[Resensi] Rock Star Wannabe! - Put Rizki


Judul:
Rock Star Wannabe!

Penulis: Put Rizki

Editor: Tri Saputra Sakti

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2019

Tebal: 248 hlm.

ISBN: 9786020629674

***

Andara lahir di tengah keluarga yang konservatif. Kedua orangtuanya memaksanya untuk masuk fakultas yang dipandang mereka memiliki orientasi masa depan yang jelas. Sialnya lagi, ia bertetangga dengan cewek popular yang ada di sekolahnya, Natasha, yang juga bersahabat dengan musuh besarnya, Riana. 

Hal-hal manis masa remaja rasanya tidak ada dalam bayangannya. Di tengah keterpurukan masa SMA itu, Andara mencoba bikin sebuah band bernama Water Hydrant dengan tiga temannya, Aska, Aria, dan Lena. Dalam perjalanan band tersebut, Andara merasa bersalah dan memutuskan keluar dari Water Hydrant, saat band itu mulai menemukan popularitasnya. Akankah teman-temannya mampu membujuk Andara untuk bergabung kembali dengan Water Hydrant?

***

Sinopsis

Novel ini mengisahkan gadis remaja bernama Andara yang memiliki karakter beda. Enggak enakan, pemalu, dan panikan. Dia terbelenggu dengan ambisius kedua orang tuanya agar Andara bisa mendapatkan prestasi akademik gemilang. Andara kerap dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Mutia, yang terkenal cemerlang. Juga kadang dibandingkan dengan sepupu-sepupunya.

Di tengah keresahannya menghadapi itu semua, Andara punya cita-cita menjadi rock star. Maka dia kembali menghidupkan band masa kecilnya, Water Hydrant, bareng teman SD yang kini satu SMA: Aria dan Aska.

Tujuan pertama adalah ikut audisi pensi sekolah. Mereka berjuang agar bisa latihan di sela jadwal les yang padat. Namun hasil audisinya memalukan sebab ada yang mengganti mic dengan yang rusak sehingga penampilan band mereka tidak lancar.

Water Hydrant kemudian dipertemukan dengan artis yang jadi gerbang mereka dengan sebuah perusahaan manajemen. Syarat dalam kontrak mengubah Water Hydrant menjadi bukan mereka dan itu membuat mereka harus membuat skenario agar kontrak tersebut bisa batal.

Perjalanan yang dilalui Andara tidak mudah. Sebab yang dilakukannya untuk Water Hydrant mesti disembunyikan dari mamanya. Ketika dia mengetahui keluarganya tidak baik-baik saja dan mamanya masuk rumah sakit, Andara dipaksa memilih antara band atau keinginan mamanya untuk rajin belajar.

Pilihan apa yang Andara pilih? Dan berhasilkan Andara membesarkan Water Hydrant?

Resensi

Dalam novel ini kita akan melihat kehidupan ambisius orang tua yang menginginkan anaknya pintar dan berprestasi dengan memasukan mereka ke jadwal les yang padat. Sebuah pola pendidikan yang memaksa menurut saya, meski tujuan mereka melakukan itu demi kebaikan dan masa depan anak. Tapi dari sudut Andara, saya melihat kalau anak itu punya level kemampuan yang beda-beda, punya minat yang beragam. Justru keputusan memaksa anak ini bisa menjadi pemicu stres pada mereka. Jika sampai parah, psikis anak akan terganggu jika keadaan tidak sesuai yang dirancang orang tuanya.

Selain itu beban anak bertambah jika dirinya dibanding-bandingkan dengan yang lain. Tindakan yang tujuannya memotivasi tapi bisa membunuh si anak. Cara menyampaikan motivasi perlu teknik yang tepat agar si anak paham maksudnya. Bukan dengan asal-asalan yang justru bisa menyakiti perasaannya.

Karena ini ber-genre teenlit, kehidupan remaja diulik penulis dengan bumbu-bumbu masalahnya. Isu yang paling kuat ditemukan adalah mengenai meraih cita-cita. Sebagai remaja, Andara memang berambisi mewujudkan cita-citanya yang dianggap sebelah mata oleh lingkungan dengan tujuan pembuktian. Bukan mencari ketenaran, tapi mencari perhatian kalau dia memang ada dengan pilihannya sendiri. Dan sebab masih remaja yang kadang pikirannya pendek, keputusan-keputusan yang diambil Andara terbilang gegabah. Hal ini tentu saja banyak dilakukan remaja pada umumnya, melakukan kesalahan untuk mengerti kedewasaan.


Usaha Andara menjadi rock star memang gigih dan saya bersyukur menemukan akhir novel yang tidak menjual mimpi. Andara berhasil menjadi rock star meski levelnya masih di acara pensi. Saya sudah khawatir takut penulis mengakhiri cerita Andara menjadi rock star yang terkenalnya nasional, kan rasanya terlalu ajaib. Dan ini akhir novel yang bijaksana menurut saya.

Di novel ini sedikit sekali cerita romannya. Itu pun sekadar suka-sukaan tapi tidak sampai jadian. Yah, banyak kok gadis remaja yang naksir cowok cakep tapi mung bisa memuja di balik tembok. Penulis justru membangun pondasi pertemanan di antara personil band Water Hydrant agar band ini bisa solid menghadapi rintangan yang datang. 

Yang bikin novel ini menarik karena perjuangan band Water Hydrant untuk bisa manggung dibikin naik turun. Porsi bagian ini lebih banyak, sehingga pembaca akan tersedot dengan kisah perjuangan mereka. Kisahnya jelas tidak membohongi judul novelnya ya.

"... Yah, tapi namanya juga hidup. Jalani saja. Selama masih muda, lakukan hal positif yang ingin kamu lakukan, jangan nanti pas udah tua, tergeletak di ranjang rumah sakit lalu baru menyesal nggak melakukan banyak hal waktu muda dulu." (Hal. 240)

Dari novel ini kita bisa belajar untuk memasang target sewajar mungkin. Dan target tersebut harus diperjuangkan. Wajar dan berjuang merupakan padanan kata yang pas untuk melabeli cita-cita kita semua. Insyaallah dengan begitu apa yang dicita-citakan kita semua bisa terwujud.

Untuk perjalanan Andara menjadi rock star yang berliku-liku saya memberikan rating 3/5 bintang. Novel ini layak direkomendasikan untuk remaja agar mereka bisa belajar batasan dalam memiliki cita-cita dan agar mereka terdorong untuk memperjuangkannya.

Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!






2 komentar:

  1. keren juga ya...remaja putri cita citanya jadi rock star heheh



    sebuah kisah yang umum terjadibdi masyarakat nih din. Orang tua kekeuh pengen anaknya gini gini gini...padahal minat dan bakat anak ga ke sana. Jadinya terjadi pergolakan batin antara ortu vs anaknya. Tapi ya, memang sih liat endingnya hanya terkenal sebagai band di kalangan pensi walau dah sempat kenalan di industri hiburan lalu kenal artis sejatinya wajar dan ga aneh ya. Ketimbang tau tau terkenal secara nasional , nanti malah sepertinya ga wajar

    sayang juga sih porsi romannya sedikit dan hanya sebatas naksir naksiran.mungkin karena masih anak sekolah kali ya hahahha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cita-cita yang nggak umum, dan itu jadi unsur novel yang menarik. Dan ending novelnya melegakan banget, nggak ajaib dan penuh kebetulan, hehe. Adakan novel yang suka ujung-ujungnya nyampe puncak dengan gampang. Malah itu bikin pembaca mikir, "Wuih, hebat tenan..."

      Iya, romannya dikit banget, penulis kayaknya sengaja fokus ke gimana tokoh utama mengejar mimpi. Tapi di sisi lain, penulis sadar usia SMA pasti nggak lepas dari naksir-naksiran...

      Hapus