Tampilkan postingan dengan label Samurai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Samurai. Tampilkan semua postingan

Agustus 30, 2026

Review Komik Vagabond Bind Up Vol.2 - Inoue Takehiko

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Vagabond Bind Up Vol.2

Penulis: Inoue Takehiko

Penerjemah: E. P Amanda

Editor: Niken

Desain sampul: Jojo

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: Juli 2026 

Tebal: 438 hlm.

ISBN: 9786230078651


Biksu Takuan menganggap Shinmen Takezo sudah mati dan dia mengganti nama Takezo dengan nama baru, Miyamoto Musashi. Untuk menjadi samurai yang kuat, Miyamoto pergi ke Kyoto, daerah yang lebih maju. 

Di Kyoto terkenal sebuah Dojo hebat yaitu Dojo Yoshioka dan kepalanya adalah Yoshioka Seijuro. Miyamoto datang menantang dan berhasil membunuh lima murid Dojo Yoshioka. Pada pertemuan duel itu, Seijuro justru menolak untuk bertarung. Yoshioka Denshichiro, adik Seijuro, yang kemudian menantang Miyamoto bertarung dengan alasan kelima muridnya yang tewas. Mereka bertarung sengit namun tidak berlanjut karena dojo mengalami kebakaran. 

Peristiwa ajakan duel dan kebakaran dojo menjadi berita besar. Matahachi yang menyaksikan duel itu justru jadi buron sebagai pelaku pembakaran dojo. Sedangkan Miyamoto yang terluka dalam duel yang belum tuntas itu diselamatkan oleh Biksu Takuan. 

Keberadaan Miyamoto bukan diketahui oleh Matahachi saja, Akemi pun akhirnya tahu. Begitu juga dengan Nenek Hon'iden yang pergi berkelana untuk mencari tahu keberadaan anaknya, Matahachi.

Miyamoto mengakui kalau dirinya masih belum cukup kuat. Dia memutuskan untuk pergi ke Nara. Tantangan pertama adalah dia harus mengalahkan biksu yang ada di Hozoin Pusat Tombak. Kedatangannya justru didahului oleh Gion Toji, pengawal andalan Seijuro. 

Miyamoto bertemu dengan biksu tua yang memiliki aura membunuh yang kuat. Banyak teka-teki ucapan yang disampaikan oleh biksu tua itu terutama tentang makna menjadi kuat.

***


Melanjutkan cerita di volume 1, kali ini sosok Takezo yang sudah berubah nama menjadi Miyamoto terkesan lebih dewasa meski umurnya baru 17 tahun. Tapi sedewasa-dewasanya dia, sisi emosional dan ambisiusnya sangat kuat. Saya sendiri heran pikiran apa yang membuatnya selalu mau menantang orang kuat padahal dia sendiri tidak rajin latihan untuk mempersiapkan kekuatannya. Tindakan yang ceroboh menurut saya sih.

Di sini juga mulai menyentuh sisi sentimental pria yang jika hatinya terpaut gadis, pikirannya susah fokus. Rasa gelisah dan kangen kepada Otsu sungguh merepotkan pikiran Miyamoto. Dan percakapan antara Miyamoto dan Biksu Takuan tentang perasaan kepada lawan jenis ini sangat bijaksana. 


Jika hatimu terpaut hanya pada selembar daun, pohon jadi tidak terlihat. Jika terpaut pada sebatang pohon, hutan tidak lagi tampak. Jangan menambatkan hati pada apa pun. Jangan melihat sebagian, lihatlah keseluruhan.


Kisah romansa Miyamoto sepertinya akan pelik dengan keberadaan dua gadis yang sama-sama menaruh perasaan kepadanya. Selain itu, kita juga akan melihat sisi melow dari Matahachi yang ternyata keputusannya untuk pergi dengan Oko dan Akemi bukan keputusan tepat. Apalagi ditambah penyesalannya karena meninggalkan Takezo.

Dalam volume ini banyak bangat adegan aksi yang disajikan. Ceritanya makin seru dan mulai berkembang lebih luas karena akhirnya Miyamoto mendapatkan lawan yang berlapis-lapis sesuai kekuatannya. 

Komik ini ditutup dengan pembukaan duel yang pasti akan sangat sengit antara Miyamoto dan Gion Toji setelah Miyamoto mengalahkan Biksu Agon. Saya akan sangat menunggu kelanjutannya di volume berikutnya.

Dari komik ini saya disadarkan tentang makna kekuatan dan tentang siapa diri kita. 


Kita bisa tahu seperti apa sebenarnya orang yang disebut kuat pada saat kita benar-benar jadi orang kuat.

Selagi berenang di laut kita tidak akan tahu seluas apa lautan itu, kan?


Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca komik ini dan hanya butuh beberapa waktu saja untuk menyelesaikannya. Petualangan dalam menemukan jati diri seorang Takezo alias Miyamoto memang masih sangat jauh tapi kisahnya patut dinantikan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk komik Vagabond Bind Up Vol.2 karya Inoue Takehiko ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Mei 23, 2026

Review Komik Vagabond Bind Up Vol.1 - Inoue Takehiko

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: Vagabond Bind Up Vol.1

Penulis: Inoue Takehiko

Penerjemah: E. P. Amanda

Editor: Niken

Desain sampul: Jojo

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: April 2026

Tebal: 488 hlm.

ISBN: 9786230077562


Ketika hidup penuh kegelapan, kemudian mempertanyakan kenapa dilahirkan, apakah ada alasan kuat kenapa harus terus hidup? 


Di awal cerita kita akan kenalan dengan dua pemuda dari Desa Miyamoto: Shinmen Takezo dan Hon'iden Matahachi. Mereka selamat dari perang dan menjadi buronan prajurit. Setelah kelelahan bertempur dengan prajurit yang memburu, mereka ditolong oleh Akemi dan ibunya, Oko, hingga luka-luka mereka membaik dan kondisi badan mereka kembali prima. 

Berada di tengah-tengah Akemi dan Oko membuat Takezo dan Matahachi ikutan berseteru dengan Kelompok Tsujikaze yang di masa lalu sudah membunuh suami Oko sekaligus ayah Akemi. Dua kali bertemu cukup untuk Takezo berhasil membunuh Tsujikaze Tenma, pemimpin kelompok tersebut, dan anak buah lainnya yang ingin membalas dendam karena pemimpin mereka terbunuh.

Usai pertempuran sengit itu, Takezo justru ditinggalkan Matahachi yang pergi bersama Oko dan Akemi. Takezo memutuskan kembali ke Desa Miyamoto untuk mengabarkan jika Matahachi masih hidup kepada keluarganya. Ternyata di desa ia mendapatkan sambutan buruk. Warga desa memburunya untuk dibunuh.

Saat kesempatan datang, Takezo justru dijebak oleh ibunya Matahachi untuk ditangkap warga. Walau bisa lolos, Takezo harus berhadapan dengan saudara Tsujikaze Tenma, Tsujikaze Kohei. Adu pedang sengit terjadi tapi terjeda oleh warga yang mengamuk. 

Ujung-ujungnya Takezo tertangkap oleh Biksu Takuan dan Otsu. Ia pun digantung tanpa diberi makan. Walaupun sudah meminta agar dibunuh saja, Biksu Takuan mengabaikan permintaan itu.


***

Komik ini menampilkan tokoh utama yaitu Takezo, yang pandai memainkan pedang dan selalu bisa melumpuhkan lawannya. Walau tidak dijelaskan bagaimana proses dia bisa melakukan itu, ada latar belakang Takezo yang justru tragis yang memotivasinya jadi lebih hebat. Alasan kedua orang tua yang mengabaikannya yang membuat Takezo ingin lebih kuat agar ia bisa hidup tanpa bantuan siapa pun. 

Pengabaian ini juga yang membuat Takezo mempertanyakan kenapa dia dilahirkan jika akhirnya diabaikan. Ia tidak punya tujuan hidup sehingga beberapa kali ia meminta agar segera dibunuh saja. 

Citra seram dari sosok Takezo berawal dari keinginan menjadi kuat. Lalu saat masih kanak-kanak dia melawan orang dewasa dalam sayembara dan berhasil membunuhnya. Sejak itu warga Desa Miyamoto mengucilkannya. Menganggap Takezo adalah iblis. Tatapan matanya dianggap tatapan binatang buas. Hanya Matahachi saja yang mau berkawan dengannya. 

Di akhir cerita, saya sangat terharu dengan ucapan Biksu Takuan, "Bagi orang yang tidak tahu kegelapan... tidak ada cahaya." Ini seolah bilang kalau Takezo memang pernah membunuh, kehidupannya gelap, dikenal sebagai sosok jahat, tapi dia bisa berubah dan menatap cahaya. Lebih baik orang yang jahat kemudian menjadi baik daripada orang baik yang tidak sadar kalau ia jadi sosok jahat.


Untuk volume 1 ini saya cukup puas bisa membaca ceritanya. Setidaknya saya bisa mengenal Takezo secara utuh. Saya juga tidak sabar dengan kelanjutan volume berikutnya karena banyak potensi cerita seru yang bisa muncul. Misalnya kelanjutan Takezo dan Tsujikaze Kohei, atau tentang nasib Otsu selanjutnya setelah dia dicampakkan oleh Matahachi yang justru menikahi Oko.

Oya, komik ini mengandung adegan kekerasan dan seksual ya. Jadi jangan kaget pas lihat gambarnya walaupun menurut saya tidak begitu vulgar dan masih aman kok. Dan dua jempol untuk sampulnya yang keren banget. Judulnya pakai tinta warna emas dan itu bikin komik ini terasa istimewa.

Rencananya saya akan membaca ulang komik ini karena jujur saja saya masih agak kesulitan membaca balon-balon dialog dan gambar detail komiknya. Saya yakin banyak yang terlewatkan padahal komik itu kekuatannya dari gambar-gambarnya. Dan bisa saja setelah dibaca ulang saya menemukan insight baru. 

Mungkin ini saja yang bisa saya utarakan untuk kesan bacanya. Terakhir dari saya, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Agustus 20, 2025

Review Novel Shogun Jilid 3 - James Clavell

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Shogun Jilid 3

Penulis: James Clavell

Penerjemah: D. Anshar

Desain sampul: Leopold Adi Surya

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2025, cetakan pertama

Tebal: iv + 460 hlm.

ISBN: 9786231343291

Tag: sastra jepang, shogun, samurai, sejarah, politik


Sinopsis

Anjin-san atau Blacktorne sangat beruntung bisa kembali berlayar dengan kapal Erasmus ditemani Yabu dengan tujuan Nagasaki. Kali ini misinya untuk mempersiapkan perang dengan lebih dulu mencari tambahan pasukan. Namun, Daimyo Ishido justru menjemput dan membawanya ke Osaka.

Mariko pun berangkat lebih dulu ke Osaka dengan membawa misi rahasia dari Daimyo Toranaga. Tujuan lainnya, ia ingin memastikan keluarganya dalam kondisi baik-baik saja.

Situasi menegang saat Mariko ingin membawa keluarga Toranaga dari istana Osaka mengingat keluarga Toranaga sebenarnya sandera agar Toranaga segera tiba di Osaka. Ancaman seppuku membuat Ishido tidak berkutik tapi dia punya rencana lain hingga sebuah penyergapan oleh ninja membuat Mariko meregang nyawa.

Penyergapan ninja itu membuat Anjin-san mengalami luka-luka. Ditambah kepergian Mariko membuat hatinya sedih. Dan belum sampai disitu saja karma buruk menimpanya, kapal Erasmus miliknya juga hancur terbakar.

Toranaga tidak punya waktu banyak. Ia sudah ditunggu di Osaka. Atau jika tidak sampai ke Osaka, perang akan berkecamuk lebih dulu. Banyak taktik yang dijalankan, ada beberapa pengkhianat yang dia bereskan. Bahkan nyawa Mariko dan kebakaran kapal Erasmus masih berhubungan dengan keputusannya.



Ide Cerita

Di Jilid 3 ini makin kelihatan betapa pintarnya Toranaga dalam menghadapi situasi paling sulit pun. Dan berkat bawahannya yang berjiwa samurai, setiap langkah taktiknya bisa dijalankan dengan baik. Bisa dibilang Toranaga selalu memiliki rencana jauh ke depan (visioner) dibanding pikiran bawahannya. Sekali pun rencananya harus mengorbankan nyawa bawahannya.

Perang yang sudah di depan mata selalu bisa diantisipasi. Politik kekuasaan begitu kental baik di kubu Toranaga maupun di kubu Ishido. Kedua daimyo besar itu berseteru sebenarnya ingin memastikan kekuasaan Taiko dapat diteruskan kepada penerusnya yaitu Yaemon, yang kini masih kanak-kanak. Tapi kabar yang beredar justru kalau Toranaga berambisi jadi Shogun dan ingin mengambil alih kekuasaan dari penerus Taiko. Jika mengikuti pikiran Ishido dan Toranaga, saya jadi bingung sebenarnya siapa yang benar. Karena baik Ishido dan Toranaga mengelak tuduhan itu.

Sedikit disayangkan karena novel ini berakhir dengan konklusi berupa paragraf panjang saja. Perang besar yang saya tunggu-tunggu justru tidak terjadi. Tiga jilid ternyata hanya meringkas bagaimana mengenalkan perang politik kekuasaan di Jepang dari sudut pandang orang Inggris. Memang detail dan prosesnya panjang tetapi saya tetap berharap bisa membaca bagian perang besarnya.

Di tengah ketegangan perebutan kekuasaan, unsur romansa di novel ini pun sangat terasa. Dari cerita Mariko dan Fujiko memandang suami mereka, saya sangat terkesan dengan keteguhan para istri membela nama baik suaminya dan pengabdian sampai akhir hayat. Walau pun kita juga akan sadar kalau seorang istri benar-benar dibawah kendali suaminya dalam hal apa pun. Sekali pun mereka tidak bahagia, nilai hormat dan pengabdian tetap didahulukan.

Baca juga: Novel Shogun Jilid 1 - James Clavell

Karakter, POV, Plot, dan Gaya Bahasa

Dari Jilid 1 sampai Jilid 3, novel ini memamerkan banyak tokoh yang terlibat. Dan karena dari buku pertamanya saya tidak meringkas, di sini pun rasanya sulit melakukannya. Sentral cerita sebenarnya ada empat tokoh besar: Toranaga, Ishido, Blacktorne, dan Mariko. Tapi hampir semua tokoh pendukungnya memiliki peran penting juga di novel ini seperti Yabu, Hiromatsu, Gyoko, Fujiko, dan masih banyak lainnya.

Secara penokohan, hampir tidak ada tokoh yang benar-benar bisa dikatakan baik. Semua tokoh Jepang dibuat abu-abu karena mereka mempunyai kepentingan dan tujuan yang tidak begitu dibuka secara terang-terangan. Mungkin hanya Blacktorne saja yang secara karakter tidak dibikin abu-abu mengingat dia sebagai orang inggris yang dikenal kebar-barannya.

Cerita digulirkan dengan POV orang ketiga serba tahu dan plotnya dijalankan maju. Jika pun ada kilas balik bukan lompatan yang terlalu jauh. Dan untuk saya, membaca bagian kilas balik ini cukup nyaman, tidak membingungkan. Secara penerjemahan pun sangat baik sehingga bisa dibaca dengan lancar jaya. Sedikit istilah Jepang yang dipakai dan selalu diikuti narasi penjelasannya.

Bagian Favorit

Di Jilid 3 ini ada bagian paling seru yaitu ketika Istana Osaka bagian tempat Mariko dan Anjin-san berada disergap oleh pasukan ninja. Ada adegan perkelahian dan kejar-kejaran karena penyergapan itu tujuannya menangkap Mariko. Menghalau kejaran ninja dan mencari jalan keluar menjadi adegan yang bikin penasaran. Walaupun ditutup dengan ledakan yang membuat Mariko sekarat dan beberapa orang terdekatnya meregang nyawa.

Baca juga: Novel Shogun Jilid 2 - James Clavell

Petikan

  • Hukum boleh jadi tidak masuk akal tapi akal tidak boleh melanggar hukum, atau keseluruhan masyarakat kita akan buyar seperti tatami tua (p. 89)
  • Sabar artinya menahan diri. Ada tujuh perasaan, ne? Bahagia, marah, cemas, cinta, duka, taku, dan benci. Jika orang bisa menguasai dirinya terhadap tujuh perasaan itu, maka dia dianggap sabar (p. 429)

Kesimpulan

Secara keseluruhan saya sangat menikmati novel Shogun ini. Meski pun sampai Jilid 3 dan novelnya tebal, tapi ceritanya benar-benar menarik dan bikin penasaran. Mempertemukan dua budaya antara Jepang dan Inggris, menjelaskan perbedaan kristen katolik dan protestan, dan menggali konflik politik kekuasaan di Jepang, novel ini terbilang berat namun kaya. Jangan heran juga karena panjangnya cerita novel Shogun ini, kita akan menemukan beberapa bagian yang rada bikin bosan. Tapi harap bersabar dulu karena banyak sekali hal-hal yang akan bikin kita penasaran.

Novel ini sangat pas untuk pembaca yang suka cerita politik dan sejarah Jepang.

Oya, novel ini sudah dibuat seriesnya dengan judul sama: Shogun (2024). Dan menurut beberapa orang yang sudah nonton, seriesnya bagus. Hemm, penasaran. Bakal saya jadwalkan buat nonton nanti.



Nah, sekian ulasan saya untuk novel Shogun ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Juni 13, 2025

Review Novel Shogun Jilid 2 - James Clavell

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Shogun Jilid 2

Penulis: James Clavell

Penerjemah: D. Anshar

Sampul: Leopold Adi Surya

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2025, cetakan pertama

Tebal: iv + 468 hlm.

ISBN: 9786231343284

Tag: sastra jepang, shogun, samurai, sejarah, laut


Sinopsis

Yoshi Toranaga berhasil kabur dari Osaka dengan tidak mudah. Blacktorne dan Mariko ikut rombongan juga. Dengan kapal dayung mereka mencapai Anjiro, daerah kekuasaan Yabu. Mariko dan Blacktorne ditinggal di sana, Toranaga melanjutkan perjalanan ke Edo.

Selama di Anjiro, Blacktorne mengalami banyak hal. Ia dituntut untuk bisa menguasai bahasa Jepang dalam waktu enam bulan, jika gagal maka seluruh rakyat akan dibumihanguskan. Selama itu juga Blacktorne berusaha belajar lebih banyak, bukan soal bahasa saja, tapi manusianya.

Hubungannya dengan Mariko selaku penerjemah dan gurunya, berkembang makin liar. Ada gejolak membara tapi harus diredam karena hubungan mereka salah. Mariko masih memiliki suami dan menurut adat tidak pantas dan aib jika berselingkuh.

Selain itu kedatangan Toranaga ke Anjiro setelah beberapa waktu balik ke Edo mengindikasikan perebutan kekuasaan makin memanas. Perang sepertinya tidak bisa dihindari. Toranaga yang mengundurkan diri dari Dewan Lima Datuk dan berharap bisa mengulur waktu justru dibenturkan kenyataan kalau penggantinya sudah ditunjuk lagi.

Sekutu Toranaga bahkan dibantai habis saat menolak menjadi sekutu Ishido. Posisinya kemudian digantikan oleh adik tiri Toranaga, Zataki. Perang saudara pun sepertinya akan meletus.



Resensi

Di Jilid 2 ini lebih banyak membahas soal kehidupan Blacktorne di Anjiro. Akan diulik lebih banyak orang-orang di sekitarnya seperti Mariko, Yabu, Omi, Fujiko, Kiku dan masih banyak lagi.

Perihal seksualitas akan dibahas banyak juga. Saya kaget waktu bagian Kiku menjelaskan alat bantu seksual kepada Blacktorne dan Mariko. Ternyata Jepang memang lebih vulgar dalam urusan seksualitas walaupun ada pemahaman kalau perempuan ditakdirkan melayani nafsu pria tanpa menuntut dirinya harus dipuaskan. Paham ini bertentangan dengan kegiatan seksual di negeri Blacktorne berasal.

Saya juga takjub dengan sifat Toranaga sebagai pemimpin. Ia selalu menekankan kepada siapa pun agar bisa bersikap sabar, jangan sembrono dengan buru-buru. Sifat tenangnya di situasi yang memancing emosinya juga mengagumkan. Dan itu ia praktikkan agar bawahannya mengikuti.

Penceritaan di Jilid 2 ini masih sama baiknya dengan Jilid 1. Ada beberapa typo tapi tidak menggangu bacaan. Penerjemahan juga sangat baik dan enak dibaca. Dan karena ceritanya berkembang ke berbagai arah, membaca novel tebal ini memang butuh kesabaran. Alurnya agak lambat tapi keseruannya akan terbayar menjelang akhir buku.

Nah, singkat saja ulasan saya kali ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Mei 25, 2025

Review Novel Shogun Jilid 1 - James Clavell

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Shogun Jilid 1

Penulis: James Clavell

Penerjemah: D. Anshar

Sampul: Leopold Adi Surya

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2025, cetakan pertama

Tebal: iv + 537 hlm.

ISBN: 9786231343277

Tag: sastra jepang, shogun, samurai, sejarah, laut


Sinopsis

Kapal Erasmus adalah satu dari lima kapal Belanda yang selamat setelah melakukan perjalanan ke Dunia Baru. John Blacktorne, orang Inggris, menjadi nahkodanya dan harus bertahan saat kapalnya diterjang badai. Awak kapal lainnya sudah dalam kondisi mengenaskan akibat kurang makan dan minum. Di ujung harapan bisa menemukan daratan yang bagai mimpi, kapal yang diamuk badai akhirnya mendarat di daratan Jepang.

Berharap bisa memulihkan diri dan kembali pulang, Blacktorne dan awak kapal lainnya justru terjebak di negara yang secara bahasa, pakaian, makanan dan kebiasaannya sangat berbeda dengan negara asal mereka. Kapal dan harta di dalamnya di sita oleh Daimyo Kashigi Yabu. Nasib mereka akan ditentukan oleh keputusan pemimpin besar, Yoshi Toranaga.

Blacktorne sempat melawan penekanan dari Yabu tapi ia tercengang ketika tahu kemampuan mereka menggunakan pedang. Yabu adalah seorang samurai. Prajuritnya pun seorang samurai. Blacktorne tahu akan sangat sulit melawan mereka dengan kemampuan seperti itu.

Selain mereka, orang Portugis sudah lebih dulu tiba di Jepang untuk menyebarkan ajaran Katolik. Kehadiran Blacktorne memicu kebencian mereka karena Spanyol dan Portugis sudah bermusuhan dengan Inggris dan Belanda. Selain perseteruan dua negara, perbedaan agama pun menyulut kebencian antara keduanya. 

Setelah salah satu awak kapal meninggal akibat penyiksaan kejam yang diperintahkan oleh Yabu, Blacktorne memilih mengikuti perintahnya sembari menunggu kesempatan untuk membalas dendam. Ia pun ikut dengan rombongan ketika Yabu diminta datang ke Istana Osaka, kekuasaan Ishido Kazunari.

Blacktorne terjebak dalam perebutan kekuasaan antara Toranaga dan Ishido. Sejak Taiko meninggal, Jepang dikepalai oleh Dewan Lima Datuk yang masing-masing memimpin beberapa wilayah. Toranaga tidak memiliki sekutu, sedangkan dewan lain merapat ke pihak Ishido. Rapat Dewan Lima Datuk yang akan dilaksanakan di Istana Osaka disinyalir akan mengkudeta Toranaga agar lengser. Nyawanya terancam dan ketika pergerakan mulai gesit dilakukan Ishido, Toranaga harus bisa melarikan diri dari kungkungan Istana Osaka.



Resensi

Karena baru jilid 1, novel ini mencoba mengenalkan dasar ceritanya. Orang asing bernama Blacktorne yang terjebak di antara dua pemimpin besar Jepang yang berebut kekuasaan. Pengenalan yang dimaksud berupa penjabaran segala hal tentang Jepang sebagai daratan yang baru pertama kali di singgahi tokoh utamanya.

Beberapa informasi menarik tentang Jepang cukup membuat saya ber'oh'. Misalnya mengenai seorang samurai yang begitu menjunjung tinggi kehormatannya. Prinsip ini yang membuat mereka melakukan seppuku (bunuh diri) secara suka rela jika gagal melakukan tugas atau malu karena melakukan kesalahan. Perintah seppuku ini bisa dengan gampang dilontarkan oleh pemimpinnya dan begitu gampang pula dilaksanakan oleh anak buahnya.

Orang Jepang hanya dibolehkan memiliki satu istri tapi mereka boleh memiliki gundik sebanyak-banyaknya. Dan praktik seksual mereka bukan hanya hubungan hetero, mereka juga menganggap normal berhubungan dengan sesama jenis. Di sini ada momen Blacktorne marah besar gara-gara ditawari laki-laki hanya karena ia menolak ditawari perempuan. Padahal alasan Blacktorne memang sedang tidak ingin bercinta. Lucu banget kejadiannya.

Politik kekuasaan antara Toranaga dan Ishido ini seperti bom waktu. Cara-cara licik dan picik dilakukan keduanya untuk mengetahui rencana masing-masing dan menggagalkannya. Orang sekitar mereka pun mulai berhitung merapat ke pihak mana yang kira-kira akan menguntungkan. Dua pemimpin besar ini memiliki kebijakan yang berbeda sehingga jika salah memilih bisa-bisa kelangsungan hidup mereka terancam.

Nama Taiko disebut sebagai seorang petani yang berhasil menjadi pembawa kedamaian di Jepang. Pertama kali nama ini disebut, saya seperti pernah tahu ada buku yang judulnya Taiko. Dan begitu dicari, benar saja ada novel judulnya Taiko yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Novel ini sendiri diceritakan setahun setelah Taiko meninggal dunia. Rasanya akan tambah lengkap kalau nanti saya baca juga novelnya. Biar jelas kenapa sosok Taiko begitu dihormati oleh Dewan Lima Datuk ini.

Karena menyebut pekerjaan nahkoda, novel ini pun melekat dengan cerita soal lautnya. Kemampuan Blacktorne sebagai nahkoda handal dipaparkan dalam beberapa kejadian mendebarkan di laut. Kehidupan selama di kapal pun dijabarkan lumayan banyak. Sehingga unsur perlautannya sangat terasa, bukan sekadar tempelan cerita saja.

Novel ini diceritakan dengan sangat detail makanya novelnya cukup tebal. Dan jilid 1 ini baru babak pembukaan menjelang peperangan yang besar (dugaan saya). Tidak bisa diprediksi apa yang bakal terjadi di jilid 2 dan saya beneran enggak sabar ingin membaca kelanjutannya.

Penerjemahan juga sangat enak dan diksinya gampang dipahami. Istilah-istilah Jepangnya dijelaskan juga jadi tidak bikin pembaca bingung. Mungkin untuk beberapa pembaca, narasi novel ini akan rada berat karena banyak paragraf panjang, bukan tipikal novel yang banyak dialog bergantian. Banyak juga dialog panjang karena kebanyakan menjelaskan atau menceritakan sesuatu.

Karakternya SANGAT BANYAK. Tantangan banget kalau harus inget semuanya. Tapi saya memilih fokus ke beberapa karakter saja biar proses membacanya lancar; Blacktorne dan Toranaga. Pengembangan karakternya sangat bagus terutama Blacktorne. Awalnya ia begitu kasar dan tipikal orang yang reaktif, tapi lama-lama setelah mengalami banyak hal, ia belajar untuk tenang dan melihat keadaan sekitar sebelum bertindak. Kecerdasan ini pula yang kayaknya menyelamatkannya dari kematian yang terus mengintai.

Secara keseluruhan, saya sangat puas membaca novel ini. Petualangan Blacktorne di Jepang menghadapi para samurai dan penguasanya begitu seru. Banyak informasi baru soal Jepang yang saya dapatkan juga. 

Nah, sekian ulasan novel Shogun Jilid 1 ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!