Tampilkan postingan dengan label Review Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Novel. Tampilkan semua postingan

Agustus 29, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata Dari Barat) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: September 2022

Tebal: vi + 450 hlm.

ISBN: 9786230307676


Di malam setelah perayaan pernikahan, Pangeran Torin ditusuk penyusup saat sedang tidur dan Marriane yang sebelumnya menyerang penyusup itu jadi tertuduh sebagai pelaku. Ia pun diadili Raja dengan menghadirkan kesaksian-kesaksian palsu bahkan dari orang kepercayaannya, Sharpe dan Bornn.

Marriane berhasil kabur dan atas bantuan Raoul, peramal dari Pulau Ketiga, ia pun berlayar menuju Kepulauan Barat. Tujuannya bertemu Esther untuk mempelajari sihir walaupun setibanya di Pulau Salju ia tidak menemukan Esther. Marriane diperbolehkan tinggal dengan keluarga penjaga Kuda Salju hingga ia ditemukan oleh Para Pelindung. 

Marriane dibawa ke Kerajaan Barat dan kehadirannya tidak disukai oleh Arlan dan Eena sebagai keluarga Pangeran Rafe, anak muda yang disiapkan menjadi pewaris Kerajaan Barat. Berkat Gaius, penyihir dan penasihat kerajaan, Marriane belajar ilmu penyembuhan dan sihir. Namun ternyata Gaius memiliki motif lain hingga penyiksaan demi kekuatan sihir yang lebih kuat tak terelakkan.

Mampukah Marriane bertahan sekali lagi?

***



Saya sangat penasaran dengan petualangan Marriane pasca musuh sekaligus ayah palsunya tewas. Kira-kira dia bakal menghadapi musuh siapa lagi karena sepanjang buku kemarin tidak terdeteksi lawan kuat yang akan menyusahkan. 

Dan ternyata dramanya semakin kuat saja. Selain dituduh sebagai pelaku percobaan pembunuhan, Marriane juga dikhianati banyak pihak dan membuatnya terpuruk. Tapi yang lebih menyebalkan karena karakter Marriane di babak dua ini semakin dibuat kebingungan. Sedikit-sedikit dia khawatir dengan Pangeran Torin padahal saya tahu betul pernikahan mereka hanya politik dan perkenalan mereka pun sangat minim. Sedikit-sedikit ia galau karena meninggalkan Bornn. Yang sedikit-sedikit inilah yang membuat saya kesal karena Marriane makin banyak melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya selalu dalam masalah.

Tapi saya sangat suka dengan dunia yang dibangun penulis di Kepulauan Barat ini karena unsur sihir digali lebih jauh. Kemunculan Kuda Salju menjadi momen ajaib yang menegaskan kalau sihir masih eksis. Raptor air pun kembali muncul namun setelah Marriane bisa mengendalikan sihirnya.

Petualangan Marriane pun makin seru sebab di Kepulauan Barat ini dia bertemu dengan banyak orang-orang baru dan dia harus adapatasi dengan ketidaktahuannya. Marriane pun mulai berseteru dengan pihak Kerajaan Barat karena tahta yang kosong sedianya sudah disiapkan untuk pangeran muda, Pangeran Rafe.

Kemunculan Gaius sangat melegakan karena akhirnya Marriane bisa bertemu guru yang ahli sihir. Beberapa kali percobaan untuk mengasah sihir pada diri Marriane membuat saya lumayan terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan lagi karena Gaius tidak sebaik yang dipikirkan Marriane dan Pelindung lainnya. 

Ada adegan mengejutkan pada akhir novel ini yang sengaja dibuat penulis untuk jadi momen besar yang akan ditemukan di buku selanjutnya.

Di sini juga dibahas soal romansa LGBT. Tapi tenang saja porsinya sangat kecil dan penjelasannya halus jadi masih aman buat yang LGBTphobic.

Untuk penerjemahannya masih stabil bagusnya. Saya tidak menemukan kesulitan sepanjang membaca novel ini. 

Yang membuat saya agak kurang suka di novel ini soal karakter Marriane yang berbeda sekali dibandingkan dengan novel pertamanya. Di sini muncul karakter seorang gadis pada umumnya. Kebingungan soal perasaan kepada lawan jenis yang kemudian berimbas pada banyak kebodohannya. Saya sempat menebak apakah perubahan ini karena tujuannya untuk menjadi Viper tercapai dan itu membuatnya arogan dan berleha-leha. Tapi rasanya aneh kalau karakter pejuang dan keras yang dibentuk dari kecil hilang sejekap mata. 

Karakter lain dari tokoh-tokoh baru berhasil dimunculkan memberi warna cerita. Namun memang tidak ada pendalaman karena waktu kebersamaan dengan Marriane tidak begitu banyak sehingga saya hanya melihat karakter luarnya saja, baik itu Gaius ataupun Para Pelindung.

Secara keseluruhan novel ini tetap seru. Ini adalah pengenalan Marriane dari tempat asalnya. Ini juga momen Marriane mengenal sihir lebih jauh lagi. Dengan akhir cerita yang mengejutkan, buku ketiganya harus segera dibaca karena penasaran.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Agustus 23, 2026

Review Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Maret 2021

Tebal: 448 hlm.

ISBN: 9786230304194


Saya senang sekali karena bisa membaca buku ini sampai selesai. Setelah beberapa waktu tidak ada bacaan yang selesai, ini perlu banget dirayakan.

Novel ini tuh menceritakan perseteruan anak gadis dan ayahnya dengan latar kapal dan laut. Marriane memberontak dari Adler, ayah sekaligus seorang viper, karena ternyata ayahnya lebih jahat dari yang ia kira. Selain membunuh, ayahnya juga berkhianat kepada kerajaan. Dan Marriane yang sudah siap untuk dinobatkan jadi snake dengan tes harus membunuh orang yang tidak bersalah, dia memilih kabur dan melarikan diri dari kejaran ayahnya yang murka. Marriane tidak mau menjadi seperti ayahnya.

Petualangan Marriane mengarungi lautan dan beberapa pulau di Kepulauan Dua Belas penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Rahasia hidupnya terungkap dan kekuatan sihir yang tertidur mulai menggeliat. Batas Kepulauan Barat dan Timur dilewati saat pertempuran besar terjadi. Makhluk raptor air yang selama ini dipercaya sebagai mitos ternyata bisa dipanggil oleh Marriane. 

Berhasilkan Marriane melawan ayahnya?

***



Cerita petualangan di laut di novel ini tuh seru banget. Kehidupan di kapal Maiden dan orang-orangnya diceritakan sangat meyakinkan. Sebagai armada penjaga lautan, kebanyakan hidup viper dan para snake berada di laut. Mereka tunduk pada titah raja dan harus mengamankan kepulauan dengan menyerang kapal-kapal bandit atau pun serangan dari luar kepulauan.

Petualangan menuju pulau-pulau di Kepulauan Dua Belas pun sangat menarik. Setiap pulau punya ciri khas masing-masing. Pulau Raja jadi pulau utama tempat kepemimpian raja berdaulat. Pulau Ladang sebagai pemasok hasil Pertanian. Pulau Bunga dipenuhi aneka bunga yang bisa digunakan sebagai bahan obat-obatan. Pulau Batu sebagai tambang permata. Sayangnya tidak semua pulau di Kepulauan Timur dijelajahi dengan detail. Sementara pulau di bagian Barat masih sangat misterius karena di novel ini belum banyak penjelajahan ke sana.

Rahasia asal-usul Marriane pun sangat mengejutkan karena di awal sempat dibahas tentang ibunya namun tidak lengkap. Lambang V pada kompas yang diberikan Grace pun memberi petunjuk walaupun awalnya semua orang mengira V itu lambang Viper. Dan semua terbongkar ketika Marriane bertemu Esther di Pulau Delapan. Esther adalah teman dari ibunya Marriane dan memiliki hubungan romansa dengan Adler di masa lalu. Sejak mengetahui cerita lengkap tentang orang tuanya, keinginan Marriane untuk menghabisi ayahnya semakin membara.

Bukan hanya drama keluarga antara ayah dan anak yang diceritakan novel ini, tapi ada romansa menyedihkan yang ditonjolkan juga. Marriane dan Bornn adalah sahabat sejak kecil sejak mereka bergabung di Kapal Maiden. Ketika beranjak dewasa perasaan itu perlahan berubah tetapi keduanya enggan melewati batas yang selama ini sudah terbentuk. Pergulatan perasaan itu semakin hebat saat Marriane harus bertunangan dengan Pangeran Torin atas gagasan ayahnya. Meski pertunangan itu bentuk politik bukan perasaan, Marriane dan Bornn tetap harus menanggung jarak yang semakin jelas bagi keduanya.

Unsur sihir yang sebelumnya diceritakan sudah dihilangkan keberadaannya di Kepulauan Timur mulai muncul lagi lewat Marriane. Beberapa peristiwa keberadaan sihir bisa dirasakan, termasuk saat muncul raptor air berkat campur tangan sihir yang dilakukan Marriane. Namun penulis tidak ingin buru-buru membongkar keberadaannya dan ini patut ditunggu di novel berikutnya.

Sebagai novel aksi, kita juga bakal menemukan banyak pertarungan senjata, perkelahian, bahkan tindakan kekerasan yang membuat ngilu dan jijik. Yang paling saya ingat yaitu saat Marriane disiksa dengan dicabut kukunya dan itu bikin saya meringis membayangkannya kesakitannya. Apalagi setelah itu dia harus mendaki bebatuan dengan tangan kosong, makin-makin ngilu saja.


Untuk penerjemahan novelnya sangat bagus. Rasanya mengalir banget pas bacanya. Walau ada nama-nama aneh seperti nama bunga yang terasa asing tapi tidak membuat sendatan. Dan kalau melihat sampul novel ini, saya cuma bisa kasih satu kata, "Apik".

Tokoh-tokoh di novel ini sangat banyak tapi penulis mampu menempatkan mereka pada porsi yang pas. Adler, Marriane, Bornn, Pangeran Torin, dan Grace cukup menonjol. Sedangkan tokoh lainnya muncul di waktu yang pas sehingga tidak mengganggu jalur cerita tokoh utamanya tapi kita tetap bakal ingat keberadaannya. Misalnya tokoh Toby, anggota kapal Maiden paling muda, atau Sharpe, pengawal kepercayaan Pangeran Torin. Belum lagi beberapa anggota snake di Kapal Maiden yang pada beberapa momen kemunculannya sangat penting untuk cerita.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati cerita Marriane di novel ini dan saya tidak sabar ingin segera lanjut baca buku keduanya karena sudah terpantau trilogi buku ini sudah lengkap diterjemahkan.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Maret 21, 2026

Novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu - Lee Kkoch-Nim

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Keberuntungan Sedang Menghampirimu

Penulis: Lee Kkoch-Nim

Penerjemah: Iingliana

Desain sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025

Tebal: 208 hlm. 

ISBN: 9786020686585


Hyeong-su dan Wu-yeong secara kebetulan melihat teman sekelas mereka, Eun-jae, dipukuli ayahnya dengan brutal. Semenjak itu keduanya terusik, ada panggilan hati ingin tahu lebih banyak apa yang sebenarnya terjadi di hidup Eun-jae. Umur mereka yang masih 15 tahun menjadi gap untuk jadi pahlawan melawan orang dewasa. Tapi kekerasan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Apakah Hyeong-su dan Wu-yeong bisa menyelamatkan Eun-jae?



***

Jujur, baca novel ini bener-bener bikin sesak nafas, sedih, marah, dan sakit hati. 

Novel ini berhasil menggambarkan penderitaan remaja perempuan yang mengalami kekerasan oleh ayahnya sendiri. Ibunya Eun-jae pergi meninggalkannya dan sejak itu ia jadi sasaran amarah ayahnya. Rumah sudah seperti neraka, penuh kemarahan, penuh luka, dan penuh ketakutan. Mental Eun-jae sudah rusak, ia bahkan tidak yakin bisa keluar dari penyiksaan itu dan yang ada dalam benaknya hanya ingin mati saja. Orang di sekitarnya yang pernah mencoba membantu tapi tidak berhasil makin membuat Eun-jae pesimis dengan takdir hidupnya.

Hyeong-su dan Wu-yeong jadi tokoh yang membawa aura beda di novel ini. Persahabatan mereka lucu dan konyol. Saya sangat terhibur dengan ulah mereka yang bikin banyak salah paham. Gong-nya pas ide Hyeong-su supaya Wu-yeong tidak jadi bahan gosip kalau ia pacaran dengan Ketua Kelas justru bikin membuat Ketua Kelas resmi jadi pacar Wu-yeong. Dari sini hubungan ketiganya makin dinamis dan kemudian terseret ke masalah Eun-jae.

Meskipun keduanya kelihatan seru tapi sebenarnya mereka punya masalah masing-masing. Hyeong-su berasal dari keluarga harmonis tapi masalahnya adalah dia tidak tahu ia ingin jadi apa. Sedangkan Wu-yeong memiliki masalah lebih pelik sebab ia jadi anak yang dibebani obsesi ibunya untuk selalu berhasil. Hidupnya diisi banyak les karena menurut ibunya jika anaknya mendapat nilai 100, maka ibunya pun sukses mendapatkan nilai 100.

Sedih banget pas baca bagian ucapan ibunya Wu-yeong, "Sudah berapa kali kubilang kau harus berhasil supaya ibumu juga berhasil? Sudah berapa kali kubilang kalau kau gagal, hidup ibu juga akan gagal? Sudah berapa kali?!" (hal. 143) Mental anak yang dipaksa sempurna benar-benar rusak dan rentan. Kata-kata tekanan membuat jiwanya jadi pengecut, bimbang memutuskan sesuatu, dan komitmennya angin-anginan.

Novel ini cukup unik karena menggunakan sudut pandang dari dewi keberuntungan yang saban waktu mengawasi tokoh-tokoh di sini. Ada beberapa pernyataan berisi simpati dari dewi keberuntungan dengan nasib remaja-remaja ini. Tapi porsi kemunculan sudut pandang ini minim jadi tidak bikin bingung, kayak baca novel umumnya yang pakai POV ketiga saja.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan penulis sangat beragam. Selain Eun-jae, Wu-yeong, dan Hyeong-su, kita akan kenalan juga dengan tokoh lainnya yang punya peran penting seperti Ketua Kelas, Pelatih Choi, dan Ji-jeong. Mereka adalah orang-orang hebat yang bisa menarik Eun-jae keluar dari neraka hidupnya.

Dari novel ini kita diajak merenung soal bisakah kita membantu orang-orang di sekitar kita yang mengalami kekerasan. Atau justru kita akan abai dengan dalih bukan urusan kita. Apakah jika kita melihat anak yang dibully oleh teman-temannya kita akan membantu? Atau apakah jika kita melihat perempuan muda yang dikasari pacarnya kita akan membantu? Saya sedih banget pas membayangkan jika tokoh Eun-jae sampai meninggal gara-gara tokoh-tokoh lainnya tidak bisa membantu dengan maksimal padahal mereka tahu seberat apa masalah yang menimpanya. Untungnya penulis tidak membuat ceritanya jadi begitu gelap.

Ada bagian paling super emosional di novel ini yaitu saat Eun-jae sudah dijauhkan dari ayahnya dan ia mendapati keadaan kontainer sepak bola tempat aman ia tinggal dalam kondisi berantakan. Eun-jae sangat marah dan ia berlari kencang. Bukan menuju ayahnya untuk membalas semua ulahnya melainkan ke kantor polisi. Ia membuka kardigan yang selama ini dipakai untuk menutupi lukanya. Dan pada momen itu polisi pun ternganga melihat saking parahnya kekerasan yang sudah dialami Eun-jae. Memar di atas memar, luka dibekas luka. Klimaksnya saat Eun-jae bilang, "Tolong... aku." SUMPAH SEDIH BANGET.... KENAPA BARU SEKARANG, EUN-JAE?


  • Hidup sering kali bergurau dan hanya sesekali menyediakan kesempatan. Namun, orang-orang tidak bisa mengetahui kesempatan-kesempatan apa yang tersedia untuk mereka. Kesempatan untuk dimaafkan, kesempatan untuk menjadi berbeda, kesempatan untuk mengubah hidup (hal. 65)
  • Membesarkan anak memang sulit. Kau mungkin merasa baru mulai berhasil menyesuaikan diri, tetapi anak-anakmu sudah melompat jauh mendahuluimu (hal. 79)
  • Cinta sejati adalah menyukai seseorang apa adanya. Seandainya kau lebih kurus, seandainya kau lebih tinggi sedikit, seandainya kau lebih pintar bicara, seandainya kau lebih pintar di sekolah... Bukannya membicarakan kekurangan yang tidak ada akhirnya, seharusnya seseorang disukai karena segala hal tentang dirinya (hal. 112)
  • Hidup itu bagaikan bola yang tidak bisa diduga ke mana arah pantulannya. Kitalah yang menentukan apakah kita bisa mempertahankan bola itu atau membiarkan lawan merebutnya (hal. 117)
  • Orangtua bodoh yang yakin bahwa anak-anak yang berusaha keras memahami orangtua, meski harus menerima berbagai kata-kata dan tidakan kasar, adalah anak-anak yang patuh dan akan tumbuh besar tanpa masalah. Berbeda dengan dugaan bodoh kalian, anak-anak justru akan semakin menjaga jarak. Ketika anak-anak semakin kuat dan tidak lagi takut pada kalian, mereka pasti akan bersiap-siap meninggalkan kalian tanpa menoleh ke belakang (hal. 146)
  • "Kalau kau membuat seseorang tertawa, bukankah itu berarti kau orang yang berguna?" (hal. 203)


Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca oleh siapa pun. Biar kita lebih peduli dengan orang-orang yang mengalami kekerasan tapi tidak bisa minta tolong saking korban ketakutan. Sedih, lucu, dan menghangatkan hati membuat novel ini begitu bermakna. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu karya Lee Kkoch-Nim ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!