[Resensi] Kami (Bukan) Sarjana Kertas - J. S. Khairen

 


Judul: Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Penulis: J. S. Khairen

Penyunting: MB Winata

Penerbit: PT. Bukune Kreatif Cipta

Terbit: Februari 2019

Tebal: x + 362 hlm.

ISBN: 9786022203049

[Terima kasih Bang J. S. Khairen atas ebook legal yang dibagikan gratis pas pandemi mulai parah dan pemerintah menggalakan #StayAtHome, dan akhirnya baru dibaca sekarang-sekarang ini.]

***

    Awalnya pas liat sampul buku ini, saya kira genrenya buku non-fiksi, memotivasi para lulusan kampus untuk nggak jadi 'sarjana kertas'. Diperkuat pula oleh judulnya yang kaku. Kalo fiksi, biasanya punya judul yang lebih puitis, atau satu kata tapi punya makna mendalam. Sedangkan buku ini punya judul mirip-mirip buku pengembangan diri yang sedang hits, yang ada seni-seninya begitu. Tetapi ketika ditilik lebih seksama, ini adalah sebuah novel.

    Novel ini punya cerita sekumpulan mahasiswa di sebuah kampus yang tidak terkenal, yang masing-masing punya perang atau perjuangan sendiri-sendiri. Awalnya kita akan dikenalkan dengan dua tokoh; Ogi dan Randi Jauhari. Dua temen, yang satu niat banget kuliah sedangkan satunya kagak, yang akhirnya kedua pemuda ini punya masa depan tidak terduga. Tokoh lainnya adalah Arko, orang ketiga yang masuk ke pergaulan Ogi dan Ranjau. Berikutnya ada Gala, mahasiswa penuh misteri, yang kerap ditemani bodyguard-nya. Lalu ada tiga perempuan yang mewarnai pertemanan mereka, Catherine, Juwisa dan Sania.

    Penulis secara mendalam menggali karakter tokoh dengan detail. Dilakukan dengan pelan-pelan, dicampur-aduk dengan permasalahan yang kerap dihadapi para mahasiswa. Misalnya permasalahan soal biaya kuliah, pilihan jurusan, kegiatan ospek, dan banyak masalah umum yang ada di kampus. Dan memang inti dari cerita buku ini adalah bagaimana kita memandang fase kuliah sebagai fase penting untuk merubah kehidupan. 

Apakah kalau nggak kuliah, hidup nggak bisa dirubah? 

    Jawabannya, bisa. Tapi faktanya lebih banyak orang kuliah yang punya kehidupan lebih baik. Setidaknya dengan kuliah memperbesar kemungkinan kita mendapatkan kehidupan yang layak, memperbesar kita mendapatkan posisi pekerjaan. Dan di buku ini secara gamblang disampaikan kalau mewujudkan masa depan tidak semudah ketika kita mengangankannya, atau seperti membalik telapak tangan. Ada jatuh bangun yang harus dilalui, ada air mata yang mesti tumpah, ada geram yang harus dikendalikan, dan ada syukur ketika semesta mempermudah jalannya.

    Pokoknya buku ini paling pas dibaca oleh mahasiswa di sela-sela kuliah. Bagi saya buku ini bisa memberikan sudut pandang baru atas pertanyaan-pertanyaan mahasiswa soal masa depan yang kadang masih sangat buram untuk diterawang. Dan sebagai pembaca kita akan diberikan nilai lain soal hidup, "Hidup selalu penuh cerita. Berusaha terus untuk menjalaninya, kalau mampu, berusahalah untuk menikmatinya."

    Oya, jangan kaget pas awal membaca cerita di buku ini, kita akan dihidangkan detail cerita yang banyak diparodikan. Misal nama kampus 'UDEL', nama merek, atau candaan lainnya. Saya sendiri sempat merasa risih dengan detail yang diparodikan tersebut. Sebab konsentrasi saya pecah ketika mencoba untuk menyelami alur ceritanya akibat membayangkan parodi yang mirip detail aslinya. Tetapi penilaian saya berubah begitu sudah membaca lebih jauh, ternyata penulis menggunakan cara itu untuk membangun fondasi cerita yang khas remaja kuliahan. Guyonan garing, sumbu pendek, sok-sokan arogan, semua itu dibangun untuk dirubah, tokoh-tokohnya kemudian berubah dari pemuda cuma senang-senang menjadi pemuda bertanggung jawab. Kayaknya kalau tidak dibangun demikian, perubahan karakter tokohnya nggak akan kerasa.

    Setelah membaca novel ini saya mendapatkan pelajaran, "Semua orang punya mimpi. Dan mimpi itu akan dipertaruhkan untuk diwujudkan atau dimatikan. Semua kembali ke keadaan realitas kita. Tapi satu hal yang penting, nggak ada yang salah ketika melakukan kesalahan, karena proses itu justru membuat kita benar dan belajar banyak."

    Setelah buku ini, saya bakal lanjut ke cerita berikutnya, Saya (Bukan) Jongos Berdasi. 

    Terakhir dari saya, jaga terus kesehatan dan terus membaca buku!




2 komentar:

  1. bwahahhaha...aku kok fokus o itu ranjau teh panggilannya jauhari ya din

    kehidupab masa kuliah memang berwarna, masa masa paling akhir buat slengean bareng temen sebelum akhirnya nanti akan ketemu belantara yang sebenarnya yaitu dunia kerja yang penuh dengan tantangannya...makanya iya sih din...kuliah seenggaknya memeperbesar peluang dapat pekerjaan dengan benefit lebih walaupun ada juga yang hoki nda mengenyam bangku kuliah juga bisa jadi 'orang'...


    e itu kebayang pas lagi serius serius baca terus malah ada parodi parodi yang menggambarkan pada suatu gambaran organ tubuh hahhahah

    bukunya walau dari sampul kelihatan teknis banget ternyata ga disangka sangka novel ya...lumayan mengecoh juga sampulnya berarti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, rasanya buku ini ingin membahas fase kritis anak muda pas masa kuliah dan sehabis lulus. Bakal mengena nih buat mereka-mereka yang fresh graduate, sebagai gambaran kalo setelah meninggalkan kampus ada hutan belantara menanti.

      Hapus