Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Februari 04, 2025

Review Novel Janji Untuk Ayah - Nurunala

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Janji Untuk Ayah

Penulis: Nurunala

Editor: Trian Lesmana

Desain sampul: Sukutangan

Penerbit: Grasindo

Terbit: Agustus 2024

Tebal: iv + 188 hlm.

ISBN: 9786020531090

Tag: keluarga, pendakian



SINOPSIS

Novel Janji Untuk Ayah mengisahkan pemuda bernama Gilang Satria Bahari yang pada kepulangan rutin mingguannya dari Kota Bogor ke Leuwibatu, ia mendapatkan kabar kalau ibunya meninggal karena covid. Tidak ada tanda, tidak ada belasungkawa, tidak bisa menyolati untuk terakhir kali, jenazah ibunya dibawa mobil ambulan untuk dimakankan.

Kehilangan yang begitu mendadak itu membuat hidupnya limbung dan hampa. Tidak ada lagi alasan kenapa dia harus hidup sedangkan satu-satunya orang yang dia punya sudah tidak ada. Gilang dan ibunya pendatang di Leuwibatu dan selama ini ibunya rapat menutup soal asal muasal mereka.

Sebuah alamat di Banyuwangi menjadi petunjuk yang ditinggalkan ibunya sebelum tiada. Gilang yakin di sana ada jawaban soal siapa ayahnya dan cerita bagaimana ibunya bisa memutuskan tinggal di Bogor, berjuang membesarkan dirinya. Gilang memutuskan melakukan perjalanan dari Bogor ke Banyuwangi dengan motor Supranya. Dia tidak tahu apa yang akan ditemuinya di alamat itu tapi Gilang perlu nama kakeknya untuk disematkan di nisan ibunya.



ULASAN

Novel ini bergenre drama keluarga membahas hubungan anak dan orang tua. Dimana anak laki-laki kehilangan ibunya dan kemudian mencari ayahnya. Penulis berhasil merajut ceritanya penuh emosional. Pada beberapa bagian berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. 

Konflik utama novel ini mengenai pencarian jati diri seorang anak yang tidak tahu asal muasalnya. Sepanjang hidup dia hanya kenal sosok ibu dan tidak tahu sedikit pun tentang ayah dan keluarga besarnya. Dan pencarian alamat di Banyuwangi menjadi momen berharga Gilang belajar soal kehidupan dari rentetan kejadian yang ia alami sendiri atau pun dari cerita-cerita orang yang ia temui.

Di sini juga disinggung soal perlawanan warga Wanirejo terhadap pemimpin daerah yang akan melakukan penggusuran warga demi pertambangan. Kasus ini banyak ditemui dimana orang-orang berkuasa memberi ijin untuk proyek tambang tanpa memikirkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Warga yang diiming-imingi uang ganti rugi akan jadi korban. Uang seberapa banyaknya pun pasti akan habis. Dan ketika itu terjadi, tanah yang harusnya jadi tempat bergantung sudah raib.

Penulis membeberkan perjalanan Gilang dari Bogor ke Banyuwangi dengan penuh liku-liku. Tapi yang paling berkesan untuk saya ada dua momen. Pertama, saat dia kehilangan motor beserta perbekalan. Rasanya saya ikut terbawa nelangsa. Tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ingin membatalkan ke Banyuwangi tapi sayang sudah sejauh itu, mau balik ke Bogor pun rasanya tidak pantas. Kedua, saat Gilang melakukan pendakian ke Puncak Merbabu. Saya selalu terkesan dengan cerita-cerita pendakian. Mungkin karena itu salah satu keinginan saya yang belum terwujud hingga saat ini.

Novel ini kaya dengan pembelajaran hidup. Banyak banget nasihat-nasihat yang dituturkan penulis tanpa menggurui. Mungkin karena dibalut dalam pengalaman para tokoh yang ada di sini jadinya saya begitu legowo memahami maknanya. Nilai agama islam juga begitu terasa di sini namun penulis membawakanya dengan apik membaur pada alur cerita.

Ending cerita dieksekusi dengan bijak walaupun untuk saya pribadi itu pilihan yang berat. Tujuan dia menemukan nama kakeknya yang akan ditulis di batu nisan makam ibunya sudah jadi ujung yang cukup. Dia memilih tidak melakukan konfrontasi dengan ayahnya. Dia menerima semua jalan hidup yang disusun Tuhan. 

Perubahan sosok Gilang yang di awal perjalanan menggebu, bingung, tidak tahu bakal bagaimana jika ia bertemu ayahnya, akhirnya berubah seiring perjalanan panjang yang dia lalui. Dia belajar banyak hal dan memetik kebijaksanaan. Saya kira ini pelajaran buat siapa pun, pengalaman hidup selalu bisa mematangkan karakter seseroang.

Novel ini jadi novel ketiga yang saya baca dari penulis dan saya selalu suka dengan karyanya karena ditulis dengan diksi yang tidak bertele-tele, porsinya pas ketika harus menggali kedalaman emosi, dan sokongan drama keluarga menjadikan rasa kisahnya menghangatkan hati dan penuh keharuan.

Kekurangan novel ini hanya satu, kovernya tidak menarik. Poin ini saya ungkapkan juga di ulasan novel Seribu Wajah Ayah. Terlalu sederhana dan suram. Rasanya isi cerita yang begitu menyentuh belum terwakilkan dengan kovernya yang berwarna hijau dan menampilkan sosok Gilang yang menggendong ransel naik gunung. Mungkin jika latarnya diganti dengan pemandangan di Puncak Merbabu, novel ini bakal lebih dilirik pembaca.

Dari novel ini saya belajar soal penerimaan terhadap takdir yang sudah ditetapkan Allah SWT. Banyak hal dari hidup yang kita pertanyakan terutama bagian yang tidak menyenangkan. Kenapa saya harus lahir? Kenapa saya harus memiliki orang tua yang sekarang? Kenapa orang tua miskin? Kenapa saya harus lelah-lelah memperjuangkan hidup sedangkan yang lain bisa kelihatan senang-senang saja? Dan novel ini memberi contoh bagaimana cara menerima semua keluhan tadi dan gugatan kita atas hidup yang sedang kita jalani.

Secara keseluruhan, saya begitu menikmati kisah perjalanan Gilang yang penuh drama dan pelajaran hidup dalam novel ini. Dan bagi siapa pun yang ingin merenungkan kembali makna keluarga terutama tentang ayah dan ibu, novel ini bisa jadi rekomendasi untuk dibaca.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Janji Untuk Ayah ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Catatan:

  • Kita merasa takut bukan karena tidak bisa. Kita merasa takut karena tidak biasa (hal. 50)
  • Kalau tak bisa buat orang bahagia, paling tidak jangan sakiti hatinya (hal. 61)
  • Hidup yang damai, dimulai dengan menerima hal-hal yang enggak bisa kita ubah (hal. 77)
  • Kita punya tujuan besar, tapi kita breakdown tujuan itu jadi langkah-langkah yang lebih kecil. Langkah-langkah yang mudah dicapai (hal. 80)
  • Sesuatu bernilai tinggi bukan hanya karena bentuknya. Tetapi juga perjuangan untuk mendapatkannya (hal. 86)
  • Dalam hidup ini, seenggaknya kita harus punya tiga hal ini: kebebasan untuk memilih, keberanian untuk menggeleng, dan nyali untuk melawan (hal. 90)
  • Kita kita memang harus berjalan sendiri, tanpa punya banyak pilihan. Tapi, percayalah, tak pernah ada manusia yang benar-benar sendiri (hal. 96)
  • Hidup itu sebenarnya sederhana, yang hebat-hebat cuma tafsirannya (hal. 117)
  • Setahu saya, rasa takut tidak akan membuat kematian berhenti datang. Rasa takut justru membuatmu berhenti hidup (hal. 124)
  • Untung rugi dalam hidup, menurutku, adalah tentang seberapa optimal kita menggunakan waktu yang Tuhan kasih (hal. 130)
  • Momen ketika kita kehilangan segalanya, kadang adalah momen untuk menemukan diri sendiri (hal. 148)

Desember 24, 2024

Review Novel Home Sweet Loan - Almira Bastari




Judul:
Home Sweet Loan

Penulis: Almira Bastari

Desain sampul: Orkha Creative

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Februari 2022, cetakan kedua

Tebal: 312 hlm.

ISBN: 9786020658049

Tag: novel, generasi sendwich, keluarga, drama, persahabatan, romansa, metropop




Sejak novel ini banyak dibicarakan orang-orang karena difilmkan, saya pun jadi tertarik untuk segera baca. Niat saya cuma satu, pengen tahu bagaimana perjuangan Kaluna membeli rumah saat gajinya enggak seberapa. Kayaknya bakal relate banget dengan kasus saya sendiri, umur sudah enggak muda, gaji enggak gede-gede banget, tapi pengen punya rumah. Akhirnya saya langsung beli novelnya dan langsung disikat baca.

Novel ini menghadirkan empat tokoh yang sahabatan dan sekerjaan; Kaluna, Miya, Thanis, dan Danan. Walau banyak tokohnya, sudut pandang diambil dari Kaluna saja. Garis besar kisahnya soal jatuh bangun keempatnya mencari rumah impian

Kaluna sebagai tokoh utama punya masalah berat banget. Umur sudah kepala tiga, punya pacar dari keluarga berada tapi dia yang dari keluarga biasa akhirnya punya gap dengan keluarga besar, dan dia tinggal di rumah orang tua bareng dengan dua keluarga kakaknya yang masing-masing sudah punya anak satu; Kak Kamala dan Kak Kanendra.

Masalah domestik ini yang bikin saya bersimpati. Balik kerja sudah capek, datang ke rumah melihat kondisi rumah yang berantakan. Belum lagi ketemu hal sepele yang harusnya dingertiin kedua kakaknya tapi mereka cuek. Misalnya, alat makan kotor yang harusnya sudah dicuci tapi masih numpuk di dapur atau ember di kamar mandi yang dipakai tanpa dibalikin siap pakai. Belum lagi kamarnya harus digusur ke kamar pembantu demi dijadikan kamar buat keponakannya. Perihal lemari bekas yang rencananya mau dijual malah diambil kakak iparnya. Kaluna pun mung bisa sabar menahan nyeri di hati.

Ditambah punya ibu yang apa-apa selalu menyuruhnya mengerti kebutuhan kakaknya yang sudah menikah. Sumpah, siapa pun yang jadi Kaluna pasti makan hati tiap hari. Ini yang bikin Kaluna mati-matian hidup sederhana demi bisa menabung buat beli rumah agar bisa segera kabur. Ia sudah sangat sumpek dan muak dengan situasi dan kondisi di rumah.

Sementara ketiga temannya punya masalah yang memang tidak digali mendalam kecuali bagian mereka yang ikut berjuang mencari rumah impian. Thanis masalahnya dengan mertua yang ikut campur keluarga kecilnya. Miya yang punya impian jadi orang terkenal dan manajemen uangnya tidak terkontrol. Dan Danan sebagai pria, hanya berkutat mau mencari pasangan yang bisa membawanya ke kehidupan yang lebih baik.

Konflik gedenya muncul saat Kak Kanendra ceroboh memaksakan diri beli tanah yang ternyata sertifikatnya ganda. Uangnya dari pinjaman Bapak dan pinjaman online. Kaluna mau tidak mau harus terlibat untuk menyelesaikan masalah ini. Ini yang bikin dia merasa sudah capek lahir batin. Dia kerja sudah bertahun-tahun, nabung buat beli rumah sampai hidup hemat, tapi ujung-ujungnya harus dihabiskan untuk masalah keluarga. Fuck lah!

***


Saya suka dengan pesan yang dibawa novel ini: menabung dan hidup sederhana. Karena memang kita hidup bukan hanya sekarang, tapi sampai nanti kita tua. Kalau tidak direncanakan dengan baik, keuangan kita di masa depan malah berantakan. Tujuan agar hidup tua bahagia malah berubah jadi masa tua yang sengsara. Dan ceritanya kekinian juga, saat banyak anak muda sibuk flexing, novel ini jadi pengingat kalau PR kita yang muda-muda masih banyak lho soal perduitan.

Banyak contoh pengelolaan uang yang disajikan seperti melakukan budgeting dengan worksheet, menimbang antara kebutuhan dan keinginan sebelum belanja, dan beberapa trik hemat ala Kaluna salah satunya jarang jajan dengan bawa bekal.

Saya juga suka dengan cerita romansa yang disajikan. Terutama ketika Kaluna tegas kalau hubungannya dengan Mas Hansa tidak akan maju kemana-kemana dan akhirnya memutuskan untuk berhenti. Enggak kebayang gimana susahnya menyejajarkan standar hidup kita dengan orang yang kita sayangi, padahal gap-nya kelewat lebar.

Dan yang bikin gemas ya si Danan ini. Pria matang yang masalah hidupnya lebih sedikit dibandingkan masalah Kaluna, dan sudah memutuskan pilihan bakal berlabuh kemana, tapi masih nunggu momen yang pas. Dan bener juga, umur enggak menentukan seseorang sudah dewasa. Dan pria nggak bisa dipaksa dewasa kecuali atas kesadarannya. Untungnya Danan mau berubah.

Persahabatan keempatnya pun menarik karena masing-masing membawa masalah sendiri-sendiri. Hubungan mereka bukan sekadar teman yang hanya untuk haha-hihi, tapi mereka bisa sharing soal kehidupan. Jadi ketika senang bisa bareng-bareng merayakan dan ketiga galau bisa punya teman mengadu.

Di novel ini ada bagian yang bikin saya nangis yaitu pas Kaluna di telepon Kak Kamala. Kakaknya minta maaf dan bilang kalau Ibunya selalu memasak makanan kesukaan Kaluna tapi beliau segan menyuruh Kaluna pulang ke rumah. Sumpah, dramanya nonjok hati banget :(

Kesimpulannya, saya suka dengan cerita di novel ini. Relate, mengena, dan bikin mikir, "Kayaknya sudah waktunya berbenah sebelum semuanya terlambat." Dan jangan sampai duit yang mengendalikan kita tapi kita yang harus mengendalikan duit. Satu lagi, ayo berjuang lebih keras biar punya rumah.

Sekian ulasan saya untuk novel Home Sweet Loan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa baca buku!

Mei 12, 2024

Resensi Novel Sabar Tanpa Batas - Adhitya Mulya

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Sabar Tanpa Batas

Penulis: Adhitya Mulya

Editor: Resita Febiratri

Desain sampul: @hastapena

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2023, cetakan pertama

Tebal: vi + 266 hlm.

ISBN: 9786234930245


Setelah kemarin selesai dan mengulas novel Sabtu Bersama Bapak, saya melanjutkan membaca novel terbaru Kak Adhitya Mulya yang judulnya Sabar Tanpa Batas. 

Novel Sabar Tanpa Batas ini menceritakan tentang tiga saudara; Cahyadi, Ike, dan Irma, yang berjuang untuk melanjutkan hidup setelah didera banyak masalah. Ibu mereka sudah meninggal. Ayah mereka yang bekerja sebagai penarik becak punya hobi berjudi dan saat sudah meninggal malah meninggalkan hutang gede dari rentenir. Cahyadi sebagai anak tertua harus memutar otak dan bekerja keras untuk bertanggung jawab atas hutang itu, sekaligus memastikan adik-adiknya bisa melanjutkan hidup dengan tenang.

Apa pun dilakukan oleh ketiganya. Ike jadi kuli setrika, Irma menjadi guru les catur, dan Cahyadi harus meninggalkan kedua adiknya dengan menjadi Anak Buah Kapal atau ABK. Perjuangan mereka tidak mudah dan untuk menghadapi itu semua butuh kesabaran besar.


Yang membuat cerita di novel ini berbeda karena tokoh di sini punya latar belakang hidup miskin. Tentu saja alur besarnya adalah bagaimana tokoh-tokoh ini berjuang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Perjuangan inilah yang coba dipotret penulis dan saya berhasil dibuat menangis pada beberapa bagian ceritanya.

Di awal novel kita akan dibuat kesal oleh sosok ayah yang suka meminta uang anak-anaknya untuk judi dengan mengandalkan kalimat "Anak durhaka!" jika anaknya menentang. Saya kira setelah ayahnya meninggal kehidupan kakak adik ini akan lebih baik, eh ternyata ketiganya dihadang hutang rentenir. Beruntungnya si rentenir bukan tipikal bar-bar tetapi cara kerja peminjaman uang di mereka benar-benar mencekik.

Drama kakak adik selalu berhasil menyentuh perasaan saya. Di sini akan kita temukan contoh pengorbanan kakak laki-laki yang mau melakukan apa saja agar adik-adiknya sukses. Bagian ini akan memotivasi siapa pun untuk lebih sayang dan cinta kepada sesama saudara.

Selain urusan typo yang masih saya temukan beberapa di novel ini, saya juga agak kurang nyaman dengan cara penulis meringkas rentang waktu kisahnya. Saya paham kalau penulis harus bisa membawakan cerita bertahun-tahun tokohnya berkembang dan akhirnya dipilih bagian-bagian penting saja. Untuk novel ini jalan tadi membuat ceritanya tidak punya kedalaman emosi.

Menurut saya tipe cerita novel ini, yang rentang waktunya lama, memang harus dibikin menjadi paling sedikit 2 jilid dengan halaman tebal. Contohnya seperti novel The Good Earth (Bumi Yang Subur) karya Pearl S. Buck. Tujuannya agar pembaca bisa mendapatkan banyak detail dan drama. Contoh yang saya maksud adalah ketika Covid melanda, saya kurang menemukan emosi ketiga tokohnya kesusahan akan wabah ini. Padahal saya yang mengalami sendiri begitu terpengaruh dan kesusahan dengan situasi saat itu. Saya tegaskan lagi maksud saya adalah kurangnya pendalaman rasa pada ceritanya.

Novel ini bisa dikatakan sebagai pengingat kita kalau hidup yang baik mesti diperjuangkan. Pesan islami juga tersemat dengan apik seperti yang pernah ada di novel Sabtu Bersama Bapak. Dan yang tidak lepas dari gaya menulis Kak Adhit adalah sisipan humor yang masih garing. Sama garingnya dengan komedi yang ada di novel Sabtu Bersama Bapak. Namun tenang saja, itu enggak akan mengurangi rasa drama di novel ini.

Secara keseluruhan novel Sabar Tanpa Batas ini enak dinikmati dan membuat saya semakin sadar dengan perjuangan hidup sekaligus memotivasi untuk jadi orang yang lebih berguna dan bisa diandalkan baik sebagai anak maupun sebagai saudara. Saya merekomendasikan bacaan ini, siapa tahu bisa jadi adjusment pandangan hidup kita dalam lingkup keluarga.

Nah, sekian ulasan dan kesan saya setelah membaca novel Sabar Tanpa Batas. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Mei 07, 2024

Resensi Novel Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]




Judul: Sabtu Bersama Bapak

Penulis: Adhitya Mulya

Penyunting: Resita Febiratri

Desain sampul: Prime Video & Falcon Pictures

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2023, cetakan kedua

Tebal: x + 278 hlm.

ISBN: 9786234930283


Dahulu saya pernah membaca buku ini tapi belum sempat diulas di sini. Begitu saya membeli buku terbaru dari penulis yang berjudul Sabar Tanpa Batas, saya memutuskan untuk membaca ulang lagi buku ini. Kesannya adalah perasaan melow yang membuncah dahulu, kini sudah enggak begitu terasa. Biar begitu ternyata masih ada bagian-bagian cerita yang hampir bikin saya menangis.

Novel Sabtu Bersama Bapak menceritakan tentang pelajaran hidup yang disampaikan seorang Bapak bernama Gunawan Garnida kepada kedua anak laki-lakinya, Satya Garnida dan Cakra Garnida, melalui video yang direkam dengan handycam, dan video itu ditonton setiap Sabtu sore. Sang Bapak menyiapkan video itu karena tidak ingin lepas tanggung jawab menemani kedua anaknya setelah ia berpulang karena kanker. 

Ternyata pelajaran hidup dari video itu sangat berguna ketika Satya dan Cakra sudah dewasa. Satya sudah menikahi Rissa dan mereka memiliki tiga anak laki-laki; Ryan, Miku, dan Dani. Konflik domestik mewarnai keluarga kecil itu. Satya berubah jadi bapak pemarah dan suami yang gemar menyalahkan istri. Sebuah email dari Rissa menjadi pukulan besar baginya dan Satya harus memperbaiki semuanya sebelum keluarga kecilnya hancur berantakan.

Sedangkan Cakra masih berusaha mencari jodoh setelah menurutnya persiapan ke jenjang pernikahan sudah dia rampungkan. Namun mencari pasangan hidup tidak semudah membalik telapak tangan. Saat dia menemukan gadis yang disukainya justru respon gadis itu dingin. Ia pun harus bersaing dengan rekan kerjanya yang sama-sama mengincar gadis itu.

Namun di luar masalah Satya dan Cakra, Ibu Itje, ibu mereka, pun sedang berjuang menyelesaikan masalahnya secara diam-diam, menghindari merepotkan kedua anaknya.



Novel ini berisi cerita drama keluarga yang penuh pelajaran hidup. Masalah yang disajikan penulis sangat relate dengan banyak orang, dan solusi yang dipilihkan pun masuk akal. Dua masalah utama di novel ini adalah bagaimana membangun rumah tangga yang baik dan bagaimana memilih pasangan hidup yang tepat.

Yang paling saya suka dari novel ini karena pesan Bapak lebih ditujukan untuk pembaca pria dan penyampaiannya tidak mendikte. Setelah membaca novel ini, saya terpengaruh untuk memperbaiki diri. Pria itu harus selalu punya rencana hidup yang jelas. Jangan mencari pasangan untuk melengkapi kekurangan kita tetapi sudah jadi kewajiban masing-masing untuk menguatkan value diri sebelum memilih pasangan.

Selain drama, sisi komedi pun diselipkan penulis untuk mengolok-olok kejombloan. Ini juga yang bikin novel ini terasa fresh. Dan saya juga suka dengan sampulnya yang versi series ini dibandingkan sampul versi film atau versi orisnialnya.

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak dibaca dan pesan-pesan di dalamnya patut direnungkan untuk introspeksi diri. Saya merekomendasikan novel ini dibaca sebagai persiapan bagi siapa pun untuk berumah tangga. 

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Sabtu Bersama Bapak. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!