Tampilkan postingan dengan label Grasindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grasindo. Tampilkan semua postingan

April 07, 2026

Buku Anak Whispers Of The Shadow: Three Tales Of Wonder - M. Sutandi

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Whisper Of The Shadow: Three Tales Of Wonder

Penulis: M. Sutandi

Ilustrator: Gratiani & Pratita

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

Terbit: Oktober 2024

Tebal: vi + 162 hlm.

ISBN: 9786020531175



Karena sering melihat buku ini di lokapasar, saya memutuskan untuk membelinya. Bukan apa-apa, saya memang suka dengan bacaan anak-anak. Selain ceritanya yang sederhana, formatnya yang pendek jadi alasan lain, sekalian untuk selingan karena sedang susah menyelesaikan baca novel.

Yang membuat buku ini spesial karena diproduksi penuh warna dan disajikan dalam bilingual; bahasa indonesia dan bahasa inggris. Anaka-anak pasti suka dengan gambar-gambarnya.

Sebagai buku anak, buku ini juga memiliki visi mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Ada tiga cerita yang disuguhkan: The Girl and Her Shadow, The Little Flower, dan The Proud Hermit Crab.





The Girl and Her Shadow menceritakan tentang anak perempuan yang dalam pencarian jati dirinya dia mengusir dan meninggalkan bayangannya. Padahal dari sejak kecil hanya bayangannya yang menemani dan selalu ada. Namun setelah dewasa, saat ia kehilangan segalanya dan semua orang yang ia anggap teman justru pergi, ia tersadar kalau ada yang kurang dalam dirinya. Memori kecil teringat kembali menyadarkan apa yang sudah ia lupakan selama ini.






The Little Flower menyadarkan kepada kita kalau memaksakan memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dimiliki justru akan membawa hal tidak baik. Bunga kecil yang tumbuh indah di padang rumput dekat pohon besar mencoba bertahan saat seorang anak kecil merusaknya dengan bola yang dia mainkan. Setelah kembali pulih, datang lagi anak kecil yang merayunya agar mau dibawa kerumah. Kegigihan anak itu membuat bunga kecil mengiyakan dengan syarat: memberinya air dan membawanya ke tempat yang bisa kena cahaya matahari. Tapi namanya anak-anak, mereka akan memiliki teman dan sibuk bermain, hingga melalaikan bunga kecil itu hingga bentuknya hampir mati. Sebelum terlambat, si anak mengabulkan keinginan bunga kecil untuk dikembalikan ke tempat semula ia tumbuh.




Sedangkan cerita The Proud Hermit Crab membahas soal anak umang-umang yang dimanja dan disanjung orang tuanya hingga ia berpikir kalau ia paling segalanya. Saat si anak melakukan salah pun, orang tuanya tetap membela. Begitu umang-umang sudah dewasa dan meninggalkan orang tuanya untuk menemukan pasangan sekaligus membentuk keluarganya, kesombongan itu tetap melekat. Setiap berpapasan dengan hewan lain, kesombongan itu dia tunjukkan. Tetapi pertemuannya dengan elang laut dada putih membuat umang-umang sadar apa kesalahannya. 



Dari ketiga cerita saya menemukan benang merah yang entah disengaja atau enggak yaitu soal kesendirian. Semua ceritanya membahas itu: anak perempuan yang awalnya sangat tertutup, bunga kecil yang ditinggalkan karena si anak menemukan kesukaan baru, dan si umang-umang yang kerap ditinggalkan di rumah bila orang tuanya pergi mencari makan. 

Ada benarnya juga, ketika masih anak-anak ada semacam kegugupan untuk berbaur dengan orang atau lingkungan baru. Jika orang tuanya paham, si anak akan digandeng untuk mulai membaur. Tetapi ada beberapa anak yang karena tidak ada yang menggandeng, ia memilih mundur menjauh dan jadi anak yang tertutup. Pola asih ini membentuk karakter si anak dan jika tidak ada perubahan maka bisa terbawa sampai saat ia dewasa. Seserius itu ya pembahasannya padahal ini cerita anak lho!

Buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali duduk. Nilai yang dikandung ceritanya mengingatkan kembali pembaca pada nilai baik yang sifatnya universal, yang harus tetap dimiliki sampai kapan pun. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku anak Whispers Of The Shadow: Three Tales Of Wonder ini. Terakhir dari saya, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!





Maret 16, 2025

Resensi Novel Tuhan Maha Romantis - Nurunala

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Tuhan Maha Romantis

Penulis: Nurunala

Editor: Trian Lesmana

Penerbit: Grasindo

Terbit: Juli 2023

Tebal: 200 hlm.

ISBN: 9786020530208

Tag: romansa, religi

Sinopsis

Setelah lima tahun berlalu, Rijal dan Laras kembali bertemu di acara bebukuan. Rijal kini sudah jadi penulis. Laras sengaja menempuh perjalanan dari New Zealand ke Indonesia untuk menemuinya. 

Pertemuan mereka penuh perasaan campur aduk. Kenangan waktu kuliah dulu kembali menyeruak. Termasuk perasaan suka yang selama ini diendapkan oleh keduanya karena agama mengaturnya. Rijal seperti menemukan kebahagian yang sudah lama menghilang. Namun Laras menemukan cincin dijari Rijal yang artinya kepulangannya ke Indonesia akan jadi sia-sia. Rijal sudah bertunangan, itu faktanya.

Mungkinkah takdir kali ini mengatur keduanya bersatu? Atau keduanya harus belajar mengikhlaskan perasaannya melebur?



Resensi

Nurunala adalah penulis yang kalau menerbitkan buku saya pasti usahakan akan membelinya. Sebelum membaca novel ini saya sudah membaca novel lainnya: Festival Hujan, Janji Untuk Ayah, dan Seribu Wajah Ayah

Yang membuat saya suka dengan karya-karya penulis karena novel-novelnya mengangkat tema keluarga terutama tentang sosok Ayah. Saya tipikal orang yang gampang banget terharu kalau membaca kisah soal orang tua. 


Masa Lalu Yang Datang Lagi Pada Waktu Yang Tidak Tepat

Siapa sih yang enggak senang saat kembali bertemu dengan orang yang pernah kita sayang. Begitu juga dengan Rijal yang akhirnya bertemu lagi dengan Laras setelah lima tahun tidak ada kabar. Perasaan suka kembali berkembang dan ternyata tidak berubah walaupun sudah lama tidak jumpa. Rijal berharap besar kali ini perasaannya akan tersampaikan.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar, pasti ada banyak hal yang sudah berubah. Rijal sudah jadi penulis. Rijal juga sudah bertunangan dan seminggu lagi bakal menikah. Fakta ini yang membuat Laras meredam semua harapannya. 

Konflik ini yang mencoba digali penulis lebih dalam. Dan karena novel-novel penulis selalu memiliki dasar agama islam, saya semakin penasaran bakal dikasih jalan keluar apa untuk kepelikan situasi yang dihadapi Rijal dan Laras.


Sisi Romantis Dari Keluarga Harmonis

Di novel ini juga digambarkan latar belakang keluarga Rijal yang bikin saya mengakui kalau, "Siapa orang tua kita juga turut menentukan siapa kita." Ayahnya Rijal adalah kepala sekolah, ibunya adalah guru bahasa inggris. Sudah pasti pendidikan jadi hal penting yang diajarkan mereka kepada anak. Dan bukan soal sisi intelektual saja yang diajarkan, tetapi sisi moral dan nilai religi juga dipenuhi mereka.

Rijal tumbuh jadi pemuda yang baik dan santun karena besar dalam keluarga yang harmonis. Kedekatannya dengan sosok ayah membuat saya iri. Dia bisa curhat dan meminta solusi kepada ayahnya untuk hal-hal yang rasanya susah dilakukan anak laki-laki kepada ayahnya seperti asmara. Pendapat saya ini karena saya bukan salah satunya yang bisa begitu. 

Karena latar belakang orang tua Rijal sebagai pendidik, keduanya pun begitu dihormati di lingkungan sekitar. Terutama oleh mereka-mereka yang pernah diajar oleh orang tua Rijal. Kebaikan yang dilakukan orang tua Rijal banyak membantu di kemudian hari. Misalnya saat ibunya Rijal pingsan, Teh Zaenab yang seorang bidan membantu mengurus agar siuman. Dan saat mau diberikan bayaran, Teh Zaenab menolak dengan santun karena ia pernah merasakan kebaikan dari orang tua Rijal.


Dinamika Masa Perkuliahan

Kehidupan perkuliahan lumayan banyak dibahas di sini. Menggunakan sudut pandang Rijal, kita diajak ikut bagaimana ia berkenalan dengan kawan baru, bertemu pertama kali dengan gadis pujaan, dan terlibat dalam kegiatan jurusan yang lumayan menyita waktu.

Saya sangat suka dengan penggambaran kegiatan Petang Puisi. Dimana setiap jurusan berlomba membawakan deklamasi puisi secara kreatif dengan menggabungkan dekorasi dan musik-musik latar. Dan gara-gara novel ini, saya jadi tahu puisi berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa karya W.S. Rendra. Puisi yang menyinggung dan menggugat soal wakil rakyat di pemerintah yang membuat kebijakan-kebijakan tapi tidak mewakili rakyat.


Keputusan Jodoh Yang Membuat Kesal

Dari beberapa novel penulis yang saya baca, ending novel ini yang paling tidak saya suka. Mungkin buat beberapa orang kelihatan romantis tapi buat saya itu miris. Saya yakin kalau tidak spolier pun, pembaca bakal tahu ending kisah Rijal dan Laras ini dari sampul novelnya yang sederhana tapi cantik dengan perpaduan warna biru di langit dan hamparan hijau rerumputan.

Tinggal menghitung hari akan menikah tapi dibatalkan, itu yang bikin saya kurang suka dengan keputusan ini. Rasanya membatalkan pertunangan bukan perkara mudah karena ini melibatkan perasaan dan nama baik keluarga besar. Ini pertunangan dan bukan pacaran. Kabar pernikahan sudah menyebar kemana-mana lho. Si pihak laki-laki harus bertanggung jawab kepada keluarga si perempuan. Dan yang lebih tidak saya sukai, yang menyampaikan pembatalan ini hanya ibunya saja. Si laki-laki justru sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke luar negeri mengejar cinta pertamanya. Gila nggak sih keputusan ini!!!


Kita mencintai seseorang karena kita memilih untuk mencintainya. Rasa yang indah ini memang anugerah Allah, tapi diri sendirilah yang memegang kontrol penuh atas perasaan yang membuncah dalam dada. (hal. 91)

Mungkin ada yang berpendapat, "Daripada menikahi perempuan yang tidak dicintai dan tidak bahagia, bukankah lebih baik sejak dini diakhiri." Saya setuju dengan ini tapi kenapa kalau belum move on dari masa lalu harus melakukan lamaran kepada perempuan lain. Padahal di sini Rijal tidak dalam kondisi terdesak untuk melakukan itu. Dan saat dia memutuskan untuk melamar perempuan lain artinya dia siap menerima tanggung jawab itu. 

Sebelum kehadiran Laras, hubungannya dengan Aira baik-baik saja. Hanya karena Laras kemudian datang, niat menikah tergerus juga. Harusnya sikap pria enggak begini kan?

Keberatan saya lainnya, saya tidak menemukan nilai luar biasa dari seorang Laras yang kemudian diperjuangkan sebegitunya oleh Rijal. Rijal menyukai Laras karena cantik, solehah, dan baik. Tapi ini juga ada di diri Aira, tunangannya. Aira malah lebih banyak berinteraksi dengan Rijal dan ibunya dibandingkan Laras. Lalu yang membuat timbangan Laras lebih besar untuk dipilih ketimbang Aira itu apa, penulis tidak memberikan itu sehingga saya simpulkan kalau Rijal berjuang hanya karena Laras cinta pertama. Ini jadi pilihan ending novel yang dangkal buat saya. 


Simpulan

Romansa yang berdiri di atas agama selalu menginspirasi. Sosok Rijal jadi gambaran teladan bagaimana pria bersikap saat pertama kali merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis. Terlepas dari ending novel yang mengecewakan, novel ini punya nilai-nilai moral yang secara penyampaian tidak menggurui. Novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca muda sebagai pengingat kalau romantis itu bukan melulu dengan pacaran.

Sekian ulasan saya untuk novel Tuhan Maha Romantis. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***


  • Soal kebahagiaan, seringkali yang lebih penting bukan sedang apa atau di mana, melainkan dengan siapa. (hal. 18)
  • Kita harus selalu menjaga api optimisme tetap menyala. Harapan, yang akan membikin kita punya kemauan untuk terus bergerak. Kadang, masalahnya bukan di 'mampu atau tidak mampu', tapi 'mau atau tidak mau'. (hal. 19)
  • Dan sebaik-baik ilmu adalah yang membuat kita semakin dekat sama Allah (hal. 20)
  • Setiap perpisahan, seikhlas apa pun kita menerimanya, selalu saja menyisakan kehampaan (hal. 21)
  • Esensi dakwah adalah menjadikan kesalehan pribadi menjadi kesalehan kolektif atau kesalehan masyarakat. Oleh karena itu, yang enggak kalah penting dari menjadi hebat adalah menghebatkan sekitar kita. (hal. 28)
  • Ada dua hal yang membuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang: buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui. Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita, orang-orang terdekat kita akan membentuk karakter kita. (hal. 67)
  • Satu-satunya cara menghilangkan rasa takut adalah dengan menghadapinya (hal. 68)
  • Pemberani itu adalah orang yang takut juga sebenarnya, tapi tetap melakukannya (hal. 73)
  • Kadang kita perlu mengabaikan kalimat-kalimat negatif yang menghampiri kita, bahkan ketika teriakan itu diucapkan oleh diri kita sendiri. (hal. 74)
  • Mencintai itu, bukan cuma soal rasa suka atau ketertarikan. Bukan cuma soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan besar. (hal. 115)
  • Bukankah perjuangan dan pengorbanan adalah satu keniscayaan bila kita ingin menggapai kebahagiaan. (hal. 119)

Februari 04, 2025

Resensi Novel Janji Untuk Ayah oleh Nurunala

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Janji Untuk Ayah

Penulis: Nurunala

Editor: Trian Lesmana

Desain sampul: Sukutangan

Penerbit: Grasindo

Terbit: Agustus 2024

Tebal: iv + 188 hlm.

ISBN: 9786020531090

Tag: keluarga, pendakian



SINOPSIS

Novel Janji Untuk Ayah mengisahkan pemuda bernama Gilang Satria Bahari yang pada kepulangan rutin mingguannya dari Kota Bogor ke Leuwibatu, ia mendapatkan kabar kalau ibunya meninggal karena covid. Tidak ada tanda, tidak ada belasungkawa, tidak bisa menyolati untuk terakhir kali, jenazah ibunya dibawa mobil ambulan untuk dimakankan.

Kehilangan yang begitu mendadak itu membuat hidupnya limbung dan hampa. Tidak ada lagi alasan kenapa dia harus hidup sedangkan satu-satunya orang yang dia punya sudah tidak ada. Gilang dan ibunya pendatang di Leuwibatu dan selama ini ibunya rapat menutup soal asal muasal mereka.

Sebuah alamat di Banyuwangi menjadi petunjuk yang ditinggalkan ibunya sebelum tiada. Gilang yakin di sana ada jawaban soal siapa ayahnya dan cerita bagaimana ibunya bisa memutuskan tinggal di Bogor, berjuang membesarkan dirinya. Gilang memutuskan melakukan perjalanan dari Bogor ke Banyuwangi dengan motor Supranya. Dia tidak tahu apa yang akan ditemuinya di alamat itu tapi Gilang perlu nama kakeknya untuk disematkan di nisan ibunya.



ULASAN

Novel ini bergenre drama keluarga membahas hubungan anak dan orang tua. Dimana anak laki-laki kehilangan ibunya dan kemudian mencari ayahnya. Penulis berhasil merajut ceritanya penuh emosional. Pada beberapa bagian berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. 

Konflik utama novel ini mengenai pencarian jati diri seorang anak yang tidak tahu asal muasalnya. Sepanjang hidup dia hanya kenal sosok ibu dan tidak tahu sedikit pun tentang ayah dan keluarga besarnya. Dan pencarian alamat di Banyuwangi menjadi momen berharga Gilang belajar soal kehidupan dari rentetan kejadian yang ia alami sendiri atau pun dari cerita-cerita orang yang ia temui.

Di sini juga disinggung soal perlawanan warga Wanirejo terhadap pemimpin daerah yang akan melakukan penggusuran warga demi pertambangan. Kasus ini banyak ditemui dimana orang-orang berkuasa memberi ijin untuk proyek tambang tanpa memikirkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Warga yang diiming-imingi uang ganti rugi akan jadi korban. Uang seberapa banyaknya pun pasti akan habis. Dan ketika itu terjadi, tanah yang harusnya jadi tempat bergantung sudah raib.

Penulis membeberkan perjalanan Gilang dari Bogor ke Banyuwangi dengan penuh liku-liku. Tapi yang paling berkesan untuk saya ada dua momen. Pertama, saat dia kehilangan motor beserta perbekalan. Rasanya saya ikut terbawa nelangsa. Tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ingin membatalkan ke Banyuwangi tapi sayang sudah sejauh itu, mau balik ke Bogor pun rasanya tidak pantas. Kedua, saat Gilang melakukan pendakian ke Puncak Merbabu. Saya selalu terkesan dengan cerita-cerita pendakian. Mungkin karena itu salah satu keinginan saya yang belum terwujud hingga saat ini.

Novel ini kaya dengan pembelajaran hidup. Banyak banget nasihat-nasihat yang dituturkan penulis tanpa menggurui. Mungkin karena dibalut dalam pengalaman para tokoh yang ada di sini jadinya saya begitu legowo memahami maknanya. Nilai agama islam juga begitu terasa di sini namun penulis membawakanya dengan apik membaur pada alur cerita.

Ending cerita dieksekusi dengan bijak walaupun untuk saya pribadi itu pilihan yang berat. Tujuan dia menemukan nama kakeknya yang akan ditulis di batu nisan makam ibunya sudah jadi ujung yang cukup. Dia memilih tidak melakukan konfrontasi dengan ayahnya. Dia menerima semua jalan hidup yang disusun Tuhan. 

Perubahan sosok Gilang yang di awal perjalanan menggebu, bingung, tidak tahu bakal bagaimana jika ia bertemu ayahnya, akhirnya berubah seiring perjalanan panjang yang dia lalui. Dia belajar banyak hal dan memetik kebijaksanaan. Saya kira ini pelajaran buat siapa pun, pengalaman hidup selalu bisa mematangkan karakter seseroang.

Novel ini jadi novel ketiga yang saya baca dari penulis dan saya selalu suka dengan karyanya karena ditulis dengan diksi yang tidak bertele-tele, porsinya pas ketika harus menggali kedalaman emosi, dan sokongan drama keluarga menjadikan rasa kisahnya menghangatkan hati dan penuh keharuan.

Kekurangan novel ini hanya satu, kovernya tidak menarik. Poin ini saya ungkapkan juga di ulasan novel Seribu Wajah Ayah. Terlalu sederhana dan suram. Rasanya isi cerita yang begitu menyentuh belum terwakilkan dengan kovernya yang berwarna hijau dan menampilkan sosok Gilang yang menggendong ransel naik gunung. Mungkin jika latarnya diganti dengan pemandangan di Puncak Merbabu, novel ini bakal lebih dilirik pembaca.

Dari novel ini saya belajar soal penerimaan terhadap takdir yang sudah ditetapkan Allah SWT. Banyak hal dari hidup yang kita pertanyakan terutama bagian yang tidak menyenangkan. Kenapa saya harus lahir? Kenapa saya harus memiliki orang tua yang sekarang? Kenapa orang tua miskin? Kenapa saya harus lelah-lelah memperjuangkan hidup sedangkan yang lain bisa kelihatan senang-senang saja? Dan novel ini memberi contoh bagaimana cara menerima semua keluhan tadi dan gugatan kita atas hidup yang sedang kita jalani.

Secara keseluruhan, saya begitu menikmati kisah perjalanan Gilang yang penuh drama dan pelajaran hidup dalam novel ini. Dan bagi siapa pun yang ingin merenungkan kembali makna keluarga terutama tentang ayah dan ibu, novel ini bisa jadi rekomendasi untuk dibaca.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Janji Untuk Ayah ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Catatan:

  • Kita merasa takut bukan karena tidak bisa. Kita merasa takut karena tidak biasa (hal. 50)
  • Kalau tak bisa buat orang bahagia, paling tidak jangan sakiti hatinya (hal. 61)
  • Hidup yang damai, dimulai dengan menerima hal-hal yang enggak bisa kita ubah (hal. 77)
  • Kita punya tujuan besar, tapi kita breakdown tujuan itu jadi langkah-langkah yang lebih kecil. Langkah-langkah yang mudah dicapai (hal. 80)
  • Sesuatu bernilai tinggi bukan hanya karena bentuknya. Tetapi juga perjuangan untuk mendapatkannya (hal. 86)
  • Dalam hidup ini, seenggaknya kita harus punya tiga hal ini: kebebasan untuk memilih, keberanian untuk menggeleng, dan nyali untuk melawan (hal. 90)
  • Kita kita memang harus berjalan sendiri, tanpa punya banyak pilihan. Tapi, percayalah, tak pernah ada manusia yang benar-benar sendiri (hal. 96)
  • Hidup itu sebenarnya sederhana, yang hebat-hebat cuma tafsirannya (hal. 117)
  • Setahu saya, rasa takut tidak akan membuat kematian berhenti datang. Rasa takut justru membuatmu berhenti hidup (hal. 124)
  • Untung rugi dalam hidup, menurutku, adalah tentang seberapa optimal kita menggunakan waktu yang Tuhan kasih (hal. 130)
  • Momen ketika kita kehilangan segalanya, kadang adalah momen untuk menemukan diri sendiri (hal. 148)

Maret 24, 2024

Resensi Novel Dublin - Yuli Pritania

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Dublin

Penulis: Yuli Pritania

Editor: Cicilia Prima

Sampul: Teguh

Penerbit: PT Grasindo

Terbit: Agustus 2016, cetakan pertama

Tebal: 232 hlm.

ISBN: 9786023756520


Novel Dublin ini adalah bagian dari series A Love Story punya Penerbit Grasindo. Total series ini ada enam novel dengan memakai judul yang diambil dari nama kota. Dan saya sudah membaca dua novel lainnya sebelum ini; Roma (Pia Devina) dan San Francisco (Ziggi Z.)

Novel Dublin ini menceritakan tentang tokoh perempuan bernama Cinta Wihelmia Baratha atau Mia yang sebentar lagi bakal menikah dengan tunangannya; Aditya, sedang galau sebab skenario film yang harus dibuatnya belum juga mendapatkan ide yang jelas. Adiknya bernama Alana menyarankan Mia agar melakukan perjalanan ke Irlandia pada momen Satu Hari Berani sebagai perayaan ulang tahun, sekaligus agar Mia mendapatkan ide menarik untuk karyanya.

Tawaran yang membingungkan karena Mia ini tipikal gadis yang terencana dan introvert. Namun pada akhirnya ia tetap berangkat ke Irlandia dan akan tinggal di sebuah hotel di Dublin sesuai rekomendasi Patrick, orang tua yang ditemuinya di pesawat.

Mia tidak menyangka jika perjalanannya kali ini mempertemukannya dengan Ragga, sahabatnya di SMA yang sempat mengusik hatinya, namun mereka keburu harus berpisah. Kisah romansa mereka mulai merekah kembali selama di Dublin. Tapi Mia tahu jika hatinya harus dijaga karena ada seseorang yang menunggunya di Indonesia dengan rencana pernikahan yang sebentar lagi digelar.

***


Ide ceritanya sungguh menarik sekali. Di awal saya sudah dibikin penasaran kira-kira keputusan apa yang akan dipilih Mia menyakut tunangannya dan cinta pertamanya. Karena tentu saja posisi Mia sudah sulit, memutuskan pertunangan itu lebih berat dilakukan ketimbang memutuskan pacaran. Terlebih karena hubungan mereka sudah terikat juga dengan keluarga masing-masing, bukan lagi soal antara pasangan Mia dan Aditya saja.

Sisi romansa di novel ini memang kental sekali tetapi tidak bikin mengernyitkan dahi. Saya suka dengan kadar romansanya, hal-hal romantis yang ada di novel ini sejalan dengan usia tokoh-tokohnya. Saya lebih suka menyebutnya Romansa Kedewasaan; romansa yang enggak melulu cinta-cintaan bucin tetapi romansanya dibarengi dengan sikap tanggung jawab, melindungi, memahami, bahkan penuh pengertian.

Rasa drama yang intens bakal dirasakan pas menjelang akhir buku ketika Alana terus-terusan meyakinkan Mia soal pernikahannya. Bahkan Mamanya pun turun tangan untuk menjernihkan pikiran Mia agar tidak keliru mengambil keputusan.


"Apa semua korban yang diselamatkan harus nikah ama pahlawannya? Kalau iya, semua penduduk Gotham City harus nikah sama Batman! Setiap personel pemadam kebakaran bakal punya seenggaknya lima istri! Jangan konyol, Mbak Mia!" (hal. 211)


Dublin sebagai kota yang dijadikan setting cerita sangat tergali dengan baik. Saya seperti sedang diajak tour sepanjang jalan di kota tersebut, yang ternyata mempunyai banyak museum. Ciri mencolok lainnya dari kota Dublin adalah adanya The Spire Dublin dan banyak patung tokoh-tokoh penting. 

Di novel ini kita akan dilimpahi banyak informasi soal apa saja yang menarik di kota Dublin dan Negara Irlandia. Dan menurut saya akan lebih baik jika informasi tersebut disisipi dengan ilustrasi. Misal, melampirkan peta jalan Kota Dublin, sebab pada saat Mia dan Ragga jalan-jalan, penulis begitu ahli menarasikan setiap rutenya. Ada momen saya kebingungan saat mereka jalan-jalan antar museum, apakah antar museum itu memang sedekat itu ya makanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dan fungsi peta jalan ini untuk membantu saya atau pembaca lain membayangkan setiap lokasinya.

Akan menarik juga jika bangunan-bangunan penting tadi, seperti museum dan perpustakaan, dibuat ilustrasinya juga. Biar pembaca makin hafal dengan bangunan-bangunan ikonik tadi.

Di sini juga banyak kosakata yang menggunakan Bahasa Irlandia/Irish. Termasuk nama orang dan nama masakan khas sana. Saya sempet kaget karena pelafalannya rumit juga ya dan beda banget dengan tulisannya.

Untuk tokoh Mia digambarkan sebagai sosok introvert, orang yang terencana, enggak enakkan, dan kurang ekspresif. Secara keseluruhan bisa dibilang sosok yang tenang. Karakter dia ini sangat relate dengan saya, sama-sama pemalu, jarang mau memulai dalam berkomunikasi, dan lebih senang berada di lingkungan yang tenang dan sudah akrab. Kekurangan orang seperti Mia dan saya ini adalah gampang terjebak lingkungan/situasi zona nyaman. Untuk bisa menghadapi hal baru kami butuh ekstra keberanian. Bukan takut menghadapinya ya, tapi lebih ke kurang percaya diri bakal bisa mengendalikan situasi baru tadi.

Sedangkan tokoh Ragga sama tipenya seperti Mia. Yang berkembang dari karakter Ragga versi dewasa adalah dia bisa memutuskan lebih bijaksana seharusnya lelaki dewasa. Egonya lebih banyak diturunkan. Dia bisa memilih prioritas sesuai keadaan di depan mata. Makanya Ragga ini sempat mengesampingkan urusan hatinya dan memilih menstabilkan dulu kondisi keluarganya setelah Papanya meninggal.

Aditya sebagai tunangan Mia memerankan poin penting dalam jalan cerita. Tapi memang penulis kurang menggali lebih dalam soal latar belakangnya. Yang saya kenal dari Aditya ini adalah dia lelaki yang mencari pasangan penurut, berkebalikan dengan karakter ibunya. Dia juga lelaki yang tahu kapan harus berjuang dan tahu kapan harus merelakan. Tergambarkan jelas ketika dia berusaha mendapatkan Mia di awal pacaran, dan ketika dia harus membuat keputusan menahan atau melepaskan Mia saat dia mulai mengetahui perasaan masa lalu tunangannya.

Dari novel Dublin ini saya belajar kalau untuk urusan hati dan memilih pasangan jangan pernah didasari rasa kasihan. Apa yang akan kita jalani dengan pasangan itu bisa seumur hidup lho, masa mau pura-pura terus soal perasaan. Kata orang, rasa suka dan cinta itu bisa dipelajari sambil jalan. Dan menurut saya pesan tadi belum tentu cocok dengan semua orang. Saya tidak akan berjudi soal keberlangsungan hubungan dengan pasangan. Lebih baik dari awal kita memilih pasangan yang bisa kita sayangi dan cintai dengan baik, begitupun sebaliknya. Hati kita harus jujur soal pasangan.

Saya merekomendasikan novel Dublin karya Yuli Pritania ini karena cerita romansanya menarik dan dewasa. Dan dan latar Kota Dublinnya cukup bisa membawa kita tour ke sana.

Sekian ulasan saya kali ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Februari 21, 2024

Resensi Novel Festival Hujan - Nurunala


Judul:
Festival Hujan

Penulis: Nurunala

Editor: Trian Lesmana

Sampul: Withly

Penerbit: Grasindo

Terbit: Desember 2023

Tebal: 200 hlm.

ISBN: 9786020530482


Setelah dua tahun berpacaran, Tahta memutuskan hubungan dengan Rania tanpa penjelasan yang tuntas. Di tengah Rania meratapi nasibnya, kemunculan pemuda yang mengontrak ruko di depan rumahnya menjadi momen untuk move on

Tama, pemuda tadi, membuka Tokko Bukku dan berkatnya Rania mulai suka membaca novel. Tama juga pendengar yang baik, dan kedekatan mereka memunculkan harapan baru yang perlahan memupus kesedihan sebelumnya. Tetapi, selama ini hanya Rania yang lebih banyak bercerita, dan ia pun sadar tidak mengenal Tama sebaik yang seharusnya.

***

Nurunala menjadi nama penulis yang cukup berkesan buat saya setelah membaca novel sebelumnya berjudul Seribu Wajah Ayah. Mau tak mau ekspektasi itu melekat juga waktu saya membaca novel ini.

Novel ini memiliki tema percintaan yang membahas soal konflik patah hati dan proses move on. Ceritanya akan sangat relate dengan anak muda yang masih kuliah. Penulis menggambarkan fase-fase yang terjadi selama seminggu setelah putus. Dan kalau menilik apa yang dialami Rania, saran yang menyebutkan kalau mau melupakan mantan harus punya pacar baru, ada benarnya juga. 

Inti sebenarnya dari saran tadi adalah bagaimana cara kita mengalihkan pikiran dari mengingat mantan. Dan jalannya yaitu dengan melakukan banyak aktifitas agar kita tidak terjebak di momen melamun. Keberadaan sahabat di saat patah hati juga bisa sangat membantu proses move on. Kalau tidak ada yang memaksa untuk bangkit, orang yang patah hati akan lebih senang meratapi nasibnya di kamar dan tangan sahabat bisa berperan untuk itu.



Di sini juga kita akan mendapatkan konflik keluarga terutama soal perceraian orang tua dan apa efeknya bagi anak. Alasan yang bikin orang tua Rania pisah itu umum banget, tak lain soal ekonomi. Makanya di tengah masyarakat sudah bukan rahasia lagi kalau soal ekonomi jadi penyebab utama kenapa pasangan bisa memutuskan cerai. 

Yang kadang luput dari keputusan cerai adalah efek yang timbul bagi anak. Meski seorang anak kelihatan bisa menerima keputusan cerai orang tuanya, bukan berarti ia tidak terluka. Bahkan ketika sudah agak dewasaan, si anak akan mencari sendiri siapa yang salah hingga orang tuanya pisah. Karena itu, ketika melakukan perceraian, orang tua harus bisa menyampaikan dengan bijak alasan yang membuat mereka pisah agar si anak tidak membatin.

Pemilihan judul mengandung kata 'hujan' membuat kita akan menduga kalau kisah di novel ini bakal sendu banget. Dan saya setuju dengan dugaan itu, konflik di novel ini berpotensi menguras air mata. Tetapi, saya tidak mendapatkan rasa sedih itu seperti ketika membaca novel Seribu Wajah Ayah. Dugaan saya karena penulis memilih menggali emosi lebih banyak di konflik putus cinta dan bukan menggali emosi soal apa yang dirasakan orang tua ketika anaknya putus cinta. Inti cerita begini sudah banyak dipakai penulis lain jadi kita sudah hafal kalau alurnya ya soal berjuang agar bisa move on. Dan untuk pembaca itu bukan sesuatu yang mengesankan lagi.

Soal pandemi pun tidak digambarkan sebagai sesuatu yang mencekam padahal ini bisa jadi penambah kesenduan bagi Rania. Dan saya merasa kalau situasi pandemi ini hanya sisipan semata, bukan situasi yang bisa diolah terutama soal kesuntukan masyarakat menghadapi ketidakpastian dengan musibah.

Sedikit menyenangkan saya ketika unsur literasi dipakai pada ceritanya. Selain ada toko buku, penulis juga menyebutkan beberapa judul novel dan kata-kata bagus di dalamnya. Disayangkan karena penulis memilih novel yang sudah terkenal seperti novel Haruki Murakami, Dee dan Tere Liye, dan bagi saya yang sudah membacanya tidak cukup terkesan dengan yang ditemukan Tama dan Rania. 

Akan lebih menarik kalau penulis memilih novel yang tidak begitu terkenal tapi bisa dilihat sisi bagusnya sesuai penilaian Tama. Pasti akan membuat pembaca novel ini berburu novel yang disebutkan, sebagai pembuktian apa iya novelnya sebagus itu.

Untuk karakter di sini, saya tidak bisa memilih yang paling disukai. Tadinya saya mau memilih Rania dan Biah, tapi setelah membaca bagian mereka bertengkar gara-gara Tama, saya memutuskan tidak mau. Momen itu aneh sih, saya merasanya pertengkaran mereka terjadi dengan tiba-tiba dan diselesaikan dengan cepat pula. 

Karakter Tama pun yang awalnya baik sekali harus dihancurkan dengan kenyataan yang ia sembunyikan. Bahkan cara dia berpikir soal hubungannya dengan Rania, tak lain seperti bajingan karena tidak tegas dan tidak mau rugi.

Secara keseluruhan, novel Festival Hujan ini bisa jadi bacaan yang bagus pas hujan sedang turun. Dan mungkin bakal cukup mengaduk-aduk emosi untuk pembaca yang belum baca novel Seribu Wajah Ayah. 

Sekian ulasan saya kali ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



November 12, 2021

[EBook] Seribu Wajah Ayah - Nurun Ala

gambar diunduh dari google playbook, diedit

Judul: Seribu Wajah Ayah

Penulis: Nurun Ala

Editor: Yayi Dewintya & Indah Sipahutar

Penerbit: Grasindo

Terbit: Maret 2020

Tebal: 144 hlm.

ISBN: 9786020522678

***

Malam ini, kamu dipaksa untuk menengok ke belakang sampai lehermu pegal. Kamu dipaksa untuk berkejar-kejaran dengan waktu untuk kembali memunguti potongan masa lalu. Beragam ekspresi wajah ayahmu seketika hadir membayang: bahagia, sedih, bangga, marah, murung, kecewa, dan aneka ekspresi lain yang kamu terlalu lugu untuk mendefinisikannya. Meskipun begitu, kamu yakin betul, masih banyak wajah yang ia sembunyikan di hadapanmu. Juga, yang tak benar-benar kamu perhatikan karena kamu terlalu asyik dan sibuk dengan duniamu. Ada sesal di sana, tentang ketulusan yang kamu campakkan. Tentang rindu yang dibawa pergi. Tentang budi yang tak sempat—dan memang tak akan pernah—terbalas. Seribu wajah ayah sekalipun yang kamu kenang dan ratapi malam ini, tak ‘kan pernah mengembalikannya.

***

Novel Seribu Wajah Ayah menceritakan tentang tokoh utamanya 'Kamu', berusia 22 tahun, yang berduka mendalam karena tidak bisa berada di sisi sang ayah ketika ajal menjelang. Kamu ada di luar negeri sedang menempuh kuliah S2 sehingga baru bisa sampai rumah di hari ke-2 setelah ayah dimakamkan.

Dari penuturan Om-nya kamu tahu bagaimana merindunya sang ayah, tapi sang ayah tidak ingin mengganggu kuliahmu sehingga memilih memendamnya seorang diri. Kamu semakin sedih karena tahu sang ayah pernah tidak mendukung kepergianmu ke luar negeri.

Album foto di kamar ayah yang berisi 10 lembar foto, merekam perjalanan kamu dari kecil sampai dewasa. 10 lembar foto yang menguak segala pelajaran yang diberikan ayah kamu. Dan setelah menapaki 10 lembar foto, kamu harus memilih meratapi kesedihan yang meluluhlantakkan hatimu atau memilih melanjutkan kehidupan dengan berdamai dengan masa lalu.

Novel ini tuh ibarat air yang menyiram kembang hampir mati di pot. Dari prolognya saja saya sudah dibuat berkaca-kaca karena muncul ketakutan yang sama dengan tokoh 'kamu', takut kehilangan ayah sebelum membahagiakannya.

Kemudian berjalannya cerita, dari 10 lembar foto itu kita akan mendapatkan banyak pelajaran hidup yang dipraktikan sang ayah bersama anak laki-lakinya itu. Pelajaran hidup yang beliau berikan itu sesuai dengan masalah yang muncul seiring pertumbuhan si anak. Disampaikan dengan lembut dan hati-hati sesuai ajaran agama Islam.

Pada saat usia SD, si anak yang tidak pernah mendapatkan gambaran sosok ibunya, bereaksi kesal, takut, sedih, bingung, ketika dia mendapatkan tugas membuat puisi dengan tema ibu, dan mesti dibacakan untuk ibunya. Ekspresi si ayah ketika melihat anaknya begitu, dia cuma bisa memeluk anaknya itu dengan erat, sambil menahan luapan emosi sedih tak terkira. Akhirnya, si anak dibawa ke makam ibunya. Malam itu mereka berdua membahas dan menyelesaikan puisi tentang ibu yang akan dibacakan pada esok hari.

Pada saat SMP, si anak mulai mengenal pergaulan. Sampai pada saat kelulusan, si anak pulang larut malam dengan mengendap-endap. Ternyata si ayah memergoki dengan wajah kecewa. Si ayah marah tapi bukan yang meledak-ledak. Justru dia ajak si anak berbicara dari hati ke hati. Si ayah ingin si anak lebih bertanggung jawab dengan semua yang dilakukannya.

"Ayah dan ibu takut, enggak bisa menjaga dan mendidik titipan Allah dengan baik. Takut sekali. Karena pasti diminta pertanggungjawaban nanti. Bapak dan ibu enggak mau jadi orang tua yang durhaka. Perasaan takut itu mulai hilang waktu kamu balita, TK, SD, dan seterusnya-makin pudar. Ayah senang sekali, kamu enggak pernah melakukan yang aneh-aneh" (hal. 72)

Dan di usia SMA, dimana si anak mulai merasakan jatuh cinta, kembali si ayah memberikan nasihat sebagai bentuk kewaspadaan dia terhadap kemungkinan buruk yang banyak dilakukan remaja ketika jatuh cinta.

"Setiap orang bisa jatuh cinta, kapan saja, pada siapa saja. Tapi, kalau mencintai itu beda. mencintai itu, enggak mudah. Setidaknya, kita butuh dua hal. Kemantapan hati dan kemampuan. Ayah mulai menaksir ibumu berbulan-bulan sebelum menikah. Hati ayah sudah mantap. Tapi, waktu itu ayah merasa belum punya cukup kemampuan untuk membahagiakan ibu. Maka, ayah menyiapkan diri dulu sampai ayah mampu, baru berani mengungkapkan perasaan ayah dan keinginan ayah menikahi ibu." (hal. 84)

Konflik besarnya adalah ketika si anak dengan egois melanjutkan kuliah S2 di luar negeri padahal saat itu ayahnya menginginkan agar si anak dekat dengannya. Justru ketika debat itu si anak sampai membentak ayahnya untuk yang pertama kalinya. Bahkan si anak menyebut keinginan ayahnya sebagai sikap kekanak-kanakan. Kesedihan luar biasa dirasakan si ayah sampai sakit karena menanggung rindu selama anaknya berada jauh.

Cerita mengenai ayah-anak ini dibawakan dengan narasi sederhana tapi sangat tepat sasaran untuk dipahami pembaca. Dengan menggunakan sudut pandang orang kedua makanya muncul tokoh 'kamu' membuat ceritanya begitu dekat dengan pembaca. Alur yang dipakai dominasi alur mundur untuk kilas balik setiap perjalanan hidup yang sudah dilalui ayah-anak ini.

Membaca buku ini kita akan merasakan kemiripan dengan buku Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Sama-sama membahas soal sosok ayah dan kebaikannya. Sama-sama menggunakan benda untuk menyampaikan masa lalu dan pelajaran hidup. Kalau di novel Sabtu Bersama Bapak menggunakan rekaman video, sedangkan di novel Seribu Wajah Ayah ini menggunakan foto.

Kekurangan novel ini hanya satu, kovernya yang menurut saya terlalu biasa dan condong ke buram. Saya menilai demikian karena mengakui cerita di novel ini tuh cemerlang dan berbobot. Sayang saja kalau banyak pembaca menilai kovernya biasa sehingga bikin urung membaca ceritanya.

Dari novel ini saya belajar jika orang tua adalah prioritas utama dalam segala hal. Kita sebagai anak harus merendahkan hati ketika ada perbedaan pendapat. Melihat dari sudut pandang mereka dulu, baru menilai. Sebab, ketika kita kehilangan mereka, saat itu juga kita akan sadar sebanyak apapun yang sudah kita lakukan nggak pernah sebanding dengan cinta mereka. Saya beruntung masih memiliki ayah dan ibu, tapi saya sudah membayangkan jika mereka nggak ada nanti, saya nggak tau hidup saya akan sekacau apa. Saya pasti bakal merasa ada lubang besar di dada yang nggak akan pernah bisa ditutup oleh apapun.

Untuk novel yang menguras air mata ini saya memberikan nilai 5 bintang dari 5 bintang. Saya merekomendasikan buat semua pembaca untuk membaca buku ini sebab nilai-nilai hidup di dalamnya akan membuat kita seperti terlahir kembali.



Agustus 29, 2021

[Resensi] Sakura di Langit Osaka - Arizu Kazura



Judul: Sakura di Langit Osaka

Penulis: Arizu Kazura

Editor: Cicilia Prima

Penerbit: Grasindo

Terbit: Oktober 2017, cetakan pertama

Tebal buku: vi + 242 hlm.

ISBN: 9786024524098

***

Naya Wijaya - Pernah disakiti, hatinya dilukai, harapannya dipatahkan, hingga membuatnya sulit membuka hati dan percaya kepada laki-laki, menaruh kebencian yang mendalam kepada laki-laki pemilik mata dengan tatapan tajam- yang pantang menyerah dalam mendapatkan hatinya- itu sejak bertemu.

Nishimura Tetsuya - Pernah dikhianati, dikecewakan dan dipermalukan di depan orang banyak karena gagal menikah, hingga membuat dirinya enggan jatuh cinta dan lebih menyukai hidup sendiri, menaruh rasa kepada wanita pemilik senyum cantik ebrlesung pipi- yang ingin dimilikinya- itu ketika wajah cantiknya berada dalam frame kameranya.

Mereka bertemu di bawah langit musim semi. Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan saat sakura sedang bermekaran hingga berubah menjadi dirindukan, tiba-tiba keduanya ingin jatuh cinta lagi. Mereka ingin bahagia lagi. Tapi, mampukah keduanya saling melengkapi? Menutup luka lama dengan kebahagiaan yang sekarang dirasa? Atau malah sebaliknya, pertemuan itu adalah awal bagi hadirnya luka baru yang lebih menyiksa?

***

Saya beli novel Sakura di Langit Osaka karya Arizu Kazura saat gramedia.com bikin bazar murah dan hanya dengan harga 6.000,-. Kovernya yang didominasi warna pink, persis warna kelopak bunga sakura, terkesan 'perempuan' banget. Alasan ini yang bikin saya agak malu kalo harus membaca novel ini di luar kosan.

Kover ini juga mengecoh saya mengetahui kalo penulis Arizu Kazura ini ternyata seorang penulis laki-laki. Saya pikir penulisnya perempuan lho! Saya baru tahu kalau nama asli penulis adalah Aris Kurniawan ketika baca profil penulis di halaman paling belakang.

Novel Sakura di Langit Osaka adalah noval roman, dan membaca novel roman yang paling dicari adalah alurnya yang dirajut dengan konflik-konflik pasangan kekasih. Sebab novel roman pasti berkutat di masalah sepasang kekasih, yang ragam masalahnya banyak banget. Konflik yang saya maksud sebenarnya bisa dan sering kita temukan di novel yang lain, karya penulis lain. Gara-gara ini, penulis novel roman harus bisa mengemas ceritanya dengan lebih mengesankan pembaca sehingga akan terus diingat karyanya.

Unsur novel roman kurang lebih begini: perasaan suka, jatuh cinta, cemburu, butuh perhatian, masa lalu, komunikasi romantis, restu, pernikahan impian. Kebanyakan novel roman isinya sekitar itu. Dan yang bikin saya memilih baca novel Sakura di Langit Osaka karena berharap akan mendapatkan cerita yang punya unsur salah satunya.

Naya, si tokoh utama perempuan, akan pergi ke Osaka, Jepang, untuk urusan kerja. Usianya yang sudah 27 tahun, dikhawatirkan oleh ibunya. Terbayang, kontrak 3 tahun di Osaka, dan ketika pulang ke Indonesia usianya sudah 30 tahun, belum menikah. Tapi Naya meyakinkan Ibunya jika sudah ketemu pasangan yang tepat, dia akan segera mengakhiri masa lajangnya.

Setibanya Naya di Osaka, dia justru bertemu pria menyebalkan, Nishimura Tetsuya. Pertemuan mereka terus berlanjut ke pertemuan lainnya, dan tetap hanya bikin Naya kesal saja. Namun bergulirnya waktu, siapa sangka perasaan bisa berubah. Tetsuya mulai mengisi hari-hari Naya dengan perhatian, petikan gitar, dan perlakuan romantis. Yuri, sahabat Naya, ikut senang karena kehadiran Naya merubah banyak kebiasaan Tetsuya.

Tapi kemudian 'Dia' yang berasal dari masa lalunya muncul kembali di tengah-tengah. Mencoba merekonsiliasi hubungan yang sudah rusak, mengais kemungkinan-kemungkinan bagi mereka untuk merajut asmara seperti dulu. 'Dia' bukan hanya ada di sisi Naya, tapi ada 'Dia' juga di sisi Tetsuya.

Tanda Tanya Besar Masa Lalu dan Dia

Saya akui fungsi prolog di novel ini cukup baik, dengan menyebutkan petunjuk yang samar dan membuat pembaca bertanya-tanya, bakal sukses bikin pembaca membuka halaman novel selanjutnya. Percakapan Naya dan Ibunya di prolog halaman 4, memancing rasa penasaran saya. Disitu disinggung kejadian pilu Naya pada tujuh tahun lalu, dan disangkutpautkan dengan 'Dia', yang entah siapa.

"Apa begitu sulit untuk membukanya dan membiarkan laki-laki lain mengisi kekosongan di dalamnya? Sudah tujuh tahun lho, Nduk. Apakah selama itu juga perasaanmu masih sama kepadanya?" (hal. 4).

"Tentang aku yang tidak bisa jatuh cinta dan membuka hati untuk laki-laki lain, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan siapa pun. Termasuk dia yang Ibu pikirkan. Aku bahkan sudah lupa. Aku tidak mengingatnya. Jadi, bagaimana bisa seseorang yang sudah tidak ada di pikiranku menghalangiku untuk jatuh cinta lagi?" (hal. 4).

Isue yang Masih Eksis

Dalam novel ini diangkat isu-isu yang eksis di kehidupan sehari-hari, dan masih menjadi bahan diskusi yang panjang. Misalnya soal usia ideal perempuan untuk menikah, dan soal adanya pandangan kemapanan seorang laki-laki sebagai kriteria pasangan membahagiakan. Dua isu ini tidak begitu banyak disinggung, tapi lumayan membekas ketika kita membaca bagian itu.

Untuk isu usia ideal menikah lumayan menohok karena pandangan ini disampaikan dari sisi seorang ibu. Kita sebagai anak tidak bisa mengatur perasaan ibu terkait sudut pandangnya. Tapi kita harus tahu perasaan ibu yang prihatin jika pada usia kita yang cukup untuk menikah, kita belum juga memijak fase itu. Dan langkah tepat untuk meluruskan perbedaan pendapat ini ya dengan komunikasi yang baik dan santun. Seorang ibu pada akhirnya akan memahami kondisi kita, karena dalih mereka menyinggung usia ideal menikah hanya untuk mengingatkan anaknya.

Sedangkan pembahasan soal kemapanan sebagai pilihan pasangan tepat, hanya disampaikan sepintas oleh Yuri ketika memberikan saran kepada Naya untuk tidak membuang kesempatan memiliki Tetsuya. Apalagi keseluruahn tokoh di novel ini digambarkan memiliki kondisi ekonomi tengah dan atas. Sehingga saya tidak menemukan pembanding apa resikonya memiliki pasangan biasa dan pasangan mapan.

Rasa Novel Karya Ilana Tan

Dari segi penceritaan dan penokohan, saya merasakan rasa novel ini tuh mirip novel karya Ilana Tan. Saya memang baru membaca satu judul karya Ilana Tan yang Autum in Paris, namun saya bisa menyebutkan apa saja kemiripan antara novel ini dengan novel Ilana Tan.

Pertama, latar kisah sama-sama di luar negeri. Dan setau saya ada juga karya Ilana Tan yang latarnya di Jepang, yakni novel Winter in Tokyo. Musim pada akhirnya memiliki peran penting untuk membangun hubungan romantis antar tokoh-tokohnya. Jika pada Winter in Tokyo memakai musim salju, di novel ini memakai musim semi dan gugur, pada saat bunga sakura berkembang indah sampai pada saat bergugurannya.

Kedua, tokoh-tokoh yang dikarang penulis merupakan orang-orang dewasa yang latar belakangnya bukan ekonomi bawah sekali. Profesi atau latar pribadi mereka cukup baik sehingga ekonomi bukan jadi unsur cerita yang fital yang membangun alurnya. Di novel ini disebutkan profesi kantor konstruksi. Kita pasti tahu kemakmuran orang-orang yang bekerja di perusahaan konstruksi, apalagi jika perusahaan tersebut sampai menangani proyek luar negeri.

Ketiga, tema 'benci jadi cinta' menjadi benang merah yang masih dipakai kedua penulis untuk merajut kisah romantisnya. Ciri paling mencolok, pada awal kisah akan dimulai dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Semakin ke belakang, kedua tokoh makin menguat memiliki perasaan suka, perasaan kagum, perasaan ketergantungan satu sama lain, dan berujung 'aku suka kamu, kamu suka aku'.

Keempat, diksi yang formal sekali. Apalagi jika sudah menggunakan kata 'aku, kau, kamu'. Ditambah tidak ada penggunaan kata-kata gaul, akan membuat novel terasa lancar alurnya tapi kaku. Kalimat-kalimat percakapan di novel ini pun lebih ke percakapan tulisan, bukan lisan, sebab komposisi kalimat dan penggunaan kosa katanya begitu formal.

"Bagaimana? Apa kau yakin kau sudah melupakanku sepenuhnya?" (hal. 178)

Kelima, kover novel ini mirip dengan kover novel Winter in Tokyo. Saya sampai menyandingkan kover keduanya, dan setuju jika mirip sekali.




Apa Kesan Setelah Membaca Novel Sakura di Langit Osaka?

Seru. Pasangan yang awalnya tidak saling suka, seiring berjalannya waktu, mereka jadi saling cinta. Di novel ini proses perubahan perasaan Naya dan Tetsuya dijabarkan pelan-pelan, tidak tergesa-gesa, sehingga pembaca tidak dibuat kaget dengan perubahan yang tiba-tiba.

Kurang puas karena ada bagian-bagian tertentu yang mau tidak mau harus disingkat sedemikian rupa agar novel harus segera diakhiri. Misalnya, kepulangan Naya ke Indonesia, dan masa penyembuhan Tetsuya pasca mengalami kecelakaan di lokasi proyek.

Memilih kontrak 3 tahun di Osaka, Jepang, jelas menjadi tantangan penulis mengemas kisah tokoh-tokohnya, karena penulis harus bisa memangkas waktu, memberikan dinamika konflik, bahkan harus memetakan kapan dimulai, kapan memuncak, dan kapan kisah harus diselesaikan. 

Tetapi untuk novel Sakura di Langit Osaka ini menurut saya sudah cukup baik dieksekusi penulis. Dan kalo harus memberi nilai, saya beri 3 bintang dari 5 bintang.

Karena novel ini sebuah sekuel, saya makin penasaran dengan novel sebelumnya, Sekelopak Bunga Sakura. 

Sekian ulasan saya untuk novel Sakura di Langit Osaka, terakhir, jaga kesehatan dan selamat membaca buku!

Agustus 20, 2020

Unboxing: Novel 5CM. Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang - Donny Dhirgantoro


Na, na, na, na, na...

Bacanya pakai senandung, terserah kalian yo!

Jadi, salah satu buku yang pernah bikin saya nangis adalah novel 5cm, yang ditulis Donny Dhirgantoro. Adegannya, pas di Gunung Mahameru ketika ada salah satu dari lima yang mengalami cedera. Itu beneran meresap ke jantung sampai saya nangis dan berhasrat pengen naik gunung. Apalah daya, keinginan nggak semua langsung dikabulkan. Sampai sekarang belum juga terwujud pengen naik gunung. Semoga aja bisa terwujud sebelum saya mati kelak.

Lalu, ketika ada kabar PO untuk buku sekuelnya, yang dikasih judul 5CM. Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang, saya memaksakan merogoh kantong untuk ikutan beli.

Harga asli bukunya Rp.115.000, sedangkan di program PO Gramedia ini ada diskon 20% jadi Rp.92.000,-. Lumayan banget bukan?!

Nah, ini juga jadi pengalaman pertama saya membeli buku PO di Gramedia pakai WA. Jadi kalau kita mau ongkirnya kecil atau tanpa ongkir, bisa banget pesannya lewat WA Gramedia yang tokonya terdekat dengan rumah kita.

Kalau nggak salah ada di akun twitter Gramedia yang memberikan link nomor WA Gramedia. Siapa tahu Gramedia di kota kalian sudah termasuk yang menyediakan layanan ini.

Untuk PO buku sekuel 5CM ini, saya baru dapat kabar pas tanggal 17 Agustus kemarin, kalau bukunya sudah siap di toko buku. Dan saya sendiri baru bisa ambil bukunya di tanggal 18 Agustus sepulang kerja.

Sekarang... buku sudah di tangan dan sudah dibaca juga beberapa halaman.

Terima kasih Gramedia Cipto Cirebon atas responsif-nya. Pelayanannya sangat membantu mengurangi ongkir, hehehe.

September 27, 2018

[Resensi] Friendzone: Lempar Kode, Sembunyi Hati - Alnira


Judul: Friendzone: Lempar Kode, Sembunyi Hati
Penulis: Alnira
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Desain sampul: Aqsho Zulhida
Penerbit: Grasindo
Terbit: April 2018
Tebal buku: 310 halaman
ISBN: 9786024528423
Nilai: 4/5

Ini kali pertama saya membaca karya dari seorang Alnira yang menurut data profilnya sudah menerbitkan delapan judul novel, termasuk yang ini. Penulis baru (atau bukan baru-baru banget) yang produktif sekali ternyata.

Lagi, saya membaca novel roman yang tema utamanya friendzone. Permasalahan temanya seputar kebimbangan merubah status teman ke pacar. Tokoh utamanya Dira dan Ransi. Mereka bagian dari sekumpulan pertemanan sejak SMA: Angga, Maya, Wisnu, Okta. Dira sadar kalau dia suka Ransi yang suka ngasih kode romantis. Sayangnya si Ransi nggak pernah terus terang dan hanya main kode-kodean. Pernah Dira iseng menegaskan maksud Ransi, eh malah dikatain kegeeran. Berikutnya dia malas bahas kepastian. Dan si Ransi masih nggak berubah. Dalam permasalahan roman ini Dira yang lebih banyak makan hati.

Subkonflik lainnya, Maya suka Angga, tapi Angga jadiannya sama Okta. Wisnu suka Maya, Mayanya pacaran sama yang lain. Subkonflik yang cukup ampuh mempermanis konflik utamanya biar nggak jadi membosankan. Eh, tapi membaca konflik utamanya aja nggak bakal bosan. Jaminan. Malah seru.

Berikut catatan yang saya bikin setelah membaca tuntas bukunya: 
  1. Saya ngiri sama pertemanan mereka yang solid. Walau setelah mereka beranjak dewasa, mereka masih menyempatkan diri berkabar dan berkumpul untuk update keadaan terbaru. Ah, pokoknya beda banget sama saya dan sahabat-sahabat SMA yang kemudian sibuk dengan dunia masing-masing.
  2. Saya mendapatkan pelajaran penting tentang cara memperhatikan perempuan hingga apa saja yang mesti dipersiapkan untuk menghalalkannya. Dewasa banget pesan moralnya.
  3. Banyak prinsip hidup dari masing-masing tokoh yang bisa dipetik. Cukup untuk menjadi pengingat dalam hal kebaikan.

Pengen banyak berkomentar tapi mendadak kaku. Jadi, saya sudahi saja dulu. Semoga saya punya kesempatan membaca buku karya Alnira lainnya.

Maret 11, 2018

[Resensi] Warm Heart - Ullianne


Judul: Warm Heart
Penulis: Ullianne
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Penerbit: Grasindo
Terbit: Februari 2018
Tebal buku: 150 halaman
ISBN: 9786024529055
Harga: Rp49.000 (via bukabuku.com)
Nilai: 2/5

Jangan pernah membenci saya jika saya mengulas novel kalian dengan terus terang. Saya pembaca saja, dan saya bisa menilai suka atau tidak suka terhadap bacaan saya, dengan mempertimbangkan beberapa standar pribadi. Dan jangan sekali-sekali membalik kritikan saya dengan ungkapan, "Kalo gitu, silakan tulis sendiri kisah yang bagus menurutmu!!!".

Tidak butuh waktu lama buat saya untuk bisa menuntaskan membaca novel kedua dari Ulianne ini. Novel pertamanya justru saya belum baca. Dan begitu selesai baca, saya tahu saya akan menuliskan banyak hal yang tak bagus tentang novel ini.

Saya tahu ini novel percintaan dan saya mengakui kalau kadar romannya sangat kental. Berkisah tentang gadis bernama Clara yang pulang ke Indonesia setelah menetap selama lima tahun di Singapura, dalam rangka menjauh dari laki-laki yang sudah menorehkan luka. Laki-laki itu bernama Andre, dia adalah sahabat dekatnya Clara. Ada satu kejadian penting yang terjadi antara Clara dan Andre hingga keduanya menjauh dengan memendam amarah dan tekad untuk saling melupakan. Lima tahun yang berlalu ternyata tidak membuat amarah dan tekad itu terlaksana. Keduanya justru dirundung pilu atas usaha-usaha melupakan yang justru makin memperbesar rasa rindu. Pertemuan itu kembali terjadi dan keduanya mati-matian menghindar tapi proyek kerjaan membuat mereka harus terus bersinggungan.

Konflik percintaan yang dibahas penulis terlalu diperpanjang. Lagi-lagi-lagi-lagi penulis membahas masa lalu di lima tahun kemarin, tanpa menerangkan apa yang terjadi. Saya menunggu dan penasaran dengan kejadian tersebut, dan ketika hampir mencapai akhir buku, saya harus mengelus dada. Tidak ada perpisahan yang diakibatkan oleh peristiwa besar. Jadi, mereka saling benci dan menahan amarah hanya karena takut melangkah ke babak lain dan mereka tidak berani terus terang? Sedangkan seakan-akan masalahnya lebih besar daripada itu jika dilihat bagaimana penulis mau membuka twist-nya di akhir. Saya super kecewa.

Noktah hitam muncul dari segi typo. Banyak saya temukan kata-kata yang kurang hurup atau salah hurup. Bikin gemas saja. Bukan apa-apa, Grasindo itu penerbit besar yang sudah tentu punya tim hebat dan jeli untuk sekadar memeriksa aksara. Saya malah berkesimpulan, mengejar targetkah hingga masalah typo saja bisa kelolosan. Jangan bilang, "Kan kami juga manusia biasa." Ergggggh.

Lalu, apa sih pelajaran yang bisa dipetik dari novel Warm Heart ini? Terus terang sajalah. Yap, jangan suka memendam apa yang pengen diutarakan. Jangan kebanyakan mikir nanti bagaimana. Sebab, kalau sudah terlanjur makin rumit masalahnya, kita harus memulai dari nol dan beradaptasi dengan perubahan yang terlanjur sudah dimulai. Clara dan Andre memang terlalu membiarkan masalah berkembang makin besar tanpa tahu dengan jelas masalah sebenarnya. Mereka berdua hanya mengandalkan kesimpulan pribadi saja. Dan lihat hasilnya, mereka dibelenggu masalah yang bias dan ketika takdir mendorong mereka untuk menuntaskan masalah itu, mereka harus ekstra berupaya menolerir keadaan yang sudah kaku. Betapa tidak menyenangkannya berada di kondisi demikian.

Yang jelas, novel ini juga terlalu terburu-buru. Saya bahkan sulit menentukan apa yang berkesan dari novel ini, bukan karena banyak pilihan, melainkan karena saya tidak menemukan dimana. Biar demikian, saya apresiasi karena penulis sukses menyelesaikan kedua novel hingga dipinang penerbit. Semoga sedikit ulasan ini bisa memberikan pelajaran agar di karya selanjutnya menjadi lebih baik.

Januari 05, 2017

[Buku] Hari Tak Selamanya Malam, Suryawan W. P.

Judul: Hari Tak Selamanya Malam
Penulis: Suryawan W. P.
Editor: Septi Ws
Desainer sampul: Teguh
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: PT Grasindo
Tebit: Juli 2016, cetakan pertama
Tebal buku: xi + 242 halaman
ISBN: 9786023755943
Harga: Rp 65.000 

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan prilaku sehingga penderita kesulitan membedakan kenyataan dan pikiran sendiri. Belum diketahui penyebab skizofrenia secara pasti. Diduga terbentuk kombinasi faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.

Cuplikan pengetahuan mengenai Skizofrenia di atas berkaitan erat dengan isi novel Hari Tak Selamanya Malam. Kalyana sudah pacaran dengan Radite selama 2 tahun. Radite tetap menyadari ada dunia Kalyana yang tidak bisa ditembus. Kalyana tidak pernah terbuka soal ia memiliki kakak, Kartina, yang sakit jiwa atau gila. Kalyana takut Radite tidak terima dengan kenyataan itu dan akan meninggalkannya.

Tuhan, mengapa aku harus dilahirkan sebagai adik dari perempuan gila? Kenapa harus ada Kartina dalam hidupku? Seandainya saja aku bukan adik dari seorang Kartina. [hal. 38]

Lalu pada suatu hari ia memaksakan diri pulang ke Semarang sesuai permintaan ayahnya. Pulang yang tidak menyenangkan sebab di rumah itu terlalu banyak kenangan buruk menjadi adik dari kakak yang gila. Kalyana mengalami banyak hinaan dari teman-temannya sejak kecil, Kalyana juga direpotkan mengurusi kebutuhan kakaknya. Ia kerap menginginkan Kartina untuk mati saja. Alasan itu yang membuat ia menunda-nunda untuk pulang.

Pada kepulangan itu, ayahnya mengungkapkan kejujuran yang selama ini ditutupi. Sejak itulah kehidupan Kalyana bertambah suram.

Dari garis besar ceritanya di atas, sudah bisa dirasakan novel ini bernuansa kelam. Penulis mengaduk-aduk perasaan pembaca melalui kisah Kalyana yang menurut saya karakternya sudah rusak. Akhirnya ketika selesai membaca buku ini, jika ingat nama Kalyana, yang terlintas adalah kesedihan gara-gara punya kakak yang gila. Begitu melekat citra itu.

Bisa dikatakan novel ini lebih banyak bermain pada permainan psikologis.  Psikologis Kalyana jelas sangat suram. Kemudian ada psikologis orang tua Kalyana yang kok tega membiarkan Kalyana ikut mengurusi Kartina. Ini jadi pertanyaan. Kemudian ada psikologis Radite sebagai kekasih Kalyana yang terus merasakan dan bertanya-tanya  tentang sesuatu yang disembunyikan Kalyana itu apa. Cerita makin luas dan muncul karakter baru seperti dokter Saka dan Delano. Hadir juga psikologis dokter Saka yang merasa aneh untuk kehadiran Kalyana yang tiba-tiba, setelah 5 tahun Kartina dirawat di rumah sakit jiwa. Ada juga psikologis Delano, pasien rumah sakit jiwa yang bersinggungan dengan kehadiran Kalyana.

Selain konflik keluarga, muncul efek lainnya yaitu konflik asmara. Kalyana terus-terusan ragu untuk mengatakan kejujuran soal Kartina yang gila. Ia sadar betul keluarga Radite bakal susah menerima kondisinya. Dan kehadiran dokter Saka dan Delano, cerita asmara di novel ini makin seru. Menariknya, cerita asmara Kalyana itu mengalami tarik ulur. Satu waktu Radite meninggalkannya, lain waktu datang lagi ingin memperjuangkan, lain waktu lagi giliran Kalyana yang ragu setelah ditelepon mamanya Radite, dan terus saja ada kejutan-kejutan lain. Untuk menebak siapayang dipilih Kalyana, lebih baik segera baca bukunya.

Saya juga sependapat dengan yang diungkapkan Guntur Alam jika Suryawan berhasil menghidupkan sosok Kalyana menjadi manusiawi. Kadang dia marah, kadang dia senang, kadang dia geram, kadang dia pesimis, semua yang diceritakan tepat dengan keadaan Kalyana yang berubah-ubah.

Ada yang justru lebih menarik disoroti pada novel ini ialah latar tempat. Penulis memberikan rasa lokal yang kental untuk menjadi panggung cerita. Beberapa lokasi menarik dibawa ke cerita dan itu sukses membuat saya ingin piknik ke sana. Misalnya Curug Silawe dan Pantai Goa Cemara.


Selain itu novel ini juga membahas sejarah beberapa tempat. Misalnya, pendirian Mercusuar Anyer dan asal mula kata Magelang. Sehingga novel ini jadi informatif.


Novel Hari Tak Selamanya Malam diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama - ‘Aku’. Pilihan yang menjadikan pembaca disulap menjadi sosok Kalyana. Dan bersiaplah untuk ikut merasakan kesuraman, rasa marah, rasa senang dan jenis rasa lainnya. Saya hanya menyarankan untuk segera mencari hal menyenangkan setelah selesai membaca novel ini. Nuansa muramnya lekat diingat.

Kemudian untuk karakter yang paling menonjol tentu saja Kalyana. Gadis 24 tahun yang rusak hatinya dan psikologisnya oleh masa lalu. Dan itu membentuk Kalyana jadi sosok yang suka berubah-ubah sifatnya. Bisa gampang sensitif, bisa gampang menangis, bisa jadi konyol ketika senang. Baik Radite dan dokter Saka, mereka pria yang baik. Radite yang sempat meninggalkan Kalyana bukan karena ia pecundang. Dia hanya kaget dengan kejujuran Kalyana. Sedangkan dokter Saka itu pria yang lembut, pembawaannya bijak dan mengayomi. Penulis juga membuka bagian alasan kenapa Saka bisa menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit jiwa. Berkaitan juga dengan masa lalu lho.

Menyelesaikan membaca novel Hari Tak Selamanya Malam, saya mendapatkan banyak pelajaran. Pertama, pentingnya memaafkan sepahit-pahitnya masa lalu untuk bisa bahagia di masa depan. Kalyana menjadi contoh manusia yang pilu dan menyedihkan akibat menyangkal dan menghindari masa lalu. Kedua, jangan pernah berprasangka terhadap sesuatu yang belum terjadi. Kalyana tidak pernah berani mengambl langkah pertama untuk memeluk masa lalu. Namun saat ia bisa melakukannya, bayangan buruk yang ada di benaknya tidak pernah terjadi.


Pelajaran ketiga, tidak ada kebohongan yang bisa menyelsaikan masalah. Hubungan Kalyana dan Radite menjadi cermin pertaruhan dengan dasar kebohongan itu. Keempat, ibu tetaplah seorang ibu, seburuk apa pun beliau. Adegan mengharukan ketika Kalyana untuk pertama kalinya melihat ibunya dengan tatapan dan perasaan berbeda. Rasa yang ditimbulkan ternyata sangat dasyat.

Selain typo yang saya tulis di bawah, cara penulis berpindah-pindah antara masa kini dan masa lalu terlalu samar. Sehingga saya merasa pada beberapa bagian sering tersendat membaca untuk memastikan si Aku ini sedang bercerita masa kini atau masa lalu. Lebih elok jika memang ada pemisahan saja, entah dengan tiga bintang (***) atau pindah bab untuk memisahkan masa lalu dan masa kini.

Jadi, kalau kamu ingin membaca novel yang berat konfliknya dan suram, Hari Tak Selamanya Malam saya sodorkan. Dan novel ini juga pas untuk kamu yang mau tau dunia di sekitar keberadaan orang gila. Karena kadang kita luput memahami ada orang-orang waras di sekitar orang gila yang punya kisahnya sendiri-sendiri.

Rating Hari Tak Selamanya Malam dari saya: 3,5/5


Catatan:
Terkadang pertanyaan itu hanya perlu untuk dijawab sekenanya karena seseorang tidak begitu peduli dengan isi jawabannya. [hal. 7]
Bagaimana mungkin aku bisa membuat pacarku nyaman kalau aku tidak nyaman dengan diriku sendiri? Bagaimana mungkin aku bisa membuat pacarku bahagia kalau aku tidak bahagia dengan keadaanku sendiri? [hal. 11]
Ada hal-hal yang sebenarnya lebih menyenangkan untuk dikerjakan atau dibagi bersama seseorang. [hal. 11]
Sayangnya waktu sering menjadi terasa singkat saat kita dalam keadaan bahagia, dan berjalan amat lambat saat hati sedang nelangsa. [hal. 45]
Terkadang seseorang perlu waktu bukan untuk memantapkan diri agar tetap tinggal, tapi meyakinkan diri untuk benar-benar pergi. [hal. 156]
Kita lebih sering iba melhat kucing atau anjing yang kelaparan di jalan daripada melihat orang gila yang jelas-jelas manusia sama seperti kita. [hal. 216]

Typo
Terlau = terlalu [hal. 77]
Memberlambat = memperlambat [hal. 116]
Radite tampak tralis dengan keadaan ini = saya bingung maksudnya apa [hal. 154]
Saah = salah [hal. 222]

*******
[Oya, resensi ini belum mencakup cerita setengah bukunya. Sebab ada poin penting yang saya sama sekali tidak sentuh karena akan jadi spolier. Dijamin bikin kalian geleng-geleng kepala tidak percaya. Kalian temukan sendiri di bukunya ya]

gambar Curug Silawe : https://tempatwisataindonesia.id/curug-silawe/
gambar Mercusuar Anyer: http://jelajahin.com/tempat-wisata-di-anyer/