Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan

Januari 16, 2026

Review Novel (Bukan) Pengantin Baru - Yessie L. Rismar

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: (Bukan) Pengantin Baru

Penulis: Yessie L. Rismar

Editor: Anindya Larasati

Ilustrasi & desain sampul: Amelia Maulida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Desember 2024

Tebal buku: vi + 190 hlm.

ISBN: 9786230068072


Setelah sekian lama akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca novel pertama di tahun 2026 ini. Kenapa saya memilih novel ini karena selain fresh baru dibeli pas Penerbit Elex ulang tahun, novel ini juga lumayan tipis jadi pas mulai baca sudah yakin bakal sampai selesai.

Kesan pertama di bab awal-awal, saya sudah mencak-mencak dengan konflik yang disajikan. Jadi, pasangan suami istri, Kiara dan Yaris, sudah menikah selama tiga tahun tapi mereka belum punya anak. Omongan tetangga dan omongan orang tua soal kehamilan membuat pasangan ini mesti banyak-banyak bersabar.

Tapi... masalahnya bukan karena pasangan ini ada kendala kesuburan. Masalah mereka itu cuma gagal melulu kalo mau berhubungan seksual. Mereka belum pernah bercinta.

APA-APAN INI!? TIGA TAHUN NGAPAIN AJA!! KOK LAKINYA KUAT YA!!

Dari sini saya pun kaget. Ditambah mereka terang-terangan enggan ke dokter karena bingung mesti jawab apa kalau ditanya keluhan. Yaris itu dosen, Kiara itu editor, harusnya mereka aware soal beginian, bukan bertingkah ogah-ogahan buat pergi ke dokter.

Ketika Kiara tertekan dengan omongan orang soal kehamilan, saya sebagai pembaca pengen banget ngomong lantang begini, "Ya kamu, masalah dipelihara, bukannya cepet pergi ke dokter malah bersikap sok paling dilukai orang-orang sekitar." 

Maafkeun kebawa emosi. Soalnya saya jadi ingat video seorang istri yang menyampaikan kabar ke mertuanya, sekaligus minta maaf karena belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Di situ jelas ada masalah dengan kesuburan. Sampai si mertuanya bilang, "Enggak apa-apa, Nov. Ini bukan maunya. Novi."

Kalau Kiara dan Yaris kan memang bukan karena mandul atau apa, belum tau malah masalah kesuburan mereka gimana karena belum mencoba, jadi agak susah untuk saya memahami penderitaan mereka sebab mereka sendiri memilih tidak melibatkan dokter selama tiga tahun itu.

Kiara itu punya tiga sahabat yang deket banget; Alin, Sava, dan Indi. Dan selama tiga tahun itu juga Kiara enggak coba sharing dengan mereka. Padahal, ujung-ujungnya yang jadi perantara mereka ketemu dengan dokter baik yang melabeli diagnosa medis soal kondisi Kiara itu ya sahabatnya sendiri, Sava. Coba aja mereka cerita lebih awal, pasti enggak perlu menanggung tekanan psikis selama itu.

Alasan kenapa Kiara dan Yaris gagal bercinta karena setiap kali mereka mau melakukannya, Kiara akan menegang, menutup pahanya rapat-rapat, melakukan penolakan, bahkan bisa sampai mencakar. Menurut dokter Anne kondisi ini disebut Vaginismus. Vaginismus adalah kondisi kakunya otot vagina, sehingga ketika terjadi penetrasi atau dimasukkan sesuatu, secara otomatis akan merapat.

Pasangan Kiara dan Yaris akhirnya menemukan harapan dan kelegaan karena ternyata yang mengalami kondisi seperti mereka bukan mereka saja. Di luaran sana banyak juga yang senasib. Dan kondisi vaginismus ini bisa disembuhkan. 

Teknik penyembuhannya ternyata membutuhkan alat yang disebut Dilator. Prosesnya ternyata lumayan memakan waktu dan emosi untuk istri yang mengalami vaginismus. Dan di novel ini penulis berhasil menyampaikan dengan baik bagaimana usaha keras dilatasi yang dilakukan Kiara.

Saya iseng mencari tahu apakah Dilator ini sama dengan Dildo. Jawabannya ternyata beda. 




Karena kondisi vaginismus ini, drama di novel ini begitu kental dan berhasil mengaduk emosi. Jujur, saya paling gampang dibikin sedih kalau baca cerita yang konfliknya tentang anak dan orang tua. Puncak konflik di novel ini muncul saat Kiara diminta dengan bahasa halus oleh ibu mertuanya untuk mundur dari pernikahan. Ibu mertuanya sudah merancang akan mendekatkan Yaris dengan mantan pacarnya waktu SMA, Ine.

Sedihnya mengoyak batin. Siapa pun perempuan di posisi Kiara pasti hancur hatinya karena diminta berpisah dengan suaminya. Dan lebih menyayat hati lagi saat Yaris kesal dengan ibunya dan ia memohon agar tidak dipisahkan dengan istrinya. Di posisi Yaris, ia ingin marah besar tapi lawannya adalah ibunya sendiri. Saya enggak bisa bayangin batin Yaris menahan amarah yang meledak demi tidak menyakiti ibunya. Di situlah saya ikut terbawa menangis.

Ini yang paling bener, ketika istri berkonflik dengan ibu mertua, suami memang harusnya berada di pihak istri. Dicari tahu masalahnya, dicari jalan keluarnya. Dan saya sangat terharu biru saat tahu latar belakang ibu mertua Kiara bersikap demikian. Apalagi saat akhirnya mereka saling bicara, saling memahami, dan saling meminta maaf. SUMPAH BANJIR BANDANG SEDIHNYA!

Menurut saya, novel ini mengandung banyak teladan baik untuk pasangan suami istri. Pelajaran yang enggak diajarkan di sekolah atau kuliah, tapi bisa didapatkan dari pengalaman orang-orang (walaupun ini fiksi). 

Penulis berhasil menyajikan cerita yang komplit, ada kisah manis, kisah sedih, kisah haru, juga kisah menegangkan. Drama domestik rumah tangga dituturkan dengan apik dan tidak menggurui. Diksi yang tidak bertele-tele. Dan ada wawasan baru yang disodorkan, ya soal vaginismus ini. Secara penokohan pun terasa sangat hidup. Pembaca bakal gampang berdiri di POV Kiara dan Yaris. 

Dari novel ini saya belajar soal bagaimana seorang suami mencintai istrinya, belajar bagaimana menempatkan posisi diri antara istri dan ibu sendiri, dan belajar kalau kesabaran pasti selalu berbuah baik.

Novel ini sangat saya rekomendasikan untuk pembaca yang gemar bacaan islami, konflik tentang rumah tangga, dan romansa dewasa. Dan kayaknya bakal membantu untuk pembaca yang memang sedang bersabar menunggu kehadiran buah hati dalam pernikahannya. Siapa tahu dari kisah Kiara dan Yaris ini banyak pembaca yang terkuatkan dalam proses kesabarannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel (Bukan) Pengantin Baru karya Yessie L. Rismar ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Agustus 06, 2025

Review Novel The Name Of The Game - Adelina Ayu

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: The Name Of The Game

Penulis: Adelina Ayu

Penyunting: Ani Nuraini Syahara

Desain sampul: Wina Witaria

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Terbit: Desember 2022, cetakan kedua

Tebal: 336 hlm.

ISBN: 9786232165991

Tag: young adult, romansa, toxic masculinity



Novel The Name Of The Game menceritakan tentang gadis bernama Flo yang naksir kakak tingkat di kampusnya bernama Daryll. Tapi di waktu yang hampir bersamaan, Flo juga kenalan dengan kakak tingkat lainnya yang bernama Zio. Awalnya Flo tidak tahu kalau Daryll dan Zio saling kenal karena sejak SMP hingga kuliah mereka barengan melulu.

Daryll dikenal sebagai cowok galak khas kating, dia suka band Sheila on 7, dan juga penyayang binatang. Sedangkan Zio dikenal sebagai cowok kemayu, paling tahu make up, dan suka wangi vanila. Sejak pertemuan pertama Flo sudah naksir Daryll dan berharap bisa jadi pacarnya. Sedangkan Zio sudah dianggap bestie sekaligus sahabat seru-seruan.

Semakin dekat hubungan Flo dan Daryll, susah juga untuk menahan perasaan suka. Satu momen Flo akhirnya mengakui duluan. Tetapi reaksi Daryll justru membuat Flo bingung, Daryll memilih menjauhinya. Keyakinan Flo dengan perhatian Daryll selama ini ternyata berbalik menyakitinya.

Zio yang semula hanya menganggap Flo teman mulai bergeser perasaan. Selama bersama Flo, Zio sadar dirinya diterima dengan terbuka meski ia berbeda dari laki-laki kebanyakan. Perasaan kagum itu kemudian berubah menjadi suka. Namun Zio memilih memendamnya karena dia tahu Flo lebih tertarik dengan Daryll.

Di tengah kegalauan karena ditolak Daryll, Zio berterus terang tentang perasaannya selama ini. Flo kaget bukan main dan bingung harus bagaimana. 

***


Novel ini termasuk bacaan ringan. Tema percintaan anak kampus dan konflik tarik ulur perasaan  memang bikin gemes. Kita diingatkan dua poin besar dalam urusan suka-sukaan. Pertama, jangan men-treatment seseorang seperti pacaran kalau memang tidak akan dipacari. Anak orang dikasih angin surga, begitu minta kejelasan, malah bilangnya, 'suka tapi bukan sebagai pacar.' Gimana enggak bikin galau.

Kedua, jangan langsung meromantisasi treatment seseorang hanya karena kamu menyukai orangnya. Bahaya. Bisa jadi orang itu melakukan hal yang sama ke semua orang. Jadi kelihatan kan kalau salah paham soal suka-sukaan bukan biangnya di satu pihak, tapi kedua pihak sama-sama keliru.

Selain soal percintaan, novel ini juga mengangkat isu besar yaitu isu toxic masculinity. Diwakili tokoh Zio yang kemayu, kita diingatkan kalau memang beneran ada lho cowok yang kayak cewek tapi mereka tetap cowok. 

Digambarkan dengan gamblang kesusahan Zio diterima lingkungan. Tidak sedikit yang menghina, menertawakan, meremehkan, bahkan membully-nya. Zio mengakui kalau butuh waktu dan hati besar untuk benar-benar menerima kondisinya yang berbeda. 

Secara penokohan sudah sangat baik dan menarik. Tidak ada tokoh yang dibuat sempurna banget dan pasti ada masalahnya. Ini menunjukkan kalau setiap orang punya perangnya masing-masing. Selain membuat cerita jadi lebih kaya, masalah pun membuat keterhubungan emosi antara cerita dengan pembacanya.

Penceritaan penulis pun sangat enak. Disesuaikan dengan kebiasaan cara bertutur anak kuliahan, rasa novel ini jadi terkesan meriah, bersemangat, dan anak muda banget. Tidak kaku baik dari gurauan maupun dialog-dialognya.

Dari novel ini saya belajar untuk tidak menghakimi orang-orang dengan pembawaan mereka. Tidak ada satu orang pun yang ingin membawa kekurangan. Tapi jika Tuhan memberikan itu, mereka butuh usaha keras untuk berdamai dengan keadaan. Kita  harus tahu, banyak banget kekecewaan, kemarahan, tangisan, bahkan mungkin rasa putus asa dalam prosesnya. Dan kita belum tentu akan sekuat mereka jika berada di posisi mereka.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati membaca novel ini. Percintaan anak kampusnya seru, konfliknya rame, dan renungannya lumayan dalam. Saya bakal ingat terus kalau tidak ada orang yang sempurna, yang ada adalah belajar menerima.

Sekian ulasan saya untuk novel The Name Of The Game ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***

Kutipan-Kutipan

  • Hidup itu kadang membosankan.... Makanya, kita harus bikin hidup lebih berwarna dengan mencari kebahagiaan dari hal-hal kecil... (p.31)
  • Lo tau nggak sebab utama perasaan galau itu bukan putus, diselingkuhin, atau ditolak, tapi saat lo udah tahu kalau lo nggak bisa, tapi masih tetep ngotot. Ngotot ngarep, ngotot bertahan, dan ngotot terus cari tahu hal yang padahal udah jelas... (p. 268)


Juli 30, 2025

Review Novel Let Go - Windhy Puspitadewi

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Let Go

Penulis: Windhy Puspitadewi

Editor: Widyawati Oktavia

Desain sampul: Mira Tazkia

Penerbit: GagasMedia

Terbit: Januari 2009, cetakan pertama

Tebal: viii + 244 hlm.

ISBN: 9797803821

Tag: teenlit, sekolah, persahabatan, impian, kehilangan


Novel Let Go menceritakan murid SMA kelas X bernama Caraka Pamungkas yang terkenal bebal di tahun pertamanya. Demi membuatnya berubah, dia diharuskan membantu keberlangsungan majalah sekolah Veritas bersama Sarah, Nadya, dan Nathan. 

Perbedaan karakter membuat mereka mengalami banyak dinamika. Sarah yang rapuh, Nadya yang serba bisa, Nathan si paling pintar, dan Raka yang sering bertindak tanpa berpikir dulu, menemukan makna baru persahabatan. Rahasia dan masalah masing-masing mulai dikenali. 

Tapi takdir punya cara untuk mendewasakan mereka walau itu menyedihkan.

***



Novel Let Go tergolong novel teenlit. Anak sekolah dan masalah-masalah  yang biasa ditemui jadi perpaduan yang menarik jadi sebuah kisah. Masalah yang dihadapi belum dikategorikan berat tapi konflik yang muncul cukup membuat emosi saya naik-turun.

Sarah yang dikenal lembut dan rapuh kesulitan untuk menolak permintaan orang lain meski harus mengorbankan impiannya. Belum lagi soal berdamai dengan perasaannya yang tertolak. Nathan yang pintar dan dingin memilih menyerah dengan kesehatannya karena ia tidak punya alasan kenapa harus melanjutkan hidup setelah ibunya meninggal. Nadya yang serba bisa akhirnya kena batunya saat semua yang dia usahakan justru jadi berantakan hanya karena dia ingin dianggap hebat sehingga lupa mengukur diri dan lupa meminta tolong. Sedangkan Raka masih terikat masa lalu dan belum berdamai dengan kehilangan.

Saya suka dengan perkembangan mereka menjadi lebih bijaksana. Dan prosesnya cukup seru diikuti. Ada salah paham, ada cemburu, ada pura-pura tidak peduli, dan ada perseteruan. Dan kedewasaan mereka terasa normal, bukan berubah seperti orang dewasa ya.

Penceritaan penulis juga cukup ringan. Beberapa bagian bakal bikin gemas, beberapa bagian bikin kesal, dan di ujung cerita bakal dibikin nangis. Dan emosi yang ingin dibagikan sangat tersampaikan kepada saya.

Secara penokohan pun sangat baik. Walau pusat cerita ada di empat murid, penulis bisa menggambarkan karakternya dengan hidup bagi masing-masingnya sehingga saya bisa mengenali tokoh-tokohnya dengan baik. 

Dari novel ini saya belajar mengenai proses berdamai dengan kehilangan itu tidak mudah tetapi harus dilakukan. Yang hidup harus terus hidup, yang mati biar menyisakan kenangan terbaik. Jangan sampai kehilangan membuat kita kehilangan lebih banyak, terutama waktu.

Secara keseluruhan saya suka dengan cerita novel ini karena membawa saya ke masa SMA dengan masalah-masalahnya. Dan saya tidak menduga kalau di akhir novel ini bakal bikin menangis. Ngomongin kehilangan itu memang enggak pernah enak tapi kita harus selalu siap mengalaminya.

Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca muda yang ingin belajar masalah-masalah apa yang biasa muncul pas di SMA. Atau untuk pembaca yang sudah melewati masa SMA sebagai momen nostalgia, hehe.

Sekian ulasan saya untuk novel Let Go ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***

Kutipan-Kutipan

  • Orang yang nggak bisa menghargai dirinya sendiri, enggak akan pernah bisa menghargai orang lain (p. 98)
  • Orang yang menyukai dirinya sendiri apa adanya dan nggak pernah berusaha jadi orang lain adalah orang yang sangat keren (p. 137)


Januari 08, 2024

Review Novel Paris: Aline - Prisca Primasari

Dulu, Gagas Media termasuk penerbit yang kreatif dengan karyanya yang enggak ada matinya. Banyak buku bagus yang diterbitkan. Salah satu series yang terkenal adalah series Setiap Tempat Punya Cerita a.k.a STPC. Kalau mengintip di goodreads, totalnya ada enam buku. Dan novel Paris: Aline ini adalah buku pertamanya.



Judul: Paris: Aline

Penulis: Prisca Primasari

Editor: eNHa

Sampul: Jeffri Fernando

Ilustrasi isi: Diani Apsari

Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2012, cetakan pertama

Tebal: x + 214 hlm.

ISBN: 9797805778

RINGKASAN

Aline Ofelif yang patah hati gara-gara pria yang ditaksirnya malah jadian dengan perempuan lain. Melalui pecahan porselen ia dipertemukan dengan pria yang misterius bernama Sena. Terlalu banyak tanda tanya mengenal Sena. Selain Sena, ada Kak Ezra yang lebih dulu dikenal Aline dan menunjukkan perhatian-perhatian. 

Kira-kira kepada siapa Aline akan menambatkan hatinya?

RESENSI

Menurut saya novel ini terasa manis, plus suasana romantis didukung penuh oleh lokasi cerita yaitu Paris. Saya lumayan takjub sih dengan awal mula pertemuan Aline dan Sena yang terhubung lewat pecahan porselen dan lokasi yang dipilih pun enggak biasa, monumen pemakaman. Rada ngeri-ngeri sedap ya, takut ketemu hantu, itu juga yang dialami Aline ketika menyanggupi janjiannya.

Selain itu saya juga memikirkan kira-kira Aline lebih pas berpasangan dengan Sena atau Kak Ezra. Jujur saja Kak Ezra ini sosok misterius tapi bisa diandalkan, dia bahkan menunjukkan bentuk perhatiannya dengan tindakan, bukan kata-kata saja, rela menemani Aline menunggu Sena datang dengan alasan mengamati sebuah gedung.

Yang mengganjal buat saya justru pada keputusan hati Aline yang naksir Sena padahal Sena itu menyebalkan dan seingat saya tidak banyak perhatian dan persinggungan antara keduanya. Bagaimana rasa sayang itu bisa muncul, bahkan mengalahkan perlakuan perhatian Kak Ezra yang nyata-nyata diterima Aline sejak ia tiba di Paris.

Kejadian Sena yang ditawan oleh pasangan Poussin juga membingungkan karena Sena itu bukan anak kecil harusnya dia bisa lebih tegas dengan hidupnya ketimbang memikirkan keluarga yang bukan siapa-siapanya. Istilahnya, dia lebih memikirkan kondisi keluarga orang lain dibandingkan kekhawatiran keluarganya sendiri. Dan apa yang dilakukan pasangan Poussin itu sudah tergolong kriminal, harusnya gampang dilaporkan ke polisi, tapi lagi-lagi Sena memberikan alasan yang menurut saya belum kuat kenapa dia memilih bertahan ditawan. 



Selain sisi romansa yang disajikan penulis, saya juga bersimpati dengan Sevigne Devereux, sahabat Aline, yang tengah berjuang dengan cita-citanya menjadi penulis. Kerasa banget kesulitan yang dihadapi dia, terutama mewujudkan keinginannya untuk menerbitkan karya. Selain itu, pilihan dia menjadi penulis juga dipandang sebelah mata oleh keluarganya. Tentu ini jadi pukulan keras dimana keluarga harusnya menjadi pilar pendukung utama tapi justru jadi penghambat utama. Huft!


"...Dia melihat salah satu tulisanku dan bilang semua itu tidak ada gunanya, buang-buang waktu, sampah..." (hal. 114)


Untuk sudut-sudut Kota Paris yang ditampilkan dalam cerita ini lebih variatif, tidak memilih yang ikonik banget yaitu Menara Eifel. Kita akan diajak ke Monumen Pemakaman Place de la Bastille, Museum Cluny, Beaumarchais Boulangerie, Kediaman Victor Hugo, Pemakaman Pere Lachaise, dan sudut-sudut Kota Paris lainnya yang dilewati oleh Aline atau pun tokoh lainnya. Ini memberikan wawasan baru buat pembaca soalnya beberapa novel yang mengambil setting di kota terkenal biasanya hanya menonjolkan lokasi ikonik saja tanpa mengajak berjalan-jaln lebih luas.

Gaya menulis Kak Prisca Primasari terbilang runut dan detail. Saya menikmati sekali diksi-diksi yang dirangkai penulis sehingga bisa membayangkan kelembutan, keromantisan, dan kehangatan kisah Aline dan Sena selama di Paris.

Penokohan di novel ini belum membuat saya suka dengan salah satunya. Karakter Aline Ofelif secara umum saya kutip seperti yang dituturkan oleh Sena, "Pikiran sempit, nggak percaya diri, tapi sok kuat. Melankolis tidak pada tempatnya. Suka berjibaku pada hal-hal tidak penting." Meski begitu, karakter Aeolus Sena pun tidak lebih baik dari Aline. Dia kurang tegas memilih keputusan, suka meremehkan hal-hal penting, dan kurang bertanggung jawab. Sedangkan Kak Ezra terlalu penutup dan lebih pemendam perasaan sehingga dia kena salip oleh Sena, hehe.



Kover novel Paris; Aline ini jadi template baku untuk series STPC ini. Warna dasar yang kalem dengan gambar vector di kasih judul yang bold. Dan yang paling keren, buku ini juga memberi postcard dengan ilustrasi yang cakep banget.

Novel Paris: Aline ini merupakan buku ketiga karya Kak Prisca Primasari yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca Heartwarming Chocolate dan Kastil Es & Air Mancur Yang Berdansa.

Kesimpulannya, novel Paris: Aline ini kuat di bagian romantisnya dan bikin saya bernostalgia dengan kejayaan Penerbit Gagas Media yang kerap menerbitkan buku-buku jatuh cinta. Ceritanya sangat enak dinikmati dan pas untuk pecinta cerita cinta-cintaan.

Sekian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Oktober 12, 2023

Resensi Novel To Tokyo To Love - Mariskova


Judul: To Tokyo To Love

Penulis: Mariskova

Sampul: Orkha Creative

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Maret 2016

Tebal: 296 hlm.

ISBN: 9786020325705




Enam bulan menjelang pernikahan, Nina mendapatkan pengakuan dari calon suaminya kalau dia melakukan kesalahan karena menghamili mantannya, Karina. Ian berjanji setelah menikahi Karina, dia akan segera menceraikannya, lalu mereka bisa kembali bersama. Nina menolak keras usul Ian, bagaimana pun bayi yang dikandung Karina harus punya ayah.

Sebagai karyawan baik, Nina mendapatkan perhatian dari atasannya. Begitu performance-nya menurun, Nina mengajukan resign dan ditolak. Ia justru mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Jepang sembari menyembuhkan luka hatinya.

Selama di Jepang, Nina mendapatkan kenalan baru bernama Takung. Awalnya mereka berkomuniasi dengan email, seriring waktu mereka bertukar nomor ponsel. Banyak hal yang mereka obrolkan dan membuat masing-masing nyaman meski belum pernah bertemu. Selain itu Nina pun tertarik dengan sosok lelaki yang rutin ia temui di kereta tapi ia tidak cukup berani untuk berkenalan langsung.

Kehidupan Nina kembali berantakan saat Ian dan Karina justru muncul di Jepang dan mengusiknya. Mampukan Nina melepaskan dari masa lalunya? Dan siapakah Takung yang sebenarnya?




Saya suka dengan plot cerita di novel ini karena penasaran apakah Nina bisa benar-benar melupakan Ian setelah dikhianati. Saya juga mengutuk Ian waktu dia menyepelekan kesalahannya dan masih mengharapkan Nina. Tukang selingkuh itu nggak ada obatnya jadi saya tidak setuju kalau sampai Nina memberi kesempatan kedua untuk Ian.

Kisah percintaannya terasa romantis. Ada momen tarik-ulur antara Nina dan Takung yang bikin gemas sendiri. Walau dramatisasinya ala-ala sinetron tetapi masih enak diikuti. Keduanya hampir saja mengenali satu sama lain tapi malah dipatahkan oleh keadaan, bener-bener geregetan. Di tambah latarnya di Jepang, ada musim bunga sakura mekar, membuat ceritanya makin manis. 

Drama keluarga di sini diwakili oleh interaksi Nina dengan Tito, kakaknya. Dan saat Tito masuk rumah sakit gara-gara diserang sekumpulan orang, orang tua mereka menyembunyikan kabar ini agar Nina tidak khawatir, membuat saya sesak terharu. Di mata saya keluarga Nina tampak harmonis. 

Karakter Nina yang jadi pusat cerita berkembang baik dari yang melow melulu akibat patah hati berubah menjadi Nina yang mulai riang. Perubahannya diracik apik sehingga kita bisa merasakan prosesnya, bukan yang tiba-tiba.

Catatan saya adalah narasi paragraf di novel ini panjang-panjang sehingga saya melakukan skipping saat membacanya karena takut keburu bosan. Biasanya yang saya loncati adalah kalimat-kalimat penegasan dan ini tidak mengurangi saya memahami jalan ceritanya.




Ternyata kover novel ini yang versi baru lebih bagus ya. Samaan sama novel Metropop yang lainnya, jadi pengen mengkoleksi. 

Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca yang suka cerita romantis. 

Sekian ulasan saya, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



September 29, 2023

Resensi Novel 23:59 - Brian Khrisna


Judul:
23:59

Penulis: Brian Khrisna

Penyunting: Juliagar R. N.

Ilustrasi isi: Dalila Arrumaisha

Sampul: ORKHA CREATIVE

Penerbit: MediaKita

Terbit: Januari 2023

Tebal: iv + 232 hlm.

ISBN: 9789797946692

Novel 23:59 ini menceritakan hubungan Ami dan Raga yang sudah terjalin dua tahunan harus kandas. Raga memutuskan hubungan mereka tanpa penjelasan dan itu membuat Ami sangat patah hati.

Perasaan Ami hancur. Dia berusaha mencari tahu alasan kenapa Raga memilih pergi tapi tidak berhasil. Selama patah hati itu tak terbilang berapa kali dia menangis, berapa kali dia berusaha mengakhiri hidup. Beruntung Ami memiliki teman-teman dan keluarga yang memperhatikan dan menjaganya agar hal buruk tidak dilakukannya.

Ami mencoba move on dengan menerima Aransyah sebagai kekasih. Tetapi selama itu pula ia tidak bisa melupakan Raga. Walau Ami masih meradang dengan hubungan masa lalunya, Aransyah bersabar untuk terus di sisi Ami dan menerima semua perlakuan Ami yang belum sepenuhnya menganggapnya ada.

Athif, sahabat Raga, tahu betul apa alasan Raga pergi dan membiarkan Ami menderita begitu. Sebagai orang luar, Athif tidak bisa mencampuri masalah di antara keduanya. Bahkan di saat Ami dan Aransyah bertunangan, Athif tidak membuka mulut meski Ami mendesaknya.

Dua hari menjelang pernikahan, Ami bertekad untuk menyudahi meratapi nasib kegagalan hubungannya dengan Raga. Foto polaroid dan gelang manik-manik sejumlah 24 membawa Ami pada momen ajaib dan di sanalah dia menemukan jawaban apa yang membuat hubungannya dengan Raga tidak berhasil.

Membaca novel ini sangat mengaduk emosi. Banyak bagian cerita yang membuat saya sedih. Tema novel ini adalah tentang patah hati dan memaafkan masa lalu. Pasti banyak banget pembaca yang akan relate dengan kisah Ami dan Raga.

Saya sendiri punya pengalaman serupa, diputuskan tanpa penjelasan. Setahun saya merasa sakit di dada dan sulit tidur. Biar bisa istirahat, saya harus minum Antimo. Awalnya satu pil, makin lama tidak berhasil, dan sampai saya harus minum empat pil agar bisa tidur. Saat itu mau minum lima pil tapi saya diingatkan oleh kenalan seorang apoteker jika itu beresiko.

Saya baru benar-benar bisa ikhlas setelah setahun berlalu dan waktu itu saya memaksakan diri menemui dia untuk mengatakan maaf jika selama dengan saya dia tidak bahagia sampai akhirnya memutuskan pergi begitu saja. Pertemuan kurang dari lima menit itu berhasil membuat saya bisa move on sampai hari ini.

Menurut saya, ketika ingin mengakhiri hubungan, please, beri closure yang tuntas. Jika ada yang harus dijelaskan, tolong beri kesempatan untuk menjelaskan. Jangan sekali-sekali membiarkan salah satu pasangan menebak-nebak ada apa, siapa yang salah, dan sebenarnya ada masalah apa. Ibaratnya begini, selama berhubungan kita pelan-pelan mengikat benang ke sepuluh jari masing-masing. Lalu saat putus, ada dua benang di dua jari yang tertinggal tidak diputuskan. Mau berapa tahun pun kejadian itu, bagi salah satu pasangan akan menjadi beban yang belum selesai. Ini yang membuat susah untuk memulai dengan orang lain karena masih ada ikatan yang belum dituntaskan.

Eh, saya malah curhat, hehe. Tapi memang betul, berada di posisi Ami itu tidak enak. 


Secara penceritaan penulis, saya suka, karena runut dan utuh sehingga rasa dan emosi ceritanya sampai ke saya sebagai pembaca. Sedikit kekurangan, di sini banyak sekali paragraf narasi yang agak panjang. Bahkan untuk adegan dramatis pun dipangkas dengan narasi saja. Sayang sekali memang, padahal bisa makin membuat nangis kejer kalau part itu dibikin adegan. Contohnya ketika Ami marah, kesal, dan mencaci maki Raga, penulis merangkum dalam narasi, tidak ada detail caci maki Ami seperti apa.

Building karakter di novel ini cukup baik, terutama tokoh Ami dan Raga. Mungkin karena keduanya tokoh utama jadi karakter mereka menonjol. Walau pun tokoh Raga baru benar-benar akan kita kenali setelah mulai ketengah buku. 

Di awal buku kita akan kenal Ami sebagai gadis yang sendu akibat patah hati. Walau dulunya dia sangat cemerlang tapi setelah diputuskan Raga, karakternya menjadi mendung. Bagian cemerlang ini yang tidak saya rasakan, tahu-tahu sudah jadi gadis yang memprihatinkan.

Sedangkan Raga akan dikenalkan di awal sebagai pemuda yang berengsek karena membuat Ami menderita. Pengecut karena pilihan sikapnya untuk menunda penjelasan kepada Ami. Saya geram sekali saat tahu begitu. Tetapi setelah membaca momen ajaib itu, saya jadi ikut bersimpati. Sebagai lelaki, kita akan memperjuangkan sesuatu yang kita sukai dengan maksimal. Tetapi ada waktunya kita berhenti karena tahu kalau dipaksakan akan menimbulkan banyak ketidakbahagiaan. Ibaratnya, keinginan hidup itu enggak melulu akan terpenuhi, dan kadang kita harus berkorban untuk hal baik yang lebih banyak.

Untuk tokoh Athif sendiri cukup menyita perhatian. Awalnya saya kira dia akan punya momen penting di masalah Ami dan Raga, tetapi ternyata peran dia memang hanya sebagai katalisator bagi kedua sahabatnya itu.

Ada bagian yang tidak digali penulis yaitu bagaimana orang tua Ami menghadapi anaknya yang patah hati. Walau ibunya Ami sering menyumpahi Raga, tapi itu belum menunjukkan sisi orang tua dalam menghadapi anaknya yang dirundung pilu. Akan lebih pilu lagi jika ada bagian yang memaparkan sama terlukanya ayah dan ibunya Ami melihat anaknya yang putus harapan karena seorang Raga.

Oya, novel ini juga tergolong bacaan dewasa dan pembaca harus terbuka dengan sesuatu yang tabu. Sebab ada pernyataan yang menjelaskan kalau Ami dan Raga melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Secara terselubung penulis menganggap hal itu bukan masalah besar. Tapi bisa jadi untuk beberapa orang bagian ini tidak sependapat.


"Aku memang menyesal karena pada akhirnya kita enggak bisa bersama seperti semua rencana kita dulu, tapi untuk satu hal itu, enggak. Aku gak menyesal." (hal.152)

Secara keseluruhan, novel ini berhasil membuat saya sedih mengikuti kisah Ami dan Raga. Dan novel ini saya rekomendasikan buat pembaca yang suka cerita romansa tapi punya kisah yang bikin pengen nangis.

Oya, jangan lupa juga mendengarkan lagu dari Andre Mastijan yang judulnya Khianatiku.


Sekian ulasan novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!