Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan

Oktober 04, 2026

Review Novel Miss Peregrine's Home For Peculiar Children - Ransom Riggs

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

Penulis: Random Riggs

Penerjemah: Tanti Lesmana

Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2011

Tebal: 544 hlm.

ISBN: 9786020333885

Peringkat: 4 Bintang


Jacob Portman kecil sangat mengagumi kakeknya, Abraham Portman, karena sering didongengkan cerita seru tentang petualangan melawan monster dan tentang teman-temannya yang aneh. Dan ketika kakeknya ditemukan sekarat di tepi hutan dengan luka serangan yang misterius, Jacob berubah jadi sosok yang rentan, penuh kesedihan dan terpuruk. Ucapan pesan kakeknya sebelum meninggal dan surat yang dikirim oleh seorang perempuan mendorong Jacob bertekad mencari tahu.

Atas ijin dr. Golan, Jacob dan ayahnya pergi ke Pulau Cairnholm, tempat kakeknya berasal. Tujuan Jacob adalah mencari tahu masa lalu kakeknya dan keberadaan si pengirim surat. Sedangkan ayahnya ingin meneliti burung langka di pulau tersebut untuk merampungkan bukunya. 

Setelah beberapa hari mencari tahu dan berhasil mengunjungi gedung panti asuhan yang sudah porak-poranda bekas terkena bom pada masa perang, Jacob bertemu dengan Emma, teman kakeknya dulu. Dia kemudian diajak ke keluk, sebuah portal yang membawa mereka ke masa lalu sebelum panti itu terkena bom, 3 September 1940, dan berkenalan dengan Miss Peregrine, perempuan yang mengirim surat untuk kakeknya.

Keluk adalah ruang waktu yang dihentikan sehingga di sana tidak pernah berganti hari dan penghuninya terjebak di usia segitu terus. Keluk juga menjadi tempat persembunyian para peculiar dari serangan para Hollow yang dibantu para Wight. Dan munculnya Jacob menjadi ancaman karena ternyata dia sudah diincar dan dibuntuti dari lama. Musuh mengikuti Jacob untuk menculik Miss Peregrine yang akan dikorbankan dalam percobaan mendapatkan keabadian.

Berhasilkan para peculiar ini menghadapi ancaman yang sudah di depan mata?

***


Di awal novel kita akan dibikin senang dan sedih bersamaan. Kedekatan Jacob dengan kakeknya benar-benar mengharukan. Tetapi mendengar pengakuan ayahnya tentang hidup kakeknya membikin saya sedih. Kakeknya Jacob mengalami hidup yang pedih dari sejak kecil. Dia harus berpisah dengan keluarganya karena perang. Dia tinggal di panti asuhan sampai remaja dan kemudian memutuskan untuk ikut berperang juga. Panti asuhan tempat dia pernah tinggal dikabarkan menjadi sasaran bom. Kakeknya Jacob melanjutkan hidup tapi penuh misteri. Kata ayahnya, kakeknya itu sering bepergian berhari-hari sambil membawa senjata, seolah ia berburu monster seperti yang sering ia dongengkan.

Nyes banget membaca bagian cerita yang memotret lelaki dari tiga generasi yang membawa kisahnya masing-masing. Kakek Jacob membawa trauma mendalam akibat perang dan kehilangan beberapa kali yang kemudian memengaruhi bagaimana ia mengasuh anak-anaknya. Ayah Jacob menjaga jarak dengan kakek Jacob karena pola asuh yang terlalu kaku dan dingin di masa lalu. Dan Ayah Jacob mencoba memutus pola asuh itu kepada Jacob. Sedangkan Jacob dibuat tidak mengerti dengan situasi hubungan kakeknya yang ia kagumi dengan ayahnya yang ia sayangi.

Novel ini juga menyajikan dunia fantasi yang begitu keren. Pulau Cairnholm yang berada di lepas pantai Wales, Inggris, lokasi panti Miss Peregrine berada ternyata hanya rekaan penulis saja. Di sini juga diceritakan mengenai keberadaan keluk, portal ke dunia lain sesuai tanggal kejadian besar, tempat sembunyi para peculiar. Keluk ini tersebar di seluruh dunia dan tidak bisa diketahui oleh sembarang orang. Semua keluk menghentikan waktu sehingga anak-anak peculiar yang menghuninya akan tetap muda meskipun usia aslinya bisa puluhan dan ratusan tahun.

Anak-anak peculiar adalah anak-anak aneh dengan kemampuan yang ajaib. Emma bisa mengeluarkan api dari tangannya. Milard adalah anak yang tidak terlihat mata. Bronwyn si anak perempuan yang kuat. Fiona mampu menghidupkan bunga. Hugh si anak laki-laki dengan lebah-lebahnya. Horace si cenayang yang bisa melihat gambaran masa depan. Dan masih ada beberapa lagi.










Penjelasan lengkap mengenai anak-anak peculiar dan informasi keluk serta kepala-kepalanya ada di halaman 219 - 225. Luar biasa lengkap dan membuat saya paham kondisi yang mereka alami sebagai anak-anak aneh yang kerap mengalami diskriminasi dan susah dimengerti orang-orang normal.

Karena ini buku pertama, saya merasa buku ini sebagai perkenalan dunia peculiar. Semua detail dibahas lengkap. Disampaikan juga latar belakang keluarga Jacob yang membuat saya paham akhirnya kenapa dia bisa masuk ke dalam keluk, dan menjawab beberapa kejadian aneh yang dialaminya.

Konflik di sini semakin seru karena ada musuh yang mengincar. Hollow adalah pemburu peculiar untuk dimakan dan wight adalah pembantu yang akan menyediakan anak-anak peculiar untuk disantap. Namun ternyata ada motif besar yang sedang dirancang oleh para hollow dan wight dengan menculik kepala sekolah di banyak keluk.

Tensi konflik di novel ini jadi tinggi karena yang berseteru dengan musuh adalah anak-anak. Meski umur mereka bukan anak-anak tapi karena dijebak waktu, pengalaman, pola pikir, dan tingkah lakunya masih tetap anak-anak. Saya merasa deg-degan dengan kemampuan mereka. Tidak ada yang mengajari tapi kemudian mereka harus keluar dari lingkaran waktu yang selama ini mengungkung mereka.

Dari novel ini saya mendapatkan pelajaran mengenai trauma bawaan yang ternyata membawa pengaruh tidak baik jika tidak disembuhkan. Saya merasa sikap keterbukaan bisa menjadi satu langkah baik untuk pelan-pelan mengurai kekusutan masa lalu dan menyembuhkan luka-luka.

Selain itu saya tersadarkan kalau menjadi orang yang berbeda (contohnya mereka yang disabilitas) itu sangat berat. Ketidakpahaman orang dewasa terhadap anak berkebutuhan khusus kadang justru menyakiti anak tersebut secara mental. Saya tidak menyalahkan orang dewasa karena ketidaktahuannya tapi ternyata sikap mau menghargai perbedaan memang harus diajarkan agar terbiasa dengan perbedaan itu.

Oya di halaman terakhir novel ini ada bagian wawancara dengan penulis mengenai bagaimana ide membuat cerita peculiar ini bermula. Ternyata ada ya orang yang suka mengoleksi foto-foto lama yang memotret keanehan, entah itu asli atau memang sudah dikonsep. Dan dari situ muncul tokoh-tokoh unik yang dimasukkan ke ceritanya. 

Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca novel ini. Dunia peculiar adalah dunia baru yang ternyata menyimpan banyak hal ajaib. Saya tidak sabar ingin melanjutkan petualangan Jacob setelah dia meninggalkan keluk di Pulau Cairnholm. 

Saya juga sangat suka dengan penerjemahan novel ini karena begitu baik jalinan diksinya. Penjelasannya sangat bisa dipahami dan sepanjang membaca saya merasa tidak kesulitan meskipun bertebaran istilah-istilah baru.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Miss Peregrine's Home for Peculiar Children karya Ransom Riggs ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

September 27, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Januari 2024

Tebal: 384 hlm.

ISBN: 9786230312557

Peringkat: 4 Bintang


Marianne bangkit dari kematiannya dan itu tanda kalau ia sudah genap jadi penyihir. Tujuannya kali ini adalah kembali ke Kepulauan Timur untuk menyelamatkan Torin dan meminta bantuannya untuk membentuk pasukan dalam rangka mempersiapkan perang besar melawan Gaius.

Pertemuannya dengan Born menjadi sangat kaku. Terasa ada jarak lebar yang membentang. Dan lebih membingungkan lagi ketika Marianne melihat sepupunya, Ravyn, yang menyukai Born juga. Pikiran buruknya, jangan-jangan selama ia tidak bersama Born, posisinya sudah digantikan Ravyn.

Untuk membentuk pasukan yang cukup besar butuh usaha yang sangat keras. Kondisi Kepulauan Timur yang sedang tidak baik-baik saja membuat rencananya sulit diwujudkan. Marianne mengajak Para Peramal untuk ikut bergabung namun ditolak. Akhirnya, pasukan yang ada dipersiapkan dengan lebih baik.

Rombongan Marianne kembali ke Kepulauan Barat. Dan kedatangannya ini disambut dengan banyak peristiwa tragis dan banyak kematian. Marianne beberapa kali merasa usahanya untuk melawan Gaius tidak akan berhasil karena sihir dalam tubuhnya susah dikendalikan. 

Namun, ia tidak punya pilihan untuk mundur karena semakin Gaius kuat, maka semuanya akan mati. 

Bagaimanakah perang besar antara dua penyihir ini akan berakhir?

***


Akhirnya buku ketiga dari series Isles Of Storm & Sorrow ini selesai dibaca juga. Penutup cerita yang bagus untuk mengakhiri perjalanan dan perjuangan gadis muda bernama Marianne.

Menurut saya di buku terakhir ini cerita mulai berpusat pada bagaimana Marianne mempersiapkan peperangan besar untuk mengalahkan Gaius. Selain mengumpulkan pasukan, dia juga fokus belajar menerima dirinya sebagai penyihir agar kekuatan itu bisa dikendalikan. 

Dan pada fase ini, banyak sekali kematian yang disajikan. Emosi Marianne dibolak-balik tapi ia tidak punya waktu banyak untuk meratapi kesedihan karena ia pun sedang kejar-kejaran dengan waktu sebelum Gaius lebih dulu membantainya. Beberapa momen kehilangan itu membuat saya sedih juga karena saya kira tokoh-tokoh itu akan sangat berguna membantu Marianne dalam pertempuran terakhirnya. 

Perkembangan romansa antara Marianne dan Born pun mulai digali lebih dramatis. Apalagi penulis menghadirkan orang ketiga, yaitu sepupu Marianne sendiri, Ravyn, sebagai ujian perasaan yang menghadirkan letupan-letupan cemburu. 

Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Adegan ajaib dari ilmu sihir pun mulai banyak ditunjukkan seiring semakin bertambah kemampuan Marianne. Bahkan pada peperangan besar pun akhirnya sihir itu disajikan dengan epik. 

Di sini pun ada kejutan tentang sosok yang dekat Marianne tapi menjadi pengkhianat. Motif yang cukup relevan dan penulis benar-benar halus sekali membuat pengkhianat ini bisa dideteksi.

Yang menurut saya kurang di novel ketiga ini adalah adegan perang besarnya kurang bombastis dan durasi penceritaannya kurang panjang. Adu sihirnya belum beragam dan saya tidak menemukan klimaks pertempuran yang membuat pembaca bisa berdebar-debar. Perang besarnya hanya disajikan dalam beberapa halaman saja padahal perang ini adalah puncaknya, harusnya penulis menceritakan dengan detail, berurutan, memberi peningkatan intensitas cerita, dan harusnya diakhiri dengan pertempuran yang berkali-kali. Sangat disayangkan sekali.



Secara keseluruhan, saya sangat menikmati bagian akhir dari perjuangan seorang Marianne. Series ini mengajarkan kita untuk tidak pantang menyerah dan mengingatkan tentang penerimaan diri atas berkat yang diberikan. Jika kita menerima diri sendiri dengan jujur, kemampuan terbaik kita akan muncul dengan sendirinya.

Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Agustus 29, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata Dari Barat) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: September 2022

Tebal: vi + 450 hlm.

ISBN: 9786230307676


Di malam setelah perayaan pernikahan, Pangeran Torin ditusuk penyusup saat sedang tidur dan Marriane yang sebelumnya menyerang penyusup itu jadi tertuduh sebagai pelaku. Ia pun diadili Raja dengan menghadirkan kesaksian-kesaksian palsu bahkan dari orang kepercayaannya, Sharpe dan Bornn.

Marriane berhasil kabur dan atas bantuan Raoul, peramal dari Pulau Ketiga, ia pun berlayar menuju Kepulauan Barat. Tujuannya bertemu Esther untuk mempelajari sihir walaupun setibanya di Pulau Salju ia tidak menemukan Esther. Marriane diperbolehkan tinggal dengan keluarga penjaga Kuda Salju hingga ia ditemukan oleh Para Pelindung. 

Marriane dibawa ke Kerajaan Barat dan kehadirannya tidak disukai oleh Arlan dan Eena sebagai keluarga Pangeran Rafe, anak muda yang disiapkan menjadi pewaris Kerajaan Barat. Berkat Gaius, penyihir dan penasihat kerajaan, Marriane belajar ilmu penyembuhan dan sihir. Namun ternyata Gaius memiliki motif lain hingga penyiksaan demi kekuatan sihir yang lebih kuat tak terelakkan.

Mampukah Marriane bertahan sekali lagi?

***



Saya sangat penasaran dengan petualangan Marriane pasca musuh sekaligus ayah palsunya tewas. Kira-kira dia bakal menghadapi musuh siapa lagi karena sepanjang buku kemarin tidak terdeteksi lawan kuat yang akan menyusahkan. 

Dan ternyata dramanya semakin kuat saja. Selain dituduh sebagai pelaku percobaan pembunuhan, Marriane juga dikhianati banyak pihak dan membuatnya terpuruk. Tapi yang lebih menyebalkan karena karakter Marriane di babak dua ini semakin dibuat kebingungan. Sedikit-sedikit dia khawatir dengan Pangeran Torin padahal saya tahu betul pernikahan mereka hanya politik dan perkenalan mereka pun sangat minim. Sedikit-sedikit ia galau karena meninggalkan Bornn. Yang sedikit-sedikit inilah yang membuat saya kesal karena Marriane makin banyak melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya selalu dalam masalah.

Tapi saya sangat suka dengan dunia yang dibangun penulis di Kepulauan Barat ini karena unsur sihir digali lebih jauh. Kemunculan Kuda Salju menjadi momen ajaib yang menegaskan kalau sihir masih eksis. Raptor air pun kembali muncul namun setelah Marriane bisa mengendalikan sihirnya.

Petualangan Marriane pun makin seru sebab di Kepulauan Barat ini dia bertemu dengan banyak orang-orang baru dan dia harus adapatasi dengan ketidaktahuannya. Marriane pun mulai berseteru dengan pihak Kerajaan Barat karena tahta yang kosong sedianya sudah disiapkan untuk pangeran muda, Pangeran Rafe.

Kemunculan Gaius sangat melegakan karena akhirnya Marriane bisa bertemu guru yang ahli sihir. Beberapa kali percobaan untuk mengasah sihir pada diri Marriane membuat saya lumayan terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan lagi karena Gaius tidak sebaik yang dipikirkan Marriane dan Pelindung lainnya. 

Ada adegan mengejutkan pada akhir novel ini yang sengaja dibuat penulis untuk jadi momen besar yang akan ditemukan di buku selanjutnya.

Di sini juga dibahas soal romansa LGBT. Tapi tenang saja porsinya sangat kecil dan penjelasannya halus jadi masih aman buat yang LGBTphobic.

Untuk penerjemahannya masih stabil bagusnya. Saya tidak menemukan kesulitan sepanjang membaca novel ini. 

Yang membuat saya agak kurang suka di novel ini soal karakter Marriane yang berbeda sekali dibandingkan dengan novel pertamanya. Di sini muncul karakter seorang gadis pada umumnya. Kebingungan soal perasaan kepada lawan jenis yang kemudian berimbas pada banyak kebodohannya. Saya sempat menebak apakah perubahan ini karena tujuannya untuk menjadi Viper tercapai dan itu membuatnya arogan dan berleha-leha. Tapi rasanya aneh kalau karakter pejuang dan keras yang dibentuk dari kecil hilang sejekap mata. 

Karakter lain dari tokoh-tokoh baru berhasil dimunculkan memberi warna cerita. Namun memang tidak ada pendalaman karena waktu kebersamaan dengan Marriane tidak begitu banyak sehingga saya hanya melihat karakter luarnya saja, baik itu Gaius ataupun Para Pelindung.

Secara keseluruhan novel ini tetap seru. Ini adalah pengenalan Marriane dari tempat asalnya. Ini juga momen Marriane mengenal sihir lebih jauh lagi. Dengan akhir cerita yang mengejutkan, buku ketiganya harus segera dibaca karena penasaran.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Agustus 23, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Maret 2021

Tebal: 448 hlm.

ISBN: 9786230304194


Saya senang sekali karena bisa membaca buku ini sampai selesai. Setelah beberapa waktu tidak ada bacaan yang selesai, ini perlu banget dirayakan.

Novel ini tuh menceritakan perseteruan anak gadis dan ayahnya dengan latar kapal dan laut. Marriane memberontak dari Adler, ayah sekaligus seorang viper, karena ternyata ayahnya lebih jahat dari yang ia kira. Selain membunuh, ayahnya juga berkhianat kepada kerajaan. Dan Marriane yang sudah siap untuk dinobatkan jadi snake dengan tes harus membunuh orang yang tidak bersalah, dia memilih kabur dan melarikan diri dari kejaran ayahnya yang murka. Marriane tidak mau menjadi seperti ayahnya.

Petualangan Marriane mengarungi lautan dan beberapa pulau di Kepulauan Dua Belas penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Rahasia hidupnya terungkap dan kekuatan sihir yang tertidur mulai menggeliat. Batas Kepulauan Barat dan Timur dilewati saat pertempuran besar terjadi. Makhluk raptor air yang selama ini dipercaya sebagai mitos ternyata bisa dipanggil oleh Marriane. 

Berhasilkan Marriane melawan ayahnya?

***



Cerita petualangan di laut di novel ini tuh seru banget. Kehidupan di kapal Maiden dan orang-orangnya diceritakan sangat meyakinkan. Sebagai armada penjaga lautan, kebanyakan hidup viper dan para snake berada di laut. Mereka tunduk pada titah raja dan harus mengamankan kepulauan dengan menyerang kapal-kapal bandit atau pun serangan dari luar kepulauan.

Petualangan menuju pulau-pulau di Kepulauan Dua Belas pun sangat menarik. Setiap pulau punya ciri khas masing-masing. Pulau Raja jadi pulau utama tempat kepemimpian raja berdaulat. Pulau Ladang sebagai pemasok hasil Pertanian. Pulau Bunga dipenuhi aneka bunga yang bisa digunakan sebagai bahan obat-obatan. Pulau Batu sebagai tambang permata. Sayangnya tidak semua pulau di Kepulauan Timur dijelajahi dengan detail. Sementara pulau di bagian Barat masih sangat misterius karena di novel ini belum banyak penjelajahan ke sana.

Rahasia asal-usul Marriane pun sangat mengejutkan karena di awal sempat dibahas tentang ibunya namun tidak lengkap. Lambang V pada kompas yang diberikan Grace pun memberi petunjuk walaupun awalnya semua orang mengira V itu lambang Viper. Dan semua terbongkar ketika Marriane bertemu Esther di Pulau Delapan. Esther adalah teman dari ibunya Marriane dan memiliki hubungan romansa dengan Adler di masa lalu. Sejak mengetahui cerita lengkap tentang orang tuanya, keinginan Marriane untuk menghabisi ayahnya semakin membara.

Bukan hanya drama keluarga antara ayah dan anak yang diceritakan novel ini, tapi ada romansa menyedihkan yang ditonjolkan juga. Marriane dan Bornn adalah sahabat sejak kecil sejak mereka bergabung di Kapal Maiden. Ketika beranjak dewasa perasaan itu perlahan berubah tetapi keduanya enggan melewati batas yang selama ini sudah terbentuk. Pergulatan perasaan itu semakin hebat saat Marriane harus bertunangan dengan Pangeran Torin atas gagasan ayahnya. Meski pertunangan itu bentuk politik bukan perasaan, Marriane dan Bornn tetap harus menanggung jarak yang semakin jelas bagi keduanya.

Unsur sihir yang sebelumnya diceritakan sudah dihilangkan keberadaannya di Kepulauan Timur mulai muncul lagi lewat Marriane. Beberapa peristiwa keberadaan sihir bisa dirasakan, termasuk saat muncul raptor air berkat campur tangan sihir yang dilakukan Marriane. Namun penulis tidak ingin buru-buru membongkar keberadaannya dan ini patut ditunggu di novel berikutnya.

Sebagai novel aksi, kita juga bakal menemukan banyak pertarungan senjata, perkelahian, bahkan tindakan kekerasan yang membuat ngilu dan jijik. Yang paling saya ingat yaitu saat Marriane disiksa dengan dicabut kukunya dan itu bikin saya meringis membayangkannya kesakitannya. Apalagi setelah itu dia harus mendaki bebatuan dengan tangan kosong, makin-makin ngilu saja.


Untuk penerjemahan novelnya sangat bagus. Rasanya mengalir banget pas bacanya. Walau ada nama-nama aneh seperti nama bunga yang terasa asing tapi tidak membuat sendatan. Dan kalau melihat sampul novel ini, saya cuma bisa kasih satu kata, "Apik".

Tokoh-tokoh di novel ini sangat banyak tapi penulis mampu menempatkan mereka pada porsi yang pas. Adler, Marriane, Bornn, Pangeran Torin, dan Grace cukup menonjol. Sedangkan tokoh lainnya muncul di waktu yang pas sehingga tidak mengganggu jalur cerita tokoh utamanya tapi kita tetap bakal ingat keberadaannya. Misalnya tokoh Toby, anggota kapal Maiden paling muda, atau Sharpe, pengawal kepercayaan Pangeran Torin. Belum lagi beberapa anggota snake di Kapal Maiden yang pada beberapa momen kemunculannya sangat penting untuk cerita.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati cerita Marriane di novel ini dan saya tidak sabar ingin segera lanjut baca buku keduanya karena sudah terpantau trilogi buku ini sudah lengkap diterjemahkan.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Februari 23, 2026

Review Novel Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa) - Han Su-in

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa)

Penulis: Han Su-in

Penerjemah: Dwita Rizki

Desain sampul: Hastapena

Penerbit: BACA/ PT Bentara Aksara Cahaya

Terbit: Oktober 2025, cetakan pertama

Tebal: 220 hlm.

ISBN: 9786238371495


Novel ini menceritakan tentang siswi SMP bernama Lala yang mendapatkan pekerjaan paruh waktu di Toko Roti Manyeo. Toko roti yang dikelola oleh perempuan bernama Kim Manyeo dan kucing ajaib yang bisa berbicara, Jaerong, bukanlah toko roti biasa, melainkan tempat singgah para roh hewan yang butuh memwujudkan harapan terakhirnya sebelum pergi ke Dunia Bawah.

Roh atau Doong Doong hewan itu akan mendiami roti sampai ia ditemukan kembali oleh tuannya. Dan mempertemukan Doong Doong dengan tuannya cukup pelik. Bakat Lala untuk melihat masa lalu dari para Doong Doong ini sangat membantu prosesnya.

Bobae adalah roh ikan yang ingin berpamitan dengan Jeongseo dan keluarganya. Mori adalah roh anjing yang memiliki drama rumit sebab ia menghindari Lala bertemu dengan pemiliknya karena ada bahaya yang mengancam. Dua Doong Doong ini justru membawa Lala, Manyeo, dan Jaerong kepada kejadian mengerikan yang ditimbulkan oleh roh jahat Youngjeong. Bahkan kematian Bobae dan Mori akibat ulahnya.

Youngjeong memiliki misi jahat dengan membunuh hewan-hewan. Lala yang memiliki bakat istimewa merasa terpanggil untuk menghentikan kejahatannya. 

Tapi berhasilkan Lala menyegel kembali Youngjeong agar tidak ada lagi hewan-hewan yang jadi korban?



***

Novel ini memiliki ide cerita yang fresh buat saya; menceritakan roh-roh hewan yang penasaran dan butuh penyelesaian dengan pemiliknya sebelum mereka kembali ke langit. Pembaca diajak lebih dekat kepada kisah orang-orang yang memiliki hewan peliharaan. Rasa sayang dan kehilangan dipadukan menjadi drama yang mengaduk emosi.

Sisi fantasi yang disajikan lumayan kental dan beberapa bagian menurut saya susah dibayangkan. Selain perwujudan Doong Doong dari hewan-hewan, ada juga proses perpindahan tempat menggunakan kipas, pohon Zelkova Keramat, dan masuk lewat sketsa yang menurut saya fantasinya ketinggian. Bahkan membayangkan bentuk hewan menjadi kue pun sangat susah buat otak saya, hehe, padahal ini pondasi dari keseluruhan kisahnya.

Setelah kemunculan karakter jahat Youngjeong, cerita mulai terang benderang menjadi misteri dan survival. Pertarungan antara Lala dan Youngjeong tak bisa dihindari. Seru sekali mengikuti Lala, Manyeo dan Jaerong berusaha menyegel kembali Youngjeong.

Dan saya cukup terkesan dengan detail-detail yang disajikan karena tidak mubazir. Pada akhir cerita semua akan terungkap kenapa muncul permintaan yang bisa diwujudkan langit dan adanya kontrak kerja.

Di sini juga dijelaskan secara umum makna shio dari 12 hewan-hewan. "...Ada 12 hewan yang dikelompokkan menjadi; macan, kelinci, dan naga sebagai musim semi; ular, kuda, dan kambing sebagai musim panas; monyet, ayam, dan anjing sebagai musim gugur; dan babi, tikus, dan kerbau sebagai musim dingin. Hewan terakhir di setiap musim adalah naga, kambing, anjing, dan kerbau. Hewan-hewan itu berperan untuk mengakhiri musim dan menyambut musim berikutnya. Mereka memiliki kekuatan khusus. Kekuatan yang menyimbolkan akhir, penutupan, ketiadaan, dan kematian." (hal. 212-213). 

Untuk tokoh-tokoh pemelihara hewan, saya bisa mengerti dengan kehidupannya. Tetapi untuk karakter Lala sebagai tokoh utamanya, saya merasa masih kurang tergali lebih dalam bagaimana kehidupannya dengan keluarganya. Meski saya tahu kalau ibunya sudah meninggal karena kecelakaan, tapi bagaimana hubungannya dengan keluarga yang lain tidak diungkapkan.

Untuk penerjemahan novel ini seperti ada ketidakluwesan karena saya kurang menikmati proses membacanya. Beberapa kali saya juga merasa gap ketika narasi plot sedang maju tiba-tiba manuver ke narasi plot mundur. Alhasil saya harus memastikan ulang di momen itu.

Secara keseluruhan novel ini seru karena membawakan kisah yang unik yaitu membahas soal mereka yang memelihara hewan dan bagaimana hubungan kasih sayang itu terjalin. Sisi fantasinya lumayan berat tapi dibayar lunas saat cerita mulai menuju ke perseteruan antara tokoh baik dan tokoh jahat. Novel ini pas dibaca untuk penyuka literasi korea dengan kisah drama tentang kehilangan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Witch Bakery karya Han Su-in ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


September 25, 2021

Review Novel Dollagoot: Toko Penjual Mimpi - Lee Mi Ye



Judul: Dollagoot: Toko Penjual Mimpi

Penulis: Lee Mi Ye

Penerjemah: Dwita Rizki

Penyunting: Jia Effendi

Penerbit: Penerbit Baca

Terbit: Juli 2021, cetakan pertama

Tebal: vi + 294 hlm.

ISBN: 9786026486608

***

Ada sebuah desa yang hanya bisa kamu kunjungi dalam tidurmu. Tempat paling populer di desa ini adalah Dollagoot: Toko Penjual Mimpi yang mengumpulkan dan menjual segala macam mimpi. Toko ini selalu ramai oleh manusia dan hewan yang ingin tidur panjang atau tidur siang. Setiap lantainya dilengkapi dengan mimpi-mimpi dari berbagai macam genre istimewa, termasuk mimpi tentang masa kecil, perjalanan menyenangkan, melahap makanan lezat, hingga mimpi buruk dan mimpi misterius.

Di toko ini ada Dollagoot, si pemilik toko; Penny, karyawan baru yang ceroboh dan penuh rasa ingin tahu; Aganef Coco. produser legendaris; dan Vigo Myers, manajer lantai dua.

Penny ditugaskan untuk bekerja di lantai satu dengan karyawan veteran, Bibi Weather. Namun, pada hari pertama dia bekerja, mimpi yang paling mahal dicuri....

Kisah menawan ini akan meninggalkan gaung yang lama. Tidak hanya menyenangkan bagi pembaca remaja, tetapi juga memberikan kehangatan dan penghiburan bagi pembaca dewasa yang lelah dengan kenyataan hidup.

***

Sejauh ini saya baru membaca 2 buku yang diterbitkan oleh Penerbit BACA: The Hen Who Dreamed She Could Fly karya Hwang Sun-mi dan Vegetarian karya Han Kang. Kesan saya, buku mereka kebanyakan berasal dari asia sehingga tempo dan tema cerita terasa lembut, dingin, sesekali diliputi misteri.

Novel Dollagoot: Toko Penjual Mimpi langsung memikat saya ketika mulai dibuka PO-nya. Tetapi saya yang sedang berusaha mengatur budget beli buku -walau gagal- belum memasukan buku ini ke keranjang. Jodoh memang nggak kemana, saya bisa mendapatkan buku ini dihadiahi oleh Kak Khansaa di twitter karena terpilih sebagai pemenang beruntung pengisi survey mengenai kebiasaan membaca buku.

Novel Dollagoot: Toko Penjual Mimpi menceritakan tentang Penny yang akhirnya bisa bekerja di toko penjual mimpi yang dikelola oleh Dollagot. Dia kemudian mengenal manajer setiap lantai toko yang memiliki karakter berbeda-beda. 

Bibi Weather, manajer lantai satu, sosok yang keibuan. Dalam bayangan saya, badannya gemuk. Dia murah senyum dan ramah. Vigo Myers, manajer lantai dua, memiliki kesan kaku, sangat suka kerapihan dan kebersihan. Tipe yang perfeksionis. 

Mogberry, manajer lantai tiga, sosok perempuan yang bebas dan ceria sehingga lantai tiga terasa lebih berwarna dan bising. Speedo, manajer lantai empat, tipe yang aktif, nyentrik, dan bawel sebab dia memegang lantai yang menjual mimpi bagi manusia dan hewan. Dan Motale, bukan manajer lantai lima, merupakan teman Penny waktu SMA yang dikenal bersikap gaduh, suka tampil, dan bersemangat.

Selama bekerja di Dollagoot, Penny mendapatkan banyak nilai hidup, baik dari Dollagoot, manajer setiap lantai, maupun dari pelanggan. Dia merasa beruntung bisa bekerja di tempat yang tepat.

Pondasi cerita yang kuat

Kontradiksi sebenarnya ketika saya menyatakan pondasi cerita yang kuat dalam novel ini, padahal di awal saya kebingungan membayangkan latar tempat, waktu, dan alur ceritanya. Kotanya tidak jelas, mahluk Noctiluca itu apa, sirop penenang itu minuman apa. Dan dengan mengabaikan sementara, saya akhirnya bisa memahami dunia mimpi yang diciptakan penulis.

Yang terlintas di otak saya ketika membayangkan masyarakat di kota mimpi ini tertuju ke film animasi Soul dan Inside Out, dimana karakter pada kedua film ini adalah jiwa dan emosi. Orang-orang yang ada di kota terbagi menjadi dua golongan. Pertama, penduduk asli kota mimpi yang menjalankan industri mimpi. Kedua, pelanggan yang jadi tamu di kota adalah jiwa dari orang sungguhan yang sedang berada di fase setengah tidur.

Sejarah toko Dollagoot diulas lengkap dalam buku mungil berjudul Kisah Dewa Waktu dan Ketiga Murid. Buku yang diberikan Assam kepada Penny yang secara tidak langsung memuluskan dia untuk diterima bekerja di toko Dollagoot. Pengetahuan soal ini akan memudahkan pembaca memahami siapa Dollagoot dan bagaimana cerita toko ini menjadi penting dan terkenal di kota.

Pesan moral yang mengena ke hati

Saya menyebut jika alur cerita dalam novel Dollagoot ini tidak biasa. Umumnya, urutan alur cerita begini: perkenalan, konflik, titik puncak konflik, lalu penyelesaian, yang berfokus kepada tokoh utama. Tapi Dollagoot ini punya alur begini: perkenalan, konflik, perkenalan, konflik, perkenalan, dan konflik. Karena memang tipe cerita Dollagoot ini lebih ke menjelaskan apa yang terjadi selama kurun waktu tertentu di kota Mimpi.

Misal, ketika perayaan natal, perayaan tahun baru, pagelaran Grand Prix, keseharian Bibi Weather pagi hari sebelum berdinas, kegiatan Dollagoot melayani pesanan mimpi untuk orang lain, dan lain-lain. Semua berupa potongan kegiatan yang dilakukan para tokoh pekerja di Dollagoot, termasuk pelanggan yang bersinggungan dengan Penny dkk.

Konflik besarnya tidak tampak. Tapi tenang saja, jalan ceritanya tetap bisa dinikmati karena muatan pesan moral yang relate dengan kondisi kita masa sekarang.

Saya setuju dengan pernyataan di atas. Selain menambah pengetahuan, kebiasaan membaca dapat melatih otak untuk lebih mengerti suatu masalah. Ini terbukti ketika kita mempelajari rumus excel. Banyak orang yang tidak memahami rumus fungsi IF, padahal bagi orang yang suka membaca, rumus ini sebenarnya berupa kalimat. Jadi ketika rumus-rumus excel dikombinasikan antara satu rumus dengan rumus lain, kita akan lebih paham maksudnya karena rumus tersebut membentuk kalimat.

Pada halaman 106 dibahas mengenai arti masa depan dan tujuan hidup. Kurang lebih menyatakan, "Hidup akan terasa sempurna kalau bisa melewati prosesnya, bukan sekadar tau ujung akhirnya." Penulis menyentil kita semua untuk menikmati proses hidup, jangan terpaku kepada hasil. Jika terpaku kepada hasil, kita bisa berhenti di tengah proses karena melihat hasil yang ingin dicapai tidak sesuai ekspektasi.

Tidur merupakan wahana untuk menghidupkan mimpi. Dan arti penting tidur dibahas di halaman 172-173. Penulis mengingatkan orang-orang yang rela begadang demi main gim, mengutak-atik smartphone, dan menelepon pacar. Padahal, esok harinya mereka harus beraktifitas. Bagi industri mimpi ini kerugian sebab penjualan mimpi menurun drastis karena orang-orang memilih tidur nyenyak dibanding tidur bermimpi.

Pesan lebih mendalam disampaikan penulis lewat pertanyaan yang langsung menohok.

"Sampai kapan aku harus hidup begini?" (hal. 73) menyoroti keputusasaan seorang perempuan muda berusia 28 tahun, yang merasa kehidupannya tidak menarik. Relate banget dengan saya pribadi, yang sejak mendapatkan jabatan baru, kehidupan saya tersedot hampir seluruhnya untuk menyelesaikan pekerjaan. Sehingga keseharian saya tidak menarik dan terasa membosankan sekali.

"Kapan kalian merasa tidak bebas?" (hal. 207) memaksa kita merenungkan keresahan-keresahan apa yang tengah kita rasakan dan itu membuat kita merasa tidak bebas. Salah satu cara untuk bebas adalah dengan menerima kehidupan apa adanya dan paham kalau kehidupan bebas itu memang tidak ada.

Industri Mimpi bagian dari bisnis

Mimpi dalam novel Gollagoot ini menjadi salah satu industri bisnis. Dalam setiap mimpi yang dialami kita, ada produser di belakangnya. Setiap produser memiliki sentuhan dan spesifikasi tertentu pada karyanya. Begitu membaca soal seluk-beluk mimpi, saya membayangkan industri mimpi ini mirip industri film. 

Mimpi dan film sama-sama diputar untuk disaksikan. Keduanya sama-sama dijual-beli. Sampai pada puncaknya, industri mimpi di Dollagoot pun ada malah anugerahnya. Semacam piala penghargaan. Dan dijelaskan malam penghargaan ini merupakan tontonan yang menarik banyak orang dan meriah.



Apakah novel Dollagoot: Toko Penjual Mimpi ini menarik?

Menurut saya buku ini sangat menarik. Bagi saya, novel yang membahas dinamika manusia, selalu punya nilai tersendiri. Saya seperti sedang belajar memahami nilai kebijaksanaan dari cerita-cerita beragam manusia. Dan itu akan membuat kita semua sadar, tidak ada manusia yang sempurna.

Jika saya harus memberi nilai pada novel ini, saya akan menganugerahkan 4 bintang dari 5 bintang.

Nah, sekian ulasan dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!