Tampilkan postingan dengan label Gramedia Pustaka Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gramedia Pustaka Utama. Tampilkan semua postingan

Oktober 04, 2026

Review Novel Miss Peregrine's Home For Peculiar Children - Ransom Riggs

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

Penulis: Random Riggs

Penerjemah: Tanti Lesmana

Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2011

Tebal: 544 hlm.

ISBN: 9786020333885

Peringkat: 4 Bintang


Jacob Portman kecil sangat mengagumi kakeknya, Abraham Portman, karena sering didongengkan cerita seru tentang petualangan melawan monster dan tentang teman-temannya yang aneh. Dan ketika kakeknya ditemukan sekarat di tepi hutan dengan luka serangan yang misterius, Jacob berubah jadi sosok yang rentan, penuh kesedihan dan terpuruk. Ucapan pesan kakeknya sebelum meninggal dan surat yang dikirim oleh seorang perempuan mendorong Jacob bertekad mencari tahu.

Atas ijin dr. Golan, Jacob dan ayahnya pergi ke Pulau Cairnholm, tempat kakeknya berasal. Tujuan Jacob adalah mencari tahu masa lalu kakeknya dan keberadaan si pengirim surat. Sedangkan ayahnya ingin meneliti burung langka di pulau tersebut untuk merampungkan bukunya. 

Setelah beberapa hari mencari tahu dan berhasil mengunjungi gedung panti asuhan yang sudah porak-poranda bekas terkena bom pada masa perang, Jacob bertemu dengan Emma, teman kakeknya dulu. Dia kemudian diajak ke keluk, sebuah portal yang membawa mereka ke masa lalu sebelum panti itu terkena bom, 3 September 1940, dan berkenalan dengan Miss Peregrine, perempuan yang mengirim surat untuk kakeknya.

Keluk adalah ruang waktu yang dihentikan sehingga di sana tidak pernah berganti hari dan penghuninya terjebak di usia segitu terus. Keluk juga menjadi tempat persembunyian para peculiar dari serangan para Hollow yang dibantu para Wight. Dan munculnya Jacob menjadi ancaman karena ternyata dia sudah diincar dan dibuntuti dari lama. Musuh mengikuti Jacob untuk menculik Miss Peregrine yang akan dikorbankan dalam percobaan mendapatkan keabadian.

Berhasilkan para peculiar ini menghadapi ancaman yang sudah di depan mata?

***


Di awal novel kita akan dibikin senang dan sedih bersamaan. Kedekatan Jacob dengan kakeknya benar-benar mengharukan. Tetapi mendengar pengakuan ayahnya tentang hidup kakeknya membikin saya sedih. Kakeknya Jacob mengalami hidup yang pedih dari sejak kecil. Dia harus berpisah dengan keluarganya karena perang. Dia tinggal di panti asuhan sampai remaja dan kemudian memutuskan untuk ikut berperang juga. Panti asuhan tempat dia pernah tinggal dikabarkan menjadi sasaran bom. Kakeknya Jacob melanjutkan hidup tapi penuh misteri. Kata ayahnya, kakeknya itu sering bepergian berhari-hari sambil membawa senjata, seolah ia berburu monster seperti yang sering ia dongengkan.

Nyes banget membaca bagian cerita yang memotret lelaki dari tiga generasi yang membawa kisahnya masing-masing. Kakek Jacob membawa trauma mendalam akibat perang dan kehilangan beberapa kali yang kemudian memengaruhi bagaimana ia mengasuh anak-anaknya. Ayah Jacob menjaga jarak dengan kakek Jacob karena pola asuh yang terlalu kaku dan dingin di masa lalu. Dan Ayah Jacob mencoba memutus pola asuh itu kepada Jacob. Sedangkan Jacob dibuat tidak mengerti dengan situasi hubungan kakeknya yang ia kagumi dengan ayahnya yang ia sayangi.

Novel ini juga menyajikan dunia fantasi yang begitu keren. Pulau Cairnholm yang berada di lepas pantai Wales, Inggris, lokasi panti Miss Peregrine berada ternyata hanya rekaan penulis saja. Di sini juga diceritakan mengenai keberadaan keluk, portal ke dunia lain sesuai tanggal kejadian besar, tempat sembunyi para peculiar. Keluk ini tersebar di seluruh dunia dan tidak bisa diketahui oleh sembarang orang. Semua keluk menghentikan waktu sehingga anak-anak peculiar yang menghuninya akan tetap muda meskipun usia aslinya bisa puluhan dan ratusan tahun.

Anak-anak peculiar adalah anak-anak aneh dengan kemampuan yang ajaib. Emma bisa mengeluarkan api dari tangannya. Milard adalah anak yang tidak terlihat mata. Bronwyn si anak perempuan yang kuat. Fiona mampu menghidupkan bunga. Hugh si anak laki-laki dengan lebah-lebahnya. Horace si cenayang yang bisa melihat gambaran masa depan. Dan masih ada beberapa lagi.










Penjelasan lengkap mengenai anak-anak peculiar dan informasi keluk serta kepala-kepalanya ada di halaman 219 - 225. Luar biasa lengkap dan membuat saya paham kondisi yang mereka alami sebagai anak-anak aneh yang kerap mengalami diskriminasi dan susah dimengerti orang-orang normal.

Karena ini buku pertama, saya merasa buku ini sebagai perkenalan dunia peculiar. Semua detail dibahas lengkap. Disampaikan juga latar belakang keluarga Jacob yang membuat saya paham akhirnya kenapa dia bisa masuk ke dalam keluk, dan menjawab beberapa kejadian aneh yang dialaminya.

Konflik di sini semakin seru karena ada musuh yang mengincar. Hollow adalah pemburu peculiar untuk dimakan dan wight adalah pembantu yang akan menyediakan anak-anak peculiar untuk disantap. Namun ternyata ada motif besar yang sedang dirancang oleh para hollow dan wight dengan menculik kepala sekolah di banyak keluk.

Tensi konflik di novel ini jadi tinggi karena yang berseteru dengan musuh adalah anak-anak. Meski umur mereka bukan anak-anak tapi karena dijebak waktu, pengalaman, pola pikir, dan tingkah lakunya masih tetap anak-anak. Saya merasa deg-degan dengan kemampuan mereka. Tidak ada yang mengajari tapi kemudian mereka harus keluar dari lingkaran waktu yang selama ini mengungkung mereka.

Dari novel ini saya mendapatkan pelajaran mengenai trauma bawaan yang ternyata membawa pengaruh tidak baik jika tidak disembuhkan. Saya merasa sikap keterbukaan bisa menjadi satu langkah baik untuk pelan-pelan mengurai kekusutan masa lalu dan menyembuhkan luka-luka.

Selain itu saya tersadarkan kalau menjadi orang yang berbeda (contohnya mereka yang disabilitas) itu sangat berat. Ketidakpahaman orang dewasa terhadap anak berkebutuhan khusus kadang justru menyakiti anak tersebut secara mental. Saya tidak menyalahkan orang dewasa karena ketidaktahuannya tapi ternyata sikap mau menghargai perbedaan memang harus diajarkan agar terbiasa dengan perbedaan itu.

Oya di halaman terakhir novel ini ada bagian wawancara dengan penulis mengenai bagaimana ide membuat cerita peculiar ini bermula. Ternyata ada ya orang yang suka mengoleksi foto-foto lama yang memotret keanehan, entah itu asli atau memang sudah dikonsep. Dan dari situ muncul tokoh-tokoh unik yang dimasukkan ke ceritanya. 

Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca novel ini. Dunia peculiar adalah dunia baru yang ternyata menyimpan banyak hal ajaib. Saya tidak sabar ingin melanjutkan petualangan Jacob setelah dia meninggalkan keluk di Pulau Cairnholm. 

Saya juga sangat suka dengan penerjemahan novel ini karena begitu baik jalinan diksinya. Penjelasannya sangat bisa dipahami dan sepanjang membaca saya merasa tidak kesulitan meskipun bertebaran istilah-istilah baru.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Miss Peregrine's Home for Peculiar Children karya Ransom Riggs ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Maret 21, 2026

Review Novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu - Lee Kkoch-Nim

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Keberuntungan Sedang Menghampirimu

Penulis: Lee Kkoch-Nim

Penerjemah: Iingliana

Desain sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025

Tebal: 208 hlm. 

ISBN: 9786020686585


Hyeong-su dan Wu-yeong secara kebetulan melihat teman sekelas mereka, Eun-jae, dipukuli ayahnya dengan brutal. Semenjak itu keduanya terusik, ada panggilan hati ingin tahu lebih banyak apa yang sebenarnya terjadi di hidup Eun-jae. Umur mereka yang masih 15 tahun menjadi gap untuk jadi pahlawan melawan orang dewasa. Tapi kekerasan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Apakah Hyeong-su dan Wu-yeong bisa menyelamatkan Eun-jae?



***

Jujur, baca novel ini bener-bener bikin sesak nafas, sedih, marah, dan sakit hati. 

Novel ini berhasil menggambarkan penderitaan remaja perempuan yang mengalami kekerasan oleh ayahnya sendiri. Ibunya Eun-jae pergi meninggalkannya dan sejak itu ia jadi sasaran amarah ayahnya. Rumah sudah seperti neraka, penuh kemarahan, penuh luka, dan penuh ketakutan. Mental Eun-jae sudah rusak, ia bahkan tidak yakin bisa keluar dari penyiksaan itu dan yang ada dalam benaknya hanya ingin mati saja. Orang di sekitarnya yang pernah mencoba membantu tapi tidak berhasil makin membuat Eun-jae pesimis dengan takdir hidupnya.

Hyeong-su dan Wu-yeong jadi tokoh yang membawa aura beda di novel ini. Persahabatan mereka lucu dan konyol. Saya sangat terhibur dengan ulah mereka yang bikin banyak salah paham. Gong-nya pas ide Hyeong-su supaya Wu-yeong tidak jadi bahan gosip kalau ia pacaran dengan Ketua Kelas justru bikin membuat Ketua Kelas resmi jadi pacar Wu-yeong. Dari sini hubungan ketiganya makin dinamis dan kemudian terseret ke masalah Eun-jae.

Meskipun keduanya kelihatan seru tapi sebenarnya mereka punya masalah masing-masing. Hyeong-su berasal dari keluarga harmonis tapi masalahnya adalah dia tidak tahu ia ingin jadi apa. Sedangkan Wu-yeong memiliki masalah lebih pelik sebab ia jadi anak yang dibebani obsesi ibunya untuk selalu berhasil. Hidupnya diisi banyak les karena menurut ibunya jika anaknya mendapat nilai 100, maka ibunya pun sukses mendapatkan nilai 100.

Sedih banget pas baca bagian ucapan ibunya Wu-yeong, "Sudah berapa kali kubilang kau harus berhasil supaya ibumu juga berhasil? Sudah berapa kali kubilang kalau kau gagal, hidup ibu juga akan gagal? Sudah berapa kali?!" (hal. 143) Mental anak yang dipaksa sempurna benar-benar rusak dan rentan. Kata-kata tekanan membuat jiwanya jadi pengecut, bimbang memutuskan sesuatu, dan komitmennya angin-anginan.

Novel ini cukup unik karena menggunakan sudut pandang dari dewi keberuntungan yang saban waktu mengawasi tokoh-tokoh di sini. Ada beberapa pernyataan berisi simpati dari dewi keberuntungan dengan nasib remaja-remaja ini. Tapi porsi kemunculan sudut pandang ini minim jadi tidak bikin bingung, kayak baca novel umumnya yang pakai POV ketiga saja.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan penulis sangat beragam. Selain Eun-jae, Wu-yeong, dan Hyeong-su, kita akan kenalan juga dengan tokoh lainnya yang punya peran penting seperti Ketua Kelas, Pelatih Choi, dan Ji-jeong. Mereka adalah orang-orang hebat yang bisa menarik Eun-jae keluar dari neraka hidupnya.

Dari novel ini kita diajak merenung soal bisakah kita membantu orang-orang di sekitar kita yang mengalami kekerasan. Atau justru kita akan abai dengan dalih bukan urusan kita. Apakah jika kita melihat anak yang dibully oleh teman-temannya kita akan membantu? Atau apakah jika kita melihat perempuan muda yang dikasari pacarnya kita akan membantu? Saya sedih banget pas membayangkan jika tokoh Eun-jae sampai meninggal gara-gara tokoh-tokoh lainnya tidak bisa membantu dengan maksimal padahal mereka tahu seberat apa masalah yang menimpanya. Untungnya penulis tidak membuat ceritanya jadi begitu gelap.

Ada bagian paling super emosional di novel ini yaitu saat Eun-jae sudah dijauhkan dari ayahnya dan ia mendapati keadaan kontainer sepak bola tempat aman ia tinggal dalam kondisi berantakan. Eun-jae sangat marah dan ia berlari kencang. Bukan menuju ayahnya untuk membalas semua ulahnya melainkan ke kantor polisi. Ia membuka kardigan yang selama ini dipakai untuk menutupi lukanya. Dan pada momen itu polisi pun ternganga melihat saking parahnya kekerasan yang sudah dialami Eun-jae. Memar di atas memar, luka dibekas luka. Klimaksnya saat Eun-jae bilang, "Tolong... aku." SUMPAH SEDIH BANGET.... KENAPA BARU SEKARANG, EUN-JAE?


  • Hidup sering kali bergurau dan hanya sesekali menyediakan kesempatan. Namun, orang-orang tidak bisa mengetahui kesempatan-kesempatan apa yang tersedia untuk mereka. Kesempatan untuk dimaafkan, kesempatan untuk menjadi berbeda, kesempatan untuk mengubah hidup (hal. 65)
  • Membesarkan anak memang sulit. Kau mungkin merasa baru mulai berhasil menyesuaikan diri, tetapi anak-anakmu sudah melompat jauh mendahuluimu (hal. 79)
  • Cinta sejati adalah menyukai seseorang apa adanya. Seandainya kau lebih kurus, seandainya kau lebih tinggi sedikit, seandainya kau lebih pintar bicara, seandainya kau lebih pintar di sekolah... Bukannya membicarakan kekurangan yang tidak ada akhirnya, seharusnya seseorang disukai karena segala hal tentang dirinya (hal. 112)
  • Hidup itu bagaikan bola yang tidak bisa diduga ke mana arah pantulannya. Kitalah yang menentukan apakah kita bisa mempertahankan bola itu atau membiarkan lawan merebutnya (hal. 117)
  • Orangtua bodoh yang yakin bahwa anak-anak yang berusaha keras memahami orangtua, meski harus menerima berbagai kata-kata dan tidakan kasar, adalah anak-anak yang patuh dan akan tumbuh besar tanpa masalah. Berbeda dengan dugaan bodoh kalian, anak-anak justru akan semakin menjaga jarak. Ketika anak-anak semakin kuat dan tidak lagi takut pada kalian, mereka pasti akan bersiap-siap meninggalkan kalian tanpa menoleh ke belakang (hal. 146)
  • "Kalau kau membuat seseorang tertawa, bukankah itu berarti kau orang yang berguna?" (hal. 203)


Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca oleh siapa pun. Biar kita lebih peduli dengan orang-orang yang mengalami kekerasan tapi tidak bisa minta tolong saking korban ketakutan. Sedih, lucu, dan menghangatkan hati membuat novel ini begitu bermakna. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu karya Lee Kkoch-Nim ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Februari 22, 2026

Review Novel The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz) - L. Frank Baum

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz)

Penulis: L. Frank Baum

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Editor: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Januari 2026

Tebal: 182 hlm.

ISBN: 9786020686455


Mengawali bacaan di Februari dengan novel klasik yang ringan dan bisa dibilang ini buku untuk anak-anak.

Novel ini menceritakan anak perempuan bernama Dorothy yang diasuh oleh Bibi Em dan Paman Henry. Suatu hari rumah mereka dihempas angin puyuh dan membawa Dorothy dan anjingnya, Toto, terdampar di Negeri Oz.

Negeri Oz adalah negeri yang indah dan tenang namun Dorothy tetap ingin kembali ke Kansas untuk bertemu dengan bibi dan pamannya. Kata para Munchkin, Dorothy harus meminta tolong Penyihir Agung Oz di Kota Zamrud. 

Petualangan Dorothy dan Toto pun dimulai. Namun ia tidak sendirian sebab dalam perjalanannya Dorothy bertemu dengan Orang-orangan Sawah, Penebang Kayu Timah, dan Singa Penakut. Mereka melakukan perjalanan dengan membawa harapan masing-masing. Dorothy ingin kembali ke Kansas, Orang-orangan Sawah ingin diberikan otak agar tidak bodoh, Penebang Kayu Timah ingin diberikan hati agar memiliki perasaan, dan Singa Penakut ingin diberikan keberanian.

Banyak halangan dan tantangan yang menghadang tetapi berkat saling tolong menolong mereka bisa melaluinya. 

Tetapi apakah Penyihir Agung Oz akan mengabulkan harapan mereka?



***

Dengan membawa tema petualangan, novel ini sangat seru dibaca. Walau tujuan utamanya bertemu dengan Penyihir Agung Oz, namun penulis tidak menyelesaikan perjalanannya semudah itu. Dorothy dan teman-temannya harus pergi ke Negeri Winkie untuk menghancurkan Penyihir Jahat dari Barat. Dan setelah berhasil, Oz meninggalkan Kota Zamrud dengan balon udara. Dorothy dan teman-temannya kembali harus ke Selatan menemui Penyihir Baik, Glinda.

Perjalanan Dorothy dan teman-temannya yang enggak mudah membuat kisahnya semakin menarik dan membuat penasaran. Mereka dikejar binatang buas, harus melewati taman Opium yang beracun, hampir terbawa arus sungai besar, harus menghadapi mahluk aneh di balik bebatuan dan masih banyak rintangan lainnya.

Selain itu cerita latar belakang beberapa tokoh menambah kisahnya lebih utuh seperti awal mula Orang-orangan Sawah dibuat atau kenapa Penebang Kayu Timah bisa jadi seperti sekarang padahal dulunya adalah manusia.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan pun ampuh menghidupkan cerita. Dengan ragam bentuk dan keajaiban yang dimunculkan, kisah fantasinya semakin lugas terasa. Apalagi dunia Oz yang dibangun penulis yang luas dan memiliki kekhasannya masing-masing membuat kisahnya jadi lebih fantastis.

Dari novel ini kita bisa belajar tentang ketulusan membantu sesama agar kebaikan itu kembali kepada kita. Dorothy dan teman-temannya kerap membantu beberapa makhluk lain dan mereka pun selalu terbantu ketika kesulitan datang.

Novel ini menyenangkan dibaca dan pas kalau dibaca anak-anak. Tidak sulit mengikuti ceritanya meskipun ini fantasi. Saya sangat bisa menikmati petualangan Dorothy dan teman-temannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel The Wonderful Wizard Of Oz karya L. Frank Baum ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Januari 25, 2026

Review Buku Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene - Rita Triana Budiarti

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]




Judul: Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene

Penulis: Rita Triana Budiarti

Foto: Timur Angin, Joen Ginting, Toto Prasetyanto, courtesy of Miles Film & KG Studio

Desain cover: emte

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2014

Tebal: 128 hlm.

ISBN: 9786020311616


Sempat ada di momen saya penasaran dengan film kolosal Pendekar Tongkat Emas tetapi karena kesempatan menontonnya belum ketemu, jadi saya iseng membaca buku behind the scene-nya saja.

Buku ini memuat semua proses yang dilakukan dalam pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Dimulai dari memutuskan ide cerita, lokasi, penulisan naskah, pemilihan para pemain, koreografi silat, desain artistik, kostum, tata rias, dan cerita selama di lokasi syuting.

Ternyata film ini berangkat dari nostalgia seorang Mira Lesmana pada bacaannya waktu kecil. Dia sempat mengembangkan naskah film kolosal yang diangkat dari komik silat tapi dengan pertimbangan matang Mira memutuskan membuat cerita baru yang tidak berkorelasi dengan cerita yang sudah ada. Kenapa tongkat emas yang dipilih juga dibocorkan di buku ini. Dan sutradara yang memegang film ini bukan Riri Riza, partner bikin film Mira Lesmana, melainkan Ifa Isfansyah. Detailnya baca aja ya!



Pemilihan Sumba sebagai lokasi syuting karena kebutuhan film menemukan lokasi yang masih alam banget. Hunting lokasi ke beberapa tempat indah terpotret dan Sumba sebagus itu lho. Dan ini memengaruhi pada pemilihan warna untuk kostum dan tata rias agar bisa baur dengan latarnya.

Film ini berhasil menggaet banyak bintang; Nicholas Saputra, Eva Celia, Christine Hakim, Reza Rahardian, Tara Basro, dan Aria Kusumah. Bagaimana mereka bisa bergabung terceritakan secara singkat di buku ini dan menarik sekali pertimbangan mereka.

Karena ini film silat, butuh ahli untuk membuat koreografi gerakannya. Dan tidak main-main, film ini mendatangkan Xiong Xin Xin, tokoh film dan penata koreografi dari Tiongkok. Para pemain pun digembleng silat beberapa bulan agar pada saat akting tidak kaku, apalagi harus melakukan gerakan-gerakan pertempuran yang tidak bisa asal-asalan.

Selama proses syuting, Sumba yang merupakan daerah tropis, alias jarang hujan dan kebanyakan panas, menguji ketahanan para pemain dan kru. Proses adaptasi yang dijalani pun cukup melelahkan. Membaca pengalaman pemain selama di lokasi syuting sangat menarik. 

Buku tipis ini semacam rekaman proses pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Pembaca dimanjakan betul dengan foto-foto yang indah. Tulisan yang menyertainya tak banyak jadi sebenarnya buku ini bisa dibaca tuntas dalam sekali duduk.



Setelah membaca buku ini, saya masih penasaran dengan filmnya. Tetapi jika mengikuti kata hati, kayaknya film Pendekar Tongkat Emas akan lebih dikenal masyarakat jika jadi series saja. Apalagi jika tayang di televisi, bisa jadi pilihan tontonan bagus untuk anak-anak agar nilai kepahlawan dan membela kebaikan bisa terajarkan. Seperti kehadiran film Wiro Sableng jaman dulu, dari sana penonton seperti saya seperti menemukan figur pahlawan baik lewat sosok pendekar.

Buku ini bisa menjadi bacaan singkat untuk pembaca yang penasaran bagaimana isi dari dunia perfilman lewat projek film Pendekar Tongkas Emas. Harapannya film-film lain juga membuat buku seperti ini karena menarik banget pas pembahasan ide ceritanya. Saya yakin setiap film itu punya latar belakang ide yang beda-beda dan ini pasti menarik dibahas.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku Pendekar Tongkas Emas Behind The Scene yang ditulis Rita Triana Budiarti ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Januari 17, 2026

Review Novel Mata Dan Nyala Api Purba - Okky Madasari

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Mata Dan Nyala Api Purba

Penulis: Okky Madasari

Ilustrasi dan kover: Restu Ratnaningtyas

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025, cetakan keenam

Tebal buku: 236 hlm.

ISBN: 9786020648477


Novel kover warna merah ini jadi buku terakhir dari petualangan Matara. Setelah saya membaca ketiga buku lainnya; Mata Di Tanah Melus, Mata Dan Rahasia Pulau Gapi, dan Mata Dan Manusia Laut, saya menunggu kesempatan untuk menuntaskan serial ini. Tetapi novel pamungkas ini sulit didapat. Dari beberapa perpustakaan digital yang saya ikuti (Ijak, Ipusnas, dan Ruang Buku Kominfo) saya tidak menemukan ebook novel ini. Baru di awal tahun ini saya memutuskan untuk beli buku fisiknya saja pas ada promo di Lazada.

Yang membedakan dari tiga judul sebelumnya, tokoh Matara di novel ini digambarkan sudah dewasa. Dia menjadi guru Biologi di Sekolah Semesta. Latar waktu pun dijelaskan kalau negeri ini sudah mengalami kemajuan teknologi. Banyak detail penjelasan kemajuan teknologi yang memengaruhi sistem sekolah.

Petualangan kali ini Matara tidak sendirian, dia menemani murid perempuan berusia 12 tahun bernama Binar. Keduanya terlibat proyek menciptakan binatang baru yang pada satu malam kemunculannya yang banyak mengagetkan Sekolah Semesta. Ditambah ada tragedi tangan Matara digigit mahluk itu sehingga harus menjalani perawatan.

Mahluk itu diberi nama Bibikus, penggabungan dari nama Binar dan Tikus. Yup, jadi Binar dan Matara melakukan eksperimen membuat tikus bisa bertelur dan menetaslah menjadi Bibikus. Ajaibnya Bibikus ini tercipta sebagai pemakan apa pun tapi mereka lebih suka makan tumbuhan dalam jumlah banyak. Alhasil, pertumbuhan mereka sangat pesat setiap harinya. 

Dewa, kepala sekolah di Sekolah Semesta, yang dikenal cerdas, memiliki rencana lain dengan Bibikus. Namun situasi jadi keos saat Bibikus sudah sebesar gajah dan mereka berontak kabur dari sekolah. Dalam pengejaran itu, Matara, Binar dan beberapa Bibikus terjerembab ke lubang besar dan dalam di Hutan Purba. Dalam proses mencari jalan keluar, mereka justru memasuki lorong waktu ke masa purba. Matara dan Binar akhirnya bertemu dengan manusia purba, binatang yang disebut Owa, dan raksasa purba yang disebut Homo Erectus.


Owa

Manusia Purba

Bibikus Kecil


Bibikus Besar

Secara keseluruhan, novel pamungkas ini memiliki tema petualangan yang digabungkan dengan sejarah manusia purba, yang ada mata pelajaran sejarah tingkat SMP. Selain itu, kisah petualangannya mengingatkan saya pada cerita film Jumanji. Petualangan melintasi alam raya dan bertemu dengan sesuatu yang baru di masa lampau.



Konflik utama dari novel ini soal Binar yang menyayangi Bibikus, tapi Bibikus di mata manusia purba hanya sebagai makanan. Manusia purba harus bersinggungan dengan mahluk Owa karena perjanjian damai yang dilanggar Binar. Dan di saat bersamaan, keberadaan Owa rawan diserang raksasa purba. Dari sini kita seperti melihat segitiga rantai makanan. Yang kuat yang menang. Eits, tapi di jaman purba ada kekuasaan yang kuat lainnya yaitu siapa yang bisa mengendalikan api, dialah penguasa.

Yang menarik justru pada saat menuju akhir cerita, ketika rombongan Matara, Binar, Dewa, dan timnya pulang setelah dipastikan kepunahan jaman purba, mereka memasuki lorong yang salah dan membawa ke jaman lainnya. Dewa sengaja menuntun manusia pada jaman itu ke masa depan untuk jadi bukti penemuan besarnya tapi lorong waktu menjegahnya demi peristiwa masa depan tidak berubah.

"Kita bisa pergi ke masa lalu, tapi kita tak bisa mengubah apa yang harus dan telah terjadi." [hal. 208]

"Kita bisa datang ke dunia mereka karena waktu kita lebih cepat daripada mereka. Tapi mereka tak bisa pergi ke tempat kita karena mereka ada di belakang. Waktu mereka sudah berhenti. Sudah mati!" [hal. 222]

Sebagai buku penutup serial Matara, saya cukup puas dengan cerita petualangan yang disajikan. Apalagi dalam petualangannya selalu berlatar di negeri tercinta. Tetapi, kayaknya serial ini memang pas ditujukan untuk anak SMP. Secara gaya penceritaan, diksi, dan konflik, terbilang lebih berat jika ditujukan untuk anak SD ke bawah. 

Dari keseluruhan serial ini kita bisa mengenal lebih banyak cerita urban di beberapa daerah dan cuplikan sejarah yang dibalut imajinasi. Menyenangkan untuk jadi jeda setelah membaca buku atau novel yang butuh perenungan dan menguras emosi. 

Karena serial Matara sudah kelar, saya berencana untuk membaca karya Okky Madasari yang lainnya. Tercatat baru novel 86 saja yang sudah saya baca dan kini waktunya memburu bacaan beliau lainnya, hehe.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Mata Dan Nyala Api Purba karya Okky Madasari ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


September 18, 2025

Review Novel Koloni - Ratih Kumala

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Koloni

Penulis: Ratih Kumala

Editor: Mirna Yulistianti

Ilustrasi sampul & isi: Alit Ambara

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Agustus 2025, cetakan pertama

Tebal: vi + 246 hlm.

ISBN: 9786020684451

Tag: fabel, semut, koloni, kekuasaan, ratu



SINOPSIS

Novel Koloni ini menceritakan semut ratu muda bernama Darojak yang masih hidup setelah sarang dan koloninya porak-poranda diterjang perusakan hutan oleh mesin yang dikendarai manusia. Ia diselamatkan oleh semut jantan bernama Sunar dan membawanya ke koloninya.

Mak Momong yang bekerja di Departemen Perawatan dan Pengasuhan menyembunyikan keberadaan Darojak dari Ratu Gegana dengan mempekerjakannya sebagai pengasuh. Ini dilakukan karena Darojak adalah semut ratu dan dalam satu koloni tidak boleh ada dua ratu.

Rahasia pasti terbongkar dan begitu juga keberadaan Darojak. Ratu Gegana tahu keberadaan Darojak dari feromon cinta yang dikeluarkan Darojak saat kasmaran dengan Sunar. Mak Momong menentang pengusiran Darojak karena Darojak lebih memungkinkan melahirkan semut pekerja, bukan semut jantan, dan bisa memperkuat dan memperpanjang keberlangsungan koloni. Ratu Gegana yang selama ini hanya melahirkan semut jantan tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak itulah persaingan dua ratu semut api dimulai.



RESENSI

Sempat maju-mundur mau beli novel ini karena saya belum baca novel Gadis Kretek dan novel Saga Dari Samudra yang sudah saya punya. Tapi gara-gara diskon di Lazada akhirnya beli juga.

Novel ini kategori fabel karena tokoh ceritanya berupa hewan yaitu semut api. Konsep cerita yang menarik karena jarang banget ada novel begini. Dan setelah saya membaca sampai tuntas, jujur, rasanya kayak habis nonton drama korea.

Konflik utama novel ini tentang perebutan kekuasaan antara dua ratu semut, Ratu Gegana dan Ratu Darojak, di sebuah koloni. Ratu Gegana adalah ratu asli koloninya, sedangkan Ratu Darojak adalah ratu pendatang yang diselamatkan dan masuk koloni. 

Mak Momong sebagai semut tua di Departemen Perawatan dan Pengasuhan menjadi yang paling bertanggung jawab atas situasi tersebut. Dia mempertahankan Darojak untuk melengkapi kekurangan Ratu Gegana dan tujuan besarnya agar koloni tidak punah.

Saya suka dengan penggambaran dunia semut yang detail. Saya baru tahu kalau semut bisa mengeluarkan feromon berbagai jenis sesuai situasi yang dihadapi misalnya feromon cinta, feromon panik, feromon menyerang, feromon sedih dan masih banyak lagi. Dunia semut juga punya hierarki yang jelas. Ratu adalah posisi tertinggi yang dilayani oleh semut pekerja, semut pemburu, semut prajurit, semut dayang dan semut jantan. Setiap posisi memiliki tugas masing-masing dan tidak boleh mencampuri posisi semut lain. Yang paling dikritisi adalah semut jantan karena ternyata tugasnya hanya mengawini semut ratu, dan tidak bisa diandalkan untuk bertarung atau mencari makan.

Proses kawin semut juga sangat menarik. Semut ratu akan terbang lalu dinaiki semut jantan. Kemudian terjadilah proses transfer sperma ke spermatheca untuk dibuahi bertahun-tahun. Semut ratu bisa dikawini oleh banyak semut jantan. Naasnya kebanyakan semut jantan yang telah mengawini semut ratu akan mati sebagai konsekuensi perannya.

Saya salut dengan penceritaan penulis yang bagus yang bisa membuat saya lupa kalau tokoh di novel ini tuh semut. Gampang banget saya diajak bersimpati dengan nasib beberapa tokoh. Ini bukti kalau emosi yang dibangun penulis bisa sampai ke pembacanya. 

Kita juga bakal menemukan kejutan-kejutan yang mengagetkan. Yang paling susah saya terima itu keputusan penulis membuat beberapa tokohnya mati padahal perannya vital dan saya sudah berharap tokoh itu bakal punya happy ending. Saya kaget tapi enggak sekecewa itu karena tahu ini cara penulis agar tokoh utamanya punya kedalaman karakter dari peristiwa menyedihkan yang dialaminya. Hasilnya novel ini jadi begitu emosional.

Walau ini cerita semut, banyak momen yang justru terasa sangat manusiawi. Terutama jika menyoroti dinamika hubungan antar semut. Ada penggambaran hubungan tidak harmonis antara ibu dan anak perempuan. Ada persaingan dan iri hati antara saudara kandung. Ada romansa merah jambu sepasang kekasih semut. Ada juga gambaran hubungan antara penguasa dan bawahan. Ceritanya terasa begitu kaya pembelajaran.

Tokoh semut yang muncul begitu hidup. Ratu Darojak adalah semut ratu yang baik, tahu diri, dan bijaksana. Ratu Gegana jadi antagonis dengan sifat iri, pemarah, dan jahat. Terasa sekali ambisinya menjadi ratu satu-satunya di koloni, sampai-sampai dia tega melakukan tindakan brutal. Mak Momong jadi sesepuh di koloni dengan pembawaan tenang, cerdas, dan bijaksana. Dia terlatih karena pernah jadi semut ratu sebelum akhirnya dikudeta anaknya sendiri. Sunar sebagai semut jantan yang memiliki pola pikir berbeda dengan mimpi melakukan petualangan di luar koloni. Jantung Hati adalah anak semut Ratu Darojak yang lahir dengan kondisi sayap tidak sempurna padahal dia semut ratu yang akan jadi penerus di koloni. Hari Bahagia adalah saudara Jantung Hati yang lahir dengan kesempurnaan namun ia diperlakukan berbeda oleh Ratu Darojak sehingga membuatnya begitu kesal.

Oya, latar tempat yang dipilih penulis ternyata di IKN sebelum hutannya dibabat. "Ya sudah, kita bikin saja proposal dananya. Ini kan mau bikin ibukota baru, nggak mungkin nggak ada duitnya, kan?" (hal. 242) Jadi masuk akal kenapa koloni Darojak dihantam perusakan, buat IKN toh!

Menurut saya novel Koloni ini punya ide cerita yang fresh, seru, dan emosional. Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca yang suka cerita politik kekuasaan walau di sini masih skala kecil. 

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Koloni ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Juni 25, 2025

Review Novel The King Of Torts (Ganti Rugi) - John Grisham

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: The King Of Torts (Ganti Rugi)

Penulis: John Grisham

Penerjemah: Hidayat Saleh

Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Oktober 2004, cetakan kedua

Tebal: 544 hlm.

ISBN: 9792206760

Tag: hukum, sidang, pengacara


Dari dulu sudah pengen baca novel dari penulis John Grisham karena yang saya tahu temanya kebanyakan soal hukum dan kriminal. Koleksi saya baru dua buku, selain yang ini, ada judul lain yaitu The Confession (Pengakuan). Saya pilih novel ini jadi perkenalan karya beliau karena enggak setebal yang satunya, dan ukuran buku ini lebih kecil dibandingkan ukuran novel pada umumnya.

Ide cerita novel ini tentang pengacara Kantor Pembela Umum bernama Clay Carter yang hidupnya biasa saja, kemudian dia banting setir menjadi pengacara ganti rugi atas bujukan Max Pace dan dia berubah mendadak jadi kaya raya.

Karena tema soal hukum dan pengacara, kita akan melihat dunia seorang pengacara menjalankan tugasnya. Salah satunya membantu gugatan klien. Di sini diperlihatkan strategi-strategi menangani kasus gugatan, melawan pengacara lain di persidangan, dan proses mengumpulkan fakta-fakta agar kasusnya jadi terang benderang.

Kebusukan pengacara pun dijabarkan jelas, apalagi jika jadi pengacara ganti rugi. Mereka menyasar perusahaan yang mempunyai produk jelek dan merugikan konsumen. Dimulai dari mengumpulkan konsumen yang dirugikan pemakaian produk, ditelaah efek jeleknya oleh tenaga ahli, dan setelah divaliditas keterhubungan antara produk dan efek sampingnya, pengacara-pengacara ini mendampingi konsumen tadi menggugat perusahaan tersebut.

Sebagai perusahaan, gugatan pengacara ini bakal menimbulkan banyak kerugian. Citra perusahaan dipertaruhkan dan jika sampai ke persidangan bisa menjadi kasus pidana. Makanya para pengacara mempunyai opsi penyelesaian tanpa sidang, dengan membayarkan ganti rugi. Jumlah uang yang dikeluarkan perusahaan untuk setiap penggugat akan dipotong sebagian sebagai jasa pengacara. Jika penggugat sampai ratusan bahkan ribuan, jumlah uang yang didapat juga makin banyak.

Sekilas posisi pengacara ganti rugi sedang melindungi konsumen. Pada batas tertentu memang betul, tapi penyelesaian ganti rugi kadang jadi keputusan salah jika kerugian di masa depan lebih besar dibandingkan penggantian saat kasusnya diselesaikan.

Setelah tahu kasusnya, saya jadi berpikir, jangan-jangan di Indonesia pun banyak produk-produk buruk yang bisa dibawa ke pengadilan. Contohnya, dulu pernah ada obat sirup yang dinyatakan membahayakan kesehatan anak dan harusnya masyarakat yang pernah menggunakannya bisa menggugat ganti rugi karena penggunaannya pasti memengaruhi kesehatan. Sayangnya, kasus begini belum dijadikan kasus besar. Padahal gugatan begini bisa jadi momen perubahan besar bagi semua pihak sebelum produk dipasarkan untuk dikonsumsi masyarakat.

Selain tema hukum dan pengacara, cerita romansanya pun menarik. Clay dan Rebecca memiliki perbedaan status sosial. Orang tua Rebecca kadang mencampuri keputusan mereka. Patah hati enggak bisa dihindari saat Rebecca menikah dengan pria lain yang lebih mapan. Move on jadi babak baru yang butuh kerja keras.



Tokoh Clay Carter digambarkan manusiawi banget. Selain kegugupan dalam gaya hidup ketika dari pengacara biasa menjadi kaya raya, ambisi menunjukkan ego pun diperlihatkan Clay saat ia membayar model cantik yang ditunjukkan di pesta pernikahan Rebecca. Apa uang menyelesaikan masalah Clay? TIDAK! Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Clay tetap merasa kesepian.

Clay juga jadi contoh tokoh yang dikalahkan keserakahan. Sukses di dua kasus awal, ia dihantam karma buruk di kasus ketiga. Sejak awal Clay tahu ada yang tidak beres di kasus terbarunya tapi jumlah duit gede membutakan firasatnya itu. Dan BOMM, kasus ketiga menyeretnya pada keterpurukan. Miris sekali, apalagi saat beberapa orang di sekitarnya mencoba mencegah tapi tidak berhasil.

Hubungan Clay dengan ayahnya dan teman-temannya juga mengharukan. Saat sukses dan terpuruk mereka ada mendampingi. Kuncinya adalah karma baik dari kebaikan yang diberikan. Saat Clay di titik terendah karena butuh uang banyak, teman-temannya yang dulu pernah diberi bonus super gede, datang menawarkan memberi bantuan dari uang yang dulu juga. Percakapan yang bener-bener menyentuh hati.

Gaya bercerita di novel ini sangat baik. Detail, runut, tahu poin-poin mana yang harus digali lebih dalam, dan penggambaran yang tidak bertele-tele. Penokohan pun sangat menarik. Tidak ada yang digambarkan baik banget bak malaikat, melainkan diselipkan juga sisi abu-abu. Latar belakang tokoh utamanya pun cukup bulat dan lengkap. 

Kesimpulannya, saya sangat menikmati cerita dengan tema hukum, kriminal, dan pengacara. Dan saya makin tertarik membaca judul karya penulis lainnya. Walau tebal, tapi ceritanya memuaskan.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel The King Of Torts ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Mei 09, 2025

Review Novel Satine - Ika Natassa

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Satine

Penulis: Ika Natassa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2024

Tebal: 336 hlm.

ISBN: 9786020679983

Tag: kesepian, jodoh, karir, metropop


Karir bagus, umur sudah kepala tiga, tapi kekasih belum punya. Satine merasa kesepian. Lewat aplikasi jodoh Bespoke ia dipertemukan dengan pria bernama Ash Risjad. Satine butuh teman kencan dan Ash butuh teman ngobrol. Keduanya sepakat untuk berkencan dengan ketentuan tertentu.

Kencan kontrak tetap punya resiko, salah satunya menumbuhkan rasa sayang, dan itu jadi pelanggaran kesepakatan. Sejak pengakuan Ash itu, mereka mengakhiri kontrak kencan tersebut. Bukannya perasaan itu makin memudar, justru makin menyiksa. Asumsi-asumi tumbuh di hidup masing-masing. Dan efek perpisahan itu mengguncang hidup Satine dan Ash secara signifikan.

Perasaan sedih dan gundah yang dihadapi keduanya memberi momen merenung mengenai luka di masa lalu. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang belum rampung. Tentang Satine dan kebahagiannya bekerja. Tentang Ash dan kebencian kepada ayahnya yang kasar.

Apakah Satine bisa menemukan kebahagiaan yang sebenarnya? Apakah Ash bisa menerima kenyataan kalau ia memiliki darah ayahnya? Dan takdir apa yang akan digariskan untuk keduanya?

***


Novel Satine jadi novel ketiga yang saya baca dari deretan karya Ika Natassa. Sebelumnya saya sudah membaca novel Critical Eleven dan novel The Architecture of Love. 

Novel ini membahas nelangsanya jadi orang yang secara umur pada umumnya sudah harus menikah (kepala tiga) tapi pacar aja enggak punya. Digambarkan jadi orang kesepian, kalo nonton sendirian, sibuk dengan pekerjaan sampe lembur, ada momen senang atau sedih tidak bisa berbagi dengan siapa pun. Momen-momen menyedihkan jadi joblo ngenes terasa banget di sini.

Karir bagus, duit banyak, tapi kalo kesepian, enggak membuat kita bahagia. Duit dipakai untuk melarikan diri dari rasa sepi, tapi percayalah, saat menjelang tidur, perasaan sendirian itu mendekap erat dan otak kita akan melayang mempertanyakan kenapa nasib begini amat, keputusan apa yang salah di masa lalu, dan kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk merubahnya. Jujur, kesepian itu perasaan yang bisa disangkal di mulut tapi di dalam hati enggak bisa diajak bohong.

Bakal jadi debat panjang kalau diulik kenapa Satine masih lajang di usia 37 tahun padahal karirnya gemilang. Setiap orang punya alasan kenapa belum mempunyai pasangan. Tapi yang bahaya itu kalau alasannya berupa keegoisan kita. Satine bekerja mati-matian untuk mengejar validasi dari ibunya. Lalu, ketika validasi didapat, apa itu merubah situasi. Jawabannya, merubah, tapi tidak keseluruhan. Apa bikin bahagia? Satu sisi iya, sisi lain ia juga kehilangan banyak.

Kemapanan memang bisa dikejar, tapi waktu yang seharusnya dinikmati terbuang percuma. Saat Satine umur 37 tahun, temannya sudah menikah. Mungkin temannya tidak sekaya Satine, tapi saya percaya temannya ini sudah mengalami susah-senang bersama pasangan, pengalaman hidupnya sudah kaya, dan bersama pasangan ia sudah belajar banyak untuk jadi bijaksana.

Dan yang paling menohok buat saya, seloyal-loyalnya kita ke perusahaan, ketika kita sudah tidak bermanfaat lagi, kita akan disingkirkan dan diganti dengan karyawan yang baru. Ini hukum alam corporate. Dan kita harus mengakui kalau tanpa kita pun perusahaan akan tetap jalan. Jadi, buat apa kita jadi budak perusahaan sampai membuat kita kehilangan waktu menikmati hidup dan kesehatan. Bekerjalah dengan baik, bekerjalah dengan porsinya.



Novel ini juga menyinggung isu parenting dan kesehatan mental (trauma). Satine jadi sosok yang begitu karena di masa lalunya ada tuntutan dari ibunya untuk sukses. Dan itu jadi alasan utama kenapa Satine bekerja lebih keras. Ditambah hubungan keduanya terlalu dingin, jarang ngobrol, serba sungkan, dan egois karena tidak ada yang memulai, sehingga perjalanan Satine untuk mencapai puncak karirnya terkesan berjuang sendirian.

Lalu isu trauma bisa dipelajari dari tokoh Ash. Mempunyai ayah yang kasar dan pemarah membuat Ash berusaha untuk tidak seperti ayahnya itu. Lalu ada satu momen ia marah dan memukuli rekan kerjanya, Ash merasa gagal dan menganggap dirinya sebagai sosok monster, tidak jauh beda dengan sosok ayahnya. Gara-gara perasaan menjudge diri sendiri seburuk itu, Ash mengambil keputusan dan langkah yang keliru lagi. Jadilah drama jauh-jauhan dengan Satine yang menurut saya agak gimana gitu mengingat Ash itu sudah kepala tiga, harus bisa bijaksana ketika ia keliru langkah harusnya ia fokus membenahi, bukan meratapi.

Dari semua konflik di novel ini, saya diingatkan lagi soal arti pentingnya melakukan komunikasi tulus dan mendalam. Kalau kita ada masalah, ada salah paham, ada sesuatu yang perlu diperjelas, lakukan komunikasi, bukan justru berasumsi dan menebak-nebak. Manusia kebanyakan tidak diberikan kemampuan menebak isi pikiran orang lain jadi jangan mengandalkan 'orang lain harus tahu dan mengerti kita'. Mulailah memulai pembicaraan.

Sisi romansa begitu kental terasa di novel ini. Banyak kejadian biasa yang dikemas jadi momen romantis. Makan nasi padang dini hari bareng gebetan, lihat pameran lukisan di galeri, atau berdua melihat sebaran lampu menyerupai bintang. Dan kejadiannya bukan yang diada-adakan atau dipaksakan oleh penulis sehingga momen tadi terasa pas aja untuk ceritanya.

Secara alur cerita, kita akan dibawa terus maju mengikuti apa yang dialami oleh Satine dan Ash pasca mereka memutuskan mengakhiri kontrak kencan. Beberapa bagian menjelaskan masa lalu tapi porsinya tidak banyak, yah seperti penegasan saja, apa yang terjadi hari ini disebabkan oleh sesuatu atau keputusan di masa lalu.

Sedikit yang tidak nyaman adalah cara penulis membuat narasi terlalu lengkap untuk informasi sederhana. Banyak kalimat pembukaan yang dipakai (kebanyakan di awal paragraf tiap berganti POV). Tentu saja itu informatif tapi bagi saya itu mengurangi momen untuk mendalami alur utamanya. Ini tergantung selera juga sih, saya mungkin tipe yang ketika alur sedang jalan, saya butuh fokus yang intens masuk ke jalan ceritanya. Jangan diganggu dulu dengan narasi-narasi pendukung, saya lebih butuh narasi penggerak utamanya biar emosi yang sudah dibangun tidak buyar seketika.

Kalau untuk diksi tidak ada masalah. Terasa lugas dan cerdas. Banyak narasi bahasa inggris dan saya butuh waktu lebih lama untuk memahami isi paragrafnya. Tapi itu tidak menyurutkan semangat untuk membaca novelnya sampai kelar.



Sudut pandang dalam novel ini dibagi dua, bergantian antara Satine dan Ash. Yang membedakan penggunaan kata 'gue' di bagian Ash dan kata 'aku' di bagian Satine. Tapi saya tidak menemukan perbedaan rasa antara kedua bagian itu. Narasinya sama-sama terasa cerdas, sama-sama terasa pilu, dan sama-sama banyak menceritakan buah pikiran masing-masing.

Seandainya semua bagian menggunakan kata 'aku', dan judul bagian Satine atau Ash-nya dihapus, saya pasti kesulitan membedakan yang sedang bercerita itu Santie atau Ash, saking tidak ada gap dalam struktur narasinya. Katanya, narasi tokoh perempuan dan tokoh laki-laki harus memiliki perbedaan agar karakter tokohnya berkesan untuk pembaca. Contohnya kalau versi perempuan boleh banyak mengungkapkan pikirannya, kalau versi laki-laki dibuat lebih banyak narasi aksinya. 

Pendalaman karakter untuk tokoh utamanya sudah sangat baik. Satine Muchlis digambarkan sebagai pekerja keras, kesepian, tertekan dengan tuntutan dari ibunya, dan pejuang validasi. Sedangkan Ash Risjad digambarkan sebagai pria yang menyimpan trauma kekerasan, observer, dan perasa. Sayangnya, saya tidak terkesan dengan kedua tokoh ini. Mungkin karena kurangnya penggambaran kedekatan dengan orang-orang sekitarnya sehingga kebaikan keduanya tidak cukup terasa.

Kesimpulannya, menurut saya, novel ini memberi persepektif tentang pilihan beberapa orang yang mengejar karir sehingga urusan asmara rada kesulitan. Ada alasan kenapa pilihan itu dijalani, ada juga resiko yang timbul dari situasi tersebut. Setelah membaca novel ini, kita patut refleksi, sudah seberapa tepat kita mengambil keputusan, baik tentang asmara, finansial, dan keluarga. Dan pertanyaan berikutnya, sudahkan keputusan itu membahagiakan hidup kita?

Sekian ulasan novel Satine dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



April 07, 2025

Review Novel Makhluk Bumi - Sayaka Murata

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Makhluk Bumi

Penulis: Sayaka Murata

Penerjemah: Pegy Permatasari

Editor: Kartika E.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Februari 2025

Tebal: 264 hlm.

ISBN: 9786020681900

Tag: psikologi, pelecehan seksual, drama, jepang


Sinopsis

Waktu usianya 5 tahun, Sasamoto Natsuki mengaku dirinya penyihir sejak bertemu boneka landak yang dinamai Pyut, polisi sihir dari Planet Pohapipinpobopia. Khayalannya itu justru didukung oleh sepupunya, Yuu. Yuu merasa dirinya juga adalah alien. Natsuki dan Yuu memutuskan berpacaran dan itu jadi motivasi menyenangkan untuk kunjungan rutin tiap tahun ke rumah nenek, Rumah Akishina, di atas pegunungan. Sampai akhirnya sebuah kejadian membuat orang-orang sekitarnya memisahkan mereka.

Natsuki dewasa dinikahi Tomomi dengan konsep pernikahan aneh, tanpa sentuhan dan pengalihan dari tuntutan masyarakat. Setelah menikah, kali ini dituntut untuk memiliki anak. Natsuki merasa cocok dengan Tomomi karena cara berpikir yang sama. Tomomi juga merasa dirinya berasal dari Planet Pohapipinpobopia. 

Ide untuk kembali mengunjungi Rumah Akishina membuka wawasan baru dan liar tentang peran mereka di Bumi. Natsuki, Tomomi, dan Yuu bertualang lebih hebat dan mengerikan demi tidak terjebak sebagai makhluk bumi. Mereka yakin mereka bukan makhluk bumi.


Resensi

Saya kenal karya Sayaka Murata dari novel Convenience Store Woman atau Gadis Minimarket. Novel yang mendalami sisi kejiwaan wanita dewasa dengan menggabungkan isu-isu perempuan yang umum ditemui di masyarakat. Buku kumpulan cerpen karya penulis yang judulnya Upacara Kehidupan juga sudah sempat dibaca tapi belum selesai karena temanya yang lumayan berat. Dan begitu novel ini diumumkan saya sudah mengantisipasi penerbitannya karena penasaran kali ini akan membahas isu apa lagi.


Dunia Anak Dan Kerentanannya

Dua bab pertama menceritakan tentang Natsuki dan Yuu waktu masih kecil, usia sekitar 5 tahunan. Saya sudah menduga di awal kalau pengakuan Natsuki sebagai penyihir dan pertemanannya dengan Pyut hanya khayalan saja. Saya maklum sebab anak-anak kadang punya teman khayalan dan imajinasi mereka tidak terbatas. Saya cukup terhibur dengan dunia yang diciptakan Natsuki dan Yuu tentang Planet Pohapipinpobopia. 

Sayangnya, beberapa orang tua meremehkan imajinasi anak-anak dan justru tegas menolak kebiasaan mereka. Cap anak tidak berguna dan suka ngomong sembarangan membuat mental anak tertekan. Ini kesalahan besar orang tua, harusnya mereka mencoba memahami perkembangan otak anak dan membantu menanamkan pendidikan karakter karena usia anak-anak adalah usia emas.

Kecolongan bahaya besar dicontohkan oleh orang tua Natsuki dalam novel ini. Natsuki mengalami pelecehan oleh guru lesnya: suka meraba tubuhnya, memintanya mempraktikan mengganti pembalut di depannya, dan sampai mengajarkannya cara mengulum. Natsuki sadar kalau gurunya aneh dan dia pun mengadukan itu kepada ibunya. Yang bikin saya marah karena respon ibunya begini, "Apanya yang aneh? Bukannya kau hanya dimarahi karena tidak becus?" (hal. 57). Saya kesal sekali pas baca bagian ini.

Saya jadi paham, bahaya terbesar buat anak-anak adalah memiliki orang tua yang tidak peka dan tidak mau memahami anak. Usia anak-anak begitu rentan dirusak oleh orang dewasa. Harusnya orang tua berperan sebagai tameng pelindung. Jika peran itu tidak jalan, anak-anak akan jadi korban, mental mereka dirusak dan traumanya akan dibawa sampai dewasa. Cara asuh salah bisa jadi lingkaran setan yang tidak ada putusnya untuk keturunan mereka selanjutnya.

Contoh cara asuh salah pada anak bisa kita jumpai di sekitar kita. Misalnya keputusan orang tua memberi ponsel untuk anak yang rewel, mengerdilkan usaha anak saat gagal, memberi cap jelek pada anak dan jarang mengajak anak untuk berbincang dengan alasan sibuk.


Tuntutan Orang Dewasa Yang Makin Menuntut

Dalam novel ini juga disinggung tentang ribetnya jadi orang dewasa. Awalnya ditanya mana pacarnya. Setelah sering melihat berduaan, ditanya lagi kapan mau nikah. Nikah sudah, ditanya kapan punya anak. Anak pertama udah gedean dikit, giliran ditanya kapan punya adik buat si kakak. Belum lagi ditanya soal kekayaan seperti rumahnya mana dan mobilnya apa.

Natsuki pun mengalami pertanyaan soal kapan punya anak. Untuk menjawabnya memang membingungkan karena pernikahan Natsuki dan Tomomi bisa dibilang rekayasa agar keduanya selamat melewati pertanyaan kapan menikah. Pernikahan mereka sudah disepakati tidak ada seksual, bahkan kamar mereka pun masing-masing padahal tinggal seatap. Jadi jangan harap bakal ada anak kalau mereka tidak pernah sekali pun melakukan intim.


Cerita Psikologi Yang Mengejutkan

Semakin ke belakang, cerita di novel ini makin seru walaupun tipikal cerita yang absurd. Mungkin dari ilmu psikologi ada istilah untuk orang dewasa yang masih percaya dengan kayalan waktu kecilnya. Natsuki, Tomomi, dan Yuu semakin tidak terkendali dengan hidupnya setelah mereka kembali ke rumah Akishina. Dan karena mereka merasa bukan makhluk bumi melainkan makhluk dari Planet Pohapipinpobopia, mereka mempraktikan hidup ala-ala survival. 

Hubungan dengan dunia luar diputus, untuk makan mereka mencuri dari kebun dan rumah di sekitar, tidur di tumpukan futon, beraktifitas dalam kondisi telanjang, bergerak dengan merangkak, dan mereka menyangkal soal pentingnya memenuhi hasrat seksual yang muncul. Yang lebih mengerikan, mereka menganggap kalau makhluk bumi adalah lawan. Ada kejadian mereka membunuh orang dan jasadnya mereka santap karena sedang kekurangan bahan makanan. Lebih gila lagi, ada percakapan jika persediaan daging manusia sudah habis, mereka saling menyerahkan diri untuk disantap. Untuk tahu mana yang lebih enak, mereka saling mencicipi dengan menggigit secara bergiliran.


Simpulan

Dibandingkan dengan novel Gadis Minimarket, novel ini punya cerita yang lebih suram. Sisi psikologi manusia digali lebih dalam dan liar karena membahas kenormalan manusia di masyarakat. Walau begitu, ceritanya tidak akan memberi pengaruh ke psikologi pembaca. Paling poin pelecehan seksual dengan korban anak-anak akan membuat pembaca mengumpat kesal ke pelaku. 

Sekian ulasan untuk novel Makhluk Bumi. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!