[Resensi] 28 - Jeong You-Jeong


Judul:
28

Penulis: Jeong You-Jeong

Alih bahasa: Iingliana

Editor: Juliana Tan

Ilustrator sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Oktober 2022

Tebal: 520 hlm.

ISBN: 9786020663654

Segalanya berawal dari pria paruh baya yang ditemukan sekarat dengan mata semerah darah di lantai kamar mandi apartemennya. Anjing-anjing di dalam apartemennya juga tewas atau sekarat dengan kondisi yang sama. Keesokan harinya, para anggota damkar dan paramedis UGD yang berusaha menyelamatkan pria tersebut mulai mengalami gejala mata merah yang serupa, lalu tewas dalam waktu singkat. Hanya Han Ki-joon, ketua tim tanggap darurat, yang belum terinfeksi.

Sejak saat itu, semakin banyak warga Hwayang yang tewas akibat wabah misterius tersebut. Ki-joon berusaha mengeluarkan istri dan bayinya dari Hwayang, tetapi pemerintah mendadak mengumumkan situasi darurat dan mengerahkan pasukan militer untuk memblokir setiap jalan keluar dari kota. Tidak seorang pun boleh masuk ataupun keluar.

Kota Hwayang yang dulunya damai pun berubah menjadi neraka anarki penuh darah.

***

SINOPSIS

Novel 28 ini menceritakan tentang warga yang tinggal di Hwayang dan terjebak wabah aneh. Wabah itu memiliki gejala awal membuat mata anjing dan manusia menjadi merah darah. Disusul pecahnya pembuluh darah di sekujur badan sehingga banyak organ tubuh yang gagal fungsi sehingga menyebabkan kematian. Kebanyakan korban mengalami muntah darah akibat rusaknya paru-paru. Dan sampai mereka meninggal hanya butuh kurang dari 3 hari sejak mata mereka berubah warna menjadi merah.

Jae-Hyeong adalah mantan pembalap Iditarod (balapan kereta yang ditarik anjing di belahan salju) yang pulang dari Alaska, kembali ke Korea, setelah mengalami tragedi mengerikan saat lomba berlangsung. Ia mengelola rumah penampungan anjing bernama Dreamland. Pada satu waktu ada wartawan bernama Kim Yun-Ju yang membongkar masa lalu Jeo-Hyeong dan membuat eksistensinya dipertanyakan publik; dokter hewan atau pembiak anjing.

Kim Yun-Ju sebagai wartawan yang artikelnya mendapat sorotan publik mengenai Jae-Hyeong, bertekad membongkar lebih banyak. Dia pun berupaya untuk mendekati sosok dokter hewan tersebut. Tapi wabah yang tiba-tiba merebak membuatnya terjebak di Hwayang dan ia pun berkeliling di tengah berantakannya kota sembari memburu berita.

Park Dong-Hae adalah pemuda yang harus didepak dari pelatihan militer sejak ia kedapatan membunuh anjing-anjing di lokasi tersebut. Ia harus menjalani pelayanan publik dengan bergabung ke tim tanggap darurat Pemadam Kebakaran di bawah arahan Ki-Jun. Aksinya ketika menyiksa anjing bernama Cookie yang merupakan peliharaan ayahnya digagalkan Jae-Hyeong dan sejak itu ia memburu Jae-Hyeong dan anjing-anjingnya.

Ki-Jun adalah ketua tanggap darurat Pemadam Kebakaran yang menemukan korban pertama wabah mata merah. Seorang lelaki ditemukan tewas di kamar mandi dengan luka gigitan dan mata merah. Kondisi serupa pun ditemukan pada anjing-anjing di apartemen itu. Tidak ada yang menduga jika orang-orang yang ikut menangani pasien pertama ini akan mengalami gejala yang sama. Satu per satu mereka meninggal.

Noh Su-Ji adalah perawat UGD yang ikut menangani orang pertama terkena wabah mata merah. Dan dari sekian banyak tenaga medis yang terlibat, hanya beberapa saja yang tidak terinfeksi, termasuk dirinya. Perjuangannya tambah berat karena rekan-rekannya bertumbangan sedangkan pasien dengan gejala sama terus bertambah.

Rango, satu-satunya anjing yang bercerita. Dia merupakan anjing yang diselamatkan korban pertama di apartement. Dan saat korban pertama ditemukan meninggal oleh tim tanggap darurat, Rango berhasil kabur. Pengelanaanya pun di mulai.

Kota Hwayang di-lockdown demi mencegah wabah mata merah keluar dari wilayah itu. Kebijakan pertama yang ditempuh pemerintah adalah dengan membantai semua anjing, baik yang dipelihara maupun yang di tempat penampungan. Bersamaan dengan itu, pergolakan warga mulai terjadi dimana-mana karena kota tidak lagi kondusif. Bnayak warga yang berusaha kabur dari Hwayang dan mau tak mau tentara harus menembaki warga yang tidak patuh. Pilihan yang tersisa di kondisi ini adalah bertahan hidup, tapi entah sampai kapan.



***

IDE CERITA

Saya membaca novel ini awalnya karena blurb-nya yang menarik. Soal wabah mengerikan, jadi ingat dengan wabah covid yang baru-baru ini menjadi pandemi. Saya temukan poin-poin yang relate dengan kondisi saat ini seperti penggunaan masker, lockdown, dan harapan pada vaksin.

Saya juga mencari tahu soal penulisnya, dan ternyata Jeong You-Jeong sudah menerbitkan dua novel yang sudah dialihbahasakan berjudul The Good Son (Anak Teladan) dan 7 Years of Darkness (7 Tahun Kegelapan). Saya pun berburu novel lainnya itu dan sudah punya yang 7 Tahun Kegelapan, semoga segera bisa dibaca walau tebalnya itu butuh keteguhan untuk membacanya.

Adanya wabah mematikan yang misterius menjadi awalan cerita yang menarik. Pembaca akan dibuat penasaran soal asal wabah mata merah, gejala, penanganan, dan nasib yang terkena. Saya pun demikian, sangat ingin tahu penyebab awal mulanya wabah merah ini.

Lalu kebijakan lockdown atau pengisolasian suatu daerah menjadi babak lain yang menuntun pembaca untuk mengetahui usaha-usaha tokoh-tokoh cerita untuk bertahan hidup (survive). Dan sepanjang mengikuti kisahnya, kita akan disodorkan porak-porandanya sebuah kota akibat dijangkiti wabah. Ini mengingatkan saya pada hebohnya masyarakat saat covid dinyatakan melanda Indonesia. Harga kebutuhan pokok terpengaruh, masker mulai langka, pengobatan belum jelas akan menyembuhkan atau justru mengulur waktu. Dan saat itu keputusan lockdown menimbulkan pro dan kontra karena masyarakat sudah ketakutan akan nasib masa depan.

Wabah mata merah menyebar cepat bagaikan api neraka. Orang-orang yang berhasil lolos dari wabah mati kelaparan, mati beku, atau mati dibunuh orang lain. Penjarahan, penembakan, pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran... semua kejahatan yang bisa dilakukan manusia terjadi dimana-mana setiap hari dan setiap saat. -(hal.508)

Di balik wabah dan ketakutan yang ditimbulkannya, pembaca akan diseret menyelami kehidupan tokoh-tokoh yang ada, dengan masalah masing-masing. Jae Hyeong yang harus berjuang menyelamatkan anjing-anjing dari pembantaian tentara. Ki-Jun yang harus meninggalkan istri dan anaknya untuk menyelamatkan orang-orang. Kim Yun-Ju yang harus mengesampingkan idealis jurnalisnya di tengah kekacauan. Noh Su-Ji yang harus mengutamakan kesehatan pasien dibanding dirinya. Dan Park Dong-Hae yang harus bergelut dengan mentalnya yang rusak karena ayahnya.

Kita akan melihat ragam emosi manusia saat menghadapi situasi genting. Pilihan yang ada hanya seputar mendahulukan kepentingan sendiri atau kepentingan orang banyak. Walau wabah mengerikan, namun manusia yang terdesak jauh lebih membahayakan. 

Membaca novel ini tuh seperti sedang berkaca atas kejadian Covid kemarin. Nuansa ketakutan, kebingungan, dan kepanikannya hampir serupa. Namun di Indonesia sendiri tidak sampai parah karena menurut saya pemerintah bisa mengatur arah warganya harus berbuat apa, walaupun pada pelaksanaanya harus mengalami drama-drama yang membagongkan.

Di novel ini lebih mengerikan dari sekadar Covid kemarin. Apalagi keputusan penanggulangannya harus melibatkan tentara dalam upaya menghalangi warga Hwayang keluar dari zona merah. Membunuh warga yang mungkin akan jadi perantara menularnya wabah dianggap keputusan akhir paling baik daripada harus membuat banyak warga di luar daerah itu yang bisa kena. Sehingga ada narasi yang menyebutkan 'lubang-lubang' mayat anjing dan manusia. Ini mengindikasikan kalau mereka lebih brutal menghalangi penyebaran penyakitnya.


PLOT/GAYA BERCERITA/POV/KARAKTER

Novel 28 ini mengusung plot campuran antara alur maju dan alur mundur. Namun lebih dominan alur maju. Alur mundur dibuat untuk menjelaskan lebih rinci apa yang terjadi di masa lalu. Contohnya, narasi mengenai backround hidup Park Dong-Hae sejak kecil hingga ia bisa masuk ke tim tanggap darurat Pemadam Kebakaran, untuk menjelaskan kenapa Park Dong-Hae memiliki mental yang tidak stabil.

Yang menarik dari novel ini, walau banyak tokoh yang difokuskan, mereka saling memiliki pertalian cerita. Dalam bukunya sendiri, setiap tokoh akan diberikan porsi bagian cerita, ditandai dengan judul nama tokohnya. Semua tokoh yang saya sebutkan di sinopsis saling bersinggungan, ada yang memang intim, ada juga yang sekelebatan.

Gaya bercerita penulis memang detail dan menyeluruh. POV-nya dibuat bergantian untuk semua tokoh sentral. Sehingga jangan heran kalau kita akan membaca jalan cerita yang sama tapi diceritakan oleh dua tokoh yang berbeda. Misal ketika POV Ringo menyaksikan perseteruan Park Dong-Hae dengan ayahnya di rumah yang sudah hangus terbakar, kita juga akan mendapatkan ceritanya dari POV Jae-Hyeong yang kebetulan sedang melangkah ke arah rumah itu juga. Teknik menulis dan bercerita yang seperti ini yang membuat novel ini menjadi novel bantal. 

Ritme ceritanya tidak meledak-ledak walau ada bagian aksi dan tembak-menembak. Saya kira karena setting novelnya di musim salju, jadi diksi yang dipakai pun membawa nuansa dingin yang akhirnya sampai juga ke pembaca.

Untuk karakter yang muncul di novel ini memang terbilang banyak. Awalnya rada bingung tapi lama-lama akan terbiasa juga. Mengingat profesi mereka yang berbeda-beda, kita pun akan bisa membedakannya dengan lebih mudah. 

Bagi saya tidak ada karakter yang saya sukai walau secara pembentukan karakternya sudah sangat berhasil dihidupkan. Mungkin karena nasib mereka semuanya tragis jadi tidak ada tokoh yang membuat saya mau memujinya. Penulis memang tega sekali membuat nasib tokoh-tokohnya begitu, tanpa memikirkan perasaan pembaca.

Banyak tokoh sampingan yang muncul. Dan yang masih kerasa emosinya tentu saja karakter anak kecil yang buta bernama Seung-Ah. Setelah kakeknya meninggal karena terinfeksi, Seung-Ah dibawa dan diurus oleh Jae-Hyeong dengan dibantu Kim Yun-Ju. Kehilangan yang dialami Seung-Ah bukan sekali, tapi dua kali. Awalnya anjingnya yang mati, lalu disusul kakeknya yang meninggal. Dan nasib hidupnya pun lebih tragis lagi ke depannya.

BAGIAN FAVORIT

Di novel ini tidak ada momen yang menyenangkan atau yang membuat saya mau menangis gara-gara terharu. Tetapi ada bagian novel ini yang membuat saya begitu mual ketika membacanya.

Su-Jin yang akhirnya kembali ke apartemennya demi menunggu kepulangan ayahnya justru harus mengalami pemerkosaan oleh tiga pemuda. Penulis dengan apik menjabarkan proses mengerikan itu. Narasinya tidak menjadi vulgar tapi justru lebih ke memilukan. Su-Jin digambarkan sampai linglung.

Yang membuat saya mual karena mempertanyakan kenapa nasib orang-orang baik harus dibawa ke titik itu. Penulis memang tega. Tidak memberikan kebahagian yang harusnya menjadi balasan bagi mereka yang sudah berjuang dengan keras di tengah wabah yang memporak-porandakan kota Hwayang.

Setelah selesai membaca bagian itu, saya harus berhenti baca karena saya terbawa emosi, mual, kesal, dan pilu. Ini bisa jadi efek karena saya sudah mengikuti nasib orang baik lainnya yang sama-sama tidak bahagia. Saya jadi ikutan capek dan dongkol. 

Pria itu menyeret Su-jin ke kamar utama dan melempar Su-Jin ke ranjang ayahnya. Begitu tangan pria itu terlepas dari rambutnya, tubuh pria itu langsung menindih perutnya. Kedua lutut pria itu mengepit kedua lengan Su-Jin. Lalu tinju pria itu melayang ke dagu Su-Jin.

Pria itu orang pertama. Lalu, orang kedua, dan orang ketiga.... Lalu orang pertama lagi... Ketiga pria itu makan, minum, menggeledah, dan menghancurkan seisi rumah. -(hal.454-455)

Tragis pisan!


PETIK-PETIK

Sepanjang membaca novel 28 ini saya lebih ke menikmati jalan ceritanya. Namun setelah selesai dibaca, hikmah yang bisa petik adalah mengenai keharusan memiliki tujuan hidup yang jelas. Tidak masalah walau tujuan hidup kita itu receh. Tapi perlu diketahui kalau adanya tujuan hidup akan membuat kaki kita terus bergerak. Kita tidak boleh hidup dengan konsep mengikuti alurnya saja. 

Penekanan usaha bertahan hidup dalam kondisi genting sangat terasa di novel ini. Bertahan hidup ini pun yang kemudian menjadi tujuan hidup Jae-Hyeong, yang kemudian diikuti juga oleh Kim Yun-Ju.

Saya pun jadi merasa lebih bersemangat dan berani menentukan apa yang menjadi tujuan hidup saya dan akan saya upayakan semaksimal mungkin. Karena saya muslim, saya percaya Allah SWT akan melihat usaha itu, dan akan mengganjarnya karena "Allah tidak tidur."

KUTIPAN

  • Jadi selama ada tekad, di situ ada jalan. -Hal.148

RATING

Sebenarnya emosi yang muncul setelah membaca novel 28 ini tidaklah bagus. Saya sendiri merasa masih marah dan entahlah, karena nasib tragis yang dialami tokoh-tokohnya. Tidak rela saja mereka dibegitukan oleh penulisnya. Tapi ini jadi semacam parameter kalau penulis sudah berhasil menggaet pembaca pada cerita yang ditulisnya.

Saya memberikan nilai 4/5 bintang. Novel ini seru dibaca, penuh emosi. Saya merekomendasikan untuk pembaca lain. Tapi setelah ini, saya ragu kalau harus membaca ulang. Selain faktor cerita yang suram, novel ini juga terbilang tebal cuy!



0 komentar:

Posting Komentar