Tampilkan postingan dengan label Literasi Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi Jepang. Tampilkan semua postingan

Agustus 30, 2026

Review Komik Vagabond Bind Up Vol.2 - Inoue Takehiko

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Vagabond Bind Up Vol.2

Penulis: Inoue Takehiko

Penerjemah: E. P Amanda

Editor: Niken

Desain sampul: Jojo

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Juli 2026 

Tebal: 438 hlm.

ISBN: 9786230078651


Biksu Takuan menganggap Shinmen Takezo sudah mati dan dia mengganti nama Takezo dengan nama baru, Miyamoto Musashi. Untuk menjadi samurai yang kuat, Miyamoto pergi ke Kyoto, daerah yang lebih maju. 

Di Kyoto terkenal sebuah Dojo hebat yaitu Dojo Yoshioka dan kepalanya adalah Yoshioka Seijuro. Miyamoto datang menantang dan berhasil membunuh lima murid Dojo Yoshioka. Pada pertemuan duel itu, Seijuro justru menolak untuk bertarung. Yoshioka Denshichiro, adik Seijuro, yang kemudian menantang Miyamoto bertarung dengan alasan kelima muridnya yang tewas. Mereka bertarung sengit namun tidak berlanjut karena dojo mengalami kebakaran. 

Peristiwa ajakan duel dan kebakaran dojo menjadi berita besar. Matahachi yang menyaksikan duel itu justru jadi buron sebagai pelaku pembakaran dojo. Sedangkan Miyamoto yang terluka dalam duel yang belum tuntas itu diselamatkan oleh Biksu Takuan. 

Keberadaan Miyamoto bukan diketahui oleh Matahachi saja, Akemi pun akhirnya tahu. Begitu juga dengan Nenek Hon'iden yang pergi berkelana untuk mencari tahu keberadaan anaknya, Matahachi.

Miyamoto mengakui kalau dirinya masih belum cukup kuat. Dia memutuskan untuk pergi ke Nara. Tantangan pertama adalah dia harus mengalahkan biksu yang ada di Hozoin Pusat Tombak. Kedatangannya justru didahului oleh Gion Toji, pengawal andalan Seijuro. 

Miyamoto bertemu dengan biksu tua yang memiliki aura membunuh yang kuat. Banyak teka-teki ucapan yang disampaikan oleh biksu tua itu terutama tentang makna menjadi kuat.

***


Melanjutkan cerita di volume 1, kali ini sosok Takezo yang sudah berubah nama menjadi Miyamoto terkesan lebih dewasa meski umurnya baru 17 tahun. Tapi sedewasa-dewasanya dia, sisi emosional dan ambisiusnya sangat kuat. Saya sendiri heran pikiran apa yang membuatnya selalu mau menantang orang kuat padahal dia sendiri tidak rajin latihan untuk mempersiapkan kekuatannya. Tindakan yang ceroboh menurut saya sih.

Di sini juga mulai menyentuh sisi sentimental pria yang jika hatinya terpaut gadis, pikirannya susah fokus. Rasa gelisah dan kangen kepada Otsu sungguh merepotkan pikiran Miyamoto. Dan percakapan antara Miyamoto dan Biksu Takuan tentang perasaan kepada lawan jenis ini sangat bijaksana. 


Jika hatimu terpaut hanya pada selembar daun, pohon jadi tidak terlihat. Jika terpaut pada sebatang pohon, hutan tidak lagi tampak. Jangan menambatkan hati pada apa pun. Jangan melihat sebagian, lihatlah keseluruhan.


Kisah romansa Miyamoto sepertinya akan pelik dengan keberadaan dua gadis yang sama-sama menaruh perasaan kepadanya. Selain itu, kita juga akan melihat sisi melow dari Matahachi yang ternyata keputusannya untuk pergi dengan Oko dan Akemi bukan keputusan tepat. Apalagi ditambah penyesalannya karena meninggalkan Takezo.

Dalam volume ini banyak bangat adegan aksi yang disajikan. Ceritanya makin seru dan mulai berkembang lebih luas karena akhirnya Miyamoto mendapatkan lawan yang berlapis-lapis sesuai kekuatannya. 

Komik ini ditutup dengan pembukaan duel yang pasti akan sangat sengit antara Miyamoto dan Gion Toji setelah Miyamoto mengalahkan Biksu Agon. Saya akan sangat menunggu kelanjutannya di volume berikutnya.

Dari komik ini saya disadarkan tentang makna kekuatan dan tentang siapa diri kita. 


Kita bisa tahu seperti apa sebenarnya orang yang disebut kuat pada saat kita benar-benar jadi orang kuat.

Selagi berenang di laut kita tidak akan tahu seluas apa lautan itu, kan?


Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca komik ini dan hanya butuh beberapa waktu saja untuk menyelesaikannya. Petualangan dalam menemukan jati diri seorang Takezo alias Miyamoto memang masih sangat jauh tapi kisahnya patut dinantikan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk komik Vagabond Bind Up Vol.2 karya Inoue Takehiko ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Mei 23, 2026

Review Komik Vagabond Bind Up Vol.1 - Inoue Takehiko

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Vagabond Bind Up Vol.1

Penulis: Inoue Takehiko

Penerjemah: E. P. Amanda

Editor: Niken

Desain sampul: Jojo

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: April 2026

Tebal: 488 hlm.

ISBN: 9786230077562


Ketika hidup penuh kegelapan, kemudian mempertanyakan kenapa dilahirkan, apakah ada alasan kuat kenapa harus terus hidup? 


Di awal cerita kita akan kenalan dengan dua pemuda dari Desa Miyamoto: Shinmen Takezo dan Hon'iden Matahachi. Mereka selamat dari perang dan menjadi buronan prajurit. Setelah kelelahan bertempur dengan prajurit yang memburu, mereka ditolong oleh Akemi dan ibunya, Oko, hingga luka-luka mereka membaik dan kondisi badan mereka kembali prima. 

Berada di tengah-tengah Akemi dan Oko membuat Takezo dan Matahachi ikutan berseteru dengan Kelompok Tsujikaze yang di masa lalu sudah membunuh suami Oko sekaligus ayah Akemi. Dua kali bertemu cukup untuk Takezo berhasil membunuh Tsujikaze Tenma, pemimpin kelompok tersebut, dan anak buah lainnya yang ingin membalas dendam karena pemimpin mereka terbunuh.

Usai pertempuran sengit itu, Takezo justru ditinggalkan Matahachi yang pergi bersama Oko dan Akemi. Takezo memutuskan kembali ke Desa Miyamoto untuk mengabarkan jika Matahachi masih hidup kepada keluarganya. Ternyata di desa ia mendapatkan sambutan buruk. Warga desa memburunya untuk dibunuh.

Saat kesempatan datang, Takezo justru dijebak oleh ibunya Matahachi untuk ditangkap warga. Walau bisa lolos, Takezo harus berhadapan dengan saudara Tsujikaze Tenma, Tsujikaze Kohei. Adu pedang sengit terjadi tapi terjeda oleh warga yang mengamuk. 

Ujung-ujungnya Takezo tertangkap oleh Biksu Takuan dan Otsu. Ia pun digantung tanpa diberi makan. Walaupun sudah meminta agar dibunuh saja, Biksu Takuan mengabaikan permintaan itu.


***

Komik ini menampilkan tokoh utama yaitu Takezo, yang pandai memainkan pedang dan selalu bisa melumpuhkan lawannya. Walau tidak dijelaskan bagaimana proses dia bisa melakukan itu, ada latar belakang Takezo yang justru tragis yang memotivasinya jadi lebih hebat. Alasan kedua orang tua yang mengabaikannya yang membuat Takezo ingin lebih kuat agar ia bisa hidup tanpa bantuan siapa pun. 

Pengabaian ini juga yang membuat Takezo mempertanyakan kenapa dia dilahirkan jika akhirnya diabaikan. Ia tidak punya tujuan hidup sehingga beberapa kali ia meminta agar segera dibunuh saja. 

Citra seram dari sosok Takezo berawal dari keinginan menjadi kuat. Lalu saat masih kanak-kanak dia melawan orang dewasa dalam sayembara dan berhasil membunuhnya. Sejak itu warga Desa Miyamoto mengucilkannya. Menganggap Takezo adalah iblis. Tatapan matanya dianggap tatapan binatang buas. Hanya Matahachi saja yang mau berkawan dengannya. 

Di akhir cerita, saya sangat terharu dengan ucapan Biksu Takuan, "Bagi orang yang tidak tahu kegelapan... tidak ada cahaya." Ini seolah bilang kalau Takezo memang pernah membunuh, kehidupannya gelap, dikenal sebagai sosok jahat, tapi dia bisa berubah dan menatap cahaya. Lebih baik orang yang jahat kemudian menjadi baik daripada orang baik yang tidak sadar kalau ia jadi sosok jahat.


Untuk volume 1 ini saya cukup puas bisa membaca ceritanya. Setidaknya saya bisa mengenal Takezo secara utuh. Saya juga tidak sabar dengan kelanjutan volume berikutnya karena banyak potensi cerita seru yang bisa muncul. Misalnya kelanjutan Takezo dan Tsujikaze Kohei, atau tentang nasib Otsu selanjutnya setelah dia dicampakkan oleh Matahachi yang justru menikahi Oko.

Oya, komik ini mengandung adegan kekerasan dan seksual ya. Jadi jangan kaget pas lihat gambarnya walaupun menurut saya tidak begitu vulgar dan masih aman kok. Dan dua jempol untuk sampulnya yang keren banget. Judulnya pakai tinta warna emas dan itu bikin komik ini terasa istimewa.

Rencananya saya akan membaca ulang komik ini karena jujur saja saya masih agak kesulitan membaca balon-balon dialog dan gambar detail komiknya. Saya yakin banyak yang terlewatkan padahal komik itu kekuatannya dari gambar-gambarnya. Dan bisa saja setelah dibaca ulang saya menemukan insight baru. 

Mungkin ini saja yang bisa saya utarakan untuk kesan bacanya. Terakhir dari saya, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



April 07, 2025

Review Novel Makhluk Bumi - Sayaka Murata

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Makhluk Bumi

Penulis: Sayaka Murata

Penerjemah: Pegy Permatasari

Editor: Kartika E.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Februari 2025

Tebal: 264 hlm.

ISBN: 9786020681900

Tag: psikologi, pelecehan seksual, drama, jepang


Sinopsis

Waktu usianya 5 tahun, Sasamoto Natsuki mengaku dirinya penyihir sejak bertemu boneka landak yang dinamai Pyut, polisi sihir dari Planet Pohapipinpobopia. Khayalannya itu justru didukung oleh sepupunya, Yuu. Yuu merasa dirinya juga adalah alien. Natsuki dan Yuu memutuskan berpacaran dan itu jadi motivasi menyenangkan untuk kunjungan rutin tiap tahun ke rumah nenek, Rumah Akishina, di atas pegunungan. Sampai akhirnya sebuah kejadian membuat orang-orang sekitarnya memisahkan mereka.

Natsuki dewasa dinikahi Tomomi dengan konsep pernikahan aneh, tanpa sentuhan dan pengalihan dari tuntutan masyarakat. Setelah menikah, kali ini dituntut untuk memiliki anak. Natsuki merasa cocok dengan Tomomi karena cara berpikir yang sama. Tomomi juga merasa dirinya berasal dari Planet Pohapipinpobopia. 

Ide untuk kembali mengunjungi Rumah Akishina membuka wawasan baru dan liar tentang peran mereka di Bumi. Natsuki, Tomomi, dan Yuu bertualang lebih hebat dan mengerikan demi tidak terjebak sebagai makhluk bumi. Mereka yakin mereka bukan makhluk bumi.


Resensi

Saya kenal karya Sayaka Murata dari novel Convenience Store Woman atau Gadis Minimarket. Novel yang mendalami sisi kejiwaan wanita dewasa dengan menggabungkan isu-isu perempuan yang umum ditemui di masyarakat. Buku kumpulan cerpen karya penulis yang judulnya Upacara Kehidupan juga sudah sempat dibaca tapi belum selesai karena temanya yang lumayan berat. Dan begitu novel ini diumumkan saya sudah mengantisipasi penerbitannya karena penasaran kali ini akan membahas isu apa lagi.


Dunia Anak Dan Kerentanannya

Dua bab pertama menceritakan tentang Natsuki dan Yuu waktu masih kecil, usia sekitar 5 tahunan. Saya sudah menduga di awal kalau pengakuan Natsuki sebagai penyihir dan pertemanannya dengan Pyut hanya khayalan saja. Saya maklum sebab anak-anak kadang punya teman khayalan dan imajinasi mereka tidak terbatas. Saya cukup terhibur dengan dunia yang diciptakan Natsuki dan Yuu tentang Planet Pohapipinpobopia. 

Sayangnya, beberapa orang tua meremehkan imajinasi anak-anak dan justru tegas menolak kebiasaan mereka. Cap anak tidak berguna dan suka ngomong sembarangan membuat mental anak tertekan. Ini kesalahan besar orang tua, harusnya mereka mencoba memahami perkembangan otak anak dan membantu menanamkan pendidikan karakter karena usia anak-anak adalah usia emas.

Kecolongan bahaya besar dicontohkan oleh orang tua Natsuki dalam novel ini. Natsuki mengalami pelecehan oleh guru lesnya: suka meraba tubuhnya, memintanya mempraktikan mengganti pembalut di depannya, dan sampai mengajarkannya cara mengulum. Natsuki sadar kalau gurunya aneh dan dia pun mengadukan itu kepada ibunya. Yang bikin saya marah karena respon ibunya begini, "Apanya yang aneh? Bukannya kau hanya dimarahi karena tidak becus?" (hal. 57). Saya kesal sekali pas baca bagian ini.

Saya jadi paham, bahaya terbesar buat anak-anak adalah memiliki orang tua yang tidak peka dan tidak mau memahami anak. Usia anak-anak begitu rentan dirusak oleh orang dewasa. Harusnya orang tua berperan sebagai tameng pelindung. Jika peran itu tidak jalan, anak-anak akan jadi korban, mental mereka dirusak dan traumanya akan dibawa sampai dewasa. Cara asuh salah bisa jadi lingkaran setan yang tidak ada putusnya untuk keturunan mereka selanjutnya.

Contoh cara asuh salah pada anak bisa kita jumpai di sekitar kita. Misalnya keputusan orang tua memberi ponsel untuk anak yang rewel, mengerdilkan usaha anak saat gagal, memberi cap jelek pada anak dan jarang mengajak anak untuk berbincang dengan alasan sibuk.


Tuntutan Orang Dewasa Yang Makin Menuntut

Dalam novel ini juga disinggung tentang ribetnya jadi orang dewasa. Awalnya ditanya mana pacarnya. Setelah sering melihat berduaan, ditanya lagi kapan mau nikah. Nikah sudah, ditanya kapan punya anak. Anak pertama udah gedean dikit, giliran ditanya kapan punya adik buat si kakak. Belum lagi ditanya soal kekayaan seperti rumahnya mana dan mobilnya apa.

Natsuki pun mengalami pertanyaan soal kapan punya anak. Untuk menjawabnya memang membingungkan karena pernikahan Natsuki dan Tomomi bisa dibilang rekayasa agar keduanya selamat melewati pertanyaan kapan menikah. Pernikahan mereka sudah disepakati tidak ada seksual, bahkan kamar mereka pun masing-masing padahal tinggal seatap. Jadi jangan harap bakal ada anak kalau mereka tidak pernah sekali pun melakukan intim.


Cerita Psikologi Yang Mengejutkan

Semakin ke belakang, cerita di novel ini makin seru walaupun tipikal cerita yang absurd. Mungkin dari ilmu psikologi ada istilah untuk orang dewasa yang masih percaya dengan kayalan waktu kecilnya. Natsuki, Tomomi, dan Yuu semakin tidak terkendali dengan hidupnya setelah mereka kembali ke rumah Akishina. Dan karena mereka merasa bukan makhluk bumi melainkan makhluk dari Planet Pohapipinpobopia, mereka mempraktikan hidup ala-ala survival. 

Hubungan dengan dunia luar diputus, untuk makan mereka mencuri dari kebun dan rumah di sekitar, tidur di tumpukan futon, beraktifitas dalam kondisi telanjang, bergerak dengan merangkak, dan mereka menyangkal soal pentingnya memenuhi hasrat seksual yang muncul. Yang lebih mengerikan, mereka menganggap kalau makhluk bumi adalah lawan. Ada kejadian mereka membunuh orang dan jasadnya mereka santap karena sedang kekurangan bahan makanan. Lebih gila lagi, ada percakapan jika persediaan daging manusia sudah habis, mereka saling menyerahkan diri untuk disantap. Untuk tahu mana yang lebih enak, mereka saling mencicipi dengan menggigit secara bergiliran.


Simpulan

Dibandingkan dengan novel Gadis Minimarket, novel ini punya cerita yang lebih suram. Sisi psikologi manusia digali lebih dalam dan liar karena membahas kenormalan manusia di masyarakat. Walau begitu, ceritanya tidak akan memberi pengaruh ke psikologi pembaca. Paling poin pelecehan seksual dengan korban anak-anak akan membuat pembaca mengumpat kesal ke pelaku. 

Sekian ulasan untuk novel Makhluk Bumi. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



November 05, 2024

Review Kumcer Sengkarut - Natsume Soseki, Edogawa Ranpo, Kajii Motojiro, Ogawa Mimei

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul:
Sengkarut

Penulis: Natsume Soseki, Edogawa Ranpo, Kajii Motojiro, Ogawa Mimei

Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari, Armania Bawon Kresnamurti, Mega Dian P.

Desain sampul: @sukutangan

Penerbit: Mai

Terbit: April 2021, cetakan kedua

Tebal: 100 hlm.

ISBN: 9786237351597


Melanjutkan membaca buku tipis dari Penerbit Mai, kali ini saya menjajal kumpulan cerita pendek dengan tajuk Sengkarut. Judul buku ini jika dicari artinya, saya hanya mendapatkan makna lain yaitu 'berjalinan'. Dan begitu selesai membaca semua cerpennya, saya masih tidak paham arti judul Sengkarut dengan keenam cerpennya.

Kovernya yang begitu artistik menyisipkan simbol-simbol yang ada di cerpen-cerpennya, seperti malaikat, pohon sakura, buah lemon, rumput dengan daun agak lebar, dan kursi. Dan latar belakang hitam pada kovernya seperti menegaskan jika semua cerpennya memiliki nuansa pilu dan sedih. 

*

Malaikat Permen Cokelat (Ogawa Mimei) menceritakan tentang sudut pandang gambar malaikat pada bungkus permen cokelat tentang perjalanannya dari mulai keluar dari pabrik di Tokyo hingga ia bisa kembali ke Tokyo setelah dititipkan lama di warung di daerah yang jauh. Saya melihatnya malaikat merekat di bungkus permen seperti tugas dan bakal tuntas kalau bungkusnya dibuang sehingga malaikat tadi bakal terbang naik ke langit. Perjalanan yang menarik sekaligus menantang sebab nasib beberapa permen cokelat harus berada di desa yang miskin. Otomatis permen tadi akan terlalu lama berada di toples karena tidak ada yang membelinya. Bayangkan saja sendiri ya bagaimana perasaan si malaikat itu.

Meski begitu, malaikat tak dapat terhindar dari perasan senang juga perasaan sedih selama berada di bumi sebelum jiwa mereka melayang jauh ke langit biru (hal. 6)

*


Cerita Lemon (Kajii Motojiro) membahas soal keresahan seseorang akibat keinginan yang tidak bisa dijangkau. Dan dia menemukan buah lemon di toko buah yang secara ajaib bisa meredakan keresahannya. Di cerita ini saya setuju dengan penggambaran bagaimana rasanya mempunyai keinginan tapi tidak tergapai dan mau tidak mau harus menekan perasaan itu yang seperti gumpalan di dada. 

Saat kita mengalami hal itu, pasti kita akan merasa tidak tenang. Melakukan ini tidak menyenangkan, melakukan itu juga tidak menyenangkan. Sekalipun kita melakukan hobi yang menurut kita akan menyenangkan, tapi biasanya itu tidak akan berhasil. Karena biasanya yang bisa meredakan keresahan tadi ya berupa dipenuhi keinginan itu. 

Yang menarik di cerita Lemon ini adalah karakternya yang doyan berkhayal. Secara enggak langsung seperti memberi pesan kalau kita harus berhati-hati dengan khayalan sebab jika terlalu ngawur akan jadi keinginan berupa obsesi yang jika dipelihara terus akan menggerus kebahagian kita dan melahirkan keresahan setiap waktu.

*

Pada cerita Rumput Racun (Edogawa Ranpo) ada sentilan soal orang tua yang memiliki banyak anak namun tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Digambarkan juga bagaimana peliknya jadi ibu yang memiliki anak banyak dan rentang umur tiap anaknya berdekatan.

Usiaku sudah tidak muda, aku harus menggendong bayiku yang baru lahir di depan dan bayiku yang berusia tiga tahun di punggung, lalu masih harus mencuci dan memasak. Sekarang saja suamiku sudah membentak-bentak setiap malam, mungkin dia akan membentak-bentak lebih keras lagi. Putriku yang berusia lima tahun akan semakin histeris (hal. 37).

Cerpen ini membahas dua sahabat yang pergi ke padang rumput lalu salah satunya bercerita mengenai rumput yang bisa dipergunakan untuk aborsi. Dan mereka menggibah soal istri tukang pos yang punya banyak anak, ditambah sekarang sudang hamil lagi, dan mengalami kerepotan setiap waktu. Saat mereka mau pulang karena sudah gelap, mereka menemukan istri tukang pos di belakang mereka. Gara-gara ini si tokoh utama risau dan yakin kalau istri tukang pos sudah mendengar obrolannya. Dan saat ia memastikan soal rumput itu, benar saja sudah terpotong.

*

Cerita Di Bawah Pohon Sakura (Kajii Motojiro) jadi cerpen paling singkat di buku ini. Ini membahas soal khayalan tokoh 'aku' yang membayangkan kalau di balik keindahan bunga sakura yang mekar sebenarnya dipupuk oleh mayat di bawah akarnya. Saya bisa menduga kalau deskripsi soal mayat di bawah akar pohon sakura hanya bayangan karena ada kalimat ini, "Mayat, yang mengambang dalam benakku, dalam imajinasi yang tak kuketahui asal-usulnya ini, sekarang laksana menyatu dengan pohon sakura, tak mau beranjak pergi meski kuguncang-guncang kepalaku" (hal. 48 - 49)

*

Ada yang pernah mendengar bunyi-bunyi aneh saat dirawat di rumah sakit? Dalam cerita Bunyi Misterius (Natusme Soseki) memaparkan pengalaman tokoh utamanya yang saat rawat inap di rumah sakit, ia mendengar suara aneh seperti suara memarut lobak yang berasal dari kamar sebelahnya. Sampai ia keluar dari rumah sakit, rasa penasarannya mengendap di benak. Lalu, kali kedua di rawat di rumah sakit yang sama, namun di kamar yang beda, barulah jawabannya didapatkan setelah berbincang dengan perawat yang pada waktu itu merawat pasien di kamar sebelahnya.

Karena tema rumah sakit, cerpen ini membahas soal kematian yang silih berganti pada pasien. Boleh lah dikatakan secara terselubung cerpen ini mengingatkan kita akan pentingnya hidup sehat dan baik. Beberapa penyakit akut disinggung di sini dan kita harus bersyukur karena tidak mengidapnya.

*


Dan di cerpen Kursi Manusia (Edogawa Ranpo) menceritakan tentang penulis perempuan bernama Yoshiko yang menerima surat dan draft naskah. Dalam surat itu diceritakan tentang lelaki yang miskin dan jelek namun ahli membuat kursi. Ia menceritakan panjang lebar tentang kepiluan hidupnya karena memiliki fisik yang kurang menyenangkan, tentang hidup sehari-harinya sebagai tukang furnitur, dan tentang kesenangannya yang penuh ambisi hingga ia menciptakan kursi paling aneh, kursi yang bisa diisi manusia. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam kursi aneh tadi dan mulai menjalani hidup sebagai kursi.

Banyak cerita selama ia jadi kursi dari menganalisa seseorang menurut bentuk badan dan aroma hingga kebimbangan antara menyudahi aksinya itu atau melanjutkan. Dia pun jatuh cinta pada beberapa orang yang sempat mendudukinya. Hingga akhirnya perasaan itu tertambat kepada Yoshiko, namun sulit bagi si lelaki untuk mengungkapkan perasaannya karena ia sadar awal mula mereka bersinggungan pun lebih mengerikan.

*

Membaca cerpen pasti melahirkan interpretasi yang berbeda-beda tiap orangnya dan begitu pun dengan hasil membaca buku ini. Saya merasa seru membaca cerpen-cerpen di sini, dengan keanehan dan kepiluan yang masih bisa diterima dengan nalar. Tidak terlalu mengejutkan ataupun membuat mual, tapi yang pasti tidak ada yang bikin perasaan berbunga-bunga, hehe.

Buku kumcer ini pas untuk jadi selingan di saat kita sedang membaca buku tebal. Itu juga yang saya lakukan, buku ini jadi jeda di tengah saya membaca buku lain. Dan hasilnya memang tidak mendistraksi bacaan utamanya.

Sekian ulasan saya untuk buku kumcer Sengkarut karya keempat penulis hebat; Natsume Soseki, Edogawa Ranpo, Kajii Motojiro, dan Ogawa Mimei. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku ya!



November 03, 2024

Review Novel Semalam Di Kereta Bima Sakti - Miyazawa Kenji

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul:
Semalam Di Kereta Bima Sakti

Penulis: Miyazawa Kenji

Penerjemah: Armania Bawon Kresnamurti

Ilustrasi sampul dan isi: Pola

Penerbit: Mai

Terbit: Desember 2022, cetakan pertama

Tebal: 114 hlm.

ISBN: - 


Setelah kemarin bisa membaca buku cerita Rumah Pohon Kesemek karya Tsuboi Sakae yang ceritanya sangat ringan, kini saya juga membaca buku tipis dari Penerbit Mai lagi; Semalam Di kereta Bima Sakti. Sampul novel ini tuh cantik banget. Karena membawa kata 'Bima Sakti', ilustrasi sampulnya pun berlatar ruang angkasa yang dipenuhi bintang-bintang membentuk rasi. Tapi apakah cerita di dalam buku ini secantik sampulnya?

Novel Semalam Di Kereta Bima Sakti ini menceritakan anak laki-laki bernama Giovanni yang disisihkan oleh teman-teman sekolahnya. Dia juga merasa jauh dengan teman dekatnya, Campanella. Dan pada suatu malam saat digelar Festival Bima Sakti, Giovanni mau mengambil susu untuk makan malam ibunya, justru bertemu dengan teman-teman sekolahnya dan tak bisa menghindar jadi bahan ejekan. Ia pun melarikan diri menaiki Bukit Hitam.

Sebuah kejadian aneh menimpanya. Ia yang diserang cahaya putih, merasa silau, dan saat membuka mata justru ia sudah duduk di bangku dalam kereta. Giovanni tidak sendiri, Campanella ikut juga. Perjalanan keduanya melintasi angkasa di tengah Bima Sakti dimulai.



Unsur fantasinya di novel ini sangat terasa. Memadukan perjalanan kereta dengan luar angkasa saja sudah jadi ide yang menakjubkan. Namun penggambaran peristiwa perjalanan ini buat saya masih sulit dibayangkan. Banyak sekali detail yang di luar nalar. Misalnya, air sungai yang sangat bening tapi bukan bentuknya air. Taman bunga yang bunga-bunganya memancarkan sinar warna-warni.  Deretan menara segitiga yang punya lampu. Jujur, saya tidak bisa membayangkan sebagus apa latar yang diciptakan penulis. Harapan saya, baiknya buku ini menyisipkan ilustrasi bergambar dengan warna-warni. Ini pasti akan membantu banget pembaca menyelami kedalaman cerita ajaib soal luar angkasanya.

Ada penekanan kalau Giovanni dan Campanella adalah teman dekat. Di awal cerita sudah dikondisikan kalau keduanya mulai menjauh. Ada cerita apa di balik kerenggangan mereka ini yang masih kurang saya dapatkan. Secara posisi keduanya jadi bersebrangan. Giovanni jadi anak yang pendiam dan korban perundungan, sedangkan Campanella ikut gerombolan perundung walaupun dia tidak ikut merundung secara langsung. Mungkin karena keringkasan ceritanya akibat naskah aslinya sendiri yang masih mentah, jadi konflik antara Giovanni dan Campanella tidak tereksplorasi dengan utuh.

Perjalanan di dalam kereta menuju Bima Sakti bisa dibilang simbol perjalanan menuju akhirat. Gio dan Campa sempat bertemu dengan seorang pemuda yang mendampingi anak laki-laki dan perempuan yang rambutnya basah. Dari cerita si pemuda tadi, mereka adalah korban kapal tenggelam. Bagian ini terasa memilukan sih. Pada perhentian di Salib Selatan ada dialog penegasan soal akhirat ini: "Tapi kami harus turun di sini," kata Kaoru dengan sedih. "Kalau mau ke surga, kami harus turun di sini." (hal. 93).

Untuk akhir ceritanya pun bagi saya sudah cukup baik. Setidaknya perjalanan yang dilakukan Giovanni dan Campanella menjadi isyarat alam semesta dan Tuhan, dan pembaca jadi tahu kenapa perjalanan ke Bima Sakti seabsurd itu. Walau pun pada penutupannya diakhiri dengan agak 'kentang' sebab membuyarkan kesedihan yang harusnya di momen itu terasa memilukan.

Sama seperti buku Rumah Pohon Kesemek, di novel ini pun ada beberapa ilustrasi menarik yang mewakili dari penggalan ceritanya. Andai saja ilustrasinya berwarna, pasti akan lebih menarik.







Kesimpulannya, buku ini menarik secara garis besar ceritanya, tapi jika harus menghanyutkan diri ke dalam perjalanan yang dilakukan kedua tokoh utamanya, saya pasti memilih nanti saja. Makna cerita yang ingin disampaikan penulis bisa saya pahami namun buku ini bukan bacaan yang mengesankan bagi saya. Sorry.

Sekian ulasan saya untuk novel Semalam Di Kereta Bima Sakti karya Miyazawa Kenji. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku ya!



Maret 03, 2024

Resensi Novel Diary Of A Void - Emi Yagi

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Diary Of A Void

Penulis: Emi Yagi

Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari

Penerbit: Penerbit Bentang

Terbit: Januari 2020

Tebal: 196 hlm.

ISBN: 9786231862815


Premis Novel Diary of A Void

Shibata adalah karyawan perempuan di sebuah perusahaan yang memproduksi tabung kertas. Dan ia mulai muak dengan kebiasaan rekan kerja yang lain yang selalu mengandalkannya untuk membuatkan kopi atau teh buat tamu, membereskan ruang rapat setelah jamuan, bahkan membetulkan mesin fotocopy saat ada kertas yang macet.

Dan dengan spontan (uhuyyy!!!) terucaplah pengakuan kalau ia sedang hamil. 

Rekan kerjanya mulai membatasi mengandalkan Shibata. Atasannya pun melonggarkan waktu kerja sehingga Shibata bisa pulang pada jam normal. Sekarang, Shibata mulai bisa menikmati banyak hal setelah jam kantor. 

Tetapi kebohongan yang sudah kadung diumumkan membuat Shibata melakukan berbagai cara agar tidak terbongkar. Kebohongan itu membawa pada kebohongan lainnya.



Resensi Novel Diary of A Void

Novel ini memotret satu kejadian yang ada di tempat kerja, perlakukan karyawan pria kepada karyawan wanita dengan membebani pekerjaan tambahan layaknya seperti pembantu. Di beberapa kantor tindakan ini menjadi kebiasaan. Dan jadi beban untuk mereka yang tipe enggak enakan untuk bilang, "Maaf, saya enggak bisa."

Jika tidak segera ditangani, kejadian ini secara langsung menguatkan dan menyuburkan sistem patriarki di lingkungan kerja. Karyawan pria sebagai penguasa dan pemegang otoritas. Bukan tidak mungkin, praktik ini bisa mengurangi produktifitas karyawan perempuan dalam pekerjaannya. Dan satu kebohongan itu terucap dengan tujuan menghentikan kesewenang-wenangan.

Bermula dari kebohongan itu, tokoh utama novel ini mulai mempelajari tentang ibu hamil. Apa yang biasa dilakukan, apa yang dirasakan, dan apa yang berubah dari ibu hamil. Kita pun akan mendapatkan banyak informasi mengenai itu semua.

Salah satu yang mengejutkan saya ternyata ada senam aerobik untuk ibu hamil. Yang saya tahu aerobik itu gerakannya lincah. Apa ini tidak membahayakan janin ya? Mungkin manfaat bagus lainnya mengikuti kelas aerobik ini adalah mempertemukan beberapa ibu hamil untuk bisa berbagi pengalaman. Di sini pun disinggung masalah-masalah yang dialami oleh ibu hamil, terutama psikis, yang dipicu lingkungan atau pasangan (suami).

Sebagai novel yang diganjar penghargaan, saya justru tidak menemukan kesan mendalam pada ceritanya. Karena menurut saya fokus penulis justru lebih banyak memberi tahu soal pengalaman ibu hamil daripada mengulik bagaimana menegangkannya menyembunyikan kebohongan soal kehamilan.

Bagi beberapa pembaca, bisa saja ini novel yang membosankan. Konfliknya bukan yang meledak-ledak dan membuat penasaran dengan endingnya, ditambah gaya penulisannya yang lebih banyak narasi. Tipikal sastra jepang, penulis terlalu banyak memasukkan detail dan pembaca seperti diuji untuk memproyeksikannya, haha.



Fokus cerita dominan mengikuti tokoh Shibata yang introvert, enggak enakan, dan selalu melihat sesuatu dari sisi positif. Karakter yang tergolong baik, tapi jika terlalu polos justru akan menyusahkan diri sendiri. Ada karakter pria rekan kerja Shibata bernama Higashinakano yang menyita perhatian. Awalnya saya kira perhatian dia karena didorong rasa suka, tetapi ternyata itu dilakukan karena dia punya pengalaman susahnya mempunyai anak. Cerita mengharukan buat saya.

Ada juga karakter Hosono, teman Shibata di kelas aerobik, yang dalam percakapan curhat mereka pada tengah malam, membeberkan tentang susahnya mengasuh bayi sekaligus mengurus pekerjaan rumah. Hosono marah dengan keadaan karena suami pun belum bisa ikut membantu dalam dua hal tadi. 


"Sementara suamiku? Apaan-apaan? Kalau Yuri menangis malam-malam, suamiku bakal kesal dan mengeluh, besok dia harus bangun pagi, lah. Enggak, masih bagus kalau dia benar-benar kesal. Dia itu ya, bersikap kesal sambil merasa dia selalu sabar dan enggak pernah kesal. Betul-betul menyebalkan. Padahal kelihatan jelas dia kesal, tapi sikapnya kayak mau bilang, 'Aku sabar, lho. Aku pengertian, lho.' Kalau betul-betul pengertian, kenapa enggak melakukan apa-apa setiap akhir pekan?..." (hal. 157 - 158)


Jadi novel ini tidak punya cerita romansa sama sekali ya, huft!

Setelah membaca novel ini, saya semakin tahu kalau jadi perempuan hamil itu tidak mudah. Selain membuat fisik kepayahan, kestabilan emosi mereka juga diguncang. Memang sudah semestinya memperlakukan mereka dengan penuh pengertian. Selain untuk menjaga kesehatan ibu hamil, untuk menjaga kesehatan janin juga.

Sekian ulasan saya untuk novel Diary of A Void. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Januari 27, 2024

Resensi Novel Angsa Liar - Mori Ogai

Hanya satu hal yang jelas, aku tidak pantas menjadi kekasih Otama, maka lebih baik jangan menerka tentang hal yang bukan-bukan (kalimat terakhir Novel Angsa Liar; 145)


Judul:
Angsa Liar

Penulis: Mori Ogai

Penerjemah: Ribeka Ota

Penerbit: Taman Moooi Pustaka

Terbit: Oktober 2020

Tebal: iv + 156 hlm.

ISBN: 9786239018504


Ini pertama kalinya buat saya membaca buku yang diterbitkan Penerbit Moooi dan ternyata saya suka dengan bukunya. Novel Angsa Liar ini jadi novel pertama buat penerbit dan sebagai tanda tertulis angka satu di punggung bukunya. Cukup kreatif dan bikin saya pengen mengoleksi semua bukunya sampai lengkap.

Novel Angsa Liar ini menceritakan tentang pencerita yang membahas soal tidak terjalinnya hubungan antara Okada dan Otama, dan itu terjadinya 35 tahun lalu. Kemudian cerita meluncur bebas dan liar kepada tokoh-tokoh lain yang berada di sekitar mereka. Isunya lebih besar dari sekadar hubungan cinta-cintaan.

Yang paling mengena buat saya tentu saja isu soal perempuan kedua yang dimiliki lelaki dan mempengaruhi keluarga intinya. Suezo adalah gambaran pria yang dimabuk harta. Ketika sudah kaya, ia tergila-gila dengan perempuan muda dan menjadikannya gundik.

Sehebat apa pun bangkai disimpan, kapan waktu akan tercium. Itu yang terjadi, Otsune sebagai istri sah Suezo mengetahui juga kalau suaminya menyimpan perempuan lain. Sejak itu Otsune melihat Suezo dengan nilai yang berbeda. Melihat suaminya di dekat bikin geram, membiarkannya keluar rumah bikin ketar-ketir. Alhasil, bakti istri kepada suami sudah tidak tulus lagi dan segala-gala menjadi salah di matanya.

Dari sisi Otama sebagai gundik, ini bukan pilihan mudah. Hidupnya sudah sulit sejak lama, ia juga berharap bisa membuat ayahnya hidup enak setelah bertahun-tahun bekerja keras, dan begitu menjadi istri polisi, ia pun ditipu. Suezo datang di momen tepat dan Otama pun berusaha menjadi gundik yang baik. 

Tetapi menjadi sesuatu dengan cara salah tidak pernah berujung baik dan membahagiakan. Otama pun pelan-pelan membuang peran baiknya itu. Dia justru tertawan oleh pesona Okada, seorang mahasiswa. Namun, langkahnya tidak leluasa, dan mereka hanya bisa saling sapa lewat mata dan anggukkan kepala.

Lalu kenapa Okada dan Otama tidak bisa bersatu? Kalian baca saja novel ini.



Karena novel ini klasik, jadi memang butuh usaha untuk menyelesaikan membacanya walau pun halamannya tipis. Novel ini kebanyakan narasi dibandingkan dialog. Tampaknya karena penulis menggali detail cerita lebih banyak. Urutan jalan yang dilalui Okada saja dideskripsikan panjang lebar, bahkan jalur alternatifnya pun dibahas. Padahal menurut saya, susah juga buat membayangkannya.

Penulis juga bercerita dengan konsep akar serabut. Ada akar intinya, tapi lebih banyak lagi akar rambutnya ke kanan dan kiri. Awalnya membahas soal Okada, lalu disusul soal pertemuan Okada dengan Otama, dan cerita lanjut ke awal mula Suezo bisa jadi kaya dan bisa menjadikan Otama gundik, lalu di susul latar belakang Otama dan masih banyak lagi pinggiran-pinggian cerita yang menyamping.

Secara alur dan konflik, saya menyukai isinya. Cerita novel ini tuh relate dengan situasi saat ini, dimana banyak banget kasus perselingkuhan yang terekspos dan dari novel ini kita dikasih tahu dua sisi sudut pandang, sisi istri sah dan sisi pelakor. 

Walau pun isunya panas, namun penulis berceritanya dengan santun sekali. Bahkan di bagian ketika Otsune sudah dipuncak kemarahannya, penulis menceritakannya dengan slow saja. Jadi ketika selesai membaca novel ini, emosi kita bakal tetap aman terkendali.



Dugaan saya yang bikin cerita ini kalem karena setting-nya di Jepang pada jaman dulu kala. Di awal novel disebutkan kalau kejadiannya di tahun tiga belas atau sekitar 1880. Pada saat itu sastra belum kebentuk, novel luar belum banyak masuk ke Jepang, dan literasi hanya berbentuk majalah saja. Sehingga konflik sedemikan sensitif tidak digambarkan dengan brutal, berbeda halnya dengan kejadian saat ini.

Untuk kovernya sangat vulgar mempertontonkan sosok perempuan Jepang telanjang yang kayaknya sedang mencuci peralatan dapur. Hemm, kenapa dipilih kover ini ya?

Novel Angsa Liar ini saya rekomendasikan untuk kalian yang suka baca buku klasik, terutama literasi asia. Pengalamannya membacanya seru dan saya sangat menikmatinya.

Sekian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Juni 07, 2023

Resensi Novel Confessions - Minato Kanae


Judul:
Confessions

Penulis: Minato Kanae

Penerjemah: Clara Canceriana, Andry Setiawan

Desain sampul: Pola

Penerbit: Penerbit Haru

Terbit: Juli 2022, cetakan kesebelas

Tebal: 304 hlm.

ISBN: 9786025385889


Moriguchi Yuko adalah seorang guru SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira itu cuma kecelakaan nahas.

Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh dua dari anak didiknya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu bebas. Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk...


Novel Confessions ini menceritakan tentang pembunuhan anak perempuan bernama Manami, 4 tahun, anak dari wali kelas bernama Moriguchi Yuko. Tubuh Manami ditemukan mengambang di kolam renang sekolah SMP S. Polisi menyimpulkan kalau ini kasus kecelakaan. Manami jatuh ke dalam kolam renang setelah dia memberi makan anjing, sampai ia meninggal.

Yuko menemukan kejanggalan atas kematian putrinya. Putrinya tidak serta merta jatuh ke kolam tapi dia dibunuh. Yuko melakukan penyelidikan sendiri dan dugaan kuat mengarah kepada dua muridnya: Watanabe Tsuya dan Shimomura Naoki . Ia pun memilih mengundurkan diri dari SMP tempat ia mengajar dan berniat balas dendam. Menurutnya, jika pelaku ditangkap polisi, itu akan jadi hukuman yang ringan untuk mereka. 

Pada perpisahan caturwulan, Yuko berpamitan di depan kelas sekaligus mengultimatum pembunuh putrinya. Ia membuat pengakuan yang mengejutkan seisi kelas.



Saya mencampurkan darah  yang baru saja saya ambil tadi pagi ke dalam susu kalian berdua. -hal. 68

Ancaman mematikan sebab darah itu berasal dari ayah Manami yang mengidap HIV. 

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Manami di kolam renang itu? Dan bagaimana nasib pelaku pembunuhnya?


Walau novel ini memiliki cerita misteri, tapi tema yang paling kerasa banget adalah tema keluarga. Bukan yang hartwarming sih, tapi lebih ke tragis. Di sini kan pelaku pembunuhan itu anak SMP, dan yang paling sedih dengan fakta ini tentu saja ibunya. Kelihatan banget penggambaran pengorbanan ibu untuk melindungi anaknya walaupun anaknya sudah melakukan kejahatan. Ada juga bagian cerita yang menunjukan kalau bagaimana pola asuh (ilmu parenting) anak di keluarga berefek pada perilakunya. Contoh di novel ini adalah perceraian orang tua, kekerasan orang tua, dan ketiadaan sosok ibu bisa membuat anak terobsesi mencari perhatian orang tua dengan cara yang berlebihan.

Saya juga suka dengan konsep cerita misterinya. Pada awal bab, pembaca sudah diberi tahu siapa pembunuhnya jadi kita tidak perlu menebak-nebak lagi siapa pelakunya. Berikutnya penulis mengembangkan cerita dengan plot maju, untuk menunjukkan efek peristiwa pembunuhan tersebut bagi orang-orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Kejutan akan diberikan penulis di beberapa tempat dan cukup mengagetkan. Usaha penulis mengelabui dugaan pembaca sangat berhasil. 



Format plot begini ternyata tidak mengurangi keseruan membaca novelnya. Karena setelah itu kita akan disodorkan lebih banyak detail tentang masa lalu para tokohnya, kondisi psikologi mereka, kehidupan mereka di masyarakat-keluarga-sekolah, dan tentu saja harapan-harapan mereka yang kemudian menjadi motif kenapa pembunuhan itu terjadi.

Ada enam bab yang setiap babnya diceritakan dengan sudut pandang berbeda-beda. Urutannya sebagai berikut: Yuko, Mizuki (ketua kelas), Kakaknya Naoki, Shimamura Naoki, Watanabe Tsuya, dan terakhir kembali lagi ke sudut pandang Yuko. Di sinilah penulis mempreteli setiap tokoh sampai dalam sekali. Penokohan yang benar-benar utuh. Pembaca tidak akan diberi ruang untuk menghakimi siapa yang baik dan siapa yang jahat. Karena setiap tokoh punya pembenaran atas pilihan tindakannya. Terlepas pembenaran itu dibenarkan atau justru kekeliruan.


Moriguchi Yuko adalah tipikal seorang ibu yang baik. Pilihannya untuk balas dendam karena dia kehilangan hal paling berharga dari hidupnya yaitu putrinya. Jadi wajar kalau dia memutuskan untuk menjadi iblis dan menghukum si pembunuh. Shimomura Naoki digambarkan sebagai murid baik-baik yang tidak menonjol pada prestasinya. Saking baiknya, dia akhirnya terbawa arus untuk terlibat pembunuhan. Mentalnya juga lemah yang akhirnya membuat dia memilih untuk tidak sekolah setelah kejadian ultimatum wali kelasnya. Sedangkan Watanabe Tsuya adalah murid yang cerdas tapi secara psikologi terganggu. Dia punya trauma masa kecil dan itu melahirkan obsesi untuk melakukan kejahatan demi menarik perhatian. Selain itu masih ada beberapa tokoh tambahan yang masing-masing memiliki peran penting dalam membeberkan pelaku pembunuhan.

Dari novel ini juga saya mendapatkan wawasan baru mengenai pendidikan di Jepang. Dari latar belakang Yuko, kita akan tahu suka dukanya jadi pengajar di Jepang. Dari latar belakang tokoh murid , kita akan tahu program dan kegiatan murid selama di sekolah, Termasuk dari latar belakang orang tua murid, kita akan tahu apa saja yang menjadi tuntutan sekolah kepada mereka dan anaknya.

Setelah tuntas di halaman terakhir, saya justru terkesan dengan poin penceritaan mengenai cara pengasuhan anak (parenting) yang berefek pada perilaku anak. Novel ini mengingatkan dengan tegas jika anak itu dibentuk oleh orang tua, jika cara membentuknya keliru, hasilnya akan jelek. Dan pertaruhan dari pengasuhan ini adalah kesehatan jiwa anak. Jika jiwa anak terganggu dan tidak lekas disembuhkan, akan terus terbawa sampai anak jadi dewasa, dan bukan tidak mungkin anak tadi akan tumbuh menjadi sosok penjahat.

Saya beruntung akhirnya bisa membaca novel ini setelah sebelumnya mendengar puja-puji pembaca lain pada novelnya. Benar-benar pengalaman yang seru. Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk penggemar bacaan misteri. Dan saya memberikan nilai 5/5 bintang.

Sekian resensi novel Confessions karya Minato Kanae dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Mei 31, 2023

Resensi Novel Convenience Store Woman (Gadis Minimarket) - Sayaka Murata


Judul:
Convenience Store Woman (Gadis Minimarket)

Penulis: Sayaka Murata

Penerjemah: Ninuk Sulistyawati

Editor: Karina Anjani

Ilustrasi kover: Orkha

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2022, cetakan ketujuh

Tebal: 160 hlm.

ISBN: 9786020644394


Dunia menuntut Keiko untuk jadi normal, walau ia tidak tahu 'normal' itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai 'pegawai minimarket'. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini..



Novel Gadis Minimarket ini menceritakan tentang perempuan bernama Keiko. Usianya sudah 36 tahun tetapi masih bekerja paruh waktu di minimarket dan dia belum menikah. 

Sudah 18 tahun dia menikmati pekerjaannya. Jiwa raga sudah menyatu dengan kehidupan minimarket.

Suatu hari dia memutuskan menampung lelaki bernama Shiraha. Shiraha adalah mantan pegawai minimarket di tempat Keiko kerja. Berkat kesepakatan berdua, keputusan tinggal sekamar dianggap menguntungkan kedua pihak. 

Karena Shiraha, Keiko harus berhenti bekerja di minimarket. keputusan paling besar dalam hidupnya karena minimarket sudah menjadi surga baginya. 

Apakah Keiko sanggup melanjutkan hidup setelah berhenti kerja?




Walau tipis tapi novel ini berbobot. Soalnya banyak hal yang dibahas dan bikin pembaca jadi tambah wawasan. 

Pertama, soal psikologi. Keiko dan Shiraha memiliki karakter yang aneh. Keiko sudah aneh sejak kecil. Saat TK, dia menyarankan ibunya untuk memasak burung yang mati. Saat SD, dia memukul dua teman lelaki yang berkelahi dengan sekop. Tujuannya agar mereka cepat berhenti berkelahi. Pernah juga Keiko menurunkan rok gurunya supaya gurunya berhenti histeris, berteriak-teriak, dan memukul-mukul meja dengan buku di depan kelas. Keiko kepikiran cara ini berkat tayangan TV.

Walau sudah dewasa pun, Keiko tetap aneh. Dia suka meniru gestur dan nada ucapan pegawai lain. Bahkan dia menganggap keponakannya seperti binatang. Yang menurutnya untuk menghentikan tangisan si bayi dapat dilakukan dengan pisau. Keiko sadar kalau dia bermasalah tapi dia tidak tahu apa masalahnya. Kadang pikiran dia bisa kita terima, tapi lebih banyaknya di luar nalar.

Sedangkan Shiraha digambarkan sebagai lelaki dewasa yang suka meremehkan, pemalas, banyak omong, suka berhutang, dan tidak bertanggung jawab. Kasarnya, Shiraha itu parasit untuk siapa pun. Gara-gara omongannya yang besar, Keiko mau-maunya membuat kesepakatan dengannya untuk tinggal sekamar.

Kedua, soal budaya masyarakat. Novel ini blak-blakan menunjukkan bagaimana masyarakat melihat dan memperlakukan orang yang secara usia sudah matang tapi belum punya pencapaian. Pencapaian yang jadi standar masyarakat seperti pekerjaan yang baik dan pernikahan. Di kehidupan nyata pun banyak orang yang memandang sebelah mata kepada orang lain yang belum mencapai standar masyarakat.

Kalau ditelaah lebih dalam, Keiko dan Shiraha belum mencapai standar masyarakat karena pilihan hidup yang mereka ambil selalu tidak tepat. Sikap dan karakter keduanya yang membuat mereka tertinggal. Bukan karena takdir ya. 


Ketiga, soal pekerjaan. Nilai seseorang ditentukan dari pekerjaannya. Beruntung bagi kita yang punya pekerjaan sebab pengangguran itu tidak berharga. Novel ini menyinggung sikap profesional yang harus dimiliki pekerja. Salah satu yang paling vocal disinggung adalah harus mematuhi peraturan pekerjaan. 

Shiraha menjadi contoh buruk sikap pekerja. Dia meremehkan pekerjaannya, menggunakan ponsel di jam kerja, suka terlambat, memakan stock makanan yang hampir kadaluarsa, dan paling parah dia menguntit pelanggan minimarket. Hasilnya, dia harus dipecat. Buruknya sifat Shiraha, pemecatannya dianggap ketidakadilan.

Keempat, soal keluarga. Saya salut dengan adik dan orang tua Keiko yang tidak lepas tangan menghadapi keanehan Keiko. Selain support, mereka juga memperhatikan kehidupannya. Ini yang mematahkan dugaan keanehan Keiko diakibatkan keluarga yang tidak harmonis. Nyatanya keluarga Keiko baik-baik saja tapi Keiko tetap aneh.

Kelima, soal mencari jati diri. Setelah Keiko berhenti kerja, hidupnya jadi kacau, tidak tentu arah sebab tidak ada panduan. Ada satu kejadian, Keiko masuk ke minimarket dan reflek dia mengerjakan pekerjaan pegawai. Momen ini jadi titik balik Keiko sadar siapa dia dan apa yang ia sukai.


Novel ini tidak punya puncak konflik yang seru. Tipikal alur cerita yang datar tapi tidak sampai bikin bosan. Alurnya campuran, sesekali mundur untuk menjelaskan latar belakang yang membuat Keiko seperti sekarang.

Dengan sudut pandang orang pertama, pembaca diajak menyelami karakter Keiko lebih dalam. Dan karena saking memahami cara dia berpikir dan bertindak, saya tidak bersimpati dengan yang dialaminya. Bukan lingkungan yang salah, bukan pola didik orang tua yang salah, tetapi memang karakternya yang keliru. Ditambah Keiko tidak berjuang keluar dari zonanya selama ini, yang akhirnya sampai dia seusia segitu pun karakternya tetap tertutup.

Gaya bahasanya enak dan mudah dipahami. Ini juga berkat penerjemahan yang bagus. Ditambah kovernya yang mencolok berwarna kuning dengan ilustrasi Keiko yang minimalis, membuat novel ini gampang menarik pembaca.


Setelah membaca novel Gadis Minimarket ini saya semakin diyakinkan untuk menjadi orang yang lebih baik. Saya ingin membentuk nilai diri lebih positif seperti ramah, bertutur dengan bahasa santun, pekerja keras, gemar menebar tindakan baik, gampang menolong, dan masih banyak lagi sikap-sikap terpuji lainnya. Sebab, jika diri kita baik, masyarakat pun akan menilai baik. Dan jadi orang baik tidak akan rugi.

Untuk pengalaman membaca kisak Keiko dan minimarketnya, saya memberikan nilai 3/5 bintang. Tetap enak diikuti dan layak direnungkan.

Nah, sekian ulasan atau resensi novel dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku.