Tampilkan postingan dengan label bex hogan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bex hogan. Tampilkan semua postingan

Agustus 23, 2026

Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) - Bex Hogan

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)

Penulis: Bex Hogan

Penerjemah: Rifky Ravanto Putra

Penerbit: M&C!

Terbit: Maret 2021

Tebal: 448 hlm.

ISBN: 9786230304194


Saya senang sekali karena bisa membaca buku ini sampai selesai. Setelah beberapa waktu tidak ada bacaan yang selesai, ini perlu banget dirayakan.

Novel ini tuh menceritakan perseteruan anak gadis dan ayahnya dengan latar kapal dan laut. Marriane memberontak dari Adler, ayah sekaligus seorang viper, karena ternyata ayahnya lebih jahat dari yang ia kira. Selain membunuh, ayahnya juga berkhianat kepada kerajaan. Dan Marriane yang sudah siap untuk dinobatkan jadi snake dengan tes harus membunuh orang yang tidak bersalah, dia memilih kabur dan melarikan diri dari kejaran ayahnya yang murka. Marriane tidak mau menjadi seperti ayahnya.

Petualangan Marriane mengarungi lautan dan beberapa pulau di Kepulauan Dua Belas penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Rahasia hidupnya terungkap dan kekuatan sihir yang tertidur mulai menggeliat. Batas Kepulauan Barat dan Timur dilewati saat pertempuran besar terjadi. Makhluk raptor air yang selama ini dipercaya sebagai mitos ternyata bisa dipanggil oleh Marriane. 

Berhasilkan Marriane melawan ayahnya?

***



Cerita petualangan di laut di novel ini tuh seru banget. Kehidupan di kapal Maiden dan orang-orangnya diceritakan sangat meyakinkan. Sebagai armada penjaga lautan, kebanyakan hidup viper dan para snake berada di laut. Mereka tunduk pada titah raja dan harus mengamankan kepulauan dengan menyerang kapal-kapal bandit atau pun serangan dari luar kepulauan.

Petualangan menuju pulau-pulau di Kepulauan Dua Belas pun sangat menarik. Setiap pulau punya ciri khas masing-masing. Pulau Raja jadi pulau utama tempat kepemimpian raja berdaulat. Pulau Ladang sebagai pemasok hasil Pertanian. Pulau Bunga dipenuhi aneka bunga yang bisa digunakan sebagai bahan obat-obatan. Pulau Batu sebagai tambang permata. Sayangnya tidak semua pulau di Kepulauan Timur dijelajahi dengan detail. Sementara pulau di bagian Barat masih sangat misterius karena di novel ini belum banyak penjelajahan ke sana.

Rahasia asal-usul Marriane pun sangat mengejutkan karena di awal sempat dibahas tentang ibunya namun tidak lengkap. Lambang V pada kompas yang diberikan Grace pun memberi petunjuk walaupun awalnya semua orang mengira V itu lambang Viper. Dan semua terbongkar ketika Marriane bertemu Esther di Pulau Delapan. Esther adalah teman dari ibunya Marriane dan memiliki hubungan romansa dengan Adler di masa lalu. Sejak mengetahui cerita lengkap tentang orang tuanya, keinginan Marriane untuk menghabisi ayahnya semakin membara.

Bukan hanya drama keluarga antara ayah dan anak yang diceritakan novel ini, tapi ada romansa menyedihkan yang ditonjolkan juga. Marriane dan Bornn adalah sahabat sejak kecil sejak mereka bergabung di Kapal Maiden. Ketika beranjak dewasa perasaan itu perlahan berubah tetapi keduanya enggan melewati batas yang selama ini sudah terbentuk. Pergulatan perasaan itu semakin hebat saat Marriane harus bertunangan dengan Pangeran Torin atas gagasan ayahnya. Meski pertunangan itu bentuk politik bukan perasaan, Marriane dan Bornn tetap harus menanggung jarak yang semakin jelas bagi keduanya.

Unsur sihir yang sebelumnya diceritakan sudah dihilangkan keberadaannya di Kepulauan Timur mulai muncul lagi lewat Marriane. Beberapa peristiwa keberadaan sihir bisa dirasakan, termasuk saat muncul raptor air berkat campur tangan sihir yang dilakukan Marriane. Namun penulis tidak ingin buru-buru membongkar keberadaannya dan ini patut ditunggu di novel berikutnya.

Sebagai novel aksi, kita juga bakal menemukan banyak pertarungan senjata, perkelahian, bahkan tindakan kekerasan yang membuat ngilu dan jijik. Yang paling saya ingat yaitu saat Marriane disiksa dengan dicabut kukunya dan itu bikin saya meringis membayangkannya kesakitannya. Apalagi setelah itu dia harus mendaki bebatuan dengan tangan kosong, makin-makin ngilu saja.


Untuk penerjemahan novelnya sangat bagus. Rasanya mengalir banget pas bacanya. Walau ada nama-nama aneh seperti nama bunga yang terasa asing tapi tidak membuat sendatan. Dan kalau melihat sampul novel ini, saya cuma bisa kasih satu kata, "Apik".

Tokoh-tokoh di novel ini sangat banyak tapi penulis mampu menempatkan mereka pada porsi yang pas. Adler, Marriane, Bornn, Pangeran Torin, dan Grace cukup menonjol. Sedangkan tokoh lainnya muncul di waktu yang pas sehingga tidak mengganggu jalur cerita tokoh utamanya tapi kita tetap bakal ingat keberadaannya. Misalnya tokoh Toby, anggota kapal Maiden paling muda, atau Sharpe, pengawal kepercayaan Pangeran Torin. Belum lagi beberapa anggota snake di Kapal Maiden yang pada beberapa momen kemunculannya sangat penting untuk cerita.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati cerita Marriane di novel ini dan saya tidak sabar ingin segera lanjut baca buku keduanya karena sudah terpantau trilogi buku ini sudah lengkap diterjemahkan.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!