[Resensi] Pendakian Terlarang - ArgaNov


Judul: Pendakian Terlarang
Penulis: ArgaNov
Penyelaras aksara: Agnes O.
Desain sampul & tata letak: Pandu S.
Penerbit: Bhuana Sastra
Cetakan: I, Desember 2019
Tebal: 116 hlm.
ISBN: -

Sinopsis
Delapan anak muda yang tergabung dalam grup hiking Devil Expedition akhirnya berkesempatan menaklukan puncak Gunung Marapi di Sumatera Barat. Perjalanan ini sudah dinantikan sejak tahun-tahun sebelumnya namun selalu gagal terlaksana karena berbagai halangan. Yang terakhir membuat mereka gagal mendaki karena salah satu teman mereka, Lisa, mendadak meninggal dunia.

“Jika siapa pun yang memasukkan langkahnya di seberang puncak Gunung Marapi, maka pilihannya adalah menjadi dari kami atau mati.”

Semua tahu ada larangan yang harus mereka taati kalau tidak mau berurusan dengan orang Kampung Bunian.

Akankah perjalanan mereka berhasil mencapai puncak Gunung Marapi?

Resensi
Salah satu alasan saya mengungguh ebook ini di aplikasi Gramedia Digital adalah judulnya yang memuat kata “Pendakian”. Saya selalu suka bacaan yang ada cerita tentang pendakian gunung. Ini dikarenakan saya belum pernah naik gunung. Padahal keinginan melakukannya sudah sangat menggebu dan beberapa kali merencanakan tapi masih belum ketemu jadwalnya. Alam memang tampaknya belum menghendaki saya menikmati suasana pegunungan.


Buku Pendakian Terlarang ini menceritakan sekumpulan anak muda yang melakukan pendakian Gunung Marapi yang ada di Sumatera Barat. Benar-benar menceritakan pendakian tanpa ada sisipan konflik drama lainnya. Dimulai dari mempersiapkan segala keperluan untuk pendakian. Misalkan mempersiapkan tenda dan alat lainnya, termasuk logistik. Ketepatan untuk menghitung persiapan ini setidaknya harus mendekati pas. Kalau sampai kurang siap, maka bersiap saja untuk mengalami kesusahan selama pendakian.

Di dalam buku ini dijelaskan beberapa adab yang harus ditaati oleh pendaki selama mendaki gunung. Pertama, kita harus meminta ijin kepada pemimpin lingkungan setempat sebelum memulai pendakian. Dalam buku ini tim Devil Expedition meminta ijin kepada kepala desa. Sebenarnya untuk beberapa gunung sudah ada pos perijinan pengelola sehingga urusan perijinan bisa dilakukan di tempat itu. Tujuannya adalah supaya para pendaki terawasi ketika naik dan turun gunung. Sehingga jika sesuatu terjadi dengan para pendaki, misalnya pendaki hilang, kepala desa atau kru di pos perijinan bisa segera melakukan pencarian.

Dan yang kedua, para pendaki dilarang meninggalkan sampah di gunung. Sampah yang ada harus di bawah lagi ke bawah ketika turun gunung. Cara ini wajib dipatuhi untuk menjaga lingkungan gunung tetap bersih dari sampah.

Adab ketiga adalah pendaki dilarang merusak lingkungan gunung, salah satunya adalah jangan memetik bunga atau pohon yang ada di lingkungan gunung. Tujuannya agar habitat gunung tetap terjaga seperi semula.

Sebenarnya ada beberapa aturan mendaki yang biasanya disampaikan kru perijinan tetapi karena saya belum pernah mendaki, jadi saya kurang paham yang lainnya. Ketiga adab tadi merupakan yang disebutkan di dalam buku ini. Yang lainnya, yang pernah saya dengar, selama pendakian, kita dilarang berucap yang buruk atau melakukan hal buruk. Katanya kalau kita tidak mematuhi, kita akan mengalami hal-hal aneh. Salah satu yang sering dibicarakan, yang melanggar aturan tadi, bukan tidak mungkin akan dibikin berputar-putar tanpa menemukan jalan yang benar. Ngeri ya membayangkannya!

Tampaknya untuk pendakian Gunung Marapi pun ada tambahan larangan lainnya bagi para pendaki yaitu dilarang mengusik atau mengganggu dunia lain yang ada di sekitar gunung, yang biasa dikenal dengan sebutan Orang Kampung Bunian. Kampung ini merupakan kampung yang tak kasat mata. Keberadaannya susah dipastikan. Sehingga kepala desa menekankan adab-adab tadi agar dipatuhi untuk menjaga para pendaki dari sesuatu yang aneh.

Jujur saja saya merasa ketakutan selama membaca buku ini. Ini bukti keberhasilan penulis menyampaikan ceritanya dengan diksi yang tidak bertele-tele dan tepat penggunaan untuk menggambarkan suasana. Padahal sebelum membaca buku ini, saya membaca buku horor lain, tapi baru di buku ini saya merasakan ketakutan yang luar biasa.

Awalnya rasa takut itu saya rasakan ketika Mila menyadari perubahan Nina yang menjadi pendiam sejak mereka berangkat. Ditambah ketika Mila pun mendengar suara samar-samar yang memanggil namanya. Suasana mencekam bertambah ketika perjalanan malam hari dan Nina semakin bertingkah aneh. Dalam kondisi lelah dan pegal, mereka harus mengurus Nina yang tiba-tiba pingsan. Begitu Nina sadar justru dia meracau seperti orang kesurupan.

“Tadi seperti suara kepala desa, panggil namaku,” katanya bingung.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, diikuti yang lainnya. Tidak asa siapa pun di sekitar sini. Lagipula hari sudah menjelang Maghrib, mana mungkin masih ada orang di ladang. (Hal. 18)
Beberapa kejadian yang membuat saya bergidik ngeri seperti hembusan angin dingin yang berasal dari kegelapan, suasana hening namun seperti tengah diawasi, suara bisikan yang muncul sesekali tanpa ada sumbernya, kemunculan sosok orang berbadan besar di kegelapan, dan adegan kesurupan yang dialami Nina. Pokoknya saya sarankan jangan membaca buku ini malam hari. Takutnya kalian susah tidur lantaran sensasi mencekam masih menyelimuti. Karena itu yang saya alami, saya membacanya malam hari dan saat mau tidur masih kebayang suasana gunung malam hari yang dingin dan keramat.

Biarpun temanya horor dengan latar pegunungan, buku ini mengingatkan banyak hal untuk pembaca diantaranya:

  1. Jangan menganggap remeh keramat sebuah gunung. Sebab gunung memiliki rahasia aneh yang akan susah ditangkal jika kita berbuat ceroboh selama pendakian.
  2. Kita harus peka dengan tanda restu dalam hal apa pun. Bisa saja asalnya dari alam atau bahkan dari orang-orang sekitar. Di buku ini diceritakan jika Mila dan teman-temannya sebenarnya tidak diijinkan berangkat mendaki oleh orang tua. Tetapi mereka memaksakan kehendak dan benar saja pendakian mereka berujung maut.

Akhirnya dan Rating
Buku ini pas dibaca untuk kalian yang menyukai cerita horor. Dan pas juga dibaca oleh kalian yang suka mendaki gunung atau punya keinginan mendaki gunung seperti saya. Terakhir, buku Pendakian Terlarang ini saya beri nilai 5 dari 5.

***** 

  • ...tapi kami tahu kalau persaudaraan itu bisa dibentuk dengan cara naik gunung bersama, menikmati indahnya tantangan medan yang mempersatukan kami bagai saudara. (Hal. 38)

[gambar Gunung Marapi diunduh dari: http://www.gosumatra.com/gunung-marapi-sumatera-barat/]

14 komentar:

  1. Kalo ada ebook sekalian aja di unggah kang, biar bisa ikutan baca novel pendakian terlarang.😅

    Kirain aku "pendakian" yang itu..😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bacanya ebook legal yang di Gramedia Digital euy. Langganan aja atuh, enak, harga 90K bisa baca novel sepuasnya selama sebulan.

      Pendakian yang mana nih? Hehehe (Enggak paham aslinya...)

      Hapus
    2. Owh, Gramedia juga ada yang digital ya, kalo komiknya bisa ikut baca tidak kalo langganan 90k?

      Pendakian gunung lah, emang yang mana lagi? ( Asli ga paham...)

      Hapus
    3. Komik yang kayak Naruto dan one piece nggak ada di paket itu. Baru ngeh saya kalo komik nggak include.

      Hahahaha

      Hapus
  2. Wahhh ini deket banget gunungnya dari kampung ku
    Dan soal orang bunian itu emang bener, nggak boleh bersikap sembarangan selama pendakian.

    Harus sopan, santun, kalem, dan nggak ngelakuin yang aneh-aneh walaupun sepele

    Jadi pengen baca versi penulis ini deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, beneran Ul deket kampung kamu. Anjrit! Enak dong bisa naik gunung mulu kalo lagi suntuk. Hehehe

      Ngeri saya bayangin kalo masuk ke kampung orang Bunian. Takut nggak balik lagi ruh-nya. Tapi jasad meninggal dengan kondisi biayanya terperosok. Ihhh

      Langganan Gramedia Digital aja, bisa baca buku Gramedia sepuasnya selama sebulan...

      Hapus
  3. Nice review. Mau mendaki gunung ada adabnya, menghormati tradisi masyarakat setempat, menghargai alam, & tidak sompral

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, penting mengenal adab naik gunung biar selamat sampe kita kembali turun bertemu keluarga.

      Hapus
  4. Sejak ada anak ilang beberapa bulan silam di gunung yang ada di jatim, aku jadi banyak menyenangi kisah2 seputar pendakian
    Ibaratnya klo dimanapun kaki berpijak, di situlah langit dijunjung ya, biar selamet

    E din, minta tulung komen ulang ga di postingan yang terbaru, soalnya komen dirimu yang tadi kehapus, cz ada ngomen tentang diksi sedikit sarkas di paragraf awal hahaha, n ceritanya diksinya uda aku hapus, klo ga keberatan boleh ga kmen ulang tp ga menanggapi yang diksi itu hahahhahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Saya suka nangis kalau baca ada remaja yang hilang di gunung. Yang kebayang itu gimana sedihnya orang tua yang terus berharap kabar anaknya.

      Siap Mbak, hehe

      Hapus
  5. Jadi penasaran dgn kisahnya sertinya serunbanget.

    Berkiatan dgn sampah yg ditinggalkan pengunjung di gunung hal yg paling saya benci. Keindahan jadi rusak gara gara sampah. Beneran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mangs, sampah memang merusak keindahan. Enggak hanya di gunung, di tempat lainnya pun demikian.

      Oya kayaknya Mangs Abdul ini pernah naik gunung. Beruntung pisan euy

      Hapus
  6. Manarik nih kayaknya. Ntar kalau mampir ke toko buku cari ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya lupa apakah buku ini ada fisiknya atau enggak. Tapi pas baca buku ini saya baca ebook-nya. hehe

      Hapus