[Resensi] Seperti Bianglala, Pada Sebuah Akhir Kita Memulai - Galih Hidayatullah

 


Judul: Seperti Bianglala, Pada Sebuah Akhir Kita Memulai

Penulis: Galih Hidayatullah

Penyunting: Fariz Kelima

Penerbit: PT Bukune Kreatif Cipta

Terbit: Mei 2017, cetakan kedua

Tebal: vi + 178 hlm.

ISBN: 9786022202172


    Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada penulis dan penerbit ebook ini, karena sudah menyediakan secara gratis ketika awal pandemi kemarin, sebagai teman bacaan ketika pemerintah menggalakan #StayAtHome. Setidaknya dengan gratis, saya bisa menikmati beberapa buku tanpa merogoh kocek.

    Buku dengan tajuk Seperti Bianglala, Pada Sebuah Akhir Kita Memulai, bukan novel. Melainkan kumpulan tulisan pendek yang dikumpulkan penulis dengan tema roman. Kalau kita menilik sampulnya, pantasnya ini adalah novel, begitu juga dugaan saya di awal. Namun setelah membaca bab 'thanks to' yang merupakan pendahuluannya, di situ dikatakan tulisan ini merupakan catatan-catatan saja.

    Tema roman merupakan intisari semua tulisan di buku ini. Kita akan menemukan tulisan-tulisan pendek mengenai banyak keadaan manusia ketika dihadapkan dengan cinta. Ada catatan ketika jatuh cinta, bahkan jatuh cinta yang diam-diam. Ada juga catatan tentang putus cinta, ketika kehilangan. Ada pula catatan tentang rindu. 

    Tulisan yang dibuat penulis tersaji dalam banyak format. Ada yang seperti cerita pendek, ada juga yang seperti sajak, bahkan ada juga yang seperti tulisan jurnal pribadi. Bahkan tulisan per judulnya dibuat dengan unik, karena satu dengan yang lainnya dibuat berbeda, baik font, maupun susunan paragrafnya. Tidak lupa juga di buku ini kita akan melihat ilustrasi-ilustrasi sederhana yang menegaskan pada setiap tulisannya.

    Namun, secara pribadi saya kurang menyukai buku ini. Pertama, tulisannya memiliki tema yang diulang-ulang. Misalnya tulisan mengenai kerinduan, kita akan menemukan lebih dari dua judul yang membahas persoalan kerinduan ini. Atau tulisan mengenai patah hati karena kehilangan kekasih dibuat penulis menjadi beberapa judul. Yang kemudian membuat saya nggak nyaman adalah saya menemukan diksi yang diulang-ulang juga. Misalnya kata 'menganaksungai' yang dipakai penulis sebanyak lima kali untuk menggambarkan 'menangis'. Diksi yang diulang-ulang begini secara otomatis membuat saya merasa membaca kalimat template yang dibuat penulis untuk memperindah tulisannya. 

    Kedua, saya tidak menemukan pendalaman terhadap rasa dari masing-masing tulisan. Ketika berbicara rindu, saya tidak menemukan rasa rindu yang bisa menulari saya. Atau ketika berbicara jatuh cinta, saya tidak ikut merasakan jatuh cinta tadi. Atau ketika berbicara patah hati, saya tidak merasakan simpati. Dugaan saya karena tulisan di sini dibuat pendek, seperti jurnal, bahkan seperti sajak, sehingga rasa tulisan ini begitu personal untuk penulisnya, tetapi bukan untuk dirasakan pembaca. Singkatnya, rasa tulisan di sini belum menggali perasaan pembaca sampai dalam.

    Kita pernah mempertahankan sesuatu- cinta, impian, pekerjaan, atau apa saja yang menurut kita kebahagiaan- hingga menafikan luka, rasa sakit, kepedihan, dan kegetiran yang bertubi-tubi menghadang. Hanya karena begitu kukuh meyakini bahwa itu adalah kebahagiaan yang paling benar. Tak peduli lagi pada kebaikan diri sendiri (hal. 17).

    Paragraf di atas merupakan yang mengena di saya karena mengingatkan sekaligus memperingatkan untuk mengejar kebahagiaan tanpa harus mengorbankan kebahagiaan. Yang terlintas pertama kali saat membaca kalimat di atas adalah soal pekerjaan saya. Beberapa bulan ini saya mati-matian mengerjakan pekerjaan yang mendadak banyak, dan kerap saya lupa makan, kurang tidur, bahkan ketika sakit pun saya mencoba untuk tidak merasakannya. Hanya karena keyakinan semua usaha akan berbuah manis. Padahal bisa saja ketika manis itu datang, kondisi kita justru yang ambruk. Buah manis tadi tidak akan bisa dinikmati ketika kita sakit. Kesimpulannya, pengendalian diri, berjuang keras sah-sah saja, tapi bukan berarti menyakiti diri sendiri. Harus tahu batasan diri, karena kita semua masih manusia biasa.

    Setelah membaca buku ini, saya mengakui kalau membuat tulisan pribadi seperti jurnal harian akan sangat membantu menstabilkan emosi. Pun ketika kita berurusan soal cinta-cintaan, yang kapan waktu mood seperti dimain-mainkan, membuat tulisan perlu dilakukan untuk menumpahkan perasaan. Apalagi untuk sebagian pria yang susah mengungkapkan emosi rapuh, sedih, bahkan terpuruk, ke orang lain, dan lebih memilih menelan semuanya, menuliskan perasaan akan membantu mengeluarkan uneg-uneg yang terpendam.

    Sekian tulisan saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku.


[Buku selanjutnya dari penulis Galih Hidayatullah yang akan dibaca adalah buku Untukmu Di Hari Kemarin]



2 komentar:

  1. intinya ni buku belum touch ke dirimu as pembaca ya din...hanya relate sama yang nulisnya aja ketika dijatuhi tema akan macam macam cinta ntah itu sedang jatuh cinra, cinta dalam diam, kangen, putus, dll hahahhah...kompleks

    tapi agak lucu juga ya ternyata formatnya malah kayak blog apa gimana din karena ternyata isinya pun ada yang kayak sajak, cerita mirip jurnal harian, cerpen, dll ya...

    kalau dari segi sampul sih iya aku bilang mirip novel roman angkatan sastra lama xixiixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya belum sampai memberi kesan, padahal temanya menarik, roman yang banyak rupa-rupanya. Walau jadinya terkesan kompleks.

      Semacam blog begitu, font-nya ganti-ganti, format tulisan juga ganti-ganti. Dan sampulnya menurut saya bagus banget kalau buat novel, hehe

      Hapus