[Resensi] Chasing The Blue Flames - Saufina


Judul:
Chasing The Blue Flames

Penulis: Saufina

Penyunting: Raya Fitrah & Irna Permanasari

Desain sampul: IG @Sijarjamil

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Agustus 2022

Tebal: 304 hlm.

ISBN: 9786020664538

Dalu 'Lulu' Aksara Latif sadar, dia dan damar tidak seharusnya menjalin hubungan. Harus siap jika hubungan mereka berakhir karena alasan yang sudah sama-sama mereka ketahui. Namun, apakah pernah ada kata 'siap' untuk berpisah dengan seseorang yang dicintai?

Andai waktu bisa kembali diputar, Lulu ingin kembali ke masa lalunya. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengubah jalan takdir dan tak membiarkan Damar masuk dalam cerita kehidupannya. Atau... sekadar menghapus segala kenangan tentang Damar di ingatannya.

Tetapi, bagaimana jika keinginannya itu benar-benar terjadi? Bagaimana jika Lulu benar-benar punya kesempatan memilih ulang takdirnya? Apakah ia akan menemukan jawaban yang ia cari, atau justru terjebak dalam kesalahan yang sama?

***

SINOPSIS

Novel Chasing The Blue Flames ini menceritakan tentang putusnya hubungan Dalu 'Lulu' Aksara Latif dengan Damar yang sudah terjalin selama 5 tahun. Mereka tidak bisa melanjutkan hubungan lebih lama apalagi untuk bersatu karena perbedaan agama. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk menyudahi. Lulu sudah 26 tahun. Mereka tidak melihat gambaran masa depan makanya harus berhenti.

Putus dari orang tersayang bukan momen yang mudah dilewati. Lulu begitu menderita sebab Damar tidak bisa diajak untuk ketemu terakhir kali. Pesan yang dikirimnya tidak ada yang dibalas. Lulu jadi overthingking, jangan-jangan Damar memang baik-baik saja setelah putus darinya. Hanya dirinya yang menderita sampai kerjaan pun kacau.

Sebagai pelarian patah hati, Lulu memutuskan untuk mendaki gunung ke Kawah Ijen. Pada perjalanan itu, sebuah kejadian membuat Lulu terlempar ke 7 tahun silam, ke masa ia kuliah dan awal mula mengenal Damar. Dikiranya dengan kembali ke masa lalu ia bisa merubah masa depan, tetapi ternyata  tidak.

Lalu apa gunanya bisa pergi ke masa lalu kalau masa depannya tidak berubah?



IDE CERITA

Kembali ke masa lalu untuk mengubah masa depan merupakan ide cerita yang menarik. Apalagi kalau kita tahu ternyata masa depan kita tidak cukup baik. Kita semua pasti ingin merubah keputusan-keputusan salah di masa lalu. Ini juga yang dilakukan Lulu saat ia terbangun ke masa ia kuliah. Ia berharap bisa mengubah takdirnya agar tidak dekat bahkan pacaran dengan Damar. Dengan begitu ia tidak perlu mengalami patah hati gara-gara putus. 

Kenyataannya ternyata Lulu tidak bisa merubah takdir. Beberapa kejadian tetap hasil akhirnya sama, misalnya saat Lulu terlambat tiba di kampus dan telat menyerahkan tugas, sudah ia antisipasi apa yang menyebabkan hal itu terjadi di masa lalu, dan ia rubah caranya, tapi hasil akhirnya tetap sama, tetap terlambat datang dan tetap telat mengumpulkan tugas. Dari kejadian ini Lulu sadar kalau takdir tidak bisa dirubah. Yang bisa dirubah adalah sikapnya. Dulu dia gampang marah dan kesal ketika segalanya tidak berjalan lancar, kini ia bisa lebih santai menghadapinya. Perubahan sikap penerimaan ini membuat hubungannya dengan Sarah lebih erat. Walau Sarah justru yang merasa aneh dengan perubahan sikap Lulu ini.

Ada poin bagus ketika Lulu bertanya kepada Sarah mengenai jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apakah ada yang akan dilakukannya untuk merubah masa depan. Jawabannya cukup menohok.

"Rasa benciku ke Ayah sekarang nggak ada apa-apanya dibanding kenangan menyenangkan yang udah dia kasih selama delapan belas tahun. Daripada capek-capek ngubah takdir, aku lebih milih nikmatin momen bareng Ayah baik-baik, siapa tahu ada satu momen yang akhirnya bikin aku paham bahwa kami emang lebih baik pisah, demi menemukan happily ever after masing-masing." -hal. 136

Isu hubungan beda agama sebenarnya menjadi sumbu konflik di novel ini. Sayangnya memang tidak digali lebih dalam oleh penulis. Mungkin karena tujuan penulis ingin mengedepankan cerita mengenai kondisi orang patah hati dan proses move on-nya. Tapi kesimpulan penulis dalam novel ini terkait hubungan beda agama adalah Big No. Tidak ada solusi yang pro yang dikasih penulis untuk hubungan beda agama.


Isi sebagian besar novel ini membahas mengenai move-on. Siapapun sepakat sih, kalau putus itu bikin sakit hati. Apalagi kalau umur hubungannya bukan hitungan bulan. Kalau tahunan, sudah pasti banyak kenangan baik yang tercipta, sudah punya impian masa depan bersama, bahkan sudah punya rencana-rencana yang akan diwujudkan bareng. 

Tapi begitu berpisah, semuanya lenyap. Menangis, sudah pasti. Dada sesak, sudah iya. Mood langsung terjun bebas, rasanya hidup sudah enggak ada artinya. Dan untuk menerima kenyataan ini butuh waktu, butuh support system yang menguatkan, dan butuh sudut pandang baru agar menerima takdir bahwa tidak semua hal bisa jadi jodoh. Kita tidak bisa memaksakan takdir sesuai keinginan kita. Siapa tahu dengan berpisah, kita justru menemukan lebih banyak kebaikan daripada kebaikan yang kemarin-kemarin. Tapi sebagai manusia, kadang kita terlalu takut dengan perubahan. Banyak yang terjebak dengan zona nyaman sehingga sejelek apa pun hubungan akan tetap diperjuangkan.

Seseram-seramnya keadaan yang berubah, nggak bakalan lebih mengerikan daripada harus stuck di keadaan yang bikin kita nggak nyaman. Kita sendiri tahu manusia punya batas kontrol yang nggak bisa dipaksain. Kalau udah nggak memungkinkan, lebih baik pindah. -hal.185

Membaca cerita novel ini saya seperti sedang menapak tilas beberapa tahun lalu ketika patah hati dari orang yang disayang. Kangen setengah mati tapi tidak bisa bertemu karena saat putus ada perdebatan yang prinsipil. Saya yang terpuruk sering merasa sakit di dada. Bahkan saya sampai harus menelan pil antimo (obat antisipasi mabuk kendaraan) bertahap dari 1 pil sampai 4 pil supaya bisa tidur. Karena hanya saat tidur saya bisa melepaskan ingatan soal mantan Miris ya, dan baru setahun kemudian saya bisa bertemu dia untuk menyelesaikan apa yang belum selesai dans sejak itu saya bisa lebih mudah melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang mantan.

Selain membawa cerita cinta-cintaan, novel ini juga membahas soal hubungan anak-orang tua, yang digambarkan oleh hubungan Lulu dengan ibunya. Lulu memiliki kakak perempuan yang meninggal karena tertabrak. Padahal dia adalah kakak yang selalu diandalkan dan dibanggakan orang tuanya. Namun sejak kakaknya meninggal, semua ekspektasi kesuksesan seorang anak melimpah kepadanya.

Ibunya yang terkesan tidak peduli dengannya ternyata memiliki cara berbeda menunjukkan cinta kepada anak. Tapi di balik semua nilai buruk ibunya, Lulu tidak tahu kalau ibunya punya beban yang lebih berat. Hubungan ibu dengan nenek sangat kaku karena ternyata ibu kerap dibanding-bandingkan, kerap disepelekan, soal bagaimana ia mengurus suami dan anak-anaknya. Lulu baru tahu rahasia dan beban ini ketika ia kembali ke masa lalu.

Sepanjang saya membaca bagian yang membahas hubungan anak-orang tua, saya tidak bisa menahan air mata. Tema keluarga memang selalu membuat saya melankolis. 


PLOT/GAYA BERCERITA/POV/KARAKTER

Saya kira novel ini menggunakan plot maju walaupun sebagian besar menceritakan tentang masa lalu yang dilalui Lulu. Tapi masa lalu yang dilalui Lulu bukan masa lalu yang benar-benar masa lalu. Ada alasan kenapa Lulu bisa mengalami hal itu.

Gaya bercerita penulis sangat bagus karena bisa menjabarkan sebab-akibat dengan baik. Apalagi soal twist, penulis berhasil menyimpannya dengan rapi dan saat dibuka, saya sampai menggumamkan, 'Oh jadi yang itu tuh ini!'. Saya cukup terkejut pada 2 hal: soal Dikta dan soal hubungan ibu dengan nenek.

Cerita di novel ini menggunakan dua sudut pandang. Pada bagian 1 dan bagian 3 penceritaan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Bagian ini membahas keadaan saat Lulu putus dengan Damar dan saat dia mulai berdamai dengan takdirnya.

Pada bagian 2 penceritaan menggunakan sudut pandang orang pertama. Bagian ini membahas soal perjalanan Lulu menjalani masa lalu. Pemilihan sudut pandang yang berbeda ini pilihan paling baik agar pembaca bisa menjadi Lulu secara utuh dan emosi karakter Lulu bisa tersampaikan dengan baik ke pembaca.

Dan jika bicara soal karakter, penulis berhasil membangun karakter dengan hidup. Lulu adalah gadis yang sensian, penuh semangat, perasa, dan bucin. Bener kata Damar, Lulu termasuk gadis yang takut dengan perubahan. Begitu beneran berubah, dia paling terpuruk. 

Damar sebagai pacar Lulu memang dijabarkan sebagai pemuda yang santai, kelihatan cuek, tapi bucin juga. Sayangnya, umur hubungan lima tahun, sebagai lelaki dia tidak memberikan pengertian kepada Lulu soal jika mereka beneran harus berpisah, harus bagaimana prosesnya. Bukan yang ujung-ujung putus, menghilang, dan membenarkan caranya. Saya ingat, kekurangan Damar adalah menghindar. Jadi ketika pembahasan soal hubungan yang nggak akan berhasil menjadi obrolan, tak tak sedikit menjadi pertengkaran, Damar akan dengan licin mengalihkan ke topik lain. Selalu saja begitu. Bahkan jika ada masalah pribadi pun, dia akan menghilang tanpa kabar, lalu muncul kembali dengan enteng tanpa memikirkan Lulu yang mencari-cari dan menduga-duga.

Ada juga katakter tetangga Lulu, Diktayang dijabarkan sebagai pemuda lurus, kesayangan keluarga, pintar, dan kalem. Tipikal cowok baik-baik yang kelihatannya bukan cowok seru untuk dijadikan pasangan. Hemm, saya meraskannya begitu ya. Atau mungkin karena porsi Dikta ini tidak lebih banyak dari pada Damar. Aha! Apa sebaiknya cerita Chasing The Blue Flames ini dibikinkan sekuelnya lagi untuk melihat progres hubungan Lulu dan Dikta yang entahlah?

Selain ketiga tokoh ini ada tokoh sampingan yang meramaikan cerita Lulu ini, seperti ibu, ayah, Sarah, dan Wimar. Sebagai tokoh pendukung memang porsinya tidak banyak tapi beberapa tokoh ini diberikan bagian latar belakang untuk sekilas mengenal lebih dalam.


BAGIAN FAVORIT

Seperti yang saya bilang, saya tuh gampang melow kalau membaca cerita yang membahas hubungan anak dengan orang tua. Ada dua bagian di novel ini yang membuat saya terharu.

Pertama, ketika Lulu yang kembali ke masa lalu dan meminta uang kepada ayahnya. Di situ dijelaskan kalau kita yang sudah dewasa, sudah bisa nyari duit sendiri, pasti kangen dikasih uang oleh orang tua. Dan itu bikin kita pengen kembali ke masa kecil, dimana segalanya terasa mudah tanpa harus memikirkan soal kerjaan, soal ekspektasi, dan pikiran-pikiran lainnya. Poin kangen dengan masa kecil ini yang membuat saya terharu sebab memang bener, setelah kita dewasa banyak tanggung jawab yang harus dipikul dan itu melelahkan. Pengen berhenti tapi enggak bisa. Berbeda saat kita kecil, ketika ada masalah pun, masih ada orang tua yang siap mengulurkan tangan dan pasang badan. 

Bagian kedua, yang bikin saya menangis tersedu-sedu saat Lulu dan Ibu pergi berduaan ke toko es krim. Di situ Lulu mulai memperhatikan wajah ibu dengan seksama dan ternyata dia banyak luput memperhatikan hal-hal kecil terkait ibunya. Kemudian keduanya membahas soal Kak Nasti, kakak Lulu. Sampai akhirnya sang Ibu mengucapkan maaf kepada anaknya. Sumpah, saya sehancur itu membayangkan ada orang tua yang meminta maaf kepada anaknya. Maaf dari mereka itu bisa menggambarkan kalau mereka mengakui kalah mendidik anak, mereka mengakui kalau mereka banyak salah. Padahal bagi saya, salah mereka tidak bisa lebih besar dari kasih dan sayang yang sudah dicurahkan. 

"Maafin Ibu ya. Maaf karena kurang perhatiin Lulu. Maaf karena sempet ragu Lulu bakal selamat. Ibu takut... takut banget waktu itu." -hal.247

Selain itu ada bagian pertengkaran Lulu dengan damar yang sangat dramatis. Saya sangat suka membaca bagian ini.

"Cepat atau lambat, kita emang harus putus," tukas Damar. Ibu benar, kita cuma buang-buang waktu. Kita nggak akan pernah bisa menikah."

"Kenapa kamu malah bahas soal nikah sih? Kita masih 26."

"Kamu mau kita begini terus?" tanya Damar. Nadanya menuntut. "Lanjutin hubungan yang nggak ada tujuannya, iya?"

"Ya udah ayo kita menikah, kalau emang itu yang kamu mau," tantang Lulu. Ia mengentakkan kedua tangannya sampai terlepas dari genggaman Damar. "Apa pun. Asal jangan minta putus."

"Kita nggak akan pernah bisa menikah," tegas Damar.

"Bisa!" jawab Lulu keras kepala. "Pernikahan beda agama udah mulai umum, Damar. Kalaupun ayahmu masih berat, aku bisa ikut keyakinan--"

"Stop!"...

(Dialog ini ada di halaman 30-31)

PETIK-PETIK

Setelah membaca novel ini, saya sangat terkesan dengan bagian yang membahas soal hubungan anak dan orang tua. Cinta orang tua kepada anak tidak berbanding, walau kadang cara mengungkapnya tidak selalu sama dengan yang diharapkan.


KUTIPAN

  • "...sedih-sedih yang lo rasain sekarang sifatnya sementara. Masa lo mau ngerusak semuanya gara-gara sesuatu yang nggak kekal?" -hal. 13
  • "Nggak ada putus baik-baik, anyway. Yang namanya putus, mau model gimana pun tetep bikin nyesek." -hal.101
  • Ada waktunya menggenggam. Ada waktunya melepaskan. Dan ada satu waktu yang akhirnya membuat kita tahu beberapa perasaan sebaiknya tetap tersimpan alih-alih diutarakan. -hal.150
  • "Tapi jadi nyusahin kalau ekspektasinya lebih gede dibanding kemampuan membereskan perasaan nyesel atau kecewa ketika semua rencana gagal. Biasanya bakal berakhir nyalahin orang lain dan keadaan." -hal.184
  • Takdir nggak cuma tentang bersukacita atas pertemuan, tapi menerima bahwa perpisahan merupakan kepastian yang nggak bisa manusia ubah. -hal.210
  • "Satu-satunya yang bertanggung jawab atas perasaan kita ya diri sendiri. Hidup jadi nggak asyik kalau galau terus-terusan." -hal.213
  • "... Bagaimanapun, masa lalu membentuk kita hari ini. Jadi cukup ingat bagian baik-baiknya aja. Katanya, kenangan baik bakal datang pas kita lagi bener-bener butuh." -hal. 225

NILAI

Novel Chasing The Blue Flames ini memiliki cerita roman yang kental dan dibumbui dengan cerita keluarga yang mengharukan. Cukup mengesankan walaupun menurut saya cerita soal gunungnya kurang banget. Saya kira bakal menemukan deskripsi yang lebih banyak dan detail mengenai pendakian ke Kawah Ijen, atau paling tidak dibahas cerita sejarah atau budaya yang berhubungan dengan gunung tersebut. Tapi ternyata soal Kawah Ijen-nya minim sekali, padahal kalau banyak pasti lebih nendang. 

Akhirnya saya memberikan nilai 4/5 bintang untuk novel ini. Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca yang mau bernostalgia dengan momen ketika putus dan jadi patah hati terhebat. Siapa tau saat membaca novel ini kita bisa menertawakan betapa bodohnya kita sampai begitu terpuruk seolah-olah hidup hanya isinya mantan saja.

Nah, sekian ulasan dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!




2 komentar:

  1. jadi lebih fokus pas baca pengalaman adin putus aku hehehhe...sampai dibantu antimo 4 pil buat diuntal biar ga kebayang mantan ya din. Alhamdulilah sekarang dah move on ya din. Semoga segera bertemu dengan jodohnya amin...
    mengenai cerita bukunya...aku malah trenyuh pas bagian ibunya minta maaf ke Lulu karena pas nasti idup yang selalu dibangga banggain bakal sukses nasti ya..hwa...tapi biar srring ortu gitu ke anak anaknya yang lebih dari 1, emang bener kata kamu din...pastinya kasih sayang yang tercurah itu lebih dari cukup...kalau masalah bagaimana mendidik memang sih orang tua mungkin sambil belajar juga jadi masih ada naik turunnya gitu...ga bisa langsung jadi orang tua yang mendidik dengan sempurna huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, itu masa lalu yang kalau dipikir sekarang suka malu sendiri, kok bisa ya sebucin itu..
      Betul Mbak Nita, beberapa temen saya yang sudah menikah juga selalu ngomong kalau mendidik anak itu sambil jalan belajarnya sebab dulu di sekolah tidak ada yang mengajari. Makanya penting banget untuk para orang tua untuk membaca buku parenting agar lebih baik dalam mengasuh anak.
      Katanya masa emas seorang anak itu ketika usia masih kanak-kanak, ketika dewasa agak susah dibentuknya.

      Hapus