[Resensi] Ferryman - Claire McFall


Judul:
Ferryman (Pergi dan Kembali)

Penulis: Claire McFall

Alih bahasa: Nadya Andwiani

Editor: Reita Ariyanti

Cover: Azam Raharjo

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: November 2021

Tebal: 384 hlm.

ISBN: 9786020648088


Dylan selamat dari kecelakaan kereta api yang mengerikan. Sepertinya begitu.

Namun, hamparan suram di sekeliling gadis itu tenyata bukanlah Skotlandia. Itu padang kekosongan, yang terbentuk dari berbagai perasaan dan ketakutannya, perbatasan menuju alam kematian.

Dan ada Tristan, sang Ferryman. Ia bertugas memandu dan menyebrangkan roh Dylan. Hanya saja penyebrangan kali ini sangat berbahaya, karena para wraith mengincar roh gadis tersebut.

Saat berjuang untuk bertahan hidup, Dylan lantas bertanya-tanya di alam manakah ia seharusnya berada-dan apa yang harus ia pertaruhkan untuk sampai ke sana.

***

SINOPSIS

Novel Ferryman ini bercerita mengenai remaja perempuan bernama Dylan yang pada awal novel langsung digambarkan kerap bertengkar dengan ibunya, Joan. Di sekolah Dylan bukan remaja yang bersinar. Dia murid biasa saja. Dylan memiliki sahabat bernama Katie, sayangnya, sahabatnya itu harus pindah karena orang tuanya berpisah. Sejak kepindahan Katie, kehidupan sekolahnya berubah suram sebab tidak ada selain dia yang mengerti tentangnya.

Dylan pun punya nasib sama, orang tuanya berpisah. Dan akhir pekan ini dia berencana mengunjungi ayahnya. Dylan menaiki kereta menuju tempat ayahnya. Tiba-tiba saat kereta masuk terowongan terjadi guncangan hebat. Dylan terbangun dalam kegelapan. Ia berusaha keras keluar dari kereta saat sadar kalau kereta yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Begitu keluar dari lorong, Dylan tidak mengenali tempat ia berada. Saat bingung itulah ia melihat sosok remaja laki-laki yang memiliki mata biru. Merasa tidak punya rencana baik dan enggak menunggu pertolongan sendirian, Dylan mengikuti remaja laki-laki tadi yang bernama Tristan. Dialah sang Ferryman, pemandu roh.

Ini adalah perjalanan Dylan melintasi padang kekosongan menuju batas dunia, tempat dia bisa menunggu keluarganya turut berkumpul. Perjalanan yang tidak mudah sebab akan ada roh jahat yang menyerang dan bisa membunuh rohnya kedua kali hingga dinyatakan tamat riwayatnya. 

Tapi Dylan memiliki ide aneh, menentang aturan dunia roh. Apalagi setelah ia sampai di batas dunia, Dylan merasa takdirnya bukan ini. Ia pun bertekad menemukan sang pemandu roh-nya dengan bertaruh dirinya sendiri karena tidak pernah ada yang berusaha kembali ke padang kekosongan untuk menemukan sang Ferryman-nya.

Berhasilkah Dylan menemukan Tristan? Dan bisakah Dylan kembali ke dunia manusia dengan membawa sang Ferryman?


IDE CERITA

Begitu membaca awal novel ini yang membahas dunia setelah kematian, mengingatkan saya akan dunia kubur setelah kita meninggal. Katanya, kita akan diberikan balasan di dunia kubur atas amalan di dunia sambil menunggu Hari Kebangkitan. Tapi pada novel ini justru roh akan melakukan perjalanan panjang melintasi padang kekosongan menuju batas dunia. Sedangkan pada ajaran islam, akan ada dua kondisi: yang amalnya baik akan tidur dengan nyaman dan nyenyak, sedangkan yang amalnya buruk akan ditimpa siksa kubur sepanjang penantian itu.

Tema petualangan bisa juga disematkan pada novel ini sebab ada momen melakukan perjalanan panjang, ada usaha menghindari serangan roh jahat, bahkan ada bagian lika-liku melewati medan yang aneh-aneh seperti padang kerikil dan rawa yang menjijikan. Roh jahat merupakan ketakutan paling besar sebab jika sampai ditarik ke bawah tanah, maka roh korban akan dinyatakan mati. Eksistensinya sudah berakhir, bahkan ada juga yang berubah menjadi roh jahat.

Tema percintaan pun akan kita temukan pada hubungan Dylan dan Tristan. Hubungan terlarang sebab Dylan adalah roh dari manusia, sedangkan Tristan adalah roh sesungguhnya yang mengemban tugas memandu. Gara-gara percikan roman ini, Dylan melawan aturan yang berlaku di dunia roh. Seharusnya ia menunggu di batas dunia, tapi Dylan memilih kembali ke padang kekosongan. Dylan tidak sendirian melakukan kegilaan itu, ia membawa Tristan bersamanya. Tristan menentang ide Dylan, tapi karena alasan 'mencintai', ia pun menurut melakukannya.

Tidak banyak yang dibahas pada novel ini, dan bagi saya novel ini terlalu sederhana konfliknya sehingga saya sempat merasa bosan mengikuti perjalanan Dylan dan Tristan. Lebih banyak membahas bagaimana mereka harus segera sampai di tujuan dan bagaimana kedua roh ini berhubungan satu dengan yang lainnya.

PLOT/GAYA BERCERITA/POV/KARAKTER

Novel Ferryman ini menggunakan plot maju. Kalau pun membahas masa lalu lebih banyak disajikan dalam bentuk narasi saja. Sayangnya, masa lalu dari kehidupan Dylan sangat singkat dibahas sehingga saya tidak cukup mengenal Dylan dengan baik kecuali mengenalnya sebagai murid yang biasa saja di sekolah.

Penulis bercerita dengan baik, apalagi pada bagian mendeskripsikan dunia roh yang menurut saya cukup berhasil sehingga pembaca bisa membayangkan rupa padang kekosongan itu. Karena dunia roh bukan dunia yang mesti sesuai nalar, penyajian dunia roh ini memang agak absurd dan aneh-aneh. Saya masih ingat mengenai deskripsi lautan hitam yang airnya begitu mengundang hasrat ingin menyelami. Tapi saking hitamnya, kita tidak bisa mengantisipasi ada mahluk dan ancaman apa yang menanti di dalam sana. Airnya juga berbau busuk. Pokoknya menyeramkan membayangkan lautan hitam yang riaknya tenang tapi penuh misteri.

Untuk POV yang digunakan pada novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Ini pilihan yang akan membuat pembaca bisa merasakan pengkarakteran pada semua tokoh, baik Dylan atau Tristan.


Untuk karakter di novel ini tidak banyak. Dylan ini gadis yang menurut saya masih labil. Saya beberapa kali kesal karena dia kadang memutuskan sesuatu semau sendiri. Misalnya keputusan dia untuk kembali mencari roh pemandunya karena alasan sayang dan cinta. Menurut saya alasan ini terlalu dangkal sedangkan posisi saat itu kita dalam kondisi sudah mati, menjadi roh. Keserampangannya dalam bertindak seringnya membahayakan. Dan Dylan ini bukan tipikal kapokan makanya momen dia keras kepala terjadi beberapa kali.

Tristan sendiri sang pemandu roh yang polos meski dia sudah menjalankan perannya beratus-ratus tahun. Dan tidak ada alasan yang kuat kenapa dia begitu terkesan dengan Dylan sehingga pada akhirnya Tristan ini kalah oleh perasaannya dan mendukung keputusan Dylan yang sembarangan.

Kedua tokoh utama ini tidak ada yang membuat saya simpati. Sebab mereka memiliki karakter yang tidak loveable. 

Selain Dylan dan Tristan, ada beberapa karakter pendukung seperti Joan (ibu Dylan), James (ayah Dylan), Katie (sahabat Dylan), Jonas (salah satu roh yang dipandu Tristan), Eliza (roh wanita yang sudah lama tinggal di batas dunia).

BAGIAN FAVORIT

Jujur, saya tidak menemukan momen favorit yang membuat saya merasa suka banget. Cerita di novel ini terlalu berjarak dengan pembaca karena membahas dunia setelah kematian. Saya sendiri bingung mau memosisikan diri sebagai siapa dan bagaimana mencari keterhubungan pengalaman tokohnya dengan pengalaman sendiri. Jadi, ya, memang tidak ada bagian favorit di novel ini bagi saya.


PETIK-PETIK

Agak susah sih menemukan pesan moralnya. Tapi saya menemukan poin indah ketika sudah di ujung cerita. Yaitu mengenai sosok Joan sebagai orang tua yang kerap bertengkar dengan Dylan, sebenarnya dia sangat menyayangi sepenuh hati. Sebagai ibu, sekeras-kerasnya ia bertentangan dengan anak, tidak akan mau dia kehilangan anak itu, apalagi kalau sampai anaknya meninggal, pasti sedihnya luar biasa.

RATING

Novel Ferryman ini adalah buku pertama dari trilogi. Kesan saya memang kurang bagus dengan novel ini. Meski begitu saya masih berminat untuk membaca buku selanjutnya sebab pada ending novel pertama ini meninggalkan tanda tanya besar mengenai nasib Dylan dan Tristan selanjutnya. 

Saya memberikan nilai 3/5 bintang. Novel ini memadukan cerita kehidupan setelah kematian dengan romansa hubungan roh manusia dengan roh pemandunya. Agak aneh tapi penasaran.

Nah sekian ulasan versi saya. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



0 komentar:

Posting Komentar