[Resensi] The Good Earth (Bumi Yang Subur) - Pearl S. Buck


Judul:
The Good Earth (Bumi Yang Subur)

Penulis: Pearl S. Buck

Penerjemah: Gianny Buditjahya

Desain dan ilustrasi sampul: Staven Andersen

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Maret 2019, cetakan keenam

Tebal: 512 hlm.

ISBN: 9789792241051

Kisah tentang keluarga Wang Lung-keluarga petani Cina sederhana yang mendapat kemuliaan dari tanah yang diolahnya. Wang Lung mencintai tanahnya melebihi cintanya kepada keluarga dan dewa-dewanya. Dan tanah itu membuat hidupnya makmur. Wang Lung mempertahankan tanahnya dari bencana alam dan gerombolan bandit. Dan dia berhasil. Dia menanamkan akar sebuah dinasti yang berkuasa. Dinasti yang terdiri atas istri-istri, selir-selir, dan banyak anak-anak yang kelak mengkhianatinya.

***

SINOPSIS

Wang Lung adalah pemuda miskin yang tinggal dengan ayahnya di rumah sederhana. Mereka memiliki sebidang tanah tepat di seberang rumahnya. Dalam keterbatasan, Wang Lung akhirnya bisa menikahi  seorang budak perempuan tidak cantik, berwajah kotak, berkaki dan berbadan besar, yang dijemputnya dari Rumah Keluarga Hwang, bernama O-lan. Meskipun O-lan sangat pendiam, tapi ia tangkas, rajin, dan berpengalaman melakukan pekerjaan rumah. Semua kegiatan mengurus rumah yang dulunya dilakukan Wang Lung kini dikerjakan O-lan. Dan berkat perawakan O-lan yang besar, tenaganya sangat membantu untuk menggarap sawah.

Keuletan dan kerja keras O-lan patut diacungi jempol. Ia bisa melahirkan anak tanpa bantuan siapa pun. Ia juga bisa pergi ke sawah padahal beberapa saat lalu baru saja melahirkan. Wang Lung begitu terharu dengan kesetiaan O-lan.

Perlahan-lahan ekonomi keluarga Wang Lung membaik. Tapi belum lama merasakan ketenangan dan ketentraman hidup, kemarau panjang hingga menyebabkan kelaparan memaksa keluarga Wang Lung harus pindah ke daerah selatan. Di desanya tidak ada yang bisa dimakan, bahkan desas-desusnya sampai ada yang makan daging sesamanya. Di selatan, O-lan dan anak laki-lakinya mengemis, Wang Lung menarik angkong. Tapi hidup tetap saja pas-pasan. Wang Lung semakin rindu dengan tanahnya di desa. 


Satu kejadian pemberontakan hingga mendobrak gerbang rumah orang kaya, membuat Wang Lung mendapatkan sekantung emas dan berkat uang itu ia dan keluarganya memutuskan kembali ke kampung halaman. Tak disangka O-lan pun ternyata mendapatkan mutiara dari rumah keluarga kaya tersebut. Mutiara lebih berharga nilainya dibandingkan emas. Mereka mendadak menjadi kaya.

Lalu Wang Lung membeli tanah baru yang terkenal subur dan ia garap dibantu tetangganya bernama Ching. Tahun-tahun berikutnya ia menjadi tuan tanah kaya raya. Uang perak banyak ditabung, tanah-tanah terus bertambah. 

Harta ternyata membawa ujian. Wang Lung terpikat dengan perempuan cantik di sebuah kedai teh dan perak demi perak menggelontor ke tangan perempuan itu. Bahkan dua mutiara yang dimiliki O-lan pun diambilnya demi menghadiahi perempuan itu.

Masalah lain, keluarga pamannya yang pemalas datang meminta tinggal bareng dan diurus segala-galanya. Wang Lung tidak bisa menolak dan sejak itu tambah banyak mulut yang harus ia beri makan. Meski sebanyak apa pun kebutuhan yang harus ia penuhi, Wang Lung berusaha keras agar tanahnya tidak dijual.

***

IDE CERITA

Novel The Good Earth ini mempunyai tema keluarga sebab membahas tokoh Wang Lung dari mulai ia menikah, punya anak, punya cucu, dan sampai ia berumur 65 tahun. Perjalanan membangun dinasti keluarganya berawal dari tanah yang subur. Pada prosesnya Wang Lung harus melalui lika-liku yang tidak mudah. Wang Lung menemukan banyak masalah seiring banyak kemajuan yang ia dapatkan baik dari sisi keluarga, maupun tanahnya.

Punya banyak harta membuat Wang Lung mulai memasuki kedai teh dan akhirnya terpikat perempuan cantik bernama Lotus. Uangnya diperas untuk hadiah-hadiah dan Wang Lung merasa itu hal biasa. Ongkos menikahi Lotus dan biaya hidup sehari-harinya membutuhkan banyak uang. Ditambah ia harus membayari kemewahan untuk pembantunya dan istri dari pamannya yang pemalas karena malah berteman dengan Lotus.

Anak laki-lakinya yang sudah dewasa mulai bertingkah karena nafsunya sedang bergejolak. Wang Lung memergoki anaknya itu tengah berduaan dengan Lotus dan membuatnya marah besar. Wang Lung pun memilih untuk mengawinkan anaknya itu. Pesta yang dibuat pun lagi-lagi mahal. Dan Wang Lung sudah bisa membayangkan untuk menghadapi masalah serupa sebab masih ada anak laki-lakinya yang lain, yang ketika usianya sudah dewasa akan bertingkah sama.

Sejak ada Lotus, Wang Lung tidak lagi memperhatikan istri pertamanya O-lan. Walau ruangan kedua istri itu di lokasi yang berdekatan, hidup Wang Lung dan O-lan seperti sendiri-sendiri. O-lan yang pendiam menahan sakit diperutnya sendirian. Setelah O-lan meninggal, Wang Lung dan anak-anaknya baru sadar peran besar seorang ibu. Tanpa ibu, rumah menjadi tidak terurus. Lotus yang cantik tidak bisa diandalkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang kasar.

Masih banyak masalah lain yang dihadapi Wang Lung seiring bertambahnya usia. Dan saya sangat suka bisa mengikuti kisah perubahannya dari petani miskin menjadi tuan tanah kaya.


PLOT/GAYA BERCERITA/POV/KARAKTER

Karena membahas soal perubahan Wang Lung dari petani miskin menjadi tuan tanah kaya raya, plot yang digunakan penulis adalah plot maju. Buku ini meringkas perjalanan bertahun-tahun dari Wang Lung sampai ia berumur sekitar 65 tahunan. Mulai dari ia yang malu-malu menjemput calon istrinya sampai ia bisa menikmati masa tenang ketika bisa melihat dan bermain-main dengan cucu-cucunya.

Saya agak terkejut ketika tahu kalau buku ini memuat perjalanan panjang dari Wang Lung. Buku ini adalah buku pertama dari trilogi Wang. Kalau di buku pertamanya saja Wang Lung si tokoh utama sudah tua, lalu di buku kedua dan ketiga akan dibahas pada fase mana lagi. Saya sangat penasaran.

Karena fase panjang itu membuat penulis membawa ceritanya dengan meringkas banyak hal. Tidak semua momen diceritakan dengan detail. Walau cukup nyaman diikuti, tapi saya merasa penulis terlalu ambil resiko dengan menceritakan Wang Lung sampai seusia itu. Terjemahan pun sangat baik. Saya tidak kaku mengikuti kisahnya. Kalau ternyata saya butuh seminggu untuk bisa selesai membacanya bukan karena ceritanya tidak menarik, hanya saja tipe cerita di novel ini tuh memang lambat. Tidak banyak momen seru dan meledak-ledak yang disajikan, kebanyakan hanya membahas soal apa yang terjadi dengan keluarga Wang saja.

Sudut pandang yang digunakan penulis adalah sudut pandang ketiga serba tahu. Pilihan ini membuat penulis leluasa menjabarkan pemikiran semua tokoh yang ada sehingga pembaca diuntungkan mengenal lebih dalam situasi yang terjadi.

Wang Lung adalah lelaki sederhana yang sangat cinta dengan tanahnya. Dia pekerja keras dan baik. Kalau pun dia terpeleset di tengah jalan, itu karena proses yang akan membuatnya lebih bijaksana. O-lan adalah istri pertama Wang Lung yang tidak cantik. Dia sangat telaten mengurus rumah tangga. Sama pekerja kerasnya dengan Wang Lung. Dan yang membuat saya menaruh hormat dengan O-lan, dia sangat setia. Meski Wang Lung membawa istri kedua, O-lan tetap mengerjakan tugasnya sebagai istri yaitu memasak makanan dan mengurus ayah Wang Lung. Lotus adalah istri kedua Wang Lung. Tipe perempuan cantik yang maunya dilayani. Tidak kenal kerja keras sebab semua pekerjaan dikerjakan oleh pembantunya.

Anak Lelaki Sulung Wang Lung tipe yang agak bebal meski pun ia pemuda yang pintar. Darahnya panas sehingga kadang ia membangkang kepada ayahnya. Setelah berumah tangga, barulah diketahui kalau ia tipe lelaki yang boros. Anak Lelaki Kedua Wang Lung berkebalikan dari anak pertama. Tidak banyak bicara, tapi dia cerdas, Pandai berhitung dan pandai berdagang. Dan kemudian ia dikenal sebagai lelaki kikir yang segala-galanya diperhitungkan. Anak Lelaki ketiga Wang Lung jauh lebih pendiam. Tapi pada akhir cerita dketahui kalau dia tipe anak yang berkemauan keras. Jika dilarang, ia akan makin memaksa. Wang Lung juga punya dua anak perempuan. Yang paling besar ternyata terbelakang karena sewaktu hamil kondisi sedang musim kelaparan. Sedangkan si bungsu harus dipingit ketika usianya sudah cukup untuk segera dinikahkan. Wang Lung terpaksa mengirim si bungsu ke keluarga calon suaminya agar anaknya tidak diganggu oleh pamannya.


BAGIAN FAVORIT

Karena tokoh yang saya sukai hanya O-lan, jadi bagian paling berkesan ketika Wang Lung meminta dua mutiara yang disimpan istrinya untuk diberikan kepada perempuan di kedai teh. 

"Kupikir aku ingin membuatkan giwang dari mutiara ini, nanti," dan karena ia takut Wang Lung menertawakannya, O-lan berkata lagi,"kuharap aku bisa memberikannya pada anak perempuan kita yang terkecil kalau dia kawin nanti." - hal.254

Selain itu, saat O-lan tahu kalau dua mutiara itu diberikan untuk perempuan lain, aura kesedihannya begitu terasa. Nasibnya saat itu sangat tragis.

"Dan rupanya mutiaraku larinya ke dia, ya, kepada siapa lagi!"

Seketika itu juga pegangan Wang Lung terlepas dan petani itu tak dapat menjawab apa-apa lagi. Detik itu juga amarahnya lenyap, lalu dengan kemalu-maluan ia melangkah pergi dari situ... -hal. 281

PETIK-PETIK

Pepatah yang bilang kalau ujian lelaki itu harta, tahta, dan wanita, itu dibenarkan dalan novel ini. Setelah Wang Lung mendapatkan harta yang banyak, ia mulai menempatkan diri sebagai orang kaya. Ogah diperlakukan seperti dulu saat ia masih miskin. Lalu, uang banyak membuatnya gampang mendapatkan wanita dan mudah membelinya.

Sayangnya ujian dari itu semua belum membuat Wang Lung terpuruk sekali. Mungkin akan kita temukan di buku ketiganya yang berjudul A House Divided (Runtuhnya Dinasti Wang). 

Poin penting yang perlu diingat dari novel ini sebagai berikut:

  • Tanah merupakan aset diam yang snagat berharga. Investasi paling baik memang di tanah.
  • Bekerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.
  • Selain bekerja keras, bekerja cerdas pun perlu agar semakin banyak yang didapatkan.

NILAI

Novel ini tergolong tebal dengan cerita yang dipadatkan. Butuh waktu dan kesabaran untuk menyelesaikannya, tapi itu sebanding dengan pengalaman mengenal keluarga Wang Lung dan proses perubahannya. Karena itu saya memberikan nilai 4/5 bintang. Saya pasti akan membaca novel selanjutnya: Sons (Wang si Macan) dan A House Divided (Runtuhnya Dinasti Wang).

Nah sekian ulasan dari saya. Terakhir, terus jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



0 komentar:

Posting Komentar