Tampilkan postingan dengan label Literasi Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi Jepang. Tampilkan semua postingan

Agustus 30, 2026

Review Komik Vagabond Bind Up Vol.2 - Inoue Takehiko

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Vagabond Bind Up Vol.2

Penulis: Inoue Takehiko

Penerjemah: E. P Amanda

Editor: Niken

Desain sampul: Jojo

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Juli 2026 

Tebal: 438 hlm.

ISBN: 9786230078651


Biksu Takuan menganggap Shinmen Takezo sudah mati dan dia mengganti nama Takezo dengan nama baru, Miyamoto Musashi. Untuk menjadi samurai yang kuat, Miyamoto pergi ke Kyoto, daerah yang lebih maju. 

Di Kyoto terkenal sebuah Dojo hebat yaitu Dojo Yoshioka dan kepalanya adalah Yoshioka Seijuro. Miyamoto datang menantang dan berhasil membunuh lima murid Dojo Yoshioka. Pada pertemuan duel itu, Seijuro justru menolak untuk bertarung. Yoshioka Denshichiro, adik Seijuro, yang kemudian menantang Miyamoto bertarung dengan alasan kelima muridnya yang tewas. Mereka bertarung sengit namun tidak berlanjut karena dojo mengalami kebakaran. 

Peristiwa ajakan duel dan kebakaran dojo menjadi berita besar. Matahachi yang menyaksikan duel itu justru jadi buron sebagai pelaku pembakaran dojo. Sedangkan Miyamoto yang terluka dalam duel yang belum tuntas itu diselamatkan oleh Biksu Takuan. 

Keberadaan Miyamoto bukan diketahui oleh Matahachi saja, Akemi pun akhirnya tahu. Begitu juga dengan Nenek Hon'iden yang pergi berkelana untuk mencari tahu keberadaan anaknya, Matahachi.

Miyamoto mengakui kalau dirinya masih belum cukup kuat. Dia memutuskan untuk pergi ke Nara. Tantangan pertama adalah dia harus mengalahkan biksu yang ada di Hozoin Pusat Tombak. Kedatangannya justru didahului oleh Gion Toji, pengawal andalan Seijuro. 

Miyamoto bertemu dengan biksu tua yang memiliki aura membunuh yang kuat. Banyak teka-teki ucapan yang disampaikan oleh biksu tua itu terutama tentang makna menjadi kuat.

***


Melanjutkan cerita di volume 1, kali ini sosok Takezo yang sudah berubah nama menjadi Miyamoto terkesan lebih dewasa meski umurnya baru 17 tahun. Tapi sedewasa-dewasanya dia, sisi emosional dan ambisiusnya sangat kuat. Saya sendiri heran pikiran apa yang membuatnya selalu mau menantang orang kuat padahal dia sendiri tidak rajin latihan untuk mempersiapkan kekuatannya. Tindakan yang ceroboh menurut saya sih.

Di sini juga mulai menyentuh sisi sentimental pria yang jika hatinya terpaut gadis, pikirannya susah fokus. Rasa gelisah dan kangen kepada Otsu sungguh merepotkan pikiran Miyamoto. Dan percakapan antara Miyamoto dan Biksu Takuan tentang perasaan kepada lawan jenis ini sangat bijaksana. 


Jika hatimu terpaut hanya pada selembar daun, pohon jadi tidak terlihat. Jika terpaut pada sebatang pohon, hutan tidak lagi tampak. Jangan menambatkan hati pada apa pun. Jangan melihat sebagian, lihatlah keseluruhan.


Kisah romansa Miyamoto sepertinya akan pelik dengan keberadaan dua gadis yang sama-sama menaruh perasaan kepadanya. Selain itu, kita juga akan melihat sisi melow dari Matahachi yang ternyata keputusannya untuk pergi dengan Oko dan Akemi bukan keputusan tepat. Apalagi ditambah penyesalannya karena meninggalkan Takezo.

Dalam volume ini banyak bangat adegan aksi yang disajikan. Ceritanya makin seru dan mulai berkembang lebih luas karena akhirnya Miyamoto mendapatkan lawan yang berlapis-lapis sesuai kekuatannya. 

Komik ini ditutup dengan pembukaan duel yang pasti akan sangat sengit antara Miyamoto dan Gion Toji setelah Miyamoto mengalahkan Biksu Agon. Saya akan sangat menunggu kelanjutannya di volume berikutnya.

Dari komik ini saya disadarkan tentang makna kekuatan dan tentang siapa diri kita. 


Kita bisa tahu seperti apa sebenarnya orang yang disebut kuat pada saat kita benar-benar jadi orang kuat.

Selagi berenang di laut kita tidak akan tahu seluas apa lautan itu, kan?


Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca komik ini dan hanya butuh beberapa waktu saja untuk menyelesaikannya. Petualangan dalam menemukan jati diri seorang Takezo alias Miyamoto memang masih sangat jauh tapi kisahnya patut dinantikan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk komik Vagabond Bind Up Vol.2 karya Inoue Takehiko ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Mei 23, 2026

Review Komik Vagabond Bind Up Vol.1 - Inoue Takehiko

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Vagabond Bind Up Vol.1

Penulis: Inoue Takehiko

Penerjemah: E. P. Amanda

Editor: Niken

Desain sampul: Jojo

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: April 2026

Tebal: 488 hlm.

ISBN: 9786230077562


Ketika hidup penuh kegelapan, kemudian mempertanyakan kenapa dilahirkan, apakah ada alasan kuat kenapa harus terus hidup? 


Di awal cerita kita akan kenalan dengan dua pemuda dari Desa Miyamoto: Shinmen Takezo dan Hon'iden Matahachi. Mereka selamat dari perang dan menjadi buronan prajurit. Setelah kelelahan bertempur dengan prajurit yang memburu, mereka ditolong oleh Akemi dan ibunya, Oko, hingga luka-luka mereka membaik dan kondisi badan mereka kembali prima. 

Berada di tengah-tengah Akemi dan Oko membuat Takezo dan Matahachi ikutan berseteru dengan Kelompok Tsujikaze yang di masa lalu sudah membunuh suami Oko sekaligus ayah Akemi. Dua kali bertemu cukup untuk Takezo berhasil membunuh Tsujikaze Tenma, pemimpin kelompok tersebut, dan anak buah lainnya yang ingin membalas dendam karena pemimpin mereka terbunuh.

Usai pertempuran sengit itu, Takezo justru ditinggalkan Matahachi yang pergi bersama Oko dan Akemi. Takezo memutuskan kembali ke Desa Miyamoto untuk mengabarkan jika Matahachi masih hidup kepada keluarganya. Ternyata di desa ia mendapatkan sambutan buruk. Warga desa memburunya untuk dibunuh.

Saat kesempatan datang, Takezo justru dijebak oleh ibunya Matahachi untuk ditangkap warga. Walau bisa lolos, Takezo harus berhadapan dengan saudara Tsujikaze Tenma, Tsujikaze Kohei. Adu pedang sengit terjadi tapi terjeda oleh warga yang mengamuk. 

Ujung-ujungnya Takezo tertangkap oleh Biksu Takuan dan Otsu. Ia pun digantung tanpa diberi makan. Walaupun sudah meminta agar dibunuh saja, Biksu Takuan mengabaikan permintaan itu.


***

Komik ini menampilkan tokoh utama yaitu Takezo, yang pandai memainkan pedang dan selalu bisa melumpuhkan lawannya. Walau tidak dijelaskan bagaimana proses dia bisa melakukan itu, ada latar belakang Takezo yang justru tragis yang memotivasinya jadi lebih hebat. Alasan kedua orang tua yang mengabaikannya yang membuat Takezo ingin lebih kuat agar ia bisa hidup tanpa bantuan siapa pun. 

Pengabaian ini juga yang membuat Takezo mempertanyakan kenapa dia dilahirkan jika akhirnya diabaikan. Ia tidak punya tujuan hidup sehingga beberapa kali ia meminta agar segera dibunuh saja. 

Citra seram dari sosok Takezo berawal dari keinginan menjadi kuat. Lalu saat masih kanak-kanak dia melawan orang dewasa dalam sayembara dan berhasil membunuhnya. Sejak itu warga Desa Miyamoto mengucilkannya. Menganggap Takezo adalah iblis. Tatapan matanya dianggap tatapan binatang buas. Hanya Matahachi saja yang mau berkawan dengannya. 

Di akhir cerita, saya sangat terharu dengan ucapan Biksu Takuan, "Bagi orang yang tidak tahu kegelapan... tidak ada cahaya." Ini seolah bilang kalau Takezo memang pernah membunuh, kehidupannya gelap, dikenal sebagai sosok jahat, tapi dia bisa berubah dan menatap cahaya. Lebih baik orang yang jahat kemudian menjadi baik daripada orang baik yang tidak sadar kalau ia jadi sosok jahat.


Untuk volume 1 ini saya cukup puas bisa membaca ceritanya. Setidaknya saya bisa mengenal Takezo secara utuh. Saya juga tidak sabar dengan kelanjutan volume berikutnya karena banyak potensi cerita seru yang bisa muncul. Misalnya kelanjutan Takezo dan Tsujikaze Kohei, atau tentang nasib Otsu selanjutnya setelah dia dicampakkan oleh Matahachi yang justru menikahi Oko.

Oya, komik ini mengandung adegan kekerasan dan seksual ya. Jadi jangan kaget pas lihat gambarnya walaupun menurut saya tidak begitu vulgar dan masih aman kok. Dan dua jempol untuk sampulnya yang keren banget. Judulnya pakai tinta warna emas dan itu bikin komik ini terasa istimewa.

Rencananya saya akan membaca ulang komik ini karena jujur saja saya masih agak kesulitan membaca balon-balon dialog dan gambar detail komiknya. Saya yakin banyak yang terlewatkan padahal komik itu kekuatannya dari gambar-gambarnya. Dan bisa saja setelah dibaca ulang saya menemukan insight baru. 

Mungkin ini saja yang bisa saya utarakan untuk kesan bacanya. Terakhir dari saya, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Maret 03, 2024

Resensi Novel Diary Of A Void - Emi Yagi

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Diary Of A Void

Penulis: Emi Yagi

Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari

Penerbit: Penerbit Bentang

Terbit: Januari 2020

Tebal: 196 hlm.

ISBN: 9786231862815


Premis Novel Diary of A Void

Shibata adalah karyawan perempuan di sebuah perusahaan yang memproduksi tabung kertas. Dan ia mulai muak dengan kebiasaan rekan kerja yang lain yang selalu mengandalkannya untuk membuatkan kopi atau teh buat tamu, membereskan ruang rapat setelah jamuan, bahkan membetulkan mesin fotocopy saat ada kertas yang macet.

Dan dengan spontan (uhuyyy!!!) terucaplah pengakuan kalau ia sedang hamil. 

Rekan kerjanya mulai membatasi mengandalkan Shibata. Atasannya pun melonggarkan waktu kerja sehingga Shibata bisa pulang pada jam normal. Sekarang, Shibata mulai bisa menikmati banyak hal setelah jam kantor. 

Tetapi kebohongan yang sudah kadung diumumkan membuat Shibata melakukan berbagai cara agar tidak terbongkar. Kebohongan itu membawa pada kebohongan lainnya.



Resensi Novel Diary of A Void

Novel ini memotret satu kejadian yang ada di tempat kerja, perlakukan karyawan pria kepada karyawan wanita dengan membebani pekerjaan tambahan layaknya seperti pembantu. Di beberapa kantor tindakan ini menjadi kebiasaan. Dan jadi beban untuk mereka yang tipe enggak enakan untuk bilang, "Maaf, saya enggak bisa."

Jika tidak segera ditangani, kejadian ini secara langsung menguatkan dan menyuburkan sistem patriarki di lingkungan kerja. Karyawan pria sebagai penguasa dan pemegang otoritas. Bukan tidak mungkin, praktik ini bisa mengurangi produktifitas karyawan perempuan dalam pekerjaannya. Dan satu kebohongan itu terucap dengan tujuan menghentikan kesewenang-wenangan.

Bermula dari kebohongan itu, tokoh utama novel ini mulai mempelajari tentang ibu hamil. Apa yang biasa dilakukan, apa yang dirasakan, dan apa yang berubah dari ibu hamil. Kita pun akan mendapatkan banyak informasi mengenai itu semua.

Salah satu yang mengejutkan saya ternyata ada senam aerobik untuk ibu hamil. Yang saya tahu aerobik itu gerakannya lincah. Apa ini tidak membahayakan janin ya? Mungkin manfaat bagus lainnya mengikuti kelas aerobik ini adalah mempertemukan beberapa ibu hamil untuk bisa berbagi pengalaman. Di sini pun disinggung masalah-masalah yang dialami oleh ibu hamil, terutama psikis, yang dipicu lingkungan atau pasangan (suami).

Sebagai novel yang diganjar penghargaan, saya justru tidak menemukan kesan mendalam pada ceritanya. Karena menurut saya fokus penulis justru lebih banyak memberi tahu soal pengalaman ibu hamil daripada mengulik bagaimana menegangkannya menyembunyikan kebohongan soal kehamilan.

Bagi beberapa pembaca, bisa saja ini novel yang membosankan. Konfliknya bukan yang meledak-ledak dan membuat penasaran dengan endingnya, ditambah gaya penulisannya yang lebih banyak narasi. Tipikal sastra jepang, penulis terlalu banyak memasukkan detail dan pembaca seperti diuji untuk memproyeksikannya, haha.



Fokus cerita dominan mengikuti tokoh Shibata yang introvert, enggak enakan, dan selalu melihat sesuatu dari sisi positif. Karakter yang tergolong baik, tapi jika terlalu polos justru akan menyusahkan diri sendiri. Ada karakter pria rekan kerja Shibata bernama Higashinakano yang menyita perhatian. Awalnya saya kira perhatian dia karena didorong rasa suka, tetapi ternyata itu dilakukan karena dia punya pengalaman susahnya mempunyai anak. Cerita mengharukan buat saya.

Ada juga karakter Hosono, teman Shibata di kelas aerobik, yang dalam percakapan curhat mereka pada tengah malam, membeberkan tentang susahnya mengasuh bayi sekaligus mengurus pekerjaan rumah. Hosono marah dengan keadaan karena suami pun belum bisa ikut membantu dalam dua hal tadi. 


"Sementara suamiku? Apaan-apaan? Kalau Yuri menangis malam-malam, suamiku bakal kesal dan mengeluh, besok dia harus bangun pagi, lah. Enggak, masih bagus kalau dia benar-benar kesal. Dia itu ya, bersikap kesal sambil merasa dia selalu sabar dan enggak pernah kesal. Betul-betul menyebalkan. Padahal kelihatan jelas dia kesal, tapi sikapnya kayak mau bilang, 'Aku sabar, lho. Aku pengertian, lho.' Kalau betul-betul pengertian, kenapa enggak melakukan apa-apa setiap akhir pekan?..." (hal. 157 - 158)


Jadi novel ini tidak punya cerita romansa sama sekali ya, huft!

Setelah membaca novel ini, saya semakin tahu kalau jadi perempuan hamil itu tidak mudah. Selain membuat fisik kepayahan, kestabilan emosi mereka juga diguncang. Memang sudah semestinya memperlakukan mereka dengan penuh pengertian. Selain untuk menjaga kesehatan ibu hamil, untuk menjaga kesehatan janin juga.

Sekian ulasan saya untuk novel Diary of A Void. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Januari 27, 2024

Resensi Novel Angsa Liar - Mori Ogai

Hanya satu hal yang jelas, aku tidak pantas menjadi kekasih Otama, maka lebih baik jangan menerka tentang hal yang bukan-bukan (kalimat terakhir Novel Angsa Liar; 145)


Judul:
Angsa Liar

Penulis: Mori Ogai

Penerjemah: Ribeka Ota

Penerbit: Taman Moooi Pustaka

Terbit: Oktober 2020

Tebal: iv + 156 hlm.

ISBN: 9786239018504


Ini pertama kalinya buat saya membaca buku yang diterbitkan Penerbit Moooi dan ternyata saya suka dengan bukunya. Novel Angsa Liar ini jadi novel pertama buat penerbit dan sebagai tanda tertulis angka satu di punggung bukunya. Cukup kreatif dan bikin saya pengen mengoleksi semua bukunya sampai lengkap.

Novel Angsa Liar ini menceritakan tentang pencerita yang membahas soal tidak terjalinnya hubungan antara Okada dan Otama, dan itu terjadinya 35 tahun lalu. Kemudian cerita meluncur bebas dan liar kepada tokoh-tokoh lain yang berada di sekitar mereka. Isunya lebih besar dari sekadar hubungan cinta-cintaan.

Yang paling mengena buat saya tentu saja isu soal perempuan kedua yang dimiliki lelaki dan mempengaruhi keluarga intinya. Suezo adalah gambaran pria yang dimabuk harta. Ketika sudah kaya, ia tergila-gila dengan perempuan muda dan menjadikannya gundik.

Sehebat apa pun bangkai disimpan, kapan waktu akan tercium. Itu yang terjadi, Otsune sebagai istri sah Suezo mengetahui juga kalau suaminya menyimpan perempuan lain. Sejak itu Otsune melihat Suezo dengan nilai yang berbeda. Melihat suaminya di dekat bikin geram, membiarkannya keluar rumah bikin ketar-ketir. Alhasil, bakti istri kepada suami sudah tidak tulus lagi dan segala-gala menjadi salah di matanya.

Dari sisi Otama sebagai gundik, ini bukan pilihan mudah. Hidupnya sudah sulit sejak lama, ia juga berharap bisa membuat ayahnya hidup enak setelah bertahun-tahun bekerja keras, dan begitu menjadi istri polisi, ia pun ditipu. Suezo datang di momen tepat dan Otama pun berusaha menjadi gundik yang baik. 

Tetapi menjadi sesuatu dengan cara salah tidak pernah berujung baik dan membahagiakan. Otama pun pelan-pelan membuang peran baiknya itu. Dia justru tertawan oleh pesona Okada, seorang mahasiswa. Namun, langkahnya tidak leluasa, dan mereka hanya bisa saling sapa lewat mata dan anggukkan kepala.

Lalu kenapa Okada dan Otama tidak bisa bersatu? Kalian baca saja novel ini.



Karena novel ini klasik, jadi memang butuh usaha untuk menyelesaikan membacanya walau pun halamannya tipis. Novel ini kebanyakan narasi dibandingkan dialog. Tampaknya karena penulis menggali detail cerita lebih banyak. Urutan jalan yang dilalui Okada saja dideskripsikan panjang lebar, bahkan jalur alternatifnya pun dibahas. Padahal menurut saya, susah juga buat membayangkannya.

Penulis juga bercerita dengan konsep akar serabut. Ada akar intinya, tapi lebih banyak lagi akar rambutnya ke kanan dan kiri. Awalnya membahas soal Okada, lalu disusul soal pertemuan Okada dengan Otama, dan cerita lanjut ke awal mula Suezo bisa jadi kaya dan bisa menjadikan Otama gundik, lalu di susul latar belakang Otama dan masih banyak lagi pinggiran-pinggian cerita yang menyamping.

Secara alur dan konflik, saya menyukai isinya. Cerita novel ini tuh relate dengan situasi saat ini, dimana banyak banget kasus perselingkuhan yang terekspos dan dari novel ini kita dikasih tahu dua sisi sudut pandang, sisi istri sah dan sisi pelakor. 

Walau pun isunya panas, namun penulis berceritanya dengan santun sekali. Bahkan di bagian ketika Otsune sudah dipuncak kemarahannya, penulis menceritakannya dengan slow saja. Jadi ketika selesai membaca novel ini, emosi kita bakal tetap aman terkendali.



Dugaan saya yang bikin cerita ini kalem karena setting-nya di Jepang pada jaman dulu kala. Di awal novel disebutkan kalau kejadiannya di tahun tiga belas atau sekitar 1880. Pada saat itu sastra belum kebentuk, novel luar belum banyak masuk ke Jepang, dan literasi hanya berbentuk majalah saja. Sehingga konflik sedemikan sensitif tidak digambarkan dengan brutal, berbeda halnya dengan kejadian saat ini.

Untuk kovernya sangat vulgar mempertontonkan sosok perempuan Jepang telanjang yang kayaknya sedang mencuci peralatan dapur. Hemm, kenapa dipilih kover ini ya?

Novel Angsa Liar ini saya rekomendasikan untuk kalian yang suka baca buku klasik, terutama literasi asia. Pengalamannya membacanya seru dan saya sangat menikmatinya.

Sekian ulasan saya untuk novel ini, terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Juni 07, 2023

Resensi Novel Confessions - Minato Kanae


Judul:
Confessions

Penulis: Minato Kanae

Penerjemah: Clara Canceriana, Andry Setiawan

Desain sampul: Pola

Penerbit: Penerbit Haru

Terbit: Juli 2022, cetakan kesebelas

Tebal: 304 hlm.

ISBN: 9786025385889


Moriguchi Yuko adalah seorang guru SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira itu cuma kecelakaan nahas.

Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh dua dari anak didiknya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu bebas. Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk...


Novel Confessions ini menceritakan tentang pembunuhan anak perempuan bernama Manami, 4 tahun, anak dari wali kelas bernama Moriguchi Yuko. Tubuh Manami ditemukan mengambang di kolam renang sekolah SMP S. Polisi menyimpulkan kalau ini kasus kecelakaan. Manami jatuh ke dalam kolam renang setelah dia memberi makan anjing, sampai ia meninggal.

Yuko menemukan kejanggalan atas kematian putrinya. Putrinya tidak serta merta jatuh ke kolam tapi dia dibunuh. Yuko melakukan penyelidikan sendiri dan dugaan kuat mengarah kepada dua muridnya: Watanabe Tsuya dan Shimomura Naoki . Ia pun memilih mengundurkan diri dari SMP tempat ia mengajar dan berniat balas dendam. Menurutnya, jika pelaku ditangkap polisi, itu akan jadi hukuman yang ringan untuk mereka. 

Pada perpisahan caturwulan, Yuko berpamitan di depan kelas sekaligus mengultimatum pembunuh putrinya. Ia membuat pengakuan yang mengejutkan seisi kelas.



Saya mencampurkan darah  yang baru saja saya ambil tadi pagi ke dalam susu kalian berdua. -hal. 68

Ancaman mematikan sebab darah itu berasal dari ayah Manami yang mengidap HIV. 

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Manami di kolam renang itu? Dan bagaimana nasib pelaku pembunuhnya?


Walau novel ini memiliki cerita misteri, tapi tema yang paling kerasa banget adalah tema keluarga. Bukan yang hartwarming sih, tapi lebih ke tragis. Di sini kan pelaku pembunuhan itu anak SMP, dan yang paling sedih dengan fakta ini tentu saja ibunya. Kelihatan banget penggambaran pengorbanan ibu untuk melindungi anaknya walaupun anaknya sudah melakukan kejahatan. Ada juga bagian cerita yang menunjukan kalau bagaimana pola asuh (ilmu parenting) anak di keluarga berefek pada perilakunya. Contoh di novel ini adalah perceraian orang tua, kekerasan orang tua, dan ketiadaan sosok ibu bisa membuat anak terobsesi mencari perhatian orang tua dengan cara yang berlebihan.

Saya juga suka dengan konsep cerita misterinya. Pada awal bab, pembaca sudah diberi tahu siapa pembunuhnya jadi kita tidak perlu menebak-nebak lagi siapa pelakunya. Berikutnya penulis mengembangkan cerita dengan plot maju, untuk menunjukkan efek peristiwa pembunuhan tersebut bagi orang-orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Kejutan akan diberikan penulis di beberapa tempat dan cukup mengagetkan. Usaha penulis mengelabui dugaan pembaca sangat berhasil. 



Format plot begini ternyata tidak mengurangi keseruan membaca novelnya. Karena setelah itu kita akan disodorkan lebih banyak detail tentang masa lalu para tokohnya, kondisi psikologi mereka, kehidupan mereka di masyarakat-keluarga-sekolah, dan tentu saja harapan-harapan mereka yang kemudian menjadi motif kenapa pembunuhan itu terjadi.

Ada enam bab yang setiap babnya diceritakan dengan sudut pandang berbeda-beda. Urutannya sebagai berikut: Yuko, Mizuki (ketua kelas), Kakaknya Naoki, Shimamura Naoki, Watanabe Tsuya, dan terakhir kembali lagi ke sudut pandang Yuko. Di sinilah penulis mempreteli setiap tokoh sampai dalam sekali. Penokohan yang benar-benar utuh. Pembaca tidak akan diberi ruang untuk menghakimi siapa yang baik dan siapa yang jahat. Karena setiap tokoh punya pembenaran atas pilihan tindakannya. Terlepas pembenaran itu dibenarkan atau justru kekeliruan.


Moriguchi Yuko adalah tipikal seorang ibu yang baik. Pilihannya untuk balas dendam karena dia kehilangan hal paling berharga dari hidupnya yaitu putrinya. Jadi wajar kalau dia memutuskan untuk menjadi iblis dan menghukum si pembunuh. Shimomura Naoki digambarkan sebagai murid baik-baik yang tidak menonjol pada prestasinya. Saking baiknya, dia akhirnya terbawa arus untuk terlibat pembunuhan. Mentalnya juga lemah yang akhirnya membuat dia memilih untuk tidak sekolah setelah kejadian ultimatum wali kelasnya. Sedangkan Watanabe Tsuya adalah murid yang cerdas tapi secara psikologi terganggu. Dia punya trauma masa kecil dan itu melahirkan obsesi untuk melakukan kejahatan demi menarik perhatian. Selain itu masih ada beberapa tokoh tambahan yang masing-masing memiliki peran penting dalam membeberkan pelaku pembunuhan.

Dari novel ini juga saya mendapatkan wawasan baru mengenai pendidikan di Jepang. Dari latar belakang Yuko, kita akan tahu suka dukanya jadi pengajar di Jepang. Dari latar belakang tokoh murid , kita akan tahu program dan kegiatan murid selama di sekolah, Termasuk dari latar belakang orang tua murid, kita akan tahu apa saja yang menjadi tuntutan sekolah kepada mereka dan anaknya.

Setelah tuntas di halaman terakhir, saya justru terkesan dengan poin penceritaan mengenai cara pengasuhan anak (parenting) yang berefek pada perilaku anak. Novel ini mengingatkan dengan tegas jika anak itu dibentuk oleh orang tua, jika cara membentuknya keliru, hasilnya akan jelek. Dan pertaruhan dari pengasuhan ini adalah kesehatan jiwa anak. Jika jiwa anak terganggu dan tidak lekas disembuhkan, akan terus terbawa sampai anak jadi dewasa, dan bukan tidak mungkin anak tadi akan tumbuh menjadi sosok penjahat.

Saya beruntung akhirnya bisa membaca novel ini setelah sebelumnya mendengar puja-puji pembaca lain pada novelnya. Benar-benar pengalaman yang seru. Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk penggemar bacaan misteri. Dan saya memberikan nilai 5/5 bintang.

Sekian resensi novel Confessions karya Minato Kanae dari saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!