Tampilkan postingan dengan label Bhuana Ilmu Populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhuana Ilmu Populer. Tampilkan semua postingan

Agustus 06, 2025

Review Novel The Name Of The Game - Adelina Ayu

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: The Name Of The Game

Penulis: Adelina Ayu

Penyunting: Ani Nuraini Syahara

Desain sampul: Wina Witaria

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Terbit: Desember 2022, cetakan kedua

Tebal: 336 hlm.

ISBN: 9786232165991

Tag: young adult, romansa, toxic masculinity



Novel The Name Of The Game menceritakan tentang gadis bernama Flo yang naksir kakak tingkat di kampusnya bernama Daryll. Tapi di waktu yang hampir bersamaan, Flo juga kenalan dengan kakak tingkat lainnya yang bernama Zio. Awalnya Flo tidak tahu kalau Daryll dan Zio saling kenal karena sejak SMP hingga kuliah mereka barengan melulu.

Daryll dikenal sebagai cowok galak khas kating, dia suka band Sheila on 7, dan juga penyayang binatang. Sedangkan Zio dikenal sebagai cowok kemayu, paling tahu make up, dan suka wangi vanila. Sejak pertemuan pertama Flo sudah naksir Daryll dan berharap bisa jadi pacarnya. Sedangkan Zio sudah dianggap bestie sekaligus sahabat seru-seruan.

Semakin dekat hubungan Flo dan Daryll, susah juga untuk menahan perasaan suka. Satu momen Flo akhirnya mengakui duluan. Tetapi reaksi Daryll justru membuat Flo bingung, Daryll memilih menjauhinya. Keyakinan Flo dengan perhatian Daryll selama ini ternyata berbalik menyakitinya.

Zio yang semula hanya menganggap Flo teman mulai bergeser perasaan. Selama bersama Flo, Zio sadar dirinya diterima dengan terbuka meski ia berbeda dari laki-laki kebanyakan. Perasaan kagum itu kemudian berubah menjadi suka. Namun Zio memilih memendamnya karena dia tahu Flo lebih tertarik dengan Daryll.

Di tengah kegalauan karena ditolak Daryll, Zio berterus terang tentang perasaannya selama ini. Flo kaget bukan main dan bingung harus bagaimana. 

***


Novel ini termasuk bacaan ringan. Tema percintaan anak kampus dan konflik tarik ulur perasaan  memang bikin gemes. Kita diingatkan dua poin besar dalam urusan suka-sukaan. Pertama, jangan men-treatment seseorang seperti pacaran kalau memang tidak akan dipacari. Anak orang dikasih angin surga, begitu minta kejelasan, malah bilangnya, 'suka tapi bukan sebagai pacar.' Gimana enggak bikin galau.

Kedua, jangan langsung meromantisasi treatment seseorang hanya karena kamu menyukai orangnya. Bahaya. Bisa jadi orang itu melakukan hal yang sama ke semua orang. Jadi kelihatan kan kalau salah paham soal suka-sukaan bukan biangnya di satu pihak, tapi kedua pihak sama-sama keliru.

Selain soal percintaan, novel ini juga mengangkat isu besar yaitu isu toxic masculinity. Diwakili tokoh Zio yang kemayu, kita diingatkan kalau memang beneran ada lho cowok yang kayak cewek tapi mereka tetap cowok. 

Digambarkan dengan gamblang kesusahan Zio diterima lingkungan. Tidak sedikit yang menghina, menertawakan, meremehkan, bahkan membully-nya. Zio mengakui kalau butuh waktu dan hati besar untuk benar-benar menerima kondisinya yang berbeda. 

Secara penokohan sudah sangat baik dan menarik. Tidak ada tokoh yang dibuat sempurna banget dan pasti ada masalahnya. Ini menunjukkan kalau setiap orang punya perangnya masing-masing. Selain membuat cerita jadi lebih kaya, masalah pun membuat keterhubungan emosi antara cerita dengan pembacanya.

Penceritaan penulis pun sangat enak. Disesuaikan dengan kebiasaan cara bertutur anak kuliahan, rasa novel ini jadi terkesan meriah, bersemangat, dan anak muda banget. Tidak kaku baik dari gurauan maupun dialog-dialognya.

Dari novel ini saya belajar untuk tidak menghakimi orang-orang dengan pembawaan mereka. Tidak ada satu orang pun yang ingin membawa kekurangan. Tapi jika Tuhan memberikan itu, mereka butuh usaha keras untuk berdamai dengan keadaan. Kita  harus tahu, banyak banget kekecewaan, kemarahan, tangisan, bahkan mungkin rasa putus asa dalam prosesnya. Dan kita belum tentu akan sekuat mereka jika berada di posisi mereka.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati membaca novel ini. Percintaan anak kampusnya seru, konfliknya rame, dan renungannya lumayan dalam. Saya bakal ingat terus kalau tidak ada orang yang sempurna, yang ada adalah belajar menerima.

Sekian ulasan saya untuk novel The Name Of The Game ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***

Kutipan-Kutipan

  • Hidup itu kadang membosankan.... Makanya, kita harus bikin hidup lebih berwarna dengan mencari kebahagiaan dari hal-hal kecil... (p.31)
  • Lo tau nggak sebab utama perasaan galau itu bukan putus, diselingkuhin, atau ditolak, tapi saat lo udah tahu kalau lo nggak bisa, tapi masih tetep ngotot. Ngotot ngarep, ngotot bertahan, dan ngotot terus cari tahu hal yang padahal udah jelas... (p. 268)


April 18, 2025

Resensi Novel Dream Record - Lee Hye-rin

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Dream Record

Penulis: Lee hye-rin

Penerjemah: Primastuti Dewi

Editor: Ifan Afiansa

Ilustrasi sampul & isi: Nadiah Ariqah

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Terbit: 2025

Tebal: vi + 138 hlm.

ISBN: 9786230420535

Tag: fantasi, teknologi, perundungan, mimpi



Sinopsis

Dream Record adalah perusahaan perekam mimpi yang dibangun oleh pasangan suami-istri; Han Tae-oh dan Oh Hae-na. Hae-na adalah penulis cerita yang pada debutnya melahirkan karya laris. Sejak itu, dunia seperti menuntutnya untuk berkarya sebagus karya pertamanya. Saat mengalami writer's block, Hae-na pusing sekali. Ide-ide dalam mimpinya begitu menarik untuk diolah menjadi cerita tetapi ketika ia bangun tidur, ia tidak ingat akan mimpi-mimpinya itu.

Tae-oh sebagai ilmuan syaraf mendapatkan ide bagus untuk membantu istrinya. Ia menciptakan cara dan alat untuk merekam mimpi, yang kemudian menjadi perusahaan besar, Perusahaan Dream Record.

Masyarakat datang berbondong-bondong untuk mencoba merekam mimpi mereka. Ada banyak alasan kenapa mereka ingin melakukan itu. Layanan ini laris sekali dan untuk meredam hal itu, harga untuk menikmati layanan ini dibuat mahal. Semakin mahal harganya, Tae-oh semakin gusar. Tujuannya membuat perekam mimpi bukan sekadar bisnis. Ia ingin semua kalangan bisa menikmati layanan ini. Ia pun membagikan voucher gratis dalam jumlah terbatas setiap periode agar masyarakat biasa pun bisa mencoba merekam mimpinya.

Kira-kita pertolongan dan manfaat apa saja yang bisa diberikan dari mimpi yang direkam?



Resensi

Membaca novel Dream Record ini jadi pengalaman yang menyenangkan. Saya sangat-sangat-sangat suka dengan ceritanya. Emosi saya diaduk-aduk antara marah, sedih, kesal, geram, dan senang penuh kelegaan. 

Kalau sekilas melihat sampul novel ini, kita pasti akan menebak kalau isi ceritanya tentang dongeng indah. Awalnya saya juga mengira begitu, tetapi dugaan itu patah, pada pembukaan novel ini penulis menyinggung soal perundungan. Hemm, ada tanda-tanda kalau ceritanya lebih serius dari sekadar keindahan dongeng yang diwakilkan warna-warni sampulnya.

Kami, para orang dewasa, sangat peduli dengan masalah bullying di sekolah dan bertekad kuat untuk turut serta menyelesaikannya (hal. 2)

Cerita Mengerikan Perundungan

Konflik besar novel ini adalah perundungan di sekolah yang dialami siswi bernama Jeong Ga-eun oleh geng Tae-hee, Hye-jin, Sena, Yurin, dan Arin. Kasusnya makin besar ketika Ga-eun jatuh dari lantai tiga gedung sekolah. Ibunya Ga-eun mencari kebenaran yang belum terungkap dari kejadian yang menimpa anaknya. Sekolah, polisi, dan rumah sakit harus dilibatkan.

Penulis menggali lebih dalam kasus perundungan yang bisa menimpa siapa pun. Di sini dipaparkan jelas bagaimana perundungan dimulai, pikiran pelaku melakukannya, kehancuran fisik dan psikis korban, penyesalan dan rasa gagal orang tua yang anaknya jadi korban, dan pandangan tenaga ahli yang membantu penyembuhan korban. Apa yang menimpa Ga-eun jadi babak paling kelam yang bisa meninggalkan trauma seumur hidup.

Beberapa pihak diceritakan ikut bergerak mengungkap misteri jatuhnya Ga-eun. Prosesnya susah karena di lokasi tidak ada CCTV dan saksi. Dan geng yang diketahui sesekolah sebagai terduga pelaku menyangkal tuduhan itu. Dan rupanya kasus perundungan ini bisa jadi celah penjahat lainnya untuk merusak korban lebih hancur dengan kejahatan lainnya. Saya sangat syok begitu kasusnya terungkap dan ternyata Ga-eun mengalami kejahatan lain yang lebih tidak manusiawi. Pelaku pun ternyata orang yang tidak pernah disangka-sangka.

Hubungan Manipulatif dan Toxic

Karakter Yeo-reum hadir dengan membawa cerita yang berbeda. Dia terjebak dalam hubungan toxic karena memiliki pasangan yang manipulatif, Tae-woo. Orang manipulatif harus dihindari karena punya sifat egois tinggi, penuntut, susah mengakui kesalahan, dan mahir melakukan treatment baik untuk menutupi sifat aslinya. 

Yeo-reum yang dasarnya gadis baik-baik sangat gampang jadi korban manipulatif dan susah melepaskan diri. Ia tahu kalau kekasihnya tidak wajar (ucapan dan tingkah laku) tetapi ketika kecurigaan itu diutarakan dan disangkal dengan bahasa manis oleh pacarnya, Yeo-reum bisa gampang mempercayainya lagi. Tidak heran kalau korban dari pasangan manipulatif gampang diluluhkan lagi dan itu makin membuat dirinya terjebak lebih dalam.

Butuh momen besar untuk benar-benar membuka mata korban dari pasangan manipulatif. Yeo-reum baru bisa melek dan sadar saat terbongkar kalau pacarnya selingkuh dengan sahabat sekaligus adik tingkatnya. Dan beruntung saat itu terjadi, Yeo-reum bisa tegas untuk meloloskan diri sehingga bujukan pacarnya tidak manjur lagi.

Benang Merah Perusahaan Dream Record

Dream Record sebagai perusahaan perekam mimpi menjadi penyambung antara Yeo-reum dan Ga-eun. Keduanya terhubung seperti takdir. Dream Record juga yang membantu membongkar masalah keduanya. 

Yeo-reum bekerja sebagai pemandu di Dream Record dan mendapatkan voucher gratis layanan perekam mimpi. Tae-woo yang tidak mampu membayar layanan itu membujuk Yeo-reum untuk memberikannya dan berhasil walau dengan berat hati. Tapi berkat ini, Yeo-reum bisa menonton mimpi pacarnya yang mengandung jawaban kenapa Tae-woo berubah akhir-akhir ini.

Sedangkan Ga-eun yang kehilangan ingatan, terutama ingatan kejadian saat ia jatuh, menggunakan layanan perekam mimpi atas saran Detektif Ho, deketif yang menyelidiki kasusnya. Walau butuh kesabaran karena Ga-eun secara bawah sadar menutupi ingatannya itu, Yeo-reum sebagai pemandu di Dream Record berhasil membangkitkan keberanian Ga-eun untuk membuka diri. Apa yang terjadi pada hari itu akhirnya muncul di mimpi Ga-eun dan membongkar kejahatan pelaku.


Menyembuhkan Diri Dari Trauma

Bagian paling mengharukan di novel ini adalah saat Yeo-reum berbagi pengalaman perundungan dengan Ga-eun. Dibeberkan betapa tersiksanya hidup sebagai korban. Setiap hari selalu mawas diri tentang apa yang akan terjadi dengannya.

Dibahas juga bagaimana Yeo-ruem bisa menerima traumanya dan perlahan memeluk dirinya erat. Tidak ada pilihan selain harus sembuh dan menjadi lebih kuat. Ada satu deskripsi menarik saat Ga-eun menonton mimpinya yang berisi peristiwa perundungan  saat ia sudah menerima masa lalunya. Ada rasa sedih, kasihan, dan marah yang bercampur menonton dirinya sendiri di masa lalu yang diperlakukan buruk.


"Bahkan seandainya kau harus menghadapi kenangan yang menyakitkan, kau harus memiliki keberanian untuk sepenuhnya menerima itu. Kau harus memeluk dirimu yang sedang terluka dan kesulitan. Emosi dan ingatan yang buruk juga merupakan bagian dari dirimu dan hidupmu. Kalau kau terus mengabaikannya, rasa sakit itu tidak akan pernah hilang. Menghadapi rasa sakit bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi sekarang kau yang sedikit lebih dewasa dapat memeluk dan menghibur dirimu yang lemah di masa lalu. Dengan begitu, kau bisa maju sedikit demi sedikit." (hal. 99-100)

Ide Cemerlang Rekaman Mimpi

Rekaman mimpi yang bisa ditonton ulang jadi ide cemerlang di novel ini. Apalagi rekaman mimpi ini punya manfaat yang besar untuk beberapa situasi. Ada yang menonton mimpi karena ingin kembali melihat wajah orang yang sudah tiada, ada yang ingin bernostalgia dengan kebahagian pada momen spesial, ada yang ingin menggali pesan yang tidak dipahaminya, dan masih banyak lagi alasan pengunjung menggunakan layanan ini.

Proses untuk menggunakan layanan di Dream Record juga sangat jelas disampaikan penulis. Jadi memang bukan yang tiba-tiba saja pengunjung datang lalu di rekam. Detail teknisnya begitu lengkap sehingga saya bisa membayangkan langsung jika layanan ini beneran ada di dunia nyata.

Cerita tentang Dream Record ini juga masih punya potensi luar biasa untuk dikembangkan lebih lebar. Terutama soal kehidupan pasangan suami-istri pendirinya. Saya sangat penasaran dengan kehidupan Hae-na sebagai penulis yang akhirnya terbantu dengan alat perekam mimpi. Kira-kira bagaimana proses kreatif Hae-na membuat buku dongengnya.

Buku ini bakal lebih menarik jika halaman ilustrasi di dalamnya dicetak berwarna. Pasti menyenangkan berlama-lama memperhatikan detail ilustrasinya. Sampul depannya juga sudah bagus dan tentu saja gambar di dalamnya juga harus menyesuaikan. Saya yakin bakal memikat pembaca dongeng.

Simpulan

Novel ini tipis tapi saya puas dengan ceritanya. Tidak disajikan bertele-tele, ceritanya tidak melebar kemana-kemana dan tetap fokus, diksi untuk menggugah emosi pembaca juga tepat sasaran, dan keringkasan ceritanya tetap dieksekusi dengan baik.

Kesannya, saya seperti menemukan momen refleksi setelah membaca novel ini. Pelajaran moralnya begitu meresap ke hati. Dan tentu saja novel ini bisa jadi rekomendasi untuk dibaca remaja sebagai bacaan mendidik tentang bahaya perundungan.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel Dream Record ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Januari 18, 2024

Review Buku The Keep It Simple Book - Simon Tyler


Judul:
The Keep It Simple Book

Penulis: Simon Tyler

Penerjemah: Anna Ervita Dewi

Sampul: Amanda M. T. Castilani

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Terbit: Maret 2020

Tebal: 198 hlm.

ISBN: 9786232169029

Ada nggak di antara kamu yang sedang merasa demotivasi, lesu, kurang gairah, dalam menjalani hidup sehari-hari dan pekerjaan? Jangan-jangan itu akibat kesibukan yang berlangsung lama...

Mungkin kamu sedang butuh asupan motivasi yang bisa mengurai semuanya.

Dan menurut saya buku The Keep It Simple Book ini bisa membantu. Buku ini punya isi motivasi yang bisa dipraktikkan agar hidup kita lebih clean dan full value. Dan secara garis besar, penulis mengajak kita untuk 'Menyederhanakan Hidup'.

Ada 50 bab berisi masukan yang bisa diaplikasikan dan sebagian besar sangat relate dengan kondisi saya saat ini. Ada tiga pelajaran penting yang saya ambil dari buku ini yaitu tidak menjadi reaktif, menyederhanakan yang rumit, dan berkesadaran.



Pertama, tidak menjadi reaktif artinya memberi jeda pada apa pun. Yang paling penting buat saya adalah menahan diri ketika berbicara. Saya ini orangnya suka berkomentar dan bercerita sampai-sampai hal tidak penting pun bisa keluar dari mulut saya. Dan setelah membaca buku ini saya mulai menahan diri dengan memberi jeda setiap kali mulut saya ini akan berbicara. Karena saya tidak bisa mengontrol ucapan yang sudah diucapkan.

Kedua, menyederhanakan yang rumit aryinya membuat semua menjadi simple, bersih, dan teratur. Ternyata ada beberapa tips untuk membuat segalanya menjadi sederhana, baik pikiran, ucapan, maupun lingkungan. Beberapa cara bisa dilakukan misalnya dengan membersihkan meja kerja, menyelesaikan semua hal yang selama ini ditunda dan mengganggu pikiran, menyingkir dari situasi gaduh, dan masih banyak lainnya.

Ketiga, berkesadaran artinya kita paham apa yang kita mau tuju dan akan lakukan. Ini akan membuat kita bisa menyeleksi apa saja yang menjadi penghalang untuk mencapai tujuan kita dan itu mesti ditiadakan. Alhasil segalanya menjadi ringkas dan sederhana. 

Jujur, buku ini benar-benar mengingatkan saya kalau apa yang saya jalani terlalu sibuk, bising, dan menguras energi. Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi kita akan membereskan itu semua. Saya cuma tidak ingin menjalani hidup yang melelahkan dan mengesampingkan kebahagiaan. Rugi sekali kalau sampai kita menjalani hari-hari tanpa bisa menikmati kebahagiaan.



Walau pun buku ini sudah selesai dibaca, tapi saya akan membaca ulang dengan membuka secara random atau memilih judul yang memang nanti saya butuhkan. Setiap babnya ditulis dengan ringkas jadi cukup membantu untuk meng-on kan semangat kita jika sedang off tanpa menghabiskan waktu yang rada lama.

Berikut beberapa poin yang saya tandai di bukunya:

"Jangan ceroboh dalam perbuatan; membingungkan dalam perkataan, ataupun bertele-tele dalam pemikiran." Marcus Aurelius (121-180) | hal. 13

...Orang yang paling terpengaruh oleh kata-kata Anda adalah ANDA SENDIRI! | hal. 14

"Jika kamu mengubah caramu melihat segala sesuatu; maka sesuatu yang kamu lihat itu akan berubah." Wayne Dyer | hal. 141

Kesimpulannya, buku ini bisa menjadi kawan kapan pun karena muatan masukkannya yang berguna sekali.

Sekian ulasan saya kali ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



November 13, 2023

Resensi Novel A Friend's Goodwill - Denkus


Judul:
A Friend's Goodwill

Penulis: Denkus

Penyunting: Sari Mulia Eri

Desain sampul: Generared by AI

Penerbit: Bhuana Sastra

Terbit: November 2023

Tebal: 176 hlm.

ISBN: 9786230416132


Sempat kejar-kejaran dengan polantas, empat remaja yang membawa mayat ditangkap. [kalimat pertama, A Friend's Goodwill]



Empat siswa SMA; Langit, Iman, Satria, dan Hari, diamankan polisi setelah melarikan mobil menghindari razia. Dan saat mobil digeledah, di dalamnya ditemukan mayat temannya, Awan, yang mati dengan tusukan di leher. Penusukan terjadi di villa saat mereka liburan untuk merayakan ulang tahun Awan. Introgasi panjang dilakukan oleh polisi dan Langit terpojok dengan hasil yang dikemukakan ketiga temannya. Langit terus mengatakan kalau dia bukan pembunuh Awan walaupun dia pernah merisaknya di masa lalu.

Selama polisi menyelidiki kasus ini, Langit kembali memasuki kesehariannya sebagai murid sekolah. Tetapi semua sudah berbeda. Ketiga temannya keluar dari sekolah dan tidak ada akses untuk berkomunikasi. Banyak murid yang menuduhnya sebagai pembunuh dan beberapa di antaranya melakukan perisakan kepada Langit karena kebencian dengan tingkahnya di masa lalu.

Langit percaya kalau ketiga temannya pun bukan pembunuh Awan. Didukung dengan pernyataan Pak Bram, polisi yang menangani kasus ini, kalau pembunuhnya bukan di antara keempatnya, tetapi ada orang lain yang melakukannya, memotivasi Langit untuk mencari tahu siapa pembunuh Awan dan apa motifnya

Penyelidikan Langit selalu menemui kesulitan karena orang di sekitarnya sudah mencapnya sebagai pembunuh. Banyak pihak yang tidak percaya dan enggan untuk membantunya. 

Berhasilkah Langit menemukan pembunuh Awan dan membongkar apa motifnya?




Novel A Friend's Goodwill karya Denkus ini bergenre thriller mistery karena membahas soal kasus pembunuhan dan proses mencari tahu siapa pelakunya. Tipikal novel yang bikin penasaran karena penulis menebar petunjuk sedikit-sedikit pada setiap babnya lalu akan dibongkar menjelang ceritanya berakhir. Di sini pun sama, kita akan diberi tahu bertahap apa yang terjadi di masa lalu dan latar belakang dari tokoh atau pun sebuah peristiwa. Teknik ini kerap dipakai novel misteri dan membuat pembaca menebak-nebak siapa pelakunya dan bagaimana kejadiannya.

Isu yang diangkat penulis adalah perundungan di lingkungan sekolah SMA. Potret keadaan yang memang ada di sekitar kita. Beberapa kasus mencuat akhir-akhir ini di media sosial. Pelaku bukan hanya anak SMA saja, tapi ada juga yang anak SMP. Dilakukan bukan oleh anak laki-laki, tetapi ada juga anak perempuan. Miris sekali bukan?

Bentuk perundungan bisa bermacam-macam. Ada yang disuruh membelikan makanan, ada yang dipukuli atau ditendang, dan di novel ini lebih mengerikan lagi sebab ada adegan jari korban dipukul pakai palu oleh pelaku hingga jadi setengah buntung.

Pembaca akan diajak bersimpati dengan korban perundungan yang kebanyakan mental mereka ikutan rusak. Membuat trauma, dan tidak sedikit para korban memendam kebencian dan rasa marah yang dipendam dalam waktu lama. Di novel ini akan kita temukan beberapa korban yang dulunya dirisak justru berubah jadi perisak saat kesempatan itu datang. Bagai lingkaran setan, tidak berujung. Makanya pakar kesehatan selalu menekankan kesembuhan mental korban sebab jika tidak diatasi sampai tuntas ditakutkan si korban akan berubah jadi pelaku di masa depan.

Yang berbeda dari kasus perundungan lain, di novel ini kita akan mendalami perasaan pelaku yang bertobat. Bahkan di sini diceritakan kalau pelaku dan korban menjadi teman baik. Tapi tetap saja, cap perundung yang melekat susah dibersihkan. 

Tema keluarga dan persahabatan juga akan kita temukan di novel ini. Pada beberapa bagian penulis berhasil membikin saya menangis. Peran keluarga dalam kasus bully sangat penting, baik untuk korban maupun pelaku. Beberapa kali saya menangis karena terharu dengan hubungan Langit dan orang tuanya. Saya salut dengan papanya Langit yang bisa tegas pada kasus anaknya tetapi di sisi lain beliau juga menyayangi dengan gestur dan keputusan-keputusan bijak sebagai ayah.

Persahabatan Langit dengan Awan dan ketiga temannya merupakan gambaran kedewasaan dari anak SMA. Langit yang sedang menebus kesalahannya kepada Awan justru harus kehilangan karena kematian dan teman-teman Langit lainnya menopang dengan moral kalau yang kehilangan bukan dia saja, tapi semua. Pokoknya kita akan dibuat percaya kalau pelaku bully juga bisa tobat dan jadi lebih baik. Tetapi kalau di dunia nyata, entahlah ya.

Alur cerita di novel ini maju-mundur. Kita akan diajak melihat apa yang terjadi setelah Langit dan ketiga temannya bisa keluar dari kantor polisi setelah diintrogasi berjam-jam. Yang paling kentara adalah soal hukum sosial yang lebih mengerikan. Langit dibuat tak berdaya dengan tatapan nyinyir murid lain, tuduhan sebagai pembunuh, dan puncaknya sampai dia dilempar telur. 

Alur mundur akan muncul saat penulis membahas soal kejadian perundungan yang dilakukan Langit baik kepada Awan dan korban lainnya di masa lalu. Sekaligus penulis juga memberikan latar belakang kenapa Awan dan korban lainnya bisa jadi sasaran bully.

Banyak karakter yang muncul di novel ini tapi yang paling dominan dibahas adalah Langit. Dia murid SMA yang petantang-petenteng, suka merisak, tempramen, dan sok gagah-gagahan. Namun dia kemudian berubah jadi lebih baik. Menjadi sahabat yang bisa diandalkan, peka terhadap lingkungan sekitar, dan bisa menurut dengan orang dewasa. Ketiga temannya (Hari, Satria, dan Iman) menjadi karakter pendukung yang secara penggambaran belum kuat sebab mereka tampak menjadi nakal saat Langit nakal dan kemudian jadi baik saat Langit sudah tobat. Seperti mengikuti arah angin saja dan yang jadi anginnya yaitu Langit. Tidak ada penjelasan lengkap kenapa mereka ikut-ikutan apa yang dilakukan Langit.

Awan yang jadi korban pembunuhan tidak mendapatkan sorotan yang banyak sebab kita tidak bisa menyelami kedalaman karakter orang mati. Sebagian karakter yang dimunculkan dari tokoh Awan hanya melalui bagian-bagian masa lalu yang diceritakan ulang. Kita akan mengenal Awan sebagai sosok pemuda yang dermawan, suka membantu, baik, pekerja keras, dan menyayangi anak-anak.

Masih ada beberapa karakter pendukung lain yang memiliki peran penting misalnya korban bully lain seperti Nathan dan Miko. Ada juga karakter Nenek, Kenzo, orang tua Langit, murid-murid belajar pinggir kali, Pak Bram, dan guru di sekolah.

Dari keseluruhan karakter yang muncul, saya akui kalau penulis berhasil menghidupkan tokoh dengan baik dan memberi nyawa kepada alur cerita sehingga emosi dari mereka bisa sampai kepada saya sebagai pembaca. Ada poin yang bisa dikembangkan penulis yaitu soal gambaran fisik para tokohnya yang belum detail sehingga saya tidak bisa membayangkan Langit, Awan, Nathan, dan tokoh lainnya sosok seperti apa. Setelah selesai membaca novel ini saya masih menganggap mereka itu tetap di dua dimensi, sekadar tulisan nama karena poin tadi menurut saya belum terpenuhi.

Selain tipis, berkat gaya penulisan Kak Denkus yang lugas, to the poin, dan meringkas laju alur yang tepat membuat saya bisa menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk. Setiap paragrafnya pun tidak disusun panjang-panjang jadi tidak bosan dengan ceritanya dan tahu-tahu sudah mau beres saja.

Kesimpulannya, novel A Friend's Goodwill ini mempunyai cerita menarik dan mengharukan. Kita akan dibuat lebih sadar tentang urgensi penyelesaian dan penanganan kasus bully. Bahaya perundungan bukan soal fisik saja, tetapi lebih dalam lagi karena menembus pada psikologi korban yang secara tidak kasat mata tetapi efeknya ada dan nyata.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Oktober 08, 2023

Resensi Novel The Shark Caller (Sang Pemanggil Hiu) - Zillah Bethell


Judul:
The Shark Caller (Sang Pemanggil Hiu)

Penulis: Zillah Bethell

Penerjemah: Endang Sulistyowati

Desainer: Alif Mustofa

Penerbit: Bhuana Sastra

Terbit: Januari 2022

Tebal: 320 hlm.

ISBN: 9786230407536




Dua tahun lalu orang tua Blue Wing tewas diserang hiu dan sejak itu ia ingin menjadi pemanggil hiu agar bisa balas dendam. Sarangen, pengasuhnya sekaligus ahli pemanggil hiu, menolak untuk mengajari.

Blue Wing mendapatkan teman baru bernama Maple Hamelin. Awal-awal hubungan keduanya panas terus, tetapi lama-lama keduanya menemukan persamaan dan menjadi dekat, bisa saling memahami. Blue Wing kehilangan orang tuanya dan Maple kehilangan ibunya. Keduanya menyimpan penyesalan mendalam dan kerap menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kehilangan tersebut.


The Shark Caller berlatar di Papua Nugini dan ini pengalaman menarik mengingat saya hampir tidak pernah mendengar tentang kehidupan dan kebudayaan di negara tersebut. Kita juga akan belajar beberapa kosa kata dalam bahasa Papua Nugini yang tidak dialihbahasakan oleh penerjemah.

Novel ini mempunyai cerita yang menyedihkan dengan pesan moral untuk bisa mengikhlaskan kepergian orang yang kita sayang. Terkadang kita yang ditinggalkan akan mempunyai pikiran menyalahkan diri sendiri dan menyesal melakukan kesalahan di masa lalu, dan belum meminta maaf kepada yang meninggalkan kita.

Tema kehilangan tidak hanya dialami oleh dua remaja karakter utamanya, Blue Wing dan Maple, tetapi juga dialami oleh ayahnya Maple dan Sarangen. Makin mendalam sekali nilai kehilangan yang diangkat di novel ini. Emosi saya campur aduk oleh perdebatan karakter-karakternya dalam menanggulangi rasa kehilangan tersebut.

Isu menjaga habitat hiu pun beberapa kali dibahas. Keberadaan hiu bisa terancam dengan adanya life style membunuh hiu jadi kebanggan bagi orang kaya. Melalui karakter Sarangen, kita diingatkan untuk merubah kebiasaan itu, walau kegiatan membunuh hiu pernah menjadi kebudayaan di masa lalu.

Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca muda yang suka cerita ringan, isu habitat hewan, dan yang masih menyimpan penyesalan atas kepergian orang yang kita sayang.

Demikian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



September 12, 2023

Resensi Novel The Apartment - Utep Sutiana


Judul:
The Apartment

Penulis: Utep Sutiana

Penyelaras aksara: Dewi Hannie

Desainer: Billy R.

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Terbit: September 2019

Tebal: 178 hlm.

ISBN: 9786232165410

Nilai: 3/5


Sabrina Larasati ditemukan tewas di balkon apartemennya. Dari hasil penelitian tim forensik kepolisian, Sabrina meninggal dikarenakan kekerasan fisik. Rimba Rayya-sang fotografer, yang juga adalah pacarnya- menjadi tersangka utama.

Akan tetapi, seiring waktu bergulir dan berdasarkan fakta-fakta yang didapat di TKP, beberapa nama pun muncul ke permukaan dan diyakini oleh pihak kepolisian menjadi tersangka utama berikutnya.

Kasus semakin rumit ketika Syifa-manajer artis Sabrina-ternyata juga tewas beberapa hari sebelum Sabrina terbunuh.


Novel The Apartment menceritakan seorang gadis 32 tahun berprofesi artis terkenal bernama Sabrina Larasati. Kehidupannya sedang suntuk karena kesibukannya sebagai artis yang penuh jadwal syuting. Ditambah kemunculan Dustin, sahabat lamanya, yang kian meneror dengan tujuan menjadikannya sebagai pacar.

Teror Dustin mengusik hidup Sabrina, dan ketenangannya bertambah rusak saat manajernya, Syifa, menyampaikan ada lelaki bernama Anton, mengaku sahabatnya dari kampung, yang mendesak ingin menemuinya. Sabrina tidak punya pilihan selain pindah apartemen dan ia akan pindah ke apartemen kosong milik kekasihnya, Rimba Rayya-sang fotografer.

Suatu pagi, Lelma yang berkunjung ke apartemen Sabrina yang baru, ia justru menemukan sosok Sabrina sudah terkapar di balkon dengan luka tusukan. Sebelum dibunuh, tampaknya Sabrina diperkosa lebih dulu karena di tubuhnya ditemukan sperma.

Selain itu, manajer Sabrina, Syifa, juga ditemukan terbunuh di apartemennya. Kepala belakangnya dipukul benda tumpul. 

Penyelidikan polisi untuk dua kasus pembunuhan mengarah kepada orang-orang terdekat dari si korban. Lelma, Dustin, Rimba, dan Anton merupakan nama-nama yang masuk investigasi. Lelma adalah teman seapartemen Sabrina. Dustin adalah sahabat yang kemudian mengejar Sabrina agar jadi pacarnya. Rimba adalah kekasih Sabrina. Anton adalah sahabat lama Sabrina dari kampung.

Lalu, siapa sebenarnya pembunuh Sabrina dan Syifa? Dan apa motif pembunuhan keduanya?


Novel The Apartment ini bergenre thriller misteri. Ceritanya ada pembunuhan dan kita diajak menelusuri mencari tahu siapa pembunuhnya. Dan di sini juga kita akan menemukan usaha penulis untuk menggiring pembaca menebak ke terduga pelaku, dan menjelang akhir cerita, mulai dipatahkan satu demi satu dugaan tersebut dengan alibi-alibi yang meyakinkan.

Saya suka dengan ceritanya karena memang saya jarang membaca genre ini, terutama karya penulis dalam negeri. Dan genre ini tentu saja membuat saya betah melanjutkan membaca karena penasaran dengan sosok pelaku pembunuhnya.

Lembar demi lembar misterinya cukup menarik. Terutama ketika penulis mulai menjabarkan alibi-alibi kenapa terduga pelaku tidak jadi pelaku. Semakin diungkap alibinya, semakin mengerucut sosok pelakunya. Dan di akhir cerita, lumayan mengagetkan, "Kenapa pelakunya dia?". Saya tidak akan membocorkan siapa pelakunya, tapi saya perlu bilang kalau Sabrina adalah korban apes atau nasib tak mujur.

Ada tiga hal yang saya tidak suka dari novel ini. Pertama, penulis menampilkan orang-orang berengsek di sekitar korban (Sabrina). Dengan begitu, pembaca sudah yakin kalau di antara mereka sebagai pelakunya karena motifnya jelas. Dan ketika mereka menjalankan rencana buruk kepada Sabrina, ketertarikan saya pada kasusnya berkurang. Akan jauh lebih seru kalau ada orang-orang baik di sekitar Sabrina yang justru menyimpan bara dalam sekam, dan saat cerita akan diakhiri, penulis membuka motifnya dengan gamblang. Ini akan mengejutkan pembaca.

Kedua, pace ceritanya yang terlalu cepat. Banyak detail yang dipersingkat dengan paragraf narasi sehingga pembaca tidak bisa masuk dengan karakter-karakter yang ada. Susah bagi saya untuk simpati dengan tokoh-tokohnya. Ini membuat saya maklum dengan novel terjemahan yang bergenre sama dan memiliki ketebalan yang menguji, karena di novel tersebut memaparkan lebih banyak detail cerita.

Ketiga, ending cerita yang tidak memuaskan. Penulis dengan mudahnya tidak mengganjar pelaku dengan hukuman yang setimpal. Pelaku malah bisa bebas dan leluasa meninggalkan Indonesia dengan sangat jumawa. Pada bagian ini, peran polisi dan detektif jadi tidak ada gunanya.

Walau novel ini memiliki kekurangan, tetapi ceritanya masih menghibur dan bisa dinikmati. Sayangnya memang belum memberikan kesan mendalam. 

Sekian ulasan saya untuk novel The Apartement ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!




Juli 30, 2023

Resensi Buku Anak: Spog Mencari Bumi - Arleen A & VinK


Judul:
Spog Mencari Bumi

Penulis: Arleen A

Ilustrasi: VinK

Penyunting: Noni M. T.

Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer

Terbit: Januari 2008

Tebal: 60 hlm.

ISBN: 9789797986575

Perkenalkan, namaku Spog. Aku adalah seekor anjing yang tinggal di planet Alotita, yang letaknya jauh dari Bumi. Tapi nenek moyangku sebenarnya berasal dari Bumi. Sekarang aku sudah cukup besar untuk naik pesawat ruang angkasa sendiri. Makanya aku ingin sekali main ke Bumi. Tapi aku nggak tahu jalan ke sana. Padahal Bumi sangat jauh dan banyak bahaya yang menghadang di depan. Bisakah kamu membantuku menemukan planetmu?

***

Karena sedang kesusahan membaca novel, saya memutuskan untuk mengunduh IJakarta, perpustakaan digital punya pemerintah DKI Jakarta, dan memilih bacaan anak-anak. Nama penulis yang saya ingat saat itu adalah Kak Arleen A. Setahu saya beliau sudah punya beberapa buku anak-anak. Dan begitu dicari, wuihh... ada banyak bukunya. Pilihan saya pun jatuh ke buku series Spog, seekor anjing yang berasal dari Planet Alotita.

Buku Spog Mencari Bumi merupakan buku pertama petualangan Spog. Sebagai permulaan, penulis membahas dulu siapa Spog dan kenapa anjing ini bisa berada di Planet Alolita. Rupa-rupanya Spog ini sebenarnya ras anjing dari Bumi. Dulunya, nenek moyangnya ikut astronot dari Bumi ketika melakukan penjelajahan angkasa dan mereka tertinggal di Planet Alolita. Biar sudah menjadi penghuni Planet Alolita, cerita tentang Bumi tetap dilestarikan ke generasi berikutnya. Dan secara turun temurun mereka melakukan pencarian keberadaan Bumi berada.

Dan dirasa Spog ini sudah cukup mampu mengendalikan pesawat luar angkasa, dia pun melakukan perjalanan mencari Bumi. Ternyata perjalanannya tidak mudah. Spog memulai petualangannya dan ia pun bertemu banyak hal seperti mahluk air, raksasa gondrong, raksasa ungu, naga, anak laki-laki dari Bumi bernama Roy dan masih banyak lagi.

Siapa sih yang enggak suka cerita petualangan? Anak-anak juga pasti suka. Ditambah karakternya hewan lagi. Pasti mereka bakal tertarik banget dan senang mengikuti kisahnya. Yang menonjol dari buku anak-anak adalah sajian ceritanya yang sederhana. Bahkan gaya penulisan pun menggunakan diksi yang mudah dimengerti. Enggak perlu juga pakai konflik yang berat-berat biar anak-anak gampang memahami maksud ceritanya.

Buku ini juga dicetak full warna dan gambarnya sangat enak dilihat. Cocok sih buat bacaan anak-anak. Tetapi yang menurut saya kurang pas adalah formatnya yang meminta pembaca memilih kelanjutan cerita dengan membuka halaman berikutnya sesuai pilihan kita, itu bakal terlalu berat buat anak-anak. Apalagi jumlah skenarionya banyak pisan.

Pada halaman 4, akan ada pilihan sebagai berikut: - Jika kamu pikir Spog sebaiknya berusaha berkomunikasi dengan makhluk penyerangnya, lanjutkan ke halaman 7. - Jika kamu pikir Spog sebaiknya menekan tombol Turbo untuk lari ke Planet Biru, lanjutkan ke halaman 8.

Untuk membaca kelanjutan kisahnya, kita tinggal membuka halaman sesuai pilihan kita. Tapi saya yakin, walau sudah memilih satu skenario, kita akan dibuat penasaran dengan pilihan yang lainnya. Ini pula yang membuat saya menuliskan semua pola pilihan skenario dalam buku ini. Karena setiap pilihan skenario akan membawa kita pada petualangan baru dan akhir cerita yang berbeda.

Why? Why? Kenapa?

Jujur saja, saya yang sudah gede gini aja merasa terbebani dengan pilihan yang ternyata bisa sampai 25 skenario petualangan. Gila! DUA PULUH LIMA SKENARIO. Kalau buku ini dikasihkan ke anak SD, mereka bakal pusing sendiri. Secara sepanjang membaca bukunya, kita harus mengingat alur mana yang sudah dipilih dan PR lainnya anak-anak yang membaca buku ini harus bakal membolak-balikkan halaman dan lama-lama mereka akan merasa mumet sendiri.

Saya tidak tahu alasan penulis kenapa membuat pilihan ceritanya sebegitu banyak. Saya justru berharap buku ini hanya punya dua sampai lima skenario saja, dan itu cukup banget untuk menyampaikan pesan moral. 

Kalau boleh menduga-duga, jangan-jangan tuntutan halaman biar banyak. Sebab dipastikan kalau pilihannya hanya sekitar dua sampai lima skenario saja, pasti halamannya terpangkas banyak. Kecuali buku ini dibanyakin ilustrasinya dan dilakukan pemenggalan narasi ceritanya yang semula dibuat satu halaman, dirubah jadi tiga atau empat halaman.

Lagian, anak-anak itu suka liat gambar dibanding membaca banyak kalimat. Dan teknik melihat gambar yang disisipkan narasi cerita bisa membuat mereka betah untuk membuka-buka buku. Lama-lama mereka keranjingan membaca. Enggak apa-apa buku yang dibaca tipis-tipis, seiring umur dan kemampuan baca yang meningkat, bacaan mereka juga akan bergeser ke yang lebih tebal.

Posan moral di buku ini cukup relevan dengan usia anak-anak, dimana mereka sedang butuh-butuhnya pembelajaran nilai kebaikan. Banyak sekali pilihan-pilihan baik yang dilakukan Spog dan aman ditiru oleh pembaca anak-anak. Contohnya Spog mau membantu naga yang tertusuk, padahal naga bukanlah hewan jinak, tetapi Kak Arleen membawakan kisahnya dengan sederhana.

Secara keseluruhan, saya masih bisa menikmati ceritanya. Dan saya masih kuat untuk bolak-balik halaman bukunya kok. Buku ini benar-benar ringan, cukup menghibur di tengah kesusahan saya menyelesaikan membaca novel yang sudah lama menimbun.

Saya memberikan nilai 3/5 bintang, dan buku ini akan lebih baik dijadikan bacaan orang tua yang mau mendongengkan kisah kepada anak-anak, bukan anak-anak itu sendiri yang membacanya. Dengan opsi dibacakan tentu saja akan membangun hubungan erat orang tua dan anak.

Sekian ulasan saya kali ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.


Januari 29, 2023

Resensi Novel Ketika Cinta Butuh Jeda - Arganov


Judul: Ketika Cinta Butuh Jeda

Penulis: Arganov

Penyunting: Dinda Mustikasari

Desain sampul: Yanyan Wijaya

Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer

Terbit: Juni 2019

Tebal: 172 hlm.

ISBN: 9786232162556


"Aku mencintaimu...." Itulah yang ingin didengar Yesha dari mulut Devans untuknya. Di depan mata Yesha, Devans menyatakan cinta, tetapi bukan untuknya, melainkan untuk sahabat Yesha. Hatinya hancur dan mati.

Kehadiran lelaki lain tidak mampu menghidupkan cintanya. Yesha telah mati, menyerahkan cintanya kepada satu laki-laki.

Suatu ketika, Devans kembali, ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Namun, itu justru membuat Yesha semakin terpuruk. Meskipun mencintainya, Yesha terlanjur membencinya.



Gara-gara lamaran Devans kepada Aruna, hidup Yesha hancur lebur. Bukan apa-apa, keduanya memang menyukai Devans. Tapi Yesha yang merasa diberi kode-kode tidak menduga jika perempuan yang bakal menjadi istri Devans bukan dirinya, melainkan sahabatnya.

Tiga tahun kemudian, Yesha dipertemukan kembali dengan Devans pada keadaan yang berbeda. Devans sudah menjadi ayah bagi gadis manis berusia 2 tahun bernama Aurelia. Dan Yesha baru tahu kalau Aruna sudah meninggal.

Perasaan sakit hati di masa lalu belum kunjung sembuh. Apalagi orang yang menyebabkan sakit hatinya justru muncul lagi dalam kehidupannya. Di tengah kegundahan hati menghadapi masa lalu, Ari hadir dan berterus terang mengenai perasaannya. 

Yesha dibuat bingung memilih antara Devans dan Ari. 



Ini kali kedua saya membaca novel karya Kak Arganov, sebelumnya saya sudah membaca bukunya yang berjudul Pendakian Terlarang. Saya sangat suka dengan buku itu dan rating saya berikan sebesar nilai 5/5 bintang. Karena hal ini, saya memutuskan untuk membeli buku ini sewaktu ada promo murah di gramedia.com yang bukunya dikirim dari Gramedia Grage Mall Cirebon. Karena berada di satu kota, saya membeli juga dengan pengiriman pick up in store.

Saya suka dengan kovernya yang minimalis, enak dipandang, walaupun bukan yang bakal menggiring orang yang melihatnya untuk langsung beli. Kalau saya kan pernah baca karya lainnya, jadi tahu kalau buku ini pun pasti menarik. Sayangnya, saya tidak menemukan identitas penulis di dalam bukunya. Novel ini langsung dibuka dengan prolog dan berakhir dengan epilog, tidak ada basa-basi seperti 'kata pengantar' atau 'tentang penulis'. Eit, saya enggak kehabisan akal dong untuk mencari informasi penulisnya, dan sampailah saya di akun instagram-nya. Beliau ini ternyata seorang ibu. Kalau menilik dari gramedia.com, Mbak Arganov ini sudah menerbitkan lima buku: Ketika Cinta Butuh Jeda, Pendakian Terlarang, Aku Bukan Dia, Home, dan Ra-Ja. Saya jadi pengen baca buku lainnya juga.

Sekarang masuk ke kesan setelah membaca cerita romance ini ya. Blurb-nya sudah sangat jelas sih, soal perempuan yang kecewa ditinggal nikah dan susah move-on meskipun sudah ada lelaki lain yang mendekatinya. Tema percintaan sangat mendominasi ceritanya dan konflik pun hanya berkutat soal itu. Tidak ada tema lain yang dibahas, dan bisa jadi ini alasan kenapa novelnya tipis banget, dan bisa dibaca dalam waktu relatif singkat.

Walau begitu saya menyukai bagaimana penulis merajut ceritanya. Pada beberapa bagian memang bikin gregetan terutama membaca bagian Yesha yang masih saja menarik diri dari Devans padahal sinyal Devans yang mau mendekatinya lagi sudah sangat jelas. Yesha terlalu banyak mengingat masa lalu makanya dia meradang sendiri. Dan dari novel ini saya baru tahu kalau move-on orang ada yang fasenya butuh lebih dari satu tahun. Saya kira satu tahun itu sudah terbilang paling lama, tapi Yesha bisa lebih lama, tiga tahun lho, dan dia masih bisa menangis di kamar setiap kali mengingat masa lalu.


Penulis juga membawakan ceritanya melalui diksi yang sederhana dan mudah dipahami. Makanya kenapa saya bisa melahap novel ini hanya hitungan jam saja, tidak terganggu oleh banyak distraksi. Tidak banyak memuat quote juga, alhasil saya tidak banyak meletakkan bookmark di dalam bukunya. Kalau enggak salah hanya sebiji, itu pun menandai kalimat yang dramatis antara Ari kepada Devans.

"Kamu menyerah sebelum mencobanya sama sekali. Kamu marah ketika orang lain ingin mencoba mencintai Yesha? Wah, egois sekali. Sampai berapa lama hukuman itu kau terapkan?" - hal. 139.

Karakter-karakter yang ada di novel ini bukan yang loveable dan akan terus diingat, soalnya penulis tidak membangun dengan lengkap dan detail. Lagi-lagi memang novel ini tuh ketipisan, coba lebih tebal mungkin kesempatan penulis untuk menggali setiap karakternya akan lebih banyak sehingga pembaca bisa merasa dekat. Kalau harus memilih karakter yang membuat saya terkesan, pasti saya akan menyebut karakter Ari. Kenapa? Dia tokoh sampingan yang menjadi korban, perasaannya tertuju ke orang yang salah, di waktu yang salah, dan dia otomatis tidak punya pilihan lain selain merelakan. Menyedihkan sekali nasibnya itu. Pilihan saya ya karena simpati.

Tokoh Yesha digambarkan sebagai perempuan muda yang bucin, pemendam, dan masih belum cukup dewasa untuk menentukan sikap. Malah di saat dia masih kuliah, penulis menggambarkannya seperti gadis yang introvert, selalu nunduk, dan agak susah untuk bertatapan mata. Dan yang paling kentara dia ini suka overthinking, terbukti dengan narasi dia yang kebanyakan menduga-duga sikap Devans kepadanya ketika takdir mempertemukan kembali.

Devans di sini memang tidak bisa dipastikan berkarakter seperti apa yang menonjol. Alasan dia menikahi Aruna justru karena salah paham. Dan bukannya menghentikan kesalahpahaman ini di malam lamaran itu, dia justru meneruskan karena faktor tidak enak hati. Masalah pun menggelinding terus.

Aruna sebagai teman Yesha memang tidak punya porsi banyak tapi perannya berarti. Dia pecemburu dan diam-diam ambisius sehingga dia menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan saya masih bertanya-tanya mengenai status Aurelia ini, sebenarnya anak siapa, soalnya tidak disinggung nama pria lain.


Dari keseluruhan ceritanya, saya menangkap maksud penulis lewat konflik Yesha, Aruna, Devans, dan Ari ini adalah untuk jangan pernah segan mengungkapkan isi hati dan pikiran. Jangan membiarkan asumsi yang menguasai kesimpulan. Sebelum diungkapkan, kita mana akan tahu masalah dan kejadian sebenarnya. Kejujuran itu selalu membawa kebaikan. Jadi sebisa mungkin kita harus menjadi pribadi yang bisa jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain.

Segitu ulasan saya untuk novel Ketika Cinta Butuh Jeda ini. Saya memberikan nilai 3/5 bintang. Novel ini seru dibaca sebagai selingan ketika suntuk setelah membaca bacaan serius atau setelah dilanda reading slump.

Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Januari 23, 2022

[Buku] The Extincts - Veronica Cossanteli



Judul: The Extincts

Penulis: Veronica Cossanteli

Penerjemah: Febry Reyzky

Penyunting: Eunike Septiana

Penyelaras akhir: Ani Nuraini Syahara

Penata letak: Astrid Arastazia

Redesain cover: Alif Mustofa

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Terbit: September 2021

Tebal: 228 hlm.

ISBN: 9786230406263

***

Demi mendapatkan uang untuk membeli sepeda baru, George melamar pekerjaan di Peternakan Wormestall, yang ternyata… bukan peternakan biasa! Di sana ada berbagai makhluk yang telah punah atau hanya dianggap mitos: burung dodo, unicorn, naga, hingga Ichthyosaurus! 

Namun, hanya Orang yang Tepat-lah yang bisa bekerja di sana. Berhasilkah George mendapatkan pekerjaan itu? 

Lalu bagaimana ia menghadapi seorang taksidermis yang berniat mengawetkan makhluk-makhluk di Peternakan Wormestall?

***

Sinopsis

George Drake adalah anak 11 tahun yang pada satu hari kehilangan sepeda. Dan pada hari yang sama, dia melihat pengumuman lowongan kerja di Peternakan Wormestall. Ini seperti jalan keluar untuk masalahnya agar bisa menabung untuk membeli sepeda baru. Karena kondisi keuangan keluarga mereka tidak baik-baik saja sejak ditinggal Dad.

Peternakan Wormestall bukan peternakan biasa. George bertemu dengan Mrs. Lind dan Lobelius. Selain mereka, dia juga bertemu dengan hewan-hewan aneh yang menurut Ms. Lind merupakan spesies terakhir atau bisa dibilang, hewan langka.

Ada satu hewan Basilisk, sejenis ular bernama Mortifier yang kabur dari peternakan dan menjadi alasan menghilangnya beberapa hewan. Mortifier mampu membuat yang melihat matanya menjadi batu. Kejadian ini membangunkan kisah legenda mengenai naga bernama Wyrm Squermington.

Dan kemunculan Dimond Pye, ibu tiri Prudence si anak baru di sekolah George, yang merupakan Taksidermis (pengawet segalanya) membuat George dan Prudence harus menyelamatkan penghuni Peternakan Wormestall. Berhasilkan mereka melindungi Peternakan Wormestall?

Resensi

Novel ini merupakan novel remaja. Cirinya, karena tokoh di novel ini masih usia remaja. Kehidupan seputar anak remaja ditampilkan penulis dengan konflik-konflik yang membumbuinya. Seperti kehidupan sekolah, kehidupan pertemanan mereka, dan kehidupan mereka di rumah.

Novel ini punya kisah petulangan. Inti dari ceritanya, bagaimana tokoh utama bisa melindungi hewan-hewan langka di Peternakan Wormestall dari ambisi seorang taksidermis. Pembaca akan diajak melihat usaha penyelamatan itu. Emosi kita akan diaduk dengan kehadiran sosok Diamond yang punya ambisi jahat mengawetkan hewan langka untuk mendapatkan penghargaan tinggi di kalangan taksidermis.

Penulis menghadirkan hewan-hewan yang menurut saya unik dan asing. Sebab penggambaran hewan-hewan yang muncul di ceritanya, benar-benar aneh. Ada yang sejenis ular tapi memiliki paruh. Ada yang sejenis ikan tapi memiliki gigi tajam. Ada juga perpaduan antara tubuh elang dengan badan singa. Selain itu, nama-nama hewan-hewannya susah dilapalkan. Saking anehnya, saya tidak bisa membedakan dan membayangkan masing-masing. Tapi jangan khawatir, di belakang novel ini akan ada daftar nama hewan sesuai kelas dan ciri-cirinya.

Kesan saya setelah membaca novel ini adalah seru dan bikin hati hangat. Lho? 

Kisah petualangan George dan Prudence akan dipenuhi adegan lari-lari berkejaran dengan waktu, adegan melarikan diri, adegan menghentikan aksi si penjahat, dan tentu saja adegan kekerasan melawan penjahat yang secara narasi masih aman untuk pembaca anak-anak dan remaja. Paket ini yang membuat novel ini seru.

Lalu, pada akhir novel, kita akan mendapatkan bagian kisah pembuktian jika George sangat menyayangi Mum. Setelah melalui serangkaian petualangan dan bisa mengembalikan Lily, anak perempuan yang dikabarkan di makan naga Wyrm Squermington, George mendapatkan hadiah yang lumayan. Meski sempat ragu dengan keputusannya, George justru menggunakan uang itu untuk membeli hadiah besar yang memang dibutuhkan Mum. Momen ini bikin Mum menangis dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan George.

Membicarakan tentang uang, saya jadi ingin mengutip perkataan Mrs. Lind yang ini, ".... Uang itu seperti gatal yang mengganggu-- semakin kau garuk, semakin gatal kaurasa. Begitu kau memilikinya dalam jumlah banyak, kau akan semakin menginginkannya..." (hal. 210).

Tokoh-tokoh lain yang muncul adalah: Miss Thripps (guru sekolah George), Josh dan Matt (teman sekolah George), Harry dan Frank (saudara kandung perempuan George), dan masih banyak beberapa karakter yang menjadi pendukung.

Menurut saya, novel dengan kover cantik ini punya kekurangan yaitu minim ilustrasi untuk hewan-hewan aneh yang ada dalam ceritanya. Pembaca bisa mengikuti petualangan George dan Prudence tapi tidak bisa menikmati ketakjuban hewan-hewannya. 

Dari novel The Extincts ini kita bisa belajar jika berbuat baik itu akan melahirkan efek yang baik. Meski George sempat kehilangan sepeda, tapi ketika ditanya oleh Mum, dia jujur soal apa yang terjadi. Dan berkat dia melakukan hal baik setelahnya, dia mendapatkan balasan hal baik juga berikutnya.

Untuk novel yang seru dan bikin hati hangat ini saya memberikan nilai 4 dari 5 bintang. Kisah George dan Prudence ini aman dibaca oleh pembaca remaja dan anak-anak.

Nah, sekian ulasan dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!



Maret 23, 2020

[Resensi] Bicara Itu Ada Seninya - Oh Su Hyang


Judul: Bicara Itu Ada Seninya
Penulis: Oh Su Hyang
Penerjemah: Asti Ningsih
Penyunting: Yosepha Ary Hascaryani. K
Desain: Aditya Ramadita
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Terbit: Desember 2019, cetakan kedua
Tebal: xvi + 240 hal.
ISBN: 9786024553920

Saya memutuskan membeli buku ini karena judulnya menarik. Saya merasa butuh bantuan dan latihan untuk bisa berbicara dengan baik karena dalam kehidupan sosial saya kesulitan memulai pembicaraan. Sehingga saya berharap pada buku ini akan menemukan beberapa tips untuk melakukannya.

Sepanjang membaca buku ini memang saya menemukan banyak tips terkait berbicara. Beberapa saran memang bisa dipakai. Tetapi, banyak juga yang akhirnya tidak bisa saya pakai.

Contohnya, di halaman 10–12, kita akan diberitahu cara melatih logika dalam berbicara: berikan alasan tepat untuk argumen anda, hindari lompatan logika dan melebih-lebihkan, konsisten dalam bersikap, gunakan kata-kata sederhana, dan tetap tenang.

Contoh lainnya mengenai berbicara menggunakan storytelling yang baik harus memenuhi syarat seperti tema, konflik, simpati dan solusi. Syarat tambahannya berupa pembalikan dan alasan. Lebih jelasnya kita bisa membaca di halaman 16–18.

Bagi kalian yang termasuk tipe orang yang gugupan, penulis juga memberikan tips cara menghilangkan kegugupan yaitu: membuat karikatur pendengar, menghindari merendahkan kapasitas diri saat memperkenalkan diri, mempelajari konten dengan baik, dan mengucapkan “mantra” dengan penuh keyakinan.

Dan masih banyak lagi tips yang dibagikan penulis, yang kemudian dirangkung dalam catatan saya sebagai berikut: 

  1. Lima unsur nonverbal untuk memikat hati pendengar (hal. 27-30).
  2. Tiga kunci menjadi sukses dengan bertingkah seperti orang sukses (hal. 40).
  3. Tiga keterampilan dalam berbicara (hal. 59-61).
  4. Empat teknik mendengarkan (hal. 95).
  5. Delapan unsur untuk mmebuat plot yang kokoh (hal. 113-118)
  6. Sepuluh rahasia pembiacaran komunikatif ala Yoo Jae Suk (hal. 142-143).
  7. Empat unsur menghadirkan irama dalam berbicara (hal. 149-150).
  8. Empat tipe presentasi yang tidak cukup persiapan (hal. 168-169).
  9. 4P mempersiapkan presentasi yang baik (hal. 170-171).
  10. Tiga cara membentuk suara (hal.200-201).

Dari beberapa tips berbicara yang dibagikan penulis ternyata dapat diaplikasikan dalam membuat tulisan. Misalnya menggunakan kata-kata yang sederhana, menggunakan perumpamaan, dan yang paling berhubungan dengan membuat tulisan adalah tips delapan unsur untuk membuat plot yang kokoh.

Keunggulan buku ini selain isinya banyak berupa tips, penulis juga menceritakan banyak tokoh yang menurutnya merupakan pembicara yang handal. Seperti Oprah Winfey, Barack Obama, dan tokoh-tokoh dunia lainnya.

Yang membuat saya kurang suka dengan buku ini adalah tips yang diberikan pada akhirnya ditujukan untuk berbicara dalam situasi formal. Misalnya berbicara untuk presentasi, berbicara sebagai presenter acara, dan bahkan berbicara sebagai pekerja penjualan. Padahal saya berharap akan mendapatkan inspirasi memulai pembicaraan dalam konteks hubungan personal. Karena kendala saya saat ini adalah tidak bisa memulai pembicaraan dengan orang sekitar secara luwes.

Karena alasan di atas, saya sangat rekomendasikan buku ini untuk kalian yang membutuhkan nasihat cara berbicara dalam dunia pekerjaan yang membutuhkan keahlian berbicara yang baik. Saya kira semua saran di buku ini akan sangat berguna sekali.

Akhirnya saya memberikan nilai 3 dari 5 untuk buku ini.

Desember 12, 2019

[EBook] Pendakian Terlarang - ArgaNov


Judul: Pendakian Terlarang
Penulis: ArgaNov
Penyelaras aksara: Agnes O.
Desain sampul & tata letak: Pandu S.
Penerbit: Bhuana Sastra
Cetakan: I, Desember 2019
Tebal: 116 hlm.
ISBN: -

Sinopsis
Delapan anak muda yang tergabung dalam grup hiking Devil Expedition akhirnya berkesempatan menaklukan puncak Gunung Marapi di Sumatera Barat. Perjalanan ini sudah dinantikan sejak tahun-tahun sebelumnya namun selalu gagal terlaksana karena berbagai halangan. Yang terakhir membuat mereka gagal mendaki karena salah satu teman mereka, Lisa, mendadak meninggal dunia.

“Jika siapa pun yang memasukkan langkahnya di seberang puncak Gunung Marapi, maka pilihannya adalah menjadi dari kami atau mati.”

Semua tahu ada larangan yang harus mereka taati kalau tidak mau berurusan dengan orang Kampung Bunian.

Akankah perjalanan mereka berhasil mencapai puncak Gunung Marapi?

Resensi
Salah satu alasan saya mengungguh ebook ini di aplikasi Gramedia Digital adalah judulnya yang memuat kata “Pendakian”. Saya selalu suka bacaan yang ada cerita tentang pendakian gunung. Ini dikarenakan saya belum pernah naik gunung. Padahal keinginan melakukannya sudah sangat menggebu dan beberapa kali merencanakan tapi masih belum ketemu jadwalnya. Alam memang tampaknya belum menghendaki saya menikmati suasana pegunungan.


Buku Pendakian Terlarang ini menceritakan sekumpulan anak muda yang melakukan pendakian Gunung Marapi yang ada di Sumatera Barat. Benar-benar menceritakan pendakian tanpa ada sisipan konflik drama lainnya. Dimulai dari mempersiapkan segala keperluan untuk pendakian. Misalkan mempersiapkan tenda dan alat lainnya, termasuk logistik. Ketepatan untuk menghitung persiapan ini setidaknya harus mendekati pas. Kalau sampai kurang siap, maka bersiap saja untuk mengalami kesusahan selama pendakian.

Di dalam buku ini dijelaskan beberapa adab yang harus ditaati oleh pendaki selama mendaki gunung. Pertama, kita harus meminta ijin kepada pemimpin lingkungan setempat sebelum memulai pendakian. Dalam buku ini tim Devil Expedition meminta ijin kepada kepala desa. Sebenarnya untuk beberapa gunung sudah ada pos perijinan pengelola sehingga urusan perijinan bisa dilakukan di tempat itu. Tujuannya adalah supaya para pendaki terawasi ketika naik dan turun gunung. Sehingga jika sesuatu terjadi dengan para pendaki, misalnya pendaki hilang, kepala desa atau kru di pos perijinan bisa segera melakukan pencarian.

Dan yang kedua, para pendaki dilarang meninggalkan sampah di gunung. Sampah yang ada harus di bawah lagi ke bawah ketika turun gunung. Cara ini wajib dipatuhi untuk menjaga lingkungan gunung tetap bersih dari sampah.

Adab ketiga adalah pendaki dilarang merusak lingkungan gunung, salah satunya adalah jangan memetik bunga atau pohon yang ada di lingkungan gunung. Tujuannya agar habitat gunung tetap terjaga seperi semula.

Sebenarnya ada beberapa aturan mendaki yang biasanya disampaikan kru perijinan tetapi karena saya belum pernah mendaki, jadi saya kurang paham yang lainnya. Ketiga adab tadi merupakan yang disebutkan di dalam buku ini. Yang lainnya, yang pernah saya dengar, selama pendakian, kita dilarang berucap yang buruk atau melakukan hal buruk. Katanya kalau kita tidak mematuhi, kita akan mengalami hal-hal aneh. Salah satu yang sering dibicarakan, yang melanggar aturan tadi, bukan tidak mungkin akan dibikin berputar-putar tanpa menemukan jalan yang benar. Ngeri ya membayangkannya!

Tampaknya untuk pendakian Gunung Marapi pun ada tambahan larangan lainnya bagi para pendaki yaitu dilarang mengusik atau mengganggu dunia lain yang ada di sekitar gunung, yang biasa dikenal dengan sebutan Orang Kampung Bunian. Kampung ini merupakan kampung yang tak kasat mata. Keberadaannya susah dipastikan. Sehingga kepala desa menekankan adab-adab tadi agar dipatuhi untuk menjaga para pendaki dari sesuatu yang aneh.

Jujur saja saya merasa ketakutan selama membaca buku ini. Ini bukti keberhasilan penulis menyampaikan ceritanya dengan diksi yang tidak bertele-tele dan tepat penggunaan untuk menggambarkan suasana. Padahal sebelum membaca buku ini, saya membaca buku horor lain, tapi baru di buku ini saya merasakan ketakutan yang luar biasa.

Awalnya rasa takut itu saya rasakan ketika Mila menyadari perubahan Nina yang menjadi pendiam sejak mereka berangkat. Ditambah ketika Mila pun mendengar suara samar-samar yang memanggil namanya. Suasana mencekam bertambah ketika perjalanan malam hari dan Nina semakin bertingkah aneh. Dalam kondisi lelah dan pegal, mereka harus mengurus Nina yang tiba-tiba pingsan. Begitu Nina sadar justru dia meracau seperti orang kesurupan.

“Tadi seperti suara kepala desa, panggil namaku,” katanya bingung.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, diikuti yang lainnya. Tidak asa siapa pun di sekitar sini. Lagipula hari sudah menjelang Maghrib, mana mungkin masih ada orang di ladang. (Hal. 18)
Beberapa kejadian yang membuat saya bergidik ngeri seperti hembusan angin dingin yang berasal dari kegelapan, suasana hening namun seperti tengah diawasi, suara bisikan yang muncul sesekali tanpa ada sumbernya, kemunculan sosok orang berbadan besar di kegelapan, dan adegan kesurupan yang dialami Nina. Pokoknya saya sarankan jangan membaca buku ini malam hari. Takutnya kalian susah tidur lantaran sensasi mencekam masih menyelimuti. Karena itu yang saya alami, saya membacanya malam hari dan saat mau tidur masih kebayang suasana gunung malam hari yang dingin dan keramat.

Biarpun temanya horor dengan latar pegunungan, buku ini mengingatkan banyak hal untuk pembaca diantaranya:

  1. Jangan menganggap remeh keramat sebuah gunung. Sebab gunung memiliki rahasia aneh yang akan susah ditangkal jika kita berbuat ceroboh selama pendakian.
  2. Kita harus peka dengan tanda restu dalam hal apa pun. Bisa saja asalnya dari alam atau bahkan dari orang-orang sekitar. Di buku ini diceritakan jika Mila dan teman-temannya sebenarnya tidak diijinkan berangkat mendaki oleh orang tua. Tetapi mereka memaksakan kehendak dan benar saja pendakian mereka berujung maut.

Akhirnya dan Rating
Buku ini pas dibaca untuk kalian yang menyukai cerita horor. Dan pas juga dibaca oleh kalian yang suka mendaki gunung atau punya keinginan mendaki gunung seperti saya. Terakhir, buku Pendakian Terlarang ini saya beri nilai 5 dari 5.

***** 

  • ...tapi kami tahu kalau persaudaraan itu bisa dibentuk dengan cara naik gunung bersama, menikmati indahnya tantangan medan yang mempersatukan kami bagai saudara. (Hal. 38)

[gambar Gunung Marapi diunduh dari: http://www.gosumatra.com/gunung-marapi-sumatera-barat/]