Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Januari 25, 2026

Review Buku Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene - Rita Triana Budiarti

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]




Judul: Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene

Penulis: Rita Triana Budiarti

Foto: Timur Angin, Joen Ginting, Toto Prasetyanto, courtesy of Miles Film & KG Studio

Desain cover: emte

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2014

Tebal: 128 hlm.

ISBN: 9786020311616


Sempat ada di momen saya penasaran dengan film kolosal Pendekar Tongkat Emas tetapi karena kesempatan menontonnya belum ketemu, jadi saya iseng membaca buku behind the scene-nya saja.

Buku ini memuat semua proses yang dilakukan dalam pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Dimulai dari memutuskan ide cerita, lokasi, penulisan naskah, pemilihan para pemain, koreografi silat, desain artistik, kostum, tata rias, dan cerita selama di lokasi syuting.

Ternyata film ini berangkat dari nostalgia seorang Mira Lesmana pada bacaannya waktu kecil. Dia sempat mengembangkan naskah film kolosal yang diangkat dari komik silat tapi dengan pertimbangan matang Mira memutuskan membuat cerita baru yang tidak berkorelasi dengan cerita yang sudah ada. Kenapa tongkat emas yang dipilih juga dibocorkan di buku ini. Dan sutradara yang memegang film ini bukan Riri Riza, partner bikin film Mira Lesmana, melainkan Ifa Isfansyah. Detailnya baca aja ya!



Pemilihan Sumba sebagai lokasi syuting karena kebutuhan film menemukan lokasi yang masih alam banget. Hunting lokasi ke beberapa tempat indah terpotret dan Sumba sebagus itu lho. Dan ini memengaruhi pada pemilihan warna untuk kostum dan tata rias agar bisa baur dengan latarnya.

Film ini berhasil menggaet banyak bintang; Nicholas Saputra, Eva Celia, Christine Hakim, Reza Rahardian, Tara Basro, dan Aria Kusumah. Bagaimana mereka bisa bergabung terceritakan secara singkat di buku ini dan menarik sekali pertimbangan mereka.

Karena ini film silat, butuh ahli untuk membuat koreografi gerakannya. Dan tidak main-main, film ini mendatangkan Xiong Xin Xin, tokoh film dan penata koreografi dari Tiongkok. Para pemain pun digembleng silat beberapa bulan agar pada saat akting tidak kaku, apalagi harus melakukan gerakan-gerakan pertempuran yang tidak bisa asal-asalan.

Selama proses syuting, Sumba yang merupakan daerah tropis, alias jarang hujan dan kebanyakan panas, menguji ketahanan para pemain dan kru. Proses adaptasi yang dijalani pun cukup melelahkan. Membaca pengalaman pemain selama di lokasi syuting sangat menarik. 

Buku tipis ini semacam rekaman proses pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Pembaca dimanjakan betul dengan foto-foto yang indah. Tulisan yang menyertainya tak banyak jadi sebenarnya buku ini bisa dibaca tuntas dalam sekali duduk.



Setelah membaca buku ini, saya masih penasaran dengan filmnya. Tetapi jika mengikuti kata hati, kayaknya film Pendekar Tongkat Emas akan lebih dikenal masyarakat jika jadi series saja. Apalagi jika tayang di televisi, bisa jadi pilihan tontonan bagus untuk anak-anak agar nilai kepahlawan dan membela kebaikan bisa terajarkan. Seperti kehadiran film Wiro Sableng jaman dulu, dari sana penonton seperti saya seperti menemukan figur pahlawan baik lewat sosok pendekar.

Buku ini bisa menjadi bacaan singkat untuk pembaca yang penasaran bagaimana isi dari dunia perfilman lewat projek film Pendekar Tongkas Emas. Harapannya film-film lain juga membuat buku seperti ini karena menarik banget pas pembahasan ide ceritanya. Saya yakin setiap film itu punya latar belakang ide yang beda-beda dan ini pasti menarik dibahas.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku Pendekar Tongkas Emas Behind The Scene yang ditulis Rita Triana Budiarti ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Agustus 16, 2024

Review Buku Digital Minimalism - Cal Newport

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Digital Minimalism

Penulis: Cal Newport

Penerjemah: Agnes Cynthia

Sampul: Suprianto

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Mei 2024

Tebal: xxiv + 360 hlm

ISBN: 9786020644691


Setelah membaca buku ini saya memutuskan untuk mencopot beberapa aplikasi seperti shopee, tokopedia, lazada, notion, ipusnas, dan facebook. Alasannya, saya ingin benar-benar menikmati keseharian saya. Karena saya akui, aplikasi-aplikasi tadi masuk ke golongan: yang membuang-buang waktu (ecommerce dengan game-nya) atau yang jarang saya gunakan.

Buku ini terbilang tebal tapi penulis merangkum pembahasannya hanya di dua bab besar; Fondasi dan Praktik. Kemudian mengerucut jadi tujuh sub bab yang isi pembahasannya bisa menohok kita semua.

Karena judulnya mengandung kata minimalis, seperti buku serupa lainnya, kita akan diajak untuk membuang segala yang tidak perlu. Tetapi di sini kita akan bicara soal teknologi, lebih spesifiknya ke ponsel.

Latar belakangnya adalah kita semua sudah ketergantungan dengan ponsel dan aplikasi-aplikasi yang berjubel. Banyak dari kita yang secara tidak sadar menggeser layar ponsel menonton hiburan hingga berjam-jam. Kita sedang dijajah oleh perusahaan aplikasi untuk berlama-lama di depan ponsel karena waktu kita adalah uang bagi mereka.

Dan penulis mengajak kita untuk melek pada penggunaannya. Ingat, penulis tidak meminta kita tidak menggunakan teknologi, tetapi hanya mengingatkan bagaimana kita bertanggung jawab memakai teknologi.

Yang paling utama dari saran penulis adalah dengan membersihkan diri dari keterhubungan kita dengan teknologi. Mengurangi atau melepaskan dulu selama beberapa hari, lalu lihat hasilnya, apakah kita akan kembali ke kebiasaan lama (main ponsel melulu) atau justru kita bisa mengurangi dan mulai memilih mana saja aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan.




Empat sub bab di bagian bab Praktik membuat saya lebih sadar kalau saya memang salah satu dari banyak orang yang main ponsel melulu. Ajakan untuk menyendiri membuat saya pengen lebih banyak menghabiskan waktu tanpa diganggu oleh siapa-siapa. Dan selama ini saya melakukannya dengan motoran, disamping saya memikirkan, merencanakan, mengaji diri, soal kehidupan yang sedang saya jalani. Di buku ini dikatakan tiga manfaat kesendirian adalah: ide-ide baru, pemahaman terhadap diri sendiri, dan kedekatan dengan orang lain.

Jangan menekan "like" pada postingan orang lain hanya untuk membuktikan kalau kita peduli. Penulis menyarankan untuk membuktikan kepedulian kita dengan berjumpa atau menelepon. Di kebiasaan ini saya bukan termasuk yang suka menekan like pada sosial media.

Kita harus memiliki waktu santai yang produktif. Ingat, rebahan sepanjang hari dengan ponsel di tangan bukan bentuk menikmati waktu santai. Banyak kegiatan santai yang lebih berkualitas daripada sekadar tiduran sambil memantau media sosial.

Isi di buku ini bukan hanya menata kita dalam menggunakan teknologi seperti ponsel tapi justru menyasar bagaimana kita bisa menikmati kehidupan yang membahagiakan.

Saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca kita semua sebelum kita menyesal karena merasa kekurangan waktu setiap harinya. Padahal kita sendiri yang belum keluar dari jeratan ponsel yang selalu kita pantau setiap saat. Dan saya bakal membaca ulang buku ini karena banyak poin yang menarik dan patut diingat-ingat lagi.

Gara-gara banyak disebutkan di dalam buku ini, saya juga jadi pengen segera baca buku Walden karya Hendry David Thoreau yang kebetulan bukunya sudah ada di timbunan.


  • Teknologi-teknologi ini semakin lama semakin mendikte cara kita berprilaku serta yang kita rasakan, dan entah bagaimana memaksa kita menggunakannya lebih sering dari seharusnya, acap kali dengan mengorbankan kegiatan lain yang lebih bernilai bagi kita (hal. 9)
  • Biaya sesuatu adalah jumlah waktu dalam hidup yang kita bersedia tukarkan untuk mendapatkannya, segera atau dalam jangka panjang (hal. 49)
  • Kita mudah tergoda oleh keuntungan tak seberapa yang ditawarkan beragam program aplikasi atau layanan terbaru, tetapi kemudian lupa dengan harga yang harus kita bayarkan atas sumber daya terpenting yang kita miliki: menit-menit dalam hidup kita (hal. 53)
  • Apakah teknologi ini dapat langsung menopang sesuatu yang sangat benilai bagiku? Inilah satu-satunya syarat untuk mengizinkan perangkat tersebut masuk ke hidup anda (hal. 94)


Nah, sekian ulasan dan kesan saya untuk buku ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Juli 26, 2024

Review Buku Happiness Without Money - Koike Ryunosuke

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Happiness Without Money

Penulis: Koike Ryunosuke

Penerjemah: Yuditha Savka

Penyunting: Yoke Yuliana

Penerbit: M&C! (PT Gramedia Pustaka Utama)

Terbit: Mei 2021, cetakan pertama

Tebal: iii + 149 hlm.

ISBN: 9786230305061


Buku Happiness Without Money ini membahas soal bagaimana kita bisa meraih kebahagiaan dengan cara menggunakan uang secara tepat. Walau judul buku ini ada kata 'tanpa uang', penulis justru mengingatkan jika kita mustahil mengejar kebahagiaan tanpa menggunakan uang. Koike sendiri adalah seorang biksu yang menjalankan hidup sederhana, namun sederhana itu bukan tanpa uang melainkan menggunakan uang untuk hal tepat dengan cara yang tepat.

Pembahasan pertama di buku ini mirip dengan pembahasan di buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis Marie Kondo. Soal kepemilikan barang yang memengaruhi kebahagiaan. Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin hidup kita tidak bahagia. Alasan seseorang memiliki barang karena penilaian diri dan penilaian orang lain. Maksudnya, nilai diri kita selalu diukur dengan memiliki barang tertentu, dan untuk diakui nilai diri kita oleh orang lain, kita pun menopangnya dengan memiliki barang tertentu.

Memiliki benda berarti paling sedikit ada dua tanggung jawab yang menempel ke pemiliknya; menjaga agar tidak hilang (ketakutan) dan merawatnya (kewajiban). Dan semakin banyak benda yang dipunya, semakin banyak pula ketakutan, kecemasan, dan kewajiban tadi. Solusi untuk kepemilikan benda ini adalah dengan membuangnya. Jangan bingung, di bab awal buku ini akan diberikan tips membuang barang agar kita tidak begitu menderita dalam prosesnya.


Buanglah benda yang relatif mudah dibuang (hal. 36)


Ada alasan kenapa kita bisa mempunyai banyak barang yaitu karena kita serakah. Sifat serakah ini ternyata punya asal yaitu keinginan. Dan penulis menyebut jika keinginan itu bentuk dari penderitaan. Karena kita merasa menderita, kita berusaha mati-matian untuk meredakan penderitaan itu dengan memenuhi keinginan tadi. Bahayanya, keinginan manusia itu tidak terbatas. Setelah keinginan standar dipenuhi, muncul keinginan baru yang lebih besar, bahkan seiring waktu bisa menginginkan sesuatu lebih ekstrim. Dan kunci menuju kebahagiaan yang utama adalah memotong keinginan tadi menjadi sewajarnya.

Ada istilah 3D Keserakahan yaitu demand, desire, dan drive. Perubahan dari kebutuhan menjadi dorongan ini yang membuat kita dibutakan oleh banyaknya keinginan.


Kebanyakan orang awalnya  menginginkan sesuatu karena membutuhkannya. Dengan kata lain, "demand". Namun, rasa kebutuhan itu semakin menyimpang dan mereka menginginkan jeda "derita senang" yang lebih besar sebelum kemudian perlahan-lahan menjadi semakin ketagihan oleh stimulasi "derita". Ini adalah desaire, keinginan. Kemudian, desire itu semakin menyimpang dan akhirnya mereka dikendalikan total oleh "derita" sehingga akhirnya menjadi drive, dorongan yang tidak bisa dikendalikan. (hal. 44).


Menurut penulis ada 3 sikap yang bisa dilakukan atas sifat keserakahan yaitu:

  1. Merealisasikan sesuai keinginan.
  2. Melarikan diri dan menggantinya dengan rangsangan keinginan lain.
  3. Menekan rasa ingin tersebut.

Penjelasan ketiga sikap ini akan dikupas di bukunya. Pembahasannya benar-benar menarik, apalagi diberikan contohnya juga.


Yang paling menyentil saya adalah soal habbit saya yang suka membeli novel baru hanya karena ingin, padahal novel itu entah akan dibaca atau enggak di masa depan. Novel yang menumpuk secara samar-samar menimbulkan penyesalan walau saya alihkan dengan dalih kalau buku itu sesuatu yang positif. Kasus ini bisa jadi contoh kebahagiaan semu sebab di dalam hati paling mendalam menimbun novel bukannya membuat bahagia secara penuh tetapi justru menimbulkan rasa negatif yang kemudian ditutup-tutupi.

Saya paling suka dengan bab empat yang berisi Cara Menggunakan Uang Agar Menjadi Bahagia. Di sini ditegaskan kalau penjelasan buku ini bukan mendorong orang untuk pelit. Ketika kita bersikap pelit, kita sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak bahagia sekali pun ujungnya kita bisa menumpuk uang. Penulis justru lebih senang jika kita membuang uang dengan cara memberikan hadiah kepada orang lain karena tindakan ini akan membikin kita merasa lega.

Gara-gara membaca buku ini saya pun termotivasi untuk lebih bisa mengendalikan uang di lingkaran keinginan yang tak berujung. Harus bisa membuat prioritas antara kebutuhan dan keinginan. Tujuannya tentu saja kita harus bisa bahagia ketika sedang ada uang, dan tetap baik-baik saja ketika tidak punya uang.

Berikut beberapa kutipan-kutipan menarik di buku ini:

  • Bagaimana pendapat orang lain mengenai kita atau bagaimana orang lain melihat kitalah yang menyebabkan lahirnya penderitaan tersebut (hal. 11).
  • Menjadi pelit saat tidak punya uang dan tiba-tiba menjadi bermewahan saat memiliki uang banyak itu yang namanya dipermainkan uang dan hati kita akan lelah (hal. 121).
  • Orang modern semuanya memiliki penderitaan berupa kesepian dan untuk menyembuhkannya, mereka membuang uang dan waktu untuk telepon genggam dan media sosial (hal. 128)

Saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca siapa pun untuk bahan reminder kita soal uang. Dan sekian ulasan saya untuk buku ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



[ Saking sukanya dengan isi buku ini saya berencana membaca ulang dan tentu saja ulasan ini akan saya update dengan insight baru dari bacaan ulang nanti ]

April 20, 2024

Review Buku Sulung Dan Nyonya Ai - Sulung Landung

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Sulung Dan Nyonya Ai: Sebuah Perjalanan Menuju Pulih

Penulis: Sulung Landung

Penyunting: Reda Gaudiamo, Anastha Eka

Ilustrasi: Mohammad Taufiq (Emte)

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Mei 2023

Tebal: 195 hlm.

ISBN: 9786020670638


Buku ini merupakan buku self improvement berisi pengalaman penulis saat ia kecil hingga dewasa yang penuh dinamika dan perenungan. Dan ini perkenalan saya dengan sosok Sulung Landung, yang saya baru tahu kalau beliau sudah mempunyai tiga buku series 'Management Artis 101', dengan pembahasan dunia keartisan.

Pada paruh awal buku, kita akan dikenalkan pada perjuangan Sulung karena lahir dari keluarga biasa dengan mempunyai orang tua yang kemudaan. Sulung lahir saat ibunya, Ai, masih berusia 17 tahun. Keadaan ini berimbas Sulung lebih banyak diasuh oleh Ama atau neneknya. Sulung sendiri mengakui kalau hubungannya dengan sang ibu memang agak jauh sedari kecil. 

Sulung kecil ternyata korban bully. Ia kerap diolok-olok oleh teman-temannya di sekolah karena seragamnya sering bau ikan asin. Wajar berbau begitu karena Sulung kecil sering menemani Ama berjualan ikan asin sehingga bau ikan asin menempel di pakaiannya.

Ada pengalaman Sulung menyanyi dan justru ia disoraki dengan sebutan 'banci, bencong', dan itu membuat nyalinya menciut untuk unjuk gigi. Sulung kecil yang mentalnya sedang dibentuk justru dibenturkan dengan lingkungan yang menggangu, dan pada saat itu Sulung kecil tidak punya tempat untuk mengadu dan berlindung.

Mental Sulung digulung tekanan hingga ia tumbuh dewasa dengan rasa malu, takut, dan tidak percaya diri. Bahkan sifat pecundangnya ini bertahan sampai ia masuk SMA. Beruntung ketika SMA ini ia menemukan lingkungan yang mendukung untuk mengeluarkan potensi baiknya. Prestasinya menanjak, namanya muncul, dan Sulung mulai berani memutuskan ingin jadi apa dirinya.

Ketika ia kuliah, Sulung harus berjuang dengan keadaan ekonomi yang tidak stabil. Usaha ayahnya kerap naik-turun dan itu memaksa Sulung untuk dewasa menyikapi. Sehingga Sulung pun menyambi pekerjaan paruh waktu agar kuliahnya tidak terhenti di tengah jalan.

Enggak ada usaha yang mengkhianati hasil. Apa yang diimpikan Sulung, satu per satu mulai terwujud. Tetapi ternyata pengalaman buruk saat ia kecil hingga dewasa menjadi luka batin. Sulung tidak tenang dengan pencapaiannya. Sulung tidak bahagia. Diam-diam pengalaman buruk di masa lalu ia pendam sendiri dan menjadi borok. Sulung pun mencari penyembuhan ke beberapa orang agar kegelisahannya menghilang. Dan kunci mendapatkan itu adalah memaafkan masa lalu.

Namun proses memaafkan masa lalu tidak mudah. Berkat menemui beberapa orang, Sulung mendapatkan akar masalah batin yang menderanya. Dan itu ternyata berhubungan dengan Ai, ibunya. 

Dari buku ini saya memahami pelajaran-pelajaran hidup berharga yang seharusnya dipahami banyak orang. Pertama, anak kecil harus mempunyai kehidupan yang menyenangkan dan tenang. Tidak harus bergelimang harta atau bisa jajan apa saja. Yang utama adalah peran orang tua mendampingi harus jadi prioritas. Pendewasaan dari anak kecil ke jelang dewasa itu prosesnya berat. Banyak tidak tahunya. Dan peran orang tua seharusnya menemani, mendampingi, merangkul, memberi tahu, dan membenarkan jika salah. 

Pengalaman buruk di masa lalu yang tidak diselesaikan akan jadi luka batin sampai dewasa. Kenangan buruk akan jadi trauma yang jika tidak disembuhkan akan terus jadi ganjalan di hati dan ini bisa mempengarui kualitas kebahagian. 

Untuk teman-teman yang saat ini masih gelisah dan malu mengakui masa lalu buruk, coba untuk mulai menyembuhkan dengan menuliskannya atau membicarakan dengan seseorang yang kita percaya. Jangan lagi dipendam pengalaman buruk tadi, keluarkan dari hati, bebaskan belenggunya, dan lepaskan bebannya.

Kedua, jika tidak baik-baik saja segera cari penyembuhan. Untuk beberapa orang yang mempunyai nasib seperti Sulung, tidak bisa dibiarkan dan berpura-pura kalau itu sudah berlalu. Dengan dibantu ahlinya, kita akan menyelami sisi terdalam kita dan rahasia yang dipendam. Jika sudah tahu isi hati dan luka-luka yang dipendam dalam-dalam, baru kita mulai mengungkapkan kegusaran itu. Kita bisa mulai menyelesaikan semuanya sampai ke tahap 'Oke, saya menerima masa lalu buruk itu dan saya memaafkan semuanya.' 

Ketiga, kita harus jadi pejuang untuk hidup kita. Harus diakui semakin dewasa, beban hidup semakin berat. Banyak faktor yang membuat kita tertekan dengan tuntutan dan tanggung jawab. Dan perjuangan kita harus untuk tujuan hidup yang kita mau. Ingat, standar hidup setiap orang berbeda-beda dan kita harus tahu standar hidup kita segimana sehingga perjuangan yang kita lakukan pun lebih terukur dan terarah. Jangan sampai kita terjebak memperjuangkan hidup untuk standar selangit, yang ada kita akan mati lebih dulu sebelum mengucapkan syukur atas pencapaian yang sudah dilalui.

Membaca buku Sulung dan Nyonya Ai ini membuat saya melihat ke diri sendiri, membongkar lagi isi hati dan memang ternyata ada pengalaman yang kurang menyenangkan yang masih belum saya akui. PR-nya ya saya harus mulai jujur dengan masa lalu, dan perlahan-lahan harus berdamai.

Oya, buku ini punya gaya penulisan yang enak dibaca. Tiap bab-nya dibikin pendek dan isi ceritanya juga jelas. Jadi enggak akan bikin kita pusing memahaminya. Dan saya awalnya terkecoh dengan sampulnya yang bagus, mirip sampul buku anak, tetapi isi buku ini sangat untuk orang dewasa. 

Saya merekomendasikan buku ini untuk mengingatkan kita soal apakah rasa bahagia kita sudah utuh atau jangan-jangan ada ganjalan di hati yang ternyata kita pura-pura enggak merasakannya. Pasti banyak dari pembaca yang punya nasib seperti Sulung dan buku ini bisa jadi contoh nyata kalau kita bisa menyembuhkan dan memperbaikinya.

Nah, sekian ulasan saya untuk buku Sulung dan Nyonya Ai: Sebuah Perjalanan Menuju Pulih ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Januari 18, 2024

Review Buku The Keep It Simple Book - Simon Tyler


Judul:
The Keep It Simple Book

Penulis: Simon Tyler

Penerjemah: Anna Ervita Dewi

Sampul: Amanda M. T. Castilani

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Terbit: Maret 2020

Tebal: 198 hlm.

ISBN: 9786232169029

Ada nggak di antara kamu yang sedang merasa demotivasi, lesu, kurang gairah, dalam menjalani hidup sehari-hari dan pekerjaan? Jangan-jangan itu akibat kesibukan yang berlangsung lama...

Mungkin kamu sedang butuh asupan motivasi yang bisa mengurai semuanya.

Dan menurut saya buku The Keep It Simple Book ini bisa membantu. Buku ini punya isi motivasi yang bisa dipraktikkan agar hidup kita lebih clean dan full value. Dan secara garis besar, penulis mengajak kita untuk 'Menyederhanakan Hidup'.

Ada 50 bab berisi masukan yang bisa diaplikasikan dan sebagian besar sangat relate dengan kondisi saya saat ini. Ada tiga pelajaran penting yang saya ambil dari buku ini yaitu tidak menjadi reaktif, menyederhanakan yang rumit, dan berkesadaran.



Pertama, tidak menjadi reaktif artinya memberi jeda pada apa pun. Yang paling penting buat saya adalah menahan diri ketika berbicara. Saya ini orangnya suka berkomentar dan bercerita sampai-sampai hal tidak penting pun bisa keluar dari mulut saya. Dan setelah membaca buku ini saya mulai menahan diri dengan memberi jeda setiap kali mulut saya ini akan berbicara. Karena saya tidak bisa mengontrol ucapan yang sudah diucapkan.

Kedua, menyederhanakan yang rumit aryinya membuat semua menjadi simple, bersih, dan teratur. Ternyata ada beberapa tips untuk membuat segalanya menjadi sederhana, baik pikiran, ucapan, maupun lingkungan. Beberapa cara bisa dilakukan misalnya dengan membersihkan meja kerja, menyelesaikan semua hal yang selama ini ditunda dan mengganggu pikiran, menyingkir dari situasi gaduh, dan masih banyak lainnya.

Ketiga, berkesadaran artinya kita paham apa yang kita mau tuju dan akan lakukan. Ini akan membuat kita bisa menyeleksi apa saja yang menjadi penghalang untuk mencapai tujuan kita dan itu mesti ditiadakan. Alhasil segalanya menjadi ringkas dan sederhana. 

Jujur, buku ini benar-benar mengingatkan saya kalau apa yang saya jalani terlalu sibuk, bising, dan menguras energi. Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi kita akan membereskan itu semua. Saya cuma tidak ingin menjalani hidup yang melelahkan dan mengesampingkan kebahagiaan. Rugi sekali kalau sampai kita menjalani hari-hari tanpa bisa menikmati kebahagiaan.



Walau pun buku ini sudah selesai dibaca, tapi saya akan membaca ulang dengan membuka secara random atau memilih judul yang memang nanti saya butuhkan. Setiap babnya ditulis dengan ringkas jadi cukup membantu untuk meng-on kan semangat kita jika sedang off tanpa menghabiskan waktu yang rada lama.

Berikut beberapa poin yang saya tandai di bukunya:

"Jangan ceroboh dalam perbuatan; membingungkan dalam perkataan, ataupun bertele-tele dalam pemikiran." Marcus Aurelius (121-180) | hal. 13

...Orang yang paling terpengaruh oleh kata-kata Anda adalah ANDA SENDIRI! | hal. 14

"Jika kamu mengubah caramu melihat segala sesuatu; maka sesuatu yang kamu lihat itu akan berubah." Wayne Dyer | hal. 141

Kesimpulannya, buku ini bisa menjadi kawan kapan pun karena muatan masukkannya yang berguna sekali.

Sekian ulasan saya kali ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Oktober 19, 2021

Review Buku Sang Belas Kasih - Haidar Bagir



Judul: Sang Belas Kasih

Penulis: Haidar Bagir

Penyunting: Azam Bahtiar & Ahmad Najib

Penerbit: Penerbit Mizan

Terbit: September 2021, cetakan pertama

Tebal: 208 hlm.

ISBN: 9786024411985

***

Bukan saja puitis redaksinya, Surah Al-Rahman, yang merupakan surah ke-55 dalam Al-Quran juga sangat indah kandungannya. Dalam surah yang terdiri dari 78 ayat ini, Allah menggelar berbagai gambaran imbalan kebaikan berlipat ganda dan nyaris tak terbatas bagi orang-orang yang berbuat kebaikan yang sempurna (ikhsan). Bisa jadi karena taburan cinta dan belas kasih Allah di dalamnya, Surah Al-Rahman disebut juga sebagai "Arus (pengantin) Al-Quran".

Dalam buku ini juga disinggung pemahaman-pemahaman alternatif-yang lebih sufistik-atas beberapa gagasan dasar ajaran islam yang juga diungkapkan di dalam surah ini.

***

Alasan kenapa saya membeli buku ini karena sejauh ini saya kurang mendapatkan wawasan dan siraman rohani yang sifatnya keagamaan dari buku-buku yang sudah saya baca. Mendadak muncul perasaan hampa. Saya sadar betul karena hati saya masih kosong dalam pemahaman soal Islam. Maka dari itu saya membeli paket bundling buku karya Haidar Bagir dengan harapan hati saya bisa diisi ilmu Islam yang akan membuatnya melembut.

Buku yang dilabeli dengan 'Islam Cinta' ini membahas soal penjelasan surah kelima belas dalam Al-Quran yaitu Surah Al-Rahman. Surah ini mempunyai 78 ayat. Al-Rahman sendiri memiliki arti Yang Maha Pemurah. 

Allah SWT itu bersifat rahmah yang artinya belas kasih, welas asih. Sehingga nama Allah SWT selalu bersanding dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ringkasnya, sifat Allah SWT ini tertuang dalam kalimat basmallah. Sehingga kita dianjurkan untuk membaca basmallah sebelum melakukan apa pun.

Al-Quran sebenarnya sudah ditanamkan Allah SWT di dalam hati manusia. Tapi semua dikembalikan ke manusia itu sendiri, apakah mereka mempelajari Al-Quran sepenuh hati untuk mengaktualisasikan nilai Al-Quran di dalam hatinya, atau justru tidak dipelajari.

Setelah membaca sampai tuntas, saya mendapatkan pemahaman jika Surah Al-Rahman ini dibagi menjadi 4 pembahasan utama (jika keliru, mohon dapat diralat).

Pertama, permulaan surah ini pembaca akan diajak memahami sifat Allah SWT Yang Pengasih dan Penyayang. Ada penegasan bahwa sifat Allah SWT mutlak. Jika larangan dan ganjaran dari Allah SWT yang terkesan berat, semata-mata dibalik itu ada bentuk kasih dari Allah SWT.

Kedua, pada beberapa ayat selanjutnya pembaca akan diberikan penjelasan mengenai kuasa Allah SWT sebagai Yang Maha Kuasa atas segala ciptaan-Nya. Allah SWT menciptakan semesta, manusia, dan semua ciptaan lainnya, dan Allah SWT juga memelihara itu semua sehingga berada dalam posisi seimbang. Lalu jika manusia dianggap merusak keseimbangan dan memunculkan bencana, itu semata-mata Allah SWT ingin menyadarkan dan mengembalikan manusia agar kembali bersikap seimbang terhadap apa pun.

Ketiga, dibahas juga mengenai pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang datang ke masa hisab dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Pada saat penghitungan amal baik, manusia tidak ditanya apa dosa-dosanya sebab sudah ada dua malaikat yang senantiasa setia mencatat segala amal kita, baik amal baik maupun amal buruk. Dan bagi mereka yang amal buruknya lebih banyak akan ditarik ke neraka dahulu untuk dibersihkan dosa-dosanya.

Keempat, pembahasan terakhir mengenai balasan bagi orang-orang yang amal baiknya lebih banyak. Mereka akan diganjar dengan surga yang dilimpahi kenikmatan tidak terbatas. Pembahasan mengenai nikmat surga ini bahkan sampai diulang. Bedanya, pada pengulangan kedua, Allah SWT menyebutkan peningkatan nikmat surga yang tingkatannya lebih daripada penjelasan nikmat surga yang pertama.


Pada buku Sang Belas Kasih ini ada bagian yang membuat saya menangis ketika membacanya, yaitu pada halaman 176 - 180. Pada bab itu dibahas mengenai makna Ihsan. Ihsan adalah perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh ketulusan, dengan penuh keikhlasan dan juga -antara lain karena ketulusan dan keikhlasan itu- dilakukan dengan sesempurna mungkin (hal. 177).

Untuk mencapai ihsan, pembaca diajak untuk beribadah kepada Allah SWT seolah-olah kita bisa melihat-Nya. Tapi jika kita belum mencapai taraf itu, beribadahlah dengan sungguh-sungguh seperti Allah SWT tengah melihat kita.

Lumayan memukul dada ketika membahas soal kesungguhan dalam beribadah. Karena saya sendiri belum mencapai di taraf beribadah dengan hati dan beribadah sebagai sebuah kebutuhan. Belajar menuju ke arah itu ternyata pelik. Bahkan sebagai manusia biasa, saya lebih banyak tergelincir kepada ego, sehingga beribadah masih sebatas ritual. Semoga dengan membaca buku-buku bermuatan nilai Islam, saya bisa memperbaiki diri agar lebih baik, di mata Allah SWT, maupun di mata manusia.

Saya memberikan nilai 4 bintang dari 5 bintang. Sebuah buku bacaan yang kaya nilai, yang memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mendalami makna yang ada dalam Surah Al-Rahman. Bisa jadi kita sering membaca surah ini, tapi tidak pernah menyempatkan diri memahami makna di dalamnya. Dan buku ini tampaknya akan saya baca ulang ke depannya.

Sekian ulasan dari saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!


Desember 26, 2017

Review Buku What I Talk About When I Talk About Running - Haruki Murakami




Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Ellnovianty Nine Sjarif & A. Fitriyanti
Penyunting: A. Fitriyanti
Penerbit: Penerbit Bentang
Cetakan: Pertama, April 2016
Tebal buku: vi + 198 halaman
ISBN: 9786022910862
Harga: Rp 49.000

“Apakah hal yang kamu lakukan baik atau tidak, keren atau tidak keren sama sekali, pada akhirnya yang memiliki arti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat, tetapi yang bisa dirasakan oleh hatimu. Agar mengerti sebuah nilai, kadang-kadang kamu harus melakukan sesuatu yang buang-buang waktu. Namun, bahkan suatu tindakan yang kelihatannya sia-sia, tidak selamanya berakhir demikian.” (Hal. 189)

Ada rasa janggal setelah membaca buku Haruki Murakami ini. Sebab memoar ini berisi pandangan penulis terhadap sesuatu. Di buku ini penulis mengungkapkan buah pikirannya terhadap hobinya: berlari. Sebagai memoar, saya meloncati proses dalam mengenal penulis. Biasanya, orang akan membaca novel-novel karya Haruki Murakami, setelah itu ia akan membaca memoarnya. Karena memoar lebih mengetengahkan lebih banyak sisi pribadi si penulis. Justru yang saya lakukan mengenal penulisnya dahulu, mungkin baru membaca novel-novelnya. Ini kesan yang saya simpulkan dan tentu saja akan berbeda dengan kalian.

Memoar What I Talk About When I Talk About Running berkisah pengalaman Murakami di dunia lari dan dunia kepenulisan. Dia menceritakan banyak pengalaman mengikuti lomba lari dan pikiran-pikirannya terhadap kegiatan berlari. Contohnya, pikirannya tentang ketidakinginannya bangun pagi dan berlari. Siapa pun pasti pernah menemukan perasaan ini setelah melakukan kegiatan dalam kurun waktu tidak sebentar. Murakami penasaran apakah pikiran tersebut muncul juga pada pelari profesional. (Hal. 55)

Pada bagian lain, Murakami juga menceritakan pengalaman ia berlari maraton di Yunani untuk artikel majalah (Hal. 65-76). Ada opsi untuk membuat foto setelah Murakami berlari beberapa jarak dan urusan selesai. Tetapi, Murakami memilih berlari menyelesaikan jarak lintasan maraton sejauh 42.195 km. Diceritakan terperinci bagaimana suhu panas pada saat itu, kondisi jalan yang ramai dan kerap ditemukan bangkai anjing dan kucing, dan perasaan campur aduk ketika Murakami berada di titik sangat lelah (marah, kesal, merutuk).

Namun, cerita pengalaman lari Murakami kemudian dikaitkan pada pengalaman ia sebagai penulis. Saya terkesan pada bagaimana awal mula ia memutuskan untuk menulis novel. Niat yang muncul saat ia menonton baseball dan kemudian ia lanjutkan dengan pengorbanan besar, menutup usaha bar yang pada saat itu dalam kondisi sangat baik. Usia Murakami pada saat itu di ujung 20-an.

Selain pengalaman awal mula menjadi penulis, Murakami berbagi cara-cara menjadi penulis yang baik menurut versinya. Sebab Murakami sadar sekali dirinya bukan penulis yang memiliki bakat alami luar biasa.

“Sebaliknya jika kamu bisa berfokus secara efektif, kamu akan dapat mengimbangi bakat yang tak menentu atau bahkan yang jumlahnya sedikit.” (Hal. 87-88)

“Jika konsentrasi hanyalah proses menahan napas, daya tahan merupakan seni mengeluarkan napas dengan tenang dan pelan-pelan sekaligus mengisi udara ke dalam paru-paru.” (Hal. 88)

“Keseluruhan proses menulis- duduk di depan meja, memfokuskan pikiran seperti sinar laser, membangun imajinasi dari kekosongan, mengarang cerita, memilih kata yang tepat satu demi satu, mempertahankan seluruh alur tetap berada pada jalur - membutuhkan energi yang jauh lebih banyak, untuk jangka waktu yang lama, dari yang dibayangkan orang kebanyakan.” (Hal. 90)

Sebuah pengalaman berharga karena setelah membaca memoar Murakami ini, saya seperti sudah belajar langsung kepadanya untuk urusan menulis. Ada banyak bagian dari buku yang menginspirasi saya untuk menekuni dunia menulis. Dan saya pun berharap kalian akan menemukan pengalaman yang sama setelah membaca buku ini.

Akhirnya, saya memberi nilai 4/5 untuk buku yang menginspirasi sekaligus meyakinkan saya kembali untuk fokus di dunia menulis.

Catatan:
  • Aku selalu berhenti pada saat aku merasa bisa menulis lebih banyak. Dengan begitu, penulisan selanjutnya secara mengejutkan menjadi lebih lancar. (Hal. 6)
  • Setelah berlari rasanya apa pun yang menjadi inti tubuh ini seperti diperas keluar sehingga terlahir perasaan ringan, dan apa pun yang terjadi, terjadilah. (Hal 9)
  • Apakah hasil tulisan sesuai atau tidak dengan standar yang ditetapkan oleh diri sendiri akan menjadi hal yang lebih penting daripada segalanya dan itu adalah sesuatu yang tidak mudah dijadikan alasan. (Hal. 13)
  • Hal terpenting adalah bagaimana melampaui diri sendiri yang kemarin. (Hal. 14)
  • Aku belajar bahwa tidak mungkin manusia hidup sendiri - sesuatu yang sudah sewajarnya. (Hal. 20)
  • Manusia memiliki nilai di dalam diri mereka dan cara hidup masing-masing, begitu juga aku. (Hal. 24)
  • Kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. (Hal. 24)
  • Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar seseorang untuk dapat menjadi mandiri di dunia ini. (Hal. 25)
  • Bagaimana membagi waktu dan tenaga kita untuk melakukan hal-hal sesuai urutan prioritas. Jika tidak bisa menetapkan sistem semacam itu pada suatu masa dalam hidup, kamu akan kurang terfokus dan hidupmu jadi tidak seimbang. (Hal. 45-46)
  • Seberapa pun besarnya niat seseorang, seberapa pun bencinya dia pada kekalahan, jika hal itu merupakan sesuatu yang tidak benar-benar disukai, dia tidak akan bisa bertahan lama meneruskannya. (Hal. 53)
  • Namun, manusia punya kecocokan dan ketidakcocokan masing-masing. (Hal. 54)
  • Dinding pemisah antara kepercayaan diri yang sehat dan harga diri yang berlebihan memang cukup tipis. (Hal. 63)
  • Saat semakin tua, kamu akan belajar untuk bahagia dengan apa yang kamu miliki. Itulah salah satu dari sedikit hal baik dengan menjadi tua. (Hal. 97)
  • Jika sesuatu berarti untuk dilakukan, memberikan semua yang terbaik - atau bahkan melebihi yang terbaik darimu - juga berarti. (Hal. 109)
  • Sekali melanggar peraturan yang kuputuskan sendiri, aku akan melanggar lebih banyak lagi. (Hal. 124)
  • Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya, tanpa terlalu banyak tahu apa yang sebenarnya terjadi. (Hal. 134)