Tampilkan postingan dengan label Literasi Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi Korea. Tampilkan semua postingan

Maret 21, 2026

Review Novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu - Lee Kkoch-Nim

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Keberuntungan Sedang Menghampirimu

Penulis: Lee Kkoch-Nim

Penerjemah: Iingliana

Desain sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025

Tebal: 208 hlm. 

ISBN: 9786020686585


Hyeong-su dan Wu-yeong secara kebetulan melihat teman sekelas mereka, Eun-jae, dipukuli ayahnya dengan brutal. Semenjak itu keduanya terusik, ada panggilan hati ingin tahu lebih banyak apa yang sebenarnya terjadi di hidup Eun-jae. Umur mereka yang masih 15 tahun menjadi gap untuk jadi pahlawan melawan orang dewasa. Tapi kekerasan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Apakah Hyeong-su dan Wu-yeong bisa menyelamatkan Eun-jae?



***

Jujur, baca novel ini bener-bener bikin sesak nafas, sedih, marah, dan sakit hati. 

Novel ini berhasil menggambarkan penderitaan remaja perempuan yang mengalami kekerasan oleh ayahnya sendiri. Ibunya Eun-jae pergi meninggalkannya dan sejak itu ia jadi sasaran amarah ayahnya. Rumah sudah seperti neraka, penuh kemarahan, penuh luka, dan penuh ketakutan. Mental Eun-jae sudah rusak, ia bahkan tidak yakin bisa keluar dari penyiksaan itu dan yang ada dalam benaknya hanya ingin mati saja. Orang di sekitarnya yang pernah mencoba membantu tapi tidak berhasil makin membuat Eun-jae pesimis dengan takdir hidupnya.

Hyeong-su dan Wu-yeong jadi tokoh yang membawa aura beda di novel ini. Persahabatan mereka lucu dan konyol. Saya sangat terhibur dengan ulah mereka yang bikin banyak salah paham. Gong-nya pas ide Hyeong-su supaya Wu-yeong tidak jadi bahan gosip kalau ia pacaran dengan Ketua Kelas justru bikin membuat Ketua Kelas resmi jadi pacar Wu-yeong. Dari sini hubungan ketiganya makin dinamis dan kemudian terseret ke masalah Eun-jae.

Meskipun keduanya kelihatan seru tapi sebenarnya mereka punya masalah masing-masing. Hyeong-su berasal dari keluarga harmonis tapi masalahnya adalah dia tidak tahu ia ingin jadi apa. Sedangkan Wu-yeong memiliki masalah lebih pelik sebab ia jadi anak yang dibebani obsesi ibunya untuk selalu berhasil. Hidupnya diisi banyak les karena menurut ibunya jika anaknya mendapat nilai 100, maka ibunya pun sukses mendapatkan nilai 100.

Sedih banget pas baca bagian ucapan ibunya Wu-yeong, "Sudah berapa kali kubilang kau harus berhasil supaya ibumu juga berhasil? Sudah berapa kali kubilang kalau kau gagal, hidup ibu juga akan gagal? Sudah berapa kali?!" (hal. 143) Mental anak yang dipaksa sempurna benar-benar rusak dan rentan. Kata-kata tekanan membuat jiwanya jadi pengecut, bimbang memutuskan sesuatu, dan komitmennya angin-anginan.

Novel ini cukup unik karena menggunakan sudut pandang dari dewi keberuntungan yang saban waktu mengawasi tokoh-tokoh di sini. Ada beberapa pernyataan berisi simpati dari dewi keberuntungan dengan nasib remaja-remaja ini. Tapi porsi kemunculan sudut pandang ini minim jadi tidak bikin bingung, kayak baca novel umumnya yang pakai POV ketiga saja.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan penulis sangat beragam. Selain Eun-jae, Wu-yeong, dan Hyeong-su, kita akan kenalan juga dengan tokoh lainnya yang punya peran penting seperti Ketua Kelas, Pelatih Choi, dan Ji-jeong. Mereka adalah orang-orang hebat yang bisa menarik Eun-jae keluar dari neraka hidupnya.

Dari novel ini kita diajak merenung soal bisakah kita membantu orang-orang di sekitar kita yang mengalami kekerasan. Atau justru kita akan abai dengan dalih bukan urusan kita. Apakah jika kita melihat anak yang dibully oleh teman-temannya kita akan membantu? Atau apakah jika kita melihat perempuan muda yang dikasari pacarnya kita akan membantu? Saya sedih banget pas membayangkan jika tokoh Eun-jae sampai meninggal gara-gara tokoh-tokoh lainnya tidak bisa membantu dengan maksimal padahal mereka tahu seberat apa masalah yang menimpanya. Untungnya penulis tidak membuat ceritanya jadi begitu gelap.

Ada bagian paling super emosional di novel ini yaitu saat Eun-jae sudah dijauhkan dari ayahnya dan ia mendapati keadaan kontainer sepak bola tempat aman ia tinggal dalam kondisi berantakan. Eun-jae sangat marah dan ia berlari kencang. Bukan menuju ayahnya untuk membalas semua ulahnya melainkan ke kantor polisi. Ia membuka kardigan yang selama ini dipakai untuk menutupi lukanya. Dan pada momen itu polisi pun ternganga melihat saking parahnya kekerasan yang sudah dialami Eun-jae. Memar di atas memar, luka dibekas luka. Klimaksnya saat Eun-jae bilang, "Tolong... aku." SUMPAH SEDIH BANGET.... KENAPA BARU SEKARANG, EUN-JAE?


  • Hidup sering kali bergurau dan hanya sesekali menyediakan kesempatan. Namun, orang-orang tidak bisa mengetahui kesempatan-kesempatan apa yang tersedia untuk mereka. Kesempatan untuk dimaafkan, kesempatan untuk menjadi berbeda, kesempatan untuk mengubah hidup (hal. 65)
  • Membesarkan anak memang sulit. Kau mungkin merasa baru mulai berhasil menyesuaikan diri, tetapi anak-anakmu sudah melompat jauh mendahuluimu (hal. 79)
  • Cinta sejati adalah menyukai seseorang apa adanya. Seandainya kau lebih kurus, seandainya kau lebih tinggi sedikit, seandainya kau lebih pintar bicara, seandainya kau lebih pintar di sekolah... Bukannya membicarakan kekurangan yang tidak ada akhirnya, seharusnya seseorang disukai karena segala hal tentang dirinya (hal. 112)
  • Hidup itu bagaikan bola yang tidak bisa diduga ke mana arah pantulannya. Kitalah yang menentukan apakah kita bisa mempertahankan bola itu atau membiarkan lawan merebutnya (hal. 117)
  • Orangtua bodoh yang yakin bahwa anak-anak yang berusaha keras memahami orangtua, meski harus menerima berbagai kata-kata dan tidakan kasar, adalah anak-anak yang patuh dan akan tumbuh besar tanpa masalah. Berbeda dengan dugaan bodoh kalian, anak-anak justru akan semakin menjaga jarak. Ketika anak-anak semakin kuat dan tidak lagi takut pada kalian, mereka pasti akan bersiap-siap meninggalkan kalian tanpa menoleh ke belakang (hal. 146)
  • "Kalau kau membuat seseorang tertawa, bukankah itu berarti kau orang yang berguna?" (hal. 203)


Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca oleh siapa pun. Biar kita lebih peduli dengan orang-orang yang mengalami kekerasan tapi tidak bisa minta tolong saking korban ketakutan. Sedih, lucu, dan menghangatkan hati membuat novel ini begitu bermakna. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu karya Lee Kkoch-Nim ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Februari 23, 2026

Review Novel Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa) - Han Su-in

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa)

Penulis: Han Su-in

Penerjemah: Dwita Rizki

Desain sampul: Hastapena

Penerbit: BACA/ PT Bentara Aksara Cahaya

Terbit: Oktober 2025, cetakan pertama

Tebal: 220 hlm.

ISBN: 9786238371495


Novel ini menceritakan tentang siswi SMP bernama Lala yang mendapatkan pekerjaan paruh waktu di Toko Roti Manyeo. Toko roti yang dikelola oleh perempuan bernama Kim Manyeo dan kucing ajaib yang bisa berbicara, Jaerong, bukanlah toko roti biasa, melainkan tempat singgah para roh hewan yang butuh memwujudkan harapan terakhirnya sebelum pergi ke Dunia Bawah.

Roh atau Doong Doong hewan itu akan mendiami roti sampai ia ditemukan kembali oleh tuannya. Dan mempertemukan Doong Doong dengan tuannya cukup pelik. Bakat Lala untuk melihat masa lalu dari para Doong Doong ini sangat membantu prosesnya.

Bobae adalah roh ikan yang ingin berpamitan dengan Jeongseo dan keluarganya. Mori adalah roh anjing yang memiliki drama rumit sebab ia menghindari Lala bertemu dengan pemiliknya karena ada bahaya yang mengancam. Dua Doong Doong ini justru membawa Lala, Manyeo, dan Jaerong kepada kejadian mengerikan yang ditimbulkan oleh roh jahat Youngjeong. Bahkan kematian Bobae dan Mori akibat ulahnya.

Youngjeong memiliki misi jahat dengan membunuh hewan-hewan. Lala yang memiliki bakat istimewa merasa terpanggil untuk menghentikan kejahatannya. 

Tapi berhasilkan Lala menyegel kembali Youngjeong agar tidak ada lagi hewan-hewan yang jadi korban?



***

Novel ini memiliki ide cerita yang fresh buat saya; menceritakan roh-roh hewan yang penasaran dan butuh penyelesaian dengan pemiliknya sebelum mereka kembali ke langit. Pembaca diajak lebih dekat kepada kisah orang-orang yang memiliki hewan peliharaan. Rasa sayang dan kehilangan dipadukan menjadi drama yang mengaduk emosi.

Sisi fantasi yang disajikan lumayan kental dan beberapa bagian menurut saya susah dibayangkan. Selain perwujudan Doong Doong dari hewan-hewan, ada juga proses perpindahan tempat menggunakan kipas, pohon Zelkova Keramat, dan masuk lewat sketsa yang menurut saya fantasinya ketinggian. Bahkan membayangkan bentuk hewan menjadi kue pun sangat susah buat otak saya, hehe, padahal ini pondasi dari keseluruhan kisahnya.

Setelah kemunculan karakter jahat Youngjeong, cerita mulai terang benderang menjadi misteri dan survival. Pertarungan antara Lala dan Youngjeong tak bisa dihindari. Seru sekali mengikuti Lala, Manyeo dan Jaerong berusaha menyegel kembali Youngjeong.

Dan saya cukup terkesan dengan detail-detail yang disajikan karena tidak mubazir. Pada akhir cerita semua akan terungkap kenapa muncul permintaan yang bisa diwujudkan langit dan adanya kontrak kerja.

Di sini juga dijelaskan secara umum makna shio dari 12 hewan-hewan. "...Ada 12 hewan yang dikelompokkan menjadi; macan, kelinci, dan naga sebagai musim semi; ular, kuda, dan kambing sebagai musim panas; monyet, ayam, dan anjing sebagai musim gugur; dan babi, tikus, dan kerbau sebagai musim dingin. Hewan terakhir di setiap musim adalah naga, kambing, anjing, dan kerbau. Hewan-hewan itu berperan untuk mengakhiri musim dan menyambut musim berikutnya. Mereka memiliki kekuatan khusus. Kekuatan yang menyimbolkan akhir, penutupan, ketiadaan, dan kematian." (hal. 212-213). 

Untuk tokoh-tokoh pemelihara hewan, saya bisa mengerti dengan kehidupannya. Tetapi untuk karakter Lala sebagai tokoh utamanya, saya merasa masih kurang tergali lebih dalam bagaimana kehidupannya dengan keluarganya. Meski saya tahu kalau ibunya sudah meninggal karena kecelakaan, tapi bagaimana hubungannya dengan keluarga yang lain tidak diungkapkan.

Untuk penerjemahan novel ini seperti ada ketidakluwesan karena saya kurang menikmati proses membacanya. Beberapa kali saya juga merasa gap ketika narasi plot sedang maju tiba-tiba manuver ke narasi plot mundur. Alhasil saya harus memastikan ulang di momen itu.

Secara keseluruhan novel ini seru karena membawakan kisah yang unik yaitu membahas soal mereka yang memelihara hewan dan bagaimana hubungan kasih sayang itu terjalin. Sisi fantasinya lumayan berat tapi dibayar lunas saat cerita mulai menuju ke perseteruan antara tokoh baik dan tokoh jahat. Novel ini pas dibaca untuk penyuka literasi korea dengan kisah drama tentang kehilangan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Witch Bakery karya Han Su-in ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


April 18, 2025

Review Novel Dream Record - Lee Hye-rin

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Dream Record

Penulis: Lee hye-rin

Penerjemah: Primastuti Dewi

Editor: Ifan Afiansa

Ilustrasi sampul & isi: Nadiah Ariqah

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Terbit: 2025

Tebal: vi + 138 hlm.

ISBN: 9786230420535

Tag: fantasi, teknologi, perundungan, mimpi



Sinopsis

Dream Record adalah perusahaan perekam mimpi yang dibangun oleh pasangan suami-istri; Han Tae-oh dan Oh Hae-na. Hae-na adalah penulis cerita yang pada debutnya melahirkan karya laris. Sejak itu, dunia seperti menuntutnya untuk berkarya sebagus karya pertamanya. Saat mengalami writer's block, Hae-na pusing sekali. Ide-ide dalam mimpinya begitu menarik untuk diolah menjadi cerita tetapi ketika ia bangun tidur, ia tidak ingat akan mimpi-mimpinya itu.

Tae-oh sebagai ilmuan syaraf mendapatkan ide bagus untuk membantu istrinya. Ia menciptakan cara dan alat untuk merekam mimpi, yang kemudian menjadi perusahaan besar, Perusahaan Dream Record.

Masyarakat datang berbondong-bondong untuk mencoba merekam mimpi mereka. Ada banyak alasan kenapa mereka ingin melakukan itu. Layanan ini laris sekali dan untuk meredam hal itu, harga untuk menikmati layanan ini dibuat mahal. Semakin mahal harganya, Tae-oh semakin gusar. Tujuannya membuat perekam mimpi bukan sekadar bisnis. Ia ingin semua kalangan bisa menikmati layanan ini. Ia pun membagikan voucher gratis dalam jumlah terbatas setiap periode agar masyarakat biasa pun bisa mencoba merekam mimpinya.

Kira-kita pertolongan dan manfaat apa saja yang bisa diberikan dari mimpi yang direkam?



Resensi

Membaca novel Dream Record ini jadi pengalaman yang menyenangkan. Saya sangat-sangat-sangat suka dengan ceritanya. Emosi saya diaduk-aduk antara marah, sedih, kesal, geram, dan senang penuh kelegaan. 

Kalau sekilas melihat sampul novel ini, kita pasti akan menebak kalau isi ceritanya tentang dongeng indah. Awalnya saya juga mengira begitu, tetapi dugaan itu patah, pada pembukaan novel ini penulis menyinggung soal perundungan. Hemm, ada tanda-tanda kalau ceritanya lebih serius dari sekadar keindahan dongeng yang diwakilkan warna-warni sampulnya.

Kami, para orang dewasa, sangat peduli dengan masalah bullying di sekolah dan bertekad kuat untuk turut serta menyelesaikannya (hal. 2)

Cerita Mengerikan Perundungan

Konflik besar novel ini adalah perundungan di sekolah yang dialami siswi bernama Jeong Ga-eun oleh geng Tae-hee, Hye-jin, Sena, Yurin, dan Arin. Kasusnya makin besar ketika Ga-eun jatuh dari lantai tiga gedung sekolah. Ibunya Ga-eun mencari kebenaran yang belum terungkap dari kejadian yang menimpa anaknya. Sekolah, polisi, dan rumah sakit harus dilibatkan.

Penulis menggali lebih dalam kasus perundungan yang bisa menimpa siapa pun. Di sini dipaparkan jelas bagaimana perundungan dimulai, pikiran pelaku melakukannya, kehancuran fisik dan psikis korban, penyesalan dan rasa gagal orang tua yang anaknya jadi korban, dan pandangan tenaga ahli yang membantu penyembuhan korban. Apa yang menimpa Ga-eun jadi babak paling kelam yang bisa meninggalkan trauma seumur hidup.

Beberapa pihak diceritakan ikut bergerak mengungkap misteri jatuhnya Ga-eun. Prosesnya susah karena di lokasi tidak ada CCTV dan saksi. Dan geng yang diketahui sesekolah sebagai terduga pelaku menyangkal tuduhan itu. Dan rupanya kasus perundungan ini bisa jadi celah penjahat lainnya untuk merusak korban lebih hancur dengan kejahatan lainnya. Saya sangat syok begitu kasusnya terungkap dan ternyata Ga-eun mengalami kejahatan lain yang lebih tidak manusiawi. Pelaku pun ternyata orang yang tidak pernah disangka-sangka.

Hubungan Manipulatif dan Toxic

Karakter Yeo-reum hadir dengan membawa cerita yang berbeda. Dia terjebak dalam hubungan toxic karena memiliki pasangan yang manipulatif, Tae-woo. Orang manipulatif harus dihindari karena punya sifat egois tinggi, penuntut, susah mengakui kesalahan, dan mahir melakukan treatment baik untuk menutupi sifat aslinya. 

Yeo-reum yang dasarnya gadis baik-baik sangat gampang jadi korban manipulatif dan susah melepaskan diri. Ia tahu kalau kekasihnya tidak wajar (ucapan dan tingkah laku) tetapi ketika kecurigaan itu diutarakan dan disangkal dengan bahasa manis oleh pacarnya, Yeo-reum bisa gampang mempercayainya lagi. Tidak heran kalau korban dari pasangan manipulatif gampang diluluhkan lagi dan itu makin membuat dirinya terjebak lebih dalam.

Butuh momen besar untuk benar-benar membuka mata korban dari pasangan manipulatif. Yeo-reum baru bisa melek dan sadar saat terbongkar kalau pacarnya selingkuh dengan sahabat sekaligus adik tingkatnya. Dan beruntung saat itu terjadi, Yeo-reum bisa tegas untuk meloloskan diri sehingga bujukan pacarnya tidak manjur lagi.

Benang Merah Perusahaan Dream Record

Dream Record sebagai perusahaan perekam mimpi menjadi penyambung antara Yeo-reum dan Ga-eun. Keduanya terhubung seperti takdir. Dream Record juga yang membantu membongkar masalah keduanya. 

Yeo-reum bekerja sebagai pemandu di Dream Record dan mendapatkan voucher gratis layanan perekam mimpi. Tae-woo yang tidak mampu membayar layanan itu membujuk Yeo-reum untuk memberikannya dan berhasil walau dengan berat hati. Tapi berkat ini, Yeo-reum bisa menonton mimpi pacarnya yang mengandung jawaban kenapa Tae-woo berubah akhir-akhir ini.

Sedangkan Ga-eun yang kehilangan ingatan, terutama ingatan kejadian saat ia jatuh, menggunakan layanan perekam mimpi atas saran Detektif Ho, deketif yang menyelidiki kasusnya. Walau butuh kesabaran karena Ga-eun secara bawah sadar menutupi ingatannya itu, Yeo-reum sebagai pemandu di Dream Record berhasil membangkitkan keberanian Ga-eun untuk membuka diri. Apa yang terjadi pada hari itu akhirnya muncul di mimpi Ga-eun dan membongkar kejahatan pelaku.


Menyembuhkan Diri Dari Trauma

Bagian paling mengharukan di novel ini adalah saat Yeo-reum berbagi pengalaman perundungan dengan Ga-eun. Dibeberkan betapa tersiksanya hidup sebagai korban. Setiap hari selalu mawas diri tentang apa yang akan terjadi dengannya.

Dibahas juga bagaimana Yeo-ruem bisa menerima traumanya dan perlahan memeluk dirinya erat. Tidak ada pilihan selain harus sembuh dan menjadi lebih kuat. Ada satu deskripsi menarik saat Ga-eun menonton mimpinya yang berisi peristiwa perundungan  saat ia sudah menerima masa lalunya. Ada rasa sedih, kasihan, dan marah yang bercampur menonton dirinya sendiri di masa lalu yang diperlakukan buruk.


"Bahkan seandainya kau harus menghadapi kenangan yang menyakitkan, kau harus memiliki keberanian untuk sepenuhnya menerima itu. Kau harus memeluk dirimu yang sedang terluka dan kesulitan. Emosi dan ingatan yang buruk juga merupakan bagian dari dirimu dan hidupmu. Kalau kau terus mengabaikannya, rasa sakit itu tidak akan pernah hilang. Menghadapi rasa sakit bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi sekarang kau yang sedikit lebih dewasa dapat memeluk dan menghibur dirimu yang lemah di masa lalu. Dengan begitu, kau bisa maju sedikit demi sedikit." (hal. 99-100)

Ide Cemerlang Rekaman Mimpi

Rekaman mimpi yang bisa ditonton ulang jadi ide cemerlang di novel ini. Apalagi rekaman mimpi ini punya manfaat yang besar untuk beberapa situasi. Ada yang menonton mimpi karena ingin kembali melihat wajah orang yang sudah tiada, ada yang ingin bernostalgia dengan kebahagian pada momen spesial, ada yang ingin menggali pesan yang tidak dipahaminya, dan masih banyak lagi alasan pengunjung menggunakan layanan ini.

Proses untuk menggunakan layanan di Dream Record juga sangat jelas disampaikan penulis. Jadi memang bukan yang tiba-tiba saja pengunjung datang lalu di rekam. Detail teknisnya begitu lengkap sehingga saya bisa membayangkan langsung jika layanan ini beneran ada di dunia nyata.

Cerita tentang Dream Record ini juga masih punya potensi luar biasa untuk dikembangkan lebih lebar. Terutama soal kehidupan pasangan suami-istri pendirinya. Saya sangat penasaran dengan kehidupan Hae-na sebagai penulis yang akhirnya terbantu dengan alat perekam mimpi. Kira-kira bagaimana proses kreatif Hae-na membuat buku dongengnya.

Buku ini bakal lebih menarik jika halaman ilustrasi di dalamnya dicetak berwarna. Pasti menyenangkan berlama-lama memperhatikan detail ilustrasinya. Sampul depannya juga sudah bagus dan tentu saja gambar di dalamnya juga harus menyesuaikan. Saya yakin bakal memikat pembaca dongeng.

Simpulan

Novel ini tipis tapi saya puas dengan ceritanya. Tidak disajikan bertele-tele, ceritanya tidak melebar kemana-kemana dan tetap fokus, diksi untuk menggugah emosi pembaca juga tepat sasaran, dan keringkasan ceritanya tetap dieksekusi dengan baik.

Kesannya, saya seperti menemukan momen refleksi setelah membaca novel ini. Pelajaran moralnya begitu meresap ke hati. Dan tentu saja novel ini bisa jadi rekomendasi untuk dibaca remaja sebagai bacaan mendidik tentang bahaya perundungan.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Dream Record ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Desember 19, 2024

Review Novel The Jolly Psychopath - Ki Yoonseul

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul:
The Jolly Psychopath

Penulis: Ki Yoonseul

Penerjemah: Dewi Ayu Ambar Rani

Desain sampul: Fahrul Kesampulan

Penerbit: Baca

Terbit: Juli 2024, cetakan pertama

Tebal: 296 hlm.

ISBN: 9786238371266

Tag: psikopat, thriller, keluarga, pembunuhan, literasi korea



Karena di sampul novel ini ada menyebut psikopat, saya makin tertarik untuk segera membaca isinya. Ditambah kali terakhir membaca novel yang ada pembunuhan ya di novel 1Q84 karya Haruki Murakami. Dan saat memulainya, saya berekspektasi akan menemukan kisah pembunuhan yang mengerikan.

Novel ini menceritakan remaja laki-laki bernama Yongin, berusia 15 tahun, dan dia baru mendapatkan orang tua asuh sejak ia dititipkan ibunya di panti asuhan saat usianya baru 6 tahun. Pasangan suami istri, Pak Yoon Jangpal dan Bu Namgoong, memilih Yongin dengan tujuan menjadikannya teman untuk putrinya Dongju, yang dikenal sebagai psikopat.

Suatu hari tetangga mereka, Pak Kim, ditemukan meninggal di rumahnya. Dia dibunuh dengan cara dijerat pada lehernya. Hasil penyelidikan polisi menunjuk Kak Dongju sebagai pelakunya. Bukti yang ditemukan adalah jejak sepatu Kak Dongju.

Hidup dengan psikopat tidak tenang dan Kak Dongju yang akhirnya dipenjara justru membuat Yongin kebingungan antara senang karena bebas dari tekanan Kak Dongju dan sedih karena musibah ini membuat orang tua angkatnya kehilangan gairah hidup. Yongin juga merasa bersalah sebab jejak sepatu di rumah Pak Kim adalah ulahnya.

Keadaan tidak memberi pilihan bagi Yongin selain memenuhi permintaan Kak Dongju untuk menyelidiki pembunuh sebenarnya. Sebab pada malam itu, Kak Dongju tidak melakukan pembunuhan itu, ia justru sedang menyantap daging sapi panggang bersama Bu Yangsun.

Dalam proses penyelidikan itu, Yongin dibantu oleh Paman Song Romyeon, yang merupakan putra kedua dari Nenek Toserba Manmul, sekaligus mantan kawan dari Detektif Wang Gojin, detektif yang menangani kasus Kak Dongju. Yongin harus menelan amarah saat ia ingin mengirimkan surat permintaan peninjauan ulang kasus Kang Dongju dengan dibantu oleh Pak Romyeon, justru Pak Romyeon mengkhianatinya. Pak Romyeon yang tidak akur dengan Detektif Wang Gojin, pada hari itu mereka justru sedang asik bermain Go-Stop.

Yongin akhirnya mengajukan peninjuan ulang kasus Kak Dongju tanpa dibantu siapa pun. Itu berhasil, Kak Dongju dibebaskan. Dan mereka berdua akhirnya bekerja sama memecahkan kasus kematian Pak Kim.

***


Lumayan susah menebak pembunuh aslinya. Apalagi saya sempat terkecoh dengan informasi awal kalau Dongju adalah psikopat dan sejak awal saya sudah menaruh curiga. Hanya tinggal mencari tahu bagaimana Dongju melakukan pembunuhan itu. Namun prasangka saya keliru, misterinya tidak selurus itu.

Penulis mengupas semua misteri kasus Pak Kim secara pelan-pelan. Latar belakang setiap karakter dibeberkan dan itu penting diungkapkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga Pak Kim dibunuh. Masa lalu Dongju yang tinggal dengan pembunuh berantai saat ia masih kanak-kanak. Awal mula orang tua Dongju terikat hutang dengan Pak Kim. Cerita lengkap hubungan Paman Romyeon dan Detektif Wang Gojin dari yang awalnya dekat hingga berubah renggang.

Saya suka dengan perubahan sikap Yongin dan Kak Dongju setelah keduanya bahu membahu menyingkap rahasia pada kasus Pak Kim. Pada akhirnya mereka bisa melihat nilai baik dalam diri masing-masing dan itu sangat mengharukan. Saya juga suka dengan novel ini diakhiri, benar-benar menghangatkan hati.

Di sisi lain misteri pembunuhan, novel ini juga menyinggung soal hubungan orang tua dan anak. Tema yang pasti relate dengan banyak pembaca. Poin utamanya menunjukkan kalau cinta orang tua kepada anak itu sepanjang zaman. Orang tua Dongju tetap menyayangi anaknya meski dikenal di masyarakat sebagai psikopat. Nenek Toserba Manmul yang rela menyembunyikan fakta demi anaknya tidak terusik. Ibu Yongin tetap datang menjemput walau mereka sudah berpisah 9 tahunan.

Sepanjang membaca novel ini, kita akan menemukan gambar belalang sembah, di sampul dan di halaman isinya. Ini simbol untuk psikopat, dimana karakter psikopat hanya memangsa korban yang lebih lemah. Belalang sembah pun demikian, hidup dengan memangsa serangga lain yang lebih lemah dari dirinya.

"... Untuk memelihara belalang sembah, kamu perlu memberinya umpan berupa serangga lain. Meskipun sama-sama serangga, belalang sembah memerlukan serangga lebih kecil sebagai mangsanya...." (hal. 51)

Dalam setiap bacaan fiksi sekalipun, pasti ada hikmah yang bisa dipelajari. Dalam novel ini saya diingatkan kembali untuk tidak mudah menilai orang lain, lebih terlarang lagi jika penilaian kita buruk kepada orang lain. Seperti yang dilakukan Yongin kepada Kak Dongju, menilai buruk di awal, tapi sebenarnya Kak Dongju tidak semenakutkan itu walau dia psikopat.

Kekurangan novel ini ada pada bagian akhir cerita, saya merasa pembongkaran misteri yang sudah dibangun disampaikan dengan tidak menarik sebab dibuat dalam rangkuman yang disampaikan oleh salah satu tokoh di sini. Bahkan beberapa kali saya membaca pengulangan narasi yang isinya misteri dalam kasusnya. Terkesan dibikin cepat oleh penulisnya dan itu membuat perhatian saya mendadak turun signifikan karena harapan saya pembongkaran misterinya dilakukan di momen paling penting, misal saat persidangan pelakunya.

Kesimpulannya, novel The Jolly Psychopath ini menarik dibaca dan bikin kita menebak-nebak pada kasus pembunuhan Pak Kim. Alur yang penuh misteri dan pendalaman cerita yang memuaskan saya. 

Sekian ulasan saya untuk novel ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku ya!


April 14, 2017

Review Novel Vegetarian - Han Kang


Judul : Vegetarian
Penulis : Han Kang
Penerjemah : Dwita Rizkia
Penyunting : Anton Kurnia
Pemeriksa aksara : Aniesah Hasan Syihab
Penata isi : Aniza Pujiati
Perancang sampul : Wirastuti – TEKOBUKU
Penerbit : Penerbit Baca
Terbit : Februari 2017, cetakan pertama
Tebal buku: 224 halaman
ISBN : 9786026486073
Harga : Rp65.000

Aku penasaran dengan hubungan waktu yang dihabiskan untuk membaca buku dengan kualitas buku sesuai prestasinya. Soalnya, untuk buku Vegetarian karya Han Kang ini, yang mendapatkan penghargaan Man Booker International Prize, aku membutuhkan lebih banyak waktu menyelesaikan membacanya dibandingkan dengan buku lain.

Vegetarian ini mengungkap fenomena psikologis kegilaan. Perempuan bernama Young Hye mendadak memutuskan tidak makan daging setelah bermimpi. Mimpi yang dialami Young Hye sangat detail dan buatku itu menjijikan. Namun, dari mimpi yang menjijikan itu sulit untuk diterima oleh akalku, mampu merubah kebiasaan seseorang secara drastis. Bahkan Young Hye menolak ajakan suaminya untuk bersetubuh dengan alasan badan suaminya berbau daging.

Perubahan yang dialami Young Hye mempengaruhi psikologis Young Hye sendiri, psikologis suaminya, psikologis kakak iparnya, dan psikologis kakak perempuannya. Seperti bola salju yang menggelinding, dari satu putaran kecil berubah menjadi tambah besar. Masalah kecil yang dialami Young Hye memengaruhi secara luas hubungan orang-orang di sekitarnya.

Vegetarian sendiri dibagi menjadi tiga bab. Bab pertama adalah Vegetarian. Bab yang menceritakan awal mula Young Hye jadi Vegetarian dengan menggunakan sudut pandang suaminya. Bab ini pun jadi perkenalan pembaca dengan anggota keluarga lain Young Hye seperti suaminya, kakak perempuannya, ibunya, ayahnya, adik dan istrinya, dan kakak iparnya.

Suatu hari di perkumpulan keluarga yang diadakan di rumah baru kakak perempuan Young Hye terjadi drama keluarga yang menakjubkan. Young Hye dipaksa makan daging oleh ayahnya. Ia tidak menggubris. Ayahnya yang pemarah akhirnya menampar Young Hye dan mencoba menjejalkan paksa daging ke mulut Young Hye. Young Hye justru menghindar dan meraih pisau lalu mengiris pergelangan tangannya. Ini merupakan awal pemicu konflik berikutnya.

Yang membuatku penasaran justru sifat tertutup dan pendiamnya Young Hye ini ternyata sudah tampak sejak ia remaja. Sepanjang buku ini saya tidak mendapati satu peristiwa yang menunjukkan kalau Young Hye pernah ceria dan periang. Sehingga perubahan kebiasaan Young Hye yang bertambah pendiam dan tertutup tidak membuatku kaget.

Pada bab ini pula pembaca disuguhkan kegilaan Young Hye yang semakin tidak masuk akal. Selain menolak makan daging dan bersetubuh, Young Hye pun kerap bertelanjang dada di bawah sinar matahari. Alasan yang ia ucapkan ketika pertanyaan mengapa ditujukan padanya; gerah.

Bab kedua adalah Tanda Lahir Kebiruan. Bab yang memasukkan unsur cerita erotis dengan menggunakan sudut pandang Kakak Ipar. Kegilaan Young Hye menulari kejiwaan Kakak Iparnya yang berprofesi sebagai seniman film. Sejak peristiwa Young Hye mengiris pergelangan tangannya, kakak ipar mulai terobsesi dengan tanda lahir kebiruan yang ada di sebelah kiri atas bokong Young Hye. Dan puncak kegilaan kakak iparnya memunculkan kegilaan istrinya. Dan cerita masuk ke bab ketiga; Pohon Kembang Api.

Hubungan kakak ipar dan istrinya hancur. Kim in Hye; kakak perempuan Young Hye, melanjutkan hidup dengan anak laki-lakinya yang saat itu berusia enam tahun. Young Hye dirawat di rumah sakit di pegunungan. Ada kejadian Young Hye kabur dari rumah sakit dan ditemukan di dalam hutan yang gelap sedang berdiri kaku seolah dirinya pohon.

Perubahan lainnya atas kegilaan Young Hye, ia mengaku dirinya adalah pohon. Sering akhirnya Young Hye berdiri terbalik. Ia merasa dari tangannya akan muncul akar yang mencuat ke tanah. Dan ia juga merasakan akan tumbuh bunga di selangkangannya.

Di bab ini akan dikupas secara total siapa kakak perempuan Young Hye. Sebagai anak pertama Kim Hye menanggung beban hidup yang tidak sedikit. Rasa lelah itu ia sembunyikan hingga bertumpuk dan puncaknya berupa kehancuran keluarga. Ada sisi perenungan tentang kebahagian di bab ini dan lumayan mengusik pribadiku. Menjadi pribadi yang apa adanya dan berada di lingkungan keluarga yang kondusif, bisa menjadi terapi kebahagiaan untuk jangka panjang. Dan jangan biarkan masalah kecil ditunda diselesaikan sehingga pada akhirnya jadi masalah besar.

Setelah membaca sampai akhir buku, kesanku tidak jauh dari rasa depresi, stres, lelah, kesedihan, dan kehilangan harapan. Vegetarian bukan buku tentang bagaimana menjadi vegetarian yang berhasil. Melainkan buku drama yang khusus menggali sisi gelap manusia. Dan aku mengaku sepertinya tidak akan membaca ulang buku ini. Selain butuh konsentrasi mencerna alur cerita dan narasinya, suasana buku ini yang mencekam dan gelap bisa memberikan efek yang tidak bagus untuk mood. Tapi, buat kalian yang suka membaca buku, rasanya sayang sekali kalau tidak mencicipi buku yang berprestasi ini.