianne. Series ini mengajarkan kita untuk tidak pantang menyerah dan mengingatkan tentang penerimaan diri atas berkat yang diberikan. Jika kita menerima diri sendiri dengan jujur, kemampuan terbaik kita akan muncul dengan sendirinya.

Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Agustus 29, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata Dari Barat) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: September 2022

Tebal: vi + 450 hlm.

ISBN: 9786230307676


Di malam setelah perayaan pernikahan, Pangeran Torin ditusuk penyusup saat sedang tidur dan Marriane yang sebelumnya menyerang penyusup itu jadi tertuduh sebagai pelaku. Ia pun diadili Raja dengan menghadirkan kesaksian-kesaksian palsu bahkan dari orang kepercayaannya, Sharpe dan Bornn.

Marriane berhasil kabur dan atas bantuan Raoul, peramal dari Pulau Ketiga, ia pun berlayar menuju Kepulauan Barat. Tujuannya bertemu Esther untuk mempelajari sihir walaupun setibanya di Pulau Salju ia tidak menemukan Esther. Marriane diperbolehkan tinggal dengan keluarga penjaga Kuda Salju hingga ia ditemukan oleh Para Pelindung. 

Marriane dibawa ke Kerajaan Barat dan kehadirannya tidak disukai oleh Arlan dan Eena sebagai keluarga Pangeran Rafe, anak muda yang disiapkan menjadi pewaris Kerajaan Barat. Berkat Gaius, penyihir dan penasihat kerajaan, Marriane belajar ilmu penyembuhan dan sihir. Namun ternyata Gaius memiliki motif lain hingga penyiksaan demi kekuatan sihir yang lebih kuat tak terelakkan.

Mampukah Marriane bertahan sekali lagi?

***



Saya sangat penasaran dengan petualangan Marriane pasca musuh sekaligus ayah palsunya tewas. Kira-kira dia bakal menghadapi musuh siapa lagi karena sepanjang buku kemarin tidak terdeteksi lawan kuat yang akan menyusahkan. 

Dan ternyata dramanya semakin kuat saja. Selain dituduh sebagai pelaku percobaan pembunuhan, Marriane juga dikhianati banyak pihak dan membuatnya terpuruk. Tapi yang lebih menyebalkan karena karakter Marriane di babak dua ini semakin dibuat kebingungan. Sedikit-sedikit dia khawatir dengan Pangeran Torin padahal saya tahu betul pernikahan mereka hanya politik dan perkenalan mereka pun sangat minim. Sedikit-sedikit ia galau karena meninggalkan Bornn. Yang sedikit-sedikit inilah yang membuat saya kesal karena Marriane makin banyak melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya selalu dalam masalah.

Tapi saya sangat suka dengan dunia yang dibangun penulis di Kepulauan Barat ini karena unsur sihir digali lebih jauh. Kemunculan Kuda Salju menjadi momen ajaib yang menegaskan kalau sihir masih eksis. Raptor air pun kembali muncul namun setelah Marriane bisa mengendalikan sihirnya.

Petualangan Marriane pun makin seru sebab di Kepulauan Barat ini dia bertemu dengan banyak orang-orang baru dan dia harus adapatasi dengan ketidaktahuannya. Marriane pun mulai berseteru dengan pihak Kerajaan Barat karena tahta yang kosong sedianya sudah disiapkan untuk pangeran muda, Pangeran Rafe.

Kemunculan Gaius sangat melegakan karena akhirnya Marriane bisa bertemu guru yang ahli sihir. Beberapa kali percobaan untuk mengasah sihir pada diri Marriane membuat saya lumayan terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan lagi karena Gaius tidak sebaik yang dipikirkan Marriane dan Pelindung lainnya. 

Ada adegan mengejutkan pada akhir novel ini yang sengaja dibuat penulis untuk jadi momen besar yang akan ditemukan di buku selanjutnya.

Di sini juga dibahas soal romansa LGBT. Tapi tenang saja porsinya sangat kecil dan penjelasannya halus jadi masih aman buat yang LGBTphobic.

Untuk penerjemahannya masih stabil bagusnya. Saya tidak menemukan kesulitan sepanjang membaca novel ini. 

Yang membuat saya agak kurang suka di novel ini soal karakter Marriane yang berbeda sekali dibandingkan dengan novel pertamanya. Di sini muncul karakter seorang gadis pada umumnya. Kebingungan soal perasaan kepada lawan jenis yang kemudian berimbas pada banyak kebodohannya. Saya sempat menebak apakah perubahan ini karena tujuannya untuk menjadi Viper tercapai dan itu membuatnya arogan dan berleha-leha. Tapi rasanya aneh kalau karakter pejuang dan keras yang dibentuk dari kecil hilang sejekap mata. 

Karakter lain dari tokoh-tokoh baru berhasil dimunculkan memberi warna cerita. Namun memang tidak ada pendalaman karena waktu kebersamaan dengan Marriane tidak begitu banyak sehingga saya hanya melihat karakter luarnya saja, baik itu Gaius ataupun Para Pelindung.

Secara keseluruhan novel ini tetap seru. Ini adalah pengenalan Marriane dari tempat asalnya. Ini juga momen Marriane mengenal sihir lebih jauh lagi. Dengan akhir cerita yang mengejutkan, buku ketiganya harus segera dibaca karena penasaran.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Agustus 23, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Maret 2021

Tebal: 448 hlm.

ISBN: 9786230304194


Saya senang sekali karena bisa membaca buku ini sampai selesai. Setelah beberapa waktu tidak ada bacaan yang selesai, ini perlu banget dirayakan.

Novel ini tuh menceritakan perseteruan anak gadis dan ayahnya dengan latar kapal dan laut. Marriane memberontak dari Adler, ayah sekaligus seorang viper, karena ternyata ayahnya lebih jahat dari yang ia kira. Selain membunuh, ayahnya juga berkhianat kepada kerajaan. Dan Marriane yang sudah siap untuk dinobatkan jadi snake dengan tes harus membunuh orang yang tidak bersalah, dia memilih kabur dan melarikan diri dari kejaran ayahnya yang murka. Marriane tidak mau menjadi seperti ayahnya.

Petualangan Marriane mengarungi lautan dan beberapa pulau di Kepulauan Dua Belas penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Rahasia hidupnya terungkap dan kekuatan sihir yang tertidur mulai menggeliat. Batas Kepulauan Barat dan Timur dilewati saat pertempuran besar terjadi. Makhluk raptor air yang selama ini dipercaya sebagai mitos ternyata bisa dipanggil oleh Marriane. 

Berhasilkan Marriane melawan ayahnya?

***



Cerita petualangan di laut di novel ini tuh seru banget. Kehidupan di kapal Maiden dan orang-orangnya diceritakan sangat meyakinkan. Sebagai armada penjaga lautan, kebanyakan hidup viper dan para snake berada di laut. Mereka tunduk pada titah raja dan harus mengamankan kepulauan dengan menyerang kapal-kapal bandit atau pun serangan dari luar kepulauan.

Petualangan menuju pulau-pulau di Kepulauan Dua Belas pun sangat menarik. Setiap pulau punya ciri khas masing-masing. Pulau Raja jadi pulau utama tempat kepemimpian raja berdaulat. Pulau Ladang sebagai pemasok hasil Pertanian. Pulau Bunga dipenuhi aneka bunga yang bisa digunakan sebagai bahan obat-obatan. Pulau Batu sebagai tambang permata. Sayangnya tidak semua pulau di Kepulauan Timur dijelajahi dengan detail. Sementara pulau di bagian Barat masih sangat misterius karena di novel ini belum banyak penjelajahan ke sana.

Rahasia asal-usul Marriane pun sangat mengejutkan karena di awal sempat dibahas tentang ibunya namun tidak lengkap. Lambang V pada kompas yang diberikan Grace pun memberi petunjuk walaupun awalnya semua orang mengira V itu lambang Viper. Dan semua terbongkar ketika Marriane bertemu Esther di Pulau Delapan. Esther adalah teman dari ibunya Marriane dan memiliki hubungan romansa dengan Adler di masa lalu. Sejak mengetahui cerita lengkap tentang orang tuanya, keinginan Marriane untuk menghabisi ayahnya semakin membara.

Bukan hanya drama keluarga antara ayah dan anak yang diceritakan novel ini, tapi ada romansa menyedihkan yang ditonjolkan juga. Marriane dan Bornn adalah sahabat sejak kecil sejak mereka bergabung di Kapal Maiden. Ketika beranjak dewasa perasaan itu perlahan berubah tetapi keduanya enggan melewati batas yang selama ini sudah terbentuk. Pergulatan perasaan itu semakin hebat saat Marriane harus bertunangan dengan Pangeran Torin atas gagasan ayahnya. Meski pertunangan itu bentuk politik bukan perasaan, Marriane dan Bornn tetap harus menanggung jarak yang semakin jelas bagi keduanya.

Unsur sihir yang sebelumnya diceritakan sudah dihilangkan keberadaannya di Kepulauan Timur mulai muncul lagi lewat Marriane. Beberapa peristiwa keberadaan sihir bisa dirasakan, termasuk saat muncul raptor air berkat campur tangan sihir yang dilakukan Marriane. Namun penulis tidak ingin buru-buru membongkar keberadaannya dan ini patut ditunggu di novel berikutnya.

Sebagai novel aksi, kita juga bakal menemukan banyak pertarungan senjata, perkelahian, bahkan tindakan kekerasan yang membuat ngilu dan jijik. Yang paling saya ingat yaitu saat Marriane disiksa dengan dicabut kukunya dan itu bikin saya meringis membayangkannya kesakitannya. Apalagi setelah itu dia harus mendaki bebatuan dengan tangan kosong, makin-makin ngilu saja.


Untuk penerjemahan novelnya sangat bagus. Rasanya mengalir banget pas bacanya. Walau ada nama-nama aneh seperti nama bunga yang terasa asing tapi tidak membuat sendatan. Dan kalau melihat sampul novel ini, saya cuma bisa kasih satu kata, "Apik".

Tokoh-tokoh di novel ini sangat banyak tapi penulis mampu menempatkan mereka pada porsi yang pas. Adler, Marriane, Bornn, Pangeran Torin, dan Grace cukup menonjol. Sedangkan tokoh lainnya muncul di waktu yang pas sehingga tidak mengganggu jalur cerita tokoh utamanya tapi kita tetap bakal ingat keberadaannya. Misalnya tokoh Toby, anggota kapal Maiden paling muda, atau Sharpe, pengawal kepercayaan Pangeran Torin. Belum lagi beberapa anggota snake di Kapal Maiden yang pada beberapa momen kemunculannya sangat penting untuk cerita.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati cerita Marriane di novel ini dan saya tidak sabar ingin segera lanjut baca buku keduanya karena sudah terpantau trilogi buku ini sudah lengkap diterjemahkan.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

April 07, 2026

Review Buku Anak Whispers Of The Shadow: Three Tales Of Wonder - M. Sutandi

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Whisper Of The Shadow: Three Tales Of Wonder

Penulis: M. Sutandi

Ilustrator: Gratiani & Pratita

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

Terbit: Oktober 2024

Tebal: vi + 162 hlm.

ISBN: 9786020531175



Karena sering melihat buku ini di lokapasar, saya memutuskan untuk membelinya. Bukan apa-apa, saya memang suka dengan bacaan anak-anak. Selain ceritanya yang sederhana, formatnya yang pendek jadi alasan lain, sekalian untuk selingan karena sedang susah menyelesaikan baca novel.

Yang membuat buku ini spesial karena diproduksi penuh warna dan disajikan dalam bilingual; bahasa indonesia dan bahasa inggris. Anaka-anak pasti suka dengan gambar-gambarnya.

Sebagai buku anak, buku ini juga memiliki visi mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Ada tiga cerita yang disuguhkan: The Girl and Her Shadow, The Little Flower, dan The Proud Hermit Crab.





The Girl and Her Shadow menceritakan tentang anak perempuan yang dalam pencarian jati dirinya dia mengusir dan meninggalkan bayangannya. Padahal dari sejak kecil hanya bayangannya yang menemani dan selalu ada. Namun setelah dewasa, saat ia kehilangan segalanya dan semua orang yang ia anggap teman justru pergi, ia tersadar kalau ada yang kurang dalam dirinya. Memori kecil teringat kembali menyadarkan apa yang sudah ia lupakan selama ini.






The Little Flower menyadarkan kepada kita kalau memaksakan memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dimiliki justru akan membawa hal tidak baik. Bunga kecil yang tumbuh indah di padang rumput dekat pohon besar mencoba bertahan saat seorang anak kecil merusaknya dengan bola yang dia mainkan. Setelah kembali pulih, datang lagi anak kecil yang merayunya agar mau dibawa kerumah. Kegigihan anak itu membuat bunga kecil mengiyakan dengan syarat: memberinya air dan membawanya ke tempat yang bisa kena cahaya matahari. Tapi namanya anak-anak, mereka akan memiliki teman dan sibuk bermain, hingga melalaikan bunga kecil itu hingga bentuknya hampir mati. Sebelum terlambat, si anak mengabulkan keinginan bunga kecil untuk dikembalikan ke tempat semula ia tumbuh.




Sedangkan cerita The Proud Hermit Crab membahas soal anak umang-umang yang dimanja dan disanjung orang tuanya hingga ia berpikir kalau ia paling segalanya. Saat si anak melakukan salah pun, orang tuanya tetap membela. Begitu umang-umang sudah dewasa dan meninggalkan orang tuanya untuk menemukan pasangan sekaligus membentuk keluarganya, kesombongan itu tetap melekat. Setiap berpapasan dengan hewan lain, kesombongan itu dia tunjukkan. Tetapi pertemuannya dengan elang laut dada putih membuat umang-umang sadar apa kesalahannya. 



Dari ketiga cerita saya menemukan benang merah yang entah disengaja atau enggak yaitu soal kesendirian. Semua ceritanya membahas itu: anak perempuan yang awalnya sangat tertutup, bunga kecil yang ditinggalkan karena si anak menemukan kesukaan baru, dan si umang-umang yang kerap ditinggalkan di rumah bila orang tuanya pergi mencari makan. 

Ada benarnya juga, ketika masih anak-anak ada semacam kegugupan untuk berbaur dengan orang atau lingkungan baru. Jika orang tuanya paham, si anak akan digandeng untuk mulai membaur. Tetapi ada beberapa anak yang karena tidak ada yang menggandeng, ia memilih mundur menjauh dan jadi anak yang tertutup. Pola asih ini membentuk karakter si anak dan jika tidak ada perubahan maka bisa terbawa sampai saat ia dewasa. Seserius itu ya pembahasannya padahal ini cerita anak lho!

Buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali duduk. Nilai yang dikandung ceritanya mengingatkan kembali pembaca pada nilai baik yang sifatnya universal, yang harus tetap dimiliki sampai kapan pun. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku anak Whispers Of The Shadow: Three Tales Of Wonder ini. Terakhir dari saya, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!





Maret 21, 2026

Review Novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu - Lee Kkoch-Nim

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Keberuntungan Sedang Menghampirimu

Penulis: Lee Kkoch-Nim

Penerjemah: Iingliana

Desain sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025

Tebal: 208 hlm. 

ISBN: 9786020686585


Hyeong-su dan Wu-yeong secara kebetulan melihat teman sekelas mereka, Eun-jae, dipukuli ayahnya dengan brutal. Semenjak itu keduanya terusik, ada panggilan hati ingin tahu lebih banyak apa yang sebenarnya terjadi di hidup Eun-jae. Umur mereka yang masih 15 tahun menjadi gap untuk jadi pahlawan melawan orang dewasa. Tapi kekerasan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Apakah Hyeong-su dan Wu-yeong bisa menyelamatkan Eun-jae?



***

Jujur, baca novel ini bener-bener bikin sesak nafas, sedih, marah, dan sakit hati. 

Novel ini berhasil menggambarkan penderitaan remaja perempuan yang mengalami kekerasan oleh ayahnya sendiri. Ibunya Eun-jae pergi meninggalkannya dan sejak itu ia jadi sasaran amarah ayahnya. Rumah sudah seperti neraka, penuh kemarahan, penuh luka, dan penuh ketakutan. Mental Eun-jae sudah rusak, ia bahkan tidak yakin bisa keluar dari penyiksaan itu dan yang ada dalam benaknya hanya ingin mati saja. Orang di sekitarnya yang pernah mencoba membantu tapi tidak berhasil makin membuat Eun-jae pesimis dengan takdir hidupnya.

Hyeong-su dan Wu-yeong jadi tokoh yang membawa aura beda di novel ini. Persahabatan mereka lucu dan konyol. Saya sangat terhibur dengan ulah mereka yang bikin banyak salah paham. Gong-nya pas ide Hyeong-su supaya Wu-yeong tidak jadi bahan gosip kalau ia pacaran dengan Ketua Kelas justru bikin membuat Ketua Kelas resmi jadi pacar Wu-yeong. Dari sini hubungan ketiganya makin dinamis dan kemudian terseret ke masalah Eun-jae.

Meskipun keduanya kelihatan seru tapi sebenarnya mereka punya masalah masing-masing. Hyeong-su berasal dari keluarga harmonis tapi masalahnya adalah dia tidak tahu ia ingin jadi apa. Sedangkan Wu-yeong memiliki masalah lebih pelik sebab ia jadi anak yang dibebani obsesi ibunya untuk selalu berhasil. Hidupnya diisi banyak les karena menurut ibunya jika anaknya mendapat nilai 100, maka ibunya pun sukses mendapatkan nilai 100.

Sedih banget pas baca bagian ucapan ibunya Wu-yeong, "Sudah berapa kali kubilang kau harus berhasil supaya ibumu juga berhasil? Sudah berapa kali kubilang kalau kau gagal, hidup ibu juga akan gagal? Sudah berapa kali?!" (hal. 143) Mental anak yang dipaksa sempurna benar-benar rusak dan rentan. Kata-kata tekanan membuat jiwanya jadi pengecut, bimbang memutuskan sesuatu, dan komitmennya angin-anginan.

Novel ini cukup unik karena menggunakan sudut pandang dari dewi keberuntungan yang saban waktu mengawasi tokoh-tokoh di sini. Ada beberapa pernyataan berisi simpati dari dewi keberuntungan dengan nasib remaja-remaja ini. Tapi porsi kemunculan sudut pandang ini minim jadi tidak bikin bingung, kayak baca novel umumnya yang pakai POV ketiga saja.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan penulis sangat beragam. Selain Eun-jae, Wu-yeong, dan Hyeong-su, kita akan kenalan juga dengan tokoh lainnya yang punya peran penting seperti Ketua Kelas, Pelatih Choi, dan Ji-jeong. Mereka adalah orang-orang hebat yang bisa menarik Eun-jae keluar dari neraka hidupnya.

Dari novel ini kita diajak merenung soal bisakah kita membantu orang-orang di sekitar kita yang mengalami kekerasan. Atau justru kita akan abai dengan dalih bukan urusan kita. Apakah jika kita melihat anak yang dibully oleh teman-temannya kita akan membantu? Atau apakah jika kita melihat perempuan muda yang dikasari pacarnya kita akan membantu? Saya sedih banget pas membayangkan jika tokoh Eun-jae sampai meninggal gara-gara tokoh-tokoh lainnya tidak bisa membantu dengan maksimal padahal mereka tahu seberat apa masalah yang menimpanya. Untungnya penulis tidak membuat ceritanya jadi begitu gelap.

Ada bagian paling super emosional di novel ini yaitu saat Eun-jae sudah dijauhkan dari ayahnya dan ia mendapati keadaan kontainer sepak bola tempat aman ia tinggal dalam kondisi berantakan. Eun-jae sangat marah dan ia berlari kencang. Bukan menuju ayahnya untuk membalas semua ulahnya melainkan ke kantor polisi. Ia membuka kardigan yang selama ini dipakai untuk menutupi lukanya. Dan pada momen itu polisi pun ternganga melihat saking parahnya kekerasan yang sudah dialami Eun-jae. Memar di atas memar, luka dibekas luka. Klimaksnya saat Eun-jae bilang, "Tolong... aku." SUMPAH SEDIH BANGET.... KENAPA BARU SEKARANG, EUN-JAE?


  • Hidup sering kali bergurau dan hanya sesekali menyediakan kesempatan. Namun, orang-orang tidak bisa mengetahui kesempatan-kesempatan apa yang tersedia untuk mereka. Kesempatan untuk dimaafkan, kesempatan untuk menjadi berbeda, kesempatan untuk mengubah hidup (hal. 65)
  • Membesarkan anak memang sulit. Kau mungkin merasa baru mulai berhasil menyesuaikan diri, tetapi anak-anakmu sudah melompat jauh mendahuluimu (hal. 79)
  • Cinta sejati adalah menyukai seseorang apa adanya. Seandainya kau lebih kurus, seandainya kau lebih tinggi sedikit, seandainya kau lebih pintar bicara, seandainya kau lebih pintar di sekolah... Bukannya membicarakan kekurangan yang tidak ada akhirnya, seharusnya seseorang disukai karena segala hal tentang dirinya (hal. 112)
  • Hidup itu bagaikan bola yang tidak bisa diduga ke mana arah pantulannya. Kitalah yang menentukan apakah kita bisa mempertahankan bola itu atau membiarkan lawan merebutnya (hal. 117)
  • Orangtua bodoh yang yakin bahwa anak-anak yang berusaha keras memahami orangtua, meski harus menerima berbagai kata-kata dan tidakan kasar, adalah anak-anak yang patuh dan akan tumbuh besar tanpa masalah. Berbeda dengan dugaan bodoh kalian, anak-anak justru akan semakin menjaga jarak. Ketika anak-anak semakin kuat dan tidak lagi takut pada kalian, mereka pasti akan bersiap-siap meninggalkan kalian tanpa menoleh ke belakang (hal. 146)
  • "Kalau kau membuat seseorang tertawa, bukankah itu berarti kau orang yang berguna?" (hal. 203)


Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca oleh siapa pun. Biar kita lebih peduli dengan orang-orang yang mengalami kekerasan tapi tidak bisa minta tolong saking korban ketakutan. Sedih, lucu, dan menghangatkan hati membuat novel ini begitu bermakna. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu karya Lee Kkoch-Nim ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Februari 23, 2026

Review Novel Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa) - Han Su-in

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa)

Penulis: Han Su-in

Penerjemah: Dwita Rizki

Desain sampul: Hastapena

Penerbit: BACA/ PT Bentara Aksara Cahaya

Terbit: Oktober 2025, cetakan pertama

Tebal: 220 hlm.

ISBN: 9786238371495


Novel ini menceritakan tentang siswi SMP bernama Lala yang mendapatkan pekerjaan paruh waktu di Toko Roti Manyeo. Toko roti yang dikelola oleh perempuan bernama Kim Manyeo dan kucing ajaib yang bisa berbicara, Jaerong, bukanlah toko roti biasa, melainkan tempat singgah para roh hewan yang butuh memwujudkan harapan terakhirnya sebelum pergi ke Dunia Bawah.

Roh atau Doong Doong hewan itu akan mendiami roti sampai ia ditemukan kembali oleh tuannya. Dan mempertemukan Doong Doong dengan tuannya cukup pelik. Bakat Lala untuk melihat masa lalu dari para Doong Doong ini sangat membantu prosesnya.

Bobae adalah roh ikan yang ingin berpamitan dengan Jeongseo dan keluarganya. Mori adalah roh anjing yang memiliki drama rumit sebab ia menghindari Lala bertemu dengan pemiliknya karena ada bahaya yang mengancam. Dua Doong Doong ini justru membawa Lala, Manyeo, dan Jaerong kepada kejadian mengerikan yang ditimbulkan oleh roh jahat Youngjeong. Bahkan kematian Bobae dan Mori akibat ulahnya.

Youngjeong memiliki misi jahat dengan membunuh hewan-hewan. Lala yang memiliki bakat istimewa merasa terpanggil untuk menghentikan kejahatannya. 

Tapi berhasilkan Lala menyegel kembali Youngjeong agar tidak ada lagi hewan-hewan yang jadi korban?



***

Novel ini memiliki ide cerita yang fresh buat saya; menceritakan roh-roh hewan yang penasaran dan butuh penyelesaian dengan pemiliknya sebelum mereka kembali ke langit. Pembaca diajak lebih dekat kepada kisah orang-orang yang memiliki hewan peliharaan. Rasa sayang dan kehilangan dipadukan menjadi drama yang mengaduk emosi.

Sisi fantasi yang disajikan lumayan kental dan beberapa bagian menurut saya susah dibayangkan. Selain perwujudan Doong Doong dari hewan-hewan, ada juga proses perpindahan tempat menggunakan kipas, pohon Zelkova Keramat, dan masuk lewat sketsa yang menurut saya fantasinya ketinggian. Bahkan membayangkan bentuk hewan menjadi kue pun sangat susah buat otak saya, hehe, padahal ini pondasi dari keseluruhan kisahnya.

Setelah kemunculan karakter jahat Youngjeong, cerita mulai terang benderang menjadi misteri dan survival. Pertarungan antara Lala dan Youngjeong tak bisa dihindari. Seru sekali mengikuti Lala, Manyeo dan Jaerong berusaha menyegel kembali Youngjeong.

Dan saya cukup terkesan dengan detail-detail yang disajikan karena tidak mubazir. Pada akhir cerita semua akan terungkap kenapa muncul permintaan yang bisa diwujudkan langit dan adanya kontrak kerja.

Di sini juga dijelaskan secara umum makna shio dari 12 hewan-hewan. "...Ada 12 hewan yang dikelompokkan menjadi; macan, kelinci, dan naga sebagai musim semi; ular, kuda, dan kambing sebagai musim panas; monyet, ayam, dan anjing sebagai musim gugur; dan babi, tikus, dan kerbau sebagai musim dingin. Hewan terakhir di setiap musim adalah naga, kambing, anjing, dan kerbau. Hewan-hewan itu berperan untuk mengakhiri musim dan menyambut musim berikutnya. Mereka memiliki kekuatan khusus. Kekuatan yang menyimbolkan akhir, penutupan, ketiadaan, dan kematian." (hal. 212-213). 

Untuk tokoh-tokoh pemelihara hewan, saya bisa mengerti dengan kehidupannya. Tetapi untuk karakter Lala sebagai tokoh utamanya, saya merasa masih kurang tergali lebih dalam bagaimana kehidupannya dengan keluarganya. Meski saya tahu kalau ibunya sudah meninggal karena kecelakaan, tapi bagaimana hubungannya dengan keluarga yang lain tidak diungkapkan.

Untuk penerjemahan novel ini seperti ada ketidakluwesan karena saya kurang menikmati proses membacanya. Beberapa kali saya juga merasa gap ketika narasi plot sedang maju tiba-tiba manuver ke narasi plot mundur. Alhasil saya harus memastikan ulang di momen itu.

Secara keseluruhan novel ini seru karena membawakan kisah yang unik yaitu membahas soal mereka yang memelihara hewan dan bagaimana hubungan kasih sayang itu terjalin. Sisi fantasinya lumayan berat tapi dibayar lunas saat cerita mulai menuju ke perseteruan antara tokoh baik dan tokoh jahat. Novel ini pas dibaca untuk penyuka literasi korea dengan kisah drama tentang kehilangan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Witch Bakery karya Han Su-in ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Februari 22, 2026

Review Novel The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz) - L. Frank Baum

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz)

Penulis: L. Frank Baum

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Editor: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Januari 2026

Tebal: 182 hlm.

ISBN: 9786020686455


Mengawali bacaan di Februari dengan novel klasik yang ringan dan bisa dibilang ini buku untuk anak-anak.

Novel ini menceritakan anak perempuan bernama Dorothy yang diasuh oleh Bibi Em dan Paman Henry. Suatu hari rumah mereka dihempas angin puyuh dan membawa Dorothy dan anjingnya, Toto, terdampar di Negeri Oz.

Negeri Oz adalah negeri yang indah dan tenang namun Dorothy tetap ingin kembali ke Kansas untuk bertemu dengan bibi dan pamannya. Kata para Munchkin, Dorothy harus meminta tolong Penyihir Agung Oz di Kota Zamrud. 

Petualangan Dorothy dan Toto pun dimulai. Namun ia tidak sendirian sebab dalam perjalanannya Dorothy bertemu dengan Orang-orangan Sawah, Penebang Kayu Timah, dan Singa Penakut. Mereka melakukan perjalanan dengan membawa harapan masing-masing. Dorothy ingin kembali ke Kansas, Orang-orangan Sawah ingin diberikan otak agar tidak bodoh, Penebang Kayu Timah ingin diberikan hati agar memiliki perasaan, dan Singa Penakut ingin diberikan keberanian.

Banyak halangan dan tantangan yang menghadang tetapi berkat saling tolong menolong mereka bisa melaluinya. 

Tetapi apakah Penyihir Agung Oz akan mengabulkan harapan mereka?



***

Dengan membawa tema petualangan, novel ini sangat seru dibaca. Walau tujuan utamanya bertemu dengan Penyihir Agung Oz, namun penulis tidak menyelesaikan perjalanannya semudah itu. Dorothy dan teman-temannya harus pergi ke Negeri Winkie untuk menghancurkan Penyihir Jahat dari Barat. Dan setelah berhasil, Oz meninggalkan Kota Zamrud dengan balon udara. Dorothy dan teman-temannya kembali harus ke Selatan menemui Penyihir Baik, Glinda.

Perjalanan Dorothy dan teman-temannya yang enggak mudah membuat kisahnya semakin menarik dan membuat penasaran. Mereka dikejar binatang buas, harus melewati taman Opium yang beracun, hampir terbawa arus sungai besar, harus menghadapi mahluk aneh di balik bebatuan dan masih banyak rintangan lainnya.

Selain itu cerita latar belakang beberapa tokoh menambah kisahnya lebih utuh seperti awal mula Orang-orangan Sawah dibuat atau kenapa Penebang Kayu Timah bisa jadi seperti sekarang padahal dulunya adalah manusia.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan pun ampuh menghidupkan cerita. Dengan ragam bentuk dan keajaiban yang dimunculkan, kisah fantasinya semakin lugas terasa. Apalagi dunia Oz yang dibangun penulis yang luas dan memiliki kekhasannya masing-masing membuat kisahnya jadi lebih fantastis.

Dari novel ini kita bisa belajar tentang ketulusan membantu sesama agar kebaikan itu kembali kepada kita. Dorothy dan teman-temannya kerap membantu beberapa makhluk lain dan mereka pun selalu terbantu ketika kesulitan datang.

Novel ini menyenangkan dibaca dan pas kalau dibaca anak-anak. Tidak sulit mengikuti ceritanya meskipun ini fantasi. Saya sangat bisa menikmati petualangan Dorothy dan teman-temannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel The Wonderful Wizard Of Oz karya L. Frank Baum ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!